Amber terbelalak saat mendengar ancaman dari Dave. Lagi-lagi pria itu mengancamnya dengan alasan uang yang membuat Amber tidak bisa berkutik lagi.
Amber menghela napas berat. Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika ia harus menikah dengan pria seperti Dave yang dingin dan penuh misteri. Mobil mewah itu berjalan menuju rumah megah Dave. Setibanya di sana, seperti biasa para pelayan akan menyambut kedatangan mereka. "Masuk ke dalam kamarmu Amber dan jangan pernah berani untuk keluar lagi tanpa seizin dariku, " titah Dave dengan tegas. Amber hanya mengangguk. Ia segera naik ke lantai atas menuju kamarnya. "Alfred!" Pandangan Dave beralih pada kepala pelayannya. "Ya Tuan." Alfred maju selangkah. "Mulai sekarang, awasi perempuan itu, jangan sampai dia keluyuran tidak jelas." "Baik Tuan." Alfred mengangguk. Sejujurnya, dia merasa kasihan pada Amber yang pastinya akan sangat merasa tertekan dengan sikap aneh Dave ini. Tapi mau bagaimana lagi, perintah Dave memang tidak ada yang berani membantahnya. Dave melangkahkan kakinya menuju ruang pribadinya. Entah apa yang akan dikerjakan lelaki itu di sana. Namun yang jelas kesempatan itu Alfred gunakan untuk menemui Amber. "Non Amber, tolong buka pintunya. Ini saya Alfred." Amber yang sedang duduk termenung di tepi pembaringan pun terkejut dan segera membuka pintu. "Ada apa Alfred?" tanya Amber. "Nona Amber, saya mohon tetaplah kuat untuk menghadapi Tuan Dave. Dia mungkin terlihat kasar di luar tapi sebenarnya dia adalah pria berhati lembut," jelas Alfred. Amber tidak tahu harus menjawab apa, dia hanya tersenyum getir. "Suka atau tidak suka aku memang harus tetap berada di samping dia bukan?" Amber tersenyum sinis. Alfred sedikit merasa bersalah, tapi jawaban Amber setidaknya membuatnya lega karena perempuan itu tidak akan meninggalkan Dave. "Baiklah kalau begitu, istirahatlah Nona." Alfred kembali pamit dari hadapan Amber. * * "Apa?! Kamu sudah menikah dengan Dave?" Terdengar suara Clara yang tersentak di ujung telepon. "Iya benar, ini pernikahan mendadak dan aku tidak sempat memberitahukan siapapun termasuk ibuku," keluh Amber. "Dan sialnya, gara-gara kejadian kemarin aku menjadi tahanan rumah sekarang," lanjut Amber dengan kesal. "Amber, aku mengkhawatirkanmu. Kamu sendiri tahu bagaimana rumor Dave di luaran. Ia tidak pernah suka pada wanita. Aku takut dia akan memperlakukanmu dengan kasar." Clara menekan kalimat terakhirnya. Amber tertegun. Dave memang kasar tapi soal rumor dia tidak menyukai wanita rasanya seperti ada yang salah. Pria itu tampaknya masih normal. "Clara, soal itu kalian sepertinya salah. Dave lelaki normal," jelas Amber. "Apa kamu yakin?" "Emmm, aku yakin," jawab Amber setelah berpikir sejenak. Terdengar helaan napas Clara. Gadis itu seperti menyangsikan ucapan temannya itu. Namun saat ini Clara tak bisa melakukan apapun untuk membantu Amber. "Jaga dirimu baik-baik, pokoknya aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu." Clara mengakhiri pembicaraan mereka saat itu. "Jangan khawatir Cla, aku pasti melakukan itu." Amber menutup teleponnya. Gadis yang tengah telentang di atas pembaringan itu menatap plafon bercat putih di atasnya. Rasanya ia terpenjara di dalam sangkar emas. Sudah tiga hari berlalu dan ia tidak tahu sampai kapan Dave akan mengurungnya di rumah ini. Ia bosan dan tertekan. Ia ingin keluar menemui ibu dan ayahnya yang sedang sakit. Amber keluar dari dalam kamarnya. Ia berpapasan dengan Alfred. Lelaki itu membungkuk hormat pada Amber. "Nona, apa ada yang Anda butuhkan?" tanya Alfred dengan sopan. "Tidak Alfred, aku hanya ingin menghirup udara segar di taman. Aku bosan berada di kamar," jawab Amber. "Baiklah, Nona. Tapi sesuai perintah Tuan Dave, anda tidak boleh keluar dari rumah ini. Anda masih berada dalam masa hukuman." Amber terdiam. Dia merasa jengah. " Iya, aku ingat itu Alfred." Amber membuang napas kasar. "Kalau begitu saya permisi dulu Nona, panggil saya bila anda memerlukan sesuatu." Amber hanya mengangguk dan membiarkan Alfred pergi dari tempat itu. Rumah ini begitu luas. Lebih luas dari rumah lama Amber yang telah dilelang. Ada banyak ruangan yang Amber sendiri tidak tahu ruangan apa itu. Gadis cantik berambut pirang itu melangkahkan kaki menyusuri setiap sudut rumah ini. Ia ingin tahu keseluruhan detail rumah ini. Ada beberapa kamar tidur di lantai dua rumah ini, namun hanya ada dua kamar yang ditempati. Yaitu kamar Dave dan juga dirinya. Balkon rumah itu ada dua, balkon yang menghadap ke taman depan dan balkon yang menghadap ke taman belakang. Semuanya menyuguhkan pemandangan indah. Amber berdiri di balkon depan. Terlihat beberapa rumah mewah yang juga berada di kawasan elit itu. Komplek perumahan ini rata-rata diisi oleh para pengusaha sukses berpenghasilan tinggi. Kawasan Kensington palace ini memang menyuguhkan kenyamanan dan prestise tinggi untuk pemiliknya. Tak heran jika orang-orang yang tinggal di sini bukanlah orang sembarangan melainkan orang yang berpengaruh di dunia bisnis. Dan Dave salah satu pemilik raksasa bisnis yang menggurita itu. Amber menghela napasnya. Ia tidak menyangka kalau saat ini ia resmi menjadi istri pengusaha sukses itu. Harusnya ia bahagia, namun kenapa yang ia rasakan saat ini adalah ketakutan luar biasa. Dave begitu sulit ditebak. Sikapnya begitu fluktuatif. Kadang dia baik namun di saat yang bersamaan dia jadi sekejam harimau. Amber kembali masuk, ia ingin melihat semua ruangan di rumah itu. Satu persatu ruangan itu ia periksa, hingga ia menemukan sebuah ruangan yang menarik perhatiannya. Amber memasuki ruangan itu yang menurutnya lebih mirip dengan sebuah gudang. Sebuah bingkai foto berukuran besar menyita perhatian Amber. Foto tersebut memperlihatkan pasangan pengantin Dave dengan seorang wanita cantik. Mungkin dia adalah mantan istri Dave. Amber harus mengakui kalau wanita yang berdiri di samping Dave itu memiliki wajah yang sangat cantik. Pantas jika ia menjadi istri dari pria itu. Amber menatap lekat foto di depannya, tampak foto ini sudah tidak terawat karena banyak debu yang menempel di atasnya. "Apa dia masih mencintai mantan istrinya?Kenapa dia belum membuang foto pernikahan mereka?" tanya Amber bergumam. Ia pun kembali menelisik seluruh ruangan itu. Terdapat banyak barang yang ditutup dengan kain putih. Pandangan Amber pun tertuju pada sebuah gaun yang menggantung di dalam lemari pakaian yang telah usang. Gaun itu masih terbungkus dengan plastik hingga terhindar dari debu. Amber pun mendekat, ia mengambil gaun berwarna putih tulang itu. Gaun selutut yang tampak cantik. Amber terpesona melihatnya. Wanita itu pun membawa gaun tersebut ke dalam kamarnya. Ia ingin mencoba memakai gaun itu sepertinya ukurannya cocok dengan tubuh Amber. Dia begitu cantik saat memakai gaun itu, apalagi jika rambutnya yang kini tergerai ditata dengan rapih. Mungkin dia akan terlihat lebih cantik lagi. "Sayang sekali gaun secantik ini harus teronggok di gudang. Kenapa tidak aku pakai saja?" Amber tersenyum, mendadak menemukan ide untuk memungut pakaian itu. Amber pun pergi keluar kamar. Ia berdiri di atas balkon, memandang taman belakang yang dipenuhi oleh bunga-bunga cantik. Hanya dengan menemukan gaun cantik ini saja telah mengubah mood-nya saat ini. Seutas senyum tersemat di bibirnya, sekali lagi ia memandangi gaun yang kini tengah ia pakai. Ia yakin untuk mengambil gaun ini daripada teronggok begitu saja di dalam ruangan tadi. "Bella?!""Bella!" Sebuah panggilan mengejutkan Amber saat itu. Ada seseorang yang memanggilnya dengan sebutan nama wanita lain. Amber sontak menoleh ke arah belakang, terlihat Dave sedang berdiri di ambang pintu. Pria itu terlihat kaget saat melihat kalau ternyata yang memakai gaun tersebut adalah Amber. Raut wajah Dave seketika menampakan kemarahannya. Membuat Amber menggigil ketakutan. "Siapa yang menyuruhmu memakai gaun itu?!" teriakan menggelegar menciptakan atmosfer mencekam di tempat itu. Amber menyadari kalau dirinya telah melakukan kesalahan besar dengan memakai gaun ini. Dave melangkah menghampiri Amber. Dia meraih pergelangan tangan gadis itu menariknya dengan kasar menuju kamar. Lalu melemparkan tubuh gadis itu ke atas tempat tidur. Semuanya terjadi begitu cepat, hingga Amber tidak bisa lagi berpikir. Ia hanya menerima semua perlakuan kasar Dave tanpa perlawanan. Ia begitu ketakutan saat melihat kemarahan yang begitu di dalam sorot mata Dave. "Dave aku mohon maafkan aku." Amb
"Pakai ini!" Dave memberikan sebuah paper bag berisi gaun lengkap dengan sepatu yang harus Amber kenakan untuk menghadiri pesta malam ini.Amber tertegun. Ia yang sedang duduk di tepi ranjang pun memeriksa isi paper bag itu dan mendapati sebuah dress cantik berwarna abu terang yang mewah. "Kita akan pergi kemana?" tanya Amber dengan bingung."Temani aku ke pesta malam ini." Dave berdiri di depan Amber dengan kedua tangan yang bersemayam di dalam saku celananya.Gadis cantik itu mendongak. "Apa ini tugas pertamaku?""Anggap saja begitu." Dave menjawab singkat.Amber manggut-manggut."Aku tunggu di bawah. Tiga puluh menit lagi kamu harus siap." Dave membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari kamar Amber.Amber mengeluarkan dress dan sepatu dari dalam paper bag. Ia segera mengganti bajunya dengan gaun tersebut.Busana yang kini melekat di tubuhnya itu menampakkan bentuk tubuhnya yang seksi seperti gitar Spanyol. Amber menatap puas bayangan dirinya di cermin. Ternyata pilihan Dave san
"Jangan mimpi Amber. Bangun sekarang juga kalau kamu masih bermimpi." Dave berkata dengan wajah kesal. Sudah Amber duga kalau jawaban Dave pasti akan membuatnya sakit hati. Amber tersenyum getir. ini adalah kesalahannya yang terlalu percaya diri kalau Dave sudah mulai mencintainya. Dave mendengkus dingin. Ia menatap Amber dengan tatapan mencemooh. Namun tiba-tiba tangannya menarik pinggang ramping Amber dan mengangkat dagu gadis itu dengan tatapan tajam. "Jangan terlalu percaya diri Amber. Mana mungkin aku menyukai wanita sepertimu. Lihat dirimu Amber, kamu begitu menyedihkan." Dave memindai tubuh Amber, tentu saja dengan tatapan yang membuat hati Amber mencelos. Kata-kata Dave memang selalu pedas bahkan pedasnya melebihi cabe terpedas di dunia. Namun Amber tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya di depan Dave. Amber menyunggingkan senyum tipisnya. "Bagus kalau kamu tidak menyukaiku. Karena aku juga tidak akan pernah menyukai pria menyebalkan sepertimu." "Apa katamu?" Dave
Tangan Amber terasa sakit saat harus mengikuti langkah Dave yang tergesa. Entah apa yang akan dilakukannya, yang jelas gadis bermanik cokelat terang itu sangat ketakutan melihat raut wajah Dave yang menyeramkan itu. "Dave, lepaskan aku! Kamu menyakitiku Dave!" Amber berusaha melepaskan tangan lelaki itu. Namun tenaga Dave bukan tandingannya. Pria tampan yang merasa harga dirinya dihancurkan oleh Amber terus berjalan menuju kamarnya. Dia menyeret tubuh Amber dan melemparkannya ke atas kasur. BRUGH! Meski tidak sakit tapi Amber dibuat cukup terkejut oleh sikap kalap Dave. Lelaki itu terlihat sangat marah. Ia kesal karena Amber pun masih saja menuduhnya sebagai lelaki tidak normal seperti orang lain di luar sana. "Dengar Amber, aku menyewamu bukan untuk menghakimiku atau meragukan kejantananku. Tapi kenapa sekarang kamu malah sama seperti orang-orang itu, hah?" Dave mencengkram leher Amber hingga gadis itu merasakan kesulitan untuk bernapas. "Dave, kamu bisa membunuhku kalau
Dave menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Ia seharusnya langsung menutup laptopnya, tapi, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasakan sesuatu yang sulit ia kendalikan, keinginan untuk lebih dekat, untuk menyentuh, untuk memiliki Amber seutuhnya. "Sial!" Ia menggenggam erat ponselnya, berusaha mengendalikan diri. Amber hanya istri bohongannya, dan hubungan mereka tidak seharusnya melibatkan perasaan. Tapi mengapa sekarang ia merasa seperti ini? Dengan gerakan cepat Dave menutup laptopnya. Ia memilih pergi sebelum pikirannya semakin jauh tenggelam dalam godaan yang berbahaya ini. *** Di sebuah bar eksklusif di pusat kota Kensington, suasana malam terasa ramai dengan suara dentingan gelas dan percakapan para pengunjung. Namun, bagi Dave Oliver, dunia terasa lebih sempit dari biasanya. Ia duduk di sudut ruangan dengan ekspresi kusut, mengaduk whiskey di gelasnya tanpa benar-benar berminat meminumnya. Di seberangnya, Julian menyesap minuman
Suara dering ponsel berulang kali menggema di kamar yang masih gelap. Di atas ranjang besar dengan seprai berantakan, Dave Oliver bergeming. Ponselnya yang bergetar di atas nakas hanya membuatnya mengerang kesal. Ia mengulurkan tangan, meraba-raba ponsel tanpa membuka mata, lalu menjawab panggilan itu dengan suara serak, “Apa?” Suara Julian langsung terdengar di seberang, penuh semangat seperti biasanya. “Selamat pagi, Tuan Oliver! Maaf mengganggu tidur malammu yang berharga, tapi kau harus bangun sekarang. Masalah besar sedang menunggumu.” Dave mendesah, lalu membuka matanya sedikit. “Masalah apa?” "Sepertinya para wartawan mulai tertarik dengan hubunganmu dan Amber. Mereka mulai menggali informasi tentang hal itu, dan kau tahu apa yang mereka temukan?” “Berhenti bertele-tele, Julian.” Dave memijat pelipisnya. “Baiklah, dengarkan ini. Beberapa media sekarang berspekulasi bahwa hubunganmu dengan Amber hanyalah rekayasa belaka untuk menutupi fakta bahwa kau sebenarnya adalah
Amber masih bisa merasakan bibirnya yang berdenyut halus setelah ciuman yang diberikan Dave di konferensi pers tadi siang. Meski ia sudah kembali ke rumah mereka, pikirannya masih belum bisa tenang. Seharusnya ia merasa marah, malu, atau paling tidak, kesal. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Dadanya berdebar hebat, wajahnya panas, dan jantungnya seolah berlari tanpa kendali. "Ini gila…" gumamnya, memegangi kepalanya. Pernikahan mereka hanya sandiwara. Ia tahu itu sejak awal. Tidak seharusnya ia merasa seperti ini. Namun, saat ia menutup mata, ingatan tentang tatapan Dave sebelum mencium dirinya kembali muncul. Sorot matanya penuh ketegasan, seolah Dave benar-benar menginginkan momen itu terjadi. Amber menggigit bibirnya. Apa mungkin Dave juga mulai merasakan sesuatu terhadapnya? --- Di ruangan lain. Air dingin yang baru saja Dave gunakan untuk membasuh wajah tidak cukup untuk menenangkan pikirannya. "Sial. Apa yang kulakukan tadi?" gumamnya resah. Saat itu, ia
Malam sudah menunjukkan hampir pukul dua malam saat ponsel Amber berdering. Amber yang baru saja terlelap seketika terbangun kembali dan melihat siapa yang menghubunginya malam-malam begini. "Nona Amber, tolong cepat turunlah, bawa suamimu ke kamarnya." Suara Julian Terdengar. Amber melihat lagi ke arah ponselnya. Rupanya Julian menelponnya dengan menggunakan ponsel David. "Suami... siapa juga yang mau jadi istri lelaki itu." Amber menggerutu meski pada akhirnya ia tetap turun ke bawah untuk menemui Dave. Di lantai bawah, Dave masih di papah oleh Julian memasuki rumah. Tubuh lemah Dave terkulai. Sesekali mulutnya bergumam entah apa yang dia bicarakan. "Cepatlah Nona, bawa dia ke kamarnya. Tanganku sudah kram dari tadi." Julian menyuruh Amber agar mempercepat langkahnya. Dengan kesal, Amber mengambil alih tubuh Dave dan membawanya ke lantai atas. "Rawat dia dengan baik, Nona Amber. Aku pulang dulu." Julian melambaikan tangannya. "Terima kasih Julian." Amber tidak lupa m
Amber akhirnya memutuskan untuk tetap bekerja di restoran milik Tuan Grayson. Keputusan itu diambil setelah berbagai pertimbangan yang matang, meskipun ia sadar situasinya kini tidak lagi sama. Banyak rekan kerja yang tetap mencibirnya di belakang, tetapi setidaknya mereka tidak berani terang-terangan mengusik dirinya seperti sebelumnya. Namun, keputusan itu membuat Dave sedikit kesal. Bukan karena ia tidak mendukung pilihan Amber, tetapi karena dalam hatinya, ia lebih ingin Amber tidak perlu lagi bekerja di tempat itu. “Kenapa kamu tetap ingin bekerja di sini?” tanya Dave dengan nada yang sulit ditebak. Amber menghela napas. “Karena aku masih ingin mencari uang untuk biaya hidupku, Dave. Aku ingin tetap bekerja dan tidak bergantung pada siapa pun.” Dave mengusap wajahnya dengan frustrasi. Ia tahu Amber adalah wanita yang keras kepala, tetapi tetap saja, ia berharap Amber lebih mempertimbangkan posisinya sekarang. "Aku bisa memberimu uang tanpa harus bekerja di sini. Bila perl
Amber sudah merasa ada yang tidak beres dengan sikap beberapa rekan kerjanya sejak beberapa hari ini. Sikap lunak Tuan Grayson yang biasanya selalu tegas dan tanpa ampun jika ada karyawannya yang melakukan kesalahan menjadi penyebabnya. Mereka berpikir kalau Tuan. Grayson telah dirayu oleh Amber hingga dia memaafkan kesalahan pria itu. Beberapa dari mereka sering berbisik-bisik saat Amber lewat, dan tatapan mereka penuh sindiran. "Aku yakin dia pasti punya hubungan spesial dengan Tuan Grayson," bisik salah satu dari mereka saat Amber berjalan melewati pantry. "Jelas. Kalau tidak, mana mungkin dia masih bekerja di sini setelah semua kesalahan yang dia buat?" sahut yang lain dengan nada sinis. "Amber menghentikan langkahnya dan menatap ke arah mereka yang membicarakannya. " Ngomong apa sih kalian? Amber bukan wanita seperti itu!" Rachel ikut geram. "Darimana kau tahu?" "Aku mengenal Amber dan aku yakin Amber tidak mungkin merendahkan dirinya seperti itu." "Sudahlah Rach
Amber duduk di ruang tepi ranjang dengan tatapan kosong. Pikirannya masih dipenuhi oleh pertemuannya dengan Dave. Sejak pria itu datang kembali ke kehidupannya, Amber merasa dunianya yang tenang mulai terusik. "Amber!" Suara ketukan di pintu disertai panggilan membuyarkan lamunan Amber. Pintu kamar terbuka dan Clara berdiri di ambang pintu dengan senyum khasnya. "Hallo Sayang, apa kabarmu?" Clara langsung berhambur memeluk Amber. "Kabarku baik Cla." Amber memaksakan senyum. Clara masuk dan duduk di sofa. Ia menatap Amber dengan penuh perhatian. "Kau terlihat lebih pucat dari biasanya, apa kau sakit?" tanyanya sambil mengamati wajah Amber. Amber menghela napas. Ia tahu tak ada gunanya menyembunyikan sesuatu dari Clara. "Dave sepertinya tahu kalau Ethan adalah anaknya." "Apa? Bagaimana mungkin?" Amber menggigit bibirnya ragu, lalu mulai bercerita tentang bagaimana Dave tiba-tiba muncul kembali dalam hidupnya, bagaimana pria itu berusaha membawa Ethan, dan bagaimana
Amber mondar-mandir gelisah di teras rumah. Jantungnya berdegup cepat, kepalanya dipenuhi pikiran buruk. Ia terus menunggu, berharap Dave segera datang dan mengembalikan Ethan. Saat akhirnya sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah, Amber langsung berlari ke arah gerbang. Napasnya memburu ketika melihat Dave keluar dari mobil dengan Ethan yang tertidur dalam gendongannya. Tanpa pikir panjang, Amber merebut Ethan dari pelukan Dave. Ia memeluk anaknya erat seolah takut kehilangan. Setelah memastikan Ethan baik-baik saja, ia menatap Dave dengan penuh kemarahan. "Apa yang kau lakukan, Dave?!" serunya dengan suara tertahan agar tidak membangunkan Ethan. "Aku sudah bilang jangan pernah membawa Ethan pergi tanpa izinku!" Dave menatap Amber tanpa ekspresi. Lalu, sebuah senyum tipis yang penuh arti terukir di bibirnya. "Kenapa kau begitu panik, Amber?" tanyanya santai. "Kau takut aku akan membawa Ethan pergi?" "Tentu saja!" jawab Amber ketus. Dave mengangkat alisnya. "Kenapa
Dave masih memeluk tubuh mungil Ethan dengan penuh haru. Perasaan yang mengalir di dalam dirinya begitu kuat, seakan semua rindu dan cinta yang selama ini terpendam akhirnya menemukan jalannya. Ethan tetap diam di dalam pelukannya, seolah mencoba memahami apa yang terjadi. Setelah beberapa saat, Dave mengendurkan pelukannya dan menatap wajah anak itu dengan penuh kasih sayang. “Nak, maukah kau pergi jalan-jalan dengan Papa?” tanyanya lembut, tangannya mengusap rambut lembut Ethan. Ethan menatapnya dengan mata bulatnya yang jernih. Sepertinya anak itu masih bingung, namun di dalam benaknya, ada sesuatu yang membuatnya tidak takut pada Dave. Ia merasa hangat dan nyaman di dekat pria ini, meskipun ia tidak mengerti mengapa. Sebelum Ethan sempat menjawab, suara Nenek Rose terdengar dari belakang. “Tidak. Kau tidak bisa membawa Ethan pergi, Tuan Muda Oliver,” ucapnya tegas. Dave menoleh dan mendapati Nenek Rose berdiri di dekat pintu dengan ekspresi waspada. Jelas sekali kalau
Julian mengetuk pintu ruang kerja Dave sebelum melangkah masuk dengan ekspresi serius. Di tangannya, ia membawa sebuah amplop besar yang telah ia tunggu-tunggu hasilnya selama beberapa hari terakhir. Dave, yang tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, menatap Julian dengan tajam. "Kau sudah mendapatkan hasilnya?" tanyanya, suaranya penuh ketegangan. Julian mengangguk dan menyerahkan amplop itu. "Hasil tes DNA Ethan sudah keluar." Dave langsung meraih amplop itu dengan tangan gemetar. Ia mengeluarkan lembaran kertas di dalamnya dan membaca setiap kata dengan seksama. Napasnya tertahan. "Kecocokan DNA: 99,9%. Subjek yang diuji memiliki hubungan biologis sebagai ayah dan anak." Dave membeku di tempat. Sejenak, ia tidak bisa berkata apa-apa. Semua dugaan dan harapannya selama ini terbukti benar. Ethan adalah darah dagingnya. "Ethan... adalah anakku..." bisiknya pelan, suaranya terdengar bergetar. Julian mengangguk. "Ya, Tuan. Ethan benar-benar anak Anda." Dave merasa dad
Amber keluar dari ruangan atasannya dengan wajah sedikit pucat. Perasaan lega karena tidak langsung dipecat bercampur dengan ketegangan akibat ancaman tadi. Jika dia sampai melakukan kesalahan lagi, pekerjaannya akan hilang. Itu berarti dia harus mencari cara lain untuk menghidupi Ethan. Tidak, dia tidak boleh kehilangan pekerjaan ini. Namun, baru saja ia hendak kembali bekerja, beberapa temannya sudah menunggunya di dekat pantry. Rachel, yang selama ini cukup dekat dengannya, menghampirinya dengan ekspresi khawatir. Tapi tidak semua yang berdiri di sana memiliki ekspresi yang sama. Banyak di antara mereka yang menatap marah dan iri pada Amber. "Apa yang terjadi di dalam?" tanya Rachel pelan. Amber menghela napas sebelum menjawab. "Aku ditegur karena keluar saat jam kerja kemarin. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Rachel tampak lega, tetapi sebelum ia bisa berkata apa-apa, seorang pelayan bernama Lany menyelanya. "Sudah kuduga," katanya dengan nada menyindir. "K
Amber duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya erat. Malam itu terasa begitu panjang. Udara dingin menusuk, tapi bukan itu yang membuatnya menggigil. Yang membuatnya takut adalah perasaan yang terus menggerogoti hatinya sejak pertemuannya dengan Dave. Matanya masih sembab karena tangis. Setelah pergi dari hotel siang tadi, Amber langsung pulang ke rumah Nenek Rose tanpa banyak bicara. Brian berusaha menanyakan keadaannya, tapi Amber memilih menghindar. Dia lelah. Dia kecewa. Dan yang paling menyakitkan, dia masih mencintai Dave. Amber menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Bodoh," gumamnya pelan. Kenapa setelah semua yang terjadi, dia masih merasakan getaran yang sama saat melihat Dave? Kenapa jantungnya masih berdebar, bahkan ketika pria itu memaksanya untuk melayani nafsunya. Dia bahkan turut merasakan nikmat dan cukup menikmati pergumulannya dengan Dave tadi siang. "Seharusnya aku menolaknya bukan malah ikut terhanyut ke dalam permainannya," gumam Amber dengan nada menyesal.
Amber duduk di tepi tempat tidur dengan tubuh gemetar. Air mata mengalir di pipinya, tetapi ia tidak berusaha menghapusnya. Hatinya terasa hancur. Ia tidak menyangka Dave bisa bersikap seperti ini. Selama ini, meskipun hubungan mereka penuh luka dan kesalahpahaman, Amber masih menyimpan secercah harapan bahwa Dave adalah pria yang dulu pernah ia cintai. Namun, malam ini, harapan itu lenyap. Dengan tangan bergetar, Amber meraih pakaiannya yang berserakan di lantai. Ia memakainya dengan tergesa, ingin segera pergi dari tempat ini, dari Dave, dari semua rasa sakit yang kembali menghantam dirinya. Namun, saat ia hendak menuju pintu, sebuah tangan kuat menahan pergelangan tangannya. “Jangan pergi,” suara Dave terdengar serak, tetapi tetap dipenuhi otoritas. Amber menoleh, menatap Dave dengan sorot mata penuh luka dan kemarahan. “Lepaskan aku, Dave,” suaranya bergetar, tapi nadanya tegas. Dave menatapnya dengan mata gelap yang dipenuhi emosi yang sulit diartikan. “Aku tidak bisa membiar