Share

Bab 18. Kisah Rafa

Penulis: Nelangsa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-18 21:52:30
Setelah memberikan ponsel ke Rania, Rafa berlalu meninggalkan Rania yang masih berdiam diri di depan pintu. Rania menatap paper bag yang ada di tangannya dengan rasa penasaran. Alangkah terkejutnya saat melihat isi dalamnya, sebuah ponsel dengan logo apel tergigit yang sangat mewah.

Rania tidak pernah menyangka bisa memiliki ponsel seperti itu. Selama menjadi istri Andi, Rania tidak pernah mengganti ponsel. Ponsel yang ia miliki saat itu adalah ponsel yang ia gunakan saat masih gadis dan belum menikah dengan Andi. Makanya ada rasa sedih saat ponsel itu hilang, karena banyak foto kenangan di dalam galeri tersebut.

Rania merasa bahwa ponsel ini sangat berlebihan. Ia tidak tahu mengapa Rafa memberikan ponsel mewah seperti itu kepadanya, mungkin Rafa ingin ia memberitahu keadaan Rafa setiap hari, sungguh beruntung Farrel memiliki seorang papa seperti Rafa.

Di ruang tamu, Mama Vina dan Rafa sedang duduk santai berdua sambil menikmati secangkir teh hangat. Rafa meneguknya secara perlah
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 19 . Rasa Rindu

    Rafa tertegun menatap penampilan Marissa, ia berpikir Marissa masih terlelap di kamarnya karena sewaktu Rafa meninggalkan kamar, Marissa masih berada di tempat tidur. Makanya Rafa tidak mengganggu tidurnya, Rafa pikir Marissa butuh istirahat tapi apa yang ia lihat di depan matanya sungguh diluar dugaan.Marissa sudah tampak cantik dengan gaun yang digunakan, make up yang sudah menghiasi wajahnya, seolah-olah akan ada pemotretan malam ini juga, penampilannya sangat mencolok untuk hanya sekedar keluar malam. Rafa pun penasaran sehingga ia bertanya pada Marissa yang saat ini masih berdiri di hadapannya. “Kamu mau kemana? Ini sudah malam.” Rafa berkata dengan nada lembut cenderung tegas, Rafa tidak mau ia kembali dikuasai emosi dengan sikap Marissa yang semakin hari membuatnya kesal. “Lola ngajak bertemu, mas. Pihak agensi meminta aku mengatur jadwal ulang pemotretan karena tadi pagi aku batalkan sepihak.” jawab Marissa apa adanya, memang ia ingin bertemu Lola tapi bukan untuk membahas

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-27
  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 1. Kesedihan

    Rania tersadar dari obat bius pasca operasi Caesar. Matanya mengerjap memandangi ruangan yang serba putih dengan bau obat yang menyengat. Rania menahan rasa sakit di area perutnya dan matanya menoleh ke sekeliling ruangan yang sepi, tidak ada seorang pun menemaninya di ruangan ini. Ia ingin bertanya tentang kondisi bayinya, yang harus dilahirkan sebelum waktunya akibat ia terjatuh dari tangga rumahnya.Tak lama terdengar pintu ruangan Rania terbuka, muncullah seorang pria dengan wajah kusut bersama wanita paruh baya dengan wajah angkuh.Rania tersenyum melihat kedatangan sang suami, "Mas... Bagaimana anak kita?" lirih Rania saat bertemu tatap dengan wajah sedih Andi. Suasana hening sesaat, Andi tampak menarik nafas dengan berat dan mengeluarkan secara perlahan.“Mas…dia baik-baik saja kan.” ucap Rania kembali, saat Andi tidak menjawab pertanyaannya."Dia... dia tidak selamat." Andi menjawab dengan suara bergetar."APA, MAS?" Pekik Rania, ia spontan bangun dan mengabaikan nyeri perut

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-07
  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 2. Andai saja

    Rania terguncang oleh kata-kata Mama Asnah. Ia merasa tidak berdaya, seperti telah kehilangan semua harapan. Ia dinyatakan sulit memiliki bayi dalam waktu dekat. Jika saja ia lebih berhati-hati saat menuruni tangga, mungkin ia tidak akan terjatuh dan kehilangan bayinya.Saat itu, Rania diminta Mama Asnah untuk berbelanja karena esok akan ada tamu yang berkunjung ke rumah. Rania tidak melihat genangan air di anak tangga, sehingga membuatnya terpeleset. Ia harus kehilangan bayinya dan juga akan diceraikan oleh Andi.Airmata Rania mengalir terus, membuat kedua matanya sembab. Ia mengabaikan rasa sakit bekas operasi di perutnya. Wajahnya semakin pucat karena sejak siuman, Rania tidak menyentuh setetes air maupun makanan. Setelah mengatakan bahwa Rania akan sulit melahirkan, Mama Asnah langsung keluar dari ruangan, membiarkan Rania dengan perasaan porak poranda. Apalagi kata-kata terakhir Mama Asnah yang mengatakan bahwa tamu yang akan hadir esok adalah calon istri Andi."Aku harus berbic

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-12
  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 3. Tangisan Bayi

    Rafa memandang bayinya dengan penuh cinta dan kasih sayang, yang saat ini sedang terlelap di inkubator. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika bayinya tidak bisa mendapatkan ASI eksklusif. Ia tahu bahwa ASI sangat penting untuk kesehatan dan perkembangan bayi.Rafa memutuskan untuk berbicara dengan Marissa tentang hal ini. Ia ingin membujuknya agar mau memberikan ASI kepada bayi mereka. Rafa tahu bahwa Marissa telah memberikan syarat agar ia tidak menyusui anaknya, tapi ia berharap bahwa Marissa bisa memahami pentingnya ASI untuk bayi mereka.Rafa mendekati Marissa yang masih terbaring di tempat tidur. Ia memandangnya dengan penuh kasih sayang dan berbicara dengan lembut."Sayang, aku tahu kamu masih lelah dan sakit, tapi aku ingin berbicara dengan kamu tentang sesuatu yang sangat penting," kata Rafa.Marissa membuka matanya dan memandang Rafa dengan sinis. "Apa itu?" tanyanya dengan nada yang tidak ramah."Aku ingin berbicara tentang ASI," kata Rafa. "Aku tahu kamu telah memberika

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-14
  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 4. Bayi Tampan

    “Mah, ada apa ini?” tanya Rafa pada sang Mama yang sedang menenangkan bayinya.“Dia haus, Rafa. Tadi perawat membawanya kemari agar Marissa bisa menyusui, perawat sudah mencoba memberikan susu tapi dia menolak.” jawab Mama Vina sambil menimang-nimang bayi tersebut agar berhenti menangis, namun bayi tersebut semakin kencang menangis membuat Mama Vina kewalahan.“Marissa kemana, Ma?” tanya Rafa, namun Mama Vina hanya diam seakan enggan menjawab. Rafa pun mencari keberadaan Marissa yang tidak ada di tempat tidurnya, tampak selang infus sudah dibuka, Rafa berpikir Marissa ada di dalam kamar mandi karena kamar mandi tertutup. Ia pun mencoba mengetuk pintu kamar mandi namun mendengar ucapan Mama Vina membuat Rafa tertegun.“Marissa sudah pergi, tadi asistennya datang.” Ada nada kesal yang Mama Vina ucapkan.“Apa, Ma? Marissa sudah pergi.” Rafa mengulang ucapan sang Mama seakan tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.“Benar, Rafa. Istri kamu sudah pergi, katanya tadi sudah hubungi k

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-18
  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 4. Darah Segar

    Hati Rania sedikit terobati dengan kehadiran bayi tampan yang belum diberi nama oleh kedua orangtuanya, sepertinya mereka mengalami masalah, tampak dari tidak ada nya sang ibu kandung disisi bayi tersebut. Selesai menyusui bayi tampan tersebut, Rania kembali ke kamarnya setelah dipastikan bayi tersebut sudah kenyang dan tertidur lelap. Rania pun memompa ASInya dan memberikan pada Mama Vina untuk diberikan pada bayi tersebut jika kembali rewel. Mama Vina tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih karena Rania membantu menenangkan cucunya yang rewel.Rania hendak beristirahat setelah selesai memompa ASInya yang melimpah, ia dikejutkan oleh kedatangan suaminya. Namun kali ini sang suami datang sendiri tanpa ditemani Mamanya. “Mas…!” seru Rania dengan dahi bertaut, “apa yang kamu bawa, Mas?” Rania bertanya pada Andi yang membawa koper besar di sampingnya.Andi meletakan koper tersebut di dekat lemari, “ini baju-baju kamu, semua sudah Mama masuki kedalam. Jadi kamu tidak perlu kembali k

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-21
  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 6 . Kecemasan Rafa

    Rafa yang diminta oleh Mama Vina untuk mengucapkan terima kasih pada wanita yang telah menenangkan bayinya, dikejutkan dengan pemandangan yang membuatnya spontan langsung menghampiri Rania. “Hei…apa yang kamu lakukan? Apa kamu sudah tidak waras..hah!” bentak Rafa dengan geram. Rafa langsung mengambil pisau yang berada di tangan Rania dan membuangnya jauh ke lantai. Untung saja Rafa datang tepat waktu sehingga tangan Rania hanya tergores sedikit. Rania tersentak kaget saat tangan Rafa merebut pisau yang digenggamnya, tubuhnya yang lemah tidak bisa melawan saat Rafa mencegahnya untuk menyayatkan pisau tersebut ke tangannya. “Kamu siapa!” Rania menatap tajam pada Rafa yang berdiri di depannya, “Kamu tidak berhak melarangku, biarkan aku mati, aku ingin menyusul anakku. Aku kehilangan anakku, dan suamiku menceraikanku, untuk apa aku hidup lagi, hidupku sudah tidak berguna lagi. Bahkan suamiku langsung menikah lagi padahal perceraian kami belum ada 1 x 24 jam.” teriak Rania dengan hist

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-22
  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 7. Pulang

    Mama Vina masih tidak mengerti maksud ucapan Rafa yang tidak mengizinkan Farrel minum ASI Rania. “Rafa, ada apa? Kenapa kamu tidak mengizinkan Rania untuk memberikan ASI nya?” tanya Mama Vina. “Farrel punya ibu, Ma. Nanti Rafa akan bujuk kembali Marissa di rumah. Sekarang Mama bereskan saja barang-barang Marissa dan Farrel.” pinta Rafa yang sambil menenangkan Farrel yang rewel. Ia enggan bercerita tentang Rania pada Mamanya. Melihat wajah Rafa yang datar membuat Mama Vina terdiam, Mama Vina tidak berani bertanya lagi kenapa Rafa tidak mengizinkan Farrel meminum ASI dari Rania. Mama Vina pun mulai membereskan barang-barang. Sore ini Rafa akan membawa pulang bayinya, sedangkan Marissa sudah tidak lagi kembali ke rumah sakit sejak hari itu. Rafa sudah menghubungi Marissa yang katanya sedang melakukan pekerjaan yang sudah ditandatangani dan tidak bisa ditunda. Rafa ingin marah pada Marissa namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Namun kali ini Rafa tidak bisa mentolerir sikap Mariss

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-25

Bab terbaru

  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 19 . Rasa Rindu

    Rafa tertegun menatap penampilan Marissa, ia berpikir Marissa masih terlelap di kamarnya karena sewaktu Rafa meninggalkan kamar, Marissa masih berada di tempat tidur. Makanya Rafa tidak mengganggu tidurnya, Rafa pikir Marissa butuh istirahat tapi apa yang ia lihat di depan matanya sungguh diluar dugaan.Marissa sudah tampak cantik dengan gaun yang digunakan, make up yang sudah menghiasi wajahnya, seolah-olah akan ada pemotretan malam ini juga, penampilannya sangat mencolok untuk hanya sekedar keluar malam. Rafa pun penasaran sehingga ia bertanya pada Marissa yang saat ini masih berdiri di hadapannya. “Kamu mau kemana? Ini sudah malam.” Rafa berkata dengan nada lembut cenderung tegas, Rafa tidak mau ia kembali dikuasai emosi dengan sikap Marissa yang semakin hari membuatnya kesal. “Lola ngajak bertemu, mas. Pihak agensi meminta aku mengatur jadwal ulang pemotretan karena tadi pagi aku batalkan sepihak.” jawab Marissa apa adanya, memang ia ingin bertemu Lola tapi bukan untuk membahas

  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 18. Kisah Rafa

    Setelah memberikan ponsel ke Rania, Rafa berlalu meninggalkan Rania yang masih berdiam diri di depan pintu. Rania menatap paper bag yang ada di tangannya dengan rasa penasaran. Alangkah terkejutnya saat melihat isi dalamnya, sebuah ponsel dengan logo apel tergigit yang sangat mewah. Rania tidak pernah menyangka bisa memiliki ponsel seperti itu. Selama menjadi istri Andi, Rania tidak pernah mengganti ponsel. Ponsel yang ia miliki saat itu adalah ponsel yang ia gunakan saat masih gadis dan belum menikah dengan Andi. Makanya ada rasa sedih saat ponsel itu hilang, karena banyak foto kenangan di dalam galeri tersebut. Rania merasa bahwa ponsel ini sangat berlebihan. Ia tidak tahu mengapa Rafa memberikan ponsel mewah seperti itu kepadanya, mungkin Rafa ingin ia memberitahu keadaan Rafa setiap hari, sungguh beruntung Farrel memiliki seorang papa seperti Rafa. Di ruang tamu, Mama Vina dan Rafa sedang duduk santai berdua sambil menikmati secangkir teh hangat. Rafa meneguknya secara perlah

  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 17. Ponsel

    “Belikan aku ponsel,” kata Rafa, dengan wajah datarnya.“Ponsel? Ponsel kamu rusak? Tapi bukankah tadi baik-baik saja. Masa secepat itu langsung rusak.” kata Ben, lagi-lagi Ben dibuat bingung dengan Rafa, tadi Ben disuruh mencari informasi mengenai Rania dan sekarang Ben disuruh beli Ponsel, sedangkan yang Ben lihat, Ponsel Rafa baik-baik saja.“Ben, bisa tidak apa yang aku suruh jangan banyak tanya, lakukan saja apa yang aku suruh. Buruan belikan, nanti aku transfer lebih ke rekening kamu.” jawab Rafa yang mulai kesal karena Ben banyak bertanya.“Tapi….”“Ingat, Ben. Ini masih jam kerja,” seru rafa dan membuat Ben tidak melanjutkan ucapannya.“Maaf, Tuan. Permisi !” Tanpa bertanya lebih lanjut kagi, Ben keluar dari ruangan rafa dengan seribu tanda tanya menyangkut di pikirannya.Rafa menarik nafas dalam-dalam dan keluarkan secara kasar, “apa aku terlalu berlebihan, memberikannya ponsel. Tapi ponsel itu penting untuk aku bertanya tentang keadaan Rafa. Sepertinya itu wajar saja.” gumam

  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 16. informasi

    Sesampainya di kantor, Rafa duduk bersandar di kursi kebesarannya, sambil memijat kepalanya yang sedikit berdenyut. Ia memikirkan sikap kekanakan Marissa, yang tidak mau menyusui Farrel dan lebih memilih pekerjaannya sebagai model. Rafa merasa kecewa dan kehilangan harapan bahwa Marissa akan berubah setelah memiliki anak.Di sela-sela memikirkan Marissa, terbesit bayangan wajah memprihatinkan Rania. Rafa ingat bahwa ia ingin tahu tentang kehidupan Rania, mengapa suaminya tega menceraikannya saat ia kehilangan anaknya. Rafa penasaran tentang apa yang terjadi pada Rania sehingga ia tidak memiliki apa-apa, bahkan tempat tinggal pun tidak ada.Rafa mengambil ponselnya dan menghubungi Ben. Tidak butuh waktu lama, terdengar suara Ben. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" ucap Ben dengan hormat dan sopan.Rafa meminta Ben untuk mencari informasi tentang Rania. "Ben, tolong kami cari tahu tentang Rania."Ben terdengar bingung, "Siapa? Rania?"Rafa tersenyum, ia baru sadar bahwa Ben tidak mengeta

  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 5. Sarapan Sendiri lagi.

    Dengan perasaan kesal dan marah yang masih membara dalam hatinya, Rafa menuruni anak tangga dengan langkah yang berat. Ia ingin melewatkan sarapan pagi ini, tapi mengingat yang memasak adalah sang Mama, ia menjadi tidak tega. Mama Vina sudah berbaik hati membuat sarapan untuknya, dan Rafa tahu bahwa Mama Vina selalu memasak makanan kesukaannya saat berkunjung ke rumah.Rafa menarik nafasnya dengan berat dan menghembuskan secara perlahan, berusaha untuk menenangkan dirinya. Ia duduk di meja makan dengan penuh makanan sendirian, seperti biasa. Ada istri seperti tidak ada istri, tidak pernah menemaninya sarapan. Mbok Sri yang melihat Rafa duduk sendirian di meja makan segera menghampirinya, menuangkan teh hangat di gelas kosong sebelah piring Rafa."Makasih, Mbok," ucap Rafa sopan, walau hatinya masih kesal. Tapi Rafa tidak pernah melampiaskan kekesalannya pada orang lain."Iya, Tuan. Permisi Tuan," Mbok Sri izin pamit kembali ke dapur, namun langkahnya terhenti saat Rafa memanggilnya ke

  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 14. Tidak ada jiwa keibuan.

    Sarapan yang disiapkan Mama Vina sudah tersedia di meja dengan menu nasi goreng seafood, kerupuk dan teh hangat. Rania yang keras kepala akhirnya ikut membantu menyiapkan sarapan. Mama Vina menuju wastafel untuk mencuci tangan sebelum ke kamar Farrel. "Nak, kamu makanlah duluan. Biar Mama panggil Marissa dan Rafa." Kata Mama Vina, setelah selesai mencuci tangan dan membuka apron yang dikenakan lalu di masukan ke keranjang kotor. "Oh ya, kamu jangan makan nasi goreng. Itu ada nasi putih, tempe bacem dan sayur katuk. Makanan tersebut bagus untuk ASI dan pemulihan kamu." lanjut Mama Vina mengingatkan Rania. Karena melahirkan secara operasi tidak baik makan nasi goreng. "Baik, bu. terima kasih." ucap Rania dengan menahan air matanya karena terharu, oleh perhatian Mama Vina."Ya sudah. Mama ke atas dulu."Mama Vina meninggalkan Rania yang masih di dapur dengan perasaan senang diperhatikan oleh Mama Vina, Rania yang memang sudah lapar segera mengambil nasi dan lauknya, lantas ia duduk di

  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 13. Marissa tidak mau.

    Dengan terpaksa Marissa menuju kamar Farrel, saat sampai. Marissa melihat Rania sedang menimang Farrel sambil bershalawat. “Apakah dia tidur?” Marissa bertanya dengan nada yang sedikit ketus. Suara Marissa membuat Rania terkejut, “Tidak, Bu.” jawabnya dengan sedikit canggung. “Ya sudah kamu taruh saja di box nya. Biar Farrel saya yang jaga.”“Baik, Bu.”Rania segera meletakan Farrel dibox ranjang setelah memastikan Farrel sudah tenang, “Mbak, keluar dulu ya sayang. Farrel sama Mama ya.” gumam Rania, mata Farrel menatap Rania dengan polos.“Permisi, Bu.”“Hmmmm… “ gumam Marissa sambil duduk bersandar di ranjang tempat Mama Vina tidur. Marissa hanya melihat sekilas Farrel yang tampak tenang, lalu ia membuka ponsel, membalas pesan yang masuk dan scroll sosmed. Marissa hanya menjaga tanpa berinteraksi dengan Farrel. Rania yang tidak tahu mengerjakan apa lagi dirumah ini, menuju dapur hendak membantu pelayan di rumah ini membuat sarapan. Namun di dapur ia bertemu dengan Mama Vina. “Ad

  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 12. Marissa Berbohong

    Rania segera membuka pintu dengan lebar dan melangkahkan kakinya dengan cepat ke ranjang Farrel, ia langsung membuka selimut yang menutupi wajah Farrel, mungkin tangan Farrel yang bergerak lincah membuat selimut yang ada di badannya berpindah ke wajahnya. Jantung Rania seakan mau copot melihat pemandangan barusan. Kalau saja ia tadi langsung ke dapur dan tidak mendengar tangisan Farrel entah apa yang akan terjadi pada Farrel. Rania menoleh ke sisi ranjang dimana Mama Vina masih tertidur dengan pulas, “mungkin Ibu sangat lelah sampai tidak mendengar Farrel menangis.”Farrel kembali rewel dan Rania mencoba menenangkannya dengan mengayun-ayunkan tangannya. Namun Farrel tetap gelisah.“Cup…cup…cup…Farrel haus ya. Mau mimik cucu ya. Sabar ya. Tante periksa popok Farrel dulu,” Rania menimang Farrel dengan lembut, kemudian memeriksa popoknya yang kelihatan penuh “Kita ganti popoknya dulu ya sayang, abis tu Farrel baru mimik.” kata Rania sambil meletakan kembali keranjang, ternyata Farrel p

  • Hanya Sebatas Ibu Susu   Bab 11. Tangisan Farrel

    Gelapnya malam membuat jalan yang Rafa lintas meluncur dengan mulus. Rafa menyetir dengan satu tangan dan tangan yang lain memijat keningnya yang terasa pusing. Memikirkan Marissa yang enggan merawat anaknya, terbesit di dalam hatinya apa anak itu benar anaknya. Mengingat kerjaan Marissa yang sering tidak pulang. Menurut orang suruhan Rafa yang memantau Marissa bekerja, sikap Marissa tidak ada yang mencurigakan. Namun wajah Farrel yang mirip dengannya saat kecil, membuktikan bahwa Farrel memang anak kandungnya dan kecurigaan Rafa itu tidak benar. Mobil yang dikendarai Rafa sampai di sebuah cafe yang biasa Rafa dan sahabatnya berkumpul. Sebelumnya Rafa sudah mengirim pesan pada mereka untuk segera meluncur ke cafe. Dan benar saja, tampak di kejauhan, Ben dan Agung sudah sampai. “Wah…lihat itu, yang menyuruh kita kemari malah baru datang.” omel Ben, yang melihat kedatangan Rafa. Rafa segera duduk tanpa mau menanggapi ucapan Ben. Ben dan Agung saling melirik karena sikap Rafa yang t

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status