Share

Bab 2 - Hanya Figuran

Penulis: Ute Glider
last update Terakhir Diperbarui: 2024-12-03 15:03:42

“Apa aku hanya figuran di mata dirinya?”

Sekarang adalah musim salju ke-lima. Sama halnya dengan rasa cinta di hati Karissa untuk Damian yang mulai tumbuh sejak lima tahun yang lalu. 

Damian sudah dianggap seperti dewa oleh keluarga Karissa karena perannya sebagai penyelamat hidup mereka. Kehadirannya dalam kehidupan Karissa bermula ketika ia menyelamatkan Karissa dan ayahnya dari kebakaran hebat, meski harus menderita luka bakar di punggung. 

Tak berhenti di situ, Damian juga membantu melunasi hutang rumah sakit untuk biaya pengobatan jantung Vincent, ayah Karissa, serta membiayai kuliah kedokteran Karissa. 

Seiring waktu, rasa terima kasih Karissa berubah menjadi cinta yang tulus pada Damian, terutama karena sikapnya yang hangat. Namun, segalanya berubah setelah mereka resmi menjadi suami istri. Karissa dibawa ke kota dan tinggal di sebuah mansion mewah, tetapi sikap Damian seketika berubah.

Tidak ada kehangatan sedikitpun di hubungan mereka. Sikap Damian teramat dingin dan lebih sering menyakiti. Jika bukan karena cinta dan balas budi, mungkin sudah lama Karissa memilih menyerah. 

“Dokter Karissa!”

Panggilan dari Shiena membuat lamunan Karissa terhenti. Dia menatap sahabatnya yang berlari dari lobi rumah sakit dan menghampirinya. Sore itu mereka sama-sama baru berangkat bekerja.

“Bagaimana, apa suamimu sudah tau kalau kamu sedang hamil? Apa kejutannya berhasil?” tanya Shiena dengan nafas ngos-ngosan karena baru berlari.

Karissa tersenyum tipis lalu melanjutkan langkah. Rasanya enggan membahas soal suami gilanya itu.

Karissa Asterin adalah dokter bedah junior di rumah sakit ini. Semua orang tau kalau dia sudah menikah, tapi mereka tidak tau siapa suami Karissa. Dia pun tak mengerti, sejak awal menikah Damian terus merahasiakan hubungan mereka dari publik.

“Meeting dengan Ketua Dewan Direksi ditunda karena beliau sedang pergi ke luar negeri,” ucap kepala departemen bedah di ruangan.

Televisi di sana menampilkan sosok Damian yang sedang menerima penghargaan sebagai pengusaha terbaik lalu memberikan pidatonya di depan kamera. Ya, ketua dewan direksi itu adalah Damian Morgan. Pria berwibawa dan berkharisma yang sangat memukau di mata orang-orang.

Damian adalah seorang presiden direktur yang berkuasa penuh terhadap perusahaan properti terbesar di Eropa, W,B. Corporation. Selain itu dia dikenal sebagai seorang dermawan. Sering mengirim banyak donasi ke yayasan yang membutuhkan.

Sedangkan rumah sakit ini adalah miliknya setelah berhasil diakuisisi. Sebab itu pula Damian mengijinkan Karissa bekerja, tapi hanya di rumah sakit ini. Untuk apa? Jelas supaya wanita itu tetap berada di bawah kendalinya.

Karissa mencoba tak peduli dengan obrolan mereka yang terus mengelukan nama Damian. Dia pun memakai jas putih yang menggantung di lokernya dan berniat segera pergi. Sayangnya niatnya terhenti ketika mereka mulai membahas Emma.

“Lihat, menurut kalian apa Nona Emma pantas menjadi asisten Tuan Damian?” seorang tenaga medis yang ikut menonton mengatakan mengenai wanita yang ada di samping Damian.

“Penampilannya berkelas. Wajahnya juga nampak sekali dari kaum old money. Aku sering merasa heran, kenapa wanita secantik itu mau jadi pesuruh selama bertahun-tahun, ya?”

“Mungkin tidak kalau mereka sebenarnya ada hubungan?”

“Ah, aku sering membaca novel kisah office romance. Di mana bawahan ternyata istri sang PresDir.”

Shiena pun menimpali dengan santai. “Aku justru curiga dengan anak laki-laki yang umurnya tiga tahun itu.”

“Aku awalnya tidak percaya kalau Nona Emma semuda itu sudah memiliki anak tanpa suami.”

“Jangan-jangan itu adalah anak Tuan Damian?”

Mendengar obrolan mereka membuat dada Karissa memanas. Dia meremas kedua sisi jas putihnya dengan wajah yang mulai memucat.

Karissa hanya tau kalau Emma memang sudah memiliki anak sebab asisten tersebut pernah membawa ke mansion sesekali. Namun, perihal siapa ayahnya dia tidak pernah mencoba mencari tahu karena dia dan Emma tidak sedekat itu untuk mengobrolkan hal pribadi.

“Karissa, kamu baik-baik saja? Kenapa wajahmu pucat?” Shiena menangkup kedua pipi Karissa dan terlihat khawatir.

Sebisa mungkin Karissa menyembunyikan dirinya yang ingin menangis saat ini. Mungkin karena efek sedang hamil jadi mudah menangis.

“Aku baik-baik saja. Aku harus segera memeriksa pasien.” Karissa tersenyum hambar kemudian buru-buru keluar.

***

Malam itu, Karissa berbaring di tempat tidur yang dingin dan kosong. Aroma parfum Damian yang samar masih tertinggal di ruangan sama sekali tidak lagi memberikan kenyamanan. Padahal biasanya Karissa sering sengaja menyemprotkan parfum maskulin itu ke permukaan ranjang kala dia merindukan Damian.

“Damian, apa yang sebenarnya terjadi?”

Bayangan pakaian dalam dan kondisi kamar kemarin pagi, lalu permintaan Damian untuk menggugurkan kandungan, juga siapa ayah dari anaknya Emma. Semua sungguh membuat perasaan Karissa tidak bisa tenang.

Ya, meskipun Damian tidak pernah kepergok terang-terangan bermain dengan wanita lain, tapi Karissa tidak bisa mengabaikan bukti-bukti kecil yang menumpuk. Dan nama Emma lah yang selalu muncul dalam dipikiran, si asisten yang selalu bersikap manis, hormat dan hangat di depannya.

Mata Karissa memejam, memaksa diri untuk istirahat. Saat begitu, ponselnya berbunyi. Dia pun segera membuka mungkin dari Damian. Rupanya bukan,

Ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Darla, adik ayahnya. Dia mengatakan kalau Vincent masuk rumah sakit karena jantungnya mendadak kumat.

Karissa begitu terkesiap. Dia pun menelfon Darla segera.

“Bibi, aku akan kirimkan sejumlah uang dan aku segera pergi ke sana!” ucap Karissa panik.

“Iya, kirimkan yang banyak. Aku tidak punya uang sepeserpun. Uang yang kamu kirim sudah habis untuk biaya pengobatan rutin dan renovasi rumah.”

“Tunggu sebentar. Aku akan memprosesnya.”

Ibunya sudah meninggal sejak Karissa terlahir di dunia ini. Jadi baginya, sang ayah adalah segalanya, satu-satunya yang Karissa miliki. Dengan terburu-buru perempuan itu mencoba login ke aplikasi m-banking. Namun, berkali-kali usahanya gagal.

“Damian? Apa dia memblokir kartu ini?”

Karissa memegang salah satu blackcard milik Damian yang digunakan untuk segala kebutuhannya. Biasanya semua lancar, tapi kenapa kali ini tidak bisa. Dia pun langsung mencoba menghubungi Damian.

Bukannya panggilan terangkat, sebuah pesan dari Emma justru yang masuk ke ponselnya.

"Nyonya Karissa, Pak Damian meminta saya menyampaikan bahwa dia sedang bekerja lembur malam ini dan tidak bisa diganggu. Saya harap Nyonya mengerti. Jangan lupa istirahat yang cukup. Selamat malam."

Karissa menggigit bibirnya. Pesan itu terdengar biasa, tetapi entah kenapa, ada sesuatu yang terasa salah. Bahkan pikirannya kini berputar kira-kira apa yang sedang Damian dan Emma lakukan di sana.

Tidak, lupakan soal mereka. kini fokus Karissa ada pada ayahnya. Setidaknya dia memiliki rekening berbeda berisi gajinya sebagai dokter. Hingga bisa mengirim sedikit uang untuk bibinya.

Wanita itu beranjak dari ranjang. Dia ambil mantel berwarna brown beserta tas kecilnya kemudian keluar.

“Nyonya malam-malam mau ke mana?” tanya Bibi Martha melihat majikannya terburu-buru begitu keluar dari lift di lantai satu.

“Aku akan pergi ke pinggir kota. Ayahku membutuhkan ku,” jawab Karissa tanpa menghentikan langkah tergesa-gesanya.

Martha terus mengikuti. “Tapi, Nyonya. Tuan Damian belum memberikan perintah pada kami.”

Ketika sampai di depan pintu utama, Karissa berbalik menatap Martha dengan tajam. “Apa yang kamu lakukan saat orang tuamu sakit? Sementara hanya tersisa dia yang ada di dunia ini!”

“Nyonya ... bukan begitu. Tuan Damian akan sangat marah kalau sampai tau.”

“Kalau begitu katakan saja padanya sekarang. Mungkin dengan ini dia bisa berhenti melakukan hal gila bersama asistennya itu!”

Selain dada, kepala Karissa juga rasanya ingin meledak jika teringat soal Damian. Bagaimana bisa di saat genting begini pria itu tidak mau diganggu. Belum lagi Damian menutup akses penarikan uang.

“Tuan Damian tidak mungkin melakukan hal itu, Nyonya. Anda salah paham.” Martha mencoba menenangkan.

Karissa tersenyum kecut. Bahkan kepala pelayan saja masih membela Damian padahal bukti sudah terpampang jelas dengan kedekatan Emma yang terus saja bersama Damian sekalipun sedang ada di mansion ini. Ya, waktu bersama Emma jauh lebih banyak ketimbang waktu Damian bersamanya.

“Aku akan tetap pergi. Sekalipun kalian melarangku menggunakan mobil di mansion ini, aku masih bisa memesan taksi!” tegas Karissa mutlak.

BERSAMBUNG

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Fathimah Maziyyah Luthfi
hadiiiirrrr bunnnn
goodnovel comment avatar
Ainun Prg
Aaaaaaa panjangin bundaaa
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Istri Figuran Presdir Arogan   Bab 3 - Meminta Cerai

    Sudah hampir satu minggu menghilang dari hadapan Karissa. Mobil Rolls-Royce Phamtom berwarna Hitam Metalik dengan ukiran serigala hitam khusus di bagian depan, akhirnya memasuki gerbang yang berdiri tinggi dan kokoh itu.Damian menandatangani kertas dengan nama Luciano King Wilbert di sana. Lalu dia berikan pada Emma, asistennya yang duduk di samping.“Katakan pada Tuan Axton, meeting besok ditunda,” ucap Damian.Emma menoleh bingung. “Tapi, Tuan. Bukannya besok –““Aku ada urusan.” Damian langsung keluar begitu anak buah di luar membukakan pintu mobil.“Siapkan makan siang,” titah pria bertubuh tinggi kekar kepada Martha seraya melangkah masuk ke mansion yang jarang dia tempati itu. Bila dihitung, paling banyak 10 hari dalam satu bulan Damian tidur di bangunan megah ini. Selebihnya pria itu mengurus bisnis di berbagai tempat.Dua pelayan yang berdiri di depan pintu pun membungkuk patuh. “Baik, Tuan!”Bukan hanya pelayan, Emma pun ikut mengurus makan siang Damian. Dia ke dapur, mengha

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-03
  • Istri Figuran Presdir Arogan   Bab 4 - Pemuas Hasrat

    Karissa tak pernah bisa menolak Damian dari dulu maupun saat ini. Dia tahu bahwa pria itu adalah penyelamat hidupnya. Luka bakar selebar telapak tangan yang terlihat di punggung kekar Damian adalah saksi bisu dari pengorbanan itu, sebuah bukti nyata yang tak pernah Karissa sangkal. Karena itulah apapun perlakuan Damian, dia mencoba untuk menerimanya. Namun, penerimaan itu sering kali terbalas oleh rasa perih. "Kamu menikmatinya, kan, hm?" bisik Damian dengan suaranya rendah dan penuh ejekan usai keduanya bergelung di ranjang.Karissa hanya menatap sayu pria yang masih berada di atasnya, enggan menjawab. Pria itu pun tersenyum miring, seolah mengolok. Nyatanya meski di awal Karissa menolak, tapi akhirnya ia luluh pada hasrat pria itu. Desahan, keringat, dan panggilan-panggilan lirih Karissa saat memenuhi hasrat biologis mereka adalah hiburan bagi Damian. Selebihnya, dia tak peduli. Bahkan ketika Karissa terlihat mendesis kesakitan sambil memegang perut saat dia melepas penyatuan, Da

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-03
  • Istri Figuran Presdir Arogan   Bab 5 - Sebutan Daddy

    Ini adalah pertama kali Karissa bertemu dengan Aiden, pria kecil berumur tiga tahun yang ternyata sangat tampan. Terlihat sekali bukan anak dari kalangan biasa.Lamunan Karissa tersentak ketika Aiden berteriak memanggil Damian dengan sebutan ‘Daddy’ sambil berlari kemudian memeluk kaki panjang pria yang memiliki tinggi 190cm itu. Dia mendongak dengan matanya yang berkaca-kaca.“Mommy jahat, aku tidak mau dibawa ke rumah sakit. Daddy tolong aku.”“Daddy?” beo Karissa menatap nanar suaminya.Damian hanya menoleh sekilas, tak menjawab. Dia justru membungkuk untuk mengangkat Aiden ke dalam gendongannya. Meski tidak menunjukkan ekspresi hangat di wajah Damian untuk Aiden, tetap saja hati Karissa bergejolak. Seolah dia sedang ditampar oleh kenyataan di depan mata mengenai gosip yang beredar.Aiden anak biologis Damian.Karissa bahkan masih mematung, hanya netranya saja yang bergerak memperhatikan Damian membawa Aiden ke ruang makan kemudian duduk bersama Emma di sana. Ketika Emma menyadari

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-03
  • Istri Figuran Presdir Arogan   Bab 6 - Keputusan Karissa

    Damian terdiam beberapa saat, menatap Karissa dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Kau pulang saja lebih dulu. Aku akan menyusul," ucapnya dengan nada dingin.Karissa belum bergerak. "Aku bilang aku mau pulang denganmu, Damian," tegasnya lagi sembari meremas kedua sisi gaunnya.Damian menghela napas panjang, seolah lelah dengan tuntutan Karissa. "Karissa, aku sudah bilang—""Apa yang kau sembunyikan dariku, Damian?" Karissa memotong. "Kenapa anak itu memanggilmu Daddy? Kenapa dia ada foto dirimu di kamarnya? Dan kenapa Emma—" Karissa menunjuk ke arah dalam rumah, "—berpenampilan seperti itu di hadapan suamiku? Jawab aku, Damian! Sejauh ini pengkhianatan yang kamu perbuat?"Damian menggeser pandangannya ke arah balkon, menghindari tatapan Karissa. "Bukan urusanmu," ucapnya dingin.Jawaban itu seperti pisau yang menusuk dada Karissa. Dia merasa diabaikan, tak dianggap. Membuat semua rasa sakit yang selama ini ditahan semakin mengembung dan siap meledak.Buru-buru Karissa mengusap air m

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-28
  • Istri Figuran Presdir Arogan   Bab 7 - Siasat Damian

    King’s Premier Hospital pagi ini nampak lebih sibuk dari biasanya. Ada rapat utama rumah sakit yang seharusnya diadakan minggu depan, tapi mendadak asisten Damian mengabarkan rapat dimajukan siang nanti.“Kepala Spesialis Bedah sedang pergi, jadi dia memerintahkan Karissa menggantikannya,” ucap Shienna begitu masuk ke ruang tim bedah.Karissa yang tengah membicarakan masalah pasien dengan dokter senior pun mendongak.“Aku?” beonya menunjuk ke diri sendiri. Mungkin dia salah dengar.“Iya, Karissa Asterin.”“Tapi –“ Karissa menatap ada dua dokter senior di ruangan dan bukan sedang masuk jadwal praktek mereka. “Aku kan hanya dokter residen bedah. Biasanya dokter senior yang menggantikannya.”Gadis dengan rambut keriting itu mendekati Karissa lalu menyerahkan berkas laporan bulanan departmen bedah. “Pak kepala sendiri yang beri perintah. Kita bisa apa?”“Kamu dokter residen senior juga, Karissa. Banyak hal yang kamu ketahui untuk dilaporkan di rapat nanti,” ujar salah satu dokter bedah se

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-30
  • Istri Figuran Presdir Arogan   Bab 8 - Jerat Presdir Arogan

    “Patriarki? Suami tak tau diri? Kampungan? Jelek?”Sederet kata yang terucap dari para staff di ruang rapat tadi langsung keluar dari mulut dingin Damian saat Karissa baru saja datang.Damian bersandar pada sisi meja kerja lalu tangannya dilipat di dada. Sorot itu tajam, menuntut Karissa untuk menjelaskan apa maksud cacian yang dilontarkan oleh mereka tadi.Wanita itu sejenak menatap heran suaminya. Dia kemudian cukup santai untuk mengangkat kedua bahunya. “Kalau merasa tersinggung. Bukankah status kita di sini bukan suami istri. Bahkan sebentar lagi pun kita bukan siapa-siapa.” Karissa menatap Damian tanpa rasa gentar. Baru kali ini dia seberani ini tanpa rasa ragu.Bahkan ketika rahang Damian makin mengeras akibat perkataannya, Karissa tak peduli. Hatinya seperti mati rasa dari hari ke hari oleh sikap Damian.“Aku tidak memulai gosip apapun. Mereka menilai sesuai dengan apa yang aku kerjakan di sini. Jadi mungkin kamu yang perlu introspeksi diri, kenapa mereka bisa menganggap aku m

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-31
  • Istri Figuran Presdir Arogan   Bab 9 - Kebingungan Karissa

    Terdengar helaan napas dari sambungan telefon. “Aku tidak tau, sejak kemarin ayahmu mengkhawatirkanmu. Datanglah, besok adalah akhir pekan. Kamu bisa ke sini bersama Damian. Tunjukkan kalau kamu baik-baik saja.”“T-Tapi ....” Karissa menggigit bibir bawahnya bingung. “Aku memang ada rencana pulang untuk mengatakan sesuatu pada daddy.”“Sesuatu yang menggembirakan?”“Engh ... aku ....”Tidak sampai berucap, ponsel yang sebelumnya ada di genggaman Karissa kini sudah beralih ke tangan Damian.“Bibi Darla,” sapa Damian. Tidak ramah, tapi datar. Namun itu cukup membuat Darla sumringah di sana.“Damian? Ah, bibi rindu dengan kalian. Datanglah ke rumah besok akhir pekan. Mertuamu sakit-sakitan karena terlalu khawatir memikirkan putri satu-satunya.”“Ya, aku dan Karissa akan datang.”Karissa mendengar itu hanya menarik napasnya dalam-dalam. Sejak kapan Damian semudah ini mengiyakan keinginan keluarganya untuk datang ke rumah? Pria itu selalu ada cara untuk menolak dengan alasan sibuk.“Kamu i

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-01
  • Istri Figuran Presdir Arogan   Bab 10 - Kabar Baik Kehamilan

    Vincent terdiam sejenak setelah mendengar ucapan Karissa dengan mata membola, menatap putrinya. “Ka-Kamu hamil, Karissa?” Tiga tahun menikah dengan Damian, akhirnya bisa mendengar kabar ini tentu Vincent terkejut dan bahagia.Karissa yang semula kaget dengan perkataan jujur Damian, perlahan dia pun tersenyum dan mengangguk. Tangannya juga ikut menyentuh perut yang masih belum terlalu terlihat membesar. “Iya, Daddy. Aku hamil.” Senyuman Vincent pun makin merekah. “Astaga, kenapa kamu tidak bilang dari awal?” Dia segera berdiri, “Ini kabar baik! Tunggu sebentar.” Tanpa menunggu jawaban dari Karissa, Vincent bergegas ke dapur. Darla yang baru saja keluar membawa nampan minuman, memandang Vincent dengan heran. “Vincent, ada apa?” Pria paruh baya yang setia memakai syal di leher itu menunjukkan wajah cerahnya. “Karissa hamil, Darla! Aku harus menyiapkan sesuatu untuknya.” Mata Darla ikut berbinar mendengar kabar itu. “Ya ampun, benar? Kalau begitu, kita harus memasak makanan yang seha

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-02

Bab terbaru

  • Istri Figuran Presdir Arogan   Bab 92 - Mulai curiga

    “Tolong jangan lakukan apapun. Jangan ceritakan ini pada suamimu. Aku takut dia mengatakan pada Luciano dan berakhir nyawaku yang melayang.”Karissa sangat ingat tangan Shiena yang gemetaran ketika mengatakan semua.Karissa membuka matanya saat mendengar napas suaminya yang tenang di sampingnya.“Dia sudah tidur, kan?” tanyanya dalam hati.Karissa menoleh perlahan. Cahaya remang dari lampu meja menerangi wajah lelaki itu. Luciano yang damai dalam tidur, namun tetap menyiratkan kegelapan yang tak pernah benar-benar hilang.Pelan, Karissa menyingkirkan tangan besar yang melingkar di perutnya.“Emh...” Luciano hanya merubah posissinya sedikit dan kembali terlelap.Karissa mulai bangkit, menahan napas agar tidak membangunkan pria itu. Tangannya terulur ke laci di sisi ranjang. Jari-jarinya menyentuh benda lalu mengeluarkan.Kalung hitam yang diberikan oleh Ben dengan liontin berbentuk kepala serigala dan logo "W" terukir di dalamnya.Hatinya berdebar saat menatap benda itu di tel

  • Istri Figuran Presdir Arogan   Bab 91 - Kembar?

    Langkah Karissa terhenti ketika mendengar nama Luciano disebut. “Siapa yang berani menyebut nama itu di sini?” gumamnya.Saat ini, dia hendak mengambil jalan pintas menuju ke paviliun barat melewati taman yang sepi karena dekat dengan kamar jenazah. Dia penasaran dengan obrolan yang samar terdengar, Karissa pun mendekat.Orang yang pertama lihat adalah suaminya tengah meniupkan asapnya perlahan, lalu menyeringai sinis ke arah lawan bicaranya. "Damian, kamu di sini?" tanya Karissa memecah memecah keheningan. Keterkejutannya rupanya belum usai. Matanya membesar, napasnya tersengal melihat dua wajah identik yang terpampang di hadapannya."D-Damian? K-Kenapa kalian ada dua?!" Damian hanya menyeringai lebih lebar. Mata birunya bersinar seperti menikmati keterkejutan yang tercetak jelas di wajah Karissa. "Permainan ini akan segera usai," bisik Damian rendah, terdengar berbahaya. Sebelum Karissa bisa bereaksi lebih jauh, sebuah bayangan bergerak cepat dari belakang. Sergio menghantam te

  • Istri Figuran Presdir Arogan   Bab 90 - Damian dan Luciano

    “Apa? Dokter Shiena diserang?”“Iya, Dok. Dia mengalami luka tusuk di perutnya. Wajahnya juga banyak memar karena dipukuli.”Pagi itu Karissa baru saja berangkat praktek. Siapa sangka pasien pertama yang menjadi tanggungjawabnya pagi ini adalah Shiena. Buru-buru dia memakai jas putih, diambilnya berkas yang diberikan oleh perawat untuk dia baca sebentar.“Tidak sampai operasi?” tanya Karissa membaca hasil tindakan kemarin.“Iya, Dok. Luka tidak sampai mengenai organ vital. Pendarahan juga bisa dihentikan. Jadi pasien cukup dijahit setelah pembersihan,” jawab perawat.Karissa mengangguk lalu bergegas pergi ke kamar rawat inap Shiena. Kedatangannya tentu membuat atensi Shiena dan Ben tertuju ke arah pintu.“Shiena ....” Karissa mempercepat langkahnya dan Ben reflek memundurkan kursi rodanya, memberi ruang untuk wanita itu mendekat.Di atas ranjang putih itu, Shiena terbaring dengan memar yang sangat kontras dengan kulit pucatnya. Selain memar, bibirnya sedikit sobek di sudut, dan ada pe

  • Istri Figuran Presdir Arogan   Bab 89 - Penyerangan

    “Dua mafia besar memperbutkan kalung dengan makna cinta abadi.” Karissa mengeja salah satu judul artikel yang dia temukan.“Aku benar-benar penasaran. Huh, lagian dari mana Damian mendapatkan kalung ini? Pasti sangat mahal harganya.”Karissa sedang bersandar santai di sofa sambil menunggu artikel yang dia temukan itu terbuka. Aneh, kenapa loading-nya terlalu lama.“Apa internet sedang error?” Dia keluar ke balkon. Siapa tau cuaca mendung membuat signal internet jadi lelet.Saat artikel hampir terbuka tiba-tiba muncul notifikasi. “Halaman yang Anda buka tidak ditemukan.”Dia menggigit bibirnya kemudian membuka artikel lain. Hasilnya sama saja, halaman tidak bisa dibuka.“Apa HP-nya yang murahan?” gerutu Karissa membolak balikkan benda pipih itu. sedetik kemudian dia tersenyum smirk, mana mungkin suami dengan pemilik perusahaan raksasa itu memberikan barang murahan.Karena kesal, Karissa pun menyerah. Bersamaan dengan itu, sebuah pesan muncul di notif bar layar benda pipih tersebut.[Ak

  • Istri Figuran Presdir Arogan   Bab 88 - Mengulik Identitas

    “Kau tak sanggup meninggalkannya karena terlalu mencintainya?” Vincent bisa melihat itu. Tatapan cinta Karissa terhadap suaminya nampak nyata.Sesungguhnya Vincent juga tidak tega. Namun bagaimana lagi. Pada akhirnya Karissa pun akan tersakiti. Bukan hanya hati, tapi juga fisik. Atau bahkan nyawa yang jadi taruhan.Karissa menunduk. “Aku pasti akan meninggalkannya,” jawabnya ragu.Pria paruh baya dengan beberapa keriput yang mulai nampak itu hanya menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. Dia sudah mendengar jawaban yang dia inginkan, dan itu cukup untuk saat ini.Dia mengangkat tangannya lalu mengusap kepala putrinya. Hal itu cukup membuat hati Karissa kembali merasa sedikit lebih tenang dari sebelumnya.“Kau sangat cantik meski sedang mengandung. Persis seperti ibumu.” Vincent sengaja mengalihkan topik pembicaraan demi merubah suasana hati ibu hamil ini.Karissa mengangkat wajahnya lalu tersenyum tipis. “Benarkah?”Vincent mengangguk samar. “Mulai sekarang daddy akan selalu

  • Istri Figuran Presdir Arogan   Bab 87 - Siap Meninggalkan

    Vincent mendekati putrinya dan melepas kasar genggaman Karissa pada Aiden untuk dia gantikan. Membuat pria kecil itu nyaris terjatuh kalau saja pengasuh tidak menangkapnya.“Kita pergi. Seharusnya dari dulu daddy membawamu sebelum kamu sakit terlalu dalam,” ucap Vincent lalu menarik tangan Karissa.Aiden yang kebingungan akhirnya ikut bicara. “Apa aku berbuat salah, Tuan?” ucapnya masih dengan sisa sesegukan.Suara kecil itu membuat sekitar seketika membeku.“Aku tiba-tiba dipukul oleh nona itu.” Aiden menunjuk ke arah Darla. “Lalu Tuan memarahi Aunty. Apa karena aku memanggil dia Daddy? Kalau begitu aku tidak akan memanggilnya daddy lagi.”Karissa mana tega melihat sorot sendu Aiden. Dilepasnya genggaman ayahnya, tapi tak bisa.“Dad,” panggil Karissa dengan sorot permohonan.Dia sebenarnya heran, sebelum kejadian ini pun ayahnya sudah memintanya pergi dari kehidupan suaminya. Jadi terkesan kondisi ini terburu-buru bagi Karissa.“Damian sudah memberiku bukti tes DNA, Dad. Aiden bukan a

  • Istri Figuran Presdir Arogan   Bab 86 - Menemukan Alasan

    “Dulu kamu datang sebagai orang baru dalam kehidupan kami. Menjadi penyelamat dalam segala hal. Bahkan mengeluarkan banyak uang untuk pendidikan Karissa.”Luciano hanya diam memperhatikan mertuanya yang sudah mulai bicara.“Seharusnya aku sudah curiga sejak dulu, kalau ada maksud di balik sikap baikmu itu pada kami. Bawa tidak ada yang gratis di dunia ini, apalagi dari pemuda asing itu,” lanjut Vincent.Luciano membuka telapak tangan dari siku yang bersandar di bahu kursi. “Memang begitu.”Jawaban blak-blakan pria di depannya membuat Vincent makin menajamkan matanya.“Sejak awal, saya sudah mengincar Karissa. Seorang gadis cantik yang cocok untuk saya jadikan teman hidup,” jawab Luciano santai.Tatapan tajam Vincent pun meredup seketika. “Hanya itu?”Luciano jadi menaikkan satu alisnya. Jemarinya pun mengetuk-ngetuk ujung bahu sofa sambil mengamati mertuanya.“Pertanyaan Anda sejak tadi cukup menunjukkan, kalau ada yang sedang Anda sembunyikan, Tuan Vincent.”Tidak salah lagi. Aura pri

  • Istri Figuran Presdir Arogan   Bab 85 - Kesalahan Luther

    “P-Pergi? Kenapa, Dad?” Karissa terkesiap dengan ajakan Vincent yang mendadak.Pria paruh baya itu mencoba tetap tenang, meski dia sangat mengkhawatirkan masa depan Karissa. Apalagi ada bayi di kandungan yang pasti akan jadi incaran musuh setelah lahir nanti.Vincent meremas telapak Karissa, menyalurkan keinginananya tanpa bisa menjelasakan apapun. “Daddy hanya ingin kamu hidup tenang. Mungkin sekarang Damian nampak menyenangkan, tapi entah ke depannya. Daddy tak akan rela anak dan cucu daddy mendapat perlakuan buruk dari keluarga ini.”Bola mata bening itu bergerak bingung memperhatikan air muka ayahnya.“Aku bisa mengatasinya, Dad,” jawab Karissa kemudian. Meski kaku, dia tetap mencoba untuk tersenyum. “Apalagi ada Opa Hector yang selalu melindungiku. Dia sering memarahi Damian kalau ketahuan membuatku menangis.”“Ah, saat ini Opa Hector sedang ada di ibukota. Sebaiknya daddy dan opa bertemu dan saling mengenal.”“Dia baik padamu?” Vincent menaikkan satu alisnya tak percaya.Karissa

  • Istri Figuran Presdir Arogan   Bab 84 - Pergi

    “Dia anak dari ketua mafia terbesar di Italia,” jawab Darla santai sambil menusuk daging asap lalu memakannya.Karissa lebih dulu mengusap punggung Vincent yang duduk di sebelahnya setelah tersedak tadi.“Siapa namanya?” tanya Karissa masih penasaran.“Hentikan obrolan tidak penting ini. Damian sudah memberimu hadiah itu, artinya itu sudah jadi milikmu dan tidak perlu ditanya asal usul yang sudah terlewat puluhan tahun lalu.”Darla tidak mau mendengarkan Vincent. Dia tetap bicara. “Aku betulan lupa namanya. Hanya tau asal negaranya. Kamu cari saja di internet. Lelangnya cukup melegenda, jadi pasti ada.”Karissa akhirnya mengangguk samar lalu melanjutkan makannya.Setelah selesai, Darla pergi ke taman ditemani beberapa pengawal. Sedangkan Vincent lebih dulu melihat-lihat di ruang terbuka seberang ruang makan sambil menunggu Karissa.Langkah Vincent terhenti saat melihat lukisan besar di tengan ruangan. Lukisan dua pria beda generasi.“Tuan Luther, maafkan saya. Saya kurang teliti dan t

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status