WARNING: Chapter ini mengandung adegan dewasa!“Matthias, bawa bajingan ini!” Felix memerintah tegas.Adik sepupunya yang masih mencekal lengan Ariella pun menyahut antusias. “Serahkan padaku, Kak!”Matthias lantas menghampiri Halley, lalu menyeretnya dengan kasar mengikuti Felix yang kini menarik Ariella masuk lift untuk kembali ke lantai atas.Begitu tiba di sana, Mattias langsung memaksa Halley duduk di kursi. Pemuda itu mengikat tangan dan kakinya dengan tali cukup kuat. Meski Halley memberontak, dirinya kesulitan lepas sebab tubuhnya masih cedera.“Sial! Jika kalian ingin membunuhku, bunuh saja sekarang. Tapi lepaskan Ariella!” Halley memberang penuh umpatan.Matthias yang baru selesai mengikat kakinya, seketika bangkit dan langsung menghajar wajahnya dengan kasar.“Ugh!” Halley mengeryit tatkala gelenyar merah merembes lebih deras dari sudut mulutnya.Meski kesakitan, tapi Halley tetap memicing sinis, hingga membuat Matthias dengan geram mencengkeram rahangnya.“Bajingan seperti
“Ada apa, Kak?!” Matthias bertanya penasaran. Felix hanya bungkam mendengarkan ucapan dari telepon. Irisnya melirik Matthias, lalu berujar, “baiklah, Ibu. Aku akan membereskannya!”Matthias yang mendapat tatapan bengis seketika merinding. Tapi belum sampai dia bertanya lagi, Felix sudah lebih dulu mendengus tajam. “Kenapa kau tidak bilang kalau Peter menemui istri korban Santa Manila itu?!”“Heuh?” Matthias menjeda rekaman dari kameranya. “A-aku memang akan melaporkan ini pada Kakak, tapi—”“Tapi kenapa sampai sekarang kau diam saja?!” Felix menyambar cepat dan penuh tekanan. Dia bahkan menghempas Ariella ke samping, hingga wanita itu jatuh ke ranjang. Saat itulah, Ariella menarik selimut menutupi tubuhnya. Dia perlahan meraih dress yang tergeletak di lantai, lalu buru-buru memakainya.Felix pun bangkit, tanpa segan dia langsung mendorong bahu Matthias sampai punggungnya menatap nakas. “Ka-Kak Felix, tenanglah! Lagi pula aku sudah mengurusnya. Aku sudah meminta mata-mata kita unt
Ariella yang bungkam, membuat rasa sabar Felix terkikis.“Cepat berikan padaku!” Pria itu menyentak tegas, selaras tangannya yang menekan lengan Ariella lebih kuat.Akan tetapi wanita itu hanya menatapnya berang, seolah tak sudi memberikan yang Felix minta. Sialnya, pria tersebut langsung menampik kotak obat yang dipegang Ariella hingga jatuh ke lantai. Saat itulah, ponsel Peter tak sengaja keluar dari sana.“Aish, sialan!” Makian lolos dari mulut Felix ketika mengambil benda pipih itu.Bibirnya menyeringai puas, tapi ini sungguh membuat Ariella was-was.Dengan tatapan tegasnya, wanita itu menuntut balasan. “Saya sudah mengambil ponsel Tuan Peter, sekarang tepati janji Anda. Bebaskan Halley!”Ya, Felix memang membuat kesepakatan itu dengannya. Usai mendengar kabar dari Beatrice bahwa Peter memegang bukti kuat untuk membebaskan Lucas, Felix harus melakukan apapun untuk memusnahkannya. Sebab itu, dia meminta Ariella mengkhianati Lucas dengan mencuri bukti itu dari Peter.Pria tersebut m
‘Sialan! Apa yang dia lakukan?!’ Lucas mencecar penuh makian dalam hatinya.Mulanya dia tak menggubris setiap bualan Felix, tapi saat melihat video Ariella yang berjalan telanjang dan duduk di paha adiknya, sungguh membuat amukannya meradang. Bahkan kedua tangannya yang saling berkaitan di atas meja, ini tampak mengepal geram.‘Jadi selama ini aku memelihara seorang pengkhianat?!’ sambung pria itu membatin berang.Emosinya pun kian membengkak ketika Felix berujar, “kau tahu, Kak? Jalang ini sangat pandai bergoyang di atas ranjang. Apa dia juga memuaskanmu? Aku menyukainya karena dia selalu patuh padaku, termasuk mencuri ponsel Peter!”Iras muka Felix berangsur berang selaras dengan kalimat terakhirnya yang kebak tekanan. Dia tertawa penuh ejekan mengamati wajah Lucas yang sejak tadi menatapnya dingin.“Hah … aku rasa kau harus mengganti asistenmu yang bodoh itu, agar lebih becus bekerja. Atau kau mau aku rekomendasikan seseorang? Aish, tapi apa gunanya? Kau akan membusuk di penjara!”
Pengacara pembela Lucas meraih sesuatu dari balik jasnya, lalu berujar tegas. “Ini ponsel milik mendiang Caesar yang ditemukan di lokasi kontruksi proyek Santa Manila, Yang Mulia!”Dia juga memampangkan benda pipih itu ke arah jaksa penuntut yang menatapnya. Dan itu membuat Felix yang berada di sebelah Ariella mengerutkan dahinya kesal.‘Sialan! Kenapa mereka bisa menemukan ponsel korban? Bukankah Matthias sudah mengurus semuanya?!’ cecarnya membatin geram.Reaksinya tersebut berbending terbalik dengan Ariella yang berbinar penuh harap.“Ponsel itu tidak akan membuktikan apapun!” Felix mencibir seakan mematahkan kesenangan Ariella.Namun, detik berikutnya sang pengacara menyalakan layar proyektor di depan ruang sidang. Di sana terpampang pesan obrolan mendiang korban proyek Santa Manila dengan sang istri, sebelum kecelakaan.Hakim ketua dan semua orang yang melihatnya sontak membelalak, mengetahui sepasang suami istri itu sengaja merencanakan kecelakaan.[Aku takut, istiku.][Kau suda
‘Hah … Tu-tuan Muda ingin membunuhku!’ batin Ariella menutup mulutnya dengan sebelah tangan.Sensasi empedu seperti naik ke leher, tubuhnya pun gemetar ketakutan saat mendapati orang mengincar nyawanya. Dan sial, saking terkejutnya, bahu Ariella tak sengaja menyenggol pintu ruangan tersebut, hingga terbuka lebih lebar.‘Ah! Celaka!’ Wanita itu bergeming kaget selaras dengan Peter yang kini menoleh ke arah pintu.“Tuan Muda, sepertinya ada tikus yang berusaha menguping pembicaraan kita!” tukas Peter menatap tegas.Lucas yang berada di kursinya, menilik ke arah pintu dengan sorot tajam. Tampak jelas amarah membara tergantung di matanya.“Saya akan menangkapnya, Tuan Muda!” Peter berujar sambil menoleh pada Lucas lagi.Alih-alih menyetujui, Lucas justru mengangkat telapak tangannya, memberi kode pada sang asisten untuk menahan diri.Sementara Ariella yang berada di balik ambang itu, semakin ketakutan. Dia buru-buru berbalik dan mangkir dari sana. Saking buncahnya, wanita tersebut hampir
“Brengsek!” Felix mengumpat geram. “Siapa yang berani masuk se—”Kata-kata lelaki itu kembali tertelan, bahkan maniknya langsung berubah seluas cakram begitu melihat Beatrice memicing jijik ke arahnya. “Hah! I-ibu?!” Felix seketika menjauh dari Ariella. Sang waninta yang sejak tadi tengkurap di meja billiard itu pun bergegas merapikan diri. Tapi saat berpaling pada Felix, dia tak segan menggampar wajah lelaki tersebut dengan kerasnya. “Kau!” Felix menatap tajam saat merasakan wajahnya memanas di bekas tamparan. Namun, Ariella tak gentar sebab dirinya tak bersalah. Wanita itu sudah lelah menjadi bahan fantasi bejat Felix. Hingga dengan manik yang memerah, Ariella berujar tegas pada Beatrice. “Nyonya Besar, Tuan Muda Felix berniat memperkosa saya!”“Sialan! Apa yang kau bicarakan, dasar jalang?!” Felix menyambar dengan raut wajah berangnya. Tapi bukannya menciut, Ariella malah menunjuk botol alkohol yang tergeletak di karpet dekat tempat Beatrice berdiri. “Alkohol itu! Tuan Muda
“Tidak, Tuan Muda!” tukas Ariella yang seketika berpaling ke belakang. Dirinya telah susah payah masuk ke galeri seni itu. Dia masih harus mencari bukti kematian Elizabeth di galeri seni tersebut. Mana mungkin Ariella menyerah di tengah jalan?Belum sampai wanita itu melanjutkan ujarnya, Lucas malah beranjak pergi. Ariella tak bisa pasrah. Apapun yang terjadi, dia harus mengatakan semuanya pada sang suami.“Saya bisa menjelaskan bahwa saya tidak memihak Tuan Felix, tapi ….” Ucapan Ariella kembali teredam sebab Lucas tak menghentikan langkahnya. Dengan cepat, wanita itu pun merengkuh tangan Lucas agar berhenti. “Tolong dengarkan saya, Tuan Muda!” tukas Ariella penuh harap. Namun, tanpa diduga Lucas malah berpaling sambil menghempas cekalan Ariella amat kasar. Punggung istrinya itu menatap lemari pendingan, tapi Lucas yang sejak tadi membendung amarah, langsung mengungkungnya dengan sebelah tangan.Manik elang pria itu menatap tajam seraya mendecak, “apa kau tidak paham bahasa manus
“Ah?!” Giselle sontak terkejut saat pintu mobil Lucas terbuka.Dia mengerjap dengan tatapan lebar melihat pria itu dengan penampilan berantakan. Padahal Lucas Baratheon adalah sosok yang terobsesi dengan kesempurnaan. Kini sangat aneh karena dasinya tak karuan, tapi Lucas diam saja.“Apa yang terjadi padamu, Luke?” tanya Giselle mulai menyelidik.Alih-alih menjawab, sang pria malah menutup pintu mobil belakang itu amat kasar. Benar, belum sampai Giselle membukanya tadi, Lucas lebih dulu keluar. Sorot manik elangnya memancar dingin begitu melirik Damien di sebelah Giselle. Jelas sekali tatapan seorang rival.“Oh, kau jangan salah paham. Aku dan Tuan Damien Rudwick tidak sengaja bertemu. Beliau ingin membantuku mencarimu karena kau tiba-tiba menghilang di acara dansa,” tukas Giselle menjelaskan tanpa diminta.Ya, dia takut Lucas cemburu, padahal pria itu sama sekali tak peduli.“Tuan Lucas, Anda tahu di mana Ariella?” Damien langsung menginterupsi, memicu alis Lucas berkedut sengit.“Ke
‘Kau yang memulai ini. Jangan harap bisa mengakhirinya, tanpa kehendakku!’ batin Lucas bertekad dalam hati. Tangannya merayap ke pinggang Ariella seiring bibirnya yang mulai membalas ciuman wanita tersebut. Bahkan tiba-tiba saja, Lucas langsung mengangkat pinggul Ariella ke pangkuannya tanpa melepas pagutan. “Uhh!” Ariella tersentak kaget hingga membelalakkan mata. Namun, Lucas dengan sigap merengkuh belakang lehernya agar Ariella tak bisa menjauh. Memang sial, Ariella yang semula hanya ingin mengalihkan perhatian Lucas agar tidak memanggil Damien, malah terjebak sekarang. Wanita bergaun hitam itu menekan dada Lucas, berupaya melepas cumbuan. Buruknya, Damien kini berdiri beberapa inci di luar mobil Lucas. Dia coba menelepon Ariella, tapi panggilan itu tak kunjung diangkat. ‘Sebenarnya kau di mana, Ariella? Apa terjadi sesuatu?’ geming Damien amat cemas. Pria itu menoleh ke arah mobil Lucas, tanpa tahu wanita yang dicarinya ada di sana. Lucas jadi kesal saat tak sengaja melirik
‘Sial! Aku harus segera keluar!’ batin Ariella berniat membuka pintu di sebelahnya.Namun, dengan sigap Lucas menariknya lebih cepat hingga pintu itu tertutup lagi. Sebelah tangan yang menahan pintu mobil, membuat posisi pria tersebut mengungkung Ariella amat dekat. Bahkan wajahnya yang kini tepat berada di samping telinga Ariella, berubah lebih dingin.“Kali ini aku tidak akan membiarkanmu kabur.” Lucas berbisik pelan, tapi nadanya mengandung gertakan.Ariella sampai kesulitan menelan saliva dengan leher tegangnya. Akan tetapi dia tak bisa pasrah begitu saja. Dia hendak mendorong Lucas menjauh, sialnya pria bersetelan jas hitam itu tatap kukuh, bahkan sengaja merapatkan diri pada Ariella.Sang wanita tak tahan lagi, hingga langsung berbalik menghadap belakang. Sungguh sial, karena gerakan itu nyaris saja membuat wajah mereka bertumbukan.Dengan dada bergemuruh penuh amukan, Ariella lantas mendengus, “sebenarnya apa yang Anda inginkan?!”“Aku ingin membuatmu mengingatku!” sahut Lucas
“Mari lihat, sehebat apa kau berdansa!” Lucas berujar dengan sorot mata dinginnya. Dan itu memicu ekspresi Ariella semakin membeku. Terlebih saat tangan Lucas menyusup ke belakang pinggang Ariella, lalu menarik cepat agar lebih rapat padanya. Ariella berupaya mundur, tapi sialnya Lucas malah mendekapnya lebih erat hingga dia tak bisa bergerak. “Hah! A-apa yang Anda lakukan?!” tukas Ariella memicing tegas. Alih-alih menyahut dengan ucapan, Lucas justru menjulurkan wajah sampai tepat berada di sebelah telinga wanita itu. “Teruslah berpura-pura. Aku ingin melihat, sampai kapan kau bersandiwara, Ariella!” bisiknya pelan, tapi mengandung ancaman. Mendengar namanya terlucut dari mulut pria itu, sungguh membuat Ariella merasa aneh. Padahal dulu tak pernah sekalipun Lucas mengatakannya. Di tengah ketegangan itu, Ariella tambah tertegun saat ibu jari Lucas tiba-tiba mengusap bibirnya yang merah merona. “Ahh!” Ariella sontak melengos ke samping. Namun, gerakan mendadak tersebut malah me
“Damien? Ka-kapan kau masuk?” Ariella bertanya dengan kikuk.Damien Rudwick yang berdiri tepat di belakangnya, kini melirik cermin di hadapan Ariella. Sengaja melihat penampilan Ariella yang sempurna dari pantulan kaca.“Aku sejak tadi memanggilmu, tapi kau tidak dengar,” bisik Damien selaras dengan tangannya yang menarik resleting Ariella ke atas. “Harusnya kau memanggilku jika kesulitan.”Ariella hanya bungkam sembari membuang pandangan ke depan lagi. Dia berupaya menata wajah tetap tenang, sebab Damien bisa melihatnya dari cermin. Tapi sialnya, wanita itu malah mengerjap tegang saat jari Damien tak sengaja menyentuh kulit punggungnya yang mulus. Pria itu pasti juga melihat bra hitamnya. Sungguh, Ariella benar-benar ingin kabur.‘Aku salah. Harusnya aku memanggil Jane lebih cepat!’ batinnya dengan dada berdebar was-was.Tapi detik berikutnya, Damien malah berkata, “aku tidak melihat apapun. Aku hanya ingin membantumu, Ariella.”Dia tau Ariella tidak nyaman, sebab itu dirinya mundur
“Dia Paman tampan yang Ava temui di galeri seni kemarin, Mommy!” tutur Ava dengan manik berbinar cerah.Ariella pun mempersempit jarak alisnya. Dia memang mendengar bahwa wali kelas taman kanak-kanak Dalin Court membawa muridnya mengunjungi galeri. Di sekitar area tersebut, hanya Dalin Art Museum-lah galeri yang paling dekat. Ariella pikir wali kelas membawa semua murid ke sana.Namun, Ariella langsung mengernyit saat Ava menarik laci dan menunjukkan pin yang didapatnya kemarin.Dengan riangnya, Ava berkata, “ini hadiah dari Bibi yang bekerja di galeri kemarin, Mommy!”Manik Ariella kian menegang begitu menyadari logo di pin tersebut.‘Hah! Ternyata Ava datang ke Baratheon Gallery?!’ batin Ariella begitu meraih pin tadi. ‘Lalu, Paman rambut hitam yang Ava maksud … ti-tidak! Itu mustahil. Lucas Baratheon tidak pernah mengunjungi Baratheon Gallery. Bahkan ketika ibunya meninggal pun, dia tidak berbuat apa-apa! Jadi itu tidak mungkin!’Tapi semakin Ariella menyangkal, pikirannya malah di
“Hah ….” Ariella menarik napas lega saat menilik wajah pria itu. “Kenapa dia tidur di sini?”Rupanya memang Damien Rudwick. Pria tersebut memejamkan mata dengan tampang lelah. Agaknya hari Damien juga berat.Ariella pun melirik jas hitam yang tersampir di badan sofa. Dia meraihnya, lalu melangkupkan ke tubuh Damien yang hanya terlapisi kemeja putih.“Padahal sangat dingin. Kau bisa sakit jika terus di sini,” gumamnya mengomel.Ariella tertegun saat berhadapan dekat dengan wajah Damien. Dari jarak beberapa inci itu, dia bisa melihat garis rahang yang tegas. Bahkan bibir sabit, hidung bahari dan sepasang manik tersebut seperti guratan kuas yang sempurna. Setiap wanita pasti akan jatuh cinta dengan wajah tersebut. Tapi entah mengapa Ariella sulit membuka hati padanya.‘Maafkan aku, Damien. Kau sudah melakukan banyak hal untukku, aku tidak ingin terus menjadi bebanmu,’ geming Ariella menelan saliva dengan berat.Detik berikutnya, wanita itu melengos dan hendak pergi. Dia harus segera meme
Giselle bangkit mendekati Lucas, lalu berkata, “kita akan menikah, Luke. Paman dan Bibi sudah setuju, orang tuaku juga setuju bulan depan!” Wanita tersebut meraih lengan Lucas dan menggelayut padanya dengan mesra. “Waktu kita tidak banyak, tapi aku akan mempersiapkan pernikahan ini dengan baik. Aku janji, kali ini tidak akan menghancurkan pesta pernikahan kita,” sambungnya amat manja. Lucas tak menimpali apapun, justru sepasang alis tebalnya saling menyatu seakan tak setuju. Sialnya, dia tak mungkin langsung menyembur penolakan di depan keluarga besar. Terlebih Lucas sangat menghormati Belatia.Perlahan, pria itu melepas dekapan Giselle, lalu beralih menggenggamnya. “Ikut aku,” bisiknya yang lantas menarik wanita tersebut. “Ah? Kau mau membawaku ke mana?” Giselle berujar bingung.Lucas tutup mulut dan terus menyeretnya hingga ke keluar area kolam renang. Ya, pria tersebut sengaja memilih tempat yang sepi untuk bicara tanpa gangguan. “Luke?” Giselle mengernyit heran. Sang pria b
“Ava, kau lebih suka bersamaku ‘kan?” Nicholas bertanya dengan manik semakin besar. Dia percaya diri bahwa Ava akan memilihnya, tapi di sisi lain juga was-was karena Lucas termasuk saingan berat. Alih-alih menjawab, Ava justru mengeluarkan mini box dari tasnya dan menjulurkan pada Lucas. Tindakannya itu membuat Nicholas mengerjap kecewa. “Ava, apa yang kau lakukan?” tukas bocah lelaki itu menatap layu. “Bukankah kau janji akan selalu bersamaku? Kau juga sudah sepakat satu bangku denganku, tapi—”“Tolong diamlah, Nick! Aku mau bicara pada Paman dulu,” sahut Ava memangkas ucapan temannya. Dia berpaling pada Lucas sembari melanjutkan. “Ambillah, Paman. Karena Paman tidak bisa makan kue kacang, Paman bisa makan kue ini. Miss Nancy khusus membuatkannya untukku tanpa kacang.”Lucas tak langsung mengambil mini box itu. Tanpa sadar, sebelah sudut bibirnya malah tersenyum tipis. “Tidak perlu, kau bisa memakannya bersama temanmu,” katanya kemudian. “Tenang saja, aku akan meminta Mommy mem