Share

Mendadak Nikah

Penulis: Rein Azahra
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-24 14:48:15

"Kenapa Anda tidak ketuk pintu dulu? Tuan Dave pasti tahu sopan santun bukan? Tidak boleh masuk ke dalam kamar orang lain dengan sembarangan." Protes Amber dengan kesal.

"Ini rumahku, jadi aku berhak melakukan apapun di dalam rumahku."jawab Dave tak mau disalahkan.

Gadis cantik itu mengatupkan bibirnya. Dibalik pesona Dave yang sulit ditolak, Amber lebih fokus pada sikap kasar pria itu. Rasa takutnya lebih besar daripada pesona Dave itu sendiri.

"Ada apa Tuan?" Amber yang sudah memakai bathrobenya lahi kini berdiri di hadapan Dave. Dia tidak ingin berdebat panjang dengan Dave.

"Lain kali, ketika aku pulang kerja, kamu harus bergabung dengan pelayan lain untuk menyambutku." Dave menjelaskan maksud kedatanganya ke kamar ini.

Amber tergugu. Ia merasa peraturan di rumah ini terlalu berlebihan. Ia membayangkan berada di dalam kastil kerajaan dimana seorang raja diperlakukan dengan begitu agung oleh bawahannya.

Tanpa sadar Amber mencebik. Baru kali ini ia melihat manusia gila hormat seperti Dave.

"Kenapa ekspresimu seperti itu?" Pertanyaan Dave membuat Amber kembali ke alam nyata. Ia baru sadar kalau Dave masih ada di sana. Gadis itu pun terlihat panik melihat kemarahan di wajah Dave.

"Kamu berani mencibirku?" Dave menghampiri Amber dan mendorong tubuh gadis itu ke arah tembok di belakangnya. Tatapannya begitu tajam seperti pisau yang siap menguliti Amber.

"Ti—tidak Tuan, mana berani saya melakukan itu." Amber ketakutan. Tubuhnya menabrak dinding hingga ia tidak bisa lagi bergerak. kedua tangan Dave kini mengungkungnya.

"Jangan pernah menampakkan sikap seperti itu lagi di depanku, mengerti?" Dave menatap Amber dengan tatapan mengintimidasi.

"I—iya Tuan, saya tidak akan mengulanginya lagi." Suara Amber bergetar saat mengatakan hal itu.

"Bagus." Dave menyeringai tipis.

"Ada satu hal yang ingin aku katakan padamu Amber."

"A—apa itu Tuan?"

***

Amber melongo saat Dave mengajaknya pergi ke kantor catatan sipil.

"Kita akan menikah." Begitu kata Dave saat Amber bertanya.

Ini gila. Apa dia kira menikah adalah hal yang bisa dilakukan dadakan seperti ini?

"Tidak Tuan Dave yang terhormat, perjanjian kita hanya sebatas menjadi menjadi kekasih pura-pura. Bukan untuk menikah seperti ini." Amber menghentikan laju langkahnya. Gadis itu memasang wajah marah.

"Oh, ayolah Amber,. pernikahan inipun hanya pura-pura. Kalau bukan karena terpaksa akupun tidak ingin menikah denganmu." Dave memutar bola matanya.

"Tapi Tuan..." Amber kehabisan kata-kata untuk membantah Dave.

"Jangan membantah Amber aku sudah membayarmu dengan sangat mahal. Satu juta dolar sudah lebih dari cukup untuk melakukan sandiwara ini." Dave kini memutar badannya menatap Amber yang masih belum terima dengan permintaan Dave tersebut.

Amber mengerutkan keningnya. Dave sudah gila. Seburuk apapun, dia tidak pernah berpikir untuk menjadikan pernikahan sebagai sebuah permainan. Bagi Amber pernikahan adalah hal yang sakral dan sebuah janji suci di hadapan Tuhan.

"Dave, aku tetap tidak mau. Aku mau pulang." Amber membalik badannya, ia tak ingin melanjutkan permainan ini.

"AMBER!!! Selangkah lagi kamu pergi, aku minta semua uang yang sudah aku berikan, kamu kembalikan padaku!" teriak Dave yang langsung membuat langkah Amber terhenti.

Dave sialan! Lelaki itu memang benar-benar menyebalkan. Semua uang itu sudah Amber pakai untuk membayar hutang keluarganya. Tidak tersisa. satu sen pun.

Amber mundur kembali menatap Dave dengan jengah.

"Kamu menindasku Dave!" Amber berdecak.

"Terserah apapun penilaianmu Amber. Aku tidak peduli." Dave menjawab dengan santai.

Lelaki dengan penampilan mature itu berjalan lebih dulu memasuki kantor catatan sipil. Dan Amber, lagi-lagi karena uang ia harus rela kehilangan harga dirinya. Gadis itu akhirnya mengikuti Dave dari belakang.

Acara pernikahan yang sangat sederhana untuk ukuran pria sekelas Dave. Namun Dave tampaknya tidak terlalu memikirkan hal itu. Setelah melakukan sesi foto untuk dicantumkan dibuku nikah, mereka pun akhirnya resmi menjadi pasangan suami istri.

Amber masih tidak percaya kalau sekarang dirinya adalah istri dari Dave Oliver, pria terkaya di kawasan elite Kensington, Inggris.

"Dave, tunggu!" Amber mengejar langkah Dave yang berjalan menuju mobilnya.

Dave tidak menjawab dan hanya melirik sekilas ke arah Amber.

"Apa pernikahan ini sengaja kamu lakukan untuk menutupi kekuranganmu? Apa kamu bahagia dengan mengelabui semua orang? Siapa sebenarnya pacarmu Dave?" Rentetan pertanyaan itu keluar dari mulut Amber tanpa jeda.

"Pacar?" tanya Dave dengan sebelah alis terangkat.

"Maksudku, pacar laki-lakimu." Amber menatap ragu.

"Jangan kurang ajar Amber!" Tiba-tiba marah dan mencengkram rahang Amber dengan kencang.

"Tidak... maksudku...." Amber menggigit bibirnya. Dia telah salah bicara dan membuat pria itu marah.

"Masuk ke dalam mobil!" Titahnya tanpa ampun.

Amber yang ketakutan dengan cepat masuk ke dalam mobil Dave. Lelaki itu menampakkan wajah marah dan hanya terdiam sampai mereka tiba di rumah.

*

*

"Selamat datang kembali Tuan." Seluruh pelayan berkumpul seperti biasa untuk menyambut kedatangan Dave. Namun Dave tidak menggubris sapaan mereka. Wajah murungnya tertuju pada Amber yang memucat.

"Sudah kubilang kalau aku tidak suka kamu menuduhku seperti itu Amber!" bentak Dave yang membuat seluruh penghuni rumah itu terdiam.

Amber mengigit bibirnya lagi. Mati, dia telah membuat kesalahan lagi yang membuat Dave kalap.

"Alfred!" Dave memanggil kepala pelayannya.

"Iya Tuan." Alfred langsung maju menghampiri Dave dengan wajah tegang. Keringat membasahi kening pria itu. Tak ada yang bisa mengendalikan jika Dave sudah marah.

"Bawa dia ke taman belakang dan pastikan untuk berlutut. Perempuan ini harus dihukum!" Perintah Dave membuat lutut Amber bergetar.

Otak Dave benar-benar gila. Sudah tidak waras lagi dan celakanya pria gila itu kini sudah menjadi suaminya.

"Baik Tuan." Alfred mengangguk hormat.

"Dave, maafkan aku. Aku janji tidak akan menanyakan hal itu lagi." Amber berteriak histeris saat dua pelayan membawanya secara paksa ke taman belakang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Hasrat Liar Hot Duda   Apa Kamu Ingin Menggodaku?

    Di sana ada sebuah taman dengan rumput Jepang yang menghampar hijau. Sungguh pemandangan yang asri dan menyegarkan mata. Tapi tidak untuk saat ini karena Amber harus berlutut di sana. "Sebenarnya apa yang Nona lakukan hingga Tuan Dave marah seperti itu?" tanya Alfred yang ikut ketakutan. "Aku... aku hanya bertanya tentang siapa pacar pria Dave?" jawab Amber dengan wajah cemas. "Astaga Nona, kenapa kamu tanyakan hal itu?" Alfred berdecak. "Apa aku salah. Aku hanya penasaran apakah Dave benar-benar gay atau bukan?" "Jangan tanyakan hal itu lagi kalau kamu ingin selamat Nona." Alfred menggeleng. "Alfred, bolehkah aku bertanya?" tanya Amber sebelum berlutut. "Kenapa Nona?" "Kenapa Dave hobi sekali marah-marah, apa dia terus seperti ini bila dia marah?" "Nona emosi Tuan Dave memang tidak stabil, maka dari itu Nona jangan sampai membuat dia marah lagi." "Cepatlah berlutut Nona, lihat Tuan Dave sedang memperhatikan kita." Alfred terlihat ketakutan saat melihat Dave s

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-24
  • Hasrat Liar Hot Duda   Apa Perlu Aku Bercinta di Depan Kalian?

    Suara kicau burung membangunkan Amber dari tidurnya yang nyenyak. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali menghalau silaunya matahari yang menerobos masuk melalui celah gordeng.Amber memijat kepalanya yang terasa pening. Ia heran kenapa ia bisa berada di tempat tidur. Padahal ingatan terakhir yang berada di otaknya adalah dia sedang berendam di dalam bathtub tadi malam."Kenapa aku bisa ada di sini? Dan siapa yang memakaikan pakaian tidur ini?" Amber meraba gaun tidur berwarna peach yang ia kenakan saat itu."Selamat Pagi Nona." Suara Alfred yang baru masuk mengejutkan Amber. "Pagi Alfred!" Amber bangun dan duduk di tepian tempat tidur. "Nana apa Anda sudah merasa lebih baik?" tanya Alfred membuat Amber mengerutkan keningnya. "Memangnya aku kenapa?""Anda pingsan Nona. Beruntung Tuan Dave segera mengeluarkan Nona dari bathtub. Dan semalaman Anda demam sampai Tuan Dave merawat Anda dengan telaten," jawab Alfred. "A—apa benar begitu?" Amber terbengong. Jadi Dave merawatnya? "Iya No

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-24
  • Hasrat Liar Hot Duda   Aku Bukan Pelacur

    "Dave apa benar ka—kamu tidak suka perempuan?" Dengan sangat hati-hati Amber bertanya. "Itu lagi yang kamu tanyakan? Apa kamu masih meragukanku Amber?" Kemarahan makin terlihat di wajah tampan Dave. "Bu—bukan maksudku begitu." Tubuh Amber gemetar ketakutan saat Dave kembali mendekat. Cup. Satu kecupan kasar Amber rasakan di bibirnya. Dave menjarah bibirnya dengan rakus. Tak ada kelembutan di sana. Amber terpaku. Tak berani melawan. Hanya kedua tangannya yang berusaha menahan dada bidang Dave. Bibir Amber sudah terasa kebas dan bengkak saat akhirnya Dave melepaskan tautannya. Amber tertunduk. Dave begitu mengerikan. Apakah ia akan sanggup bertahan hidup dengan pria seperti dia? "Apa itu masih membuatmu ragu, Amber? Kalau memang kamu masih ragu, aku akan melakukan hal yang lebih gila lagi padamu." Dave menyeringai tipis tapi begitu mengerikan di mata Amber. "Tidak... tidak... aku percaya Dave." Amber menggeleng dengan cepat. Raut ketakutan masih tergambar jelas di ma

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-30
  • Hasrat Liar Hot Duda   Terkurung dalam Sangkar Emas

    Amber terbelalak saat mendengar ancaman dari Dave. Lagi-lagi pria itu mengancamnya dengan alasan uang yang membuat Amber tidak bisa berkutik lagi. Amber menghela napas berat. Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika ia harus menikah dengan pria seperti Dave yang dingin dan penuh misteri. Mobil mewah itu berjalan menuju rumah megah Dave. Setibanya di sana, seperti biasa para pelayan akan menyambut kedatangan mereka. "Masuk ke dalam kamarmu Amber dan jangan pernah berani untuk keluar lagi tanpa seizin dariku, " titah Dave dengan tegas. Amber hanya mengangguk. Ia segera naik ke lantai atas menuju kamarnya. "Alfred!" Pandangan Dave beralih pada kepala pelayannya. "Ya Tuan." Alfred maju selangkah. "Mulai sekarang, awasi perempuan itu, jangan sampai dia keluyuran tidak jelas." "Baik Tuan." Alfred mengangguk. Sejujurnya, dia merasa kasihan pada Amber yang pastinya akan sangat merasa tertekan dengan sikap aneh Dave ini. Tapi mau bagaimana lagi, perintah Dave memang tidak

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-01
  • Hasrat Liar Hot Duda   Sikap misterius Dave

    "Bella!" Sebuah panggilan mengejutkan Amber saat itu. Ada seseorang yang memanggilnya dengan sebutan nama wanita lain. Amber sontak menoleh ke arah belakang, terlihat Dave sedang berdiri di ambang pintu. Pria itu terlihat kaget saat melihat kalau ternyata yang memakai gaun tersebut adalah Amber. Raut wajah Dave seketika menampakan kemarahannya. Membuat Amber menggigil ketakutan. "Siapa yang menyuruhmu memakai gaun itu?!" teriakan menggelegar menciptakan atmosfer mencekam di tempat itu. Amber menyadari kalau dirinya telah melakukan kesalahan besar dengan memakai gaun ini. Dave melangkah menghampiri Amber. Dia meraih pergelangan tangan gadis itu menariknya dengan kasar menuju kamar. Lalu melemparkan tubuh gadis itu ke atas tempat tidur. Semuanya terjadi begitu cepat, hingga Amber tidak bisa lagi berpikir. Ia hanya menerima semua perlakuan kasar Dave tanpa perlawanan. Ia begitu ketakutan saat melihat kemarahan yang begitu di dalam sorot mata Dave. "Dave aku mohon maafkan aku." Amb

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-01
  • Hasrat Liar Hot Duda   Apa Kamu Mulai Mencintaiku?

    "Pakai ini!" Dave memberikan sebuah paper bag berisi gaun lengkap dengan sepatu yang harus Amber kenakan untuk menghadiri pesta malam ini.Amber tertegun. Ia yang sedang duduk di tepi ranjang pun memeriksa isi paper bag itu dan mendapati sebuah dress cantik berwarna abu terang yang mewah. "Kita akan pergi kemana?" tanya Amber dengan bingung."Temani aku ke pesta malam ini." Dave berdiri di depan Amber dengan kedua tangan yang bersemayam di dalam saku celananya.Gadis cantik itu mendongak. "Apa ini tugas pertamaku?""Anggap saja begitu." Dave menjawab singkat.Amber manggut-manggut."Aku tunggu di bawah. Tiga puluh menit lagi kamu harus siap." Dave membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari kamar Amber.Amber mengeluarkan dress dan sepatu dari dalam paper bag. Ia segera mengganti bajunya dengan gaun tersebut.Busana yang kini melekat di tubuhnya itu menampakkan bentuk tubuhnya yang seksi seperti gitar Spanyol. Amber menatap puas bayangan dirinya di cermin. Ternyata pilihan Dave san

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-02
  • Hasrat Liar Hot Duda   Jangan Sentuh Wanitaku

    "Jangan mimpi Amber. Bangun sekarang juga kalau kamu masih bermimpi." Dave berkata dengan wajah kesal. Sudah Amber duga kalau jawaban Dave pasti akan membuatnya sakit hati. Amber tersenyum getir. ini adalah kesalahannya yang terlalu percaya diri kalau Dave sudah mulai mencintainya. Dave mendengkus dingin. Ia menatap Amber dengan tatapan mencemooh. Namun tiba-tiba tangannya menarik pinggang ramping Amber dan mengangkat dagu gadis itu dengan tatapan tajam. "Jangan terlalu percaya diri Amber. Mana mungkin aku menyukai wanita sepertimu. Lihat dirimu Amber, kamu begitu menyedihkan." Dave memindai tubuh Amber, tentu saja dengan tatapan yang membuat hati Amber mencelos. Kata-kata Dave memang selalu pedas bahkan pedasnya melebihi cabe terpedas di dunia. Namun Amber tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya di depan Dave. Amber menyunggingkan senyum tipisnya. "Bagus kalau kamu tidak menyukaiku. Karena aku juga tidak akan pernah menyukai pria menyebalkan sepertimu." "Apa katamu?" Dave

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-03
  • Hasrat Liar Hot Duda   Lepaskan Aku Dave

    Tangan Amber terasa sakit saat harus mengikuti langkah Dave yang tergesa. Entah apa yang akan dilakukannya, yang jelas gadis bermanik cokelat terang itu sangat ketakutan melihat raut wajah Dave yang menyeramkan itu. "Dave, lepaskan aku! Kamu menyakitiku Dave!" Amber berusaha melepaskan tangan lelaki itu. Namun tenaga Dave bukan tandingannya. Pria tampan yang merasa harga dirinya dihancurkan oleh Amber terus berjalan menuju kamarnya. Dia menyeret tubuh Amber dan melemparkannya ke atas kasur. BRUGH! Meski tidak sakit tapi Amber dibuat cukup terkejut oleh sikap kalap Dave. Lelaki itu terlihat sangat marah. Ia kesal karena Amber pun masih saja menuduhnya sebagai lelaki tidak normal seperti orang lain di luar sana. "Dengar Amber, aku menyewamu bukan untuk menghakimiku atau meragukan kejantananku. Tapi kenapa sekarang kamu malah sama seperti orang-orang itu, hah?" Dave mencengkram leher Amber hingga gadis itu merasakan kesulitan untuk bernapas. "Dave, kamu bisa membunuhku kalau

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-03

Bab terbaru

  • Hasrat Liar Hot Duda   Dinner Romantis

    Amber akhirnya memutuskan untuk tetap bekerja di restoran milik Tuan Grayson. Keputusan itu diambil setelah berbagai pertimbangan yang matang, meskipun ia sadar situasinya kini tidak lagi sama. Banyak rekan kerja yang tetap mencibirnya di belakang, tetapi setidaknya mereka tidak berani terang-terangan mengusik dirinya seperti sebelumnya. Namun, keputusan itu membuat Dave sedikit kesal. Bukan karena ia tidak mendukung pilihan Amber, tetapi karena dalam hatinya, ia lebih ingin Amber tidak perlu lagi bekerja di tempat itu. “Kenapa kamu tetap ingin bekerja di sini?” tanya Dave dengan nada yang sulit ditebak. Amber menghela napas. “Karena aku masih ingin mencari uang untuk biaya hidupku, Dave. Aku ingin tetap bekerja dan tidak bergantung pada siapa pun.” Dave mengusap wajahnya dengan frustrasi. Ia tahu Amber adalah wanita yang keras kepala, tetapi tetap saja, ia berharap Amber lebih mempertimbangkan posisinya sekarang. "Aku bisa memberimu uang tanpa harus bekerja di sini. Bila perl

  • Hasrat Liar Hot Duda   fitnah keji

    Amber sudah merasa ada yang tidak beres dengan sikap beberapa rekan kerjanya sejak beberapa hari ini. Sikap lunak Tuan Grayson yang biasanya selalu tegas dan tanpa ampun jika ada karyawannya yang melakukan kesalahan menjadi penyebabnya. Mereka berpikir kalau Tuan. Grayson telah dirayu oleh Amber hingga dia memaafkan kesalahan pria itu. Beberapa dari mereka sering berbisik-bisik saat Amber lewat, dan tatapan mereka penuh sindiran. "Aku yakin dia pasti punya hubungan spesial dengan Tuan Grayson," bisik salah satu dari mereka saat Amber berjalan melewati pantry. "Jelas. Kalau tidak, mana mungkin dia masih bekerja di sini setelah semua kesalahan yang dia buat?" sahut yang lain dengan nada sinis. "Amber menghentikan langkahnya dan menatap ke arah mereka yang membicarakannya. " Ngomong apa sih kalian? Amber bukan wanita seperti itu!" Rachel ikut geram. "Darimana kau tahu?" "Aku mengenal Amber dan aku yakin Amber tidak mungkin merendahkan dirinya seperti itu." "Sudahlah Rach

  • Hasrat Liar Hot Duda   Tawaran Tuan Grayson

    Amber duduk di ruang tepi ranjang dengan tatapan kosong. Pikirannya masih dipenuhi oleh pertemuannya dengan Dave. Sejak pria itu datang kembali ke kehidupannya, Amber merasa dunianya yang tenang mulai terusik. "Amber!" Suara ketukan di pintu disertai panggilan membuyarkan lamunan Amber. Pintu kamar terbuka dan Clara berdiri di ambang pintu dengan senyum khasnya. "Hallo Sayang, apa kabarmu?" Clara langsung berhambur memeluk Amber. "Kabarku baik Cla." Amber memaksakan senyum. Clara masuk dan duduk di sofa. Ia menatap Amber dengan penuh perhatian. "Kau terlihat lebih pucat dari biasanya, apa kau sakit?" tanyanya sambil mengamati wajah Amber. Amber menghela napas. Ia tahu tak ada gunanya menyembunyikan sesuatu dari Clara. "Dave sepertinya tahu kalau Ethan adalah anaknya." "Apa? Bagaimana mungkin?" Amber menggigit bibirnya ragu, lalu mulai bercerita tentang bagaimana Dave tiba-tiba muncul kembali dalam hidupnya, bagaimana pria itu berusaha membawa Ethan, dan bagaimana

  • Hasrat Liar Hot Duda   Bimbang

    Amber mondar-mandir gelisah di teras rumah. Jantungnya berdegup cepat, kepalanya dipenuhi pikiran buruk. Ia terus menunggu, berharap Dave segera datang dan mengembalikan Ethan. Saat akhirnya sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah, Amber langsung berlari ke arah gerbang. Napasnya memburu ketika melihat Dave keluar dari mobil dengan Ethan yang tertidur dalam gendongannya. Tanpa pikir panjang, Amber merebut Ethan dari pelukan Dave. Ia memeluk anaknya erat seolah takut kehilangan. Setelah memastikan Ethan baik-baik saja, ia menatap Dave dengan penuh kemarahan. "Apa yang kau lakukan, Dave?!" serunya dengan suara tertahan agar tidak membangunkan Ethan. "Aku sudah bilang jangan pernah membawa Ethan pergi tanpa izinku!" Dave menatap Amber tanpa ekspresi. Lalu, sebuah senyum tipis yang penuh arti terukir di bibirnya. "Kenapa kau begitu panik, Amber?" tanyanya santai. "Kau takut aku akan membawa Ethan pergi?" "Tentu saja!" jawab Amber ketus. Dave mengangkat alisnya. "Kenapa

  • Hasrat Liar Hot Duda   Jalan-jalan dengan Papa

    Dave masih memeluk tubuh mungil Ethan dengan penuh haru. Perasaan yang mengalir di dalam dirinya begitu kuat, seakan semua rindu dan cinta yang selama ini terpendam akhirnya menemukan jalannya. Ethan tetap diam di dalam pelukannya, seolah mencoba memahami apa yang terjadi. Setelah beberapa saat, Dave mengendurkan pelukannya dan menatap wajah anak itu dengan penuh kasih sayang. “Nak, maukah kau pergi jalan-jalan dengan Papa?” tanyanya lembut, tangannya mengusap rambut lembut Ethan. Ethan menatapnya dengan mata bulatnya yang jernih. Sepertinya anak itu masih bingung, namun di dalam benaknya, ada sesuatu yang membuatnya tidak takut pada Dave. Ia merasa hangat dan nyaman di dekat pria ini, meskipun ia tidak mengerti mengapa. Sebelum Ethan sempat menjawab, suara Nenek Rose terdengar dari belakang. “Tidak. Kau tidak bisa membawa Ethan pergi, Tuan Muda Oliver,” ucapnya tegas. Dave menoleh dan mendapati Nenek Rose berdiri di dekat pintu dengan ekspresi waspada. Jelas sekali kalau

  • Hasrat Liar Hot Duda   Hasil Tes DNA

    Julian mengetuk pintu ruang kerja Dave sebelum melangkah masuk dengan ekspresi serius. Di tangannya, ia membawa sebuah amplop besar yang telah ia tunggu-tunggu hasilnya selama beberapa hari terakhir. Dave, yang tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, menatap Julian dengan tajam. "Kau sudah mendapatkan hasilnya?" tanyanya, suaranya penuh ketegangan. Julian mengangguk dan menyerahkan amplop itu. "Hasil tes DNA Ethan sudah keluar." Dave langsung meraih amplop itu dengan tangan gemetar. Ia mengeluarkan lembaran kertas di dalamnya dan membaca setiap kata dengan seksama. Napasnya tertahan. "Kecocokan DNA: 99,9%. Subjek yang diuji memiliki hubungan biologis sebagai ayah dan anak." Dave membeku di tempat. Sejenak, ia tidak bisa berkata apa-apa. Semua dugaan dan harapannya selama ini terbukti benar. Ethan adalah darah dagingnya. "Ethan... adalah anakku..." bisiknya pelan, suaranya terdengar bergetar. Julian mengangguk. "Ya, Tuan. Ethan benar-benar anak Anda." Dave merasa dad

  • Hasrat Liar Hot Duda   Buat Amber Kembali

    Amber keluar dari ruangan atasannya dengan wajah sedikit pucat. Perasaan lega karena tidak langsung dipecat bercampur dengan ketegangan akibat ancaman tadi. Jika dia sampai melakukan kesalahan lagi, pekerjaannya akan hilang. Itu berarti dia harus mencari cara lain untuk menghidupi Ethan. Tidak, dia tidak boleh kehilangan pekerjaan ini. Namun, baru saja ia hendak kembali bekerja, beberapa temannya sudah menunggunya di dekat pantry. Rachel, yang selama ini cukup dekat dengannya, menghampirinya dengan ekspresi khawatir. Tapi tidak semua yang berdiri di sana memiliki ekspresi yang sama. Banyak di antara mereka yang menatap marah dan iri pada Amber. "Apa yang terjadi di dalam?" tanya Rachel pelan. Amber menghela napas sebelum menjawab. "Aku ditegur karena keluar saat jam kerja kemarin. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Rachel tampak lega, tetapi sebelum ia bisa berkata apa-apa, seorang pelayan bernama Lany menyelanya. "Sudah kuduga," katanya dengan nada menyindir. "K

  • Hasrat Liar Hot Duda   Kegelisahan

    Amber duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya erat. Malam itu terasa begitu panjang. Udara dingin menusuk, tapi bukan itu yang membuatnya menggigil. Yang membuatnya takut adalah perasaan yang terus menggerogoti hatinya sejak pertemuannya dengan Dave. Matanya masih sembab karena tangis. Setelah pergi dari hotel siang tadi, Amber langsung pulang ke rumah Nenek Rose tanpa banyak bicara. Brian berusaha menanyakan keadaannya, tapi Amber memilih menghindar. Dia lelah. Dia kecewa. Dan yang paling menyakitkan, dia masih mencintai Dave. Amber menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Bodoh," gumamnya pelan. Kenapa setelah semua yang terjadi, dia masih merasakan getaran yang sama saat melihat Dave? Kenapa jantungnya masih berdebar, bahkan ketika pria itu memaksanya untuk melayani nafsunya. Dia bahkan turut merasakan nikmat dan cukup menikmati pergumulannya dengan Dave tadi siang. "Seharusnya aku menolaknya bukan malah ikut terhanyut ke dalam permainannya," gumam Amber dengan nada menyesal.

  • Hasrat Liar Hot Duda   Kemarahan Amber

    Amber duduk di tepi tempat tidur dengan tubuh gemetar. Air mata mengalir di pipinya, tetapi ia tidak berusaha menghapusnya. Hatinya terasa hancur. Ia tidak menyangka Dave bisa bersikap seperti ini. Selama ini, meskipun hubungan mereka penuh luka dan kesalahpahaman, Amber masih menyimpan secercah harapan bahwa Dave adalah pria yang dulu pernah ia cintai. Namun, malam ini, harapan itu lenyap. Dengan tangan bergetar, Amber meraih pakaiannya yang berserakan di lantai. Ia memakainya dengan tergesa, ingin segera pergi dari tempat ini, dari Dave, dari semua rasa sakit yang kembali menghantam dirinya. Namun, saat ia hendak menuju pintu, sebuah tangan kuat menahan pergelangan tangannya. “Jangan pergi,” suara Dave terdengar serak, tetapi tetap dipenuhi otoritas. Amber menoleh, menatap Dave dengan sorot mata penuh luka dan kemarahan. “Lepaskan aku, Dave,” suaranya bergetar, tapi nadanya tegas. Dave menatapnya dengan mata gelap yang dipenuhi emosi yang sulit diartikan. “Aku tidak bisa membiar

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status