Home / Romansa / ISTRI SIRI TENTARA ALIM / Bab 14. Tidak Pamitan.

Share

Bab 14. Tidak Pamitan.

Author: HaniHadi_LTF
last update Last Updated: 2024-10-04 03:35:51

"Ini pembukuan yang harus kamu pelajari. Katanya kamu pingin kerja. Lupakan kalau aku pernah mengatakan sesuatu padamu," ucap Alzam setelah menarik tangan lani dan menyerahkan buku tebal. Namun saat dia menyadari Lani membawa sesuatu di tangannya, dia lalu menatap Lani dengan sekilas melihat kresek besar yang dibawanya.

"Kamu? Kamu mau ke mana?" tanya Alzam bingung. Lalu ditariknya kresek itu. Dan dibukanya. "Pakaian? Kamu mau pergi dari sini? Mau tinggalkan aku, hanya karena aku mengutarakan isi hati aku?"

"Saya,.."

"Balikin pakaian kamu. Setelah ini sarapan, kita segera ke gudang."

Dengan pelan, Lani hanya diam sambil menuju ke kamarnya. Mengembalikan pakaiannya. Dan makan.

"Sudah selesai makannya?" tanya Alzam kemudian dengan menelisik jemari Lani. Cincin itu ada mata berliannya hinggah pasti nampak berkilau jika dipakai.

Lani yang merasa Alzam melihat jarinya, jadi tak enak hati. Dia memang telah menaruh cincin itu di dekat alat make upnya.

"Iya, sudah, Mas." Ditariknya tangannya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 15. Kedatangan Tamu.

    Setiap hari Lani melingkari kalender duduk yang berada di depan meja riasnya.. Lima belas hari sudah kepergian Alzam. Selama itu tidak ada khabar tentangnya. Lani kembali beraktifitas. Ke Gudang seperti biasa. Bahkan sekarang dia sudah memegang pembayaran dengan membawanya ke bank untuk sekedar di print. Untunglah ada sepeda matic Alzam yang bisa dibawa Lani ke manapun, hinggah dia tak perlu repot untuk minta antar siapapun yang di sana. Termasuk hari ini."Assalamualaikum!"Mbok Sarem terkejut dengan rombongan yang datang agak siang."Waalaikumussalam, Pak.""Ini Alzam ke mana, Mbok, kok aku telpon ghak bisa-bisa dalam beberapa hari terakhir?" Salma, ummi Alzam bertanya pada Mbok Sarem."Anu, Bu,.. Mas Alzam dinas ke Papua.""Pantas tidak bisa dihubungi, Mi," sahut Elma, adiknya Alzam yang sudah berkeliling mengitari rumah Alzam. Dia selalu bilang, senang dengan rumah Alzam yang berada di pedesaan. Tidak seperti rumah mereka yang di kota dan selalu penuh kesibukan."Wah, bunga Mas A

    Last Updated : 2024-10-04
  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 16. Kamu Mencintaiku.

    Lani terdiam. Dia berusaha menghalau perasaan rindunya yang selama ini mengganggunya. Dia bahkan memeluk bantal yang sering dipakai Alzam saat bersamanya tidur. Perasaan ini salah. Aku harus bisa menjauhkannya. Aku tak pantas untuknya. "Dhuk,.."Lani terkesiap. Dia kemudian berdiri dan meninggalkan meja makan itu. Hatinya teramat suntuk memikirkan perasaannya akhir-akhir ini yang kerap merindukan Alzam.Tidak, aku tak boleh memikirkannya lebih dalam lagi. Pernikahan ini harus segera berakhir, tekat Lani.Namun tekat hanya tinggal di bibirnya walau kala itu dia mengucapkannya dengan mantap.Saat malam sudah larut, dan Lani mendengar ada ramai yang berhenti di depan rumah, dia segera keluar kamarnya, menyongsong siapa yang kini tengah datang dan memandangnya dengan tatapan kerinduan yang sangat. Saat lelaki itu membuka pintu rumah dan menampakkan tubuh tinggi tegapnya di depan pintu yang sudah terbuka.Pantulan rembulan juga lampu temaram teras, menampakkan kulitnya yang tampak lebih g

    Last Updated : 2024-10-04
  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   17. Kubuat kamu pantas.

    "Saya akan berusaha memberinya pengertian bahwa kami memang tak mungkin bersama. Dari awal dia sudah tau saya tidak mencintainya, Mbok. Saya hanya korban karena adik saya. Saya akan mengatakan itu," tekat Alzam yang kemudian ditarik tangannya oleh Mbok Sarem."Bagaimana bisa, Mas?""Aku mencintainya lebih dari apapun, Mbok. Selama ini aku hanya mencari orang yang bisa aku rindukan setiap saat. Dan itu hanya aku temukan pada diri Lani. Apapaun resikonya, aku akan hadapi.""Mas yakin menghadapi resikonya?""Apapun resikonya, Mbok."Mbok Sarem kemudian hanya menatapnya. Dia tau betul keteguhan Alzam.Mbok Sarem lalu masuk dengan membongkar rangsel besar yang tadi malam dibawa Alzam. Mengeluarkan semua isinya untuk dibawa ke belakang dan dicuci."Kemarin orang tua Mas Alzam kemari.""Memangnya mereka mau ngapain, Mbok?" Mbok Sarem hanya melotot dengan menatap Alzam. "Mas lupa, ini sudah tanggal berapa?""Iya, tau. Elma mau nikah beberapa hari lagi.""Mas Alzam sibuk ngurusi hati aja sih,

    Last Updated : 2024-10-16
  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   18. Bolehkan aku,..

    "Abi, Assalamualikum!" sapa Alzam saat mendengar orang yang di sebrang adalah abinya. Lani yang di dekatnya masih memeluk Alzam. Sengaja Alzam me-loos speker agar Lani bisa mendengar pembicaraan mereka.Sejenak Alzam menghela nafas lega. Syukurlah bukan dari kantor yang mengatakan ada tugas mendadak. Dia merasa masih enggan berpisah dengan Lani. Ini adalah kebahagiaan yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Dan sedetik pun Alzam tak ingin jauh dari wanita yang bisa membuatnya berdebar saat di dekatnya itu."Bagaimana khabarmu, Nak?" "Baik, Abi. Apa khabar Abi, Ummi juga Elma?""Alhamdulillah baik, Nak." Sejenak terdiam, lalu Alzam mendengar seorang wanita menyahut di telpon."Alzam,..""Iya, Ummi. Ummi sehat?""Ei, kamu mau tau juga bagaimana keadaan Ummi?""Ummi, kenapa bilang begitu?""Habisnya kamu ghak pernah nelpon Ummi. Kapan kamu pulang?""Baru tadi malam, Mi. Makanya Alzam belum bisa telpon. Iin tadi baru mau telpon, sudah keduluan Abi.""Ghak apa, Nak, kalau kamu memang sibuk.

    Last Updated : 2024-10-16
  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 19. Sebenarnya kami telah,..

    "Meminta apa, Mas?" tanya Lani dengan bergegas masuk ke kamarnya. Namun tangannya kemudian ditarik Alzam."Mulai sekarang, kamarmu di kamarku, jadi jangan ke sana lagi." Alzam mengurungkan apa yang ingi dimintanya pada Lani."Tapi barangku, Mas,..""Barang kamu juga sudah Ibu pindahkan, Lani. Ibu harap Mas Alzam benar mewujudkan janjinya untuk memperjuangkan pernikahan kalian," sahut Mbok Sarem."Ibu beresin kamar itu?""Iya. Ini spreinya sudah au Ibu gantikan dengan yang baru.""Ibu,.. kenapa ghak ngomong duluh sama Lani," rengek Lani."Apa kamu ghak suka di kamarku? Sini," Alzam sudah menggendong Lani dan dibawa masuk ke kamarnya.Sarem yang melihat kelakuan keduanya hanya menyunggingkan senyum. Terlebih setelah Alzam menutup pintunya."Mas, ini apaan sih, kok maksa gini. Aku enakan di kamar aku aja, Mas. Kamar kamu kayak rumah. Los banget.""Enakan kayak gini, loos banget, bener katamu. Kita bisa di manapun kalau pingin. Mau dicoba nanti malam?" bisik Alzam yang segera dapat taboka

    Last Updated : 2024-10-22
  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 20. Minta restu.

    "Pak, saya mohon,.." Alzam sampai mengatupkan kedua tangannya."Maaf, Pak. Itu kejadiaannya memang darurat saat Lani sakit dan Mas Alzam merawat Lani.""Maafkan saya, Pak. Terlepas dari semuanya, saya memang mencintai Lani. Dan saya akan menikahinya resmi. Hanya semuanya butuh proses." Alzam sampai bersimpuh di dekat kaki bapaknya Lani yang membuat pria itu bergeser dengan tak enak hati."Kenapa kamu sampai bersimpu? Bangunlah!" Bapak Lani memegang pundak Alzam untuk duduk di sampingnya."Saya mohon maaf melangkahi Bapak.""Asal kamu tidak hanya bermaksud mempermainkan anak saya dengan pernikahan seperti itu, saya akan terima. Bagaimanapun posisi anak saya rentan jika terjadi apa-apa. Saya memang orang bodoh, tapi saya tau itu tak mungkin tidak mendudukkan Lani dalam posisis sulit jika memiliki anak sementara nikahnya hanya siri.""Saya mengerti itu, Pak.""Lalu apa rencana kalian?" "Saya akan usahakan Lani bisa meraih ijazah SMA duluh, baru setelah itu dia sekolah kembali, sambil sa

    Last Updated : 2024-10-22
  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 21. Berhijab?

    Alzam dan Lani yang telah sepakat merahasiakan perkawinan mereka, dengan seketika berusaha menjauh. Alzam pun tak lagi memeluk pinggang Lani. Demikian juga Lani yang tadi tangannya juga melingkar di pinggang Alzam.Mereka pun menengok suara yang baru saja menyapanya."Dandi, buset kamu ngageti orang saja." Tinju Alzam pun melayang ke arah Dandi yang sudah terkekeh di belakang dia. Dengan sigap, tinju ditangkis Dandi."Lagi ngapain?" "Ini, Lani daftar kuliah di sini.""Lani kuliah?" tanya Dandi dengan heran. Di sampingnya seorang gadis tengah tersenyum menyapa."Iya, baru juga daftar." Alzam lalu melihat ke gadis berhijab yang bersama dengan Dandi. "Dia siapa? Ghak dikenalin ya?""Dia Hanum, juga mahasiswi di sini."Hanum lalu menyalami Lani dan mengatupkan kedua tangannya di dada untuk Alzam."Dia siapa?" bisik Alzam."Masih pedekate. Ketemuanya juga di komplek ini saat aku pulang kantor mampir makan, kebetulan dia makan di sana," bisik Dandi pula."Ei, lagi bahas aku ya?" Hanum meras

    Last Updated : 2024-10-23
  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 22. Belum bisa mengajakmu.

    "Hm, begini," ucap Alzam ragu. "Sayang, kalau besuk aku bersama Mbok Sarem pergi, kamu jangan tersinggung, ya.""Memangnya kenapa, Mas kok gharus tersinggung?""Adikku menikah. Aku belum bisa mengenalkanmu ke keluargaku. Kamu yang sabar ya. Dan sekali lagi, kamu jangan tersinggung. Semua ini kita lakukan dengan pelan.""Aku selama ini tidak pernah berharap, Mas. Tapi kamu yang telah memberiku kesempatan ini. Aku akan selalu percaya, tiap apa yang kaulakukan adalah demi kebaikan kita." "Terimakasih. Kita hanya menunggu waktu."Pagi sekali, akhirnya Alzam bersama Mbok Sarem pergi ke kota, ke rumah orang tua Alzam yang dari pagi mulai nikahnya dan malamnya akan diadakan resepsi di gedung."Jaga diri baik-baik, Lani!""Tenang, Mas. aku kan bersama Mbak Tia di sini. Tia adalah asisten Lani yang kini juga membantunya di gudang. Dia anak baru lulus SMA, anak desa Alzam yang baru beberapa hari hari diajak Lani bekerja membantunya.Usaha Alzam yang sejak dipegang Lani makin berkembang memang

    Last Updated : 2024-10-23

Latest chapter

  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 341. Tamu tak terduga

    Pagi itu, setelah prosesi ijab kabul yang mengharukan, suasana di rumah Mira berubah semakin meriah. Janur kuning masih melengkung indah di depan gang, sementara dekorasi terop dengan hiasan rumbai-rumbai bunga dan lampu hias menyemarakkan halaman luas rumah Mira. Para tamu masih ramai membicarakan bagaimana Rey berhasil mengucapkan ijab kabul dalam bahasa Arab dengan lancar, membuat banyak orang kagum. Termasuk hafalan Ar rahman-nya.Pak Warno, sang MC, berdiri di samping pelaminan, memegang mikrofon dengan penuh semangat. "Bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara sekalian, saatnya kita menyaksikan prosesi adat Jawa! Nah, bagi yang belum pernah lihat, monggo disimak, jangan sampai terlewat, nanti pulang malah nanya-nanya lagi!" ucapnya dengan nada khas yang mengundang tawa.Pak Warno segera memulai acara 'kirab diirngi gending Jawa Lagon Jiwa.Prosesi adat Jawa dimulai dengan dua anak muda dan mudi yang belum menikah dengan menukar kembar mayang yang mereka bawa, rangkaian janur dengn

  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 340. Qobiltu,...

    "Mas, ..Rey pernah membahas ini sebelumnya denganmu?" bisik Lani pada Alzam.Alzam nampak tegang dengan menggeleng sambil menatap sekeliling. Banyak teman Tukiran yang memang kebanyakan orang besar di sana. Bahkan Pak Camat juga, dan beberapa Kades yang sepertinya janjian ke sini.Tiba-tiba seorang memakai baju putih dengan sarung datang mengucap salam, dibarengi dengan empat santri yang selalu bersamanya.Alzam segera bangkit menyalami guru spritualnya itu. Namun Kyai itu menarik tangannya saat Alzam mau mencium tangannya, seperti yang sudah-sudah. Lani hanya mengatupkan kedua tangannya yang dibalas dengan senyum oleh Kyai Abduh."Alhamdulillah, Pak Kyai datang," ucap penghulu mempersilakan Kyai Abduh."Apa sudah sehat Pak Kyai, kok bisa kemari?" tanya Tukiran yang sudah menyalami Kyai dan seperti juga Alzam mau mencium tangannya."Alhajmdulillah, 'diparingi' Allah sehat. Masa orang nomer satu di Sendang Agung yang mantu, orang kecil seperti saya, nggak bisa.""Pak Kyai bisa saja."L

  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 339. Ijab kabul,.. Yakin?

    Pagi itu, suasana di rumah Mira begitu meriah. Janur kuning melengkung megah di depan gang, menandai ada hajatan besar. Pregolan terop berdiri kokoh, dihiasi dua pohon pisang raja yang menjulang di sisi kanan dan kiri, pertanda kesakralan acara. Di atasnya, terop model modern dengan gelembung-gelembung kecil dan lampu hias , berpadu dengan rumbai-rumbai bunga, menciptakan nuansa perayaan yang mewah.Empat penerima tamu berdiri di pintu masuk, anggun dalam kebaya beludru merah maroon. Senyum mereka ramah menyambut para tamu yang datang dengan wajah penuh antusiasme. “Sugeng rawuh,” sapa salah satu dari mereka, membungkukkan badan sedikit sebagai tanda penghormatan.Di dalam, gending Jawa mengalun lembut, dipimpin MC Pak Warno yang duduk bersila di atas tikar pandan. Suaranya mendayu-dayu, menyanyikan tembang-tembang penuh makna. “Lir-ilir, lir-ilir...”Bu Gita, pemilik WO, setelah berbincang dengan Pak Warno, berkeliling mengontrol segala sesuatunya agar terlaksana dengan baik.Di hala

  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 338. Prosesi pranikah

    Agak siang setelah perginya para tetangga setelah membenahi terop, rumah Mira dipenuhi kesibukan lain sebagai rangkaianaprosesi Jawa berlangsung. Tukiran memasang bleketepe di pregolan rumah di dampingi Marni. Mereka sudah mengenakan pakaian adat Jawa lengkap. Marni memakai kebaya dan sanggul Jawa, sementara Tukiran memakai beskap tangkepan warna krem. Anyaman daun kelapa itu dipercaya sebagai simbol penyucian dan keberkahan bagi calon pengantin. Tukiran, dengan tangan cekatan, memastikan setiap helai daun tersusun rapi.Sementara itu, di dapur, para ibu-ibu sibuk menyiapkan berbagai keperluan untuk acara siraman. Suara gemericik air, dentingan alat masak, dan canda tawa bersahutan, menciptakan suasana hangat.Di serambi rumah, Mira duduk dengan raut wajah yang sedikit tegang. Hari ini adalah hari siramannya, salah satu prosesi penting dalam adat pernikahan Jawa. Ia mengenakan kain batik dengan selendang hijau yang disampirkan di bahu, juga rangkaian melati untuk menutup dada atasn

  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 337. Persiapan

    Sehari sebelum pernikahan Mira, rumahnya sudah penuh dengan kesibukan sejak subuh. Para tetangga lelaki tampak sibuk memasang terop lanjutan di halaman depan, sementara pihak WO sudah datang lebih awal dan menyelesaikan terop tujuh plongnya, lalu memastikan dekorasi pernikahan untuk besok berjalan lancar.Terop warna abu-abu silver dengan hiasan rumbai sudah terpasang dengan baik. Sementara dekorasi gebyok Jawa klasik diminta keluarga Mira untuk menyesuaikan tema yang mereka usung.Bu Gita, sang Wo sudah mengingatkan kenapa harus pakai dekorasi itu, kenapa tidak yang minimalis seperti yang kini lagi trendnya. Namun di tempat Rey yang sudah memakai dekorasi model itu, membuat Marni mengusulkan ide itu, mengikuti rias manten Jawa Paes Ageng yang telah lama diinginkan Mira dalam pernikahannya. Dan memakai dekorasi Jawa itu, hanya dia ingin bunganya harus hidup semua. Di dapur, suasana tak kalah riuh. Ibu-ibu dan remaja putri berkumpul, ada yang mengiris bumbu, mengaduk santan, dan mem

  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 336. Selamat Ulang tahun, putriku!

    Pagi, fajar mulai menyingsing, dan di Sendang Agung suasana begitu berbeda. Orang-orang telah bersiap untuk melaksanakan Salat Idul Fitri. Seperti tahun-tahun sebelumnya, penyelengggara sholat iedul fitri ada di dua tempat-masjid dan lapangan. Meski begitu, tidak ada perpecahan di antara mereka. Semua saling menghormati pilihan masing-masing.Di rumah Wagimin dan Towirah, kegembiraan terpancar dari wajah Alzam dan Lani. Lani sibuk memakaikan baju baru untuk bayi mereka yang masih merah, sementara Alzam menyiapkan sarung dan pecinya untuk peri sholat Ied. Tak lupa, Senja yang kini berusia sebelas tahun berdiri di depan cermin, memastikan kerudungnya rapi. Hari ini adalah hari yang bersejarah dalam hidupnya, 31 Maret."Kamu sendiri di rumah, hati-hati ya," pesan Alzam sebeum berangkat pada Lani yang memang belum bisa sholat karena masih dalam nifas.Setelah salat, mereka kembali ke rumah untuk sungkem. Towirah duduk di kursi, menatap penuh kasih pada anak-anak dan cucunya. Alzam lebih d

  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 225. Allahuakbar! Allahuakbar!

    Arhand baru saja akan menaiki pesawat saat ponselnya bergetar. Dengan sedikit kesal, dia mengangkatnya."Sayang, aku pingin ikut takbir keliling," suara Agna terdengar riang di seberang sana. Tapi pinginnya sama kamu."Arhand menghela napas, melirik jam tangan. Jika dia menunda penerbangan, dia bisa terlambat untuk sampai di Makassar. Tapi, bagaimana mungkin dia menolak permintaan calon istri yang sedang hamil?"Agna, aku sudah di bandara," katanya pelan."Tapi aku ingin kamu di sini," suara Agna merajuk.Arhand menutup mata, mencoba menahan dilema yang menyerangnya. Di satu sisi, ada keluarga yang menunggunya di Makassar. Di sisi lain, Agna adalah prioritasnya. Terdengar suara lain di belakang Agna. Itu pasti Sandra, ibu Agna." Arhand, kalau bisa temani Agna dulu. Dia sedang hamil, emosinya mudah naik turun," kata Manda lembut. "Tolong ya."Arhand mengembuskan napas. Pikirannya berkecamuk, tapi akhirnya dia berkata, "Baiklah, aku ke sana."Malam takbiran di kompleks perumahan mewa

  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 334. Jelang Ultah Senja

    Asraf memegang erat uang tabungannya yang sudah ia kumpulkan sejak lama. Mata bocah itu berbinar, namun raut wajahnya juga menunjukkan kegugupan. Ia menoleh ke arah ayahnya, Guntur, yang tengah menyiapkan motor di halaman rumah.“Yah, tolong antar Asraf, ya?” pintanya penuh harap.Guntur mengernyitkan dahi. “Mau ke mana sore-sore begini? Besok Lebaran, jalanan pasti macet.”Asraf tersenyum kecil, lalu menggenggam erat celengannya yang pecah tadi pagi. “Ke toko, Yah. Mau beli sesuatu.”Meskipun heran, Guntur akhirnya mengangguk. Tak lama, motor pun melaju ke arah pasar yang semakin ramai dengan lalu lalang orang mencari kebutuhan Lebaran. Jalanan penuh sesak, suara klakson dan teriakan pedagang bercampur menjadi satu. Asraf duduk diam di belakang ayahnya, matanya fokus ke depan, seakan sedang memikirkan sesuatu yang besar."Ke sana, Yah." Dia menunjukkan jarinya ke sebuah toko."Jangan langsung gini, Asraf. Dari tadi gitu kenapa? Nggak gampang cari cela buat ke toko itu.""Maaf deh, Ya

  • ISTRI SIRI TENTARA ALIM   Bab 333.Merindukanmu

    Rey duduk di kursi kayu depan rumahnya. Di hadapannya, halaman yang biasa terasa luas kini terasa sempit. Ia menggenggam ponselnya erat, berharap ada balasan dari Mira. Tadi malam, tidurnya tidak nyenyak. Pikirannya dipenuhi bayangan Mira yang sibuk mempersiapkan pernikahan mereka.Ia ingin melihat wajah Mira, meskipun hanya sebentar.Jari-jarinya mengetik cepat. ["Mira, aku kangen. Tolong angkat telponnya sebentar saja. Cuma sebentar."]Tapi tak ada balasan. Rey menatap layar ponselnya dengan napas berat. ["Mira, cuma lima menit saja. Aku cuma mau lihat wajahmu."]Layar ponselnya tiba-tiba bergetar. Panggilan video dari Mira. Dengan cepat, Rey menekan tombol hijau.Namun, bukan wajah Mira yang muncul, melainkan pemandangan dapur rumahnya yang sibuk. Beberapa ibu-ibu terlihat sibuk mengaduk adonan, membentuk kue, dan menata loyang ke dalam oven.Dapur terlihat penuh sesak. Meja panjang dipenuhi adonan yang masih setengah jadi, loyang bertumpuk di sudut ruangan, dan beberapa toples ku

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status