Jovan dan Bu Intan masih berdiri berhadapan ketika seorang pria berseragam panitia acara berjalan mendekat. Langkahnya tegap, ekspresinya penuh hormat. Sekilas, Bu Intan mengira pria itu akan menyapanya—bagaimanapun, ia istri seorang pejabat perkebunan besar.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Panitia itu berhenti tepat di hadapan Jovan, lalu sedikit membungkuk. “Maaf mengganggu, Pak Jovan Mahendra.”
Bu Intan sempat mengernyit. Sejak kapan Jovan dipanggil dengan begitu hormat?
Jovan mengangkat alis, tetapi tetap tenang. “Ada apa?”
“Semua petani pelopor yang mendapatkan penghargaan tingkat nasional diminta hadir di ruanga Bapak Benny Panjaitan.” Panitia itu melirik jam tangannya. “Beliau ingin bertemu langsung dengan Bapak dan dua penerima penghargaan lainnya.”
Bu Intan membeku.
Penerima penghargaan?
Tidak mungkin.
Dengan matanya sendiri, ia melihat bagaimana panitia acara ini memperlakukan Jovan dengan penuh rasa hormat, seolah pria itu seseorang yang penting. Bahkan diminta berbicara langsung dengan seorang Wakil Menteri Pertanian.
Jovan melirik Bu Intan, dan seulas senyum tipis terukir di bibirnya. Seolah ia tahu persis apa yang sedang dipikirkan wanita itu.
“Baik,” kata Jovan akhirnya, menatap panitia itu. “Saya ikut.”
Tanpa ragu, ia melangkah meninggalkan Bu Intan, berjalan dengan percaya diri mengikuti pria berseragam itu.
Bu Intan masih terpaku.
Ini tidak mungkin. Setahunya, penghargaan ini bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan status atau koneksi. Hanya mereka yang benar-benar berkontribusi besar dalam dunia pertanian yang bisa mendapatkannya. Dan hanya ada tiga orang di seluruh negeri yang menerimanya tahun ini.
Jovan adalah salah satunya.
Napas Bu Intan tersendat.
Tatapannya mengikuti langkah Jovan hingga pria itu menghilang di balik pintu.
Ada rasa bangga yang muncul di hatinya. Ada rasa kagum yang tak bisa ia cegah. Dan ada satu hal yang mulai merayapi pikirannya—sesuatu yang dulu ia anggap mustahil. Ia tidak ingin kehilangan Jovan untuk kedua kalinya.
Bu Intan kembali ke pesta, tetapi pikirannya jauh dari keriuhan malam itu. Tangannya meraih gelas sampanye di meja, tetapi ia hanya menggenggamnya tanpa benar-benar ingin menyesapnya. Sorot matanya gelisah, bergerak ke segala arah, mencari sosok yang baru saja menghilang dari pandangannya.
Jovan Mahenda.
Nama itu kini memenuhi pikirannya, lebih dari yang seharusnya.
Seorang kolega suaminya datang menghampiri, menyapa dengan sopan. Bu Intan tersenyum seperti biasa, anggun dan elegan, tetapi ada kekosongan di baliknya.
“Sendiri saja, Bu Intan?” pria itu bertanya.
“Oh, Pak Winata sedang ada urusan di luar kota,” jawabnya ringan.
Biasanya, ia bisa melanjutkan obrolan dengan mudah, membicarakan bisnis, investasi, atau sekadar berbasa-basi tentang tren sosialita. Namun, kali ini pikirannya terlalu penuh oleh Jovan.
Pandangannya kembali menyapu ruangan, menelusuri wajah-wajah yang berlalu-lalang. Berharap Jovan sudah kembali. Berharap bisa menangkap bayangannya di antara tamu-tamu terhormat.
Kekhawatiran mulai merayapi dadanya.
Bagaimana jika Jovan tidak kembali ke pesta ini?
Bagaimana jika ia memilih pulang setelah bertemu dengan Wakil Menteri?
Atau lebih buruk lagi—bagaimana jika Jovan semakin jauh dari jangkauannya?
Bu Intan mengeratkan genggamannya di gelas sampanye.
Tidak.
Ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
Ia sudah membuat kesalahan besar bertahun-tahun lalu dengan membiarkan pria itu pergi. Kali ini, ia akan memastikan Jovan kembali—dengan cara apa pun. Sebuah rencana mulai terbentuk di benaknya. Ia hanya perlu bersabar. Dan saat Jovan kembali ke pesta ini, ia akan memastikan pria itu tidak akan bisa menghindar darinya lagi.
Gemuruh pesta seakan mereda ketika pintu ruangan di ujung aula terbuka, menampilkan sosok Pak Benny Panjaitan dan istrinya yang melangkah keluar dengan anggun. Mengiringi mereka, tiga pria yang baru saja menerima penghargaan sebagai petani pelopor tingkat nasional, berjalan dengan penuh kebanggaan. Salah satunya adalah Jovan.
Bu Intan yang tengah berdiri di antara para tamu undangan merasakan detak jantungnya melonjak begitu sosok pria itu kembali dalam pandangannya. Namun, kali ini, Jovan tidak lagi seperti pria yang dulu ia usir dengan hinaan. Ia berdiri tegap, mengenakan setelan yang sama sekali tidak kalah berkelas dengan orang-orang penting di ruangan itu.
Langkahnya percaya diri, matanya bersinar tenang, bibirnya menyunggingkan senyum yang entah mengapa terasa semakin elegan.
Di sekeliling mereka, para tamu berdiri dengan sikap hormat. Tidak ada pernyataan resmi dari Pak Benny. Tidak ada pidato atau seremonial. Wakil Menteri itu memang hanya hadir untuk bertemu langsung dengan para pemenang, memberikan ucapan selamat secara pribadi, lalu melanjutkan perjalanannya.
Namun, momen singkat itu cukup untuk membuat semua orang di ruangan mengerti—tiga pria ini, termasuk Jovan, bukan orang sembarangan.
Bu Intan merasakan dadanya sesak oleh emosi yang sulit ia kendalikan. Dan yang paling mengganggunya adalah sesuatu yang lain yang lebih dalam dari sekadar kekaguman.
Ia ingin mendekat, ingin merasakan kembali kendali yang dulu pernah ia miliki atas pria itu. Namun, jarak antara mereka kini terasa lebih luas daripada yang pernah ia bayangkan.
Pak Winata, suaminya, bukan bagian dari lingkaran terdekat Pak Benny. Itu berarti, ia tak memiliki akses untuk sekadar menyalaminya, apalagi berfoto dan mengatakan kepada semua orang jika Jovan adalah menantunya. Tak ada celah untuk menyapa, tak ada kesempatan untuk sekadar menguji apakah pria itu masih bisa ia sentuh.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Bu Intan merasakan bagaimana rasanya tidak memiliki kuasa atas sesuatu yang begitu ia inginkan. Ternyata Jovan telah melangkah terlalu jauh. Dan ia... hanya bisa menyaksikan dari kejauhan.
Kilauan lampu kristal memantul di gelas-gelas sampanye, tetapi bagi Bu Intan, kemewahan pesta itu kini terasa tak lebih dari latar belakang yang samar. Hingga Jovan kembali ke dekatnya.
Sosok tegap itu melangkah mendekatinya, dengan ketenangan yang tak pernah sekalipun goyah sepanjang malam. Senyumnya hangat, matanya menatap lurus ke arahnya—seolah mengakui sesuatu yang selama ini hanya mereka berdua pahami.
“Bu Intan,” Jovan menundukkan sedikit kepalanya dengan hormat, tetapi ada sesuatu dalam suaranya yang tidak sepenuhnya tunduk. “Aku pamit pulang.”
Pulang?
Bu Intan hampir kehilangan kendali atas ekspresinya. Tidak, ia tidak akan membiarkan momen ini hilang begitu saja.
“Oh, begitu?” Ia mengangkat alis, suaranya tetap terdengar anggun meski dalam kepalanya sudah tersusun rencana lain. “Sayang sekali. Padahal pesta baru saja terasa lebih menarik.”
Jovan tersenyum kecil. “Saya rasa malam ini sudah cukup panjang.”
Namun, Bu Intan lebih cerdik. Ia berpaling sedikit, melirik ke arah seorang pria berseragam hitam di sudut ruangan. Sopirnya. Dengan isyarat halus dari ujung jarinya, ia memerintahkan pria itu untuk pergi lebih dulu. Seperti biasa.
Jovan memperhatikan pergerakan kecil itu dengan mata tajamnya, tetapi ia tidak berkata apa-apa.
“Sebenarnya aku juga akan pulang,” ujar Bu Intan kemudian, suaranya dibuat terdengar santai. “Tapi tampaknya aku kehilangan tumpangan.”
Jovan tidak bereaksi seketika. Ia membiarkan jeda menggantung di antara mereka, cukup lama untuk membuat Bu Intan merasa tertantang.
Lalu, dengan nada yang hampir terdengar main-main, ia berkata, “Jadi, aku harus mengantarmu?”
Bu Intan tersenyum, kemenangan tipis tergambar di wajahnya.
“Kalau tidak merepotkanmu.”
Jovan tertawa kecil, hampir terdengar seperti ejekan halus, tetapi ia mengangguk. “Tentu saja tidak. Akan menjadi kehormatan bagiku.”
Bu Intan melirik sekeliling ruangan, memastikan orang-orang memperhatikan. Ya, mereka melihat. Mereka berbisik. Biarkan mereka tahu. Malam ini, ia akan memastikan satu hal—Jovan bukan sekadar pria yang melintas dalam hidupnya. Ia adalah miliknya. Dan seluruh dunia harus tahu itu.
Bu Intan melangkah keluar dari aula dengan dagu terangkat tinggi, jemarinya menggamit lengan Jovan dengan begitu alami seolah itu adalah haknya. Aroma mahal dari parfum yang ia kenakan samar menguar di udara malam, berpadu dengan semilir angin yang membawa sisa-sisa kemeriahan pesta.
Para tamu yang masih berada di sekitar pintu keluar memperhatikan mereka dengan sorot penasaran, sebagian lainnya dengan bisikan lirih yang tak mampu mereka sembunyikan. Biarkan menikmatinya. Biarkan mereka semua melihat bagaimana Jovan kini berjalan di sisinya.
Saat Jovan mengantar Bu Intan ke mobilnya di parkiran, suasana pesta masih ramai. Namun, di sudut area parkir, tampak seorang pria mabuk yang sedang ribut dengan seorang tamu lain. Suaranya keras, penuh makian, dan gerak-geriknya semakin tak terkendali.
Beberapa petugas keamanan tampak ragu untuk bertindak, mungkin karena pria itu adalah seseorang yang berpengaruh. Para tamu yang berada di sekitar hanya memandang, tak ingin ikut campur.
Bu Intan yang sudah hampir masuk ke mobil sedikit terganggu dengan keributan itu. Namun, sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, Jovan sudah lebih dulu bergerak.
Dengan langkah santai tapi penuh wibawa, ia menghampiri pria tersebut.
"Ada masalah, Pak?" suara Jovan terdengar tenang, tapi tajam.
Pria itu menoleh dengan mata merah karena alkohol. "Bukan urusan lu!" bentaknya.
Jovan tidak bereaksi berlebihan. Ia hanya menatap pria itu, kemudian tersenyum tipis. "Santai, Pak. Bapak mau pulang atau mau ditertibkan?" Nada suaranya tidak mengancam, tapi penuh tekanan. Beberapa orang mulai memperhatikan.
"Lu mau ngajarin gue sopan santun, hah?" Pria itu maju selangkah, tapi sebelum sempat berbuat lebih jauh, dalam satu gerakan cepat, Jovan meraih pergelangan tangannya dan sedikit memutarnya ke belakang.
"Aduh! Sakit, brengsek!"
Jovan tidak menggunakan tenaga berlebihan, hanya cukup untuk menunjukkan siapa yang berkuasa dalam situasi itu. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga pria itu dan berbisik pelan, "Bapak bisa pulang dengan tenang, atau saya pastikan semua orang di sini tahu siapa yang bikin ribut dalam pesta orang penting."
Detik itu juga, pria itu langsung melemah. Napasnya memburu, tapi amarahnya surut. Ia tahu Jovan tidak main-main.
Beberapa tamu yang memperhatikan kejadian itu saling berbisik, sementara petugas keamanan yang tadi ragu-ragu kini sigap mengambil alih.
Bu Intan menyaksikan semua itu dengan mata berbinar. Ada sesuatu dalam cara Jovan menangani situasi yang membuatnya semakin terpesona. Ketika Jovan kembali mendekat, Bu Intan sudah menunggu dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Jovan menoleh ke arah seorang pria muda tegap, memakai kemeja dan jas semi formal elegan, yang berdiri tak jauh dari mobil hitam yang mengilap.
“Rizal,” panggilnya.
Lelaki itu segera mendekat, tubuhnya tampak semakin tegap, nyaris sebangun dengan postur Jovan.
“Tolong antar Bu Intan pulang lebih dulu.”
Sekilas, Bu Intan hampir kehilangan kendali atas ekspresinya.
Apa?
^*^
Bu Intan sudah membayangkan perjalanan ini akan berakhir dengan lebih dari sekadar obrolan basa-basi di dalam mobil. Ia sudah mengatur ritme, menciptakan atmosfer, dan kini Jovan begitu saja menyerahkannya pada seorang sopir?“Jovan…” Bu Intan mengerjap, nada suaranya tetap anggun, meski ada tekanan halus di dalamnya.Jovan tersenyum—terlalu manis, terlalu sopan, tapi juga terlalu tajam.“Ini sudah larut,” ujarnya lembut. “Aku tidak ingin kamu kelelahan.”Sebuah pukulan halus.Bu Intan bisa merasakan pandangan beberapa orang yang masih berdiri di sekeliling mereka. Seolah menunggu bagaimana ia akan merespons.Sekian detik, ia menatap Jovan, mencoba mencari celah. Tapi pria itu sudah terlalu jauh dari genggaman yang ia kira masih bisa ia kendalikan.Lalu, dengan anggun—seperti seorang ratu yang memilih menerima permainan ini—Bu Intan tersenyum kecil dan mengangguk.“Baiklah, kalau begitu,” katanya, sebelum melangkah menuju mobil dengan percaya diri, seolah semua masih berada dalam kend
Suasana siang terasa hangat di bawah rindangnya pepohonan di halaman belakang rumah Jovan. Suasana semakin hidup seiring aroma terong panggang yang menggoda tersebar, menggelitik indra penciuman para tamu.Meja panjang kayu rustic dipenuhi hidangan, sementara di depan panggangan, Jovan tampak sibuk dengan celemek hitam yang melingkar di pinggang, membolak-balik terong yang mulai matang.Di sekitarnya, ibu-ibu peserta pelatihan duduk santai sambil melemparkan godaan dan tawa riang. Melia, yang sejak tadi ikut bergabung, tak bisa menahan senyumnya.“Wah, Mas Jo ini selain jago bercocok tanam, ternyata jago masak juga, ya! Siapa nanti yang beruntung jadi pendampingnya?”Jovan hanya menoleh sambil tersenyum hangat, sembari mengipasi panggangan. "Wah, Bu Melia bisa saja. Yang penting, semua kebagian terong panggang spesial saya dulu, ya."Tawa dan sorakan pun memenuhi suasana, namun di balik keceriaan itu, Melia terdiam sejenak. Ia tak bisa mengelak dari perasaan aneh yang tiba-tiba menyer
Bu Intan duduk di ruang tengah rumahnya yang luas, tetapi terasa begitu sepi. Jemarinya mengetuk-ngetuk gelas jus jeruk di atas meja, sementara pikirannya melayang ke pertemuan dengan Jovan di gala dinner seminggu yang lalu.Pria itu… sudah jauh berbeda. Bukan lagi lelaki sederhana yang dulu ia hina habis-habisan, tetapi seorang miliarder yang tampil begitu berwibawa. Bu Intan sudah banyak mengumpulkan data dari beberapa koleganya. Sebagai istri pejabat di kementrian, tentu saja hal itu bukan perkara susah.Dan selama satu minggu ini, hatinya masih berdebar saat mengingat tatapan tajam Jovan, senyum miringnya, dan caranya menggoda seolah membalas semua perlakuan kejamnya dulu. Bu Intan tidak bisa menyangkal bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang bergelora.Rasa bersalah, penyesalan dan yang mendominasinya justru ketertarikan. Hasrat yang sudah lama dia kubur dalam-dalam, mulai kembali bangkit dan mengganggunya. Dan dengan keraguan, ia meraih ponselnya dan menekan nomor Tania, putrinya.B
Jovan masih duduk di dalam mobilnya, tangannya menggenggam kemudi dengan erat, matanya tak lepas dari sosok anggun di dalam restoran, mantan mertuanya.Sudah sejak tadi ia melihat Bu Intan, duduk sendirian, gelisah, sesekali melirik ponselnya, mungkin menunggu pesan darinya. Namun, hatinya masih diselimuti keraguan yang terlalu pekat.Lima tahun lalu, ia bukan siapa-siapa. Seorang pria dengan mimpi besar namun tanpa nama, tanpa harta. Dan Bu Intan—wanita yang kini tampak anggun dalam gaun marunnya—pernah menjadi bagian dari kepedihannya. Ia mengingat bagaimana ibu mertuanya, dengan wajah dingin dan lidah tajam, selalu merendahkannya di depan keluarganya sendiri.Kata-kata itu masih terpatri jelas dalam ingatannya, menghantam harga dirinya seperti badai. Penghinaan itu bukan sekadar luka biasa, tapi luka yang mencabik-cabik harga dirinya sebagai seorang suami sekaligus seorang ayah untuk dua anaknya.Dalam satu malam, ia kehilangan semuanya—istri yang ia cintai, kedua anaknya, bahkan h
Ketika mereka sampai di halaman rumah Bu Intan, wanita itu turun lebih dulu. Jovan mengikuti dengan santai, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, menatap rumah mewah yang pernah menjadi saksi penderitaannya lima tahun lalu."Kamu tidak harus masuk kalau tak ingin," kata Bu Intan lembut.Jovan tertawa kecil. "Aku justru ingin masuk."Bu Intan terdiam sejenak, lalu membalikkan badan, berjalan lebih dulu menuju pintu. Begitu mereka masuk, suasana rumah itu terasa terlalu tenang, terlalu luas untuk ditinggali seorang diri.Jovan menatap sekeliling. "Dulu, rumah ini terasa lebih ramai," katanya, nadanya terdengar lebih seperti sindiran.Bu Intan melangkah ke meja bar kecil di sudut ruangan, menuangkan dua gelas minuman, lalu menyerahkan salah satunya pada Jovan. "Sekarang hanya ada aku di sini," katanya pelan.Jovan menerima gelas itu, tetapi tidak langsung meminumnya. Ia justru melangkah lebih dekat, menatap Bu Intan dengan sorot mata yang sulit ditebak."Lalu, apa yang sebenarnya ka
Jovan masih menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Di balik kemudi, ia merogoh saku, mengambil rokok, lalu menyalakannya dengan gerakan santai. Asap tipis mengepul di udara malam yang mulai dingin.Rizal di kursi penumpang ikut terkekeh, menyalakan rokoknya sendiri. "Gila, Bang. Saya nunggu di ujung jalan sambil nahan ketawa. Udah bisa nebak endingnya."Jovan menghembuskan asap, lalu melirik Rizal dengan seringai nakal. "Endingnya bisa beda jauh kalau lu telat dua menit aja nelpon gue."Mereka kembali tertawa. Mobil melaju pelan menembus malam, melewati jalanan kota yang mulai lengang. Lampu-lampu jalan berpendar temaram, menciptakan bayangan panjang di trotoar."Tapi abang puas, kan?" Rizal kembali bertanya, kali ini dengan nada lebih serius.Jovan diam sejenak, pandangannya menerawang ke jalanan yang terbentang di depan. "Gue nggak tahu, Zal."Rizal melirik Jovan, penasaran dengan perubahan ekspresi bosnya.Jovan menghela napas, membuang sisa rokoknya keluar jendela. "Gue kira baka
Malam itu, sesuai petunjuk dari salah seorang ajudan Pak Sony, seorang pejabatn di Kementrian Pertanian Jovan tiba di sebuah vila yang berdiri megah di tengah alam. Kesepakatan rahasia yang sudah mereka putuskan saat gala diner seminggu yang lalu.Namanya ‘Vila Sony’, berupa rumah panggung yang elegan, memancarkan kesan mewah sekaligus alami. Dinding kayu jati tua yang mengilap oleh waktu berdiri kokoh di atas tiang-tiang setinggi satu meter, membawa kesan kekuatan dan keanggunan yang berpadu sempurna dengan suasana malam.Vila yang terletak di tengah alam terbuka itu seakan menjadi sebuah oase keindahan dan kedamaian. Meski tidak besar, bangunan ini memberikan kesan lapang dan terbuka. Dinding-dindingnya tidak penuh, hanya berupa pagar kayu setinggi lutut, yang memberi pandangan langsung ke luar, menyatu dengan alam di sekitarnya.Dari dalam, pandangan Jovan tertuju pada kolam ikan di depan vila, airnya berkilauan di bawah sinar bulan, menambah keindahan malam yang tenang. Ikan-ikan n
Suasana alami dan terbuka ini membuat semuanya terasa lebih bebas, lebih menggoda, seakan alam pun turut berkonspirasi menghadirkan suasana yang sempurna bagi mereka berdua.Saat Tante Sony kembali dengan teh hangat di tangannya, senyumnya semakin hangat.“Tehnya sudah siap, Jovan,” suara lembut Tante Sony menyusup tenang ke telinga Jovan, memecah lamunannya. Jovan tersenyum tipis, menyembunyikan rasa waspadanya di balik senyum ramah saat menerima cangkir teh hangat dari tangan sang nyonya.Dalam keheningan malam itu, hatinya tetap siaga—ia tahu, malam ini belum berakhir, dan percakapan hangat ini hanyalah pembuka dari sesuatu yang lebih dalam. Mereka terus ngobrol hangat dalam nuansa keakraban yang perlahan-lahan sudah mulai terjalin, tanpa harus membuka identitas masing-masing lebih jauh."Tante nggak kedinginan?" bisik Jovan perlahan, suaranya tenang, seperti menyatu dengan alunan malam di sekitarnya."Enggak," jawab Tante Sony, suaranya lebih lirih, nyaris berbisik. "Ada kamu yang
Begitu terasa bahwa liang relung kenikmatan Vena mau menerima kehadiaran rudal Hendi, tiba-tiba Hendi menghentakkan lagi rudalnya dengan sekali hentakah dan bleess, masuklah semua batang rudal Hendi keliang relung kenikmatan Vena; kemudian didiamkan sekali lagi rudal Hendi tersebut didalam liang itu, menunggu sebentar, sambil tangan Hendi mengelus elus pantat keras Vena."Vena sayang, masih sakitkah, aku tunggu sampai kamu siap menerimanya sayang.""Ya Mas Hendi, masih agak sakit, tapi kuusahakan sereleks mungkin," kata Vena sambil menggigil menahan antara gejolak asmaranya dan rasa sakit yang diterimanya.Setelah selang beberapa saat, dicoba digoyangkannya pantat Hendi maju mundur, kiri kanan dan memutar, dengan pelan, sambil terus Hendi mengelus pantat Vena, dengan sabar.Terdengar lenguhan dan rintihan Vena."Eechh, eesshhtt, eecchh""Vena, gimana, terasa enakan?""Bisa aku teruskan ya sayang, coba kamu konsentrasikan dulu.""Bayangkan kenikmatan dalam relung nikmatmu dengan geseka
Tak sabar Vena melihat pemandangan yang erotic itu, segera ia mendekat dan diterkamnya dengan dua tangannya rudal segar berkepala seperti jamur itu, tanpa menunggu perintah dari pemiliknya.Segera Vena mendaratkan bibir sensualnya pada kepala rudal Hendi yang sangat mengkilat dan membasah. Dicobanya dia mengecup lubang air seni dikepala rudal yang membasah itu dengan perasaan gemas, penuh birahi dan nafsunya yang sangat besar; magnit dan 'chemistry' dari badan Hendi pun menariknya, menaburkan cinta birahi menutup semua 'sense' yang ada di pribadinya.Mendengar sambutan desahan yang terjadi, dikuatkannya dirinya dan dijilatinya seluruh permukan rudal yang berurat kencang; erangan Hendi bertambah dengan getaran badannya, otomatis tangan Hendi membelai dan mengacak rambut Vena. Terasa olehnya semua simpul batang rudalnya dijamah, digelitiknya oleh lidah halus nakal kepunyaan Vena.Kembali Vena ke kepala rudal, dicobanya mengulum kepala yang besar, basah dan mengikat itu lalu dihisap-hisa
Dalam pelukan Hendi, Vena bagaikan dihadapkan oleh magnit bumi yang sangat besar sekali, ia menempelkan dirinya di dada Hendi pelahan-lahan direbahkannya tubuh Vena pada kasur.Emosinya telah terselubungi bara asmara, Vena pun pasrah, deburan darah dan detup jantungnya mengguncang tubuhnya yang sangat molek dan bergairah. Ditunggunya moment indah yang akan dirasakan bersama Hendi, seperti dalam gambaran benaknya.Gumaman dan desahan selama pagutan. Jelas getaran cinta yang dibawa Vena membuat Hendi semakin tergairah lagi ingin lebih melakukan langkahnya, menjelajahi badan mulus Vena. Dibukanya kancing depan blusenya yang menepel di badannya, dielusnya sembulan kenyal gunung kembar indah yang mencuat sebagian dari sarangnya warna pastel.Diangkatnya kepala Vena dan diletakkannya di pangkuannya, dirabanya halus buah dadanya; dengan mata sayu penuh nafsu, diangkatnya lagi lebih tinggi bahu dan kepala Vena dan disandarkanya pada lengan kirinya, jemari tangan kiri mengusap-usap lengan tang
Hendi berdiri di ambang pintu, mengenakan setelan kasual yang tetap memancarkan kelasnya. Pria itu memang memiliki aura yang tak jauh berbeda dengannya—tinggi, tampan, dengan garis wajah tegas khas keturunan Timur Tengah. Bedanya, Hendi memiliki sifat yang lebih stabil, lebih bisa diandalkan dalam jangka panjang. Dan itulah yang Jovan inginkan untuk Vena.“Lu datang tepat waktu,” ucap Jovan dengan nada ringan, menepuk bahu Hendi sebelum mempersilakannya masuk.Vena, yang sejak tadi duduk di sofa dengan perasaan tak menentu, mendongak begitu melihat pria asing masuk. Mata indahnya membulat, penuh tanda tanya.“Ini Hendi,” kata Jovan, mengisyaratkan pada pria itu untuk mendekat. “Dia lebih bisa diandalkan dibanding aku.”Vena masih terpaku, belum sepenuhnya menangkap maksud Jovan. “Maksudnya?”Jovan menatapnya dengan sorot yang sulit diartikan—ada ketulusan di sana, tapi juga sesuatu yang lain, sesuatu yang terasa seperti perpisahan.“Aku nggak bisa ada buatmu terus, Vena.” Suaranya ter
Jovan memarkirkan mobilnya di depan lobi hotel bintang lima dengan gerakan yang begitu mulus. Seorang bellboy segera menghampiri, membukakan pintu dengan penuh sopan santun. Vena turun dengan langkah ragu, matanya menelusuri kemegahan yang terpampang di hadapannya—lampu kristal raksasa bergelayut di langit-langit, lantai marmer yang berkilau seperti cermin, serta para tamu berpakaian glamor yang hilir mudik dengan penuh percaya diri.Jovan meliriknya, menangkap jelas ekspresi takjub sekaligus kikuk di wajah perempuan itu. Senyumnya terbit samar. "Jangan tegang, santai aja. Ini cuma hotel," katanya ringan, seolah tempat ini sama biasa baginya seperti warung kopi pinggir jalan.Vena menelan ludah. Baginya, ini lebih dari sekadar hotel—ini dunia lain. Dunia yang tidak pernah ia bayangkan akan dimasuki olehnya, apalagi dengan seorang lelaki seperti Jovan.Pak Arif benar, lelaki ini bukan orang sembarangan. Tapi siapa sebenarnya dia?Mereka berjalan melewati lobi, dan setiap langkah terasa
Jovan berdiri di depan rumah Pak Arif, jantungnya berdetak kencang. Lampu teras menyala redup, menyisakan bayangan samar di balik jendela. Sial. Gue beneran di sini.Pintu depan setengah terbuka, seperti sudah menunggunya.Dia melangkah masuk dengan ragu, melewati ruang tamu yang berbau kayu dan aroma teh hangat. Pak Arif duduk di kursinya, tersenyum tipis seakan sudah tahu Jovan bakal datang lagi.Jovan menghela napas panjang, menenangkan debaran di dadanya. Malam itu terasa begitu aneh, bukan hanya karena dia berdiri di depan rumah Pak Arif dengan perasaan yang bercampur aduk, tapi karena seluruh situasi ini seperti mimpi buruk yang sulit dipahami. Suara motor yang tadi membelah jalan kini senyap, meninggalkan hanya detak jantungnya yang menggema di telinga.Pak Arif masih duduk di kursinya, tersenyum tipis seolah sudah tahu apa yang akan terjadi. Ruangan itu terasa sempit, meski sebenarnya luas dan nyaman. Aroma teh hangat yang biasanya memberi rasa tenang kini terasa membebaninya.
Seminggu telah berlalu dalam kegaulan tingkat dewa.Jovan sedang nongkrong di atas motornya, tepat di depan sebuah mall yang masih ramai meski malam semakin larut. Jaket kulit hitamnya terbuka, memperlihatkan kaus putih polos yang membalut tubuh atletisnya. Sepasang mata tajamnya mengamati lalu lalang orang-orang, sebagian besar adalah pasangan atau geng anak muda yang asik bercanda.Sejumput asap rokok melayang dari bibirnya sebelum ia membuang puntungnya ke aspal dan menginjaknya dengan sepatu boots hitam. Motor sport yang ditungganginya berkilat di bawah lampu jalanan, menarik beberapa lirikan dari cewek-cewek yang lewat. Beberapa bahkan sengaja berjalan lebih lambat saat melewatinya, berharap ditoleh atau sekadar mendapat senyum dari pria yang wajahnya sekeras batu tapi pesonanya susah ditolak.Tapi malam ini, Jovan tidak sedang tertarik main mata. Kepalanya masih penuh dengan kejadian absurd beberapa jam lalu. Tawaran gila dari Pak Arif masih menggantung di pikirannya."Kenapa hi
Malam di Diskotik.Musik berdentum keras, menggetarkan lantai dengan irama bass yang menggila. Lampu-lampu strobo berkedip dalam warna merah, biru, dan ungu, menciptakan ilusi gerakan yang lebih liar dari kenyataan. Aroma parfum mahal bercampur alkohol memenuhi udara, melebur dengan tawa-tawa hingar-bingar dan obrolan setengah berteriak dari meja-meja VIP.Jovan duduk di salah satu sofa kulit berwarna hitam, minuman di tangannya hanya sekadar properti. Ia tidak benar-benar berniat menikmatinya. Di sekelilingnya, wanita-wanita kelas atas dengan gaun ketat yang memperlihatkan bahu atau belahan dada sibuk menari, tertawa, dan sesekali mencuri kesempatan untuk menyentuhnya."Jovan, sejak kapan lu jadi alim?" tanya seorang pria di sebelahnya, Reno, teman lamanya yang sudah terlalu akrab dengan dunia malam. "Dulu lu raja tempat ini, sekarang malah lebih banyak bengong."Jovan hanya menanggapi dengan senyum tipis.Seorang wanita dengan gaun merah darah mendekat, duduk tanpa diundang di pangk
Begitu ia melangkah ke dalam, suara batuk kecil menyambutnya. Pak Arif duduk di sofa dengan ekspresi yang sulit ditebak. Pria itu menatapnya dengan senyum tipis—sebuah senyum yang terasa… misterius."Ah, Mas Jovan," sapanya santai. "Saya tahu kamu pasti datang lagi."Jovan berusaha tetap tenang, meskipun perutnya terasa sedikit mual mengingat percakapan absurd mereka kemarin."Pak, saya cuma mampir sebentar," katanya, sengaja memperjelas bahwa ia tidak berencana berlama-lama.Tapi Pak Arif justru tersenyum lebih lebar. "Nggak usah buru-buru, Mas. Duduk dulu. Saya lagi pengin ngobrol."Jovan menekan dorongan untuk menghela napas keras. Vena, yang tampaknya tidak menyadari ketegangan aneh di antara mereka, langsung pergi ke dapur, meninggalkan dua pria itu dalam ruang tamu yang terasa semakin sesak.Pak Arif mendekat sedikit. Suaranya merendah, tapi penuh tekanan. "Jadi, Mas Jovan… sudah dipikirkan?"Jovan menutup mata sebentar. "Pak… saya nggak mau ngomongin itu lagi."Pak Arif hanya t