Share

7) Pertemuan Kedua

Penulis: NDRA IRAWAN
last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-24 20:16:23

Jovan masih duduk di dalam mobilnya, tangannya menggenggam kemudi dengan erat, matanya tak lepas dari sosok anggun di dalam restoran, mantan mertuanya.

Sudah sejak tadi ia melihat Bu Intan, duduk sendirian, gelisah, sesekali melirik ponselnya, mungkin menunggu pesan darinya. Namun, hatinya masih diselimuti keraguan yang terlalu pekat.

Lima tahun lalu, ia bukan siapa-siapa. Seorang pria dengan mimpi besar namun tanpa nama, tanpa harta. Dan Bu Intan—wanita yang kini tampak anggun dalam gaun marunnya—pernah menjadi bagian dari kepedihannya. Ia mengingat bagaimana ibu mertuanya, dengan wajah dingin dan lidah tajam, selalu merendahkannya di depan keluarganya sendiri.

Kata-kata itu masih terpatri jelas dalam ingatannya, menghantam harga dirinya seperti badai. Penghinaan itu bukan sekadar luka biasa, tapi luka yang mencabik-cabik harga dirinya sebagai seorang suami sekaligus seorang ayah untuk dua anaknya.

Dalam satu malam, ia kehilangan semuanya—istri yang ia cintai, kedua anaknya, bahkan harapan untuk tetap menjadi bagian dari hidup mereka. Ia diusir dari kehidupan yang pernah ia bangun dengan susah payah.

Namun, waktu berubah.

Hari ini, ia bukan lagi pria yang sama. Jovan kini adalah seorang miliarder. Namanya dikenal, bisnisnya merajai banyak sektor, dan ia bisa saja membalas dendam dengan mudah. Tapi, benarkah ia menginginkannya? Benarkah semua ini sudah ia lupakan?

Ia menutup mata, menghela napas panjang. Apakah Bu Intan kini mencarinya karena tahu siapa dirinya sekarang? Atau ada sesuatu yang lebih dari sekadar masa lalu yang ingin diperbaiki?

Jovan menatap sosok di dalam restoran. Bu Intan masih di sana, wajahnya mulai suram, seperti seseorang yang akhirnya menerima kenyataan pahit bahwa harapannya mungkin hanya ilusi.

Tangan Bu Intan meraih tas, tanda ia hendak pergi. Dan saat itulah Jovan mengambil keputusan. Hampir bersamaan dengan saat Bu Intan berdiri, Jovan keluar dari mobilnya, lalu melangkah masuk ke restoran dengan tenang.

Bu Intan masih terpaku, jantungnya berdegup kencang saat sosok yang begitu dikenalnya akhirnya berjalan ke arahnya. Jovan tampak luar biasa malam ini. Setelan mahalnya membingkai tubuh tegapnya dengan sempurna. Rambutnya tertata rapi, wajahnya tenang, tapi ada sesuatu di matanya—sebuah sorot yang membuat Bu Intan merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang.

Perasaan aneh itu kembali datang. Seperti malam di gala dinner seminggu yang lalu, ketika mereka bertemu setelah bertahun-tahun. Malam yang hampir membuat mereka kehilangan kendali.

Jovan tersenyum kecil. Senyum itu bukan sekadar keramahan biasa—itu senyum yang sarat dengan kesadaran. Kesadaran bahwa wanita di hadapannya menginginkannya.

"Kamu sudah lama menunggu?" tanya Jovan, suaranya rendah dan sedikit serak, seolah sengaja menambah ketegangan. Namun terselip keakraban yang hangat.

Bu Intan menelan ludah, mencoba menguasai dirinya. "Tidak terlalu," jawabnya, meski kekecewaannya karena hampir ditinggalkan tadi masih terasa.

Jovan menarik kursi di hadapannya, duduk dengan sikap santai tapi tetap penuh kendali. Tangannya dengan ringan meraih gelas air putih yang tersisa setengah di meja, lalu menyesapnya tanpa izin—membuat Bu Intan menegang. Tindakan kecil itu terasa intim, seolah Jovan sedang menandai teritorinya.

"Kamu tidak berubah, Intan," gumamnya pelan, mengamatinya dengan tatapan tajam. "Masih begitu... menawan."

Darah di wajah Bu Intan menghangat. Ia tahu Jovan hanya menggoda. Ia tahu pria ini mungkin masih menyimpan dendam. Tapi tetap saja, sesuatu dalam dirinya mendesir.

"Kamu juga tak banyak berubah, Jovan," jawabnya, berusaha terdengar tenang. "Masih suka mempermainkan keadaan."

Jovan tertawa kecil, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Dan kamu masih suka menantang bahaya, kan?" bisiknya.

Bu Intan menegang. Napasnya tercekat ketika tatapan mereka bertaut lebih dalam. Aroma maskulin Jovan yang khas menguar, mengingatkannya pada betapa dekatnya mereka di pesta gala dinner itu—betapa nyaris mereka melewati batas.

Jovan tahu ini. Ia sengaja mempermainkan suasana. Ia sengaja membiarkan mantan mertuanya itu merasakan ketegangan yang sama seperti yang ia rasakan bertahun-tahun lalu, ketika dirinya hanya seorang pria biasa yang diremehkan dan dihancurkan.

Tapi malam ini? Malam ini ia yang memegang kendali.

Pelayan datang membawa daftar menu, memecah ketegangan sesaat. Bu Intan menarik napas panjang, mencoba mengembalikan kendali atas dirinya.

"Apa yang kamu ingin pesan?" tanya Jovan ringan.

Bu Intan mengangkat dagunya sedikit, matanya berbinar penuh arti. "Aku ikut saja dengan pilihanmu."

Jovan tersenyum. "Berani sekali mempercayakan pilihan padaku."

Ia lalu mengambil menu, matanya sekilas melirik Bu Intan sebelum akhirnya memesan hidangan terbaik malam itu.

Saat pelayan pergi, suasana kembali hening di antara mereka. Tapi kali ini bukan hening yang canggung. Ini hening yang dipenuhi oleh listrik, oleh ketegangan yang tidak bisa disangkal.

"Jadi..." Jovan memainkan jari di tepi gelasnya. "Apa alasan sebenarnya kamu ingin kembali bertemu denganku, Intan?"

Matanya menatap lurus ke arah wanita itu, menuntut jawaban.

Bu Intan tersenyum tipis, jemarinya menyentuh batang gelas anggurnya yang kini telah diisi.

"Kamu tahu jawabannya, Jovan."

Jovan terkekeh pelan. Ia mengangkat gelasnya, menyesap anggurnya perlahan sebelum meletakkannya kembali dengan bunyi dentingan halus.

"Oh, aku tahu," kata Jovan lembut. "Aku hanya ingin mendengarnya langsung darimu."

Senyum Bu Intan tak luntur, tapi ia tahu dirinya sudah masuk ke dalam permainan Jovan.

Dan sejauh ini, ia tidak keberatan.

Bu Intan menyandarkan punggungnya ke kursi, mencoba terlihat santai, tapi matanya tak bisa berbohong. Ada bara di sana—api yang dulu tak pernah ia bayangkan akan menyala untuk pria yang pernah menjadi menantunya yang dihinakan.

Jovan, dengan ketenangan yang luar biasa, menyaksikan itu semua. Ia tahu betul bahwa mantan mertuanya ini bukan sekadar ingin berbincang basa-basi. Bukan sekadar ingin menebus dosa masa lalu. Ada sesuatu yang lebih dari itu. Keintiman seperti yang dulu pernah ia bisikan dengan alasan, ‘Papaknya Tania sudah kurang peduli.’

"Kamu sudah tahu jawabannya," ujar Bu Intan akhirnya, suaranya terdengar rendah, hampir seperti bisikan.

Jovan mengangkat alisnya, menunggu.

"Aku ingin... memperbaiki hubungan kita," lanjut Bu Intan, menekankan kata "hubungan" dengan nada yang ambigu.

Jovan tersenyum miring. "Hubungan?" ulangnya, seolah mengecap setiap suku kata.

Bu Intan meraih gelas anggurnya, menyesapnya perlahan, lalu meletakkannya kembali dengan gerakan yang disengaja. Tatapannya tidak pernah lepas dari mata Jovan.

"Ya. Hubungan yang sempat rusak karena egoku. Karena kesalahanku," katanya.

Jovan tertawa kecil. "Kesalahan?" ulangnya lagi, kali ini dengan nada geli. "Kamu menyebutnya kesalahan? Kamu merenggut istri dan anak-anakku, lalu menginjak-injak harga diriku di depan semua orang. Kamu mengusirku seperti sampah, Intan."

Bu Intan menelan ludah. Ia tidak bisa menyangkal itu.

"Tapi lihatlah kamu sekarang," katanya, mencoba membalik keadaan. "Kamu berhasil. Kamu lebih dari yang pernah aku perkirakan, Jovan."

Jovan menyipitkan matanya. "Jadi menurutmu semua ini berkat perlakuanmu dulu?"

Bu Intan tidak langsung menjawab. Sebagai wanita berpengalaman, ia tahu kapan harus mengakui kesalahan dan kapan harus menggoda. Ia memilih jalan tengah.

"Aku hanya ingin mengatakan... mungkin kita bisa menebus masa lalu dengan cara yang lebih baik," katanya pelan, suaranya sengaja dibuat lembut dan penuh makna.

Jovan mengamati wanita di hadapannya. Dulu, ia pernah melihat Bu Intan sebagai sosok yang menakutkan—seorang wanita berkuasa yang tidak segan-segan menghancurkan hidup orang lain demi gengsinya. Tapi malam ini, ia melihat sesuatu yang lain.

Bu Intan adalah wanita yang tahu apa yang ia inginkan. Dan malam ini, yang ia inginkan adalah dirinya.

Jovan menyandarkan punggungnya, menyesap anggurnya tanpa terburu-buru. Ia membiarkan suasana tegang itu menggantung di udara.

"Kamu ingin menebus masa lalu?" tanyanya akhirnya.

Bu Intan mengangguk pelan. "Ya."

Jovan tersenyum miring. "Dengan cara apa?"

Mata Bu Intan menyala, bibirnya membentuk lengkungan menggoda.

"Kamu tahu jawabannya, Jovan," bisiknya.

Jovan tertawa kecil, lalu bangkit dari kursinya. Ia menatap Bu Intan dengan ekspresi yang sulit ditebak, kemudian mengulurkan tangan.

"Mari kita lihat sejauh mana kamu bersedia menebusnya," katanya pelan.

Bu Intan tidak butuh berpikir lama. Ia meraih tangan itu.

Permainan baru saja dimulai.

Setelah menghabiskan makan malam mereka dengan percakapan yang semakin lama semakin sarat dengan ketegangan, Jovan akhirnya bangkit dari kursinya. Bu Intan mengikuti dengan gerakan anggun, matanya terus mengunci Jovan, seolah takut kehilangan kesempatan kedua yang telah terbuka.

Di luar restoran, udara malam terasa hangat, tetapi tidak lebih panas dari atmosfer di antara mereka. Jovan membuka pintu mobil untuk Bu Intan dengan santai, seolah ini hanyalah pertemuan biasa, bukan sesuatu yang sarat dengan sejarah kelam.

Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil begitu hening, tetapi tidak ada ketegangan canggung di sana—hanya keheningan yang penuh arti. Sesekali, Jovan melirik ke samping, melihat Bu Intan yang tampak gelisah, jemarinya saling bertaut di atas pangkuan.

"Kenapa diam?" tanya Jovan akhirnya, memecah keheningan.

Bu Intan menoleh ke arahnya, tersenyum tipis. "Aku hanya sedang berpikir…."

Jovan menahan senyumnya. "Memikirkan apa? Masa lalu, atau malam ini?"

Bu Intan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Jovan lebih lama dari seharusnya sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ke luar jendela.

^*^

Jika ada pembaca Fzzo, silahkan baca cerita yang sangat menegangkan namun penuh tawa, ‘HASRAT SUCI SANG MAFIA’ by Dibikin Romantis, Gratis sampai end.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   8) Rasa Membara

    Ketika mereka sampai di halaman rumah Bu Intan, wanita itu turun lebih dulu. Jovan mengikuti dengan santai, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, menatap rumah mewah yang pernah menjadi saksi penderitaannya lima tahun lalu."Kamu tidak harus masuk kalau tak ingin," kata Bu Intan lembut.Jovan tertawa kecil. "Aku justru ingin masuk."Bu Intan terdiam sejenak, lalu membalikkan badan, berjalan lebih dulu menuju pintu. Begitu mereka masuk, suasana rumah itu terasa terlalu tenang, terlalu luas untuk ditinggali seorang diri.Jovan menatap sekeliling. "Dulu, rumah ini terasa lebih ramai," katanya, nadanya terdengar lebih seperti sindiran.Bu Intan melangkah ke meja bar kecil di sudut ruangan, menuangkan dua gelas minuman, lalu menyerahkan salah satunya pada Jovan. "Sekarang hanya ada aku di sini," katanya pelan.Jovan menerima gelas itu, tetapi tidak langsung meminumnya. Ia justru melangkah lebih dekat, menatap Bu Intan dengan sorot mata yang sulit ditebak."Lalu, apa yang sebenarnya ka

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-24
  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   9) Sang Jagoan

    Jovan masih menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Di balik kemudi, ia merogoh saku, mengambil rokok, lalu menyalakannya dengan gerakan santai. Asap tipis mengepul di udara malam yang mulai dingin.Rizal di kursi penumpang ikut terkekeh, menyalakan rokoknya sendiri. "Gila, Bang. Saya nunggu di ujung jalan sambil nahan ketawa. Udah bisa nebak endingnya."Jovan menghembuskan asap, lalu melirik Rizal dengan seringai nakal. "Endingnya bisa beda jauh kalau lu telat dua menit aja nelpon gue."Mereka kembali tertawa. Mobil melaju pelan menembus malam, melewati jalanan kota yang mulai lengang. Lampu-lampu jalan berpendar temaram, menciptakan bayangan panjang di trotoar."Tapi abang puas, kan?" Rizal kembali bertanya, kali ini dengan nada lebih serius.Jovan diam sejenak, pandangannya menerawang ke jalanan yang terbentang di depan. "Gue nggak tahu, Zal."Rizal melirik Jovan, penasaran dengan perubahan ekspresi bosnya.Jovan menghela napas, membuang sisa rokoknya keluar jendela. "Gue kira baka

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-24
  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   10) Istri Pejabat (1)

    Malam itu, sesuai petunjuk dari salah seorang ajudan Pak Sony, seorang pejabatn di Kementrian Pertanian Jovan tiba di sebuah vila yang berdiri megah di tengah alam. Kesepakatan rahasia yang sudah mereka putuskan saat gala diner seminggu yang lalu.Namanya ‘Vila Sony’, berupa rumah panggung yang elegan, memancarkan kesan mewah sekaligus alami. Dinding kayu jati tua yang mengilap oleh waktu berdiri kokoh di atas tiang-tiang setinggi satu meter, membawa kesan kekuatan dan keanggunan yang berpadu sempurna dengan suasana malam.Vila yang terletak di tengah alam terbuka itu seakan menjadi sebuah oase keindahan dan kedamaian. Meski tidak besar, bangunan ini memberikan kesan lapang dan terbuka. Dinding-dindingnya tidak penuh, hanya berupa pagar kayu setinggi lutut, yang memberi pandangan langsung ke luar, menyatu dengan alam di sekitarnya.Dari dalam, pandangan Jovan tertuju pada kolam ikan di depan vila, airnya berkilauan di bawah sinar bulan, menambah keindahan malam yang tenang. Ikan-ikan n

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-27
  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   11) Istri Pejabat (2)

    Suasana alami dan terbuka ini membuat semuanya terasa lebih bebas, lebih menggoda, seakan alam pun turut berkonspirasi menghadirkan suasana yang sempurna bagi mereka berdua.Saat Tante Sony kembali dengan teh hangat di tangannya, senyumnya semakin hangat.“Tehnya sudah siap, Jovan,” suara lembut Tante Sony menyusup tenang ke telinga Jovan, memecah lamunannya. Jovan tersenyum tipis, menyembunyikan rasa waspadanya di balik senyum ramah saat menerima cangkir teh hangat dari tangan sang nyonya.Dalam keheningan malam itu, hatinya tetap siaga—ia tahu, malam ini belum berakhir, dan percakapan hangat ini hanyalah pembuka dari sesuatu yang lebih dalam. Mereka terus ngobrol hangat dalam nuansa keakraban yang perlahan-lahan sudah mulai terjalin, tanpa harus membuka identitas masing-masing lebih jauh."Tante nggak kedinginan?" bisik Jovan perlahan, suaranya tenang, seperti menyatu dengan alunan malam di sekitarnya."Enggak," jawab Tante Sony, suaranya lebih lirih, nyaris berbisik. "Ada kamu yang

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-27
  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   12) Istri Pejabat (3)

    Jovan, masih berdiri di bawah sinar rembulan, mulai menggerakkan tubuhnya dengan gerakan kecil namun penuh makna. Otot-ototnya menegang dan mengendur secara bergantian, menonjolkan bentuk tubuh atletisnya. Ia sedikit memutar bahu, lalu mengangkat lengannya perlahan, memamerkan otot bicep yang besar dan kuat seolah sedang mempersiapkan pose seperti seorang binaragawan yang penuh percaya diri.Tante Sony menahan napas ketika Jovan melenturkan otot-otot dadanya. Gerakan itu tampak begitu alami, namun begitu terkontrol, seolah setiap bagian tubuhnya memahami bagaimana menampilkan kekuatan dan keindahan dalam harmoni yang sempurna. Cahaya rembulan yang redup menyorot dengan lembut pada kulitnya yang basah oleh keringat tipis, menambah kilau sensual pada setiap otot yang bergerak.Jovan menoleh, lalu tersenyum tipis, dan perlahan melenturkan otot perutnya, membiarkan lekukan-lekukan tajam itu terlihat jelas di bawah cahaya malam. Tante Sony tidak bisa menahan rasa kagum yang mengalir sepert

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-27
  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   13) Istri Pejabat (4)

    Jovan bangkit dari tidurannya, lalu mengambil dua gelas air dari dispenser, satu untuknya dan satu lagi untuk Tange Pak Sony.“Udah segeran lagi?” tanya Jovan penuh perhatian setelah kembali dari menyimpan gelas kosong bekas mereka minum.Sementara itu Pak Sony terduduk lemas di atas tanah karena rudal kecilnya pun sudah menumpahkan amunisinya, hanya dalam beberapa kali kocokan saja.Jovan berdiri gagah di depan Tante Sony dengan tubuh atletisnya, benda di selangkangannya nampak mencolok luar biasa. Tante Sony membandingkannya dengan pisang ambon terbesar yang pernah dia lihat, atau terong ungu yang sering dia elus-elus, sambil membayangkan kalau punya suaminya sebesar itu.Jantung Tante Sony makin berdebar kencang menyaksikan rudal yang seolah sengaja dibiarkan menunjukan kehebatannya depan wajahnya. Tante Sony bahkan seperti terhipnotis, merasakan lelaki yang berdiri di depannya adalah seseorang yang tidak bisa dia sangkal, sangat menarik, lembut, sopan dan profesional.Jovan membun

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-27
  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   14) Tawaran Dukun Sakti

    Jovan baru saja duduk di teras, menikmati udara malam dengan secangkir kopi, ketika suara motor tua meraung memasuki area rumah kebunnya. Suaranya lebih mirip knalpot gerobak butut ketimbang kendaraan roda dua. Dari kejauhan, sudah bisa ditebak siapa yang datang.Tak lama, seseorang turun dengan gerakan dramatis. Mbah Wadul."Mas Jo! Assalamu’alaikuuuummm!"Jovan menarik napas, menyesal tidak buru-buru masuk rumah dan berpura-pura tiada."Wa’alaikumsalam, Mbah. Ada apa malam-malam?" tanyanya, setengah hati.Mbah Wadul langsung duduk tanpa dipersilakan, mengeluarkan rokok dari jaket kulitnya yang sudah pudar. Setelah menghembuskan asap, dia berkata dengan nada penuh kebijakan."Gini, Mas Jo… Mbah ini prihatin sama sampean. Sudah lama menduda, tapi kok nggak laku-laku? Ini nggak masuk akal!"Sebelum Jovan sempat membantah, suara lain menyela dari haalaman samping."Nah, ini nih! Akhirnya ada yang sadar!"Jovan dan Mbah Wadul menoleh bersamaan. Rizal, berdiri dengan senyum penuh arti."W

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-27
  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   15) Pelarian Absurd (1)

    Jovan duduk santai di bangku taman dekat alun-alun kota, menikmati semilir angin malam yang membawa aroma campuran hujan dan jalanan basah. Di tangannya, segelas kopi hangat dalam gelas plastik menambah kehangatan di sela-sela jemarinya. Ia sengaja beralasan kepada Rizal bahwa ia memiliki dinas luar selama seminggu.Sebenarnya, ia hanya ingin melihat sejauh mana kemampuan Rizal—anak buahnya yang paling dapat dipercaya—dalam mengambil keputusan tanpa kehadirannya. Dalam hati, Jovan telah menyiapkan Rizal untuk menjadi pengelola perkebunan kelak.Kegiatan Jovan sudah semakin padat, sehingga dia merasa perlu melatih Rizal untuk menghandle usahanya. Jadi sekarang dia sedang ‘dinas pelarian’ alias dina pura-pura.Selama seminggu "dinas pelarian" ini, Jovan memutuskan tinggal di apartemen yang jarang diketahui orang. Tempat itu menjadi pelarian terbaiknya untuk benar-benar beristirahat, jauh dari tuntutan dan keramaian yang sering kali membebani hidupnya. Di sana, Jovan bisa merasakan kedam

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-28

Bab terbaru

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   28) Pelarian Absurd (14)

    Begitu terasa bahwa liang relung kenikmatan Vena mau menerima kehadiaran rudal Hendi, tiba-tiba Hendi menghentakkan lagi rudalnya dengan sekali hentakah dan bleess, masuklah semua batang rudal Hendi keliang relung kenikmatan Vena; kemudian didiamkan sekali lagi rudal Hendi tersebut didalam liang itu, menunggu sebentar, sambil tangan Hendi mengelus elus pantat keras Vena."Vena sayang, masih sakitkah, aku tunggu sampai kamu siap menerimanya sayang.""Ya Mas Hendi, masih agak sakit, tapi kuusahakan sereleks mungkin," kata Vena sambil menggigil menahan antara gejolak asmaranya dan rasa sakit yang diterimanya.Setelah selang beberapa saat, dicoba digoyangkannya pantat Hendi maju mundur, kiri kanan dan memutar, dengan pelan, sambil terus Hendi mengelus pantat Vena, dengan sabar.Terdengar lenguhan dan rintihan Vena."Eechh, eesshhtt, eecchh""Vena, gimana, terasa enakan?""Bisa aku teruskan ya sayang, coba kamu konsentrasikan dulu.""Bayangkan kenikmatan dalam relung nikmatmu dengan geseka

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   27) Pelarian Absurd (13)

    Tak sabar Vena melihat pemandangan yang erotic itu, segera ia mendekat dan diterkamnya dengan dua tangannya rudal segar berkepala seperti jamur itu, tanpa menunggu perintah dari pemiliknya.Segera Vena mendaratkan bibir sensualnya pada kepala rudal Hendi yang sangat mengkilat dan membasah. Dicobanya dia mengecup lubang air seni dikepala rudal yang membasah itu dengan perasaan gemas, penuh birahi dan nafsunya yang sangat besar; magnit dan 'chemistry' dari badan Hendi pun menariknya, menaburkan cinta birahi menutup semua 'sense' yang ada di pribadinya.Mendengar sambutan desahan yang terjadi, dikuatkannya dirinya dan dijilatinya seluruh permukan rudal yang berurat kencang; erangan Hendi bertambah dengan getaran badannya, otomatis tangan Hendi membelai dan mengacak rambut Vena. Terasa olehnya semua simpul batang rudalnya dijamah, digelitiknya oleh lidah halus nakal kepunyaan Vena.Kembali Vena ke kepala rudal, dicobanya mengulum kepala yang besar, basah dan mengikat itu lalu dihisap-hisa

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   26) Pelarian Absurd (12)

    Dalam pelukan Hendi, Vena bagaikan dihadapkan oleh magnit bumi yang sangat besar sekali, ia menempelkan dirinya di dada Hendi pelahan-lahan direbahkannya tubuh Vena pada kasur.Emosinya telah terselubungi bara asmara, Vena pun pasrah, deburan darah dan detup jantungnya mengguncang tubuhnya yang sangat molek dan bergairah. Ditunggunya moment indah yang akan dirasakan bersama Hendi, seperti dalam gambaran benaknya.Gumaman dan desahan selama pagutan. Jelas getaran cinta yang dibawa Vena membuat Hendi semakin tergairah lagi ingin lebih melakukan langkahnya, menjelajahi badan mulus Vena. Dibukanya kancing depan blusenya yang menepel di badannya, dielusnya sembulan kenyal gunung kembar indah yang mencuat sebagian dari sarangnya warna pastel.Diangkatnya kepala Vena dan diletakkannya di pangkuannya, dirabanya halus buah dadanya; dengan mata sayu penuh nafsu, diangkatnya lagi lebih tinggi bahu dan kepala Vena dan disandarkanya pada lengan kirinya, jemari tangan kiri mengusap-usap lengan tang

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   25) Pelarian Absurd (11)

    Hendi berdiri di ambang pintu, mengenakan setelan kasual yang tetap memancarkan kelasnya. Pria itu memang memiliki aura yang tak jauh berbeda dengannya—tinggi, tampan, dengan garis wajah tegas khas keturunan Timur Tengah. Bedanya, Hendi memiliki sifat yang lebih stabil, lebih bisa diandalkan dalam jangka panjang. Dan itulah yang Jovan inginkan untuk Vena.“Lu datang tepat waktu,” ucap Jovan dengan nada ringan, menepuk bahu Hendi sebelum mempersilakannya masuk.Vena, yang sejak tadi duduk di sofa dengan perasaan tak menentu, mendongak begitu melihat pria asing masuk. Mata indahnya membulat, penuh tanda tanya.“Ini Hendi,” kata Jovan, mengisyaratkan pada pria itu untuk mendekat. “Dia lebih bisa diandalkan dibanding aku.”Vena masih terpaku, belum sepenuhnya menangkap maksud Jovan. “Maksudnya?”Jovan menatapnya dengan sorot yang sulit diartikan—ada ketulusan di sana, tapi juga sesuatu yang lain, sesuatu yang terasa seperti perpisahan.“Aku nggak bisa ada buatmu terus, Vena.” Suaranya ter

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   24) Pelarian Absurd (10)

    Jovan memarkirkan mobilnya di depan lobi hotel bintang lima dengan gerakan yang begitu mulus. Seorang bellboy segera menghampiri, membukakan pintu dengan penuh sopan santun. Vena turun dengan langkah ragu, matanya menelusuri kemegahan yang terpampang di hadapannya—lampu kristal raksasa bergelayut di langit-langit, lantai marmer yang berkilau seperti cermin, serta para tamu berpakaian glamor yang hilir mudik dengan penuh percaya diri.Jovan meliriknya, menangkap jelas ekspresi takjub sekaligus kikuk di wajah perempuan itu. Senyumnya terbit samar. "Jangan tegang, santai aja. Ini cuma hotel," katanya ringan, seolah tempat ini sama biasa baginya seperti warung kopi pinggir jalan.Vena menelan ludah. Baginya, ini lebih dari sekadar hotel—ini dunia lain. Dunia yang tidak pernah ia bayangkan akan dimasuki olehnya, apalagi dengan seorang lelaki seperti Jovan.Pak Arif benar, lelaki ini bukan orang sembarangan. Tapi siapa sebenarnya dia?Mereka berjalan melewati lobi, dan setiap langkah terasa

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   23) Pelarian Absurd (9)

    Jovan berdiri di depan rumah Pak Arif, jantungnya berdetak kencang. Lampu teras menyala redup, menyisakan bayangan samar di balik jendela. Sial. Gue beneran di sini.Pintu depan setengah terbuka, seperti sudah menunggunya.Dia melangkah masuk dengan ragu, melewati ruang tamu yang berbau kayu dan aroma teh hangat. Pak Arif duduk di kursinya, tersenyum tipis seakan sudah tahu Jovan bakal datang lagi.Jovan menghela napas panjang, menenangkan debaran di dadanya. Malam itu terasa begitu aneh, bukan hanya karena dia berdiri di depan rumah Pak Arif dengan perasaan yang bercampur aduk, tapi karena seluruh situasi ini seperti mimpi buruk yang sulit dipahami. Suara motor yang tadi membelah jalan kini senyap, meninggalkan hanya detak jantungnya yang menggema di telinga.Pak Arif masih duduk di kursinya, tersenyum tipis seolah sudah tahu apa yang akan terjadi. Ruangan itu terasa sempit, meski sebenarnya luas dan nyaman. Aroma teh hangat yang biasanya memberi rasa tenang kini terasa membebaninya.

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   22) Pelarian Absurd (8)

    Seminggu telah berlalu dalam kegaulan tingkat dewa.Jovan sedang nongkrong di atas motornya, tepat di depan sebuah mall yang masih ramai meski malam semakin larut. Jaket kulit hitamnya terbuka, memperlihatkan kaus putih polos yang membalut tubuh atletisnya. Sepasang mata tajamnya mengamati lalu lalang orang-orang, sebagian besar adalah pasangan atau geng anak muda yang asik bercanda.Sejumput asap rokok melayang dari bibirnya sebelum ia membuang puntungnya ke aspal dan menginjaknya dengan sepatu boots hitam. Motor sport yang ditungganginya berkilat di bawah lampu jalanan, menarik beberapa lirikan dari cewek-cewek yang lewat. Beberapa bahkan sengaja berjalan lebih lambat saat melewatinya, berharap ditoleh atau sekadar mendapat senyum dari pria yang wajahnya sekeras batu tapi pesonanya susah ditolak.Tapi malam ini, Jovan tidak sedang tertarik main mata. Kepalanya masih penuh dengan kejadian absurd beberapa jam lalu. Tawaran gila dari Pak Arif masih menggantung di pikirannya."Kenapa hi

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   21) Pelarian Absurd (7)

    Malam di Diskotik.Musik berdentum keras, menggetarkan lantai dengan irama bass yang menggila. Lampu-lampu strobo berkedip dalam warna merah, biru, dan ungu, menciptakan ilusi gerakan yang lebih liar dari kenyataan. Aroma parfum mahal bercampur alkohol memenuhi udara, melebur dengan tawa-tawa hingar-bingar dan obrolan setengah berteriak dari meja-meja VIP.Jovan duduk di salah satu sofa kulit berwarna hitam, minuman di tangannya hanya sekadar properti. Ia tidak benar-benar berniat menikmatinya. Di sekelilingnya, wanita-wanita kelas atas dengan gaun ketat yang memperlihatkan bahu atau belahan dada sibuk menari, tertawa, dan sesekali mencuri kesempatan untuk menyentuhnya."Jovan, sejak kapan lu jadi alim?" tanya seorang pria di sebelahnya, Reno, teman lamanya yang sudah terlalu akrab dengan dunia malam. "Dulu lu raja tempat ini, sekarang malah lebih banyak bengong."Jovan hanya menanggapi dengan senyum tipis.Seorang wanita dengan gaun merah darah mendekat, duduk tanpa diundang di pangk

  • Hasrat Bukan Menantu Idaman   20) Pelarian Absurd (6)

    Begitu ia melangkah ke dalam, suara batuk kecil menyambutnya. Pak Arif duduk di sofa dengan ekspresi yang sulit ditebak. Pria itu menatapnya dengan senyum tipis—sebuah senyum yang terasa… misterius."Ah, Mas Jovan," sapanya santai. "Saya tahu kamu pasti datang lagi."Jovan berusaha tetap tenang, meskipun perutnya terasa sedikit mual mengingat percakapan absurd mereka kemarin."Pak, saya cuma mampir sebentar," katanya, sengaja memperjelas bahwa ia tidak berencana berlama-lama.Tapi Pak Arif justru tersenyum lebih lebar. "Nggak usah buru-buru, Mas. Duduk dulu. Saya lagi pengin ngobrol."Jovan menekan dorongan untuk menghela napas keras. Vena, yang tampaknya tidak menyadari ketegangan aneh di antara mereka, langsung pergi ke dapur, meninggalkan dua pria itu dalam ruang tamu yang terasa semakin sesak.Pak Arif mendekat sedikit. Suaranya merendah, tapi penuh tekanan. "Jadi, Mas Jovan… sudah dipikirkan?"Jovan menutup mata sebentar. "Pak… saya nggak mau ngomongin itu lagi."Pak Arif hanya t

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status