Home / Romansa / Hasrat Liar Hot Duda / Apa Perlu Aku Bercinta di Depan Kalian?

Share

Apa Perlu Aku Bercinta di Depan Kalian?

Author: Rein Azahra
last update Last Updated: 2025-01-24 15:55:12

Suara kicau burung membangunkan Amber dari tidurnya yang nyenyak. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali menghalau silaunya matahari yang menerobos masuk melalui celah gordeng.

Amber memijat kepalanya yang terasa pening. Ia heran kenapa ia bisa berada di tempat tidur. Padahal ingatan terakhir yang berada di otaknya adalah dia sedang berendam di dalam bathtub tadi malam.

"Kenapa aku bisa ada di sini? Dan siapa yang memakaikan pakaian tidur ini?" Amber meraba  gaun tidur berwarna peach yang ia kenakan saat itu.

"Selamat Pagi Nona." Suara Alfred yang baru masuk mengejutkan Amber.

"Pagi Alfred!" Amber bangun dan duduk di tepian tempat tidur.

"Nana apa Anda sudah merasa lebih baik?" tanya Alfred membuat Amber mengerutkan keningnya.

"Memangnya aku kenapa?"

"Anda pingsan Nona. Beruntung Tuan Dave segera mengeluarkan Nona dari bathtub. Dan semalaman Anda demam sampai Tuan Dave merawat Anda dengan telaten," jawab Alfred.

"A—apa benar begitu?" Amber terbengong. Jadi Dave merawatnya?

"Iya Nona. Tuan Dave meminta saya untuk melihat keadaan Nona."

"Aku sudah sembuh," jawab Amber dengan cepat.

"Syukurlah kalau begitu. Sekarang lebih baik Anda bersiap. Tuan Dave menunggu Anda di bawah."

"Baik, aku akan segera ke bawah." Amber mengangguk.

Amber bangun dari tidurnya, setelah mandi, ia keluar dari kamar dan bergegas turun ke lantai bawah. Namun di bawah ia mendengar suara ribut-ribut. Rupanya ada tamu yang datang sepagi ini.

Amber menuruni anak tangga dengan cepat. Ia terkejut saat melihat tamu yang datang ke rumah Dave pagi itu.

"Amberlyn Pierce? Kenapa kamu ada di rumah Dave?" Nyonya Eliza, ibunya Dave terkejut melihat kehadiran Amber di rumah anak lelakinya itu.

"Nyonya, aku—" Lidah Amber kelu, ia tidak menyangka kalau teman ibunya itu adalah ibu kandung Dave.

Dulu sewaktu keluarga Amber masih berjaya, ibunya pernah membawa Amber bertemu dengan Nyonya Eliza dan mereka sempat berbicara akrab waktu itu. Dan kini mereka bertemu lagi saat keluarga Amber sudah bangkrut. Hal itu membuat Amber sedikit tidak percaya diri.

"Dia adalah istriku Mom, jadi wajar kalau dia tinggal di sini." Dave menjawab dengan santai.

"What? Kalian telah menikah? Kapan? Kenapa kalian tidak memberitahu Mommy sebelumnya?" Tentu saja Nyonya Eliza kaget mendengar pengakuan putranya itu.

"Aku sudah dewasa Mom, dan ini pun pernikahan keduaku, jadi aku rasa tidak perlu dibesar-besarkan seperti ini."

"Tapi Dave, biarpun kamu sudah dewasa  tetap saja kamu adalah baby-nya Mommy yang paling tampan." Nyonya Eliza menatap lembut ke arah Dave.

"Stop menganggapku anak kecil Mom!" Dave paling tidak suka dengan perlakuan mamanya yang seperti ini.

Amber menahan tawanya. Melihat Dave diperlakukan seperti seorang anak kecil yang lucu membuat Amber geli. Karena selama ini Dave selalu menanamkan kesan dingin dan tegas di hadapannya.

Ia menghampiri Nyonya Eliza yang datang bersama Tuan Martin Oliver suaminya.

"Selamat pagi semuanya." Amber menyapa kedua orang yang kini resmi menjadi mertuanya dengan sopan.

"Just call me Mom, like Dave." Pinta Nyonya Eliza. Amber hanya mengangguk pelan. Ia masih harus beradaptasi dengan situasi baru ini.

"Benarkah kalian sudah menikah?" Tuan Martin seakan tak percaya dengan perkataan Dave, ia memicingkan kedua matanya.

Dave tidak menjawab, ia menarik tangan Amber yang berdiri di sampingnya lalu dengan cepat menyambar bibir gadis itu, melumatnya dengan lembut tanpa malu di hadapan kedua orang tuanya serta beberapa pelayan yang ada di sana.

Amber yang tidak menyangka akan dicium secara tiba-tiba oleh Dave hanya bisa membelalakan matanya lebar-lebar. Namun ia membiarkan Dave melakukan itu tanpa perlawanan.

Dave melepaskan tautan bibir mereka dan berpaling pada kedua orang tuanya yang juga terkejut melihat kelakuan Dave.

"Apa perlu kami bercinta di hadapan kalian agar kalian percaya kalau kami sudah menikah?" Kedua rahang Dave mengeras. Ia kesal karena kedua orang tuanya pun tidak percaya kalau ia adalah lelaki normal.

Tuan Martin mengulum senyum. Ia menepuk bahu putranya pelan. "Tidak tahu malu, masa kamu mau bercinta dengan istrimu di depan kami. Aku percaya kalau kalian sudah menikah. Congrats Dave, kamu sudah kembali." Martin memeluk tubuh putranya.

Namun Dave menolak pelukan itu. "Mommy dan Daddy sama saja dengan orang-orang itu." Dave naik ke lantai atas meninggalkan semua orang yang masih terbengong.

"Sayang, cepat tenangkan suamimu, jangan sampai dia marah." Nyonya Eliza terlihat khawatir.

"Kamu sih kenapa bicara seperti itu?" Nyonya Eliza menyikut lengan suaminya.

"Memangnya apa yang salah dengan kata-kataku?" Tuan Martin Oliver mengangkat bahunya.

"Jelas salah Sayang. Itu artinya kamu meragukan anakmu sendiri, sama seperti orang-orang di luaran sana." Nyonya Eliza mengerling gemas.

Tuan Oliver menghembuskan napasnya ke udara. Ada penyesalan di sorot matanya.

"Amber, sana bujuk suamimu agar tidak marah lagi." Nyonya Eliza melirik ke arah Amber yang masih terpaku.

"Baik." Amber dengan wajah bingung segera menyusul Dave ke atas.

Sebenarnya ia tidak tahu harus bicara apa pada Dave. Terlihat lelaki itu masuk ke dalam kamarnya dan membanting semua bantal di atas kasur.

Amber hanya bisa melihat kelakuan Dave dari luar kamar, ia tidak berani masuk karena takut akan semakin membuat pria itu marah.

"Apa yang kamu lihat?" Dave mendelik kesal pada Amber yang berdiri di ambang pintu. Lelaki itu melangkah dengan cepat menghampiri Amber yang mundur ke belakang.

Dave menarik lengan Amber dan mendorongnya ke dinding. Tubuh gadis itu terpojok dan tak bisa bergerak karena tekanan tubuh Dave mengungkungnya.

"Apa kamu juga sama seperti mereka menganggapku pria tidak normal?" Suara bariton Dave terdengar bergetar menahan marah.

Dengan cepat Amber menggeleng. Ia tak ingin membuat Dave makin marah padanya.

"Tidak Dave, aku tahu kamu pria normal." Amber berusaha meredakan amarah Dave.

"Kamu tidak bohong?" tatapan tajam Dave membuat lutut Amber bergetar.

"Ti—tidak Dave, mana mungkin aku berani bohong." Amber menggeleng takut.

Dave terdiam, ia menatap wajah cantik Amber dengan tatapan yang sulit terbaca.

"Bagus, jangan sampai kamu berpikir kalau aku gay!" Dave perlahan melepaskan pegangan tangannya pada lengan Amber.

Amber menarik napas lega saat terlepas dari tangan Dave. Benar-benar mengerikan. Ketampanan Dave seolah terkubur oleh sikap mengerikan lelaki itu.

Tapi baru saja Amber menghela napasnya, Dave kembali menatapnya dengan tajam.

"Tapi aku tidak suka tatapan matamu Amber. Aku tidak suka saat kamu menggigit bibirmu, aku tidak suka saat kamu memelas ketakutan... aaargghh... aku tidak suka semuanya... " Dave mengacak rambutnya sendiri dengan wajah frustasi.

"A—apa maksudmu Dave?" Amber tertegun. Apa benar Dave tidak suka sama sekali padanya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Hasrat Liar Hot Duda   Aku Bukan Pelacur

    "Dave apa benar ka—kamu tidak suka perempuan?" Dengan sangat hati-hati Amber bertanya. "Itu lagi yang kamu tanyakan? Apa kamu masih meragukanku Amber?" Kemarahan makin terlihat di wajah tampan Dave. "Bu—bukan maksudku begitu." Tubuh Amber gemetar ketakutan saat Dave kembali mendekat. Cup. Satu kecupan kasar Amber rasakan di bibirnya. Dave menjarah bibirnya dengan rakus. Tak ada kelembutan di sana. Amber terpaku. Tak berani melawan. Hanya kedua tangannya yang berusaha menahan dada bidang Dave. Bibir Amber sudah terasa kebas dan bengkak saat akhirnya Dave melepaskan tautannya. Amber tertunduk. Dave begitu mengerikan. Apakah ia akan sanggup bertahan hidup dengan pria seperti dia? "Apa itu masih membuatmu ragu, Amber? Kalau memang kamu masih ragu, aku akan melakukan hal yang lebih gila lagi padamu." Dave menyeringai tipis tapi begitu mengerikan di mata Amber. "Tidak... tidak... aku percaya Dave." Amber menggeleng dengan cepat. Raut ketakutan masih tergambar jelas di ma

    Last Updated : 2025-01-30
  • Hasrat Liar Hot Duda   Terkurung dalam Sangkar Emas

    Amber terbelalak saat mendengar ancaman dari Dave. Lagi-lagi pria itu mengancamnya dengan alasan uang yang membuat Amber tidak bisa berkutik lagi. Amber menghela napas berat. Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika ia harus menikah dengan pria seperti Dave yang dingin dan penuh misteri. Mobil mewah itu berjalan menuju rumah megah Dave. Setibanya di sana, seperti biasa para pelayan akan menyambut kedatangan mereka. "Masuk ke dalam kamarmu Amber dan jangan pernah berani untuk keluar lagi tanpa seizin dariku, " titah Dave dengan tegas. Amber hanya mengangguk. Ia segera naik ke lantai atas menuju kamarnya. "Alfred!" Pandangan Dave beralih pada kepala pelayannya. "Ya Tuan." Alfred maju selangkah. "Mulai sekarang, awasi perempuan itu, jangan sampai dia keluyuran tidak jelas." "Baik Tuan." Alfred mengangguk. Sejujurnya, dia merasa kasihan pada Amber yang pastinya akan sangat merasa tertekan dengan sikap aneh Dave ini. Tapi mau bagaimana lagi, perintah Dave memang tidak

    Last Updated : 2025-02-01
  • Hasrat Liar Hot Duda   Sikap misterius Dave

    "Bella!" Sebuah panggilan mengejutkan Amber saat itu. Ada seseorang yang memanggilnya dengan sebutan nama wanita lain. Amber sontak menoleh ke arah belakang, terlihat Dave sedang berdiri di ambang pintu. Pria itu terlihat kaget saat melihat kalau ternyata yang memakai gaun tersebut adalah Amber. Raut wajah Dave seketika menampakan kemarahannya. Membuat Amber menggigil ketakutan. "Siapa yang menyuruhmu memakai gaun itu?!" teriakan menggelegar menciptakan atmosfer mencekam di tempat itu. Amber menyadari kalau dirinya telah melakukan kesalahan besar dengan memakai gaun ini. Dave melangkah menghampiri Amber. Dia meraih pergelangan tangan gadis itu menariknya dengan kasar menuju kamar. Lalu melemparkan tubuh gadis itu ke atas tempat tidur. Semuanya terjadi begitu cepat, hingga Amber tidak bisa lagi berpikir. Ia hanya menerima semua perlakuan kasar Dave tanpa perlawanan. Ia begitu ketakutan saat melihat kemarahan yang begitu di dalam sorot mata Dave. "Dave aku mohon maafkan aku." Amb

    Last Updated : 2025-02-01
  • Hasrat Liar Hot Duda   Apa Kamu Mulai Mencintaiku?

    "Pakai ini!" Dave memberikan sebuah paper bag berisi gaun lengkap dengan sepatu yang harus Amber kenakan untuk menghadiri pesta malam ini.Amber tertegun. Ia yang sedang duduk di tepi ranjang pun memeriksa isi paper bag itu dan mendapati sebuah dress cantik berwarna abu terang yang mewah. "Kita akan pergi kemana?" tanya Amber dengan bingung."Temani aku ke pesta malam ini." Dave berdiri di depan Amber dengan kedua tangan yang bersemayam di dalam saku celananya.Gadis cantik itu mendongak. "Apa ini tugas pertamaku?""Anggap saja begitu." Dave menjawab singkat.Amber manggut-manggut."Aku tunggu di bawah. Tiga puluh menit lagi kamu harus siap." Dave membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari kamar Amber.Amber mengeluarkan dress dan sepatu dari dalam paper bag. Ia segera mengganti bajunya dengan gaun tersebut.Busana yang kini melekat di tubuhnya itu menampakkan bentuk tubuhnya yang seksi seperti gitar Spanyol. Amber menatap puas bayangan dirinya di cermin. Ternyata pilihan Dave san

    Last Updated : 2025-02-02
  • Hasrat Liar Hot Duda   Jangan Sentuh Wanitaku

    "Jangan mimpi Amber. Bangun sekarang juga kalau kamu masih bermimpi." Dave berkata dengan wajah kesal. Sudah Amber duga kalau jawaban Dave pasti akan membuatnya sakit hati. Amber tersenyum getir. ini adalah kesalahannya yang terlalu percaya diri kalau Dave sudah mulai mencintainya. Dave mendengkus dingin. Ia menatap Amber dengan tatapan mencemooh. Namun tiba-tiba tangannya menarik pinggang ramping Amber dan mengangkat dagu gadis itu dengan tatapan tajam. "Jangan terlalu percaya diri Amber. Mana mungkin aku menyukai wanita sepertimu. Lihat dirimu Amber, kamu begitu menyedihkan." Dave memindai tubuh Amber, tentu saja dengan tatapan yang membuat hati Amber mencelos. Kata-kata Dave memang selalu pedas bahkan pedasnya melebihi cabe terpedas di dunia. Namun Amber tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya di depan Dave. Amber menyunggingkan senyum tipisnya. "Bagus kalau kamu tidak menyukaiku. Karena aku juga tidak akan pernah menyukai pria menyebalkan sepertimu." "Apa katamu?" Dave

    Last Updated : 2025-02-03
  • Hasrat Liar Hot Duda   Lepaskan Aku Dave

    Tangan Amber terasa sakit saat harus mengikuti langkah Dave yang tergesa. Entah apa yang akan dilakukannya, yang jelas gadis bermanik cokelat terang itu sangat ketakutan melihat raut wajah Dave yang menyeramkan itu. "Dave, lepaskan aku! Kamu menyakitiku Dave!" Amber berusaha melepaskan tangan lelaki itu. Namun tenaga Dave bukan tandingannya. Pria tampan yang merasa harga dirinya dihancurkan oleh Amber terus berjalan menuju kamarnya. Dia menyeret tubuh Amber dan melemparkannya ke atas kasur. BRUGH! Meski tidak sakit tapi Amber dibuat cukup terkejut oleh sikap kalap Dave. Lelaki itu terlihat sangat marah. Ia kesal karena Amber pun masih saja menuduhnya sebagai lelaki tidak normal seperti orang lain di luar sana. "Dengar Amber, aku menyewamu bukan untuk menghakimiku atau meragukan kejantananku. Tapi kenapa sekarang kamu malah sama seperti orang-orang itu, hah?" Dave mencengkram leher Amber hingga gadis itu merasakan kesulitan untuk bernapas. "Dave, kamu bisa membunuhku kalau

    Last Updated : 2025-02-03
  • Hasrat Liar Hot Duda   Godaan Amber

    Dave menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Ia seharusnya langsung menutup laptopnya, tapi, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasakan sesuatu yang sulit ia kendalikan, keinginan untuk lebih dekat, untuk menyentuh, untuk memiliki Amber seutuhnya. "Sial!" Ia menggenggam erat ponselnya, berusaha mengendalikan diri. Amber hanya istri bohongannya, dan hubungan mereka tidak seharusnya melibatkan perasaan. Tapi mengapa sekarang ia merasa seperti ini? Dengan gerakan cepat Dave menutup laptopnya. Ia memilih pergi sebelum pikirannya semakin jauh tenggelam dalam godaan yang berbahaya ini. *** Di sebuah bar eksklusif di pusat kota Kensington, suasana malam terasa ramai dengan suara dentingan gelas dan percakapan para pengunjung. Namun, bagi Dave Oliver, dunia terasa lebih sempit dari biasanya. Ia duduk di sudut ruangan dengan ekspresi kusut, mengaduk whiskey di gelasnya tanpa benar-benar berminat meminumnya. Di seberangnya, Julian menyesap minuman

    Last Updated : 2025-02-04
  • Hasrat Liar Hot Duda   Konfrensi Pers

    Suara dering ponsel berulang kali menggema di kamar yang masih gelap. Di atas ranjang besar dengan seprai berantakan, Dave Oliver bergeming. Ponselnya yang bergetar di atas nakas hanya membuatnya mengerang kesal. Ia mengulurkan tangan, meraba-raba ponsel tanpa membuka mata, lalu menjawab panggilan itu dengan suara serak, “Apa?” Suara Julian langsung terdengar di seberang, penuh semangat seperti biasanya. “Selamat pagi, Tuan Oliver! Maaf mengganggu tidur malammu yang berharga, tapi kau harus bangun sekarang. Masalah besar sedang menunggumu.” Dave mendesah, lalu membuka matanya sedikit. “Masalah apa?” "Sepertinya para wartawan mulai tertarik dengan hubunganmu dan Amber. Mereka mulai menggali informasi tentang hal itu, dan kau tahu apa yang mereka temukan?” “Berhenti bertele-tele, Julian.” Dave memijat pelipisnya. “Baiklah, dengarkan ini. Beberapa media sekarang berspekulasi bahwa hubunganmu dengan Amber hanyalah rekayasa belaka untuk menutupi fakta bahwa kau sebenarnya adalah

    Last Updated : 2025-02-05

Latest chapter

  • Hasrat Liar Hot Duda   Dinner Romantis

    Amber akhirnya memutuskan untuk tetap bekerja di restoran milik Tuan Grayson. Keputusan itu diambil setelah berbagai pertimbangan yang matang, meskipun ia sadar situasinya kini tidak lagi sama. Banyak rekan kerja yang tetap mencibirnya di belakang, tetapi setidaknya mereka tidak berani terang-terangan mengusik dirinya seperti sebelumnya. Namun, keputusan itu membuat Dave sedikit kesal. Bukan karena ia tidak mendukung pilihan Amber, tetapi karena dalam hatinya, ia lebih ingin Amber tidak perlu lagi bekerja di tempat itu. “Kenapa kamu tetap ingin bekerja di sini?” tanya Dave dengan nada yang sulit ditebak. Amber menghela napas. “Karena aku masih ingin mencari uang untuk biaya hidupku, Dave. Aku ingin tetap bekerja dan tidak bergantung pada siapa pun.” Dave mengusap wajahnya dengan frustrasi. Ia tahu Amber adalah wanita yang keras kepala, tetapi tetap saja, ia berharap Amber lebih mempertimbangkan posisinya sekarang. "Aku bisa memberimu uang tanpa harus bekerja di sini. Bila perl

  • Hasrat Liar Hot Duda   fitnah keji

    Amber sudah merasa ada yang tidak beres dengan sikap beberapa rekan kerjanya sejak beberapa hari ini. Sikap lunak Tuan Grayson yang biasanya selalu tegas dan tanpa ampun jika ada karyawannya yang melakukan kesalahan menjadi penyebabnya. Mereka berpikir kalau Tuan. Grayson telah dirayu oleh Amber hingga dia memaafkan kesalahan pria itu. Beberapa dari mereka sering berbisik-bisik saat Amber lewat, dan tatapan mereka penuh sindiran. "Aku yakin dia pasti punya hubungan spesial dengan Tuan Grayson," bisik salah satu dari mereka saat Amber berjalan melewati pantry. "Jelas. Kalau tidak, mana mungkin dia masih bekerja di sini setelah semua kesalahan yang dia buat?" sahut yang lain dengan nada sinis. "Amber menghentikan langkahnya dan menatap ke arah mereka yang membicarakannya. " Ngomong apa sih kalian? Amber bukan wanita seperti itu!" Rachel ikut geram. "Darimana kau tahu?" "Aku mengenal Amber dan aku yakin Amber tidak mungkin merendahkan dirinya seperti itu." "Sudahlah

  • Hasrat Liar Hot Duda   Tawaran Tuan Grayson

    Amber duduk di ruang tepi ranjang dengan tatapan kosong. Pikirannya masih dipenuhi oleh pertemuannya dengan Dave. Sejak pria itu datang kembali ke kehidupannya, Amber merasa dunianya yang tenang mulai terusik. "Amber!" Suara ketukan di pintu disertai panggilan membuyarkan lamunan Amber. Pintu kamar terbuka dan Clara berdiri di ambang pintu dengan senyum khasnya. "Hallo Sayang, apa kabarmu?" Clara langsung berhambur memeluk Amber. "Kabarku baik Cla." Amber memaksakan senyum. Clara masuk dan duduk di sofa. Ia menatap Amber dengan penuh perhatian. "Kau terlihat lebih pucat dari biasanya, apa kau sakit?" tanyanya sambil mengamati wajah Amber. Amber menghela napas. Ia tahu tak ada gunanya menyembunyikan sesuatu dari Clara. "Dave sepertinya tahu kalau Ethan adalah anaknya." "Apa? Bagaimana mungkin?" Amber menggigit bibirnya ragu, lalu mulai bercerita tentang bagaimana Dave tiba-tiba muncul kembali dalam hidupnya, bagaimana pria itu berusaha membawa Ethan, dan bagaimana

  • Hasrat Liar Hot Duda   Bimbang

    Amber mondar-mandir gelisah di teras rumah. Jantungnya berdegup cepat, kepalanya dipenuhi pikiran buruk. Ia terus menunggu, berharap Dave segera datang dan mengembalikan Ethan. Saat akhirnya sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah, Amber langsung berlari ke arah gerbang. Napasnya memburu ketika melihat Dave keluar dari mobil dengan Ethan yang tertidur dalam gendongannya. Tanpa pikir panjang, Amber merebut Ethan dari pelukan Dave. Ia memeluk anaknya erat seolah takut kehilangan. Setelah memastikan Ethan baik-baik saja, ia menatap Dave dengan penuh kemarahan. "Apa yang kau lakukan, Dave?!" serunya dengan suara tertahan agar tidak membangunkan Ethan. "Aku sudah bilang jangan pernah membawa Ethan pergi tanpa izinku!" Dave menatap Amber tanpa ekspresi. Lalu, sebuah senyum tipis yang penuh arti terukir di bibirnya. "Kenapa kau begitu panik, Amber?" tanyanya santai. "Kau takut aku akan membawa Ethan pergi?" "Tentu saja!" jawab Amber ketus. Dave mengangkat alisnya. "Kenapa

  • Hasrat Liar Hot Duda   Jalan-jalan dengan Papa

    Dave masih memeluk tubuh mungil Ethan dengan penuh haru. Perasaan yang mengalir di dalam dirinya begitu kuat, seakan semua rindu dan cinta yang selama ini terpendam akhirnya menemukan jalannya. Ethan tetap diam di dalam pelukannya, seolah mencoba memahami apa yang terjadi. Setelah beberapa saat, Dave mengendurkan pelukannya dan menatap wajah anak itu dengan penuh kasih sayang. “Nak, maukah kau pergi jalan-jalan dengan Papa?” tanyanya lembut, tangannya mengusap rambut lembut Ethan. Ethan menatapnya dengan mata bulatnya yang jernih. Sepertinya anak itu masih bingung, namun di dalam benaknya, ada sesuatu yang membuatnya tidak takut pada Dave. Ia merasa hangat dan nyaman di dekat pria ini, meskipun ia tidak mengerti mengapa. Sebelum Ethan sempat menjawab, suara Nenek Rose terdengar dari belakang. “Tidak. Kau tidak bisa membawa Ethan pergi, Tuan Muda Oliver,” ucapnya tegas. Dave menoleh dan mendapati Nenek Rose berdiri di dekat pintu dengan ekspresi waspada. Jelas sekali kalau

  • Hasrat Liar Hot Duda   Hasil Tes DNA

    Julian mengetuk pintu ruang kerja Dave sebelum melangkah masuk dengan ekspresi serius. Di tangannya, ia membawa sebuah amplop besar yang telah ia tunggu-tunggu hasilnya selama beberapa hari terakhir. Dave, yang tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, menatap Julian dengan tajam. "Kau sudah mendapatkan hasilnya?" tanyanya, suaranya penuh ketegangan. Julian mengangguk dan menyerahkan amplop itu. "Hasil tes DNA Ethan sudah keluar." Dave langsung meraih amplop itu dengan tangan gemetar. Ia mengeluarkan lembaran kertas di dalamnya dan membaca setiap kata dengan seksama. Napasnya tertahan. "Kecocokan DNA: 99,9%. Subjek yang diuji memiliki hubungan biologis sebagai ayah dan anak." Dave membeku di tempat. Sejenak, ia tidak bisa berkata apa-apa. Semua dugaan dan harapannya selama ini terbukti benar. Ethan adalah darah dagingnya. "Ethan... adalah anakku..." bisiknya pelan, suaranya terdengar bergetar. Julian mengangguk. "Ya, Tuan. Ethan benar-benar anak Anda." Dave merasa dad

  • Hasrat Liar Hot Duda   Buat Amber Kembali

    Amber keluar dari ruangan atasannya dengan wajah sedikit pucat. Perasaan lega karena tidak langsung dipecat bercampur dengan ketegangan akibat ancaman tadi. Jika dia sampai melakukan kesalahan lagi, pekerjaannya akan hilang. Itu berarti dia harus mencari cara lain untuk menghidupi Ethan. Tidak, dia tidak boleh kehilangan pekerjaan ini. Namun, baru saja ia hendak kembali bekerja, beberapa temannya sudah menunggunya di dekat pantry. Rachel, yang selama ini cukup dekat dengannya, menghampirinya dengan ekspresi khawatir. Tapi tidak semua yang berdiri di sana memiliki ekspresi yang sama. Banyak di antara mereka yang menatap marah dan iri pada Amber. "Apa yang terjadi di dalam?" tanya Rachel pelan. Amber menghela napas sebelum menjawab. "Aku ditegur karena keluar saat jam kerja kemarin. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Rachel tampak lega, tetapi sebelum ia bisa berkata apa-apa, seorang pelayan bernama Lany menyelanya. "Sudah kuduga," katanya dengan nada menyindir. "K

  • Hasrat Liar Hot Duda   Kegelisahan

    Amber duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya erat. Malam itu terasa begitu panjang. Udara dingin menusuk, tapi bukan itu yang membuatnya menggigil. Yang membuatnya takut adalah perasaan yang terus menggerogoti hatinya sejak pertemuannya dengan Dave. Matanya masih sembab karena tangis. Setelah pergi dari hotel siang tadi, Amber langsung pulang ke rumah Nenek Rose tanpa banyak bicara. Brian berusaha menanyakan keadaannya, tapi Amber memilih menghindar. Dia lelah. Dia kecewa. Dan yang paling menyakitkan, dia masih mencintai Dave. Amber menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Bodoh," gumamnya pelan. Kenapa setelah semua yang terjadi, dia masih merasakan getaran yang sama saat melihat Dave? Kenapa jantungnya masih berdebar, bahkan ketika pria itu memaksanya untuk melayani nafsunya. Dia bahkan turut merasakan nikmat dan cukup menikmati pergumulannya dengan Dave tadi siang. "Seharusnya aku menolaknya bukan malah ikut terhanyut ke dalam permainannya," gumam Amber dengan nada menyesal.

  • Hasrat Liar Hot Duda   Kemarahan Amber

    Amber duduk di tepi tempat tidur dengan tubuh gemetar. Air mata mengalir di pipinya, tetapi ia tidak berusaha menghapusnya. Hatinya terasa hancur. Ia tidak menyangka Dave bisa bersikap seperti ini. Selama ini, meskipun hubungan mereka penuh luka dan kesalahpahaman, Amber masih menyimpan secercah harapan bahwa Dave adalah pria yang dulu pernah ia cintai. Namun, malam ini, harapan itu lenyap. Dengan tangan bergetar, Amber meraih pakaiannya yang berserakan di lantai. Ia memakainya dengan tergesa, ingin segera pergi dari tempat ini, dari Dave, dari semua rasa sakit yang kembali menghantam dirinya. Namun, saat ia hendak menuju pintu, sebuah tangan kuat menahan pergelangan tangannya. “Jangan pergi,” suara Dave terdengar serak, tetapi tetap dipenuhi otoritas. Amber menoleh, menatap Dave dengan sorot mata penuh luka dan kemarahan. “Lepaskan aku, Dave,” suaranya bergetar, tapi nadanya tegas. Dave menatapnya dengan mata gelap yang dipenuhi emosi yang sulit diartikan. “Aku tidak bisa membiar

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status