Home / Romansa / Hasrat Liar Hot Duda / Aku Bukan Pelacur

Share

Aku Bukan Pelacur

Author: Rein Azahra
last update Huling Na-update: 2025-01-30 16:57:36

"Dave apa benar ka—kamu tidak suka perempuan?" Dengan sangat hati-hati Amber bertanya.

"Itu lagi yang kamu tanyakan? Apa kamu masih meragukanku Amber?" Kemarahan makin terlihat di wajah tampan Dave.

"Bu—bukan maksudku begitu." Tubuh Amber gemetar ketakutan saat Dave kembali mendekat.

Cup.

Satu kecupan kasar Amber rasakan di bibirnya. Dave menjarah bibirnya dengan rakus. Tak ada kelembutan di sana. Amber terpaku. Tak berani melawan. Hanya kedua tangannya yang berusaha menahan dada bidang Dave.

Bibir Amber sudah terasa kebas dan bengkak saat akhirnya Dave melepaskan tautannya. Amber tertunduk. Dave begitu mengerikan. Apakah ia akan sanggup bertahan hidup dengan pria seperti dia?

"Apa itu masih membuatmu ragu, Amber? Kalau memang kamu masih ragu, aku akan melakukan hal yang lebih gila lagi padamu." Dave menyeringai tipis tapi begitu mengerikan di mata Amber.

"Tidak... tidak... aku percaya Dave." Amber menggeleng dengan cepat. Raut ketakutan masih tergambar jelas di matanya.

Dave tersenyum tipis dan berlalu pergi dari kamarnya.

Amber terjatuh luruh di lantai yang dingin. Ia memegangi bibirnya yang bengkak.

"Dave sialan!" umpatnya kesal.

*

*

Siang itu Amber keluar dari rumah Dave. Ia ada janji untuk bertemu dengan Clara, sahabatnya yang tidak pernah meninggalkannya meskipun dia sedang terpuruk seperti sekarang.

"Hai, bagaimana kabarmu Sayang?" Clara menyambut kedatangan Amber siang itu di cafe and resto yang ada di sekitar Kensington kota London.

"Baik Cla." Amber duduk di depan Clara. Rasanya sudah lama sekali ia tidak berkumpul dengan gadis cerewet dan ceria itu.

"Amber kenapa kamu mengajakku ketemuan di sini. Bukankah daerah ini cukup jauh dari rumahmu?" Clara mengerutkan keningnya.

Ya, Kensington memang menjadi salah satu daerah yang menjadi tempat orang kaya tinggal di kota London. Dan Dave salah satu orang kaya yang tinggal di daerah itu.

"Aku... kebetulan sedang ada disekitar sini. Jadi sekalian saja mengajakmu bertemu di sini." Amber mencari alasan. Tidak mungkin kalau ia cerita tentang Dave pada Clara.

Clara manggut-manggut. "Oh, ya Elton juga mau ke sini, sepertinya dia masih di jalan."

"Elton?!" Kedua mata Amber membulat.

"Iya, Elton. Boleh kan? Kasihan dia yang merengek ingin bertemu denganmu. Sepertinya dia kangen berat padamu." Clara berseloroh.

Amber tertegun. Elton adalah pemuda tampan yang memang menaruh perhatian tulus padanya sejak dulu.

Dan sekarang mungkin ia telah mendengar tentang Jeff yang telah membatalkan pertunangan mereka. Karena berita tentang Jeff yang telah memutuskan pertunangan mereka pada malam itu telah menyebar di seluruh kota.

"Aku malu padanya Cla." Amber terlihat sedih.

"Malu kenapa? Santai saja Amber, dia ke sini justru karena ingin menghiburmu." Clara meraih tangan Amber yang ada di atas meja dan menatapnya dengan lembut.

"Hallo Nona Amber." Sebuah sapaan membuyarkan pikiran Amber saat itu. Ia kira Elton yang datang tapi rupanya orang lain.

Amber tidak kenal dengan pria yang kini berdiri di depannya. Dahi gadis itu berkerut.

"Kenalkan namaku Freddy." Pria itu mengulurkan tangannya.

"Apa aku bisa mengajakmu makan siang?" Pria bernama Freddy itu tersenyum nakal.

Amber masih enggan untuk membalas jabat tangan lelaki itu, ia melirik ke arah Clara yang juga terlihat bingung.

"Ayolah Amber, aku tahu kamu sedang butuh uang sekarang. Jangan sok jual mahal di depanku, Jeff telah membuangmu kan? Dan aku bisa memberimu uang asal kamu mau menemaniku." Freddy menyeringai.

Tatapan merendahkan terpancar dari kedua matanya. Hati Amber sakit mendengarnya.

"Amber dia adalah Freddy, putra kedua dari keluarga Winston." Clara berbisik pada Amber.

Pantas saja gaya lelaki itu sangat sombong. Ternyata dia adalah lelaki yang biasa mendapatkan semuanya dengan uang.

"Maaf Freddy aku rasa aku tidak tertarik dengan penawaranmu." Amber langsung menolak tawaran Freddy dan membuat lelaki di hadapannya itu marah hingga wajahnya memerah.

Tangan Freddy menyambar lengan Amber dan memegangnya dengan erat.

"Pelacur sialan! Kamu berani menolakku?" Freddy menatap tajam ke arah Amber yang masih tetap bersikap tenang. Berbeda dengan Clara yang terlihat panik.

"Perhatikan sekelilingmu Freddy ada banyak pasang mata yang sedang melihatmu. Kamu ingin mempermalukan diri sendiri?" Amber tersenyum tipis.

"Sial!" Freddy terpaksa melepaskan tangan Amber. Untuk ukuran pria seperti Freddy, Amber tahu persis kalau pria itu tak akan mau menjatuhkan harga dirinya di depan orang banyak hanya demi seorang wanita.

"Lain kali aku akan membalas semua kelakuanmu padaku." Freddy menatap tajam ke arah Amber.

Sementara itu Amber merasakan pergelangan tangannya perih dan panas akibat ulah Freddy.

"Tidak ada lain kali Tuan Freddy. Amber tidak akan butuh lelaki sepertimu." Tiba-tiba Amber mendengar suara yang cukup familiar di telinganya. Ya, itu suara Dave. Bagaimana bisa lelaki itu tahu kalau dia ada di tempat ini.

"Tuan Dave?!" Freddy terbengong melihat ke arah Dave yang berdiri tegak di belakangnya.

"Jangan pernah mengganggu lagi wanita ini kalau tidak mau perusahaanmu hancur." Dave mengancam dan membuat wajah Freddy seketika memucat.

"Ma—maaf Tuan Dave, saya tidak berani lagi. Kalau begitu saya permisi dulu." Freddy langsung keluar dari restoran tersebut dengan wajah ketakutan.

Amber terbengong, begitu juga dengan Clara yang baru melihat wajah Dave secara langsung. Selama ini ia hanya nama besar Dave saja yang ia tahu dan belum pernah sekalipun bertemu dengan pria itu.

"Pulang sekarang juga Amber!" Dave dengan wajah dinginnya memberi perintah pada Amber yang masih mematung.

"Pulang?" gumam Clara dengan wajah bingung. Ia menatap ke arah Amber seperti ingin menanyakan sesuatu pada gadis itu.

Tapi sepertinya Amber belum bisa menjawab rasa ingin tahu Clara saat itu. Gadis itu berdiri dan segera mengikuti langkah Dave. Ia menoleh ke belakang dan memberi isyarat pada Clara kalau ia akan segera menelponnya.

Tiba di dalam mobil. Dave mendorong tubuh Amber hingga terhempas di atas jok mobil.

"Berani kamu bermain-main dengan lelaki lain Amber? Berapa lagi lelaki yang akan kamu goda?" Dave bertanya dengan penuh intimidasi.

"Aku tidak menggodanya. Demi Tuhan Dave aku tidak pernah menggoda lelaki lain." Amber meringis saat tangan Dave mencengkram rahangnya dengan keras.

"Kamu bohong Amber. Sikapmu ini adalah sikap wanita penggoda." Dave menatap netra coklat terang itu dengan tajam. Wajahnya begitu dengan dengan Amber. Hingga gadis itu bisa merasakan embusan napas hangat Dave.

Amber mengerutkan alisnya, sikapnya yang mana yang menurut Dave sikap penggoda? Ia rasa Ia hanya melakukan pembelaan untuk mempertahankan harga dirinya.

Dave mulai melonggarkan cengkraman tangannya dan berubah menjadi cubitan kecil di dagu Amber.

Amber mengerjapkan matanya, dan merasakan jantungnya berdebar hebat saat jemari Dave menyapu bibirnya dengan lembut.

"Kamu milikku Amber, tidak boleh ada pria lain yang menyentuh barang milikku." Tatapan mata Dave menggelap. Ia semakin mendekatkan wajahnya ke arah Amber dan bibir mereka mulai saling bersentuhan dengan lembut.

Amber merasakan bibir Dave terasa dingin dan kenyal membuat tubuhnya meremang. Apalagi saat tangan Dave menarik pinggangnya dan membuat tubuh mereka melekat semakin erat.

Dave melahap bibirnya dengan rakus. Namun setelah sekian detik berlalu Dave tiba-tiba menggigit bibirnya dan terasa sangat sakit.

"Dave kamu menyakitiku." Amber mendorong tubuh Dave menjauh. Dia mengusap bibirnya yang mengeluarkan darah. Pria gila ini benar-benar, tidak bisa di tebak.

"Itu akibatnya kalau kamu berani bermain-main denganku Amber. Ingat ini di dalam kepalamu, kamu hanya milikku, atau aku akan menarik uangku kembali jika kamu berani menghianatiku."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Kaugnay na kabanata

  • Hasrat Liar Hot Duda   Terkurung dalam Sangkar Emas

    Amber terbelalak saat mendengar ancaman dari Dave. Lagi-lagi pria itu mengancamnya dengan alasan uang yang membuat Amber tidak bisa berkutik lagi. Amber menghela napas berat. Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika ia harus menikah dengan pria seperti Dave yang dingin dan penuh misteri. Mobil mewah itu berjalan menuju rumah megah Dave. Setibanya di sana, seperti biasa para pelayan akan menyambut kedatangan mereka. "Masuk ke dalam kamarmu Amber dan jangan pernah berani untuk keluar lagi tanpa seizin dariku, " titah Dave dengan tegas. Amber hanya mengangguk. Ia segera naik ke lantai atas menuju kamarnya. "Alfred!" Pandangan Dave beralih pada kepala pelayannya. "Ya Tuan." Alfred maju selangkah. "Mulai sekarang, awasi perempuan itu, jangan sampai dia keluyuran tidak jelas." "Baik Tuan." Alfred mengangguk. Sejujurnya, dia merasa kasihan pada Amber yang pastinya akan sangat merasa tertekan dengan sikap aneh Dave ini. Tapi mau bagaimana lagi, perintah Dave memang tidak

    Huling Na-update : 2025-02-01
  • Hasrat Liar Hot Duda   Sikap misterius Dave

    "Bella!" Sebuah panggilan mengejutkan Amber saat itu. Ada seseorang yang memanggilnya dengan sebutan nama wanita lain. Amber sontak menoleh ke arah belakang, terlihat Dave sedang berdiri di ambang pintu. Pria itu terlihat kaget saat melihat kalau ternyata yang memakai gaun tersebut adalah Amber. Raut wajah Dave seketika menampakan kemarahannya. Membuat Amber menggigil ketakutan. "Siapa yang menyuruhmu memakai gaun itu?!" teriakan menggelegar menciptakan atmosfer mencekam di tempat itu. Amber menyadari kalau dirinya telah melakukan kesalahan besar dengan memakai gaun ini. Dave melangkah menghampiri Amber. Dia meraih pergelangan tangan gadis itu menariknya dengan kasar menuju kamar. Lalu melemparkan tubuh gadis itu ke atas tempat tidur. Semuanya terjadi begitu cepat, hingga Amber tidak bisa lagi berpikir. Ia hanya menerima semua perlakuan kasar Dave tanpa perlawanan. Ia begitu ketakutan saat melihat kemarahan yang begitu di dalam sorot mata Dave. "Dave aku mohon maafkan aku." Amb

    Huling Na-update : 2025-02-01
  • Hasrat Liar Hot Duda   Apa Kamu Mulai Mencintaiku?

    "Pakai ini!" Dave memberikan sebuah paper bag berisi gaun lengkap dengan sepatu yang harus Amber kenakan untuk menghadiri pesta malam ini.Amber tertegun. Ia yang sedang duduk di tepi ranjang pun memeriksa isi paper bag itu dan mendapati sebuah dress cantik berwarna abu terang yang mewah. "Kita akan pergi kemana?" tanya Amber dengan bingung."Temani aku ke pesta malam ini." Dave berdiri di depan Amber dengan kedua tangan yang bersemayam di dalam saku celananya.Gadis cantik itu mendongak. "Apa ini tugas pertamaku?""Anggap saja begitu." Dave menjawab singkat.Amber manggut-manggut."Aku tunggu di bawah. Tiga puluh menit lagi kamu harus siap." Dave membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari kamar Amber.Amber mengeluarkan dress dan sepatu dari dalam paper bag. Ia segera mengganti bajunya dengan gaun tersebut.Busana yang kini melekat di tubuhnya itu menampakkan bentuk tubuhnya yang seksi seperti gitar Spanyol. Amber menatap puas bayangan dirinya di cermin. Ternyata pilihan Dave san

    Huling Na-update : 2025-02-02
  • Hasrat Liar Hot Duda   Jangan Sentuh Wanitaku

    "Jangan mimpi Amber. Bangun sekarang juga kalau kamu masih bermimpi." Dave berkata dengan wajah kesal. Sudah Amber duga kalau jawaban Dave pasti akan membuatnya sakit hati. Amber tersenyum getir. ini adalah kesalahannya yang terlalu percaya diri kalau Dave sudah mulai mencintainya. Dave mendengkus dingin. Ia menatap Amber dengan tatapan mencemooh. Namun tiba-tiba tangannya menarik pinggang ramping Amber dan mengangkat dagu gadis itu dengan tatapan tajam. "Jangan terlalu percaya diri Amber. Mana mungkin aku menyukai wanita sepertimu. Lihat dirimu Amber, kamu begitu menyedihkan." Dave memindai tubuh Amber, tentu saja dengan tatapan yang membuat hati Amber mencelos. Kata-kata Dave memang selalu pedas bahkan pedasnya melebihi cabe terpedas di dunia. Namun Amber tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya di depan Dave. Amber menyunggingkan senyum tipisnya. "Bagus kalau kamu tidak menyukaiku. Karena aku juga tidak akan pernah menyukai pria menyebalkan sepertimu." "Apa katamu?" Dave

    Huling Na-update : 2025-02-03
  • Hasrat Liar Hot Duda   Lepaskan Aku Dave

    Tangan Amber terasa sakit saat harus mengikuti langkah Dave yang tergesa. Entah apa yang akan dilakukannya, yang jelas gadis bermanik cokelat terang itu sangat ketakutan melihat raut wajah Dave yang menyeramkan itu. "Dave, lepaskan aku! Kamu menyakitiku Dave!" Amber berusaha melepaskan tangan lelaki itu. Namun tenaga Dave bukan tandingannya. Pria tampan yang merasa harga dirinya dihancurkan oleh Amber terus berjalan menuju kamarnya. Dia menyeret tubuh Amber dan melemparkannya ke atas kasur. BRUGH! Meski tidak sakit tapi Amber dibuat cukup terkejut oleh sikap kalap Dave. Lelaki itu terlihat sangat marah. Ia kesal karena Amber pun masih saja menuduhnya sebagai lelaki tidak normal seperti orang lain di luar sana. "Dengar Amber, aku menyewamu bukan untuk menghakimiku atau meragukan kejantananku. Tapi kenapa sekarang kamu malah sama seperti orang-orang itu, hah?" Dave mencengkram leher Amber hingga gadis itu merasakan kesulitan untuk bernapas. "Dave, kamu bisa membunuhku kalau

    Huling Na-update : 2025-02-03
  • Hasrat Liar Hot Duda   Godaan Amber

    Dave menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Ia seharusnya langsung menutup laptopnya, tapi, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasakan sesuatu yang sulit ia kendalikan, keinginan untuk lebih dekat, untuk menyentuh, untuk memiliki Amber seutuhnya. "Sial!" Ia menggenggam erat ponselnya, berusaha mengendalikan diri. Amber hanya istri bohongannya, dan hubungan mereka tidak seharusnya melibatkan perasaan. Tapi mengapa sekarang ia merasa seperti ini? Dengan gerakan cepat Dave menutup laptopnya. Ia memilih pergi sebelum pikirannya semakin jauh tenggelam dalam godaan yang berbahaya ini. *** Di sebuah bar eksklusif di pusat kota Kensington, suasana malam terasa ramai dengan suara dentingan gelas dan percakapan para pengunjung. Namun, bagi Dave Oliver, dunia terasa lebih sempit dari biasanya. Ia duduk di sudut ruangan dengan ekspresi kusut, mengaduk whiskey di gelasnya tanpa benar-benar berminat meminumnya. Di seberangnya, Julian menyesap minuman

    Huling Na-update : 2025-02-04
  • Hasrat Liar Hot Duda   Konfrensi Pers

    Suara dering ponsel berulang kali menggema di kamar yang masih gelap. Di atas ranjang besar dengan seprai berantakan, Dave Oliver bergeming. Ponselnya yang bergetar di atas nakas hanya membuatnya mengerang kesal. Ia mengulurkan tangan, meraba-raba ponsel tanpa membuka mata, lalu menjawab panggilan itu dengan suara serak, “Apa?” Suara Julian langsung terdengar di seberang, penuh semangat seperti biasanya. “Selamat pagi, Tuan Oliver! Maaf mengganggu tidur malammu yang berharga, tapi kau harus bangun sekarang. Masalah besar sedang menunggumu.” Dave mendesah, lalu membuka matanya sedikit. “Masalah apa?” "Sepertinya para wartawan mulai tertarik dengan hubunganmu dan Amber. Mereka mulai menggali informasi tentang hal itu, dan kau tahu apa yang mereka temukan?” “Berhenti bertele-tele, Julian.” Dave memijat pelipisnya. “Baiklah, dengarkan ini. Beberapa media sekarang berspekulasi bahwa hubunganmu dengan Amber hanyalah rekayasa belaka untuk menutupi fakta bahwa kau sebenarnya adalah

    Huling Na-update : 2025-02-05
  • Hasrat Liar Hot Duda   Meniduri Amber?

    Amber masih bisa merasakan bibirnya yang berdenyut halus setelah ciuman yang diberikan Dave di konferensi pers tadi siang. Meski ia sudah kembali ke rumah mereka, pikirannya masih belum bisa tenang. Seharusnya ia merasa marah, malu, atau paling tidak, kesal. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Dadanya berdebar hebat, wajahnya panas, dan jantungnya seolah berlari tanpa kendali. "Ini gila…" gumamnya, memegangi kepalanya. Pernikahan mereka hanya sandiwara. Ia tahu itu sejak awal. Tidak seharusnya ia merasa seperti ini. Namun, saat ia menutup mata, ingatan tentang tatapan Dave sebelum mencium dirinya kembali muncul. Sorot matanya penuh ketegasan, seolah Dave benar-benar menginginkan momen itu terjadi. Amber menggigit bibirnya. Apa mungkin Dave juga mulai merasakan sesuatu terhadapnya? --- Di ruangan lain. Air dingin yang baru saja Dave gunakan untuk membasuh wajah tidak cukup untuk menenangkan pikirannya. "Sial. Apa yang kulakukan tadi?" gumamnya resah. Saat itu, ia

    Huling Na-update : 2025-02-05

Pinakabagong kabanata

  • Hasrat Liar Hot Duda   Dinner Romantis

    Amber akhirnya memutuskan untuk tetap bekerja di restoran milik Tuan Grayson. Keputusan itu diambil setelah berbagai pertimbangan yang matang, meskipun ia sadar situasinya kini tidak lagi sama. Banyak rekan kerja yang tetap mencibirnya di belakang, tetapi setidaknya mereka tidak berani terang-terangan mengusik dirinya seperti sebelumnya. Namun, keputusan itu membuat Dave sedikit kesal. Bukan karena ia tidak mendukung pilihan Amber, tetapi karena dalam hatinya, ia lebih ingin Amber tidak perlu lagi bekerja di tempat itu. “Kenapa kamu tetap ingin bekerja di sini?” tanya Dave dengan nada yang sulit ditebak. Amber menghela napas. “Karena aku masih ingin mencari uang untuk biaya hidupku, Dave. Aku ingin tetap bekerja dan tidak bergantung pada siapa pun.” Dave mengusap wajahnya dengan frustrasi. Ia tahu Amber adalah wanita yang keras kepala, tetapi tetap saja, ia berharap Amber lebih mempertimbangkan posisinya sekarang. "Aku bisa memberimu uang tanpa harus bekerja di sini. Bila perl

  • Hasrat Liar Hot Duda   fitnah keji

    Amber sudah merasa ada yang tidak beres dengan sikap beberapa rekan kerjanya sejak beberapa hari ini. Sikap lunak Tuan Grayson yang biasanya selalu tegas dan tanpa ampun jika ada karyawannya yang melakukan kesalahan menjadi penyebabnya. Mereka berpikir kalau Tuan. Grayson telah dirayu oleh Amber hingga dia memaafkan kesalahan pria itu. Beberapa dari mereka sering berbisik-bisik saat Amber lewat, dan tatapan mereka penuh sindiran. "Aku yakin dia pasti punya hubungan spesial dengan Tuan Grayson," bisik salah satu dari mereka saat Amber berjalan melewati pantry. "Jelas. Kalau tidak, mana mungkin dia masih bekerja di sini setelah semua kesalahan yang dia buat?" sahut yang lain dengan nada sinis. "Amber menghentikan langkahnya dan menatap ke arah mereka yang membicarakannya. " Ngomong apa sih kalian? Amber bukan wanita seperti itu!" Rachel ikut geram. "Darimana kau tahu?" "Aku mengenal Amber dan aku yakin Amber tidak mungkin merendahkan dirinya seperti itu." "Sudahlah

  • Hasrat Liar Hot Duda   Tawaran Tuan Grayson

    Amber duduk di ruang tepi ranjang dengan tatapan kosong. Pikirannya masih dipenuhi oleh pertemuannya dengan Dave. Sejak pria itu datang kembali ke kehidupannya, Amber merasa dunianya yang tenang mulai terusik. "Amber!" Suara ketukan di pintu disertai panggilan membuyarkan lamunan Amber. Pintu kamar terbuka dan Clara berdiri di ambang pintu dengan senyum khasnya. "Hallo Sayang, apa kabarmu?" Clara langsung berhambur memeluk Amber. "Kabarku baik Cla." Amber memaksakan senyum. Clara masuk dan duduk di sofa. Ia menatap Amber dengan penuh perhatian. "Kau terlihat lebih pucat dari biasanya, apa kau sakit?" tanyanya sambil mengamati wajah Amber. Amber menghela napas. Ia tahu tak ada gunanya menyembunyikan sesuatu dari Clara. "Dave sepertinya tahu kalau Ethan adalah anaknya." "Apa? Bagaimana mungkin?" Amber menggigit bibirnya ragu, lalu mulai bercerita tentang bagaimana Dave tiba-tiba muncul kembali dalam hidupnya, bagaimana pria itu berusaha membawa Ethan, dan bagaimana

  • Hasrat Liar Hot Duda   Bimbang

    Amber mondar-mandir gelisah di teras rumah. Jantungnya berdegup cepat, kepalanya dipenuhi pikiran buruk. Ia terus menunggu, berharap Dave segera datang dan mengembalikan Ethan. Saat akhirnya sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah, Amber langsung berlari ke arah gerbang. Napasnya memburu ketika melihat Dave keluar dari mobil dengan Ethan yang tertidur dalam gendongannya. Tanpa pikir panjang, Amber merebut Ethan dari pelukan Dave. Ia memeluk anaknya erat seolah takut kehilangan. Setelah memastikan Ethan baik-baik saja, ia menatap Dave dengan penuh kemarahan. "Apa yang kau lakukan, Dave?!" serunya dengan suara tertahan agar tidak membangunkan Ethan. "Aku sudah bilang jangan pernah membawa Ethan pergi tanpa izinku!" Dave menatap Amber tanpa ekspresi. Lalu, sebuah senyum tipis yang penuh arti terukir di bibirnya. "Kenapa kau begitu panik, Amber?" tanyanya santai. "Kau takut aku akan membawa Ethan pergi?" "Tentu saja!" jawab Amber ketus. Dave mengangkat alisnya. "Kenapa

  • Hasrat Liar Hot Duda   Jalan-jalan dengan Papa

    Dave masih memeluk tubuh mungil Ethan dengan penuh haru. Perasaan yang mengalir di dalam dirinya begitu kuat, seakan semua rindu dan cinta yang selama ini terpendam akhirnya menemukan jalannya. Ethan tetap diam di dalam pelukannya, seolah mencoba memahami apa yang terjadi. Setelah beberapa saat, Dave mengendurkan pelukannya dan menatap wajah anak itu dengan penuh kasih sayang. “Nak, maukah kau pergi jalan-jalan dengan Papa?” tanyanya lembut, tangannya mengusap rambut lembut Ethan. Ethan menatapnya dengan mata bulatnya yang jernih. Sepertinya anak itu masih bingung, namun di dalam benaknya, ada sesuatu yang membuatnya tidak takut pada Dave. Ia merasa hangat dan nyaman di dekat pria ini, meskipun ia tidak mengerti mengapa. Sebelum Ethan sempat menjawab, suara Nenek Rose terdengar dari belakang. “Tidak. Kau tidak bisa membawa Ethan pergi, Tuan Muda Oliver,” ucapnya tegas. Dave menoleh dan mendapati Nenek Rose berdiri di dekat pintu dengan ekspresi waspada. Jelas sekali kalau

  • Hasrat Liar Hot Duda   Hasil Tes DNA

    Julian mengetuk pintu ruang kerja Dave sebelum melangkah masuk dengan ekspresi serius. Di tangannya, ia membawa sebuah amplop besar yang telah ia tunggu-tunggu hasilnya selama beberapa hari terakhir. Dave, yang tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, menatap Julian dengan tajam. "Kau sudah mendapatkan hasilnya?" tanyanya, suaranya penuh ketegangan. Julian mengangguk dan menyerahkan amplop itu. "Hasil tes DNA Ethan sudah keluar." Dave langsung meraih amplop itu dengan tangan gemetar. Ia mengeluarkan lembaran kertas di dalamnya dan membaca setiap kata dengan seksama. Napasnya tertahan. "Kecocokan DNA: 99,9%. Subjek yang diuji memiliki hubungan biologis sebagai ayah dan anak." Dave membeku di tempat. Sejenak, ia tidak bisa berkata apa-apa. Semua dugaan dan harapannya selama ini terbukti benar. Ethan adalah darah dagingnya. "Ethan... adalah anakku..." bisiknya pelan, suaranya terdengar bergetar. Julian mengangguk. "Ya, Tuan. Ethan benar-benar anak Anda." Dave merasa dad

  • Hasrat Liar Hot Duda   Buat Amber Kembali

    Amber keluar dari ruangan atasannya dengan wajah sedikit pucat. Perasaan lega karena tidak langsung dipecat bercampur dengan ketegangan akibat ancaman tadi. Jika dia sampai melakukan kesalahan lagi, pekerjaannya akan hilang. Itu berarti dia harus mencari cara lain untuk menghidupi Ethan. Tidak, dia tidak boleh kehilangan pekerjaan ini. Namun, baru saja ia hendak kembali bekerja, beberapa temannya sudah menunggunya di dekat pantry. Rachel, yang selama ini cukup dekat dengannya, menghampirinya dengan ekspresi khawatir. Tapi tidak semua yang berdiri di sana memiliki ekspresi yang sama. Banyak di antara mereka yang menatap marah dan iri pada Amber. "Apa yang terjadi di dalam?" tanya Rachel pelan. Amber menghela napas sebelum menjawab. "Aku ditegur karena keluar saat jam kerja kemarin. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Rachel tampak lega, tetapi sebelum ia bisa berkata apa-apa, seorang pelayan bernama Lany menyelanya. "Sudah kuduga," katanya dengan nada menyindir. "K

  • Hasrat Liar Hot Duda   Kegelisahan

    Amber duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya erat. Malam itu terasa begitu panjang. Udara dingin menusuk, tapi bukan itu yang membuatnya menggigil. Yang membuatnya takut adalah perasaan yang terus menggerogoti hatinya sejak pertemuannya dengan Dave. Matanya masih sembab karena tangis. Setelah pergi dari hotel siang tadi, Amber langsung pulang ke rumah Nenek Rose tanpa banyak bicara. Brian berusaha menanyakan keadaannya, tapi Amber memilih menghindar. Dia lelah. Dia kecewa. Dan yang paling menyakitkan, dia masih mencintai Dave. Amber menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Bodoh," gumamnya pelan. Kenapa setelah semua yang terjadi, dia masih merasakan getaran yang sama saat melihat Dave? Kenapa jantungnya masih berdebar, bahkan ketika pria itu memaksanya untuk melayani nafsunya. Dia bahkan turut merasakan nikmat dan cukup menikmati pergumulannya dengan Dave tadi siang. "Seharusnya aku menolaknya bukan malah ikut terhanyut ke dalam permainannya," gumam Amber dengan nada menyesal.

  • Hasrat Liar Hot Duda   Kemarahan Amber

    Amber duduk di tepi tempat tidur dengan tubuh gemetar. Air mata mengalir di pipinya, tetapi ia tidak berusaha menghapusnya. Hatinya terasa hancur. Ia tidak menyangka Dave bisa bersikap seperti ini. Selama ini, meskipun hubungan mereka penuh luka dan kesalahpahaman, Amber masih menyimpan secercah harapan bahwa Dave adalah pria yang dulu pernah ia cintai. Namun, malam ini, harapan itu lenyap. Dengan tangan bergetar, Amber meraih pakaiannya yang berserakan di lantai. Ia memakainya dengan tergesa, ingin segera pergi dari tempat ini, dari Dave, dari semua rasa sakit yang kembali menghantam dirinya. Namun, saat ia hendak menuju pintu, sebuah tangan kuat menahan pergelangan tangannya. “Jangan pergi,” suara Dave terdengar serak, tetapi tetap dipenuhi otoritas. Amber menoleh, menatap Dave dengan sorot mata penuh luka dan kemarahan. “Lepaskan aku, Dave,” suaranya bergetar, tapi nadanya tegas. Dave menatapnya dengan mata gelap yang dipenuhi emosi yang sulit diartikan. “Aku tidak bisa membiar

Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status