Share

Hasrat Bukan Menantu Idaman
Hasrat Bukan Menantu Idaman
Author: NDRA IRAWAN

1) Pergilah Mas

Author: NDRA IRAWAN
last update Last Updated: 2025-03-14 18:53:59

Denting garpu dan sendok beradu di atas piring porselen, menciptakan irama yang seharusnya menenangkan. Namun bagi Jovan, suasana di meja makan ini lebih menyerupai ruang interogasi daripada jamuan keluarga.

"Sudah lima tahun menikah, gajimu sebulan cuma segini?" Suara Bu Intan tajam, menusuk langsung ke dada.

Wanita paruh baya itu menatap lembaran slip gaji yang diletakkan begitu saja di meja, seolah itu hanya selembar kertas tak berharga.

Jovan mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia sudah terbiasa dengan sikap sinis ibu mertuanya, tapi kali ini, ada sesuatu yang lebih menyakitkan—rasa muak yang nyaris tak bisa ia bendung.

"Alhamdulillah, cukup untuk hidup layak, Bu," jawabnya, berusaha tetap tenang.

Bu Intan tertawa kecil, penuh ejekan. "Hidup layak untuk siapa? Untuk anak pejabat seperti putriku? Atau untuk dirimu sendiri?"

Wanita itu menyandarkan punggung, menyilangkan tangan di depan dada, lalu menggeleng pelan.

"Kamu tahu kan, Jovan? Sejak awal aku tidak pernah setuju dengan pernikahan ini. Dan sekarang, kamu justru membuktikan bahwa kekhawatiranku benar."

"Bu—"

"Jangan menyela!"

Bentakan itu membuat ruangan tiba-tiba terasa lebih dingin.

Jovan menahan napas. Dari sudut matanya, ia bisa melihat istrinya, Tania, duduk diam dengan wajah tertunduk. Jemari wanita itu menggenggam ujung serbet di pangkuannya—kebiasaannya saat gelisah. Namun, tetap saja, mulutnya terkunci rapat

“Kamu gak malu sama Kenzi, adiknya Tania?" lanjut Bu Intan. "Dia lelaki bertanggung jawab, baru dua tahun kerja sudah memiliki segalanya. Mobil, rumah, tabungan. Bulan madunya dengan Nayla bahkan ke Raja Ampat.”

Jovan mengeratkan rahangnya. Rasanya ingin tertawa. Perbandingan ini sudah terlalu sering ia dengar, dan tetap saja, setiap kali disebutkan, selalu menampar harga dirinya dengan cara yang berbeda.

"Hidup itu bukan cuma soal cukup," lanjut Bu Intan. "Putriku terbiasa dengan kemewahan, dalam standar hidup yang tinggi. Kamu pikir hanya dengan gaji karyawan BUMN, kamu bisa memenuhi semua itu?"

Hening.

Di luar, hujan mulai turun, mengetuk jendela besar ruang makan. Atmosfer semakin berat.

Jovan menatap slip gaji yang masih tergeletak di meja, lalu mengangkat kepalanya. Tatapan matanya tak lagi setenang tadi. Ada sesuatu yang pecah di dalam dirinya.

Ia menyandarkan tubuh, menatap langsung ke mata Bu Intan, lalu berkata dengan suara pelan, namun dingin.

"Maaf, Bu. Saya menikahi Tania, bukan rekeningnya."

Ruangan itu terasa membeku setelah kata-kata Jovan meluncur dari bibirnya.

Untuk pertama kalinya, Bu Intan terdiam. Sejenak saja, tapi cukup bagi Jovan untuk menikmati keterkejutan di wajah wanita itu.

Sial. Seharusnya dia tidak berkata seperti itu. Seharusnya dia tetap menjaga kepalanya tetap dingin. Tapi setelah bertahun-tahun menerima penghinaan yang sama, entah kenapa malam ini ada sesuatu yang membuatnya tak bisa lagi menelan semuanya bulat-bulat.

Tania akhirnya mengangkat wajahnya, tapi tatapan yang diberikan istrinya itu kosong—seolah ia baru menyadari bahwa suaminya juga memiliki batas kesabaran.

Bu Intan terkekeh pelan. Tapi kali ini, bukan tawa meremehkan seperti tadi. Ada sesuatu yang lebih tajam, lebih beracun.

"Astaga…" Suaranya lirih, berdenyut dengan kemarahan yang tertahan. "Jadi kamu sekarang berani bicara seperti ini, ya?"

Jovan tetap diam.

Bu Intan mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kamu tahu, Jovan? Kalau bukan karena cucu yang kamu berikan padaku, aku bahkan tak sudi melihatmu duduk di meja ini."

Tania tersentak, kedua tangannya langsung mengepal di atas pangkuan.

Jovan tidak bergerak, tetapi matanya berubah gelap.

"Kamu pikir, menikahi Tania itu cuma soal cinta? Hah?" Bu Intan semakin mendekat. "Dengar baik-baik, anak muda. Keluarga ini punya standar. Dan kalau kamu masih ingin bertahan di dalamnya, kamu harus tahu tempatmu."

Jovan menelan ludahnya. Darahnya mendidih, tapi ia menahan diri. Ia tahu, kalau ia membalas lebih jauh, ini bukan hanya pertengkaran antara dia dan ibu mertuanya. Ini bisa menghancurkan semuanya.

Ia melirik ke arah Tania, berharap istrinya akan berkata sesuatu. Apa pun.

Tapi yang ia dapatkan hanyalah kesunyian.

Hujan di luar semakin deras, membasahi kaca jendela. Di dalam ruangan ini, kehangatan terasa lebih mustahil daripada sebelumnya.

Dengan napas panjang, Jovan akhirnya berdiri. Kursinya bergeser sedikit ke belakang, menciptakan bunyi gesekan yang mengisi keheningan di meja makan.

"Terima kasih makan malamnya, Bu," katanya singkat. Suaranya datar.

Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik menatap Tania. Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang pecah.

Dan yang paling menyakitkan bukanlah hinaan ibu mertuanya—tapi diamnya Tania.

Dada Jovan bergemuruh. “Tania?” Suaranya terdengar lebih lirih dari yang ia maksudkan.

Wanita itu mengangkat wajahnya perlahan. Matanya sendu, tapi bibirnya tetap terkunci rapat. Seperti ada ribuan kata yang ingin diucapkan, tetapi akhirnya hanya tersangkut di tenggorokan. Balas menatap wajah suaminya dengan sorot yang sulit dijelaskan.

Bu Intan tersenyum miring, penuh kemenangan. “Lihat? Bahkan anakku pun mulai menyadari bahwa dia berhak mendapatkan yang lebih baik.”

Jovan menelan ludah. Ada bagian dari dirinya yang ingin membanting gelas di depannya, ingin berteriak bahwa ia lebih dari cukup, bahwa ia mampu memberi Tania kehidupan yang layak. Tapi ada bagian lain yang tahu bahwa ini bukan soal uang atau status.

Ini soal harga diri.

Dan malam ini, harga dirinya diinjak-injak di hadapan istrinya sendiri.

Dengan gerakan perlahan, Jovan meraih gelasnya, menyesap air putihnya dengan tenang. Ketika ia meletakkannya kembali ke meja, ia tersenyum tipis. Bukan senyum yang ramah, bukan pula senyum yang kalah.

Senyum itu—dingin, penuh arti.

“Terima kasih atas sarannya, Bu,” katanya, suaranya terdengar lebih tenang dari yang seharusnya. “Tapi aku pikir, aku akan tetap di sini. Dan kita lihat saja nanti… siapa yang akan menyesali keputusannya.”

Bu Intan menyipitkan mata, tampak tidak menyukai ketenangan Jovan.

Tapi Jovan tidak peduli. Ia mengambil napas dalam-dalam, lalu kembali menatap Tania dan berbisik, “Kalau kamu ingin aku pergi, katakan, Tania. Bukan ibumu.”

Tania tetap diam.

Jovan tersenyum kecil.

Baiklah, kalau begitu. Aku akan membuat kalian menyesal.

Jovan melangkah keluar. Suara hujan di luar semakin deras. Jantungnya berdentam keras di dada. Ia berdiri di ambang pintu dan sekali lagi berbalik. Menggeser pandangannya ke arah Tania, berharap sekali lagi.

“Tania, kalau kamu masih punya sedikit saja hati… jawab aku. Aku ini suamimu atau bukan?”

Kali ini, Tania menatapnya. Matanya basah, tapi bibirnya bergerak membentuk satu kata yang menghancurkan segalanya.

“Pergilah, Mas.”

Jovan menutup matanya sesaat.

Dunia di sekelilingnya seolah berhenti berputar. Kata-kata Tania—pendek, datar, tapi mematikan—menghantamnya lebih keras dari seribu hinaan Bu Intan.

‘Pergilah, Mas.’

Jadi, begini akhirnya?

Lima tahun berjuang, lima tahun menelan setiap sindiran dan hinaan, lima tahun mengorbankan segalanya demi menjaga keutuhan rumah tangga mereka. Semua itu ternyata tidak lebih dari satu kalimat singkat yang mengusirnya pergi.

Jovan menggigit bibirnya, menahan sesuatu yang ingin pecah di dalam dadanya. Hatinya terasa diremas, seolah ada tangan tak terlihat yang mencengkeramnya kuat-kuat, meremukkan setiap harapan yang tersisa.

Bukan karena hinaan mertuanya. Bukan karena dibanding-bandingkan dengan adik iparnya. Tapi karena perempuan yang selama ini ia cintai, yang seharusnya menjadi tempatnya pulang, memilih untuk tetap diam saat harga dirinya diinjak-injak.

Ia ingin tertawa. Ironis sekali. Ia pikir, di balik semua tekanan yang diberikan keluarga Tania, ada satu hal yang bisa ia pegang—cinta istrinya. Tapi ternyata, ia salah.

Tania tidak membelanya. Tidak menarik tangannya, tidak menentang ibunya, bahkan tidak sekadar berkata, "Jangan pergi."

Tidak ada.

Yang ada hanya satu kalimat singkat yang menamatkan segalanya.

Jovan menarik napas panjang, menatap mata istrinya untuk terakhir kali. Mencari sesuatu di sana—keraguan, penyesalan, keinginan untuk menarik kembali kata-kata yang telah terlanjur keluar.

Tapi tidak ada apa-apa di sana.

Hanya kesedihan yang samar. Dan itu tidak cukup.

Jovan menegakkan punggungnya. Rasa sakit masih mengguncangnya, mengalir seperti racun di dalam darahnya. Tapi ia menelannya bulat-bulat.

Baiklah, Tania. Jika itu maumu. Jika selama ini aku hanya beban. Jika aku tidak cukup baik untukmu. Maka aku akan pergi.

Setelah Jovan pergi, Tania tetap duduk di kursinya. Tangannya masih menggenggam serbet di pangkuan, tetapi kini jari-jarinya bergetar. Ia menatap piring di depannya, tapi makanan di sana terasa seperti benda asing—dingin, hambar, tak lagi menggugah selera.

Di dalam hatinya, ada sesuatu yang mencengkeram kuat, menciptakan perasaan hampa yang menyakitkan. Ia bisa merasakan tatapan ibunya yang penuh kemenangan, tetapi bukannya merasa lega, dadanya justru semakin sesak.

Tania menggigit bibirnya, mencoba menahan perasaan yang meluap-luap. Ia tahu bahwa keputusannya tadi telah memecahkan sesuatu—bukan hanya hati Jovan, tapi juga ikatan di antara mereka. Ia yang membiarkan itu terjadi. Ia yang membiarkan Jovan pergi dengan luka yang lebih dalam daripada yang seharusnya.

"Sudahlah, Tan. Lebih cepat kamu sadar, lebih baik," suara Bu Intan terdengar lembut, nyaris menenangkan.

Tania mengangkat wajahnya, menatap ibunya dengan mata yang berkilat karena air mata yang tertahan. "Apa Ibu bahagia sekarang?"

Bu Intan mendengus pelan. "Ini bukan soal bahagia atau tidak. Ini soal masa depanmu."

Masa depan. Kata itu terasa kosong bagi Tania saat ini. Bagaimana bisa ia memikirkan masa depan, ketika hatinya tertinggal di ambang pintu bersama pria yang baru saja pergi?

Tiba-tiba, dadanya terasa begitu penuh. Ia bangkit dengan cepat, hampir menjatuhkan kursinya, lalu melangkah keluar dari ruang makan. Ia tidak ingin ibunya melihat air mata yang akhirnya jatuh, tidak ingin siapa pun tahu bahwa dirinya sedang gemetar hebat.

Sesampainya di kamar, ia menutup pintu dan bersandar di sana, tangannya menutupi mulutnya untuk meredam isakan yang akhirnya pecah.

Ia ingin memanggil Jovan. Ingin berlari menyusulnya.

Tapi semuanya sudah terlambat, bukan?

Dialah yang menyuruhnya pergi.

^*^

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   2) Pesta Prestise

    Gemerincing gelas-gelas kristal beradu memenuhi aula megah itu. Cahaya lampu gantung berkilauan di langit-langit tinggi, memantulkan kemewahan yang tak terbantahkan. Para tamu dalam setelan mahal dan gaun elegan saling berbincang, tertawa ringan sambil menyesap anggur mereka.Di antara keramaian itu, seorang pria berdiri tegak dengan senyum tipis di sudut bibirnya. Jas hitam yang membalut tubuhnya bukan sembarang jas—potongan khusus dari perancang terkenal. Jam di pergelangan tangannya berkilauan, bukan sekadar aksesori, tapi simbol status.Jovan.Lima tahun telah berlalu.Dan kini, dia kembali.Matanya menyapu ruangan hingga akhirnya bertemu dengan seorang wanita paruh baya di meja VIP. Bu Intan.Sekilas, wajah wanita itu tampak seperti biasanya—angkuh, penuh percaya diri. Tapi saat matanya bertemu dengan mata Jovan, sorotnya berubah.Kaget.Sedikit terperanjat.Seolah melihat hantu dari masa lalu yang seharusnya sudah terkubur.Jovan tidak langsung bergerak. Ia membiarkan detik-deti

    Last Updated : 2025-03-14
  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   3) Jovan Mahendra

    Jovan dan Bu Intan masih berdiri berhadapan ketika seorang pria berseragam panitia acara berjalan mendekat. Langkahnya tegap, ekspresinya penuh hormat. Sekilas, Bu Intan mengira pria itu akan menyapanya—bagaimanapun, ia istri seorang pejabat perkebunan besar.Namun, yang terjadi justru sebaliknya.Panitia itu berhenti tepat di hadapan Jovan, lalu sedikit membungkuk. “Maaf mengganggu, Pak Jovan Mahendra.”Bu Intan sempat mengernyit. Sejak kapan Jovan dipanggil dengan begitu hormat?Jovan mengangkat alis, tetapi tetap tenang. “Ada apa?”“Semua petani pelopor yang mendapatkan penghargaan tingkat nasional diminta hadir di ruanga Bapak Benny Panjaitan.” Panitia itu melirik jam tangannya. “Beliau ingin bertemu langsung dengan Bapak dan dua penerima penghargaan lainnya.”Bu Intan membeku.Penerima penghargaan?Tidak mungkin.Dengan matanya sendiri, ia melihat bagaimana panitia acara ini memperlakukan Jovan dengan penuh rasa hormat, seolah pria itu seseorang yang penting. Bahkan diminta berbi

    Last Updated : 2025-03-14
  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   4) Rumah Kebun

    Bu Intan sudah membayangkan perjalanan ini akan berakhir dengan lebih dari sekadar obrolan basa-basi di dalam mobil. Ia sudah mengatur ritme, menciptakan atmosfer, dan kini Jovan begitu saja menyerahkannya pada seorang sopir?“Jovan…” Bu Intan mengerjap, nada suaranya tetap anggun, meski ada tekanan halus di dalamnya.Jovan tersenyum—terlalu manis, terlalu sopan, tapi juga terlalu tajam.“Ini sudah larut,” ujarnya lembut. “Aku tidak ingin kamu kelelahan.”Sebuah pukulan halus.Bu Intan bisa merasakan pandangan beberapa orang yang masih berdiri di sekeliling mereka. Seolah menunggu bagaimana ia akan merespons.Sekian detik, ia menatap Jovan, mencoba mencari celah. Tapi pria itu sudah terlalu jauh dari genggaman yang ia kira masih bisa ia kendalikan.Lalu, dengan anggun—seperti seorang ratu yang memilih menerima permainan ini—Bu Intan tersenyum kecil dan mengangguk.“Baiklah, kalau begitu,” katanya, sebelum melangkah menuju mobil dengan percaya diri, seolah semua masih berada dalam kend

    Last Updated : 2025-03-14
  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   5) Terong Panggang

    Suasana siang terasa hangat di bawah rindangnya pepohonan di halaman belakang rumah Jovan. Suasana semakin hidup seiring aroma terong panggang yang menggoda tersebar, menggelitik indra penciuman para tamu.Meja panjang kayu rustic dipenuhi hidangan, sementara di depan panggangan, Jovan tampak sibuk dengan celemek hitam yang melingkar di pinggang, membolak-balik terong yang mulai matang.Di sekitarnya, ibu-ibu peserta pelatihan duduk santai sambil melemparkan godaan dan tawa riang. Melia, yang sejak tadi ikut bergabung, tak bisa menahan senyumnya.“Wah, Mas Jo ini selain jago bercocok tanam, ternyata jago masak juga, ya! Siapa nanti yang beruntung jadi pendampingnya?”Jovan hanya menoleh sambil tersenyum hangat, sembari mengipasi panggangan. "Wah, Bu Melia bisa saja. Yang penting, semua kebagian terong panggang spesial saya dulu, ya."Tawa dan sorakan pun memenuhi suasana, namun di balik keceriaan itu, Melia terdiam sejenak. Ia tak bisa mengelak dari perasaan aneh yang tiba-tiba menyer

    Last Updated : 2025-03-14
  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   6) Penolakan Tania

    Bu Intan duduk di ruang tengah rumahnya yang luas, tetapi terasa begitu sepi. Jemarinya mengetuk-ngetuk gelas jus jeruk di atas meja, sementara pikirannya melayang ke pertemuan dengan Jovan di gala dinner seminggu yang lalu.Pria itu… sudah jauh berbeda. Bukan lagi lelaki sederhana yang dulu ia hina habis-habisan, tetapi seorang miliarder yang tampil begitu berwibawa. Bu Intan sudah banyak mengumpulkan data dari beberapa koleganya. Sebagai istri pejabat di kementrian, tentu saja hal itu bukan perkara susah.Dan selama satu minggu ini, hatinya masih berdebar saat mengingat tatapan tajam Jovan, senyum miringnya, dan caranya menggoda seolah membalas semua perlakuan kejamnya dulu. Bu Intan tidak bisa menyangkal bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang bergelora.Rasa bersalah, penyesalan dan yang mendominasinya justru ketertarikan. Hasrat yang sudah lama dia kubur dalam-dalam, mulai kembali bangkit dan mengganggunya. Dan dengan keraguan, ia meraih ponselnya dan menekan nomor Tania, putrinya.B

    Last Updated : 2025-03-24
  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   7) Pertemuan Kedua

    Jovan masih duduk di dalam mobilnya, tangannya menggenggam kemudi dengan erat, matanya tak lepas dari sosok anggun di dalam restoran, mantan mertuanya.Sudah sejak tadi ia melihat Bu Intan, duduk sendirian, gelisah, sesekali melirik ponselnya, mungkin menunggu pesan darinya. Namun, hatinya masih diselimuti keraguan yang terlalu pekat.Lima tahun lalu, ia bukan siapa-siapa. Seorang pria dengan mimpi besar namun tanpa nama, tanpa harta. Dan Bu Intan—wanita yang kini tampak anggun dalam gaun marunnya—pernah menjadi bagian dari kepedihannya. Ia mengingat bagaimana ibu mertuanya, dengan wajah dingin dan lidah tajam, selalu merendahkannya di depan keluarganya sendiri.Kata-kata itu masih terpatri jelas dalam ingatannya, menghantam harga dirinya seperti badai. Penghinaan itu bukan sekadar luka biasa, tapi luka yang mencabik-cabik harga dirinya sebagai seorang suami sekaligus seorang ayah untuk dua anaknya.Dalam satu malam, ia kehilangan semuanya—istri yang ia cintai, kedua anaknya, bahkan h

    Last Updated : 2025-03-24
  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   8) Rasa Membara

    Ketika mereka sampai di halaman rumah Bu Intan, wanita itu turun lebih dulu. Jovan mengikuti dengan santai, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, menatap rumah mewah yang pernah menjadi saksi penderitaannya lima tahun lalu."Kamu tidak harus masuk kalau tak ingin," kata Bu Intan lembut.Jovan tertawa kecil. "Aku justru ingin masuk."Bu Intan terdiam sejenak, lalu membalikkan badan, berjalan lebih dulu menuju pintu. Begitu mereka masuk, suasana rumah itu terasa terlalu tenang, terlalu luas untuk ditinggali seorang diri.Jovan menatap sekeliling. "Dulu, rumah ini terasa lebih ramai," katanya, nadanya terdengar lebih seperti sindiran.Bu Intan melangkah ke meja bar kecil di sudut ruangan, menuangkan dua gelas minuman, lalu menyerahkan salah satunya pada Jovan. "Sekarang hanya ada aku di sini," katanya pelan.Jovan menerima gelas itu, tetapi tidak langsung meminumnya. Ia justru melangkah lebih dekat, menatap Bu Intan dengan sorot mata yang sulit ditebak."Lalu, apa yang sebenarnya ka

    Last Updated : 2025-03-24
  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   9) Sang Jagoan

    Jovan masih menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Di balik kemudi, ia merogoh saku, mengambil rokok, lalu menyalakannya dengan gerakan santai. Asap tipis mengepul di udara malam yang mulai dingin.Rizal di kursi penumpang ikut terkekeh, menyalakan rokoknya sendiri. "Gila, Bang. Saya nunggu di ujung jalan sambil nahan ketawa. Udah bisa nebak endingnya."Jovan menghembuskan asap, lalu melirik Rizal dengan seringai nakal. "Endingnya bisa beda jauh kalau lu telat dua menit aja nelpon gue."Mereka kembali tertawa. Mobil melaju pelan menembus malam, melewati jalanan kota yang mulai lengang. Lampu-lampu jalan berpendar temaram, menciptakan bayangan panjang di trotoar."Tapi abang puas, kan?" Rizal kembali bertanya, kali ini dengan nada lebih serius.Jovan diam sejenak, pandangannya menerawang ke jalanan yang terbentang di depan. "Gue nggak tahu, Zal."Rizal melirik Jovan, penasaran dengan perubahan ekspresi bosnya.Jovan menghela napas, membuang sisa rokoknya keluar jendela. "Gue kira baka

    Last Updated : 2025-03-24

Latest chapter

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   28) Pelarian Absurd (14)

    Begitu terasa bahwa liang relung kenikmatan Vena mau menerima kehadiaran rudal Hendi, tiba-tiba Hendi menghentakkan lagi rudalnya dengan sekali hentakah dan bleess, masuklah semua batang rudal Hendi keliang relung kenikmatan Vena; kemudian didiamkan sekali lagi rudal Hendi tersebut didalam liang itu, menunggu sebentar, sambil tangan Hendi mengelus elus pantat keras Vena."Vena sayang, masih sakitkah, aku tunggu sampai kamu siap menerimanya sayang.""Ya Mas Hendi, masih agak sakit, tapi kuusahakan sereleks mungkin," kata Vena sambil menggigil menahan antara gejolak asmaranya dan rasa sakit yang diterimanya.Setelah selang beberapa saat, dicoba digoyangkannya pantat Hendi maju mundur, kiri kanan dan memutar, dengan pelan, sambil terus Hendi mengelus pantat Vena, dengan sabar.Terdengar lenguhan dan rintihan Vena."Eechh, eesshhtt, eecchh""Vena, gimana, terasa enakan?""Bisa aku teruskan ya sayang, coba kamu konsentrasikan dulu.""Bayangkan kenikmatan dalam relung nikmatmu dengan geseka

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   27) Pelarian Absurd (13)

    Tak sabar Vena melihat pemandangan yang erotic itu, segera ia mendekat dan diterkamnya dengan dua tangannya rudal segar berkepala seperti jamur itu, tanpa menunggu perintah dari pemiliknya.Segera Vena mendaratkan bibir sensualnya pada kepala rudal Hendi yang sangat mengkilat dan membasah. Dicobanya dia mengecup lubang air seni dikepala rudal yang membasah itu dengan perasaan gemas, penuh birahi dan nafsunya yang sangat besar; magnit dan 'chemistry' dari badan Hendi pun menariknya, menaburkan cinta birahi menutup semua 'sense' yang ada di pribadinya.Mendengar sambutan desahan yang terjadi, dikuatkannya dirinya dan dijilatinya seluruh permukan rudal yang berurat kencang; erangan Hendi bertambah dengan getaran badannya, otomatis tangan Hendi membelai dan mengacak rambut Vena. Terasa olehnya semua simpul batang rudalnya dijamah, digelitiknya oleh lidah halus nakal kepunyaan Vena.Kembali Vena ke kepala rudal, dicobanya mengulum kepala yang besar, basah dan mengikat itu lalu dihisap-hisa

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   26) Pelarian Absurd (12)

    Dalam pelukan Hendi, Vena bagaikan dihadapkan oleh magnit bumi yang sangat besar sekali, ia menempelkan dirinya di dada Hendi pelahan-lahan direbahkannya tubuh Vena pada kasur.Emosinya telah terselubungi bara asmara, Vena pun pasrah, deburan darah dan detup jantungnya mengguncang tubuhnya yang sangat molek dan bergairah. Ditunggunya moment indah yang akan dirasakan bersama Hendi, seperti dalam gambaran benaknya.Gumaman dan desahan selama pagutan. Jelas getaran cinta yang dibawa Vena membuat Hendi semakin tergairah lagi ingin lebih melakukan langkahnya, menjelajahi badan mulus Vena. Dibukanya kancing depan blusenya yang menepel di badannya, dielusnya sembulan kenyal gunung kembar indah yang mencuat sebagian dari sarangnya warna pastel.Diangkatnya kepala Vena dan diletakkannya di pangkuannya, dirabanya halus buah dadanya; dengan mata sayu penuh nafsu, diangkatnya lagi lebih tinggi bahu dan kepala Vena dan disandarkanya pada lengan kirinya, jemari tangan kiri mengusap-usap lengan tang

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   25) Pelarian Absurd (11)

    Hendi berdiri di ambang pintu, mengenakan setelan kasual yang tetap memancarkan kelasnya. Pria itu memang memiliki aura yang tak jauh berbeda dengannya—tinggi, tampan, dengan garis wajah tegas khas keturunan Timur Tengah. Bedanya, Hendi memiliki sifat yang lebih stabil, lebih bisa diandalkan dalam jangka panjang. Dan itulah yang Jovan inginkan untuk Vena.“Lu datang tepat waktu,” ucap Jovan dengan nada ringan, menepuk bahu Hendi sebelum mempersilakannya masuk.Vena, yang sejak tadi duduk di sofa dengan perasaan tak menentu, mendongak begitu melihat pria asing masuk. Mata indahnya membulat, penuh tanda tanya.“Ini Hendi,” kata Jovan, mengisyaratkan pada pria itu untuk mendekat. “Dia lebih bisa diandalkan dibanding aku.”Vena masih terpaku, belum sepenuhnya menangkap maksud Jovan. “Maksudnya?”Jovan menatapnya dengan sorot yang sulit diartikan—ada ketulusan di sana, tapi juga sesuatu yang lain, sesuatu yang terasa seperti perpisahan.“Aku nggak bisa ada buatmu terus, Vena.” Suaranya ter

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   24) Pelarian Absurd (10)

    Jovan memarkirkan mobilnya di depan lobi hotel bintang lima dengan gerakan yang begitu mulus. Seorang bellboy segera menghampiri, membukakan pintu dengan penuh sopan santun. Vena turun dengan langkah ragu, matanya menelusuri kemegahan yang terpampang di hadapannya—lampu kristal raksasa bergelayut di langit-langit, lantai marmer yang berkilau seperti cermin, serta para tamu berpakaian glamor yang hilir mudik dengan penuh percaya diri.Jovan meliriknya, menangkap jelas ekspresi takjub sekaligus kikuk di wajah perempuan itu. Senyumnya terbit samar. "Jangan tegang, santai aja. Ini cuma hotel," katanya ringan, seolah tempat ini sama biasa baginya seperti warung kopi pinggir jalan.Vena menelan ludah. Baginya, ini lebih dari sekadar hotel—ini dunia lain. Dunia yang tidak pernah ia bayangkan akan dimasuki olehnya, apalagi dengan seorang lelaki seperti Jovan.Pak Arif benar, lelaki ini bukan orang sembarangan. Tapi siapa sebenarnya dia?Mereka berjalan melewati lobi, dan setiap langkah terasa

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   23) Pelarian Absurd (9)

    Jovan berdiri di depan rumah Pak Arif, jantungnya berdetak kencang. Lampu teras menyala redup, menyisakan bayangan samar di balik jendela. Sial. Gue beneran di sini.Pintu depan setengah terbuka, seperti sudah menunggunya.Dia melangkah masuk dengan ragu, melewati ruang tamu yang berbau kayu dan aroma teh hangat. Pak Arif duduk di kursinya, tersenyum tipis seakan sudah tahu Jovan bakal datang lagi.Jovan menghela napas panjang, menenangkan debaran di dadanya. Malam itu terasa begitu aneh, bukan hanya karena dia berdiri di depan rumah Pak Arif dengan perasaan yang bercampur aduk, tapi karena seluruh situasi ini seperti mimpi buruk yang sulit dipahami. Suara motor yang tadi membelah jalan kini senyap, meninggalkan hanya detak jantungnya yang menggema di telinga.Pak Arif masih duduk di kursinya, tersenyum tipis seolah sudah tahu apa yang akan terjadi. Ruangan itu terasa sempit, meski sebenarnya luas dan nyaman. Aroma teh hangat yang biasanya memberi rasa tenang kini terasa membebaninya.

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   22) Pelarian Absurd (8)

    Seminggu telah berlalu dalam kegaulan tingkat dewa.Jovan sedang nongkrong di atas motornya, tepat di depan sebuah mall yang masih ramai meski malam semakin larut. Jaket kulit hitamnya terbuka, memperlihatkan kaus putih polos yang membalut tubuh atletisnya. Sepasang mata tajamnya mengamati lalu lalang orang-orang, sebagian besar adalah pasangan atau geng anak muda yang asik bercanda.Sejumput asap rokok melayang dari bibirnya sebelum ia membuang puntungnya ke aspal dan menginjaknya dengan sepatu boots hitam. Motor sport yang ditungganginya berkilat di bawah lampu jalanan, menarik beberapa lirikan dari cewek-cewek yang lewat. Beberapa bahkan sengaja berjalan lebih lambat saat melewatinya, berharap ditoleh atau sekadar mendapat senyum dari pria yang wajahnya sekeras batu tapi pesonanya susah ditolak.Tapi malam ini, Jovan tidak sedang tertarik main mata. Kepalanya masih penuh dengan kejadian absurd beberapa jam lalu. Tawaran gila dari Pak Arif masih menggantung di pikirannya."Kenapa hi

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   21) Pelarian Absurd (7)

    Malam di Diskotik.Musik berdentum keras, menggetarkan lantai dengan irama bass yang menggila. Lampu-lampu strobo berkedip dalam warna merah, biru, dan ungu, menciptakan ilusi gerakan yang lebih liar dari kenyataan. Aroma parfum mahal bercampur alkohol memenuhi udara, melebur dengan tawa-tawa hingar-bingar dan obrolan setengah berteriak dari meja-meja VIP.Jovan duduk di salah satu sofa kulit berwarna hitam, minuman di tangannya hanya sekadar properti. Ia tidak benar-benar berniat menikmatinya. Di sekelilingnya, wanita-wanita kelas atas dengan gaun ketat yang memperlihatkan bahu atau belahan dada sibuk menari, tertawa, dan sesekali mencuri kesempatan untuk menyentuhnya."Jovan, sejak kapan lu jadi alim?" tanya seorang pria di sebelahnya, Reno, teman lamanya yang sudah terlalu akrab dengan dunia malam. "Dulu lu raja tempat ini, sekarang malah lebih banyak bengong."Jovan hanya menanggapi dengan senyum tipis.Seorang wanita dengan gaun merah darah mendekat, duduk tanpa diundang di pangk

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   20) Pelarian Absurd (6)

    Begitu ia melangkah ke dalam, suara batuk kecil menyambutnya. Pak Arif duduk di sofa dengan ekspresi yang sulit ditebak. Pria itu menatapnya dengan senyum tipis—sebuah senyum yang terasa… misterius."Ah, Mas Jovan," sapanya santai. "Saya tahu kamu pasti datang lagi."Jovan berusaha tetap tenang, meskipun perutnya terasa sedikit mual mengingat percakapan absurd mereka kemarin."Pak, saya cuma mampir sebentar," katanya, sengaja memperjelas bahwa ia tidak berencana berlama-lama.Tapi Pak Arif justru tersenyum lebih lebar. "Nggak usah buru-buru, Mas. Duduk dulu. Saya lagi pengin ngobrol."Jovan menekan dorongan untuk menghela napas keras. Vena, yang tampaknya tidak menyadari ketegangan aneh di antara mereka, langsung pergi ke dapur, meninggalkan dua pria itu dalam ruang tamu yang terasa semakin sesak.Pak Arif mendekat sedikit. Suaranya merendah, tapi penuh tekanan. "Jadi, Mas Jovan… sudah dipikirkan?"Jovan menutup mata sebentar. "Pak… saya nggak mau ngomongin itu lagi."Pak Arif hanya t

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status