"Pertunangan kita batal Amber, aku tidak sudi menikah dengan wanita miskin sepertimu," ucap Jeff dengan menyakitkan.
Pria tampan di depan Amber itu nyaris tanpa beban saat mengatakan hal itu. Wajahnya terlihat datar dan tak peduli pada Amber yang kini mendapat tatapan penuh cemooh dari orang-orang yang ada di pesta ulang tahun Jeff saat itu. "Tapi Jeff..." Amber berusaha menahan jatuhnya air mata yang sudah bergelayut di pelupuk matanya. "Tidak ada kata tapi, Amber. Keputusanku sudah aku pikirkan baik-baik dan keluargaku juga sudah setuju. Memangnya hal baik apa yang bisa kamu banggakan di depanku sekarang? Perusahaan keluargamu bangkrut dan kamu sudah tidak punya apa-apa lagi. Apa berniat memanfaatkanku untuk membayar semua hutang-hutang ayahmu, hah?" Jeff menatap kesal ke arah Amber. Amber menggigit bibirnya. Jeff sudah keterlaluan. Keluarganya memang terlilit hutang tapi ia tidak pernah berpikir untuk memanfaatkan Jeff sama sekali. "Satu juta poundsterling itu jumlah yang sangat banyak Amber. Sepertinya seumur hidup pun kamu tidak akan pernah bisa membayarnya." Jeff menyeringai tipis. Semua orang yang ada di pesta tersebut menganga saat mendengar nominal hutang yang dimiliki oleh keluarga Amber. Padahal dulu Tuan Darke Pierce adalah salah satu konglomerat yang dihormati di kota London. "Kecuali kamu mau menari striptis di depanku, aku bersedia membayar setengah dari utangmu itu." Jeff tersenyum nakal. Amber tertegun. Menari striptis? Bukankah Jeff hanya ingin mempermalukannya? Tapi uang 500 ribu poundsterling tentu sangat banyak. Akan sangat membantu jika benar Jeff akan membayarnya dengan nominal segitu. "Ayo Amber, menarilah untuk kami, buka bajumu sekarang juga!" Teriakan dari banyak tamu pria yang hadir di pesta itu membuat telinga Amber terasa panas. "Ayolah Amber, puaskan dahaga kami." Jeff ikut bicara memprovokasi Amber yang terlihat bimbang. "Buka... buka... buka...!" Teriakan itu makin riuh. Tubuh Amber bergetar mendengarnya. Haruskah ia kehilangan harga diri demi 500 ribu dolar? Jeff mengeluarkan selembar cek dari saku bajunya bertuliskan angka lima ratus ribu dolar. "Cek ini akan jadi milikmu jika kamu mau menari striptis di depan semua orang." Jeff melambai-lambaikan kertas itu di depan wajah Amber seolah ingin menggodanya. Pendirian Amber mulai goyah. Ia sudah terlanjur kehilangan harga dirinya di kota ini. Banyak orang yang kini mencemoohnya gara-gara kehilangan prestise di kalangan yang dulunya sangat memuja-muja dirinya. Ia baru sadar kalau uang adalah tolak ukur segalanya. Tanpa uang ia bukanlah siapa-siapa. Bahkan sekelas office boy saja berani melecehkannya. "Ayo Amber kapan lagi kamu bisa mendapatkan uang sebanyak ini dengan cara mudah?" Jeff terus memanasi Amber dan berharap gadis itu mau melakukan apa yang dia inginkan. Amber goyah. Ia yang sudah mulai putus asa dalam mencari uang agar ayahnya lolos dari jerat penjara. Gadis itu akhirnya nekad melakukan hal yang diinginkan Jeff. Biarlah ia malu seumur hidup yang penting ayahnya yang kini terserang stroke tidak dijebloskan ke dalam penjara. Amber mulai membuka kancing bajunya. Semua orang bersorak girang melihat aksi gadis cantik bermanik coklat terang itu. Mereka sudah membayangkan melihat kemolekan tubuh gadis yang selama ini menjadi idaman kaum adam di kota London itu secara gratis malam ini. Kancing baju Amber sudah terbuka seluruhnya, tinggal melepas bajunya saja. Beberapa pria bahkan menahan napasnya dengan wajah tegang. Beberapa dari mereka juga mencibir Amber yang sudah kehilangan harga dirinya demi uang. Tapi justru mereka sangat menantikan aksi Amber selanjutnya. Amber perlahan menurunkan bajunya, hingga bahu seputih porselennya terekspos dengan begitu indah. Membuat semua orang bersorak kegirangan dengan mata melotot menahan hasrat yang mulai bangkit. Amber memejamkan matanya, masih berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah di hadapan mereka. Amber semakin menurunkan bajunya hingga hampir memperlihatkan sepasang aset berharganya yang selama ini tidak pernah ia umbar di depan siapapun. BRUK. Tiba-tiba saja sebuah jas berwarna hitam menutupi tubuh Amber yang hampir terbuka. Amber sontak terkejut. Ia menoleh ke belakang dimana berdiri seorang lelaki tampan bernama Dave Oliver. Lelaki berparas tampan yang terkenal dingin dan anti perempuan. "Jangan melakukan hal bodoh yang akan membuatmu malu seumur hidup," bisik Dave dengan suara baritonnya. Tatapannya begitu teduh namun mematikan. "Paman Dave apa-apaan ini?" tanya Jeff yang kecewa karena Dave telah menganggu kesenangannya malam ini. "Kau pria bodoh Jeff, bisa-bisanya kau mempermalukan wanita seperti ini." Dave memandang kesal pada keponakannya itu. "Oh ayolah Paman, aku hanya sedikit bersenang-senang dengannya." Jeff memutar bola matanya, tapi Dave tidak menggubrisnya. Amber membisu dengan wajah tegang. Semua orang menyorakinya dan berteriak menyampaikan rasa kecewanya. Namun Dave Oliver membuat semuanya terdiam seketika saat lelaki itu menebar tatapan mautnya pada semua orang yang ada di sana. "Ikut aku!" Dave menarik tangan Amber untuk keluar dari area pesta. "Amber mau kemana kamu?" Jeff berteriak dengan wajah penuh kekecewaan. Sebagai mantan tunangan Amber ia juga sangat penasaran dan ingin melihat lekuk tubuh Amber yang sama sekali belum pernah ia lihat sebelumnya. Tapi Amber tidak menggubrisnya, ia terus berjalan mengikuti langkah Dave meski ia tidak tahu kemana pria itu akan mengajaknya. Dave membawa Amber dengan mobil mewahnya menuju rumahnya. "Masuklah!" Dave menyuruh Amber masuk ke dalam rumahnya. Rumah besar dan megah yang baru pertama Amber masuki. Rumah pengusaha Dave Oliver pemilik perusahaan Alves Tech yang sangat terkenal itu. Dave menyuruh Amber duduk di ruang tamu. Pria itu mengambil sebotol wine dengan dua gelas khusus untuk dirinya dan Amber, lalu menuangkan wine ke dalam gelas tersebut dan memberikan salah satunya pada Amber. "Silakan diminum Nona Amber." Dave terlihat sopan namun tetap saja membuat Amber ketakutan. Rumor yang beredar mengatakan kalau Dave Oliver adalah pria kasar yang tidak pernah suka dirinya disentuh oleh wanita manapun. Membuat semua orang berpikir Dave berubah haluan menjadi penyuka sesama jenis. Mungkin trauma pernikahan pertamanya yang gagal telah meninggalkan luka yang dalam di hatinya. "Kenapa kau menolongku?" tanya Amber yang masih penasaran mengenai motif Dave mencegahnya melakukan tarian striptis di depan Jeff dan kawan-kawannya. Dave tidak serta merta menjawab. Dia hanya menggoyang-goyangkan wine dalam gelas di tangannya. Lelaki itu duduk dengan santai dengan menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa yang ia duduki. Amber semakin penasaran. Ia menatap lekat wajah tampan Dave yang penuh misteri. "Alih-alih memperlihatkan tubuhmu pada semua lelaki itu, lebih baik kamu memperlihatkannya di depanku. Hanya di depanku." Dave menjawab tanpa melihat wajah Amber yang memerah.Amber mencibir. Semua lelaki ternyata sama saja. Bahkan seorang Dave yang dikabarkan gay ingin melihatnya telanjang. "Aku bisa memberimu sebanyak yang Jeff kasih. Asal kamu mau menari di depanku." Dave berkata tanpa ekspresi. Amber terdiam sejenak. Setidaknya dibanding menari di depan orang banyak seperti tadi, menari di depan Dave jauh lebih baik. Amber segera berdiri dan bersiap membuka bajunya di depan Dave. Lelaki itu masih duduk dengan santai di sofa. Ia memperhatikan gerak gerik Amber dengan ekspresi datar. Amber merasa heran. Kenapa Dave sama sekali tidak menunjukkan rasa tertariknya padahal ia sudah hampir telanjang. Oh, ia lupa kalau Dave ini tidak suka perempuan. "Pakai lagi bajumu!" Dave berteriak saat Amber bermaksud melepas bra yang ia pakai. Dengan cepat Amber memakai kembali bajunya. Ia duduk di depan Dave yang kini tengah memijat pelipisnya. "Aku akan melunasi hutang keluargamu tapi dengan satu syarat." Dave berbicara dengan mata yang tertuju lurus pad
"Kenapa Anda tidak ketuk pintu dulu? Tuan Dave pasti tahu sopan santun bukan? Tidak boleh masuk ke dalam kamar orang lain dengan sembarangan." Protes Amber dengan kesal. "Ini rumahku, jadi aku berhak melakukan apapun di dalam rumahku."jawab Dave tak mau disalahkan. Gadis cantik itu mengatupkan bibirnya. Dibalik pesona Dave yang sulit ditolak, Amber lebih fokus pada sikap kasar pria itu. Rasa takutnya lebih besar daripada pesona Dave itu sendiri. "Ada apa Tuan?" Amber yang sudah memakai bathrobenya lahi kini berdiri di hadapan Dave. Dia tidak ingin berdebat panjang dengan Dave. "Lain kali, ketika aku pulang kerja, kamu harus bergabung dengan pelayan lain untuk menyambutku." Dave menjelaskan maksud kedatanganya ke kamar ini. Amber tergugu. Ia merasa peraturan di rumah ini terlalu berlebihan. Ia membayangkan berada di dalam kastil kerajaan dimana seorang raja diperlakukan dengan begitu agung oleh bawahannya. Tanpa sadar Amber mencebik. Baru kali ini ia melihat manusia gila h
Di sana ada sebuah taman dengan rumput Jepang yang menghampar hijau. Sungguh pemandangan yang asri dan menyegarkan mata. Tapi tidak untuk saat ini karena Amber harus berlutut di sana. "Sebenarnya apa yang Nona lakukan hingga Tuan Dave marah seperti itu?" tanya Alfred yang ikut ketakutan. "Aku... aku hanya bertanya tentang siapa pacar pria Dave?" jawab Amber dengan wajah cemas. "Astaga Nona, kenapa kamu tanyakan hal itu?" Alfred berdecak. "Apa aku salah. Aku hanya penasaran apakah Dave benar-benar gay atau bukan?" "Jangan tanyakan hal itu lagi kalau kamu ingin selamat Nona." Alfred menggeleng. "Alfred, bolehkah aku bertanya?" tanya Amber sebelum berlutut. "Kenapa Nona?" "Kenapa Dave hobi sekali marah-marah, apa dia terus seperti ini bila dia marah?" "Nona emosi Tuan Dave memang tidak stabil, maka dari itu Nona jangan sampai membuat dia marah lagi." "Cepatlah berlutut Nona, lihat Tuan Dave sedang memperhatikan kita." Alfred terlihat ketakutan saat melihat Dave s
Suara kicau burung membangunkan Amber dari tidurnya yang nyenyak. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali menghalau silaunya matahari yang menerobos masuk melalui celah gordeng.Amber memijat kepalanya yang terasa pening. Ia heran kenapa ia bisa berada di tempat tidur. Padahal ingatan terakhir yang berada di otaknya adalah dia sedang berendam di dalam bathtub tadi malam."Kenapa aku bisa ada di sini? Dan siapa yang memakaikan pakaian tidur ini?" Amber meraba gaun tidur berwarna peach yang ia kenakan saat itu."Selamat Pagi Nona." Suara Alfred yang baru masuk mengejutkan Amber. "Pagi Alfred!" Amber bangun dan duduk di tepian tempat tidur. "Nana apa Anda sudah merasa lebih baik?" tanya Alfred membuat Amber mengerutkan keningnya. "Memangnya aku kenapa?""Anda pingsan Nona. Beruntung Tuan Dave segera mengeluarkan Nona dari bathtub. Dan semalaman Anda demam sampai Tuan Dave merawat Anda dengan telaten," jawab Alfred. "A—apa benar begitu?" Amber terbengong. Jadi Dave merawatnya? "Iya No
"Dave apa benar ka—kamu tidak suka perempuan?" Dengan sangat hati-hati Amber bertanya. "Itu lagi yang kamu tanyakan? Apa kamu masih meragukanku Amber?" Kemarahan makin terlihat di wajah tampan Dave. "Bu—bukan maksudku begitu." Tubuh Amber gemetar ketakutan saat Dave kembali mendekat. Cup. Satu kecupan kasar Amber rasakan di bibirnya. Dave menjarah bibirnya dengan rakus. Tak ada kelembutan di sana. Amber terpaku. Tak berani melawan. Hanya kedua tangannya yang berusaha menahan dada bidang Dave. Bibir Amber sudah terasa kebas dan bengkak saat akhirnya Dave melepaskan tautannya. Amber tertunduk. Dave begitu mengerikan. Apakah ia akan sanggup bertahan hidup dengan pria seperti dia? "Apa itu masih membuatmu ragu, Amber? Kalau memang kamu masih ragu, aku akan melakukan hal yang lebih gila lagi padamu." Dave menyeringai tipis tapi begitu mengerikan di mata Amber. "Tidak... tidak... aku percaya Dave." Amber menggeleng dengan cepat. Raut ketakutan masih tergambar jelas di ma
Amber terbelalak saat mendengar ancaman dari Dave. Lagi-lagi pria itu mengancamnya dengan alasan uang yang membuat Amber tidak bisa berkutik lagi. Amber menghela napas berat. Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika ia harus menikah dengan pria seperti Dave yang dingin dan penuh misteri. Mobil mewah itu berjalan menuju rumah megah Dave. Setibanya di sana, seperti biasa para pelayan akan menyambut kedatangan mereka. "Masuk ke dalam kamarmu Amber dan jangan pernah berani untuk keluar lagi tanpa seizin dariku, " titah Dave dengan tegas. Amber hanya mengangguk. Ia segera naik ke lantai atas menuju kamarnya. "Alfred!" Pandangan Dave beralih pada kepala pelayannya. "Ya Tuan." Alfred maju selangkah. "Mulai sekarang, awasi perempuan itu, jangan sampai dia keluyuran tidak jelas." "Baik Tuan." Alfred mengangguk. Sejujurnya, dia merasa kasihan pada Amber yang pastinya akan sangat merasa tertekan dengan sikap aneh Dave ini. Tapi mau bagaimana lagi, perintah Dave memang tidak
"Bella!" Sebuah panggilan mengejutkan Amber saat itu. Ada seseorang yang memanggilnya dengan sebutan nama wanita lain. Amber sontak menoleh ke arah belakang, terlihat Dave sedang berdiri di ambang pintu. Pria itu terlihat kaget saat melihat kalau ternyata yang memakai gaun tersebut adalah Amber. Raut wajah Dave seketika menampakan kemarahannya. Membuat Amber menggigil ketakutan. "Siapa yang menyuruhmu memakai gaun itu?!" teriakan menggelegar menciptakan atmosfer mencekam di tempat itu. Amber menyadari kalau dirinya telah melakukan kesalahan besar dengan memakai gaun ini. Dave melangkah menghampiri Amber. Dia meraih pergelangan tangan gadis itu menariknya dengan kasar menuju kamar. Lalu melemparkan tubuh gadis itu ke atas tempat tidur. Semuanya terjadi begitu cepat, hingga Amber tidak bisa lagi berpikir. Ia hanya menerima semua perlakuan kasar Dave tanpa perlawanan. Ia begitu ketakutan saat melihat kemarahan yang begitu di dalam sorot mata Dave. "Dave aku mohon maafkan aku." Amb
"Pakai ini!" Dave memberikan sebuah paper bag berisi gaun lengkap dengan sepatu yang harus Amber kenakan untuk menghadiri pesta malam ini.Amber tertegun. Ia yang sedang duduk di tepi ranjang pun memeriksa isi paper bag itu dan mendapati sebuah dress cantik berwarna abu terang yang mewah. "Kita akan pergi kemana?" tanya Amber dengan bingung."Temani aku ke pesta malam ini." Dave berdiri di depan Amber dengan kedua tangan yang bersemayam di dalam saku celananya.Gadis cantik itu mendongak. "Apa ini tugas pertamaku?""Anggap saja begitu." Dave menjawab singkat.Amber manggut-manggut."Aku tunggu di bawah. Tiga puluh menit lagi kamu harus siap." Dave membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari kamar Amber.Amber mengeluarkan dress dan sepatu dari dalam paper bag. Ia segera mengganti bajunya dengan gaun tersebut.Busana yang kini melekat di tubuhnya itu menampakkan bentuk tubuhnya yang seksi seperti gitar Spanyol. Amber menatap puas bayangan dirinya di cermin. Ternyata pilihan Dave san
Amber akhirnya memutuskan untuk tetap bekerja di restoran milik Tuan Grayson. Keputusan itu diambil setelah berbagai pertimbangan yang matang, meskipun ia sadar situasinya kini tidak lagi sama. Banyak rekan kerja yang tetap mencibirnya di belakang, tetapi setidaknya mereka tidak berani terang-terangan mengusik dirinya seperti sebelumnya. Namun, keputusan itu membuat Dave sedikit kesal. Bukan karena ia tidak mendukung pilihan Amber, tetapi karena dalam hatinya, ia lebih ingin Amber tidak perlu lagi bekerja di tempat itu. “Kenapa kamu tetap ingin bekerja di sini?” tanya Dave dengan nada yang sulit ditebak. Amber menghela napas. “Karena aku masih ingin mencari uang untuk biaya hidupku, Dave. Aku ingin tetap bekerja dan tidak bergantung pada siapa pun.” Dave mengusap wajahnya dengan frustrasi. Ia tahu Amber adalah wanita yang keras kepala, tetapi tetap saja, ia berharap Amber lebih mempertimbangkan posisinya sekarang. "Aku bisa memberimu uang tanpa harus bekerja di sini. Bila perl
Amber sudah merasa ada yang tidak beres dengan sikap beberapa rekan kerjanya sejak beberapa hari ini. Sikap lunak Tuan Grayson yang biasanya selalu tegas dan tanpa ampun jika ada karyawannya yang melakukan kesalahan menjadi penyebabnya. Mereka berpikir kalau Tuan. Grayson telah dirayu oleh Amber hingga dia memaafkan kesalahan pria itu. Beberapa dari mereka sering berbisik-bisik saat Amber lewat, dan tatapan mereka penuh sindiran. "Aku yakin dia pasti punya hubungan spesial dengan Tuan Grayson," bisik salah satu dari mereka saat Amber berjalan melewati pantry. "Jelas. Kalau tidak, mana mungkin dia masih bekerja di sini setelah semua kesalahan yang dia buat?" sahut yang lain dengan nada sinis. "Amber menghentikan langkahnya dan menatap ke arah mereka yang membicarakannya. " Ngomong apa sih kalian? Amber bukan wanita seperti itu!" Rachel ikut geram. "Darimana kau tahu?" "Aku mengenal Amber dan aku yakin Amber tidak mungkin merendahkan dirinya seperti itu." "Sudahlah Rach
Amber duduk di ruang tepi ranjang dengan tatapan kosong. Pikirannya masih dipenuhi oleh pertemuannya dengan Dave. Sejak pria itu datang kembali ke kehidupannya, Amber merasa dunianya yang tenang mulai terusik. "Amber!" Suara ketukan di pintu disertai panggilan membuyarkan lamunan Amber. Pintu kamar terbuka dan Clara berdiri di ambang pintu dengan senyum khasnya. "Hallo Sayang, apa kabarmu?" Clara langsung berhambur memeluk Amber. "Kabarku baik Cla." Amber memaksakan senyum. Clara masuk dan duduk di sofa. Ia menatap Amber dengan penuh perhatian. "Kau terlihat lebih pucat dari biasanya, apa kau sakit?" tanyanya sambil mengamati wajah Amber. Amber menghela napas. Ia tahu tak ada gunanya menyembunyikan sesuatu dari Clara. "Dave sepertinya tahu kalau Ethan adalah anaknya." "Apa? Bagaimana mungkin?" Amber menggigit bibirnya ragu, lalu mulai bercerita tentang bagaimana Dave tiba-tiba muncul kembali dalam hidupnya, bagaimana pria itu berusaha membawa Ethan, dan bagaimana
Amber mondar-mandir gelisah di teras rumah. Jantungnya berdegup cepat, kepalanya dipenuhi pikiran buruk. Ia terus menunggu, berharap Dave segera datang dan mengembalikan Ethan. Saat akhirnya sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah, Amber langsung berlari ke arah gerbang. Napasnya memburu ketika melihat Dave keluar dari mobil dengan Ethan yang tertidur dalam gendongannya. Tanpa pikir panjang, Amber merebut Ethan dari pelukan Dave. Ia memeluk anaknya erat seolah takut kehilangan. Setelah memastikan Ethan baik-baik saja, ia menatap Dave dengan penuh kemarahan. "Apa yang kau lakukan, Dave?!" serunya dengan suara tertahan agar tidak membangunkan Ethan. "Aku sudah bilang jangan pernah membawa Ethan pergi tanpa izinku!" Dave menatap Amber tanpa ekspresi. Lalu, sebuah senyum tipis yang penuh arti terukir di bibirnya. "Kenapa kau begitu panik, Amber?" tanyanya santai. "Kau takut aku akan membawa Ethan pergi?" "Tentu saja!" jawab Amber ketus. Dave mengangkat alisnya. "Kenapa
Dave masih memeluk tubuh mungil Ethan dengan penuh haru. Perasaan yang mengalir di dalam dirinya begitu kuat, seakan semua rindu dan cinta yang selama ini terpendam akhirnya menemukan jalannya. Ethan tetap diam di dalam pelukannya, seolah mencoba memahami apa yang terjadi. Setelah beberapa saat, Dave mengendurkan pelukannya dan menatap wajah anak itu dengan penuh kasih sayang. “Nak, maukah kau pergi jalan-jalan dengan Papa?” tanyanya lembut, tangannya mengusap rambut lembut Ethan. Ethan menatapnya dengan mata bulatnya yang jernih. Sepertinya anak itu masih bingung, namun di dalam benaknya, ada sesuatu yang membuatnya tidak takut pada Dave. Ia merasa hangat dan nyaman di dekat pria ini, meskipun ia tidak mengerti mengapa. Sebelum Ethan sempat menjawab, suara Nenek Rose terdengar dari belakang. “Tidak. Kau tidak bisa membawa Ethan pergi, Tuan Muda Oliver,” ucapnya tegas. Dave menoleh dan mendapati Nenek Rose berdiri di dekat pintu dengan ekspresi waspada. Jelas sekali kalau
Julian mengetuk pintu ruang kerja Dave sebelum melangkah masuk dengan ekspresi serius. Di tangannya, ia membawa sebuah amplop besar yang telah ia tunggu-tunggu hasilnya selama beberapa hari terakhir. Dave, yang tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, menatap Julian dengan tajam. "Kau sudah mendapatkan hasilnya?" tanyanya, suaranya penuh ketegangan. Julian mengangguk dan menyerahkan amplop itu. "Hasil tes DNA Ethan sudah keluar." Dave langsung meraih amplop itu dengan tangan gemetar. Ia mengeluarkan lembaran kertas di dalamnya dan membaca setiap kata dengan seksama. Napasnya tertahan. "Kecocokan DNA: 99,9%. Subjek yang diuji memiliki hubungan biologis sebagai ayah dan anak." Dave membeku di tempat. Sejenak, ia tidak bisa berkata apa-apa. Semua dugaan dan harapannya selama ini terbukti benar. Ethan adalah darah dagingnya. "Ethan... adalah anakku..." bisiknya pelan, suaranya terdengar bergetar. Julian mengangguk. "Ya, Tuan. Ethan benar-benar anak Anda." Dave merasa dad
Amber keluar dari ruangan atasannya dengan wajah sedikit pucat. Perasaan lega karena tidak langsung dipecat bercampur dengan ketegangan akibat ancaman tadi. Jika dia sampai melakukan kesalahan lagi, pekerjaannya akan hilang. Itu berarti dia harus mencari cara lain untuk menghidupi Ethan. Tidak, dia tidak boleh kehilangan pekerjaan ini. Namun, baru saja ia hendak kembali bekerja, beberapa temannya sudah menunggunya di dekat pantry. Rachel, yang selama ini cukup dekat dengannya, menghampirinya dengan ekspresi khawatir. Tapi tidak semua yang berdiri di sana memiliki ekspresi yang sama. Banyak di antara mereka yang menatap marah dan iri pada Amber. "Apa yang terjadi di dalam?" tanya Rachel pelan. Amber menghela napas sebelum menjawab. "Aku ditegur karena keluar saat jam kerja kemarin. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Rachel tampak lega, tetapi sebelum ia bisa berkata apa-apa, seorang pelayan bernama Lany menyelanya. "Sudah kuduga," katanya dengan nada menyindir. "K
Amber duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya erat. Malam itu terasa begitu panjang. Udara dingin menusuk, tapi bukan itu yang membuatnya menggigil. Yang membuatnya takut adalah perasaan yang terus menggerogoti hatinya sejak pertemuannya dengan Dave. Matanya masih sembab karena tangis. Setelah pergi dari hotel siang tadi, Amber langsung pulang ke rumah Nenek Rose tanpa banyak bicara. Brian berusaha menanyakan keadaannya, tapi Amber memilih menghindar. Dia lelah. Dia kecewa. Dan yang paling menyakitkan, dia masih mencintai Dave. Amber menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Bodoh," gumamnya pelan. Kenapa setelah semua yang terjadi, dia masih merasakan getaran yang sama saat melihat Dave? Kenapa jantungnya masih berdebar, bahkan ketika pria itu memaksanya untuk melayani nafsunya. Dia bahkan turut merasakan nikmat dan cukup menikmati pergumulannya dengan Dave tadi siang. "Seharusnya aku menolaknya bukan malah ikut terhanyut ke dalam permainannya," gumam Amber dengan nada menyesal.
Amber duduk di tepi tempat tidur dengan tubuh gemetar. Air mata mengalir di pipinya, tetapi ia tidak berusaha menghapusnya. Hatinya terasa hancur. Ia tidak menyangka Dave bisa bersikap seperti ini. Selama ini, meskipun hubungan mereka penuh luka dan kesalahpahaman, Amber masih menyimpan secercah harapan bahwa Dave adalah pria yang dulu pernah ia cintai. Namun, malam ini, harapan itu lenyap. Dengan tangan bergetar, Amber meraih pakaiannya yang berserakan di lantai. Ia memakainya dengan tergesa, ingin segera pergi dari tempat ini, dari Dave, dari semua rasa sakit yang kembali menghantam dirinya. Namun, saat ia hendak menuju pintu, sebuah tangan kuat menahan pergelangan tangannya. “Jangan pergi,” suara Dave terdengar serak, tetapi tetap dipenuhi otoritas. Amber menoleh, menatap Dave dengan sorot mata penuh luka dan kemarahan. “Lepaskan aku, Dave,” suaranya bergetar, tapi nadanya tegas. Dave menatapnya dengan mata gelap yang dipenuhi emosi yang sulit diartikan. “Aku tidak bisa membiar