Beranda / Romansa / ISTRI SIRI TENTARA ALIM / Bab 07. Aku Ingin Sembuh.

Share

Bab 07. Aku Ingin Sembuh.

Penulis: HaniHadi_LTF
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-04 03:25:30

"Dhuk, katanya tadi makan, ayo!" ajakan Mbok Sarem membuat Lani melupakan kecurigaannya.

Lani dengan pelan berdiri. Namun kemudian dia terhuyung, dan hampir jatuh. Untungnya Alzam segera menangkapnya, dan mendekapnya. Sejenak mereka salin berpandangan. Melihat itu timbul kekhawatiran di diri Mbok Sarem.

"Ayo, biar Mbok saja yang gandeng ke ruang makan," sela Mbok Sarem.

Lani yang masih bersitatap dengan Alzam segera menunduk. Lalu menyambut tangan Sarem yang membimbingnya.

"Emang masak apa, Mbok?" tanya Alzam begitu mereka sudah sampai di meja makan.

"Mas Alzam mandi duluh, baru ikutan makan," cegah Mbok Sarem saat melihat Alzam sudah mengambil posisi duduk di dekat Lani. Mbok Sarem memang berusaha menjauhkan Lani dari Alzam.

"Kalau gitu tunggu, dong, Mbok. Aku mandi duluh. Kayaknya enak kita bisa makan bertiga. Kayak punya keluarga."

"Sebentar lagi juga Mas bisa seperti itu," ucap Mbok Sarem dengan pelan, padahal Alzam sudah pergi ke kamarnya. Lani hanya tersenyum menanggapinya. Ta
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 08. Hamil?

    Dengan canggung Lani membiarkan Alzam tidur di sampingnya. Tidak lama sudah terdengar dengkuran halusnya. Lani hanya tersenyum melihat betapa cepatnya dia tertidur. Dengan tidur meringkung Lani membelakangi Alzam. Tak lupa, selimut pun dipakainya. Kalau kemarin dia tak merasa canggung karena dia sakit, tak bisa berfikir logis. Tapi entah kenapa kini dia merasa tidak enak hati. Dia bahkan meletakkan bantal guling di tengah-tengah mereka.Namun saat Lani terbangun di akhir malam, dia sudah mendapati tangan Alzam di pinggangnya. Bantal yang tadi dia letakkan di sebelahnya, malah pindah di belakang Alzam. Dengan pelan walau agak kaget, tahu semua itu, Lani meletakkan tangan Alzam. Dia lalu duduk sebentar, hendak ke kamar mandi. Sejenak Lani merasa kepalanya sudah enteng. Namun saat dia melangkah, mau berjalan, dia kembali terhuyung.Alzam segera menangkapnya. Lalu membawa Lani ke kamar mandi. Dan menurunkan Lani di dekat closet."Apa kamu hanya pura-pura tidurnya, Mas?" "Aku sudah biasa

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-04
  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 09. Rasa Ini.

    "Lani, aku ini masih bujang. Aku saja belum pernah menyentuh perempuan. Mana aku ngerti beginian?" kelunya dengan bingung, membolak-balik benda itu.Lani yang awalnya cemas kini tersenyum lega. "Negatif.""Benarkah?" Alzam tampak lega, begitu senangnya sampai dia tak sadar langsung memeluk Lani erat-erat.Lani sedikit terkejut, kebingungan dengan tindakan Alzam yang mendadak."Syukurlah, apa yang aku takutkan tidak terjadi," seru Alzam melepaskan pelukannya dengan rasa canggung. "Maaf, saking gembiranya aku sampai memelukmu."Lani mengerling, lalu menyindir, "Bukannya kamu udah bisa peluk aku, Mas?"Alzam garuk-garuk tengkuk, salah tingkah. "Iya juga sih," gumamnya malu. Dia pun berjalan ke arah tempat tidur, siap untuk tidur.Lani yang melihatnya hanya bisa mendesah, "Ei, ngapain ke situ lagi?""Mau tidur lah. Masak buang air di tempat tidur?" jawab Alzam sambil tersenyum lebar."Aku udah baikan, Mas. Tadi aku minum susu yang kamu bawa, perutku udah nggak mual lagi. Jadi, kamu nggak

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-04
  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 10. Siapa Dia?

    "Saya seolah mayat berjalan sejak pria itu merenggut apa yang saya banggakan. Hidup saya tak pernah punya tujuan, apalagi memikirkan perasaan untuk orang lain. Hati saya telah mati, terlebih dengan kejadian yang baru saja saya alami. Siapa yang akan mencintai wanita menjijikkan yang telah dijamah begitu pria tanpa pernikahan seperti saya, Mbok?" Setetes air mata telah menetes di pipi Lani. Dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan kepedihannya."Menangislah, Dhuk, kalau kamu ingin menangis," ucap Mbok Sarem saat melihat Lani seolah menahan tangisnya.Lani pun terisak, "Hidup saya telah hancur. Saya tak punya tujuan lain selain membesarkan Senja dengan baik." Lani sudah tergugu, saat Mbok Sarem sudah memeluknya."Kamu yang sabar ya, Dhuk," hibur Sarem, "suatu saat nanti kamu pasti menemukan orang yang benar-benar mencintai kamu dengan tulu," ucapnya sambil mengusap air mata Lani dengan tangan tuanya. Hinggah pandangannya berhenti dengan menatap lelaki tinggi atletis datang dengan paka

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-04
  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 11. Wajahku.

    "Bu,.." Lani menahan tangan ibunya yang dengan tak sabar hendak keluar dan bertanya pada Alzam, apa dia ada hubungannya dengan Madan, pria yang telah menodai Lani delapan tahun yang lalu."Itulah yang dari awal membuat saya benci padanya, Bu, padahal dia telah menolong saya dan dengan baik merawat saya.""Kamu kenapa, Dhuk, sampai dia menolongmu?"Lani tergagap dengan ucapannya yang keceplosan. Dia lalu terdiam sesaat, mengambil nafas, lalu duduk sebentar di dipan tempat tidur Senja."Saya dikejar penjahat saat pulang kemari duluh itu, Bu.""Tapi kamu tidak apa-apa, Dhuk?" Towirah menelisik anaknya itu. Perempuan berrambut campur putih hitam dengan disanggul ke atas karena lebatnya rambutnya itu menelisik Lani dengan memindai wajah dan tubuhnya."Tidak apa-apa, Bu," bohong Lani. Bagaimana bisa ibunya itu menelisik dirinya. Karena yang luka bukan yang tampak di luar sekarang. Lecet-lecet di kakinya juga sudah sembuh dengan salep yang diberikan Dandi. Hanya hati dan jiwanya yang kini ma

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-04
  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 12. Wajah Itu.

    Sejenak Lani menatap Alzam yang terpaku dengan menyebut sebuah nama yang sama sekali dia tak mengenalnya. Elma. Siapa Elma? tanya Lani dalam hatinya."Mbak, kapan pulang? Senja kangen!" Senja sudah memeluk Lani. Gadis berumur tujuh tahun itu sudah tinggi, walau badannya agak kurus. Dia lalu memandang Alzam yang masih terpaku menatapnya. Disunggingkanya senyumnya walau Alzam membalasnya dengan kaku."Kamu jam segini kok sudah pulang? " tanya Lani akhirnya. "bolos ya?" "Enak aja bolos. Mana aku pernah bolos, Mbak? Ini, ada rapat guru, mau ujian.""Mau ujian, ya?" sejenak Lani bingung karena dia belum membawa uang untuk ujian Senja. "apa kamu sudah ditagih bayar spp?" Gadis itu tersenyum, "Ghak usah dipikir, Mbak. Nanti kalau belum bisa bayar, tinggal minta keringanan saja. Kata Ibu, Mbak habis kena musibah.""Maafkan Mbak Lani, ya." Dipeluknya Senja dengan rasa tak karuan.Sementara Alzam yang masih memperhatikan kedua orang di depannya itu, bergulat dengan pikirannya sendiri. Kenapa

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-04
  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 13. Pergi.

    "Salah, Mas. Kamu salah besar. Kamu sudah tau kan siapa aku, siapa kamu? Aku bukanlah orang yang pantas untuk dicintai siapapun, terlebih orang seperti kamu, Mas..""O, jadi itu pikiranmu sampai kamu tak memakai uang pemberianku, dan hanya kamu taruh di lacimu?""Mas, bukan tak sudi, Mas. Itu tidaklah hakku.""Lani!" ditariknya Lani dan direngkuhnya dalam pelukannya. "aku sudah tak dapat menahan diriku mengatakan ini. Aku mencintaimu. Sejak kamu aku temukan itu, aku telah jatuh hati padamu."Lani melepaskan dirinya dari pelukan Alzam. "Tidak, Mas. Lupakan semua pikiranmu itu. Kalau saja aku punya tempat lain selain di tempatmu, aku akan pergi, Mas. Tapi aku bisa ke mana lagi. Perlakukan aku seperti pekerja lainnya yang juga bekerja di tempatmu."Alzam menarik tatap Lani dengan sedih."Kamu berhak mendapatkan lebih baik dari aku. Aku saja jijik dengan diriku yang telah dijamah pria dengan paksa. Setiap jengkal tubuhku rasanya hanya seonggok daging yang menjijikkan mengingat kejadian i

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-04
  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 14. Tidak Pamitan.

    "Ini pembukuan yang harus kamu pelajari. Katanya kamu pingin kerja. Lupakan kalau aku pernah mengatakan sesuatu padamu," ucap Alzam setelah menarik tangan lani dan menyerahkan buku tebal. Namun saat dia menyadari Lani membawa sesuatu di tangannya, dia lalu menatap Lani dengan sekilas melihat kresek besar yang dibawanya."Kamu? Kamu mau ke mana?" tanya Alzam bingung. Lalu ditariknya kresek itu. Dan dibukanya. "Pakaian? Kamu mau pergi dari sini? Mau tinggalkan aku, hanya karena aku mengutarakan isi hati aku?""Saya,..""Balikin pakaian kamu. Setelah ini sarapan, kita segera ke gudang."Dengan pelan, Lani hanya diam sambil menuju ke kamarnya. Mengembalikan pakaiannya. Dan makan."Sudah selesai makannya?" tanya Alzam kemudian dengan menelisik jemari Lani. Cincin itu ada mata berliannya hinggah pasti nampak berkilau jika dipakai.Lani yang merasa Alzam melihat jarinya, jadi tak enak hati. Dia memang telah menaruh cincin itu di dekat alat make upnya."Iya, sudah, Mas." Ditariknya tangannya

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-04
  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 15. Kedatangan Tamu.

    Setiap hari Lani melingkari kalender duduk yang berada di depan meja riasnya.. Lima belas hari sudah kepergian Alzam. Selama itu tidak ada khabar tentangnya. Lani kembali beraktifitas. Ke Gudang seperti biasa. Bahkan sekarang dia sudah memegang pembayaran dengan membawanya ke bank untuk sekedar di print. Untunglah ada sepeda matic Alzam yang bisa dibawa Lani ke manapun, hinggah dia tak perlu repot untuk minta antar siapapun yang di sana. Termasuk hari ini."Assalamualaikum!"Mbok Sarem terkejut dengan rombongan yang datang agak siang."Waalaikumussalam, Pak.""Ini Alzam ke mana, Mbok, kok aku telpon ghak bisa-bisa dalam beberapa hari terakhir?" Salma, ummi Alzam bertanya pada Mbok Sarem."Anu, Bu,.. Mas Alzam dinas ke Papua.""Pantas tidak bisa dihubungi, Mi," sahut Elma, adiknya Alzam yang sudah berkeliling mengitari rumah Alzam. Dia selalu bilang, senang dengan rumah Alzam yang berada di pedesaan. Tidak seperti rumah mereka yang di kota dan selalu penuh kesibukan."Wah, bunga Mas A

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-04

Bab terbaru

  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 216. Pagi

    "Selamat pagi, Sayang!" Sapaan ceria Alzam terdengar penuh semangat, padahal dengusan Lani terdengar melalui eartphone. "Kenapa sambutanmu begini?"Lani tersenyum kecil sambil menepuk perutnya yang sudah membuncit. "Mas, kamu semalam kan sudah telpon, kok pagi-pagi sudah nelpon lagi? Kasihan dedek di perutku, kan, kalau bundanya kurang tidur."Alzam tertawa kecil, tapi ada nada rindu yang tak bisa disembunyikan. "Gimana aku bisa tidur nyenyak tanpa dengar suaramu, Lani? Kamu sama dedek itu bikin aku susah jauh, tahu nggak."Lani terkekeh." Baru juga semalam kita pisah tempat tidur, aku sudah sulit memejamkan mata."" Terus ini kamu lagi lari-lari gitu ta?" tanya Lani. Dia tahu Alzam sedang mencoba kembali ke rutinitasnya setelah beberapa minggu merasa putus asa."Aku baru mulai lagi minggu ini. Rasanya, seminggu nggak joging tuh bikin badan aku beda," ujar Alzam sambil mengatur napas. Dia masih setengah berlari di sepanjang jalan kecil dekat rumahnya."Emang beda, Mas, kamu melar,

  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 215. Tangan

    Ruangan terasa dingin karena AC yang menyala, tapi bukan karena itu rasa dingin yang menusuk hingga ke sumsum. Ketegangan yang membara di antara Alzam dan Agna membuat suasana lebih mencekam. Alzam berdiri di ambang kesabarannya, sementara Agna menyilangkan tangan di dada, mencoba menguasai situasi meski emosinya sudah di ujung tanduk."Kamu nggak tahu apa-apa soal aku, Alzam!" suara Agna meninggi. Wajahnya merah padam, tapi Alzam hanya tersenyum dingin."Benar, aku nggak tahu semuanya," balas Alzam, melangkah mendekati Agna hingga jarak mereka hanya beberapa inci. "Tapi aku tahu cukup banyak untuk membuat kamu merasa terpojok."Agna mundur selangkah, matanya menyipit penuh kemarahan. "Memangnya apa yang kamu tau, Alzam. Apa yang aku lakukan atau tidak lakukan, itu bukan urusanmu!""Aku tau banyak hal," Alzam mendengus. "banyak hal tentang kebohongan yang terus kamu pelihara. Mau aku buktikan? Ayo, kita ke dokter, tes virgin! Karena kau tidak pernah menyentuhmu, seharusnya kamu masih

  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 214. Menantang

    Rumah lumayan besar untuk ukuran di desa Lani itu menyambut Lani dengan tenang, namun ada sesuatu yang membuatnya tak nyaman. Benar kata Mas Alzam, aku harus membuat sesuatu seperti yang dia berikan padaku, pikir Lani tentang kamar mandi. Walau untuk mengatakannya dari kemarin, dia tak berani, takut menyinggung perasaan orangtuanya.Langkahnya pelan melewati ruang depan, lalu menyapa orangtuanya yang tengah duduk di ruang keluarga."Kamu baru datang, Lani? ""Iya, Bu. Ini tuh sudah cepat. Biasanya lebih sore lagi," ucap Lani sambil mencium punggung tangan Towirah dan Wagimin."Kamu hamil, Nak. Ya, ghak usah lama-lama kerja. Toh di tempat sendiri saja kok.""Ya, ghak gitu juga kali, Pak.""Yaudah, sana ke kamar, lalu cepat mandi," ujar Towirah."Belum juga hilang keringatnya, Bu." Lani malah ikut ibunya duduk di sofa, mengupas jeruk."Nggak baik orang hamil kemalaman mandinya."Akhirnya Lani menalah dengan mengangguk kecil, lalu berangkat ke kamarnya. Sejenak, di cermin dia mengelus

  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 213. Kamu mempermainkan aku

    "Mas, maaf baru bisa lapor." Terdengar suara berat dari kejauhan di telinga Arhand.Telepon orang itu membuat Arhand terdiam sesaat, jari-jarinya mengetuk meja dengan ritme tidak beraturan. Orang di seberang bicara penuh percaya diri, suaranya sarat dengan keseriusan, sepadan dengan bayaran yang dia terima."Siang tadi saya lihat sesuatu yang menarik, Bos," ujar pria itu. "Agna menjemput Alzam di markasnya. Awalnya Alzam nggak mau masuk mobil, tapi setelah ada seseorang turun dari mobil lain dan menyapa mereka, dia akhirnya ikut. Orang itu sepertinya komandannya."Arhand mendengus, rahangnya mengeras. "Komandan Alzam?""Ya, Bos. Dari cara dia berbicara dan posturnya, juga mobil dinas yang dia kenakan, jelas bukan orang sembarangan." Orang itu terdiam sesaat."Lalu, apa yang ingin kamu sampaikan?" Arhand seolah tak sabar." Itu, Bos. Yang aneh, sikapnya. Sepertinya Alzam tidak suka jika bersama Agna. Beda sekali dengan yang pagi tadi. Waktu sama Lani, Alzam kelihatan beda banget. Tata

  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 212. Berjauhan

    Pak Surip menatap kosong ke jalanan di depan markas . Alzam yang seharusnya menunggu, tidak tampak. Ia mengusap tengkuknya dengan gelisah, lalu mengambil ponsel untuk menelepon Lani."Mbak Lani, ini saya, Pak Surip. Mas Alzam nggak ada di depan markas. Apa mungkin dia sudah pergi duluan?" suaranya terdengar panik.Lani yang sedang duduk di ruang pribadi kantornya tersenyum kecil. Ia melirik Alzam yang sedang cengar-cengir sambil memainkan sesuatu di meja kerjanya."Pak Surip, Mas Alzam di sini kok. Maaf, ya. Mungkin dia lupa ngabarin," jawab Lani santai, matanya tetap mengawasi suaminya."Baiklah kalau begitu Mbak, saya akan kembali ke pabrik. Bukannya sebentar lagi Mbak Lani akan pulang ke Sendang Agung?""Iya, Pak. Maaf."Alzam mendongak saat mendengar namanya disebut. "Kok malah aku yang disalahin?" gumamnya."Terus harus aku?"Setelah Pak Surip mengakhiri panggilan, Lani melipat tangan di dada, memandang Alzam dengan alis terangkat. "Mas, kenapa kamu nggak nunggu dijemput Pak Sur

  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 211. Bayangan

    Alzam terbangun karena bunyi ponsel di meja sampingnya. Panggilan tidak dikenal masuk, diikuti pesan. Ia meraih ponsel dan membuka pesan yang berisi sebuah foto. Lagi-lagi foto yang sama: Agna dan Reynaldi, tetapii wajah Reynaldi tidak tertutup stiker seperti kemarin.Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya. Langkahnya ringan menuju ruang tengah agar tidak membangunkan Lani. Namun, suara lembut istrinya menyapa dari belakang."Mas, kamu ngapain?" tanya Lani, setengah mengantuk.Alzam tertegun, tak ingin membuat istrinya khawatir. "Cuma ngecek sesuatu," jawabnya datar sambil memperlihatkan foto itu.Lani memperhatikan ponsel Alzam. "Pesan ini lagi? Dari siapa, Mas? Aku nggak tenang lihat kayak begini.""Aku juga nggak tahu, Lani. Tapi jelas ini bukan kebetulan. Ada yang sengaja ingin membuat kita salah langkah."Lani menatap suaminya dalam, menyadari emosi yang tersirat di wajahnya. "Mas, hati-hati. Salah langkah sedikit, kamu nggak cuma kehilangan kepercayaan orang,

  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 210. Tak semudah itu pergi dariku

    Agna mendengus. Tangannya memegang ponsel di meja kecil di sebelahnya. Pesan terakhir dari Arhand tadi siang masih terngiang-ngiang di benaknya."Kita harus bertemu, Agna. Aku baru saja tiba di Jawa. Aku kangen sekali sama kamu."Dia menghela napas panjang, mencoba mengusir kegelisahannya. Arhand selalu tahu cara menekan kelemahannya. Namun candaan Reynaldi, sempat membuat dia berfikir tentang lelaki itu. Mayor Reynaldi, ucapnya lirih dengan sebuah senyum tersungging.Ponselnya bergetar, memunculkan nama yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Arhand lagi. Agna memutuskan untuk tidak menjawab. Namun, telepon itu tak berhenti hingga akhirnya dia menyerah."Apa lagi, Arhand?" suara Agna terdengar kesal."Kenapa kamu menghindariku? Sejak di Makasar aku menelponmu tapi sepertinya kamu enggan diajak ngobrol. Apa kamu pikir aku akan membiarkan semua ini selesai begitu saja?" Nada Arhand penuh tekanan."Aku tidak punya apa pun untuk dibicarakan lagi denganmu. Sudah selesai. Kamu tahu

  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 207. Senyum pagi

    Di pagi yang sama, jalanan desa masih basah oleh embun di pagi hari yang dingin. Langit biru bersih, tanpa noda awan, menemani Lani dan Alzam yang berjalan santai menuju pasar krempyeng di tengah desa. Alzam terus melirik ke arah Lani yang berjalan di sampingnya, matanya penuh kekhawatiran yang sulit ia sembunyikan."Kamu yakin kuat jalan sejauh ini, Sayang?" tanya Alzam, menghentikan langkahnya. Ia mengamati wajah Lani yang terlihat tenang, bahkan tersenyum kecil bergayut manja di lengannya.Lani mendesah, lalu berbalik menatap suaminya. "Mas, ini cuma jalan kaki ke pasar, bukan mendaki gunung. Aku baik-baik saja.""Tapi kamu setelah semalaman itu, apa kamu ghak capek?""Kamu ngapain sih bahas itu. Sudah, jangan berlebihan. Aku malah senang kita jalan kaki. Rasanya kayak balik ke masa kecil, waktu aku sering diajak Ibu ke pasar ini," jawab Lani. "Ayo jalan lagi. Kalau aku capek, aku bilang kok.""Iya, ntar aku gendong."Lani terkikik. "Ih, ngawur kamu. Yang ada malah diketawain orang

  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 206. Kangen

    Agna merasa pipinya memanas. Kata-kata Reynaldi, meskipun disampaikan dengan nada bercanda, mengusik hatinya. Ia mengalihkan pandangan, mengaduk kopi yang sudah dingin tanpa alasan. "Kenapa diam?" tanya Reynaldi sambil menyipitkan matanya. Pria itu bersandar di kursinya dengan ekspresi santai, namun tatapannya tajam.Agna mendesah pelan, mencoba menguasai dirinya. "Aku cuma heran, Rey. Apa semua laki-laki di dunia ini punya kemampuan untuk membuat perempuan merasa rendah?"Rey tertawa kecil. "Jangan terlalu keras sama aku, Agna. Aku cuma bilang apa yang aku pikirkan. Kamu nggak perlu terlalu bawa perasaan."Agna menatapnya tajam. "Kamu pikir aku nggak sadar? Aku tahu maksud ucapanmu. Kamu sedang merendahkanku karena aku mencoba mempertahankan Alzam, bahkan setelah dia lebih memilih Lani."Reynaldi mendekatkan tubuhnya ke meja, tatapannya serius. "Agna, kamu yang memilih jalan ini. Kamu yang memilih untuk mengejar seseorang yang jelas-jelas sudah tidak ada di pihakmu. Kenapa nggak lep

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status