Gemerincing gelas-gelas kristal beradu memenuhi aula megah itu. Cahaya lampu gantung berkilauan di langit-langit tinggi, memantulkan kemewahan yang tak terbantahkan. Para tamu dalam setelan mahal dan gaun elegan saling berbincang, tertawa ringan sambil menyesap anggur mereka.
Di antara keramaian itu, seorang pria berdiri tegak dengan senyum tipis di sudut bibirnya. Jas hitam yang membalut tubuhnya bukan sembarang jas—potongan khusus dari perancang terkenal. Jam di pergelangan tangannya berkilauan, bukan sekadar aksesori, tapi simbol status.
Jovan.
Lima tahun telah berlalu.
Dan kini, dia kembali.
Matanya menyapu ruangan hingga akhirnya bertemu dengan seorang wanita paruh baya di meja VIP. Bu Intan.
Sekilas, wajah wanita itu tampak seperti biasanya—angkuh, penuh percaya diri. Tapi saat matanya bertemu dengan mata Jovan, sorotnya berubah.
Kaget.
Sedikit terperanjat.
Seolah melihat hantu dari masa lalu yang seharusnya sudah terkubur.
Jovan tidak langsung bergerak. Ia membiarkan detik-detik itu berjalan lambat, membiarkan Bu Intan menyadari keberadaannya sepenuhnya. Baru setelah itu, dengan langkah santai dan penuh percaya diri, dia melangkah menuju meja itu.
“Selamat malam, Bu Intan,” sapanya, suaranya dalam dan tenang.
Ekspresi Bu Intan sulit ditebak, campuran antara keterkejutan dan usaha untuk tetap tenang. Sekilas, wanita itu seperti ingin mengabaikannya, berpura-pura tidak mengenalnya. Tapi sulit untuk melakukan itu ketika Jovan kini mengenakan pakaian yang sama mahalnya dengan para undangan lainnya—jauh dari bayangan menantu rendahan yang dulu selalu dia hina.
“Kamu… di sini?” suara Bu Intan terdengar ragu.
Jovan tersenyum tipis. “Tentu saja. Aku punya beberapa urusan dengan orang Kementerian.” Ia menatap sekeliling. “Acara yang luar biasa, ya?”
Bu Intan mengerutkan kening. “Kamu datang sebagai apa?”
Jovan tertawa kecil. “Aku diundang.”
Bu Intan terdiam.
Ketegangan di antara mereka terasa jelas.
Lima tahun lalu, dia mengusir Jovan dengan hinaan, meremehkan keberadaannya seolah lelaki itu bukan siapa-siapa.
Tapi kini?
Jovan kembali dengan cara yang tak pernah Bu Intan bayangkan.
Bu Intan adalah wanita yang penuh kendali. Selama bertahun-tahun, dia selalu merasa berada di posisi tertinggi, harus dihormati, harus ditakuti, dan wajib dikagumi. Namun malam ini, kendali itu terasa rapuh.
Jovan bukan lagi pria yang bisa dipermainkan atau dihina seperti dulu. Ia bukan lagi menantu biasa yang hanya dianggap numpang hidup di keluarganya. Kini, dia adalah sosok yang berdiri sejajar dengan para elite, dan yang lebih berbahaya—dia tahu cara memainkan permainannya sendiri.
“Kamu tampak berbeda, Jovan,” ujar Bu Intan akhirnya, setelah beberapa saat mereka terdiam. Suaranya terdengar ringan, tapi ada sesuatu yang terselip di dalamnya.
Jovan tersenyum kecil, menyesap sampanye dari gelasnya sebelum menaruhnya kembali di atas meja. “Tentu saja. Waktu mengubah banyak hal, bukan?”
Mata Bu Intan mengamati pria di hadapannya dengan cara yang berbeda. Lelaki ini... begitu tenang, begitu percaya diri. Pakaian mahalnya memang menarik perhatian, tapi yang lebih menggoda adalah aura yang ia pancarkan—kesan seorang pria yang mengerti betul bagaimana dunia bekerja.
Dan Jovan tahu itu.
Ia bisa melihat ketertarikan yang tak ingin diakui oleh wanita di depannya. Itu bukan sesuatu yang baru. Jovan menyadari sejak dulu bahwa di balik kebenciannya, Bu Intan menyimpan sesuatu yang lebih berbahaya.
Hasrat yang ditekan.
Godaan yang tak ingin diakui.
“Mari kita bicara di tempat yang lebih tenang,” ujar Jovan tiba-tiba. Bukan pertanyaan, bukan permintaan—hanya pernyataan.
Bu Intan menatapnya dengan alis sedikit terangkat, lalu menyesap anggurnya perlahan. Seolah berpikir. Seolah menimbang-nimbang.
Jovan tidak terburu-buru. Ia memberi Bu Intan waktu untuk memproses semuanya, menikmati setiap detik perubahan emosi yang melintas di wajah wanita itu. Jari-jarinya bermain dengan batang gelas, gerakan kecil yang seolah menunggu.
Hening di antara mereka terasa semakin berat. Musik orkestra yang mengalun lembut di latar belakang seakan mempertegas ketegangan yang menggantung di udara.
Bu Intan menatapnya dalam-dalam. Ada banyak pertanyaan yang mungkin ingin ia lontarkan, tetapi harga dirinya menahan. Jovan tahu, wanita itu tidak ingin terlihat seolah terkejut atau kalah dalam pertemuan ini.
Tapi Jovan bukan lagi pria yang sama seperti dulu.
Ia bisa membaca tatapan itu. Ia bisa merasakan kegelisahan yang berusaha ditutupi Bu Intan. Dan, ia menikmatinya.
Jovan mendekat sedikit, cukup agar suaranya terdengar hanya oleh Bu Intan. “Lima tahun lalu, aku berdiri di depanmu sebagai seseorang menantu yang tidak punya apa-apa. Tapi lihatlah sekarang,” suaranya pelan, tapi penuh arti. “Aku rasa, kamu pasti penasaran tentang perjalananku, bukan?”
Bu Intan mengangkat dagunya sedikit, berusaha tetap tampak tak tergoyahkan. Namun, Jovan menangkapnya—keraguan kecil dalam sorot mata wanita itu.
Ia tahu, wanita ini ingin tahu.
Ia tahu, wanita ini ingin mendengar kisahnya.
Jovan melirik jam di pergelangan tangannya, lalu kembali menatap Bu Intan. “Aku tak punya banyak waktu. Kalau kamu ingin tahu lebih banyak, mari bicara di tempat yang lebih tenang.”
Bu Intan tetap diam sesaat.
Lalu, tanpa kata-kata, ia meletakkan gelasnya di atas meja.
Dan berdiri.
Tanpa suara, tanpa protes, dia mengikuti langkah Jovan keluar dari keramaian pesta.
Mereka berjalan melewati koridor yang dihiasi lukisan-lukisan mahal, menuju balkon luas yang menghadap ke kota. Angin malam yang sejuk berembus, membelai kulit mereka dengan lembut.
“Dulu aku selalu berpikir kamu tak akan pernah bisa berada di ruangan yang sama dengan orang-orang seperti ini,” kata Bu Intan, suaranya lebih lembut, lebih pribadi.
Jovan bersandar di pagar balkon, menatap ke arah lampu-lampu kota yang berkilauan. “Dan sekarang?”
Bu Intan menoleh, matanya penuh arti. “Sekarang aku tahu bahwa aku salah.”
Jovan menoleh padanya, menatapnya lurus, tanpa sedikit pun keraguan. “Aku rasa... itu bukan satu-satunya hal yang kamu salah nilai tentangku.”
Jovan menghembuskan napas pelan, lalu tersenyum kecil. "Kamu tahu, selama lima tahun ini aku tidak hanya berdiam diri. Aku pergi ke beberapa negara, belajar banyak hal."
Bu Intan menoleh, ekspresinya sedikit terkejut. "Negara mana saja?"
"Inggris, Paris, Tokyo, Dubai... beberapa kota lain yang mungkin akan membuatmu berpikir ulang tentang siapa aku sekarang," ujar Jovan santai, tetapi matanya tetap mengunci milik Bu Intan.
Bu Intan menggigit bibirnya samar. "Kamu tidak hanya berubah... kamu berkembang," gumamnya.
Jovan tertawa pelan, lalu mendekat sedikit, menurunkan suaranya hingga nyaris seperti bisikan. "Dan kamu menyadarinya lebih dari siapa pun, bukan?"
Napas Bu Intan sedikit tertahan saat merasakan kehadiran Jovan yang semakin dekat. Ia bisa mencium wangi maskulin pria itu, campuran kayu dan rempah yang entah bagaimana menambah daya tariknya.
"Aku penasaran," bisik Jovan, jemarinya dengan ringan menyentuh punggung tangan Bu Intan. "Apa kamu pernah membayangkan kita berbicara seperti ini sebelumnya?"
Bu Intan tidak segera menjawab. Napasnya sedikit lebih berat, dadanya naik-turun dengan ritme yang sedikit berubah. "Jovan..."
"Hm?" Jovan tidak menjauh, justru semakin mempersempit jarak. "Aku bisa merasakan detak jantungmu. Sedikit lebih cepat dari biasanya."
Bu Intan menghela napas, lalu menarik tangannya perlahan, meskipun tidak sepenuhnya menolak. "Kamu suka bermain api, ya?"
Jovan menyeringai. "Hanya jika apinya seindah ini."
Mata mereka saling beradu dalam keheningan yang intens. Sesaat, tak ada yang bergerak, seolah waktu berhenti.
"Kita tidak seharusnya bicara seperti ini, Jovan."
"Tapi kita sudah bicara seperti ini," sahut Jovan cepat.”
Bu Intan tidak menjawab, hanya menarik napas panjang dan tetap berdiri berhadapan dengan mantan menantunya. Ada sesuatu yang telah berubah malam ini, sesuatu yang tidak bisa diabaikan begitu saja oleh keduanya.
“Pak Winata sibuk sekali ya? Aku jarang melihatnya dalam acara seperti ini,” kata Jovan dengan nada santai, seolah hanya sekadar berbasa-basi.
Bu Intan tersenyum tipis, memainkan cincin di jari manisnya. “Suamiku di luar kota. Urusan pekerjaan.”
Jovan mengangguk pelan. Sama seperti lima tahun lalu. Pak Winata lebih banyak mengurus pekerjaan daripada rumah tangga.
Dengan gerakan halus, Jovan meraih sehelai rambut yang jatuh di bahu wanita itu dan menyelipkannya ke belakang telinga. Sentuhan itu ringan, hampir tidak terasa, tapi efeknya luar biasa.
Bu Intan menegang sejenak. Matanya berkilat, bukan karena kemarahan, tapi sesuatu yang lain.
Ketertarikan.
Jovan tersenyum. “Kamu masih secantik dulu. Bahkan lebih dari sebelumnya.”
Wanita itu menghela napas kecil, seolah ingin mengontrol dirinya. “Kamu terlalu banyak bicara, Jovan.”
“Tapi kamu menyukainya.” Jovan menatapnya lekat.
Bu Intan tidak membantah. Ia menatapnya tajam, tapi Jovan bisa melihat pertahanannya mulai runtuh.
“Jangan bermain-main denganku, Jovan.”
Jovan tersenyum miring. “Siapa bilang aku bermain-main?”
Ia menyentuh punggung tangan Bu Intan, halus, lembut, tidak terburu-buru. “Aku hanya ingin memahami lebih dalam mantan ibu mertuaku... Itu saja.”
Bu Intan tidak menarik tangannya.
“Apa kamu keberatan?”
Bu Intan sama sekali tidak menolak.
Jovan menangkap sorot mata itu, penuh keraguan yang beradu dengan keinginan terlarang. Ibu mertua yang dulu begitu angkuh, kini mulai masuk dalam permainannya.
^*^
Jovan dan Bu Intan masih berdiri berhadapan ketika seorang pria berseragam panitia acara berjalan mendekat. Langkahnya tegap, ekspresinya penuh hormat. Sekilas, Bu Intan mengira pria itu akan menyapanya—bagaimanapun, ia istri seorang pejabat perkebunan besar.Namun, yang terjadi justru sebaliknya.Panitia itu berhenti tepat di hadapan Jovan, lalu sedikit membungkuk. “Maaf mengganggu, Pak Jovan Mahendra.”Bu Intan sempat mengernyit. Sejak kapan Jovan dipanggil dengan begitu hormat?Jovan mengangkat alis, tetapi tetap tenang. “Ada apa?”“Semua petani pelopor yang mendapatkan penghargaan tingkat nasional diminta hadir di ruanga Bapak Benny Panjaitan.” Panitia itu melirik jam tangannya. “Beliau ingin bertemu langsung dengan Bapak dan dua penerima penghargaan lainnya.”Bu Intan membeku.Penerima penghargaan?Tidak mungkin.Dengan matanya sendiri, ia melihat bagaimana panitia acara ini memperlakukan Jovan dengan penuh rasa hormat, seolah pria itu seseorang yang penting. Bahkan diminta berbi
Bu Intan sudah membayangkan perjalanan ini akan berakhir dengan lebih dari sekadar obrolan basa-basi di dalam mobil. Ia sudah mengatur ritme, menciptakan atmosfer, dan kini Jovan begitu saja menyerahkannya pada seorang sopir?“Jovan…” Bu Intan mengerjap, nada suaranya tetap anggun, meski ada tekanan halus di dalamnya.Jovan tersenyum—terlalu manis, terlalu sopan, tapi juga terlalu tajam.“Ini sudah larut,” ujarnya lembut. “Aku tidak ingin kamu kelelahan.”Sebuah pukulan halus.Bu Intan bisa merasakan pandangan beberapa orang yang masih berdiri di sekeliling mereka. Seolah menunggu bagaimana ia akan merespons.Sekian detik, ia menatap Jovan, mencoba mencari celah. Tapi pria itu sudah terlalu jauh dari genggaman yang ia kira masih bisa ia kendalikan.Lalu, dengan anggun—seperti seorang ratu yang memilih menerima permainan ini—Bu Intan tersenyum kecil dan mengangguk.“Baiklah, kalau begitu,” katanya, sebelum melangkah menuju mobil dengan percaya diri, seolah semua masih berada dalam kend
Suasana siang terasa hangat di bawah rindangnya pepohonan di halaman belakang rumah Jovan. Suasana semakin hidup seiring aroma terong panggang yang menggoda tersebar, menggelitik indra penciuman para tamu.Meja panjang kayu rustic dipenuhi hidangan, sementara di depan panggangan, Jovan tampak sibuk dengan celemek hitam yang melingkar di pinggang, membolak-balik terong yang mulai matang.Di sekitarnya, ibu-ibu peserta pelatihan duduk santai sambil melemparkan godaan dan tawa riang. Melia, yang sejak tadi ikut bergabung, tak bisa menahan senyumnya.“Wah, Mas Jo ini selain jago bercocok tanam, ternyata jago masak juga, ya! Siapa nanti yang beruntung jadi pendampingnya?”Jovan hanya menoleh sambil tersenyum hangat, sembari mengipasi panggangan. "Wah, Bu Melia bisa saja. Yang penting, semua kebagian terong panggang spesial saya dulu, ya."Tawa dan sorakan pun memenuhi suasana, namun di balik keceriaan itu, Melia terdiam sejenak. Ia tak bisa mengelak dari perasaan aneh yang tiba-tiba menyer
Bu Intan duduk di ruang tengah rumahnya yang luas, tetapi terasa begitu sepi. Jemarinya mengetuk-ngetuk gelas jus jeruk di atas meja, sementara pikirannya melayang ke pertemuan dengan Jovan di gala dinner seminggu yang lalu.Pria itu… sudah jauh berbeda. Bukan lagi lelaki sederhana yang dulu ia hina habis-habisan, tetapi seorang miliarder yang tampil begitu berwibawa. Bu Intan sudah banyak mengumpulkan data dari beberapa koleganya. Sebagai istri pejabat di kementrian, tentu saja hal itu bukan perkara susah.Dan selama satu minggu ini, hatinya masih berdebar saat mengingat tatapan tajam Jovan, senyum miringnya, dan caranya menggoda seolah membalas semua perlakuan kejamnya dulu. Bu Intan tidak bisa menyangkal bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang bergelora.Rasa bersalah, penyesalan dan yang mendominasinya justru ketertarikan. Hasrat yang sudah lama dia kubur dalam-dalam, mulai kembali bangkit dan mengganggunya. Dan dengan keraguan, ia meraih ponselnya dan menekan nomor Tania, putrinya.B
Jovan masih duduk di dalam mobilnya, tangannya menggenggam kemudi dengan erat, matanya tak lepas dari sosok anggun di dalam restoran, mantan mertuanya.Sudah sejak tadi ia melihat Bu Intan, duduk sendirian, gelisah, sesekali melirik ponselnya, mungkin menunggu pesan darinya. Namun, hatinya masih diselimuti keraguan yang terlalu pekat.Lima tahun lalu, ia bukan siapa-siapa. Seorang pria dengan mimpi besar namun tanpa nama, tanpa harta. Dan Bu Intan—wanita yang kini tampak anggun dalam gaun marunnya—pernah menjadi bagian dari kepedihannya. Ia mengingat bagaimana ibu mertuanya, dengan wajah dingin dan lidah tajam, selalu merendahkannya di depan keluarganya sendiri.Kata-kata itu masih terpatri jelas dalam ingatannya, menghantam harga dirinya seperti badai. Penghinaan itu bukan sekadar luka biasa, tapi luka yang mencabik-cabik harga dirinya sebagai seorang suami sekaligus seorang ayah untuk dua anaknya.Dalam satu malam, ia kehilangan semuanya—istri yang ia cintai, kedua anaknya, bahkan h
Ketika mereka sampai di halaman rumah Bu Intan, wanita itu turun lebih dulu. Jovan mengikuti dengan santai, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, menatap rumah mewah yang pernah menjadi saksi penderitaannya lima tahun lalu."Kamu tidak harus masuk kalau tak ingin," kata Bu Intan lembut.Jovan tertawa kecil. "Aku justru ingin masuk."Bu Intan terdiam sejenak, lalu membalikkan badan, berjalan lebih dulu menuju pintu. Begitu mereka masuk, suasana rumah itu terasa terlalu tenang, terlalu luas untuk ditinggali seorang diri.Jovan menatap sekeliling. "Dulu, rumah ini terasa lebih ramai," katanya, nadanya terdengar lebih seperti sindiran.Bu Intan melangkah ke meja bar kecil di sudut ruangan, menuangkan dua gelas minuman, lalu menyerahkan salah satunya pada Jovan. "Sekarang hanya ada aku di sini," katanya pelan.Jovan menerima gelas itu, tetapi tidak langsung meminumnya. Ia justru melangkah lebih dekat, menatap Bu Intan dengan sorot mata yang sulit ditebak."Lalu, apa yang sebenarnya ka
Jovan masih menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Di balik kemudi, ia merogoh saku, mengambil rokok, lalu menyalakannya dengan gerakan santai. Asap tipis mengepul di udara malam yang mulai dingin.Rizal di kursi penumpang ikut terkekeh, menyalakan rokoknya sendiri. "Gila, Bang. Saya nunggu di ujung jalan sambil nahan ketawa. Udah bisa nebak endingnya."Jovan menghembuskan asap, lalu melirik Rizal dengan seringai nakal. "Endingnya bisa beda jauh kalau lu telat dua menit aja nelpon gue."Mereka kembali tertawa. Mobil melaju pelan menembus malam, melewati jalanan kota yang mulai lengang. Lampu-lampu jalan berpendar temaram, menciptakan bayangan panjang di trotoar."Tapi abang puas, kan?" Rizal kembali bertanya, kali ini dengan nada lebih serius.Jovan diam sejenak, pandangannya menerawang ke jalanan yang terbentang di depan. "Gue nggak tahu, Zal."Rizal melirik Jovan, penasaran dengan perubahan ekspresi bosnya.Jovan menghela napas, membuang sisa rokoknya keluar jendela. "Gue kira baka
Malam itu, sesuai petunjuk dari salah seorang ajudan Pak Sony, seorang pejabatn di Kementrian Pertanian Jovan tiba di sebuah vila yang berdiri megah di tengah alam. Kesepakatan rahasia yang sudah mereka putuskan saat gala diner seminggu yang lalu.Namanya ‘Vila Sony’, berupa rumah panggung yang elegan, memancarkan kesan mewah sekaligus alami. Dinding kayu jati tua yang mengilap oleh waktu berdiri kokoh di atas tiang-tiang setinggi satu meter, membawa kesan kekuatan dan keanggunan yang berpadu sempurna dengan suasana malam.Vila yang terletak di tengah alam terbuka itu seakan menjadi sebuah oase keindahan dan kedamaian. Meski tidak besar, bangunan ini memberikan kesan lapang dan terbuka. Dinding-dindingnya tidak penuh, hanya berupa pagar kayu setinggi lutut, yang memberi pandangan langsung ke luar, menyatu dengan alam di sekitarnya.Dari dalam, pandangan Jovan tertuju pada kolam ikan di depan vila, airnya berkilauan di bawah sinar bulan, menambah keindahan malam yang tenang. Ikan-ikan n
Begitu terasa bahwa liang relung kenikmatan Vena mau menerima kehadiaran rudal Hendi, tiba-tiba Hendi menghentakkan lagi rudalnya dengan sekali hentakah dan bleess, masuklah semua batang rudal Hendi keliang relung kenikmatan Vena; kemudian didiamkan sekali lagi rudal Hendi tersebut didalam liang itu, menunggu sebentar, sambil tangan Hendi mengelus elus pantat keras Vena."Vena sayang, masih sakitkah, aku tunggu sampai kamu siap menerimanya sayang.""Ya Mas Hendi, masih agak sakit, tapi kuusahakan sereleks mungkin," kata Vena sambil menggigil menahan antara gejolak asmaranya dan rasa sakit yang diterimanya.Setelah selang beberapa saat, dicoba digoyangkannya pantat Hendi maju mundur, kiri kanan dan memutar, dengan pelan, sambil terus Hendi mengelus pantat Vena, dengan sabar.Terdengar lenguhan dan rintihan Vena."Eechh, eesshhtt, eecchh""Vena, gimana, terasa enakan?""Bisa aku teruskan ya sayang, coba kamu konsentrasikan dulu.""Bayangkan kenikmatan dalam relung nikmatmu dengan geseka
Tak sabar Vena melihat pemandangan yang erotic itu, segera ia mendekat dan diterkamnya dengan dua tangannya rudal segar berkepala seperti jamur itu, tanpa menunggu perintah dari pemiliknya.Segera Vena mendaratkan bibir sensualnya pada kepala rudal Hendi yang sangat mengkilat dan membasah. Dicobanya dia mengecup lubang air seni dikepala rudal yang membasah itu dengan perasaan gemas, penuh birahi dan nafsunya yang sangat besar; magnit dan 'chemistry' dari badan Hendi pun menariknya, menaburkan cinta birahi menutup semua 'sense' yang ada di pribadinya.Mendengar sambutan desahan yang terjadi, dikuatkannya dirinya dan dijilatinya seluruh permukan rudal yang berurat kencang; erangan Hendi bertambah dengan getaran badannya, otomatis tangan Hendi membelai dan mengacak rambut Vena. Terasa olehnya semua simpul batang rudalnya dijamah, digelitiknya oleh lidah halus nakal kepunyaan Vena.Kembali Vena ke kepala rudal, dicobanya mengulum kepala yang besar, basah dan mengikat itu lalu dihisap-hisa
Dalam pelukan Hendi, Vena bagaikan dihadapkan oleh magnit bumi yang sangat besar sekali, ia menempelkan dirinya di dada Hendi pelahan-lahan direbahkannya tubuh Vena pada kasur.Emosinya telah terselubungi bara asmara, Vena pun pasrah, deburan darah dan detup jantungnya mengguncang tubuhnya yang sangat molek dan bergairah. Ditunggunya moment indah yang akan dirasakan bersama Hendi, seperti dalam gambaran benaknya.Gumaman dan desahan selama pagutan. Jelas getaran cinta yang dibawa Vena membuat Hendi semakin tergairah lagi ingin lebih melakukan langkahnya, menjelajahi badan mulus Vena. Dibukanya kancing depan blusenya yang menepel di badannya, dielusnya sembulan kenyal gunung kembar indah yang mencuat sebagian dari sarangnya warna pastel.Diangkatnya kepala Vena dan diletakkannya di pangkuannya, dirabanya halus buah dadanya; dengan mata sayu penuh nafsu, diangkatnya lagi lebih tinggi bahu dan kepala Vena dan disandarkanya pada lengan kirinya, jemari tangan kiri mengusap-usap lengan tang
Hendi berdiri di ambang pintu, mengenakan setelan kasual yang tetap memancarkan kelasnya. Pria itu memang memiliki aura yang tak jauh berbeda dengannya—tinggi, tampan, dengan garis wajah tegas khas keturunan Timur Tengah. Bedanya, Hendi memiliki sifat yang lebih stabil, lebih bisa diandalkan dalam jangka panjang. Dan itulah yang Jovan inginkan untuk Vena.“Lu datang tepat waktu,” ucap Jovan dengan nada ringan, menepuk bahu Hendi sebelum mempersilakannya masuk.Vena, yang sejak tadi duduk di sofa dengan perasaan tak menentu, mendongak begitu melihat pria asing masuk. Mata indahnya membulat, penuh tanda tanya.“Ini Hendi,” kata Jovan, mengisyaratkan pada pria itu untuk mendekat. “Dia lebih bisa diandalkan dibanding aku.”Vena masih terpaku, belum sepenuhnya menangkap maksud Jovan. “Maksudnya?”Jovan menatapnya dengan sorot yang sulit diartikan—ada ketulusan di sana, tapi juga sesuatu yang lain, sesuatu yang terasa seperti perpisahan.“Aku nggak bisa ada buatmu terus, Vena.” Suaranya ter
Jovan memarkirkan mobilnya di depan lobi hotel bintang lima dengan gerakan yang begitu mulus. Seorang bellboy segera menghampiri, membukakan pintu dengan penuh sopan santun. Vena turun dengan langkah ragu, matanya menelusuri kemegahan yang terpampang di hadapannya—lampu kristal raksasa bergelayut di langit-langit, lantai marmer yang berkilau seperti cermin, serta para tamu berpakaian glamor yang hilir mudik dengan penuh percaya diri.Jovan meliriknya, menangkap jelas ekspresi takjub sekaligus kikuk di wajah perempuan itu. Senyumnya terbit samar. "Jangan tegang, santai aja. Ini cuma hotel," katanya ringan, seolah tempat ini sama biasa baginya seperti warung kopi pinggir jalan.Vena menelan ludah. Baginya, ini lebih dari sekadar hotel—ini dunia lain. Dunia yang tidak pernah ia bayangkan akan dimasuki olehnya, apalagi dengan seorang lelaki seperti Jovan.Pak Arif benar, lelaki ini bukan orang sembarangan. Tapi siapa sebenarnya dia?Mereka berjalan melewati lobi, dan setiap langkah terasa
Jovan berdiri di depan rumah Pak Arif, jantungnya berdetak kencang. Lampu teras menyala redup, menyisakan bayangan samar di balik jendela. Sial. Gue beneran di sini.Pintu depan setengah terbuka, seperti sudah menunggunya.Dia melangkah masuk dengan ragu, melewati ruang tamu yang berbau kayu dan aroma teh hangat. Pak Arif duduk di kursinya, tersenyum tipis seakan sudah tahu Jovan bakal datang lagi.Jovan menghela napas panjang, menenangkan debaran di dadanya. Malam itu terasa begitu aneh, bukan hanya karena dia berdiri di depan rumah Pak Arif dengan perasaan yang bercampur aduk, tapi karena seluruh situasi ini seperti mimpi buruk yang sulit dipahami. Suara motor yang tadi membelah jalan kini senyap, meninggalkan hanya detak jantungnya yang menggema di telinga.Pak Arif masih duduk di kursinya, tersenyum tipis seolah sudah tahu apa yang akan terjadi. Ruangan itu terasa sempit, meski sebenarnya luas dan nyaman. Aroma teh hangat yang biasanya memberi rasa tenang kini terasa membebaninya.
Seminggu telah berlalu dalam kegaulan tingkat dewa.Jovan sedang nongkrong di atas motornya, tepat di depan sebuah mall yang masih ramai meski malam semakin larut. Jaket kulit hitamnya terbuka, memperlihatkan kaus putih polos yang membalut tubuh atletisnya. Sepasang mata tajamnya mengamati lalu lalang orang-orang, sebagian besar adalah pasangan atau geng anak muda yang asik bercanda.Sejumput asap rokok melayang dari bibirnya sebelum ia membuang puntungnya ke aspal dan menginjaknya dengan sepatu boots hitam. Motor sport yang ditungganginya berkilat di bawah lampu jalanan, menarik beberapa lirikan dari cewek-cewek yang lewat. Beberapa bahkan sengaja berjalan lebih lambat saat melewatinya, berharap ditoleh atau sekadar mendapat senyum dari pria yang wajahnya sekeras batu tapi pesonanya susah ditolak.Tapi malam ini, Jovan tidak sedang tertarik main mata. Kepalanya masih penuh dengan kejadian absurd beberapa jam lalu. Tawaran gila dari Pak Arif masih menggantung di pikirannya."Kenapa hi
Malam di Diskotik.Musik berdentum keras, menggetarkan lantai dengan irama bass yang menggila. Lampu-lampu strobo berkedip dalam warna merah, biru, dan ungu, menciptakan ilusi gerakan yang lebih liar dari kenyataan. Aroma parfum mahal bercampur alkohol memenuhi udara, melebur dengan tawa-tawa hingar-bingar dan obrolan setengah berteriak dari meja-meja VIP.Jovan duduk di salah satu sofa kulit berwarna hitam, minuman di tangannya hanya sekadar properti. Ia tidak benar-benar berniat menikmatinya. Di sekelilingnya, wanita-wanita kelas atas dengan gaun ketat yang memperlihatkan bahu atau belahan dada sibuk menari, tertawa, dan sesekali mencuri kesempatan untuk menyentuhnya."Jovan, sejak kapan lu jadi alim?" tanya seorang pria di sebelahnya, Reno, teman lamanya yang sudah terlalu akrab dengan dunia malam. "Dulu lu raja tempat ini, sekarang malah lebih banyak bengong."Jovan hanya menanggapi dengan senyum tipis.Seorang wanita dengan gaun merah darah mendekat, duduk tanpa diundang di pangk
Begitu ia melangkah ke dalam, suara batuk kecil menyambutnya. Pak Arif duduk di sofa dengan ekspresi yang sulit ditebak. Pria itu menatapnya dengan senyum tipis—sebuah senyum yang terasa… misterius."Ah, Mas Jovan," sapanya santai. "Saya tahu kamu pasti datang lagi."Jovan berusaha tetap tenang, meskipun perutnya terasa sedikit mual mengingat percakapan absurd mereka kemarin."Pak, saya cuma mampir sebentar," katanya, sengaja memperjelas bahwa ia tidak berencana berlama-lama.Tapi Pak Arif justru tersenyum lebih lebar. "Nggak usah buru-buru, Mas. Duduk dulu. Saya lagi pengin ngobrol."Jovan menekan dorongan untuk menghela napas keras. Vena, yang tampaknya tidak menyadari ketegangan aneh di antara mereka, langsung pergi ke dapur, meninggalkan dua pria itu dalam ruang tamu yang terasa semakin sesak.Pak Arif mendekat sedikit. Suaranya merendah, tapi penuh tekanan. "Jadi, Mas Jovan… sudah dipikirkan?"Jovan menutup mata sebentar. "Pak… saya nggak mau ngomongin itu lagi."Pak Arif hanya t