Share

Bab 8

Penulis: Hijau
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-29 19:42:56
"Cukup!"

Krisna berteriak, menatap Dania yang menjatuhkan diri ke dalam pelukannya dan menangis. Lalu, tatapannya beralih kepada Hazel. Kemarahan dalam dirinya pun melonjak.

Dia memelankan nadanya, berkata dengan nada serius kepada Hazel, "Hazel, jangan membuat masalah yang nggak perlu. Darra masih kecil dan belum mengerti banyak hal. Jangan mempermasalahkannya lagi."

"Kecil?"

Mata Hazel menyapu sosok Darra dan mengangguk. "Ya, dia hanya sebulan lebih muda dariku. Dia memang masih kecil."

Hazel sengaja memperkeras nada pada dua kata terakhir. Nadanya datar, tetapi terdengar sangat ironi di telinga Krisna.

Wajahnya tiba-tiba berubah muram. Dia menunduk, lalu mengatakan, "Dia itu adikmu, kenapa kamu nggak mau mengalah? Ya. Darra memang berbuat salah, tapi orang yang disukai Justin itu dia. Nggak ada gunanya kamu bersikeras. Lebih baik kamu jelaskan kepada Keluarga Hardwin dan biarkan Darra yang menikah dengan Justin. Dengan begini semua orang akan bahagia. Setelah itu, ayah akan carikan pasangan yang lebih baik untukmu."

Menjelang akhir perkataannya, aura Krisna jelas jauh lebih lemah dari sebelumnya.

Dia juga tahu bahwa dia bias dalam mengatakan hal ini. Namun, karakter Hazel sudah kuat sejak masih kecil. Bukan masalah besar jika dia membatalkan pertunangannya.

Namun Darra berbeda. Dia memiliki karakter yang lembut, akan sesakit apa kalau sampai kehilangan seseorang yang sangat ia cintai?

Hazel menatap Krisna dan tidak percaya bahwa perkataan semacam ini keluar dari mulut ayahnya sendiri.

Hatinya terasa seperti disiram air dingin, membuatnya bergidik.

Mengiringi kata-kata itu, ada rasa sakit yang menusuk dari jantungnya, seolah-olah disayat oleh pisau tajam dan terus meneteskan darah.

Dia berdiri sendirian di ruang tamu yang luas, seperti baru pertama kali mengenal Krisna.

Meskipun Hazel tahu bahwa Krisna adalah seorang yang tidak adil dalam memperlakukan anak-anaknya, bagaimanapun juga Hazel adalah anak kandungnya sendiri.

Hazel tidak mau percaya bahwa Krisna bisa bersikap sekejam itu sampai tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah.

Namun, kenyataannya jauh lebih keras dari yang Hazel bayangkan.

Dia tertawa sinis, bulu matanya yang lentik menyembunyikan kekecewaan dan air mata.

"Aku akan menarik diri dari pernikahan itu, tapi bukan karena kamu. Itu karena Justin nggak pantas. Sesuatu yang kotor memang sudah seharusnya dibuang ke tempat sampah."

Kata-kata ini berlaku untuk Justin dan Krisna.

Ekspresi di wajah Krisna tiba-tiba berubah. Dia menunjuk ke arah Hazel dan mengumpat dengan marah, "Bocah sialan! Coba katakan sekali! Cepat kembali dan katakan dengan jelas!"

Tidak peduli seberapa keras Krisna berteriak dan mengumpat, Hazel tidak menoleh ke arahnya dan langsung naik ke atas.

Krisna tidak punya tempat untuk melampiaskan kemarahan di dalam hatinya, jadi menghancurkan beberapa vas antik yang berharga.

Suara pecahan porselen yang terdengar keras mengiringi umpatan penuh kemarahan Krisna. Hazel menutup pintu kamarnya seolah-olah tidak mendengarnya.

Dia mengemas pakaian ganti dan beberapa barang penting ke dalam kopernya, bersiap untuk pindah.

Lucu rasanya mengatakan bahwa dia telah tinggal di rumah ini selama 22 tahun dan hanya memiliki sedikit barang di kamarnya.

Ketika Dania membawa Darra masuk ke dalam rumah, semua pakaian dan perhiasan indah di kamarnya diambil.

Dia menemui Krisna untuk meminta keadilan, tetapi Krisna hanya berkata, "Hazel, kamu itu seorang kakak, jadi harus mengalah pada adikmu. Ini hanya beberapa pakaian dan perhiasan, jangan terlalu perhitungan."

Selama 5 tahun, Darra mengosongkan semua barang berharga yang ada di kamar Hazel.

Satu-satunya yang tertinggal adalah sebuah cincin zamrud yang diberikan secara pribadi oleh ibunya sebelum meninggal.

Melihat warna dan kualitasnya, cincin itu jelas merupakan produk berkualitas tinggi. Hazel tidak tahu banyak tentang zamrud giok, tetapi dia tahu cincin itu pasti sangat berharga.

Cincin ini disimpan di brankas, tidak pernah Hazel keluarkan. Bahkan Krisna pun tidak tahu tentang keberadaan cincin ini.

Hazel mengusap cincin zamrud itu dengan lembut sambil mengaguminya. Lalu, dia memasukkannya ke dalam tas untuk dibawa pergi.

Di lantai bawah, Darra dan Dania masih duduk di sofa sambil menangis. Krisna membujuk mereka dengan tidak sabar.

Mendengar suara langkah kaki, Krisna langsung mendongak dan mengerutkan kening saat melihat koper yang dibawa Hazel.

"Apa yang kamu lakukan?"

"Bukankah sudah cukup jelas? Tentu saja aku mau pindah. Karena kamu nggak pernah menganggapku sebagai anakmu, mulai sekarang kita jangan pernah saling berhubungan lagi. Kita ambil jalan sendiri-sendiri saja."

"Omong kosong! Ini rumahmu, kamu mau pindah ke mana?" Krisna tidak mengerti mengapa putrinya ini selalu menentangnya.

Jelas-jelas sikap Hazel sangat patuh dan pengertian ketika masih kecil. Namun, makin tumbuh dewasa, Hazel makin tidak bisa diatur.

Hazel membawa kopernya dan berdiri di depan Krisna.

Dia bertanya dengan geli, "Rumah? Apa ini benar-benar rumahku?"

Menatap matanya yang jernih dan cerah, entah kenapa Krisna merasa bersalah.

Hazel mengabaikannya, lalu mengalihkan perhatiannya pada Darra yang menyaksikan situasi ini dari samping. "Apa kamu pikir bisa menjadi bagian dari Keluarga Hardwin karena berhubungan dengan Justin? Heh, selama aku tidak menarik diri dari pernikahan, selama itu pula kamu nggak akan pernah mendapatkan apa yang kamu inginkan."

Hazel menyeret kopernya dan pergi tanpa menoleh ke belakang. Dia bahkan tidak menatap mereka lagi.

Melihat Hazel yang pergi dengan mantap, hati Darra terasa nyeri.

Matanya yang merah dipenuhi dengan dendam dan kebencian. Lalu, dia berteriak pada Hazel, "Hazel, kamu sangat kejam. Kak Justin bahkan nggak menyukaimu!"

Hazel menghentikan langkah kakinya dan mengendus, "Seberapa besar nilai rasa sukanya itu? Untuk apa aku membutuhkan rasa suka yang murahan ketika aku berstatus sebagai nyonya muda Keluarga Hardwin?"

Dia tidak berniat memberi tahu Keluarga Vandana bahwa dia dan Sergio sudah menikah. Dia mengatakan ini hanya untuk membuat Darra jengkel.

Yang paling penting bagi Darra adalah bisa menjadi bagian dari Keluarga Hardwin.

"Hazel, apa kamu pikir bisa menang dariku? Jangan harap! Kak Justin sudah berjanji akan menikahiku!"

Mungkin karena kesal dengan Hazel, kali ini Darra tidak peduli lagi dengan kepura-puraan yang selama ini dia tunjukkan. Dia langsung menguak tabiat aslinya.

Sebaliknya, Hazel masih bersikap tenang, seolah-olah yang diprovokasi bukanlah dirinya.

"Benarkah? Sejak kapan Justin bisa mengambil keputusan mewakili Keluarga Hardwin?"

Hazel mengatakannya dengan enteng, tetapi benar-benar membuat Darra marah.

Selama Liana masih ada, Justin tidak memiliki ruang untuk berbicara.

Oleh karena itu, janji Justin yang sangat Darra banggakan tidak ada artinya.

Darra melihat ejekan yang membara di mata Hazel dan tidak bisa lagi mengendalikan emosinya. Jadi, dia kembali mengumpat dengan marah, "Hazel sialan! Kamu benar-benar nggak tahu malu! Cepat batalkan pernikahan itu dengan kemauanmu sendiri!"

"Baiklah." Hazel mengatupkan kedua tangannya di dada dan menatap Darra dengan dingin.

Darra tertegun, menjawab dengan mata berbinar, "Benarkah?"

Dia tahu bahwa Hazel yang bodoh ini pasti akan melakukan apa yang dia perintahkan.

Namun, kata-kata yang diucapkan Hazel selanjutnya membuat harapannya benar-benar jatuh ke dalam jurang.

"Tentu saja. Selama kalian mengembalikan perusahaan ibuku padaku, aku akan setuju untuk mundur dari pernikahan. Bagaimana?"

"Hazel, anak sialan!" Krisna sangat marah sampai urat-urat di sudut dahinya melonjak. Dia menutupi dadanya yang berdegup kencang, merasa seperti napasnya akan berhenti kapan saja.

Hazel berpura-pura terkejut. "Nggak mau? Jangan bilang kalian ingin aku melakukannya tanpa imbalan? Mana ada hal menguntungkan seperti itu di dunia ini?"

Darra mengalihkan tatapan penuh harapnya pada Krisna.

JY Group yang sekarang hanyalah sebuah cangkang kosong. Ketika dia menikah dengan Keluarga Hardwin, uang sebanyak itu bukanlah apa-apa.

Krisna tetap bersikeras dan memelototi Hazel penuh kemarahan. "Jangan harap!"

Anak perempuan ini sepertinya terlahir untuk mengalahkannya!

JY Group adalah darah dari sebagian besar hidupnya. Walaupun sekarang perusahaan itu berada di ambang kebangkrutan karena manajemen yang buruk, Krisna tidak akan pernah melepaskannya.

Hazel menghela napas penuh penyesalan dan berbalik. "Karena kalian nggak mau, jadi lupakan saja. Aku sudah memberi kalian kesempatan, kalian sendiri yang nggak mau memanfaatkannya dengan baik. Kalian nggak boleh menyalahkanku."

Melihat punggung Hazel yang pergi dengan penuh percaya diri sambil menarik koper, napas Krisna makin terasa sesak.

Rasa sakit yang menusuk datang dari dadanya. Pandangannya berubah hitam, dia pun pingsan.

Begitu Krisna pingsan, Dania dan Darra langsung panik. Bahkan para pelayan yang tadinya bersembunyi untuk menyaksikan situasi ini pun berlarian keluar.

Keluarga Vandana menjadi kacau. Mereka akhirnya menelepon ambulans.

Bab terkait

  • Hazel Kesayangan Sergio   Bab 9

    Sopir masih menunggu di depan rumah Keluarga Vandana. Begitu melihat Hazel keluar, dia langsung berjalan mendekat.Dia mengambil koper di tangan Hazel dan membuka pintu mobil belakang, mempersilakan Hazel masuk, "Nyonya, silakan masuk.""Terima kasih."Hazel menyerahkan kopernya kepada sopir, lalu masuk ke dalam mobil setelah mengucapkan terima kasih.Saat menutup pintu mobil, emosi yang sudah sejak tadi Hazel pendam langsung membuncah seperti gunung berapi yang meletus.Hazel merasa jantungnya seperti direndam dalam lahar dan dibakar oleh api.Air mata menetes dari kedua mayanya. Dia menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara.Begitu sopir masuk ke dalam mobil, dia menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Begitu menoleh, dia melihat Hazel menangis tanpa suara.Dia terdiam selama beberapa saat sebelum kembali tersadar, tidak tahu harus melakukan apa saat menghadapi situasi semacam ini.Dia sudah menjadi sopir Sergio selama beberapa tahun dan belum pernah mengalami situasi seperti

  • Hazel Kesayangan Sergio   Bab 10

    Ketika Winda melihat video yang dikirim Hazel, dia menyadari bahwa Justin dan Darra sudah sering melakukan hal semacam ini di ranjang.Rasanya tubuhnya seperti mau meledak karena amarah."Sialan! Bajingan ini benar-benar sampah! Dia harus diberi pelajaran. Hazel, kamu harus menemui Nenek Liana agar dia mendukungmu. Kalau nggak, Justin akan mengira kamu gampang direndahkan!"Sebagai sahabat Hazel, dia tahu lebih baik dari siapa pun bahwa pertunangan itu dicetuskan oleh Keluarga Hardwin.Saat itu, Keluarga Vandana sedang berkembang pesat dan kekuatan finansial mereka bahkan pernah melampaui Keluarga Hardwin, yang kini menjadi konglomerat papan atas.Ibu Hazel dan Liana adalah teman yang sangat dekat.Hazel dan Justin memiliki usia yang hampir sama dan saling mengenal dengan baik, jadi mereka dijodohkan dan bertunangan.Sekarang, Justin berani menggertak Hazel secara terang-terangan. Bukankah itu karena dia melihat kejayaan Keluarga Vandana mulai menurun dan Hazel tidak memiliki perlindun

  • Hazel Kesayangan Sergio   Bab 11

    Winda tahu bahwa, dengan cara kerja otak Hazel yang begitu lambat, dia pasti masih tidak paham. Jadi, dia langsung mengubah topik pembicaraan, "Hazel, sudah jangan dipikirkan. Hari ini kita minum sampai mabuk."Hazel mengangguk kuat-kuat, lalu menenggak minumannya. "Ya. Bersulang!"Di dunia ini adalah banyak pria, tidak sepadan kalau dia harus merasa sedih hanya karena seorang bajingan seperti Justin.Hazel melakukan pertunangan itu juga bukan karena dia mencintai Justin, tetapi karena itu adalah keinginan ibunya yang sudah meninggal.Namun saat di mobil barusan, Hazel berpikir cukup lama. Ibunya memilihkan pasangan untuknya karena ingin Hazel memiliki seseorang yang bisa melindunginya dan menemaninya menjalani kehidupan yang damai.Namun, Justin tidak bisa memberikan semua itu kepada Hazel. Sebaliknya, dia malah menyakitinya.Dengan begitu, pertunangan ini telah kehilangan makna aslinya.Hazel yakin kalau ibunya akan menghormati keputusannya.Minuman yang dipesan Hazel memiliki kadar

  • Hazel Kesayangan Sergio   Bab 12

    Di dalam mobil, Sergio mengerutkan keningnya erat-erat.Tekanan di dalam mobil begitu rendah, membuat sopir tidak berani bernapas keras-keras. Jadi-jarinya yang mencengkeram setir pun bergetar pelan.Meskipun Sergio tidak mengucapkan sepatah kata pun, dia bisa merasakan kemarahan pria itu.Pelaku yang menyebabkan Sergio bersikap seperti ini benar-benar tidak berperasaan. Dia mabuk dan tertawa bodoh beberapa kali.Hazel bahkan mencecap sekali dua kali untuk kembali merasakan rasa manis dari minuman yang dia minum barusan.Sergio menatap sisi wajah Hazel untuk waktu yang lama, menanyakan pertanyaan yang dia sembunyikan di dalam hatinya, "Kenapa datang buat minum di sini?"Bertemu Hazel di bar hari ini adalah sesuatu yang tidak dia duga sebelumnya.Karena penandatanganan perjanjian pernikahan, Sergio jadi susah tidur.Rasanya seperti ada api di dalam hatinya yang telah mengaum, membuat seluruh tubuhnya dalam keadaan hiperaktif.Dia telah terganggu sepanjang hari ini, tidak sabar untuk ber

  • Hazel Kesayangan Sergio   Bab 13

    Hazel menggaruk kepalanya dan mencoba mengingat apa yang terjadi tadi malam, tetapi dia tidak bisa mengingat apa pun.Dia memandang Sergio dan bertanya dengan hati-hati, "Om, tadi malam aku nggak melakukan sesuatu yang berlebihan setelah mabuk, bukan?"Katanya, ada beberapa orang akan bertindak gila ketika mereka mabuk ....Saat memikirkan kemungkinan ini, jantung Hazel berdetak kencang.Memikirkan kejadian tadi malam ketika seorang pemabuk memeluknya dan mengatakan dia tampan, sudut bibir Sergio tertarik membentuk senyum tipis."Kamu nggak melakukan apa pun."Ketika mendengar ini, Hazel langsung menghela napas lega.Untung saja!Untung saja tidak terjadi apa-apa.Namun sebelum dia berpuas diri, dia kembali mendengar jawaban Sergio, "Tapi kamu menggangguku sampai tengah malam dan muntah-muntah."Mengganggunya sampai tengah malam?Bahkan sampai muntah-muntah?Memikirkan kejadian ini, detak jantung Hazel kembali menderu, bahkan napasnya langsung tercekat."Nggak mungkin.""Hmm? Apa aku t

  • Hazel Kesayangan Sergio   Bab 14

    Terdengar suara langkah kaki di lantai atas, yang langsung membuyarkan lamunan Hazel.Hazel menoleh dan melihat ke atas, melihat Sergio sudah berganti pakaian dan berjalan ke bawah.Dia mengenakan jas hitam, temperamennya bermartabat dan anggun. Wajah tampannya agak dingin, membuat orang merasa takut untuk mendekat.Menghadapi mata hitam pekat itu, hati Hazel bergetar tanpa alasan.Entah apa yang terjadi dengannya, tetapi saat Sergio mendekat, detak jantungnya mulai berdetak tak terkendali.Rasanya seperti habis menendang kelinci kecil, lalu kelinci itu melompat-lompat di dalam jantungnya.Sergio memandang sekilas ke tumpukan kotak di ruang tamu dan berkata kepada Hazel, "Sarapan dulu saja. Kamu bisa memilihnya setelah sarapan.""Ya."Hazel meletakkan kembali barang yang diambilnya, meminta Adam membantu menyimpannya. Lalu, dia mengikuti Sergio ke ruang makan.Melihat sosok jangkung di depannya, Hazel mengerucutkan bibir dan mengumpulkan keberanian untuk berkata, "Om, terima kasih."Ge

  • Hazel Kesayangan Sergio   Bab 15

    Setiap kata yang dilontarkan oleh Sergio membuat wajah Hazel memerah. Sampai kata terakhir, rona merah itu merambat sampai ke bagian leher.Pikiran Hazel kini dipenuhi dengan bekas gigitan di tulang selangka Sergio yang dilihatnya saat bangun pagi tadi.Dia ternyata melakukan banyak hal saat mabuk?Kenapa dia tidak ingat sedikit pun akan semua itu?Dia ingin mencari celah di tanah dan merangkak ke dalamnya, lalu menyela perkataan Sergio, "Om, tolong berhenti bicara. Aku benar-benar nggak ingat semuanya."Hazel menghela napas dalam hati. Seperti yang diduga, minum benar-benar menyebabkan masalah.Tidak hanya mabuk, tetapi dia juga bersikap sembrono kepada Sergio. Dia bahkan benar-benar merasa malu dan tidak berani bertemu dengan siapa pun.Melihatnya menundukkan kepala dan ingin membenamkan wajahnya di meja, Sergio tidak bisa menahan tawanya lagi.Dia berkata pelan. "Nggak bisa. Yang kamu lakukan kepadaku benar-benar lebih dari itu. Kamu sendiri yang menyerahkan kartu keluarga dan KTP m

  • Hazel Kesayangan Sergio   Bab 16

    Hazel berpikir sejenak, lalu keluar untuk meminta Line Sergio kepada Adam.Status mereka sudah menjadi suami istri yang sah, tetapi mereka masih belum menambahkan Line satu sama lain. Rasanya sedikit tidak pantas.Meski pernikahan mereka hanya sekedar formalitas, tetapi apa yang seharusnya ada harus tetap ada.Setelah mendengar permintaan Hazel, mata Adam berkilat kaget.Dia menambahkan kontak Line Hazel, lalu mengirimkan kontak Sergio kepada Hazel.Ponsel Hazel berbunyi dan dia menerima pesan tersebut. Dia membuka kontak Sergio dan melihat bahwa akun Sergio sangat bersih.Foto profil pria itu juga berwarna hitam polos tanpa pola apa pun.Lingkaran pertemanannya juga kosong.Terlihat sangat cocok dengan gaya keren Sergio.Hazel menambahkan pertemanan dan menuliskan sebuah catatan, "Om, ini Hazel."Namun, Hazel merasa pesan ini terkesan tidak sopan dan terlalu acuh. Jadi, dia menambahkan emoji lucu di bagian belakang tulisan.Setelah mengirim pesan, Hazel menunggu lama dan masih tidak a

Bab terbaru

  • Hazel Kesayangan Sergio   Bab 444

    Mendengar pengakuan Hazel yang tiba-tiba, hati Sergio langsung luluh.Dia mengulurkan tangan dan mengusap kepala Hazel, dengan lembut mendaratkan ciuman di puncak rambutnya."Hmm."Bisa mendapatkan pengakuan dari istrinya, Sergio merasa bahwa apa yang dia lakukan kali ini tidak sia-sia.Tidak sia-sia dia menunda pembicaraan kerja sama yang sangat penting untuk datang ke sini dan mendukung Hazel.Setelah waktu yang tidak diketahui, Hazel akhirnya melepaskan Sergio dan mengangkat wajahnya dari dada bidang pria itu.Matanya masih tertutup lapisan kabut berair karena menangis, menambah sedikit kesan sayu pada diri Hazel.Sergio tidak berdaya, menyapukan ujung jarinya dengan lembut di ujung matanya yang memerah. Sudut bibirnya tanpa sadar terangkat naik."Dasar cengeng. Kamu menangis saat sedih dan kamu menangis saat senang ...."Hazel yang mendengar itu langsung menatapnya, terlihat sangat menyedihkan."Bagaimana lagi, aku nggak bisa menahannya ...."Saat Sergio membela dan melindunginya,

  • Hazel Kesayangan Sergio   Bab 443

    Di tengah-tengah kalimatnya, dahi Hazel terkena sentilan dari Sergio.Sambil menutupi dahinya dengan rasa sakit, Hazel mengangkat kepalanya dan menatap pelakunya dengan wajah memelas. "Sakit! Om apa sih?""Memberimu pelajaran!"Sergio menjawab pelan. Melihat Hazel benar-benar kesakitan, dia pun menjadi tidak tega. Dia mengulurkan tangan dan mengusap tempat yang baru saja dia pukul.Dia melanjutkan, "Kamu selalu jadi yang nomor satu di mataku, jadi nggak ada yang namanya merepotkan. Hazel, aku malah senang kalau kamu sering menggangguku. Itu menandakan kalau aku cukup berharga di hatimu."Hazel tersentak tersadar, tidak menyangka akan mendengar kata-kata seperti itu dari bibir Sergio.Meskipun suara pria itu tenang, nadanya bercampur dengan nada pasrah yang tidak kentara.Entah kenapa jantung Hazel terasa seperti ditusuk dengan keras oleh sesuatu, hatinya terasa masam."Om, terima kasih ...."Tidak pernah ada orang yang membela dan mencintai Hazel seperti yang dilakukan Sergio.Perasaan

  • Hazel Kesayangan Sergio   Bab 442

    Sebahagia apa Hazel saat ini, sebesar itu pula rasa pahit yang ada di hati mereka yang dipaksa untuk meminta maaf.Mereka menyesalinya.Mengapa mereka tidak tahu diri dan berani menyinggung Hazel?Mengapa mereka mengatakan sesuatu seperti Hazel sudah mengkhianati Sergio dan Sergio akan marah dan meninggalkannya?Cara Sergio menatap Hazel begitu lepas dan penuh cinta.Di bagian mana itu menunjukkan rusaknya hubungan mereka?Orang yang awalnya bersikap sombong sekarang menundukkan kepala mereka. Rasanya, mereka ingin sekali mengecilkan tubuh mereka, meminimalkan rasa kehadiran mereka di ruangan ini."Kita nggak seharusnya mengganggu Hazel karena dia masih muda.""Apa lagi?"Sergio mengangkat matanya dengan dingin, menyalurkan penindasan yang kuat di bawah matanya.Apa lagi ....Semua orang diam-diam berteriak di dalam hati.Kenapa mereka malah mengganggu dewa kematian ini!"Kita nggak bisa menilai dengan baik dan salah paham dengan Bu Hazel.""Kita seharusnya nggak menyebutkan rumor ngga

  • Hazel Kesayangan Sergio   Bab 441

    Namun, Sergio tidak berniat membiarkan mereka lolos begitu saja.Matanya sedikit menyipit, aura dingin yang gelap terpancar dari kedalaman matanya. "Hmm? Maksud kalian aku berbohong?"Saat kata-kata ini terlontar, mereka menjadi makin panik."Bukan, bukan begitu!""Kesalahpahaman, itu semua salah paham!""Tuan Sergio, kami harusnya menghormati Bu Hazel, mana mungkin kami mengancamnya? Kami hanya ingin bertanya tentang video itu, itu saja."Sergio tertawa dingin, matanya yang tajam seperti elang menyapu semua orang yang hadir.Bibirnya yang tipis terbuka sedikit, suaranya yang dingin sangat menindas. Kata-kata yang diucapkannya membuat semua orang gemetar."Kesalahpahaman? Aku sudah melihat video itu, jelas sekali kalau sudut pengambilan gambarnya lah yang salah. Kalian bahkan nggak paham soal beginian, kenapa nggak ganti saja posisi dewan direksi JY Group dengan orang lain?"Walaupun nada suara Sergio datar, semua orang bisa merasakan kalau dia sedang marah!Mereka ingin melarikan diri

  • Hazel Kesayangan Sergio   Bab 440

    Suara rendah dan dingin, yang menyalurkan penindasan itu bergema dengan tajam di ruang konferensi yang besar, membuat siapa pun yang mendengarnya bergidik ngeri.Semua orang yang hadir menoleh secara bersamaan. Seketika, mata mereka membelalak kaget."Tu ... Tuan Sergio?"Kenapa sosok agung ini datang ke mari?Perasaan menindas yang dibawa Sergio kepada mereka saat Sergio terakhir kali muncul di ruang konferensi tampaknya masih tersisa sampai hari ini.Banyak orang secara tidak sadar menahan napas, tidak berani bernapas keras-keras. Mereka menatap lurus ke arah Sergio, ingin melihat apa yang ingin dia lakukan.Sergio bahkan tidak melirik mereka satu detik pun, langsung berjalan ke arah Hazel dan berdiri di depannya."Hazel, apa semuanya baik-baik saja? Apa kamu diganggu?"Hazel juga terkejut dengan kedatangannya. Lalu, dia bertanya dengan tidak percaya, "Om, kenapa kamu datang?"Sorot mata pria yang gelap dan dalam itu tiba-tiba menjadi lebih lembut. Dia mengulurkan tangan untuk mengus

  • Hazel Kesayangan Sergio   Bab 439

    Hazel berkata dengan suara dingin, "Daripada peduli dengan hal ini, kamu harusnya merenungkan seberapa besar kontribusimu kepada perusahaan."Pria itu terdiam, lalu menjadi jengkel dan menggebrak meja di depannya. "Apa maksudmu?""Seperti apa yang sudah aku katakan." Ekspresi di wajah Hazel tidak berubah, nada suaranya sangat tenang, "Alasan kenapa perusahaan jatuh ke dalam situasi saat ini nggak terlepas dari orang-orang sepertimu yang hanya tahu cara mengacau dan berpuas diri."Pria itu membuka mulutnya, ingin membalas sesuatu, tetapi dia melihat tatapan Hazel yang sedingin es."Kalau kamu nggak mau aku menguak semua tabiatmu, lebih baik diam."Suara Hazel jernih dan dingin, matanya menyalurkan ketegasan di dalamnya dan tubuhnya memancarkan aura kuat yang membawa tekanan tak terlihat."Kamu ...."Wajah pria itu memerah, tetapi dia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas. Dia terpaksa diam.Ruang konferensi menjadi hening, semua orang memiliki persepsi baru tentang Haze

  • Hazel Kesayangan Sergio   Bab 438

    Hazel memijit punggungnya yang, lalu berjuang untuk bangun dari tempat tidur untuk mandi.Apa yang terjadi semalam memang sangat berlebihan, membuat wajah Hazel terlihat lebih pucat.Jarak yang dekat ke kamar mandi saja membutuhkan waktu beberapa menit untuk berjalan ke sana.Usai selesai mandi dan berganti pakaian, dia hampir terlambat ke kantor.Hazel segera beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas keluar sambil menyapa Adam."Selamat pagi, Pak Adam. Aku berangkat dulu, sampai jumpa nanti malam ....""Nyonya, sarapan dulu sebelum berangkat. Yang namanya pekerjaan pasti nggak ada selesainya."Adam menghentikan Hazel, mencoba menasihatinya dengan cemas.Hazel melambaikan tangannya, terlihat sedikit terburu-buru. "Nggak usah. Pagi ini ada rapat dan aku sudah hampir terlambat."Adam mengerutkan kening tidak setuju dan menariknya kembali. "Jangan sampai nggak sarapan. Nyonya, Tuan secara khusus meminta saya untuk mengawasi Nyonya sarapan sebelum berangkat kerja. Bahaya kalau tekanan dar

  • Hazel Kesayangan Sergio   Bab 437

    Meskipun Hazel memiliki tubuh yang kurus, tubuhnya tetap berisi di beberapa bagian.Sergio sangat menyukainya.Hazel menatap tatapan membara yang tersembunyi di bagian bawah mata Sergio, entah bagaimana, pikirannya tiba-tiba teringat kembali saat di mana mereka berada di tempat tidur.Wajahnya langsung memerah. Dia langsung beranjak, mencoba melarikan diri."Om, aku sudah kenyang, mau istirahat dulu!"Namun saat Hazel berdiri, pergelangan tangannya dipegang oleh Sergio.Dengan sedikit tarikan, tubuh Hazel jatuh ke belakang. Saat kembali tersadar, dia sudah berada di pangkuan Sergio.Hazel tersipu malu dan berbisik, "Apa yang kamu lakukan?""Menurutmu?"Sergio mendekat perlahan, menempelkan dahinya ke dahi Hazel. Matanya yang gelap dan teduh menyembunyikan api yang membara.Bulu mata Hazel yang panjang dan lentik berkedip beberapa kali dan menatapnya dengan memelas. "Aku nggak tahu."Sergio menempelkan bibirnya ke bibir Hazel, suaranya serak seolah berisi butiran pasir, "Aku ... menging

  • Hazel Kesayangan Sergio   Bab 436

    Sergio tidak bisa menahan tawa saat melihat rasa malu Hazel, sampai menciut seperti ini.Dia mengulurkan tangan dan mengusap rambut Hazel yang sedikit berantakan, suaranya jelas dan pelan, "Ya, nggak akan aku buka."Setelah mengatakan itu, dia meninggikan suaranya dan berkata kepada Adam yang berada di luar pintu, "Ya. Hari ini pasti kalian lelah, istirahatlah lebih awal."Adam terdiam sejenak, lalu dengan cepat menyadari kalau mungkin dia sudah mengganggu kesenangan tuan dan nyonyanya.Dia menunjukkan senyum penuh kasih, lalu mengiakan dengan penuh pengertian, "Baik, saya akan mengatur situasi agar nggak ada yang akan mengganggu kalian malam ini!"Mendengar kata-kata Adam, Hazel tahu kalau Adam sudah salah paham.Dia mengangkat pipinya yang memerah dari dada Sergio dan menatap tajam ke arah pelakunya."Kamu sengaja melakukan ini?"Sergio menarik kembali senyuman di wajahnya. "Ya, aku memang sengaja."Hazel terkesiap dan ingin memukulnya. Namun, belum sempat dia mengepalkan tinjunya ya

DMCA.com Protection Status