Di sana ada sebuah taman dengan rumput Jepang yang menghampar hijau. Sungguh pemandangan yang asri dan menyegarkan mata. Tapi tidak untuk saat ini karena Amber harus berlutut di sana.
"Sebenarnya apa yang Nona lakukan hingga Tuan Dave marah seperti itu?" tanya Alfred yang ikut ketakutan. "Aku... aku hanya bertanya tentang siapa pacar pria Dave?" jawab Amber dengan wajah cemas. "Astaga Nona, kenapa kamu tanyakan hal itu?" Alfred berdecak. "Apa aku salah. Aku hanya penasaran apakah Dave benar-benar gay atau bukan?" "Jangan tanyakan hal itu lagi kalau kamu ingin selamat Nona." Alfred menggeleng. "Alfred, bolehkah aku bertanya?" tanya Amber sebelum berlutut. "Kenapa Nona?" "Kenapa Dave hobi sekali marah-marah, apa dia terus seperti ini bila dia marah?" "Nona emosi Tuan Dave memang tidak stabil, maka dari itu Nona jangan sampai membuat dia marah lagi." "Cepatlah berlutut Nona, lihat Tuan Dave sedang memperhatikan kita." Alfred terlihat ketakutan saat melihat Dave sedang melihat ke arah mereka. Amber menghela napasnya,ia melirik sekilas ke arah Dave. Gawat, rupanya lelaki itu akan tetap menunggunya sampai ia berlutut di atas rumput ini. Benar-benar menjengkelkan. Dengan terpaksa Amber berlutut di atas rerumputan itu. Meski tidak langsung menyentuh tanah, tetapi tetap saja lutut gadis itu terasa sakit dan ngilu. "Nona, saya tinggal dulu. Berlututlah sampai Tuan Dave memaafkanmu." Alfred mewanti-wanti. Amber hanya bisa mengangguk. Jika bukan karena terpaksa ia pasti sudah hengkang dari rumah yang lebih mirip neraka ini. Alfred kembali menemui Dave, pria itu sangat menghormati Dave dan terlihat begitu takjim. "Apalagi yang harus saya lakukan Tuan?" "Tetap awasi dia, jangan sampai ada satu orang pun yang membiarkan dia berdiri ataupun menolongnya." Dave begitu kejam, sampai tak ada rasa belas kasihan sedikit pun pada Amber. Alfred menelan salivanya. Sebenarnya ia tidak tega melihat Amber diperlakukan seperti itu oleh Dave, tapi apa boleh buat, ia juga terlalu takut untuk menentang majikannya itu. Satu jam berlalu. Rasanya kedua kaki Amber mati rasa. Peluh bercucuran di pelipis gadis itu. Matahari sudah tenggelam menuju peraduannya sedari tadi. Amber masih berlutut di taman belakang. Ia tidak tahu kapan penderitanya ini akan berakhir. "Bajingan sialan! Dasar manusia terkutuk!" Amber tak henti merutuk dalam hati meluapkan kekesalannya pada Dave. Sementara lelaki yang ia umpat sedang mengawasinya dari balik jendela kamarnya. Seulas senyum tipis tersemat di bibirnya. Ia senang karena gadis itu terlihat sangat menderita. Salah siapa percaya pada rumor menyebalkan itu. DUAARRR...!!! Tiba-tiba saja petir menyambar dan hujan turun seketika tanpa memberi jeda. Dave terkejut. Saat ini memang memasuki musim penghujan tapi tidak biasanya hujan deras tiba-tiba turun tanpa menunjukkan tanda sebelumnya. Di bawah sana, tubuh Amber menggigil kedinginan. Rasa sakit dan dingin telah membuat tubuhnya benar-benar mati rasa. "Dave sialan! Sampai kapan aku harus berlutut di sini?" Amber berteriak dalam hujan. Tidak mungkin terdengar karena suaranya tersamarkan oleh bunyi angin dan derasnya hujan. Dari kejauhan Alfred menatap iba pada Amber. Jika tidak takut pada Dave, ia mungkin sudah berlari dan membawa gadis itu masuk ke dalam rumah. "Pria kejam, tidak punya hati! Pergilah kau ke neraka!" teriak Amber dengan keras, lagi-lagi mengutuk Dave. Ia mendongak sambil memejamkan matanya menahan derasnya tetesan air hujan yang terasa perih menghantam wajahnya. "Siapa yang kamu suruh pergi ke neraka?" Suara bariton itu terdengar jelas. Mengalahkan suara derasnya hujan. "Dave?!" Amber membuka matanya. Ia terlonjak kaget saat melihat sosok pria yang baru saja ia kutuk. Gadis itu mengatupkan bibirnya. Sesekali matanya mengerjap tertimpa air hujan. "Dave?!" Amber ketakutan. Beberapa detik kemudian tubuhnya terasa ringan melayang dan hangat. Saat ini ia berada dalam dekapan Dave yang menggendongnya masuk ke dalam rumah. Amber tak sanggup berkata apa-apa lagi saat Dave membawanya masuk ke dalam kamar. "Air hangatnya sudah siap, Tuan." Seorang pelayan menunggu di depan pintu kamar mandi. "Bagus, bantu Nona Amber membersihkan diri." Dave masuk ke dalam kamar mandi dan menurunkan tubuh Amber di tepi bathtub berisi air hangat. Amber masih terdiam. Ia masih syok dengan sikap berbeda seratus delapan puluh derajat yang ditunjukkan Dave setelah dia menindasnya sebelum ini. "Bersihkan dirimu setelah itu turun dan temani aku makan malam." Dave berkata sebelum pergi. Amber hanya mengangguk dan menatap kepergian Dave dengan bingung. Tadi adalah kali pertama melihat wajah Dave yang begitu tenang tanpa emosi. Berbeda dengan ekspresi dingin yang selalu ia tunjukkan. Apakah Dave mempunyai kepribadian ganda? "Nona, mari saya bantu melepaskan pakaian Nona." Suara pelayan yang menemani Amber mandi membuyarkan lamunan gadis itu. Amber mengalihkan pandangannya pada sang pelayan yang mengulurkan tangan hendak melucuti pakaiannya. "Tidak usah, aku bisa mandi sendiri. Tolong tunggu saja di luar." Amber menolak. Ia merasa risih kalau harus dibantu orang lain yang baru ia kenal. "Baiklah Nona. Saya akan menunggu di luar kamar. Panggil saja saya jika Nona membutuhkan sesuatu." Pelayan itu undur diri dari hadapan Amber. Amber mengerutkan dahinya. Sikap Dave benar-benar membuatnya bingung. Sebentar sadis dan sesaat kemudian berubah jadi hangat. Malah memperlakukannya seperti seorang ratu. Amber menahan gejolak di dalam hatinya. Ia masih menduga-duga sebenarnya pria seperti apa Dave sebenarnya? Apa benar dia seorang penyuka sesama jenis seperti rumor yang beredar, atau itu hanya sebatas rumor belaka. Apapun itu Amber tak bisa lagi mengelak kalau sekarang dia adalah istri sah dari Dave Oliver. "Benar-benar tidak bisa dipercaya. Sebenarnya pria seperti apa yang aku nikahi ini?" gumam Amber lirih. Amber masuk ke dalam bathtub dan merasakan sensasi hangat yang perlahan menggantikan rasa dingin di tubuhnya. Amber menghela napas dan mulai memejamkan matanya menikmati kenyamaan ini. * * Sudah satu jam Amber belum juga turun, Dave sudah tidak sabar. Raut wajah yang nampak kesal membuat Dave mengepalkan tangannya. Alfred tahu apa yang dipikirkan oleh majikannya. Dia segera menyuruh pelayan lain naik dan memanggil Amber. "Panggil Nona Amber sekarang juga!" "Tidak usah, biar aku sendiri yang memanggilnya." Dave melarang dan langsung berdiri dari duduknya. Dave berjalan menaiki tangga. Langkah kaki panjangnya melewati dua anak tangga sekaligus menandakan kalau ia sangat terburu-buru. "Nona Amber masih berada di kamar mandi Tuan." Pelayan membungkuk hormat saat Dave memasuki kamar dan langsung menuju kamar mandi. "Amber, buka pintunya!" Dave berteriak dan berusaha membuka pintu yang terkunci dari dalam. Dave mengetuk pintu dengan keras. Tapi tidak ada jawaban dari dalam. "Shit, Amber kenapa kamu menguncinya?" Dave berdecak. Di wajahnya kini tersirat kekhawatirannya. Dave terus mengetuk dengan keras berulang kali. "Amber, buka pintunya aku bilang!" Dave berteriak lagi. Namun tak ada sahutan sedikitpun dari dalam sana. Dave semakin khawatir. Di mengambil jarak beberapa langkah ke belakang sebelum berhambur untuk mendobrak pintu kamar mandi tersebut. BRAK! Pintu akhirnya terbuka. Pandangan Dave langsung tertuju pada tubuh Amber yang berendam di dalam bathtub. Kepalanya terkulai lemas dengan wajah pucat dan bibir membiru. "Amber... Amber bangun!" Dave menepuk pipi gadis itu. Terlihat sekali kekhawatiran di wajah Dave. Pria itu mengangkat tubuh telanjang Amber dari dalam air. "Keluar semuanya!" Dave memberi perintah sebelum ia melangkah membawa Amber keluar dari kamar mandi. Semua pelayan pun keluar dengan cepat. Kamar telah kosong dan Dave segera membaringkan tubuh polos Amber di atas tempat tidur. Tubuh polos Amber terpampang nyata di depannya. Membuat darah pria itu berdesir. Naluri kelelakiannya terbangun dari tidur panjangnya selama ini. "Amber apa kamu sengaja ingin menggodaku?" Dave menyugar rambutnya dengan gelisah.Suara kicau burung membangunkan Amber dari tidurnya yang nyenyak. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali menghalau silaunya matahari yang menerobos masuk melalui celah gordeng.Amber memijat kepalanya yang terasa pening. Ia heran kenapa ia bisa berada di tempat tidur. Padahal ingatan terakhir yang berada di otaknya adalah dia sedang berendam di dalam bathtub tadi malam."Kenapa aku bisa ada di sini? Dan siapa yang memakaikan pakaian tidur ini?" Amber meraba gaun tidur berwarna peach yang ia kenakan saat itu."Selamat Pagi Nona." Suara Alfred yang baru masuk mengejutkan Amber. "Pagi Alfred!" Amber bangun dan duduk di tepian tempat tidur. "Nana apa Anda sudah merasa lebih baik?" tanya Alfred membuat Amber mengerutkan keningnya. "Memangnya aku kenapa?""Anda pingsan Nona. Beruntung Tuan Dave segera mengeluarkan Nona dari bathtub. Dan semalaman Anda demam sampai Tuan Dave merawat Anda dengan telaten," jawab Alfred. "A—apa benar begitu?" Amber terbengong. Jadi Dave merawatnya? "Iya No
"Dave apa benar ka—kamu tidak suka perempuan?" Dengan sangat hati-hati Amber bertanya. "Itu lagi yang kamu tanyakan? Apa kamu masih meragukanku Amber?" Kemarahan makin terlihat di wajah tampan Dave. "Bu—bukan maksudku begitu." Tubuh Amber gemetar ketakutan saat Dave kembali mendekat. Cup. Satu kecupan kasar Amber rasakan di bibirnya. Dave menjarah bibirnya dengan rakus. Tak ada kelembutan di sana. Amber terpaku. Tak berani melawan. Hanya kedua tangannya yang berusaha menahan dada bidang Dave. Bibir Amber sudah terasa kebas dan bengkak saat akhirnya Dave melepaskan tautannya. Amber tertunduk. Dave begitu mengerikan. Apakah ia akan sanggup bertahan hidup dengan pria seperti dia? "Apa itu masih membuatmu ragu, Amber? Kalau memang kamu masih ragu, aku akan melakukan hal yang lebih gila lagi padamu." Dave menyeringai tipis tapi begitu mengerikan di mata Amber. "Tidak... tidak... aku percaya Dave." Amber menggeleng dengan cepat. Raut ketakutan masih tergambar jelas di ma
Amber terbelalak saat mendengar ancaman dari Dave. Lagi-lagi pria itu mengancamnya dengan alasan uang yang membuat Amber tidak bisa berkutik lagi. Amber menghela napas berat. Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika ia harus menikah dengan pria seperti Dave yang dingin dan penuh misteri. Mobil mewah itu berjalan menuju rumah megah Dave. Setibanya di sana, seperti biasa para pelayan akan menyambut kedatangan mereka. "Masuk ke dalam kamarmu Amber dan jangan pernah berani untuk keluar lagi tanpa seizin dariku, " titah Dave dengan tegas. Amber hanya mengangguk. Ia segera naik ke lantai atas menuju kamarnya. "Alfred!" Pandangan Dave beralih pada kepala pelayannya. "Ya Tuan." Alfred maju selangkah. "Mulai sekarang, awasi perempuan itu, jangan sampai dia keluyuran tidak jelas." "Baik Tuan." Alfred mengangguk. Sejujurnya, dia merasa kasihan pada Amber yang pastinya akan sangat merasa tertekan dengan sikap aneh Dave ini. Tapi mau bagaimana lagi, perintah Dave memang tidak
"Bella!" Sebuah panggilan mengejutkan Amber saat itu. Ada seseorang yang memanggilnya dengan sebutan nama wanita lain. Amber sontak menoleh ke arah belakang, terlihat Dave sedang berdiri di ambang pintu. Pria itu terlihat kaget saat melihat kalau ternyata yang memakai gaun tersebut adalah Amber. Raut wajah Dave seketika menampakan kemarahannya. Membuat Amber menggigil ketakutan. "Siapa yang menyuruhmu memakai gaun itu?!" teriakan menggelegar menciptakan atmosfer mencekam di tempat itu. Amber menyadari kalau dirinya telah melakukan kesalahan besar dengan memakai gaun ini. Dave melangkah menghampiri Amber. Dia meraih pergelangan tangan gadis itu menariknya dengan kasar menuju kamar. Lalu melemparkan tubuh gadis itu ke atas tempat tidur. Semuanya terjadi begitu cepat, hingga Amber tidak bisa lagi berpikir. Ia hanya menerima semua perlakuan kasar Dave tanpa perlawanan. Ia begitu ketakutan saat melihat kemarahan yang begitu di dalam sorot mata Dave. "Dave aku mohon maafkan aku." Amb
"Pakai ini!" Dave memberikan sebuah paper bag berisi gaun lengkap dengan sepatu yang harus Amber kenakan untuk menghadiri pesta malam ini.Amber tertegun. Ia yang sedang duduk di tepi ranjang pun memeriksa isi paper bag itu dan mendapati sebuah dress cantik berwarna abu terang yang mewah. "Kita akan pergi kemana?" tanya Amber dengan bingung."Temani aku ke pesta malam ini." Dave berdiri di depan Amber dengan kedua tangan yang bersemayam di dalam saku celananya.Gadis cantik itu mendongak. "Apa ini tugas pertamaku?""Anggap saja begitu." Dave menjawab singkat.Amber manggut-manggut."Aku tunggu di bawah. Tiga puluh menit lagi kamu harus siap." Dave membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari kamar Amber.Amber mengeluarkan dress dan sepatu dari dalam paper bag. Ia segera mengganti bajunya dengan gaun tersebut.Busana yang kini melekat di tubuhnya itu menampakkan bentuk tubuhnya yang seksi seperti gitar Spanyol. Amber menatap puas bayangan dirinya di cermin. Ternyata pilihan Dave san
"Jangan mimpi Amber. Bangun sekarang juga kalau kamu masih bermimpi." Dave berkata dengan wajah kesal. Sudah Amber duga kalau jawaban Dave pasti akan membuatnya sakit hati. Amber tersenyum getir. ini adalah kesalahannya yang terlalu percaya diri kalau Dave sudah mulai mencintainya. Dave mendengkus dingin. Ia menatap Amber dengan tatapan mencemooh. Namun tiba-tiba tangannya menarik pinggang ramping Amber dan mengangkat dagu gadis itu dengan tatapan tajam. "Jangan terlalu percaya diri Amber. Mana mungkin aku menyukai wanita sepertimu. Lihat dirimu Amber, kamu begitu menyedihkan." Dave memindai tubuh Amber, tentu saja dengan tatapan yang membuat hati Amber mencelos. Kata-kata Dave memang selalu pedas bahkan pedasnya melebihi cabe terpedas di dunia. Namun Amber tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya di depan Dave. Amber menyunggingkan senyum tipisnya. "Bagus kalau kamu tidak menyukaiku. Karena aku juga tidak akan pernah menyukai pria menyebalkan sepertimu." "Apa katamu?" Dave
Tangan Amber terasa sakit saat harus mengikuti langkah Dave yang tergesa. Entah apa yang akan dilakukannya, yang jelas gadis bermanik cokelat terang itu sangat ketakutan melihat raut wajah Dave yang menyeramkan itu. "Dave, lepaskan aku! Kamu menyakitiku Dave!" Amber berusaha melepaskan tangan lelaki itu. Namun tenaga Dave bukan tandingannya. Pria tampan yang merasa harga dirinya dihancurkan oleh Amber terus berjalan menuju kamarnya. Dia menyeret tubuh Amber dan melemparkannya ke atas kasur. BRUGH! Meski tidak sakit tapi Amber dibuat cukup terkejut oleh sikap kalap Dave. Lelaki itu terlihat sangat marah. Ia kesal karena Amber pun masih saja menuduhnya sebagai lelaki tidak normal seperti orang lain di luar sana. "Dengar Amber, aku menyewamu bukan untuk menghakimiku atau meragukan kejantananku. Tapi kenapa sekarang kamu malah sama seperti orang-orang itu, hah?" Dave mencengkram leher Amber hingga gadis itu merasakan kesulitan untuk bernapas. "Dave, kamu bisa membunuhku kalau
Dave menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Ia seharusnya langsung menutup laptopnya, tapi, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasakan sesuatu yang sulit ia kendalikan, keinginan untuk lebih dekat, untuk menyentuh, untuk memiliki Amber seutuhnya. "Sial!" Ia menggenggam erat ponselnya, berusaha mengendalikan diri. Amber hanya istri bohongannya, dan hubungan mereka tidak seharusnya melibatkan perasaan. Tapi mengapa sekarang ia merasa seperti ini? Dengan gerakan cepat Dave menutup laptopnya. Ia memilih pergi sebelum pikirannya semakin jauh tenggelam dalam godaan yang berbahaya ini. *** Di sebuah bar eksklusif di pusat kota Kensington, suasana malam terasa ramai dengan suara dentingan gelas dan percakapan para pengunjung. Namun, bagi Dave Oliver, dunia terasa lebih sempit dari biasanya. Ia duduk di sudut ruangan dengan ekspresi kusut, mengaduk whiskey di gelasnya tanpa benar-benar berminat meminumnya. Di seberangnya, Julian menyesap minuman
Amber akhirnya memutuskan untuk tetap bekerja di restoran milik Tuan Grayson. Keputusan itu diambil setelah berbagai pertimbangan yang matang, meskipun ia sadar situasinya kini tidak lagi sama. Banyak rekan kerja yang tetap mencibirnya di belakang, tetapi setidaknya mereka tidak berani terang-terangan mengusik dirinya seperti sebelumnya. Namun, keputusan itu membuat Dave sedikit kesal. Bukan karena ia tidak mendukung pilihan Amber, tetapi karena dalam hatinya, ia lebih ingin Amber tidak perlu lagi bekerja di tempat itu. “Kenapa kamu tetap ingin bekerja di sini?” tanya Dave dengan nada yang sulit ditebak. Amber menghela napas. “Karena aku masih ingin mencari uang untuk biaya hidupku, Dave. Aku ingin tetap bekerja dan tidak bergantung pada siapa pun.” Dave mengusap wajahnya dengan frustrasi. Ia tahu Amber adalah wanita yang keras kepala, tetapi tetap saja, ia berharap Amber lebih mempertimbangkan posisinya sekarang. "Aku bisa memberimu uang tanpa harus bekerja di sini. Bila perl
Amber sudah merasa ada yang tidak beres dengan sikap beberapa rekan kerjanya sejak beberapa hari ini. Sikap lunak Tuan Grayson yang biasanya selalu tegas dan tanpa ampun jika ada karyawannya yang melakukan kesalahan menjadi penyebabnya. Mereka berpikir kalau Tuan. Grayson telah dirayu oleh Amber hingga dia memaafkan kesalahan pria itu. Beberapa dari mereka sering berbisik-bisik saat Amber lewat, dan tatapan mereka penuh sindiran. "Aku yakin dia pasti punya hubungan spesial dengan Tuan Grayson," bisik salah satu dari mereka saat Amber berjalan melewati pantry. "Jelas. Kalau tidak, mana mungkin dia masih bekerja di sini setelah semua kesalahan yang dia buat?" sahut yang lain dengan nada sinis. "Amber menghentikan langkahnya dan menatap ke arah mereka yang membicarakannya. " Ngomong apa sih kalian? Amber bukan wanita seperti itu!" Rachel ikut geram. "Darimana kau tahu?" "Aku mengenal Amber dan aku yakin Amber tidak mungkin merendahkan dirinya seperti itu." "Sudahlah Rach
Amber duduk di ruang tepi ranjang dengan tatapan kosong. Pikirannya masih dipenuhi oleh pertemuannya dengan Dave. Sejak pria itu datang kembali ke kehidupannya, Amber merasa dunianya yang tenang mulai terusik. "Amber!" Suara ketukan di pintu disertai panggilan membuyarkan lamunan Amber. Pintu kamar terbuka dan Clara berdiri di ambang pintu dengan senyum khasnya. "Hallo Sayang, apa kabarmu?" Clara langsung berhambur memeluk Amber. "Kabarku baik Cla." Amber memaksakan senyum. Clara masuk dan duduk di sofa. Ia menatap Amber dengan penuh perhatian. "Kau terlihat lebih pucat dari biasanya, apa kau sakit?" tanyanya sambil mengamati wajah Amber. Amber menghela napas. Ia tahu tak ada gunanya menyembunyikan sesuatu dari Clara. "Dave sepertinya tahu kalau Ethan adalah anaknya." "Apa? Bagaimana mungkin?" Amber menggigit bibirnya ragu, lalu mulai bercerita tentang bagaimana Dave tiba-tiba muncul kembali dalam hidupnya, bagaimana pria itu berusaha membawa Ethan, dan bagaimana
Amber mondar-mandir gelisah di teras rumah. Jantungnya berdegup cepat, kepalanya dipenuhi pikiran buruk. Ia terus menunggu, berharap Dave segera datang dan mengembalikan Ethan. Saat akhirnya sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah, Amber langsung berlari ke arah gerbang. Napasnya memburu ketika melihat Dave keluar dari mobil dengan Ethan yang tertidur dalam gendongannya. Tanpa pikir panjang, Amber merebut Ethan dari pelukan Dave. Ia memeluk anaknya erat seolah takut kehilangan. Setelah memastikan Ethan baik-baik saja, ia menatap Dave dengan penuh kemarahan. "Apa yang kau lakukan, Dave?!" serunya dengan suara tertahan agar tidak membangunkan Ethan. "Aku sudah bilang jangan pernah membawa Ethan pergi tanpa izinku!" Dave menatap Amber tanpa ekspresi. Lalu, sebuah senyum tipis yang penuh arti terukir di bibirnya. "Kenapa kau begitu panik, Amber?" tanyanya santai. "Kau takut aku akan membawa Ethan pergi?" "Tentu saja!" jawab Amber ketus. Dave mengangkat alisnya. "Kenapa
Dave masih memeluk tubuh mungil Ethan dengan penuh haru. Perasaan yang mengalir di dalam dirinya begitu kuat, seakan semua rindu dan cinta yang selama ini terpendam akhirnya menemukan jalannya. Ethan tetap diam di dalam pelukannya, seolah mencoba memahami apa yang terjadi. Setelah beberapa saat, Dave mengendurkan pelukannya dan menatap wajah anak itu dengan penuh kasih sayang. “Nak, maukah kau pergi jalan-jalan dengan Papa?” tanyanya lembut, tangannya mengusap rambut lembut Ethan. Ethan menatapnya dengan mata bulatnya yang jernih. Sepertinya anak itu masih bingung, namun di dalam benaknya, ada sesuatu yang membuatnya tidak takut pada Dave. Ia merasa hangat dan nyaman di dekat pria ini, meskipun ia tidak mengerti mengapa. Sebelum Ethan sempat menjawab, suara Nenek Rose terdengar dari belakang. “Tidak. Kau tidak bisa membawa Ethan pergi, Tuan Muda Oliver,” ucapnya tegas. Dave menoleh dan mendapati Nenek Rose berdiri di dekat pintu dengan ekspresi waspada. Jelas sekali kalau
Julian mengetuk pintu ruang kerja Dave sebelum melangkah masuk dengan ekspresi serius. Di tangannya, ia membawa sebuah amplop besar yang telah ia tunggu-tunggu hasilnya selama beberapa hari terakhir. Dave, yang tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, menatap Julian dengan tajam. "Kau sudah mendapatkan hasilnya?" tanyanya, suaranya penuh ketegangan. Julian mengangguk dan menyerahkan amplop itu. "Hasil tes DNA Ethan sudah keluar." Dave langsung meraih amplop itu dengan tangan gemetar. Ia mengeluarkan lembaran kertas di dalamnya dan membaca setiap kata dengan seksama. Napasnya tertahan. "Kecocokan DNA: 99,9%. Subjek yang diuji memiliki hubungan biologis sebagai ayah dan anak." Dave membeku di tempat. Sejenak, ia tidak bisa berkata apa-apa. Semua dugaan dan harapannya selama ini terbukti benar. Ethan adalah darah dagingnya. "Ethan... adalah anakku..." bisiknya pelan, suaranya terdengar bergetar. Julian mengangguk. "Ya, Tuan. Ethan benar-benar anak Anda." Dave merasa dad
Amber keluar dari ruangan atasannya dengan wajah sedikit pucat. Perasaan lega karena tidak langsung dipecat bercampur dengan ketegangan akibat ancaman tadi. Jika dia sampai melakukan kesalahan lagi, pekerjaannya akan hilang. Itu berarti dia harus mencari cara lain untuk menghidupi Ethan. Tidak, dia tidak boleh kehilangan pekerjaan ini. Namun, baru saja ia hendak kembali bekerja, beberapa temannya sudah menunggunya di dekat pantry. Rachel, yang selama ini cukup dekat dengannya, menghampirinya dengan ekspresi khawatir. Tapi tidak semua yang berdiri di sana memiliki ekspresi yang sama. Banyak di antara mereka yang menatap marah dan iri pada Amber. "Apa yang terjadi di dalam?" tanya Rachel pelan. Amber menghela napas sebelum menjawab. "Aku ditegur karena keluar saat jam kerja kemarin. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Rachel tampak lega, tetapi sebelum ia bisa berkata apa-apa, seorang pelayan bernama Lany menyelanya. "Sudah kuduga," katanya dengan nada menyindir. "K
Amber duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya erat. Malam itu terasa begitu panjang. Udara dingin menusuk, tapi bukan itu yang membuatnya menggigil. Yang membuatnya takut adalah perasaan yang terus menggerogoti hatinya sejak pertemuannya dengan Dave. Matanya masih sembab karena tangis. Setelah pergi dari hotel siang tadi, Amber langsung pulang ke rumah Nenek Rose tanpa banyak bicara. Brian berusaha menanyakan keadaannya, tapi Amber memilih menghindar. Dia lelah. Dia kecewa. Dan yang paling menyakitkan, dia masih mencintai Dave. Amber menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Bodoh," gumamnya pelan. Kenapa setelah semua yang terjadi, dia masih merasakan getaran yang sama saat melihat Dave? Kenapa jantungnya masih berdebar, bahkan ketika pria itu memaksanya untuk melayani nafsunya. Dia bahkan turut merasakan nikmat dan cukup menikmati pergumulannya dengan Dave tadi siang. "Seharusnya aku menolaknya bukan malah ikut terhanyut ke dalam permainannya," gumam Amber dengan nada menyesal.
Amber duduk di tepi tempat tidur dengan tubuh gemetar. Air mata mengalir di pipinya, tetapi ia tidak berusaha menghapusnya. Hatinya terasa hancur. Ia tidak menyangka Dave bisa bersikap seperti ini. Selama ini, meskipun hubungan mereka penuh luka dan kesalahpahaman, Amber masih menyimpan secercah harapan bahwa Dave adalah pria yang dulu pernah ia cintai. Namun, malam ini, harapan itu lenyap. Dengan tangan bergetar, Amber meraih pakaiannya yang berserakan di lantai. Ia memakainya dengan tergesa, ingin segera pergi dari tempat ini, dari Dave, dari semua rasa sakit yang kembali menghantam dirinya. Namun, saat ia hendak menuju pintu, sebuah tangan kuat menahan pergelangan tangannya. “Jangan pergi,” suara Dave terdengar serak, tetapi tetap dipenuhi otoritas. Amber menoleh, menatap Dave dengan sorot mata penuh luka dan kemarahan. “Lepaskan aku, Dave,” suaranya bergetar, tapi nadanya tegas. Dave menatapnya dengan mata gelap yang dipenuhi emosi yang sulit diartikan. “Aku tidak bisa membiar