“Tu-tuan Felix?!” Ariella melebarkan maniknya seluas cakram.Ya, itu memang Felix Baratheon. Dia yang mulanya meminta Matthias agar membawa Ariella ke kantornya, kini berubah pikiran dan ingin bermain dengannya di apartemen adik sepupunya.Ketegangan pun merambat ke seluruh nadi wanita itu. Terlebih saat mengamati Felix mengunci pintu, lalu berjalan ke arahnya.“Beberapa hari ini kita tidak bertemu di mansion. Ternyata kau berlagak bekerja di galeri, jalang sialan!” tukas Felix menaikkan sebelah alisnya.Tatapan Ariella berubah gemetar. Sungguh sial, karena dirinya malah terjebak dengan para pria bajingan ini.Sambil memegang dressnya yang sepanjang lutut, Ariella lantas berkata, “apa yang Anda lakukan di sini, Tuan Muda?!”Bukannya langsung menyahut, Felix justru melirik Matthias yang menahan sakit.“Kak Felix, jalang ini benar-benar kurang ajar ‘kan?” tukas pemuda itu mengadu.Lawan bincangnya pun beralih menatap Ariella sembari menarik seringai tipis. Semakin dia mendekat, Ariella
‘A-aku, harus menghentikannya!’ Ariella bergeming dalam hati.Meski Felix memaksanya membuka mulut dengan mendorong lidahnya masuk, tapi Ariella dengan kuat menggertakkan giginya. Tangan wanita tersebut berusaha menyingkirkan pria itu dengan mencakar lengan, bahkan mendorong dadanya.Namun, setiap reaksinya justru memacu gairah Felix semakin liar. Darah pria tersebut berdesir penuh hasrat, hingga dia tak ragu melumat bibir Ariella yang kenyal. Tapi detik itu juga Ariella malah membuka mulut dan langsung menggigit bibir Felix amat kuat.“Ugh!” Felix mengernyit saat gelenyar merah yang anyir mendominasi mulutnya.Belum sampai pria itu bangkit, sebelah tangan Ariella malah memukulnya dengan gelas lilin ganja yang diraihnya dari nakas.“Hah ….” Ariella seketika bisa bernapas lega saat Felix menarik diri darinya.Pukulan yang cukup keras, membuat darah merembes dari pelipis Felix. Dan itu memicunya mengerang kesakitan.“Argh, dasar brengsek!” umpat Felix mengusap lukanya.Di saat lengahnya
“Ya, terima kasih ….” Ariella meredam ucapnya saat mengangkat pandangan. “Ha-halley?!”Dia membelalak selaras dengan sang pria yang juga melebarkan irisnya.“Ariella, apa yang kau lakukan di sini?” Halley bertanya penasaran.Namun, wanita itu hadapannya malah tampak gugup. Tangannya yang bertumpu pada bahu Halley terasa bergetar dan Halley menyadari bahwa terjadi sesuatu.“Apa ada masalah?” tanya pria itu lagi.Dengan raut wajah buncahnya, Ariella menjawab, “ba-bawa aku pergi, Halley. Tolong … aku harus keluar dari tempat ini!”Kecemasan menggantung di matanya. Halley tahu situasi ini tidak biasa, terlebih tatapannya tak sengaja jatuh pada leher Ariella yang penuh bekas cumbuan. Itu seketika membangkitkan amarah di matanya. Halley pun menarik diri, lalu merengkuh tangan Ariella.“Ayo lewat sini!” tukasnya kemudian.Namun, belum sampai mereka beranjak, Matthias yang keluar hanya dengan celana panjangnya pun memekik, “berhenti di sana, jalang sialan!”Ariella sontak berpaling dengan tat
“Apa urusannya dengan Anda?!” tukas Halley disertai tatapan tajam.Sikapnya yang kasar, seketika memicu seringai tipis melenggang di bibir Felix. “Brengsek! Kau pikir bisa bicara sembarangan hanya karena kau kacung Lucas?! Kau memang pantas mati!” decaknya berniat menarik pelatuk pistolnya. Namun, Halley yang sejak tadi waspada, langsung menampik lengan Felix yang tengah mengacungkan pistol itu. Gerakannya yang cepat dan tegas, sontak membuat Felix kewalahan karena posisi mereka hanya menginjak anak tangga yang sempit. Saat itulah, Halley mengambil kesempatan dengan memukul dagu bawah Felix. Namun, adik tiri Lucas itu malah menyikutnya keras, sampai-sampai kaki Halley nyaris meleset dari pijakan tangganya. “Kita harus menghabisinya, Kak!” Matthias tiba-tiba memberang. Tanpa ragu, pemuda tersebut langsung mendorong Halley hingga punggung pria tersebut menatap dinding. Sialnya Matthias yang sudah dikebaki emosi, tak kenal ampun. Dirinya menghujam perut Halley dengan tendangan, memb
WARNING: Chapter ini mengandung adegan dewasa!“Matthias, bawa bajingan ini!” Felix memerintah tegas.Adik sepupunya yang masih mencekal lengan Ariella pun menyahut antusias. “Serahkan padaku, Kak!”Matthias lantas menghampiri Halley, lalu menyeretnya dengan kasar mengikuti Felix yang kini menarik Ariella masuk lift untuk kembali ke lantai atas.Begitu tiba di sana, Mattias langsung memaksa Halley duduk di kursi. Pemuda itu mengikat tangan dan kakinya dengan tali cukup kuat. Meski Halley memberontak, dirinya kesulitan lepas sebab tubuhnya masih cedera.“Sial! Jika kalian ingin membunuhku, bunuh saja sekarang. Tapi lepaskan Ariella!” Halley memberang penuh umpatan.Matthias yang baru selesai mengikat kakinya, seketika bangkit dan langsung menghajar wajahnya dengan kasar.“Ugh!” Halley mengeryit tatkala gelenyar merah merembes lebih deras dari sudut mulutnya.Meski kesakitan, tapi Halley tetap memicing sinis, hingga membuat Matthias dengan geram mencengkeram rahangnya.“Bajingan seperti
“Ada apa, Kak?!” Matthias bertanya penasaran. Felix hanya bungkam mendengarkan ucapan dari telepon. Irisnya melirik Matthias, lalu berujar, “baiklah, Ibu. Aku akan membereskannya!”Matthias yang mendapat tatapan bengis seketika merinding. Tapi belum sampai dia bertanya lagi, Felix sudah lebih dulu mendengus tajam. “Kenapa kau tidak bilang kalau Peter menemui istri korban Santa Manila itu?!”“Heuh?” Matthias menjeda rekaman dari kameranya. “A-aku memang akan melaporkan ini pada Kakak, tapi—”“Tapi kenapa sampai sekarang kau diam saja?!” Felix menyambar cepat dan penuh tekanan. Dia bahkan menghempas Ariella ke samping, hingga wanita itu jatuh ke ranjang. Saat itulah, Ariella menarik selimut menutupi tubuhnya. Dia perlahan meraih dress yang tergeletak di lantai, lalu buru-buru memakainya.Felix pun bangkit, tanpa segan dia langsung mendorong bahu Matthias sampai punggungnya menatap nakas. “Ka-Kak Felix, tenanglah! Lagi pula aku sudah mengurusnya. Aku sudah meminta mata-mata kita unt
Ariella yang bungkam, membuat rasa sabar Felix terkikis.“Cepat berikan padaku!” Pria itu menyentak tegas, selaras tangannya yang menekan lengan Ariella lebih kuat.Akan tetapi wanita itu hanya menatapnya berang, seolah tak sudi memberikan yang Felix minta. Sialnya, pria tersebut langsung menampik kotak obat yang dipegang Ariella hingga jatuh ke lantai. Saat itulah, ponsel Peter tak sengaja keluar dari sana.“Aish, sialan!” Makian lolos dari mulut Felix ketika mengambil benda pipih itu.Bibirnya menyeringai puas, tapi ini sungguh membuat Ariella was-was.Dengan tatapan tegasnya, wanita itu menuntut balasan. “Saya sudah mengambil ponsel Tuan Peter, sekarang tepati janji Anda. Bebaskan Halley!”Ya, Felix memang membuat kesepakatan itu dengannya. Usai mendengar kabar dari Beatrice bahwa Peter memegang bukti kuat untuk membebaskan Lucas, Felix harus melakukan apapun untuk memusnahkannya. Sebab itu, dia meminta Ariella mengkhianati Lucas dengan mencuri bukti itu dari Peter.Pria tersebut m
‘Sialan! Apa yang dia lakukan?!’ Lucas mencecar penuh makian dalam hatinya.Mulanya dia tak menggubris setiap bualan Felix, tapi saat melihat video Ariella yang berjalan telanjang dan duduk di paha adiknya, sungguh membuat amukannya meradang. Bahkan kedua tangannya yang saling berkaitan di atas meja, ini tampak mengepal geram.‘Jadi selama ini aku memelihara seorang pengkhianat?!’ sambung pria itu membatin berang.Emosinya pun kian membengkak ketika Felix berujar, “kau tahu, Kak? Jalang ini sangat pandai bergoyang di atas ranjang. Apa dia juga memuaskanmu? Aku menyukainya karena dia selalu patuh padaku, termasuk mencuri ponsel Peter!”Iras muka Felix berangsur berang selaras dengan kalimat terakhirnya yang kebak tekanan. Dia tertawa penuh ejekan mengamati wajah Lucas yang sejak tadi menatapnya dingin.“Hah … aku rasa kau harus mengganti asistenmu yang bodoh itu, agar lebih becus bekerja. Atau kau mau aku rekomendasikan seseorang? Aish, tapi apa gunanya? Kau akan membusuk di penjara!”
***‘Bagaimana bisa seperti ini?’Ariella keluar dari ruang dokter spesialis hematologi itu dengan tatapan kosong. Tangannya masih menggenggam gagang pintu, tampak gemetar. ‘Jika Nyonya melahirkan anak dari ayah kandung Ava, maka kita bisa melakukan transplantasi dari darah tali pusar bayi tersebut!’ Perkataan sang dokter terus berputar di kepala Ariella.Entah dia harus lega atau bertambah perih. Pasalnya Ariella memutuskan muncul di hadapan Lucas untuk membalas dendam perlakuan keluarga Baratheon di masa lalu. Tapi kini dirinya harus mengandung anak pria itu demi Ava?!Sial, setiap detik rasanya dada Ariella semakin sesak. Bagaimanapun, dia harus menyelamatkan putrinya.‘Ava … Mommy mohon bertahanlah sebentar. Mommy akan menyembuhkan Ava,’ tutur Ariella dengan air mata yang mengancam tumpah.Dia menelan saliva dengan berat dan berniat menemui putrinya di ruang rawat. Baru berjalan beberapa langkah, kakinya tiba-tiba lemas seolah kehilangan daya. Nyaris saja Ariella ambruk, tapi Dam
“Anda mengenal saya?” tanya Peter mendapukkan alisnya heran.Dia mengamati wajah Jane lebih lekat. Pikirannya coba mengingat, tapi lirikannya malah tak sengaja jatuh pada busungan payudara padat di balik blouse off shoulder wanita tersebut. Dan itu langsung membuat Jane tak nyaman.“Brengsek! Apa yang Anda lihat?!” maki Jane yang sontak menampar wajah Peter amat keras.Gerakan mendadak itu membuat pegangan Peter terlepas, memicu Jane terhuyung. Beruntung dirinya langsung menumpukan sebelah tangan ke dinding, hingga tak sampai ambruk ke lantai.Dengan tatapan waspada, wanita tersebut kembali mengumpat, “hah, sialan! Ternyata Anda hanya bajingan kurang ajar. Tunggu saja, saya akan melaporkan hal ini pada petugas keamana!”“Tu-tunggu!” tukas Peter buru-buru merengkuh tangan Jane saat wanita itu hendak mangkir.Raut wajahnya tampak menyesal sembari melanjutkan. “Mohon maaf, Nona. Saya tidak bermaksud seperti itu.”Bukannya menanggapi, sorot mata Jane malah terpampang sinis melihat tangann
“Tuan Lucas, Pimpinan masuk rumah sakit!” tukas Peter dari seberang telepon.Lucas yang mendengarnya seketika menyernyit. Dia pikir sang asisten akan melaporkan hasil penyelidikan tentang Damien dan Ariella, nyatanya bukan.“Pimpinan tiba-tiba pingsan di ruang kerjanya. Saat ini Dokter Esteban sedang menanganinya,” sambung Peter menjelaskan singkat.Dengan rahang ketatnya, Lucas pun menimpali, “aku akan ke sana!”Dia mematikan panggilan dan langsung memutar balik Bentley hitamnya. Ya, begitu mengetahui dokter yang memeriksa, Lucas yakin bahwa sang ayah dibawa ke rumah sakit Nasional La Fosa. Benar, sebab Richard hanya mempercayakan kesehatannya pada sahabat lamanya itu.Lucas memacu mobilnya cukup kencang, hingga tiba di rumah sakit Nasional La Fosa bersamaan dengan taksi yang ditumpangi Ariella. Sayangnya Lucas tak melihat wanita itu yang buru-buru masuk ke lobi lebih dulu. Perhatian Lucas justru tertuju pada mobil yang biasa dikendarai sopir ayahnya di depan sana.Lucas meraih ponse
“Menyukaimu?! Jangan berpikir macam-macam. Kau tidak sepenting itu!” Lucas mendecak tegas.Bahkan sepasang manik elangnya memicing tajam, seakan ingin memberi pelajaran pada mulut Ariella yang sembarangan bicara. Tapi lawan bincangnya tak menanggapi. Ariella justru fokus pada ponselnya.‘Ava?!’ batin Ariella dengan tenggorokan tercekat.Rasa cemas langsung mendominasi dirinya. Padahal terakhir kali meninggalkan Ava, putrinya itu baik-baik saja. Bagaimana mungkin sekarang demam tinggi?‘Ti-tidak! Tunggu Mommy, Ava. Mommy akan segera menemuimu!’ sambung Ariella bergeming.Dia memasukan ponsel ke dalam tas, lalu coba membuka pintu. Sialnya masih terkunci dan itu membuatnya semakin buncah.“Tolong buka pintunya!” Ariella berujar sambil melirik ke depan.Namun, Lucas yang mengamati tingkahnya malah kukuh ingin menahannya. Tanpa peduli, dia kini melajukan mobilnya lagi.“Apa yang Anda lakukan? Saya bilang buka pintunya!” decak Ariella lebih keras. “Saya mohon hentikan mobil ini dan buka pin
“Ah?!” Giselle sontak terkejut saat pintu mobil Lucas terbuka.Dia mengerjap dengan tatapan lebar melihat pria itu dengan penampilan berantakan. Padahal Lucas Baratheon adalah sosok yang terobsesi dengan kesempurnaan. Kini sangat aneh karena dasinya tak karuan, tapi Lucas diam saja.“Apa yang terjadi padamu, Luke?” tanya Giselle mulai menyelidik.Alih-alih menjawab, sang pria malah menutup pintu mobil belakang itu amat kasar. Benar, belum sampai Giselle membukanya tadi, Lucas lebih dulu keluar. Sorot manik elangnya memancar dingin begitu melirik Damien di sebelah Giselle. Jelas sekali tatapan seorang rival.“Oh, kau jangan salah paham. Aku dan Tuan Damien Rudwick tidak sengaja bertemu. Beliau ingin membantuku mencarimu karena kau tiba-tiba menghilang di acara dansa,” tukas Giselle menjelaskan tanpa diminta.Ya, dia takut Lucas cemburu, padahal pria itu sama sekali tak peduli.“Tuan Lucas, Anda tahu di mana Ariella?” Damien langsung menginterupsi, memicu alis Lucas berkedut sengit.“Ke
‘Kau yang memulai ini. Jangan harap bisa mengakhirinya, tanpa kehendakku!’ batin Lucas bertekad dalam hati. Tangannya merayap ke pinggang Ariella seiring bibirnya yang mulai membalas ciuman wanita tersebut. Bahkan tiba-tiba saja, Lucas langsung mengangkat pinggul Ariella ke pangkuannya tanpa melepas pagutan. “Uhh!” Ariella tersentak kaget hingga membelalakkan mata. Namun, Lucas dengan sigap merengkuh belakang lehernya agar Ariella tak bisa menjauh. Memang sial, Ariella yang semula hanya ingin mengalihkan perhatian Lucas agar tidak memanggil Damien, malah terjebak sekarang. Wanita bergaun hitam itu menekan dada Lucas, berupaya melepas cumbuan. Buruknya, Damien kini berdiri beberapa inci di luar mobil Lucas. Dia coba menelepon Ariella, tapi panggilan itu tak kunjung diangkat. ‘Sebenarnya kau di mana, Ariella? Apa terjadi sesuatu?’ geming Damien amat cemas. Pria itu menoleh ke arah mobil Lucas, tanpa tahu wanita yang dicarinya ada di sana. Lucas jadi kesal saat tak sengaja melirik
‘Sial! Aku harus segera keluar!’ batin Ariella berniat membuka pintu di sebelahnya.Namun, dengan sigap Lucas menariknya lebih cepat hingga pintu itu tertutup lagi. Sebelah tangan yang menahan pintu mobil, membuat posisi pria tersebut mengungkung Ariella amat dekat. Bahkan wajahnya yang kini tepat berada di samping telinga Ariella, berubah lebih dingin.“Kali ini aku tidak akan membiarkanmu kabur.” Lucas berbisik pelan, tapi nadanya mengandung gertakan.Ariella sampai kesulitan menelan saliva dengan leher tegangnya. Akan tetapi dia tak bisa pasrah begitu saja. Dia hendak mendorong Lucas menjauh, sialnya pria bersetelan jas hitam itu tatap kukuh, bahkan sengaja merapatkan diri pada Ariella.Sang wanita tak tahan lagi, hingga langsung berbalik menghadap belakang. Sungguh sial, karena gerakan itu nyaris saja membuat wajah mereka bertumbukan.Dengan dada bergemuruh penuh amukan, Ariella lantas mendengus, “sebenarnya apa yang Anda inginkan?!”“Aku ingin membuatmu mengingatku!” sahut Lucas
“Mari lihat, sehebat apa kau berdansa!” Lucas berujar dengan sorot mata dinginnya. Dan itu memicu ekspresi Ariella semakin membeku. Terlebih saat tangan Lucas menyusup ke belakang pinggang Ariella, lalu menarik cepat agar lebih rapat padanya. Ariella berupaya mundur, tapi sialnya Lucas malah mendekapnya lebih erat hingga dia tak bisa bergerak. “Hah! A-apa yang Anda lakukan?!” tukas Ariella memicing tegas. Alih-alih menyahut dengan ucapan, Lucas justru menjulurkan wajah sampai tepat berada di sebelah telinga wanita itu. “Teruslah berpura-pura. Aku ingin melihat, sampai kapan kau bersandiwara, Ariella!” bisiknya pelan, tapi mengandung ancaman. Mendengar namanya terlucut dari mulut pria itu, sungguh membuat Ariella merasa aneh. Padahal dulu tak pernah sekalipun Lucas mengatakannya. Di tengah ketegangan itu, Ariella tambah tertegun saat ibu jari Lucas tiba-tiba mengusap bibirnya yang merah merona. “Ahh!” Ariella sontak melengos ke samping. Namun, gerakan mendadak tersebut malah me
“Damien? Ka-kapan kau masuk?” Ariella bertanya dengan kikuk.Damien Rudwick yang berdiri tepat di belakangnya, kini melirik cermin di hadapan Ariella. Sengaja melihat penampilan Ariella yang sempurna dari pantulan kaca.“Aku sejak tadi memanggilmu, tapi kau tidak dengar,” bisik Damien selaras dengan tangannya yang menarik resleting Ariella ke atas. “Harusnya kau memanggilku jika kesulitan.”Ariella hanya bungkam sembari membuang pandangan ke depan lagi. Dia berupaya menata wajah tetap tenang, sebab Damien bisa melihatnya dari cermin. Tapi sialnya, wanita itu malah mengerjap tegang saat jari Damien tak sengaja menyentuh kulit punggungnya yang mulus. Pria itu pasti juga melihat bra hitamnya. Sungguh, Ariella benar-benar ingin kabur.‘Aku salah. Harusnya aku memanggil Jane lebih cepat!’ batinnya dengan dada berdebar was-was.Tapi detik berikutnya, Damien malah berkata, “aku tidak melihat apapun. Aku hanya ingin membantumu, Ariella.”Dia tau Ariella tidak nyaman, sebab itu dirinya mundur