Share

Hanya Sebatas Ibu Susu
Hanya Sebatas Ibu Susu
Author: Nelangsa

Bab 1. Kesedihan

Author: Nelangsa
last update Last Updated: 2025-02-07 16:35:28

Rania tersadar dari obat bius pasca operasi Caesar. Matanya mengerjap memandangi ruangan yang serba putih dengan bau obat yang menyengat. Rania menahan rasa sakit di area perutnya dan matanya menoleh ke sekeliling ruangan yang sepi, tidak ada seorang pun menemaninya di ruangan ini. Ia ingin bertanya tentang kondisi bayinya, yang harus dilahirkan sebelum waktunya akibat ia terjatuh dari tangga rumahnya.

Tak lama terdengar pintu ruangan Rania terbuka, muncullah seorang pria dengan wajah kusut bersama wanita paruh baya dengan wajah angkuh.

Rania tersenyum melihat kedatangan sang suami, "Mas... Bagaimana anak kita?" lirih Rania saat bertemu tatap dengan wajah sedih Andi. 

Suasana hening sesaat, Andi tampak menarik nafas dengan berat dan mengeluarkan secara perlahan.

“Mas…dia baik-baik saja kan.” ucap Rania kembali, saat Andi tidak menjawab pertanyaannya.

"Dia... dia tidak selamat." Andi menjawab dengan suara bergetar.

"APA, MAS?" Pekik Rania, ia spontan bangun dan mengabaikan nyeri perut bekas jahitan operasi yang baru beberapa jam ia dapatkan, "Kamu bercanda kan, Mas!" seru Rania kembali.

Andi hanya mampu menggelengkan kepala, wajahnya langsung memerah menahan rasa sedih dihatinya.

"Ma, Anak kami masih hidup kan Ma. Mas Andi berbohong kan Ma," Rania meminta penjelasan pada Mertuanya yang berada di sebelah sang suami dengan kedua tangan melipat.

"Untuk apa suami kamu berbohong. Gak ada untungnya Andi berbohong. Anak kamu sudah mati, kamu yang telah membunuhnya. Kamu sudah berjanji pada kami buat menjaga anak itu. Tapi apa? Kamu melahirkan sebelum waktunya sehingga bayi kamu tidak bisa diselamatkan," sarkas Mama Asnah kecewa. Sejak awal menikah Asnah memang tidak menyukai Rania, segala cara Asnah lakukan agar Andi tidak menikahi Rania, namun Andi mengancam akan keluar dari rumah sehingga Asnah terpaksa merestui pernikahan mereka.

"Tapi... Mas, Ma. Sebelum aku tidak sadarkan diri, aku mendengar tangisan bayi, gak mungkin bayi kita meninggal Mas," ucap Rania dengan berlinang air mata. Ia yakin betul sebelum ia kehilangan kesadaran, ia sempat mendengar tangisan seorang bayi yang begitu nyaring.

"Kamu... benar. Bayi itu menangis tapi setelah berselang beberapa jam dia tidak bisa diselamatkan," jawab Andi dengan getir.

Rania menatap wajah Andi untuk mencari kebohongan di matanya namun yang Rania tangkap sebuah kesedihan dan kekecewaan. Tubuh Rania seketika tak bertulang, Rania hanya mampu menahan rasa sesak di dadanya, menerima kenyataan bahwa ia kehilangan bayinya tanpa melihat wajahnya.

"Dan... kedatangan aku kesini. Ingin mengatakan sesuatu," kata Andi agak ragu-ragu. Sebenarnya Andi tidak tega melihat Rania yang masih sakit dan berkabung, namun desakan sang Mama membuat Andi harus menuruti apa yang sang Mama perintahkan.

"Buruan bilang Andi. Mama gak mau berlama-lama disini," desak Mama Asnah, tangannya menutup hidung seakan tidak tahan mencium bau obat di ruangan.

Rania mengusap air matanya yang mengalir dengan deras, ada sesuatu yang ingin suaminya katakan dan membuat jantung Rania berdebar-debar takut sesuatu yang buruk kembali terjadi.

“Kamu mau ngomong apa, Mas?”

"Aku ingin, kita bercerai," kata Andi dengan datar tanpa menatap Rania.

Rania menatap Andi dengan pandangan kosong, seperti tidak percaya apa yang baru saja didengarnya. "Cerai?" ulang Rania dengan suara tercekat, seperti tidak ingin percaya bahwa suaminya benar-benar ingin meninggalkannya.

Andi tidak menatap Rania, ia hanya menunduk dan mengangguk. "Ya, aku ingin kita cerai. Aku tidak bisa lagi hidup denganmu setelah apa yang terjadi pada bayi kita."

Rania merasa seperti ditusuk oleh pisau yang tajam. Ia tidak percaya bahwa suaminya ingin bercerai padanya hanya karena bayi yang ia kandung meninggal.

“Mas, apa salah aku?" tanya Rania dengan suara yang bergetar.

Andi tidak menjawab, ia hanya berdiri dan berjalan menuju pintu. "Aku akan mengurus semuanya, kamu tidak perlu khawatir," kata Andi sebelum keluar dari ruangan. 

“Mas…tunggu. Jangan pergi dulu Mas. Kita harus bicara dulu, Mas.” mohon Rania saat melihat punggung Andi berlalu dari balik pintu. Ucapan Rania seolah angin lalu bagi Andi dan Mama Asnah yang masih berdiri hanya menatap dengan tatapan mencemooh.

"Kamu tahu sendiri bahwa Andi sangat menginginkan anak untuk mempertahankan posisinya dalam perusahaan. Tapi sekarang, karena kelalaian kamu, semuanya menjadi tidak pasti dan nasib Andi di perusahaan akan terancam,” ucap Mama Asnah dengan penuh amarah.

Rania merasa seperti ditusuk oleh pisau yang tajam. Ia tidak percaya bahwa Mama Asnah bisa begitu kejam dan menuduhnya seperti itu. "Tapi, Ma. Ini semua bukan keinginan aku," ucap Rania dengan suara yang bergetar. "Aku juga tidak ingin anakku meninggal. Kalau disuruh memilih biar aku aja yang mati daripada anakku, Ma.” lirih Rania dengan air mata mengalir di pipi mulusnya.

“Ya benar. Lebih baik kamu saja yang mati tapi sayangnya kamu masih diberi kehidupan.” jawab Mama Asnah sambil menatap sinis Rania yang tampak terpuruk.

“Kalau saja kamu lebih berhati-hati saat menuruni tangga semua ini tidak akan terjadi. Kamu harus bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi. Dasar istri tidak berguna. Dari awal kalian menikah Mama sudah mempunyai firasat kalau kamu itu menyusahkan hidup Andi saja. Padahal Andi sudah mengorbankan jabatannya demi menikahi kamu dan Andi akan mendapat jabatannya kembali jika memiliki anak. Tapi sekarang apa? Semuanya gagal karena kecerobohan kamu.” hina Mama Asnah tampak mempedulikan perasaan sang menantu, Mama Asnah terus membuat Rania semakin merasa bersalah.

“Tapi…Ma. Kami bisa memiliki bayi lagi setelah luka bekas operasi ini sembuh. Aku janji akan menjaganya dengan hati-hati.” sahut Rania.

Mama Asnah tersenyum sinis, “tapi sayangnya, Dokter mengatakan akan sangat sulit buat kamu hamil kembali makanya Andi menceraikan kamu.”

“APA?” Rania terkejut mendengar kata-kata Mama Asnah. Ia merasa seperti tersambar petir oleh kata-kata Mama Asnah yang menyakitkan.

Related chapters

  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 2. Andai saja

    Rania terguncang oleh kata-kata Mama Asnah. Ia merasa tidak berdaya, seperti telah kehilangan semua harapan. Ia dinyatakan sulit memiliki bayi dalam waktu dekat. Jika saja ia lebih berhati-hati saat menuruni tangga, mungkin ia tidak akan terjatuh dan kehilangan bayinya.Saat itu, Rania diminta Mama Asnah untuk berbelanja karena esok akan ada tamu yang berkunjung ke rumah. Rania tidak melihat genangan air di anak tangga, sehingga membuatnya terpeleset. Ia harus kehilangan bayinya dan juga akan diceraikan oleh Andi.Airmata Rania mengalir terus, membuat kedua matanya sembab. Ia mengabaikan rasa sakit bekas operasi di perutnya. Wajahnya semakin pucat karena sejak siuman, Rania tidak menyentuh setetes air maupun makanan. Setelah mengatakan bahwa Rania akan sulit melahirkan, Mama Asnah langsung keluar dari ruangan, membiarkan Rania dengan perasaan porak poranda. Apalagi kata-kata terakhir Mama Asnah yang mengatakan bahwa tamu yang akan hadir esok adalah calon istri Andi."Aku harus berbic

    Last Updated : 2025-02-12
  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 3. Tangisan Bayi

    Rafa memandang bayinya dengan penuh cinta dan kasih sayang, yang saat ini sedang terlelap di inkubator. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika bayinya tidak bisa mendapatkan ASI eksklusif. Ia tahu bahwa ASI sangat penting untuk kesehatan dan perkembangan bayi.Rafa memutuskan untuk berbicara dengan Marissa tentang hal ini. Ia ingin membujuknya agar mau memberikan ASI kepada bayi mereka. Rafa tahu bahwa Marissa telah memberikan syarat agar ia tidak menyusui anaknya, tapi ia berharap bahwa Marissa bisa memahami pentingnya ASI untuk bayi mereka.Rafa mendekati Marissa yang masih terbaring di tempat tidur. Ia memandangnya dengan penuh kasih sayang dan berbicara dengan lembut."Sayang, aku tahu kamu masih lelah dan sakit, tapi aku ingin berbicara dengan kamu tentang sesuatu yang sangat penting," kata Rafa.Marissa membuka matanya dan memandang Rafa dengan sinis. "Apa itu?" tanyanya dengan nada yang tidak ramah."Aku ingin berbicara tentang ASI," kata Rafa. "Aku tahu kamu telah memberika

    Last Updated : 2025-02-14
  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 4. Bayi Tampan

    “Mah, ada apa ini?” tanya Rafa pada sang Mama yang sedang menenangkan bayinya.“Dia haus, Rafa. Tadi perawat membawanya kemari agar Marissa bisa menyusui, perawat sudah mencoba memberikan susu tapi dia menolak.” jawab Mama Vina sambil menimang-nimang bayi tersebut agar berhenti menangis, namun bayi tersebut semakin kencang menangis membuat Mama Vina kewalahan.“Marissa kemana, Ma?” tanya Rafa, namun Mama Vina hanya diam seakan enggan menjawab. Rafa pun mencari keberadaan Marissa yang tidak ada di tempat tidurnya, tampak selang infus sudah dibuka, Rafa berpikir Marissa ada di dalam kamar mandi karena kamar mandi tertutup. Ia pun mencoba mengetuk pintu kamar mandi namun mendengar ucapan Mama Vina membuat Rafa tertegun.“Marissa sudah pergi, tadi asistennya datang.” Ada nada kesal yang Mama Vina ucapkan.“Apa, Ma? Marissa sudah pergi.” Rafa mengulang ucapan sang Mama seakan tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.“Benar, Rafa. Istri kamu sudah pergi, katanya tadi sudah hubungi k

    Last Updated : 2025-02-18
  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 4. Darah Segar

    Hati Rania sedikit terobati dengan kehadiran bayi tampan yang belum diberi nama oleh kedua orangtuanya, sepertinya mereka mengalami masalah, tampak dari tidak ada nya sang ibu kandung disisi bayi tersebut. Selesai menyusui bayi tampan tersebut, Rania kembali ke kamarnya setelah dipastikan bayi tersebut sudah kenyang dan tertidur lelap. Rania pun memompa ASInya dan memberikan pada Mama Vina untuk diberikan pada bayi tersebut jika kembali rewel. Mama Vina tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih karena Rania membantu menenangkan cucunya yang rewel.Rania hendak beristirahat setelah selesai memompa ASInya yang melimpah, ia dikejutkan oleh kedatangan suaminya. Namun kali ini sang suami datang sendiri tanpa ditemani Mamanya. “Mas…!” seru Rania dengan dahi bertaut, “apa yang kamu bawa, Mas?” Rania bertanya pada Andi yang membawa koper besar di sampingnya.Andi meletakan koper tersebut di dekat lemari, “ini baju-baju kamu, semua sudah Mama masuki kedalam. Jadi kamu tidak perlu kembali k

    Last Updated : 2025-02-21
  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 6 . Kecemasan Rafa

    Rafa yang diminta oleh Mama Vina untuk mengucapkan terima kasih pada wanita yang telah menenangkan bayinya, dikejutkan dengan pemandangan yang membuatnya spontan langsung menghampiri Rania.“Hei…apa yang kamu lakukan? Apa kamu sudah tidak waras..hah!” bentak Rafa dengan geram. Rafa langsung mengambil pisau yang berada di tangan Rania dan membuangnya jauh ke lantai. Untung saja Rafa datang tepat waktu sehingga tangan Rania hanya tergores sedikit.Rania tersentak kaget saat tangan Rafa merebut pisau yang digenggamnya, tubuhnya yang lemah tidak bisa melawan saat Rafa mencegahnya untuk menyayatkan pisau tersebut ke tangannya.“Kamu siapa!” Rania menatap tajam pada Rafa yang berdiri di depannya, “Kamu tidak berhak melarangku, biarkan aku mati, aku ingin menyusul anakku. Aku kehilangan anakku, dan suamiku menceraikanku, untuk apa aku hidup lagi, hidupku sudah tidak berguna lagi. Bahkan suamiku langsung menikah lagi padahal perceraian kami belum ada 1 x 24 jam.” teriak Rania dengan histeris,

    Last Updated : 2025-02-22
  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 7. Pulang

    Mama Vina masih tidak mengerti maksud ucapan Rafa yang tidak mengizinkan Farrel minum ASI Rania.“Rafa, ada apa? Kenapa kamu tidak mengizinkan Rania untuk memberikan ASI nya?” tanya Mama Vina.“Farrel punya ibu, Ma. Nanti Rafa akan bujuk kembali Melisa di rumah. Sekarang Mama bereskan saja barang-barang Melisa dan Farrel.” pinta Rafa yang sambil menenangkan Farrel yang rewel. Ia enggan bercerita tentang Rania pada Mamanya.Melihat wajah Rafa yang datar membuat Mama Vina terdiam, Mama Vina tidak berani bertanya lagi kenapa Rafa tidak mengizinkan Farrel meminum ASI dari Rania. Mama Vina pun mulai membereskan barang-barang.Sore ini Rafa akan membawa pulang bayinya, sedangkan Melisa sudah tidak lagi kembali ke rumah sakit sejak hari itu. Rafa sudah menghubungi Melisa yang katanya sedang melakukan pekerjaan yang sudah ditandatangani dan tidak bisa ditunda. Rafa ingin marah pada Melisa namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.Namun kali ini Rafa tidak bisa mentolerir sikap Melisa yang meningga

    Last Updated : 2025-02-25
  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 8. Di Jambret

    Rania kaget saat tiba-tiba ada sepeda motor menghimpitnya dan langsung menjambret tas selempangnya. Rania bermaksud mempertahankan tasnya karena isi dalam tas tersebut uang pemberian Andi. Terjadi tarik-menarik antara Rania dan pemuda yang duduk di belakang sepeda motor tersebut.“Lepaskan, jangan ambil tas saya.” Teriak Rania berusaha mempertahankan tasnya. Namun kondisi Rania yang lemah membuat Rania terlepas saat laki-laki yang tertutup oleh helm tersebut menarik dengan kuat tas Rania.“Tolong…Jambret…”teriak Rania saat orang tersebut berhasil mengambil tas miliknya. Namun sayang teriak Rania seakan sia-sia karena penjambret tersebut berhasil melarikan diri. Rania hendak mengejar sepeda motor tersebut namun tiba-tiba sebuah mobil hampir menyerempet Rania. Rania terduduk di aspal sambil meringis menahan sakit di kakinya. Untung saya sopir mobil tersebut mengerem mendadak.Di dalam mobil, wanita cantik yang sedang melakukan panggilan telepon dikejutkan karena mobil yang tiba-tiba ber

    Last Updated : 2025-02-26

Latest chapter

  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 8. Di Jambret

    Rania kaget saat tiba-tiba ada sepeda motor menghimpitnya dan langsung menjambret tas selempangnya. Rania bermaksud mempertahankan tasnya karena isi dalam tas tersebut uang pemberian Andi. Terjadi tarik-menarik antara Rania dan pemuda yang duduk di belakang sepeda motor tersebut.“Lepaskan, jangan ambil tas saya.” Teriak Rania berusaha mempertahankan tasnya. Namun kondisi Rania yang lemah membuat Rania terlepas saat laki-laki yang tertutup oleh helm tersebut menarik dengan kuat tas Rania.“Tolong…Jambret…”teriak Rania saat orang tersebut berhasil mengambil tas miliknya. Namun sayang teriak Rania seakan sia-sia karena penjambret tersebut berhasil melarikan diri. Rania hendak mengejar sepeda motor tersebut namun tiba-tiba sebuah mobil hampir menyerempet Rania. Rania terduduk di aspal sambil meringis menahan sakit di kakinya. Untung saya sopir mobil tersebut mengerem mendadak.Di dalam mobil, wanita cantik yang sedang melakukan panggilan telepon dikejutkan karena mobil yang tiba-tiba ber

  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 7. Pulang

    Mama Vina masih tidak mengerti maksud ucapan Rafa yang tidak mengizinkan Farrel minum ASI Rania.“Rafa, ada apa? Kenapa kamu tidak mengizinkan Rania untuk memberikan ASI nya?” tanya Mama Vina.“Farrel punya ibu, Ma. Nanti Rafa akan bujuk kembali Melisa di rumah. Sekarang Mama bereskan saja barang-barang Melisa dan Farrel.” pinta Rafa yang sambil menenangkan Farrel yang rewel. Ia enggan bercerita tentang Rania pada Mamanya.Melihat wajah Rafa yang datar membuat Mama Vina terdiam, Mama Vina tidak berani bertanya lagi kenapa Rafa tidak mengizinkan Farrel meminum ASI dari Rania. Mama Vina pun mulai membereskan barang-barang.Sore ini Rafa akan membawa pulang bayinya, sedangkan Melisa sudah tidak lagi kembali ke rumah sakit sejak hari itu. Rafa sudah menghubungi Melisa yang katanya sedang melakukan pekerjaan yang sudah ditandatangani dan tidak bisa ditunda. Rafa ingin marah pada Melisa namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.Namun kali ini Rafa tidak bisa mentolerir sikap Melisa yang meningga

  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 6 . Kecemasan Rafa

    Rafa yang diminta oleh Mama Vina untuk mengucapkan terima kasih pada wanita yang telah menenangkan bayinya, dikejutkan dengan pemandangan yang membuatnya spontan langsung menghampiri Rania.“Hei…apa yang kamu lakukan? Apa kamu sudah tidak waras..hah!” bentak Rafa dengan geram. Rafa langsung mengambil pisau yang berada di tangan Rania dan membuangnya jauh ke lantai. Untung saja Rafa datang tepat waktu sehingga tangan Rania hanya tergores sedikit.Rania tersentak kaget saat tangan Rafa merebut pisau yang digenggamnya, tubuhnya yang lemah tidak bisa melawan saat Rafa mencegahnya untuk menyayatkan pisau tersebut ke tangannya.“Kamu siapa!” Rania menatap tajam pada Rafa yang berdiri di depannya, “Kamu tidak berhak melarangku, biarkan aku mati, aku ingin menyusul anakku. Aku kehilangan anakku, dan suamiku menceraikanku, untuk apa aku hidup lagi, hidupku sudah tidak berguna lagi. Bahkan suamiku langsung menikah lagi padahal perceraian kami belum ada 1 x 24 jam.” teriak Rania dengan histeris,

  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 4. Darah Segar

    Hati Rania sedikit terobati dengan kehadiran bayi tampan yang belum diberi nama oleh kedua orangtuanya, sepertinya mereka mengalami masalah, tampak dari tidak ada nya sang ibu kandung disisi bayi tersebut. Selesai menyusui bayi tampan tersebut, Rania kembali ke kamarnya setelah dipastikan bayi tersebut sudah kenyang dan tertidur lelap. Rania pun memompa ASInya dan memberikan pada Mama Vina untuk diberikan pada bayi tersebut jika kembali rewel. Mama Vina tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih karena Rania membantu menenangkan cucunya yang rewel.Rania hendak beristirahat setelah selesai memompa ASInya yang melimpah, ia dikejutkan oleh kedatangan suaminya. Namun kali ini sang suami datang sendiri tanpa ditemani Mamanya. “Mas…!” seru Rania dengan dahi bertaut, “apa yang kamu bawa, Mas?” Rania bertanya pada Andi yang membawa koper besar di sampingnya.Andi meletakan koper tersebut di dekat lemari, “ini baju-baju kamu, semua sudah Mama masuki kedalam. Jadi kamu tidak perlu kembali k

  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 4. Bayi Tampan

    “Mah, ada apa ini?” tanya Rafa pada sang Mama yang sedang menenangkan bayinya.“Dia haus, Rafa. Tadi perawat membawanya kemari agar Marissa bisa menyusui, perawat sudah mencoba memberikan susu tapi dia menolak.” jawab Mama Vina sambil menimang-nimang bayi tersebut agar berhenti menangis, namun bayi tersebut semakin kencang menangis membuat Mama Vina kewalahan.“Marissa kemana, Ma?” tanya Rafa, namun Mama Vina hanya diam seakan enggan menjawab. Rafa pun mencari keberadaan Marissa yang tidak ada di tempat tidurnya, tampak selang infus sudah dibuka, Rafa berpikir Marissa ada di dalam kamar mandi karena kamar mandi tertutup. Ia pun mencoba mengetuk pintu kamar mandi namun mendengar ucapan Mama Vina membuat Rafa tertegun.“Marissa sudah pergi, tadi asistennya datang.” Ada nada kesal yang Mama Vina ucapkan.“Apa, Ma? Marissa sudah pergi.” Rafa mengulang ucapan sang Mama seakan tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.“Benar, Rafa. Istri kamu sudah pergi, katanya tadi sudah hubungi k

  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 3. Tangisan Bayi

    Rafa memandang bayinya dengan penuh cinta dan kasih sayang, yang saat ini sedang terlelap di inkubator. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika bayinya tidak bisa mendapatkan ASI eksklusif. Ia tahu bahwa ASI sangat penting untuk kesehatan dan perkembangan bayi.Rafa memutuskan untuk berbicara dengan Marissa tentang hal ini. Ia ingin membujuknya agar mau memberikan ASI kepada bayi mereka. Rafa tahu bahwa Marissa telah memberikan syarat agar ia tidak menyusui anaknya, tapi ia berharap bahwa Marissa bisa memahami pentingnya ASI untuk bayi mereka.Rafa mendekati Marissa yang masih terbaring di tempat tidur. Ia memandangnya dengan penuh kasih sayang dan berbicara dengan lembut."Sayang, aku tahu kamu masih lelah dan sakit, tapi aku ingin berbicara dengan kamu tentang sesuatu yang sangat penting," kata Rafa.Marissa membuka matanya dan memandang Rafa dengan sinis. "Apa itu?" tanyanya dengan nada yang tidak ramah."Aku ingin berbicara tentang ASI," kata Rafa. "Aku tahu kamu telah memberika

  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 2. Andai saja

    Rania terguncang oleh kata-kata Mama Asnah. Ia merasa tidak berdaya, seperti telah kehilangan semua harapan. Ia dinyatakan sulit memiliki bayi dalam waktu dekat. Jika saja ia lebih berhati-hati saat menuruni tangga, mungkin ia tidak akan terjatuh dan kehilangan bayinya.Saat itu, Rania diminta Mama Asnah untuk berbelanja karena esok akan ada tamu yang berkunjung ke rumah. Rania tidak melihat genangan air di anak tangga, sehingga membuatnya terpeleset. Ia harus kehilangan bayinya dan juga akan diceraikan oleh Andi.Airmata Rania mengalir terus, membuat kedua matanya sembab. Ia mengabaikan rasa sakit bekas operasi di perutnya. Wajahnya semakin pucat karena sejak siuman, Rania tidak menyentuh setetes air maupun makanan. Setelah mengatakan bahwa Rania akan sulit melahirkan, Mama Asnah langsung keluar dari ruangan, membiarkan Rania dengan perasaan porak poranda. Apalagi kata-kata terakhir Mama Asnah yang mengatakan bahwa tamu yang akan hadir esok adalah calon istri Andi."Aku harus berbic

  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 1. Kesedihan

    Rania tersadar dari obat bius pasca operasi Caesar. Matanya mengerjap memandangi ruangan yang serba putih dengan bau obat yang menyengat. Rania menahan rasa sakit di area perutnya dan matanya menoleh ke sekeliling ruangan yang sepi, tidak ada seorang pun menemaninya di ruangan ini. Ia ingin bertanya tentang kondisi bayinya, yang harus dilahirkan sebelum waktunya akibat ia terjatuh dari tangga rumahnya.Tak lama terdengar pintu ruangan Rania terbuka, muncullah seorang pria dengan wajah kusut bersama wanita paruh baya dengan wajah angkuh.Rania tersenyum melihat kedatangan sang suami, "Mas... Bagaimana anak kita?" lirih Rania saat bertemu tatap dengan wajah sedih Andi. Suasana hening sesaat, Andi tampak menarik nafas dengan berat dan mengeluarkan secara perlahan.“Mas…dia baik-baik saja kan.” ucap Rania kembali, saat Andi tidak menjawab pertanyaannya."Dia... dia tidak selamat." Andi menjawab dengan suara bergetar."APA, MAS?" Pekik Rania, ia spontan bangun dan mengabaikan nyeri perut

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status