Share

Gadis Kampung Itu, Istriku!
Gadis Kampung Itu, Istriku!
Author: Pena_Receh01

BAB 1

Author: Pena_Receh01
last update Last Updated: 2024-10-08 12:06:37

“Ini semua salahmu! Harusnya anakku tidak menikahimu, agar dia bisa bersama Nona Bai, dari pada sama kamu yang asal usulnya gak jelas,” sungut sang Ibu mertua.

Hawa di dapur terasa panas, semakin pengap oleh amarah Silvana yang menggelegak. Gaia, berusaha menyibukkan diri dengan menggosok piring, tak menghiraukan omelan mertuanya. Karena kesal Silvana menarik bahu sang menantu membuat tubuh gadis tersebut terhuyung. Gelas di tangan istri Xavier terlepas, meluncur dan menabrak lantai.

“Kamu apa-apaan sih! Disuruh cuci piring aja tidak beres banget,” maki Silvana.

Gaia hanya terdiam, ia berusaha bertahan demi sang suami. Sedangkan sang mertua geram karena perempuan yang dia maki sama sekali tak bereaksi, dengan gerakkan cepat mengambil pecahan gelas lalu menggores ke lengan.

“Arghh … sakit! Gaia, kamu menyakitiku,” pekik wanita tersebut.

Mata Gaia membulat sempurna, syok dengan apa dilakukan Ibu mertua. Silvana sungguh diluar dugaan perempuan itu, dia berani menyakiti diri sendiri hanya untuk menyudutkan istri Xavier. Jeritan wanita tersebut menggema, membuat ayah mertuanya berlari mendekat lalu dengan hati-hati memegang lengan sang istri dengan mata terpaku pada darah menetes dari pergelangan kekasihnya.

“Apa yang terjadi? Kenapa kamu terluka,” ucap lelaki itu dengan nada khawatir.

Suami perempuan itu segera menarik lengan Silvana dengan lembut lalu menghidupkan kran untuk membasuh luka.

“Menantumu itu melukaiku, Sayang. Padahal aku hanya mengatakan kenyataan, kalau dia gak menikah dengan putra kita pasti Xavier sudah menikah dengan Nona Bai,” seru wanita tersebut.

Pria bermarga Li ini hanya melirik sinis Gaia yang menundukkan kepala, lalu tak berselang lama suami menantu keluarga ini mendekat dan berdiri di samping sang kekasih.

“Ada apa ini, Ayah, Mama?” tanya Xavier.

Dia memandang sang istri dengan tatapan heran lalu menatap ayahnya yang sibuk memperlakukan Silvana penuh rasa hati-hati dalam tindakan.

“Tanyakan pada istrimu sendiri, dia sangat mengecewakanku,” lontar lelaki bermarga Li ini.

Li Jian-long segera mengajak sang istri untuk pergi dari sini, sedangkan Xavier langsung mengalihkan pandangan pada Gaia. Perempuan berumur dua puluh tiga tahun ini memilih berjongkok dan merapikan pecahan gelas.

“Apa yang sebenarnya terjadi saat aku gak berada di sini, Gaia?” tanya Xavier memandang sang istri yang sibuk memungut pecahan gelas.

Gaia tidak menjawab wanita itu mengusap air mata yang jatuh, melihat gerakkan tersebut Xavier segera berjongkok. Dia segera memegang bahu istrinya agar mereka saling bertatapan.

“Ada apa sebenarnya, Gaia? Tolong ceritakan, jangan membuat aku kebingungan, bagaimana aku tau kalau cuma melihatmu begini,” seru lelaki dengan tinggi tubuh seratus delapan puluh tiga centimeter ini.

Bibir Gaia berkedut lalu langsung berhamburan memeluk Xavier, ia menangis tersedu-sedu.

“Tenanglah, Sayang … sebenarnya ada apa? Kenapa kamu menangis? Kenapa ayah seperti kecewa sama kamu,” lontar Xavier.

Perempuan ini hanya menggelengkan kepala, membuat Xavier langsung menggendong Gaia lalu mendudukkan ke party dan mengusap air mata sang istri.

“Diamlah dulu di sini, aku bersihkan pecahan gelas dulu, takut kamu terluka,” ucap lelaki ini.

Gaia hendak melarang tetapi dia langsung bungkam kala sang suami mengecup bibirnya, ia akhirnya memilih menunduk lalu mengulum senyum. Xavier yang melihat tingkah perempuan itu hanya tersenyum, dia segera merapikan pecahan gelas lalu membuang ke tempat aman.

“Sudah, ayo kita pergi tidur! Ini sudah malam,” ajak sang suami.

Istri lelaki itu mengangguk sebagai jawaban untuk suaminya, lalu mengulurkan tangan drngan gaya manja dan segera disambut Xavier.

“Dasar pendek.” ledek Xavier dengan nada menggoda.

Anak Mona ini mengerucutkan bibirnya mendengar ledekkan sang suami, ia langsung menghadiahi pukulan di dada Xavier dan disambut tawa lelaki ini.

“Nah gini, kamu lebih cantik tertawa begini dari pada kaya tadi,” ujar putra kedua Silvana.

Gaia termenung sejenak, lalu tersenyum kembali. Dia dan sang suami bergandengan tangan, berjalan mrnuju kamar. Sesampai di tempat tujuan, Xavier mendesak perempuan tersebut untuk menceritakan kejadian tadi, akhirnya gadis yang berstatus istri ini mulai bercerita.

“Kamu gak perlu masukkan ke hati apa yang Mama aku katakan, yang penting kan sekarang aku suami kamu,” tutur lelaki ini.

“Bersabarlah sedikit lagi, kalau rumah kita udah selesai kita bakal langsung pindah. Biar kamu gak tersiksa lagi mendengar ucapan Mama dan adikku,” lanjutnya.

Gaia menganggukkan kepala lalu mereka segera tidur tetapi sebelumnya kedua manusia ini melakukan ritual suami istri. Waktu berlalu begitu cepat, karena aktifitas panas kala malam, kekasih Xavier bangun jam delapan suami perempuan tersebut sudah tak ada di kediaman.

“Haduh … aku bangun kesiangan, gimana ini? Pasti Mama menggerutu deh,” keluh perempuan ini.

Ia segera turun dari ranjang dan bergegas ke bilik mandi untuk membersihkan diri. Setelah berpakaian dia melangkah keluar kamar dan langsung disambut semboran air dari kedua sisi.

“akh …!” jerit Gaia.

Li Xinxin dan Ibunya tertawa bahagia melihat perempuan di hadapan mereka basah kuyup, mereka menyiram Gaia dengan air dingin. Membuat istri Xavier mengigit dengan tatapan marah pada adik ipar lalu sang mertua.

“Kenapa tatapanmu itu, mau marah ha!” sentak Li Xinxin.

Silvana tersenyum sinis, dia segera merangkul putrinya dan menatap tajam sang menantu.

“Dasar pemalas! Cepat rapikan rumah, kamu ini harusnya bangun lebih pagi dari kami, ini malah jam segini baru bangun. Sebagai hukuman bekerjalah dengan keadaan begini, awas kalau sampai ganti pakaian! Cepat buat cake, calon menantu idamanku bakal datang lagi sekarang,” seru Silvana.

“Buat rada red velvet,” lanjutnya.

Setelah berkata demikian mereka membalikkan badan lalu hendak melangkah pergi tetapi langsung dicekal Gaia.

“Mama … apa yang kamu katakan, aku menantumu, Mah. Kenapa kamu menyebut Nona Bai sebagai calon menantumu, aku gak mau Xavier menikah lagi,” seru Gaia.

“Lagian, apa Nona Bai tidak malu menginginkan suami orang lain, atau menjadi simpanan.”

Perkataan Gaia langsung mendapatkan tamparan dari sang mertua, perempuan berstatus istri Xavier ini memegang pipi dan mata berkaca-kaca memandang wanita yang melahirkan suaminya ini.

“Jaga ucapanmu! Kamu yang memasuki hubungan calon menantuku dan putraku, jika kamu gak menikahi Xavier pasti malam kemarin adalah pembahasan pernikahan mereka,” sentak Silvana.

Xinxin hanya menonton dengan tangan terlipat di depan dada, ia memang tidak menyukai Gaia karena Jian-long pernah memarahi dia karena istri Xavier ini.

“Kakak Lisha gak akan menjadi simpanan Kak Xavier ataupun istri keduanya. Dia bakal jadi istri satu-satunya Kakakku dan bakal jadi kakak ipar hebatku,” lontar Xinxin dengan penuh semangat.

Gaia mengerutkan kening, perempuan ini mencerna apa yang dikatakan adik iparnya lalu membulatkan mata. Silvana segera memanggil beberapa lelaki suruhannya dan lekas memerintahkan mereka memegangi menantu perempuan dia.

“Karena kamu sudah tau semuanya, jadi kamu bakal susah diperintah sekarang. Jadi mendingan kamu dengan patuh menandatangani surai perceraian dengan putraku,” seru Silvana,

Perempuan ini menggelengkan kepala sebagai penolakan atas ucapan sang mertua perempuannya. Melihat hal ini Silvana melotot dengan penuh amarah, dia bahkan kini menampar Gaia.

“Kamu gak berhak menolak! Kamu harus tanda tangan surat yang dibawa Lisha nanti, Kamu itu harusnya tau diri, kamu gak pantas bersanding dengan anakku, dia menolak bantuan Lisha karena kamu! Harusnya sekarang perusahaan yang diurus Xavier mendapatkan dana itu, karena kamu ini semua hancur lebur. Kamu harusnya tau diri, nanti kamu harus tanda tangan surat perceraian itu,” sentak sang ibu mertua.

Anak Arka ini kembali menggelengkan kepala membuat Silvana sangat murka.

“Kamu menghambat kesuksesan anakku, sialan!” maki Silvana penuh amarah.

Silvana dengan penuh kekuatan menampar Gaia membuat pipi perempuan ini memerah. Xinxin melihat adegan tersebut hanya mengulas seringai, sedangkan Gaia dengan keras kepala menggelengkan kepala lagi.

“Aku gak akan menanda tangani surat perceraian itu, kalau suamiku membutuhkan dana, aku bakal minta ayahku untuk membantunya. Pokoknya walaupun kamu menyiksaku aku gak bakal mau tanda tangan,” balas Gaia.

Mendengar ucapan Gaia, Silvana memandang sinis, urat leher sampai terlihat karena saking marah dengan menantunya ini.

"Benarkah? Kamu yakin dengan perkataanmu itu? Kalau gitu ayo kita buktikan, cepat bawa dia ke ruang tengah!" perintah Silvana.

"Ambil alat penyiksaan untuk menyiksa perempuan keras kepala ini, aku gak percaya kalau dia masih menolak menandatangani surat percerai dengan putraku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Rai Seika
nice story, Semangat buat authornya
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Gadis Kampung Itu, Istriku!   BAB 2

    BAB 2Robot yang berada di dalam kamar merekam kejadian itu dan segera mengirim rekaman pada Xavier. Gaia diseret paksa ke ruang tengah, ia terus berontak, namun kalah tenaga dengan dua pria yang memegangnya.“Apa yang mau kamu lakukan, Mah!” seru Gaia.Silvana hanya menyeringai mendengar ucapan menantunya, ia miringkan kepala lalu mengetuk-ngetuk jari ke lengannya. “Menurutmu? Aku hanya mengabulkan apa yang kamu katakan,” balas sang mertua.Mata Gaia melotot mendengar perkataan mertuanya, sedangkan perempuan yang lebih tua dari sang Ibu hanya semakin tersenyum senang.“Kamu ketakutan? Di mana sikapmu tadi,” kata Ibu Xavier.Sedangkan Xinxin tersenyum bahagia melihat adegan di hadapannya, bahkan ia merekam dengan handphone untuk diabadikan.“Walaupun kamu memohon agar tidak perlu dihukum aku gak akan mendengarnya, aku harus mendidikmu agar tidak seperti tadi lagi. Kamu harus tau diri, kamu gadis gak jelas yang beruntung menikahi putraku,” lontar istri Li Jian-long.“Eum … kira-kira a

    Last Updated : 2024-10-08
  • Gadis Kampung Itu, Istriku!   BAB 3

    Mata Lisha membulat sempurna, seperti seekor elang yang menatap mangsanya. Tatapan perempuan ini sangat tajam dan menusuk, tepat terarah ke istri Xavier. Seolah dari pandangan tersebut bisa menembus kulit, daging, tulang Gaia. Semua terkesima mendengar kemarahan wanita yang mencintai suami orang lain ini."Kamu gila!"Lisha berteriak sampai suaranya bergetar dengan amarah yang tidak terbendung.Citra anggun yang selama ini dijaga Bai Lisha, hancur berkeping-keping layaknya sesuatu jatuh dari ketinggian lalu mendarat ke tanah. Sangat hancur dan tidak terbentuk, ruat wajah perempuan tersebut sangat merah padam, mata melotot tajam dengan jari menunjuk ke arah Gaia.Gaia hanya menyeringai sinis kala mendengar ucapan gadis yang mencintai suaminya ini, ia sangat puas melihat kemarahan yang terpancar dari wajah Lisha. Sudut bibir terangkat membentuk senyuman mengejek. Dia segera membuang muka sambal melipat tangannya di depan dada, menunjuk sikap acuh tak acuh."Kamu gak mampu, kan? malah me

    Last Updated : 2024-10-08
  • Gadis Kampung Itu, Istriku!   BAB 4

    "Aku ingin tau bagaimana responmu jika aku ditindas oleh mereka," ucap Gaia pelan dalam hati. Matanya menyipit memandang lurus ke arah suaminya. Sedangkan Xavier menghela napas berat. Pandang saling bergantian melirik Gaia dan sang Ibu. "Mama. Aku tau kamu gak suka Gaia, tapi ... aku benar-benar gak nyangka kalau kalian bakal menyakiti istriku." Suara Xavier bergetar, ada nada kecewa dan amarah yang bersatu menjadi sebuah getaran. Ia berusaha menahan amarah yang menggelegak di dada untuk membalas perlakuan mereka pada kekasih hati.Mendengar nada kecewa dari sang putra, Silvana segera bereaksi, ia membalas dengan suara tinggi karena tidak terima. "Mama gak akan begini kalau dia menurut! Lagi pula dia gak pantas bersanding denganmu. Dia cuma mengincar harta kita, Vier ... dia hanya ingin mengangkat derajat keluarganya aja. Pasti semenjak kalian menikah, orang tuanya memamerkan jika putrinya itu menikah dengan keluarga kaya," sungut Silvana. Xavier mengusap wajah mendengar ocehan s

    Last Updated : 2024-10-08
  • Gadis Kampung Itu, Istriku!   BAB 5

    BAB 5Xinxin menganggukkan kepala membenarkan ucapan sang ibu, ia segera mengajak Silvana duduk di sofa dan segera membantu mengobati luka cakaran Lisha. Sedangkan di dalam kendaraan milik Xavier, lelaki ini baru saja memarkirkan kendaraan roda empat di parkiran."Ayo turun, Sayang!" ajak lelaki itu kala membuka pintu dan mengulurkan tangan ke sang istri.Gaia menunduk melihat pakaiannya lalu Kembali menatap suaminya, Xavier yang melihat tingkah sang istri mengerutkan kening. Apalagi mendapatkan perempuan ini menggeleng, membuat dia bingung sampai mengerutkan kening dan membikin alis menyatu."Ada apa? apa kamu gak enak badan?" tanya Xavier lembut.Perempuan tersebut menggeleng sebagai jawaban, lalu terlihat menghela napas Panjang."Aku nunggu di sini aja, aku takut buat kamu malu. Lihat! pakaianku gak rapi, sedangkan kamu sangatr tampan," tutur Gaia.Xavier menganggukkan kepala mendengar penjelasan Gaia, melihat anggukkan sang suami wanita itu merasa kecewa. Ia menundukkan kepala, se

    Last Updated : 2024-10-08
  • Gadis Kampung Itu, Istriku!   BAB 6

    BAB 6 Bai Lisha hanya menampilkan seringai kala memasuki butik, melangkah dengan anggun menuju ruangan pribadi. Suara langkah kaki perempuan itu berdentum mantap di lantai marmer, sesampai di tempat tujuan wanita tersebut lekas mendaratkan bokong di kursi lalu mengembuskan napas dengan kasar. Ia sangat tak percaya jika Xavier memperlakukannya demikian, perempuan tersebut sangat merasa dipermalukan. Padahal apa kekuranganya , dia Kembali ke tanah kelahiran langsung terjun ke dunia bisnis sendiri.Lisha mengepalkan tangan, amarah bergejolak di dada perempuan tersebut. "Yang pantas berdiri di sisi Xavier itu cuma kau!" desisnya.Matanya menyipit tajam. "Mana mungkin aku kalah dengan gadis kampung itu, mana mungkin!" dia menjerit sampai suara bergetar."Pasti Xavier hanya bermain-main aja, pasti itu. Tapi aku sangat malas menunggu dia bosan dengan gadis kampungan itu," geram Lisha.Tangan perempuan ini semakin terkepal kuat mengingat bagaimana Xavier memperlakukan Gaia, ia sangat mengin

    Last Updated : 2024-10-15
  • Gadis Kampung Itu, Istriku!   BAB 7

    Matahari kini berganti giliran dengan bulan, Xavier mengemudi mobil dengan tenang. Lelaki itu sudah merencanakan hendak tidur di hotel sambil membuat malam romantis dengan sang istri, tetapi ada barang penting yang harus dibawa besok ke perusahaan dari kediaman milik keluarganya. "Sayang, aku mengantuk. Aku tidur sebentar ya," ucap Gaia pelan.Xavier tersenyum, mendengar perkataan sang istri lalu menganggukkan kepala. "Tentu sayang. Tidurlah, nanti aku bangunkan kalau sudah sampai.""Janji ya? Bangunkan aku, jangan sampai kamu malah menunggu terbangun sendiri." Gaia mengucek matanya, matanya mulai mengantuk.Lelaki itu terkekeh mendengar ucapan sang istri lalu kembali menganggukkan kepala. "Janji, sayang. Tidur yang nyenyak." Sebelum tertidur wanita itu memamerkan senyuman pada sang suami lalu perlahan mulai berkalana di alam mimpi. Melihat Gaia sudah terlelap begitu tenang, membuat Xavier tidak tahan untuk mengulas lengkungan di bibir. "Sepertinya namamu harus diganti jadi puter

    Last Updated : 2024-10-15
  • Gadis Kampung Itu, Istriku!   BAB 8

    Mata Xavier menyala tajam, menatap Gaia dengan amarah yang membara. Tinju kembali melayang ke arah Leonard dan dengan cekatan menangkis serangan itu. Keduanya bergulat, tubuh mereka saling bertabrakan sangat keras. Usia mereka berbeda beberapa tahun, namun kekuatan seperti setara. Gaia mengigit bibir, matanya terbelalak melihat adegan di depan mata. Xavier, yang melihat istrinya terkejut tidak menghentikan aksinya, bahkan tidak menghiraukan jeritan para wanita di sini. "Sayang, berhenti." Gaia, suaranya bergetar. Merasa sang suami tidak mengindahkan teriakannyan, Gaia memberanikan diri mendekat lalu memeluk Xavier. Leonard yang hendak melayangkan tinjuan segera menghentikan aksi tersebut, begitu pula pasangan perempuan ini. "Dengarkan aku. Jangan percaya omongan orang lain tentangku. Cuma penilaianmu dan pertanyaan langsungmu yang benar-benar penting!" "Apa kamu akan menelan mentah-mentah ucapan itu," teriak Gaia dengan suara bergetar. Leonard mengusap sudut bibir yang berdarah

    Last Updated : 2024-10-15
  • Gadis Kampung Itu, Istriku!   BAB 9

    Keadaan di ruangan itu sangat hening dan tegang. Semua orang terdiam, terpaku pada situasi yang tak menentu. Li, yang tak tahan dengan kediaman mereka, menghela napas kasar. Ia segera melangkah dan mendaratkan bokong di sofa."Atur emosimu, Vier" suaranya sedikit meninggi, penuh kekesalan. "Jangan seperti ini lagi. Emang gak malu diperhatikan orang lain?""Rumah tanggamu menjadi konsumsi publih, iya kalau hal bagus. Ini malah ...." Lelaki ini tidak melanjutkan perkataannya lagi, dia berdecak dan menatap puteranya dengan pandangan dingin, membuat Xavier hanya berwajah datar. Ia memalingkan muka mendengar ucapan sang Ayah, sedangkan Gaia mengigit bibir dengan tangan memilin-milin pakaian. "Apa kamu gak mau menjelaskan keadaan, Gaia?" tanya Li. Gaia tersentak mendengar pertanyaan Ayah mertuanya, mendapat sang istri yang terkejut. Xavier mendekat dan menyentuh lengan wanita itu, membuat perempuan ini menoleh dan mengulas senyum ke arah kekasihnya. "Ayo jelaskan, aku menunggu lho,"

    Last Updated : 2024-10-15

Latest chapter

  • Gadis Kampung Itu, Istriku!   BAB 51 [PART B]

    Di sisi lain, gedung terbengkalai Gaia mulai sadar. Kepalanya terasa berat, tubuhnya lemas akibat zat yang dihirup. Ia berusaha menggerakkan tangan dan kaki, namun mendapati keduanya terikat erat. "Kamu cepat juga sadarnya." suara dingin seorang pria terdengar dari sisi gelap kendaraan. Gaia menatap ke arah suara itu, meski pandangannya masih buram. Napas terengah, tetapi ia berusaha tetap tenang. "Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?" tanyanya, suara wanita itu terdengar serak. Pria itu mendekat, wajahnya masih tertutup masker, sorot mata penuh ancaman. "Kau akan segera tahu," ucapnya singkat, lalu kembali duduk dengan santai seakan mereka sedang tidak melakukan kejahatan. "Salahkan dirimu yang menyinggung orang-orang besar," lanjut salah satu dari mereka. Sementara itu, di lokasi acara, Mona hampir jatuh pingsan setelah mendengar kabar dari seseorang bahwa supir taksi yang membawa Gaia ditemukan dalam keadaan babak belur di pinggir jalan. Arka segera menangkap istrinya,

  • Gadis Kampung Itu, Istriku!   BAB 51 [PART A]

    Gaia langsung memamerkan senyuman pada sang suami, sedangkan Xavier mendengkus. Lelaki itu segera berdiri dan diijuti istrinya, tatapan pria tersebut masih begitu tajam. "Kamu ini, awas aja! Kalau aja aku gak ada acara, kamu udah aku buat gak bisa bangun dari kasur," ucap Xavier dengan nada kesal. "Udah jam segini, aku pamit ya. Coba kalau masih ada waktu, aku bisa mengantarmu," lontar lelaki itu sambil mengembuskan napas. Wanita berstatus istrinya segera menepuk bahu lelaki tersebut, membuat sang empu memandangnya kembali saat dia tengah merapikan pakaian. "Kamu tenang aja, aku udah pesan taksi kok," balas Gaia dengan nada santai. Xavier yang hendak protes mengembuskan napas, ia akhirnya memilih menganggukkan kepala. "Aku pergi dulu, nanti pulangnya aku jemput." Setelah perpisahan singkat, Xavier akhirnya langsung pergi ke acara tersebut. Sementara itu, Gaia bersiap-siap dengan mengenakan gaun rancangan desainer terkenal. Gaun itu memeluk tubuhnya dengan sempurna

  • Gadis Kampung Itu, Istriku!   BAB 50 [PART B]

    Gaia menghela napas, lalu menatap suaminya dengan ekspresi datar. "Memangnya ada wanita yang lebih cantik dariku?" tanyanya santai, namun sorot matanya tak berpaling menatap sang suami. Xavier mengaruk kepala yang tidak terasa gatal lalu terkekeh pelan dan tangannya segera melingkar ke pinggang sang istri. "Benar juga. Mana ada yang bisa menyaingimu dihatiku," ujarnya seraya mengecup kening Gaia. Gaia langsung memalingkan wajah merasa tersipu dengan balasan sang suami, sedangkan Xavier mengulas senyuman begitu bahagia melihat riak muka kekasihnya. Suara notifikasi pesan terdengar membuat keduanya menoleh lalu saat tau handphone dia yang bersuara, wanita ini meminta Xavier melepaskan pelukkan dan ia mengambil ponsel dan membaca dua pesan dari pria lain. [Shasha kamu sudah pergi belum? Aku jemput ya.] - Leonard [He! Kamu belum menepati janji meneraktirku, sebelum pergi ke acara ayo taktir aku. Sekalian nanti aku antar kamu ke acara, sekarang aku jemput ya!] - Damian. Xavier ya

  • Gadis Kampung Itu, Istriku!   BAB 50 [PART A]

    Waktu berputar begitu cepat, Xavier masih terlelap diranjang istrinya, Gaia yang menatap lelaki ini hanya mengulas senyuman tipis. Ia menoleh ke pintu kala memdengar suara ketukkan terdengar, ia lekas turun dan membuka pintu. "Sayang, sebentar lagi acara mulai, Mama sama Papa harus segera ke sana," jelas Mona. "Terus kamu gimana? apa mau ikut kami atau menunggu suamimu ...." Ucapan Mona terhenti kala mendengar sang putri langsung menyela. Perempuan ini menyentuh lengan wanita yang melahirkan dan menepuk pelan. "Mama tenang aja, aku pasti tiba tepat waktu." Mendengar balasan sang putri, Mona menghela napas. Perempuan itu membalas ucapan Gaia dengan senyuman lalu pamit pada gadis kecil kesayangan ini. Kini kediaman hanya tersisa sepasang suami istri tersebut, istri Xavier memilih menyiapkan makanan untuk sang kekasih, tak berselang lama telepon terdengar dari ponsel lelaki jangkung yang masih terlelap. Dengan mata tertutup mencari ponsel dan lekas menerima sambungan telepon. "Ka

  • Gadis Kampung Itu, Istriku!   BAB 49 [PART B]

    Xavier segera mengantarkan Gaia dan mertuanya ke kediaman, sesampai di sana lelaki tersebut membantu Arka masuk ke dalam rumah. Kini semua telah berada di ruang tengah, pria ini memandang sang istri, paham akan tatapan kekasihnya ia lekas pamit dan mengajak putra arka ke kamar."Aku menunggu penjelasanmu, aku gak akan menuduh kamu langsung," lontar Xavier kala memasuki kamar.Gaia mendengar hal ini hanya tersenyum, ia mengunci pintu dan meraih lengan sang suami agar ikut duduk di ranjang. "Dia membantu Papaku, dia yang membawa Papaku ke rumah sakit," terang Gaia."Gak perlu memikirkan hal gak perlu, dia punya tunangan dan sebentar lagi menikah. Gak mungkin aku menjadi perusak hubungan orang laian, apalagi aku pernah merasakan hal tersebut, aku sangat paham sak ...."Ucapannya terhenti kala sang suami langsung menariknya dalam dekapan, membuat ia sangat terkejut sampai melotot. "Udah jangan dijelaskan, aku paham. Aku minta maaf karena belum bisa melindungimu sepenuhnya, tapi aku bers

  • Gadis Kampung Itu, Istriku!   BAB 49 [PART A]

    Xavier yang ada dibelakang Bai Lisha langsung mengerutkan dahi, ia menatap ke depan dan menangkap sang istri tengah memandangnya. "Menduakan?" Lelaki ini mengulangi perkataan Lisha dengan nada santai, wanita itu langsung mengangguk sebagai jawaban. "Kamu ini, masih saja berusaha mencari keributan," gerutu Gaia. Dia mendengkus pelan lalu menatap malas Bai Lisha dan kembali memandang sang suami. Tangannya melipat dada dan memiringkan kepala, tanpa pandangan lepas dari Xavier. "Jangan mengelak kamu! Bukti sudah jelas di depan mata," sungut Lisha dengan nada tinggi. Mendengar suara Lisha, beberapa orang di rumah sakit menoleh. Perawat yang ada di sini mendekat dan menegur wanita bermarga Bai tersebut. Sedangkan Xavier melangkah mendekat dan meraih pinggang istrinya membuat jarak di antara mereka terkikis. “Bagaimana bisa istriku mendua, sementara dia selalu jatuh ke pelukanku setiap malam?” bisiknya dengan nada menggoda.Pipi Gaia langsung memerah. Ia mencoba melepaskan diri, tapi

  • Gadis Kampung Itu, Istriku!   BAB 48 [PART B]

    Mata Mona melebar mendengar perkataan Jiang Lie, wanita itu langsung memotong perkataan bawahan sang suami. "Rumah sakit mana? Cepat katakan!" pekik wanita itu. Gaia yang mendengar ucapan sang Ibu langsung memandang wanita tersebut, Jiang Lie yang terkejut dengan teriakan istri atasannya sampai lupa hendak mengatakan apa tadi. Dia lekas menjawab pertanyaan Mona dan setelah itu secara sepihak perempuan ini mematikan sambungan telepon. "Ayo ke rumah sakit! Papamu masuk rumah sakit," ajak Mona. "Apa yang dilakukan lelaki itu, kenapa bisa sampai ke rumah sakit!" ucapnya dengan nada frustasi dan khawatir. Dengan gerakkan cepat wanita itu langsung meraih lengan sang putri dan menariknya. Kedua perempuan tersebut terlihat begitu terkejut tambah panik. "Ayo cepat ke rumah sakit ...." perintah Mona saat memasuki kendaraan. Sepanjang perjalanan, Mona terus-menerus menggigit bibir, ekspresinya menunjukkan kegelisahan yang dalam. Tangan mengepal kuat dipangkuan. sementara mata dia seseka

  • Gadis Kampung Itu, Istriku!   BAB 48 [PART A]

    Waktu berputar begitu cepat, Xavier masih sibuk di perusahaan. Membaca dan menandatangani lalu bertemu beberapa orang membuat kesepakatan. "Apa sudah dapat?" tanya lelaki itu tidak sabaran. Ia memandang asistennya penuh harapan, membuat sang empu menunduk lalu menghembuskan napas. "Mereka menginginkan saham sebagai gantinya, Tuan," balas lelaki tersebut. Mata Xavier membelalak, ia mengepalkan tangan dan membuang wajah. "Lupakan saja, Tuan. Jangan cuma karena keegoisan Nyonya, Tuan memberikan beberapa persen saham pada mereka," tutur sang bawahan.Xavier memejamkan mata, ia bersandar di kursi dan mengibaskan tangan memerintah sang asisten untuk pergi. Suara notifikasi chat masuk, dia segera meraih benda pipihnya. [Sayang, aku lagi perawatan. Biar terlihat cantik dan segar,] [Sand photo] [Lihat, istrimu sangat mempesona bukan. 😁] Senyuman terlukis di bibir Xavier kala melihat pesan dari kekasihnya. Ia memandangi photo Gaia yang sedang menikmati pijatan sambil memejamkan mata.

  • Gadis Kampung Itu, Istriku!   BAB 47 [PART B]

    Senyuman masih melekat di bibir Gaia, ia langsung melingkarkan tangan di leher sang suami. Mata mereka saling memandang dan menyelami, lalu berjinjit agar bisa berbisik di telinga Xavier. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, bodoh. Kamu gak perlu takut, kecuali kamu memang mempunyai kesalahan," lontarnya pelan di dekat telinga Xavier. Xavier menghela napas, menatap wajah istrinya yang begitu tenang seakan tak terjadi apa-apa. Ia memeluk erat pinggang sang istri, membuat keduanya tak ada jarak sedikitpun. Mengecup puncak kepala Gaia dengan penuh rasa sayang.“Aku tidak suka, kalau kamu mengambil risiko seperti itu,” gumamnya pelan.Gaia mengangguk dalam pelukannya. “Aku mengerti. Aku janji, aku tidak akan mengatakannya lagi.”Xavier sedikit tenang mendengar janji istrinya, tapi ada hal lain yang mengganggunya. “Sekarang soal acara Tuan Arka… maaf aku gak bisa mengajakmu pergi,” tutur lelaki itu dengan nada lemah. Gaia melepaskan pelukan dan menatap Xavier dengan mata penuh tekad.

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status