Home / Rumah Tangga / Dimanja Paman Mantan / Bab 4. Aku Tidak Peduli

Share

Bab 4. Aku Tidak Peduli

Author: Rias Ardani
last update Last Updated: 2025-01-18 08:39:07

"Sudah puas bicaranya?" Ucapan Dion menghentikan langkahku, yang berniat terus menjauh.

Sebelum aku melempar tanya, tiba- tiba Karina keluar, dengan kedua pengikutnya itu.

"Dion, jangan marah sama Olivia. Dia tidak bermaksud jahat, aku yang salah bicara dengannya," ujar Karina bersandiwara.

Jengah dan bosan sebenarnya kalau sudah begini. 

"Trik apalagi ini?" bentak Dion, membuat aku mengernyit.

"Dion jangan marah begitu, kasihan Olivia ..." lagi- lagi Karina bersuara, membuatku sangat muak.

"Lihatlah Karina, dia begitu baik dan lembut. Bahkan dihadapan Dion saja, dia masih membela wanita tidak tahu malu ini," ujar Siska.

"Jijik," lanjut Lani, yang juga salah satu pengikut Karina.

Aku menghembuskan napas malas.

"Berhenti membuat masalah, Olivia. Minta maaflah pada Karin, jangan menyinggungnya," pinta Dion.

"Minta maaf untuk apa? Salahku dibagian mana?" 

"Dion sudahlah. Olivia tidak salah, aku yang salah," kata Karin dengan suara bergetar.

Luar biasa benar wanita busa ini.

"Aku tahu kamu tidak suka aku dekat dengan Karina. Tapi jangan kamu coba- coba ganggu dia, aku sudah sering peringatkan kamu, Olivia ...."

"Aku ganggu Karina? Aku gak suka kamu dekat dengan Karina? Hah, gila benget. Pernyataan macam apa ini. Kamu mau dekat dengan siapapun, aku tidak perduli lagi, oke."

Wajah Dion begitu marah dan tidak senang dengan ucapanku barusan.

"Aku malah berdoa, semoga secepatnya kalian bersatu," tegasku.

"Munafik! Kita semua juga tahu, bertahun'tahun kamu mengejar cinta Dion. Jadi sangat tidak mungkin, kamu tiba- tiba tidak menyukainya," ujar Siska.

"Ya, itu benar. Mustahil kamu tidak suka Dion lagi, entah trik apa yang sedang kamu mainkan ini," timpal Lani. 

"Dua pengikut bodoh ini, benar- benar menyebalkan," gumamku dalam hati.

"Sudahlah, Dion jangan diperpanjang lagi. Lagian aku sudah maafin Olivia kok. Aku yakin, dia pasti tidak bermaksud begitu, kita harus pahami dia," ucap Karina.

"Terserah kalian, lama- lama aku gila, jika terus berbicara dengan kalian," sahutku sambil berjalan cepat.

Tiba- tiba, tangan Dion menarik tanganku, dan membuatku nyaris jatuh.

"Astaga, apalagi ini?" Aku menghentakkan kakiku ke lantai. Aku benar- benar kesal, jika harus terus berdebat dengan mereka.

"Minta maaf sama Karina," titah Dion dengan tegas.

"Apa'an sih," pekikku. Aku berusaha menarik tanganku dan cengkraman Dion, tapi lelaki itu menggenggamnya dengan kuat.

"Minta maaf," lanjutnya. 

"Gak! Sialan," makiku dan akhirnya aku gigit saja tangannya. Dion memekik dan akhirnya melepaskan genggaman tangannya padaku.

"Aduuuhhh ...." 

"Dion," pekik Karina. Dan mereka pun ricuh mengurus Dion yang kesakitan.

"Dasar gila! Berhenti kalian menggangguku," bentakku.

"Kamu yang gila! Awas kamu, kalau Dion kenapa- kenapa, kamu tanggung akibatnya," ancam Siska.

"Bodo amat!" balasku sambil melajukan langkah, meninggalkan 4 orang gila itu.

Entah kenapa, semakin kesini, mataku semakin terbuka melihat aslinya Dion.

Apa selama ini, aku yang tidak sadar, bahwa Dion sangat tidak seistimewa itu, kenapa dulu sampai aku tergila- gila? Benar- benar memalukan.

Dulu aku begitu terobsesi karena Dion cukup pintar, dan aku selalu meminta dia mengajariku. Meskipun sikapnya dingin, tapi dia tidak pernah menolak.

Kupikir karena merasa diperlakukan berbeda, dia bisa memiliki rasa padaku. Bahkan mengenai kedekatannya dengan Karina, yang aku tahu pun mereka tidak ada hubungan apa- apa. Hanya sebatas cerita teman- teman, kalau mereka saling suka.

Karena merasa cantik dan pintar, aku merasa mampu mengalahkan Karina, dan akan mendapatkan cinta Dion. Nyatanya? Bayangan kematian itu benar- benar menyadarkanku.

Kalau Dion, memang hanya menyukai Karina, bukan aku maupun wanita lain.

Setelah papan pengumuman kelulusan dikeluarkan, semua berkumpul dan mulai bersorak riang. Dinda, sahabat cantikku itu memekik dan memelukku, sebab namaku berada diurutan teratas, yang merupakan nama pemilik hasil nilai tertinggi.

Sebagian teman- teman juga memberikan ucapan selamat padaku, dan sebagian lainnya, kembali mencibir pencapaianku.

Mereka menganggap aku curang dan memanfaatkan Dion, untuk menggeser posisi lelaki itu dari peringkat 1.

Aku tidak perduli, karena bukan urusanku menjelaskan tuduhan buruk mereka.

<<<<>>>>

"Bagaimana hubungan kamu dan Dion, Liv?" 

Aku terdiam, sambil menghela napas berat dan menyandarkan tubuh kesofa.

Bukannya hasil pelajaranku yang ditanya ketika aku pulang sekolah, atau aku lulus atau tidak. Seharusnya pertanyaan itu, yang aku dapatkan.

Tapi ini? Malah tentang hubungan dengan Dion. Sungguh terlalu.

"Tidak ada hubungan," jawabku singkat.

"Olivia sayang, kenapa menjawab pertanyaan ayah begitu, Nak?" Ibu Liliana bersuara, yang bisa dikatakan ibuku.

"Aku capek, kalian selalu saja bertanya tentang Dion. Memangnya kenapa sih? Nggak ditanya hasil ujianku? Aku lulus atau tidak, memangnya itu tidak penting?"

Ayah mendesah.

"Kamu ini kenapa, ayah tanya tentang hubungan kamu juga penting. Demi kontrak bisnis, Liv," ujar ayah, membuat aku tercengang.

"Kontrak bisnis apa?" Aku bertanya terheran- heran. Baru lulus SMA, ayah sudah bicara kontrak bisnis.

"Tidak usah dibahas, belum waktunya. Yang penting, kamu jawab saja. Bagaimana hubungan kamu sama Dion?"

"Tidak ada hubungan, dan tidak akan pernah ada," tegasku.

Mendengar jawabanku, ayah langsung murka dan melemparkan majalah diatas meja ke wajahku.

"Kurang ajar!" makinya. Aku tercengang, dengan tindakan ayah hari ini, yang begitu kasar.

"Ayah? Ada apa ini? Kenapa sampai melempar aku dengan majalah ini?" 

Related chapters

  • Dimanja Paman Mantan   Bab 5. Buktikan!

    "Ayah tidak mau tahu, setelah lulus ini, kamu harus bisa mengambil hati Dion," tegas ayah. "Aku tidak mau," jawabku. "Kamu ...." Ayah terlihat semakin marah, membuat ibu langsung menenangkannya. "Ayah tahan, tahan ayah," pinta ibu dengan lembut. Ibu melihat kearahku. "Sayang, kamu ke kamar dulu, istirahat. Ibu tahu kamu capek, dan mengenai ayah, biar ibu yang ngomong," ucap ibuku, yang hanya kutanggapi dengan anggukan. Aku terdiam di dalam kamar, ketika menatap layar ponsel. Disana terlihat pemberitahuan acara pesta perpisahan, yang diadakan oleh Ronald, salah satu anak konglomerat, yang juga bagian dari teman sekelas kami. "Apakah aku harus datang?" Aku membatin. Dan tidak lama kemudian, pintu kamarku diketuk. Setelah diketuk, pintu terbuka. Sosok ibu berdiri di depan pintu, sembari memegangi gagangnya. "Boleh ibu masuk?" tanyanya dengan lembut, sambil tersenyum kecil. Aku mengangguk, dan ibu pun masuk, satu tangan ibu, terlihat memegang sesuatu. "Ini ada undang

    Last Updated : 2025-01-18
  • Dimanja Paman Mantan   Bab 6. Marah

    Kumantapkan hati, untuk tetap datang ke pesta.Masalah minuman? Kurasa aku bisa menghindarinya. Aku berangkat mengendarai mobil sendiri malam ini. Entah mengapa, ibu begitu baik dan meminjamkan padaku mobilnya. Kejadian yang membuat cinta 1 malam itu terjadi, ketika acara perpisahan diadakan di sebuah Hotel ternama. Tapi kenyataannya, acara diadakan Ronald di rumah mewahnya. Takdir ini lumayan membuatku was- was, ketika sampai ditujuan, dan memarkirkan mobil. Setelah parkir, aku mulai bergabung ke dalam pesta, mendekati teman- teman lainnya. Acara diadakan di taman rumah Ronald, dan di dekat kolam renangnya. "Nyalimu besar juga, berani datang ke acara ini," ucap Siska, yang suaranya terdengar dari belakangku. Dan seperti biasa, dia datang bersama Lani, juga sesembahannya, Karin. Aku berbalik badan, dan melempar senyum mengejek ke arah mereka. "Dari dulu nyaliku besar, masa kamu ragukan itu?" "Cih! Wanita culas, memanfaatkan Dion, hanya untuk sebuah peringkat." Lani b

    Last Updated : 2025-01-21
  • Dimanja Paman Mantan   Bab 7. Sebuah Trik?

    Aku dan Dion menoleh pada pemilik suara itu. Benar saja, Karina tersenyum ke arah kami dan berjalan mendekat. "Maaf, apakah aku mengganggu kalian?" tanya Karina sambil mendekat ke arah kami. Belum sempat ada yang bersuara, tiba- tiba Karina tersandung dan menabrakku yang berada di pinggiran kolam renang. Aku terjatuh ke kolam renang, aku memekik ketakutan, karena aku tidak bisa berenang. Apakah memang aku ditakdirkan harus mati? Sungguh sial sekali, memang nasib buruk selalu menimpaku, jika aku berada didekat Dion dan Karina. Seseorang memasuki kolam renang, dan menarik tanganku. Tubuhku benar- benar sudah terasa tidak berdaya, entah siapakah yang kini menolongku, aku pun tidak tahu. "Oliv, Olivia ...." Terdengar suara panik sahabatku. Aku melihat ke arahnya yang membantu menarik tubuhku naik. Aku direbahkan, dan lelaki yang menolongku tadi pun akhirnya naik ke tepian kolam renang. Terlihat wajahnya dengan samar, dia terlihat tampan, ditambah rambut basahnya yang m

    Last Updated : 2025-02-03
  • Dimanja Paman Mantan   Bab 8. Suka?

    "Ngomong apa sih, Liv. Kita ini kan keluarga, mana mungkin kami menjahati kamu. Semua yang ayah lakukan, demi kamu juga," bela Ibu. "Kami tahu kamu suka Dion, makanya kami dukung kamu, tapi kenapa kami jadi seakan- akan jahat, Liv?" tanya Ibu, nampak terheran- heran dengan sikapku. "Dulu aku suka, Bu. Sekarang sudah tidak," jelasku. "Ayah tidak percaya, nggak masuk akal. Semua juga tahu, kalau kamu tergila- gila sama Dion, bahkan kamu selalu menempel kepadanya," ujar Ayah. "Nak, tidak harus menikah muda. Setidaknya, kami hanya ingin kamu memiliki hubungan yang jelas dengan Dion," timpal Ibu, menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. "Ya, jangan cuma iri sama Kakakmu! Seharusnya kamu bisa seperti dia, banggain orang tua." Ayah kembali bersuara, membuatku hanya diam. Percuma berdebat dengan mereka, yang ada aku yang akan semakin pusing. "Tidak jadi orang hebat juga nggak masalah, Nak. Setidaknya, kamu bantu ayah saja sudah cukup," lirih ibu. Aku hanya diam dan berjalan mem

    Last Updated : 2025-02-18
  • Dimanja Paman Mantan   Bab 9. Tuduhan

    "Apaan sih?" "Liv, ikuti saja ucapan Dion. Bukannya kamu selama ini selalu menjadi penurut, dan mengikuti kemana pun Dion pergi." Suara Karina terdengar lembut dan penuh arti. "Bukankah ini, yang selalu kamu inginkan? Di perhatikan Dion," cibir teman lainnya. "Trik apalagi ini, Olivia? Jangan buat aku jijik," tekan Dion. Entah kenapa, rasanya sakit sekali mendengar ucapannya. "Jika ini cara kamu, agar dapat perhatianku, lebih baik hentikan saja. Karena sampai kapanpun juga, aku tidak akan pernah tertarik padamu," ujarnya lagi dengan tatapan tajam menekan. Aku menutup mata, berusaha menelan perasaan yang semakin terluka. Tidak mudah memang, melepaskan perasaan, pada seseorang yang memang pernah kita sukai. Tapi jika orang itu luka dan celaka, maka memantapkan hati meninggalkannya, bukankah itu keputusan yang cukup baik. "Dion, kumohon sudah. Aku tidak berniat melakukan trik apapun, aku hanya ingin hidup dengan normal," jelasku dengan nada suara yang pelan. Namun,

    Last Updated : 2025-02-22
  • Dimanja Paman Mantan   Bab10. Sebuah Tujuan

    Aku, ayah dan ibu sangat terkejut, ketika melihat Dion, berada di muara pintu rumah kami. "Nak Dion, ada apa kemari?" tanya Ibu yang langsung bersikap ramah. "Nak Dion mari masuk, ayo ayo. Olivia, ajak Dion masuk, Nak," timpal ayah sangat ramah. Aku diam membeku, ketika melihat tatapan marah dimata Dion padaku. "Kupikir kamu tulus, ternyata ...." Dion kembali bersuara. Lelaki itu mengabaikan ayah dan ibuku. "Ternyata Karina benar, kamu licik," lanjutnya. Kemudian dia pergi begitu saja. Ngapain dia datang ke rumahku secara tiba- tiba? Tapi terserah saja, bagus kalau dia salah paham. Jadi harapan ayah akan semakin pupus. "Bodoh! Kenapa diam saja? Kejar Dion nya," titah ayah kepadaku. "Untuk apa?" "Ya ampun! Dia salah paham itu, cepat bujuk dia, Liv. Dia adalah harapan ayah, agar perusahaan tidak jadi bangkrut," lirih ayah mulai panik. "Aku nggak mau, Dion hanya akan semakin marah padaku." Namun tiba- tiba ibu kesakitan, memegangi dadanya dan pingsan. Aku, serta ayah pun la

    Last Updated : 2025-02-26
  • Dimanja Paman Mantan   Bab 11. Rumah Nenek

    Aku mengepalkan tangan. Rasa terhina juga sakit hati. "Aku mau pulang, Paman." Aku berkata dengan kesal. "Buat apa juga aku dibawa kesini?" lanjutku dengan tatapan kesal. "Ikut denganku, akan aku jelaskan tujuanku," ujar Ammar. Meskipun kesal, aku tetap mengikuti langkahnya. Kami kembali ke dalam mobil, dan lelaki itu melajukan mobilnya, meninggalkan parkiran rumah sakit. "Aku sudah memantau perkembangan hubungan kamu dan Dion. Kurasa, itu hubungan yang buruk dan sepihak." Aku hanya terdiam, tidak ingin menanggapi apapun mengenai lelaki yang bernama Dion itu. "Kudengar, perusahaan orang tuamu juga sedang membutuhkan suntikan dana. Dan kamu, diminta untuk memperjelas hubungan kamu dan Dion. Hubungan seperti apa? Padahal Dion, tidak menyukaimu sama sekali," lanjutnya sambil menyetir. "Aku tidak suka Dion," jawabku tegas. "Semua orang di kota Lurry ini juga tau, bahwa kamu, tergila- gila sama Dion." Aku terdiam. Faktanya aku dulu memang sebodoh itu, melakukan apapun

    Last Updated : 2025-02-27
  • Dimanja Paman Mantan   Bab 12.

    "Kita akan keluar diam- diam, kamu tenang saja," jawab Ammar. "Yang penting, rahasiakan dulu pernikahan ini, aku hanya butuh status, bukan pernikahan sungguhan," lanjutnya. "Baiklah." "Panggil aku, Ammar." "Iya." Keheningan memenuhi kamar ini, kemudian, pintu kamar kami diketuk. Ammar berdiri dari duduknya, dan membukakan pintu. Senyum sumringah Nenek menyambutnya. "Nenek bawakan minuman sehat untuk kalian," ucap Nenek. Aku hanya melempar senyum pada Nenek dan langsung gegas berdiri. "Ini minuman tradisi penyambutan keluarga kita, pada pengantin baru. Kalian berdua harus meminumnya," tegas Nenek sambil tersenyum manis. Aku pun menyambut minuman itu dan langsung menegaknya. Sedangkan Ammar masih terdiam. "Nenek tidak sedang merencanakan sesuatu kan?" Ammar menatap curiga, membuat wajah Nenek cemberut. "Rencana apa? Kamu meragukan ucapan Nenek, ya. Ini tradisi keluarga kita, Ammar." Mendengar ucapan Nenek yang nampak kecewa, Ammar pun menurut saja dan langsung meminumnya. W

    Last Updated : 2025-02-28

Latest chapter

  • Dimanja Paman Mantan   Bab 12.

    "Kita akan keluar diam- diam, kamu tenang saja," jawab Ammar. "Yang penting, rahasiakan dulu pernikahan ini, aku hanya butuh status, bukan pernikahan sungguhan," lanjutnya. "Baiklah." "Panggil aku, Ammar." "Iya." Keheningan memenuhi kamar ini, kemudian, pintu kamar kami diketuk. Ammar berdiri dari duduknya, dan membukakan pintu. Senyum sumringah Nenek menyambutnya. "Nenek bawakan minuman sehat untuk kalian," ucap Nenek. Aku hanya melempar senyum pada Nenek dan langsung gegas berdiri. "Ini minuman tradisi penyambutan keluarga kita, pada pengantin baru. Kalian berdua harus meminumnya," tegas Nenek sambil tersenyum manis. Aku pun menyambut minuman itu dan langsung menegaknya. Sedangkan Ammar masih terdiam. "Nenek tidak sedang merencanakan sesuatu kan?" Ammar menatap curiga, membuat wajah Nenek cemberut. "Rencana apa? Kamu meragukan ucapan Nenek, ya. Ini tradisi keluarga kita, Ammar." Mendengar ucapan Nenek yang nampak kecewa, Ammar pun menurut saja dan langsung meminumnya. W

  • Dimanja Paman Mantan   Bab 11. Rumah Nenek

    Aku mengepalkan tangan. Rasa terhina juga sakit hati. "Aku mau pulang, Paman." Aku berkata dengan kesal. "Buat apa juga aku dibawa kesini?" lanjutku dengan tatapan kesal. "Ikut denganku, akan aku jelaskan tujuanku," ujar Ammar. Meskipun kesal, aku tetap mengikuti langkahnya. Kami kembali ke dalam mobil, dan lelaki itu melajukan mobilnya, meninggalkan parkiran rumah sakit. "Aku sudah memantau perkembangan hubungan kamu dan Dion. Kurasa, itu hubungan yang buruk dan sepihak." Aku hanya terdiam, tidak ingin menanggapi apapun mengenai lelaki yang bernama Dion itu. "Kudengar, perusahaan orang tuamu juga sedang membutuhkan suntikan dana. Dan kamu, diminta untuk memperjelas hubungan kamu dan Dion. Hubungan seperti apa? Padahal Dion, tidak menyukaimu sama sekali," lanjutnya sambil menyetir. "Aku tidak suka Dion," jawabku tegas. "Semua orang di kota Lurry ini juga tau, bahwa kamu, tergila- gila sama Dion." Aku terdiam. Faktanya aku dulu memang sebodoh itu, melakukan apapun

  • Dimanja Paman Mantan   Bab10. Sebuah Tujuan

    Aku, ayah dan ibu sangat terkejut, ketika melihat Dion, berada di muara pintu rumah kami. "Nak Dion, ada apa kemari?" tanya Ibu yang langsung bersikap ramah. "Nak Dion mari masuk, ayo ayo. Olivia, ajak Dion masuk, Nak," timpal ayah sangat ramah. Aku diam membeku, ketika melihat tatapan marah dimata Dion padaku. "Kupikir kamu tulus, ternyata ...." Dion kembali bersuara. Lelaki itu mengabaikan ayah dan ibuku. "Ternyata Karina benar, kamu licik," lanjutnya. Kemudian dia pergi begitu saja. Ngapain dia datang ke rumahku secara tiba- tiba? Tapi terserah saja, bagus kalau dia salah paham. Jadi harapan ayah akan semakin pupus. "Bodoh! Kenapa diam saja? Kejar Dion nya," titah ayah kepadaku. "Untuk apa?" "Ya ampun! Dia salah paham itu, cepat bujuk dia, Liv. Dia adalah harapan ayah, agar perusahaan tidak jadi bangkrut," lirih ayah mulai panik. "Aku nggak mau, Dion hanya akan semakin marah padaku." Namun tiba- tiba ibu kesakitan, memegangi dadanya dan pingsan. Aku, serta ayah pun la

  • Dimanja Paman Mantan   Bab 9. Tuduhan

    "Apaan sih?" "Liv, ikuti saja ucapan Dion. Bukannya kamu selama ini selalu menjadi penurut, dan mengikuti kemana pun Dion pergi." Suara Karina terdengar lembut dan penuh arti. "Bukankah ini, yang selalu kamu inginkan? Di perhatikan Dion," cibir teman lainnya. "Trik apalagi ini, Olivia? Jangan buat aku jijik," tekan Dion. Entah kenapa, rasanya sakit sekali mendengar ucapannya. "Jika ini cara kamu, agar dapat perhatianku, lebih baik hentikan saja. Karena sampai kapanpun juga, aku tidak akan pernah tertarik padamu," ujarnya lagi dengan tatapan tajam menekan. Aku menutup mata, berusaha menelan perasaan yang semakin terluka. Tidak mudah memang, melepaskan perasaan, pada seseorang yang memang pernah kita sukai. Tapi jika orang itu luka dan celaka, maka memantapkan hati meninggalkannya, bukankah itu keputusan yang cukup baik. "Dion, kumohon sudah. Aku tidak berniat melakukan trik apapun, aku hanya ingin hidup dengan normal," jelasku dengan nada suara yang pelan. Namun,

  • Dimanja Paman Mantan   Bab 8. Suka?

    "Ngomong apa sih, Liv. Kita ini kan keluarga, mana mungkin kami menjahati kamu. Semua yang ayah lakukan, demi kamu juga," bela Ibu. "Kami tahu kamu suka Dion, makanya kami dukung kamu, tapi kenapa kami jadi seakan- akan jahat, Liv?" tanya Ibu, nampak terheran- heran dengan sikapku. "Dulu aku suka, Bu. Sekarang sudah tidak," jelasku. "Ayah tidak percaya, nggak masuk akal. Semua juga tahu, kalau kamu tergila- gila sama Dion, bahkan kamu selalu menempel kepadanya," ujar Ayah. "Nak, tidak harus menikah muda. Setidaknya, kami hanya ingin kamu memiliki hubungan yang jelas dengan Dion," timpal Ibu, menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. "Ya, jangan cuma iri sama Kakakmu! Seharusnya kamu bisa seperti dia, banggain orang tua." Ayah kembali bersuara, membuatku hanya diam. Percuma berdebat dengan mereka, yang ada aku yang akan semakin pusing. "Tidak jadi orang hebat juga nggak masalah, Nak. Setidaknya, kamu bantu ayah saja sudah cukup," lirih ibu. Aku hanya diam dan berjalan mem

  • Dimanja Paman Mantan   Bab 7. Sebuah Trik?

    Aku dan Dion menoleh pada pemilik suara itu. Benar saja, Karina tersenyum ke arah kami dan berjalan mendekat. "Maaf, apakah aku mengganggu kalian?" tanya Karina sambil mendekat ke arah kami. Belum sempat ada yang bersuara, tiba- tiba Karina tersandung dan menabrakku yang berada di pinggiran kolam renang. Aku terjatuh ke kolam renang, aku memekik ketakutan, karena aku tidak bisa berenang. Apakah memang aku ditakdirkan harus mati? Sungguh sial sekali, memang nasib buruk selalu menimpaku, jika aku berada didekat Dion dan Karina. Seseorang memasuki kolam renang, dan menarik tanganku. Tubuhku benar- benar sudah terasa tidak berdaya, entah siapakah yang kini menolongku, aku pun tidak tahu. "Oliv, Olivia ...." Terdengar suara panik sahabatku. Aku melihat ke arahnya yang membantu menarik tubuhku naik. Aku direbahkan, dan lelaki yang menolongku tadi pun akhirnya naik ke tepian kolam renang. Terlihat wajahnya dengan samar, dia terlihat tampan, ditambah rambut basahnya yang m

  • Dimanja Paman Mantan   Bab 6. Marah

    Kumantapkan hati, untuk tetap datang ke pesta.Masalah minuman? Kurasa aku bisa menghindarinya. Aku berangkat mengendarai mobil sendiri malam ini. Entah mengapa, ibu begitu baik dan meminjamkan padaku mobilnya. Kejadian yang membuat cinta 1 malam itu terjadi, ketika acara perpisahan diadakan di sebuah Hotel ternama. Tapi kenyataannya, acara diadakan Ronald di rumah mewahnya. Takdir ini lumayan membuatku was- was, ketika sampai ditujuan, dan memarkirkan mobil. Setelah parkir, aku mulai bergabung ke dalam pesta, mendekati teman- teman lainnya. Acara diadakan di taman rumah Ronald, dan di dekat kolam renangnya. "Nyalimu besar juga, berani datang ke acara ini," ucap Siska, yang suaranya terdengar dari belakangku. Dan seperti biasa, dia datang bersama Lani, juga sesembahannya, Karin. Aku berbalik badan, dan melempar senyum mengejek ke arah mereka. "Dari dulu nyaliku besar, masa kamu ragukan itu?" "Cih! Wanita culas, memanfaatkan Dion, hanya untuk sebuah peringkat." Lani b

  • Dimanja Paman Mantan   Bab 5. Buktikan!

    "Ayah tidak mau tahu, setelah lulus ini, kamu harus bisa mengambil hati Dion," tegas ayah. "Aku tidak mau," jawabku. "Kamu ...." Ayah terlihat semakin marah, membuat ibu langsung menenangkannya. "Ayah tahan, tahan ayah," pinta ibu dengan lembut. Ibu melihat kearahku. "Sayang, kamu ke kamar dulu, istirahat. Ibu tahu kamu capek, dan mengenai ayah, biar ibu yang ngomong," ucap ibuku, yang hanya kutanggapi dengan anggukan. Aku terdiam di dalam kamar, ketika menatap layar ponsel. Disana terlihat pemberitahuan acara pesta perpisahan, yang diadakan oleh Ronald, salah satu anak konglomerat, yang juga bagian dari teman sekelas kami. "Apakah aku harus datang?" Aku membatin. Dan tidak lama kemudian, pintu kamarku diketuk. Setelah diketuk, pintu terbuka. Sosok ibu berdiri di depan pintu, sembari memegangi gagangnya. "Boleh ibu masuk?" tanyanya dengan lembut, sambil tersenyum kecil. Aku mengangguk, dan ibu pun masuk, satu tangan ibu, terlihat memegang sesuatu. "Ini ada undang

  • Dimanja Paman Mantan   Bab 4. Aku Tidak Peduli

    "Sudah puas bicaranya?" Ucapan Dion menghentikan langkahku, yang berniat terus menjauh.Sebelum aku melempar tanya, tiba- tiba Karina keluar, dengan kedua pengikutnya itu."Dion, jangan marah sama Olivia. Dia tidak bermaksud jahat, aku yang salah bicara dengannya," ujar Karina bersandiwara.Jengah dan bosan sebenarnya kalau sudah begini. "Trik apalagi ini?" bentak Dion, membuat aku mengernyit."Dion jangan marah begitu, kasihan Olivia ..." lagi- lagi Karina bersuara, membuatku sangat muak."Lihatlah Karina, dia begitu baik dan lembut. Bahkan dihadapan Dion saja, dia masih membela wanita tidak tahu malu ini," ujar Siska."Jijik," lanjut Lani, yang juga salah satu pengikut Karina.Aku menghembuskan napas malas."Berhenti membuat masalah, Olivia. Minta maaflah pada Karin, jangan menyinggungnya," pinta Dion."Minta maaf untuk apa? Salahku dibagian mana?" "Dion sudahlah. Olivia tidak salah, aku yang salah," kata Karin dengan suara bergetar.Luar biasa benar wanita busa ini."Aku tahu kam

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status