"Apaan sih?" "Liv, ikuti saja ucapan Dion. Bukannya kamu selama ini selalu menjadi penurut, dan mengikuti kemana pun Dion pergi." Suara Karina terdengar lembut dan penuh arti. "Bukankah ini, yang selalu kamu inginkan? Di perhatikan Dion," cibir teman lainnya. "Trik apalagi ini, Olivia? Jangan buat aku jijik," tekan Dion. Entah kenapa, rasanya sakit sekali mendengar ucapannya. "Jika ini cara kamu, agar dapat perhatianku, lebih baik hentikan saja. Karena sampai kapanpun juga, aku tidak akan pernah tertarik padamu," ujarnya lagi dengan tatapan tajam menekan. Aku menutup mata, berusaha menelan perasaan yang semakin terluka. Tidak mudah memang, melepaskan perasaan, pada seseorang yang memang pernah kita sukai. Tapi jika orang itu luka dan celaka, maka memantapkan hati meninggalkannya, bukankah itu keputusan yang cukup baik. "Dion, kumohon sudah. Aku tidak berniat melakukan trik apapun, aku hanya ingin hidup dengan normal," jelasku dengan nada suara yang pelan. Namun,
Aku, ayah dan ibu sangat terkejut, ketika melihat Dion, berada di muara pintu rumah kami. "Nak Dion, ada apa kemari?" tanya Ibu yang langsung bersikap ramah. "Nak Dion mari masuk, ayo ayo. Olivia, ajak Dion masuk, Nak," timpal ayah sangat ramah. Aku diam membeku, ketika melihat tatapan marah dimata Dion padaku. "Kupikir kamu tulus, ternyata ...." Dion kembali bersuara. Lelaki itu mengabaikan ayah dan ibuku. "Ternyata Karina benar, kamu licik," lanjutnya. Kemudian dia pergi begitu saja. Ngapain dia datang ke rumahku secara tiba- tiba? Tapi terserah saja, bagus kalau dia salah paham. Jadi harapan ayah akan semakin pupus. "Bodoh! Kenapa diam saja? Kejar Dion nya," titah ayah kepadaku. "Untuk apa?" "Ya ampun! Dia salah paham itu, cepat bujuk dia, Liv. Dia adalah harapan ayah, agar perusahaan tidak jadi bangkrut," lirih ayah mulai panik. "Aku nggak mau, Dion hanya akan semakin marah padaku." Namun tiba- tiba ibu kesakitan, memegangi dadanya dan pingsan. Aku, serta ayah pun la
Aku mengepalkan tangan. Rasa terhina juga sakit hati. "Aku mau pulang, Paman." Aku berkata dengan kesal. "Buat apa juga aku dibawa kesini?" lanjutku dengan tatapan kesal. "Ikut denganku, akan aku jelaskan tujuanku," ujar Ammar. Meskipun kesal, aku tetap mengikuti langkahnya. Kami kembali ke dalam mobil, dan lelaki itu melajukan mobilnya, meninggalkan parkiran rumah sakit. "Aku sudah memantau perkembangan hubungan kamu dan Dion. Kurasa, itu hubungan yang buruk dan sepihak." Aku hanya terdiam, tidak ingin menanggapi apapun mengenai lelaki yang bernama Dion itu. "Kudengar, perusahaan orang tuamu juga sedang membutuhkan suntikan dana. Dan kamu, diminta untuk memperjelas hubungan kamu dan Dion. Hubungan seperti apa? Padahal Dion, tidak menyukaimu sama sekali," lanjutnya sambil menyetir. "Aku tidak suka Dion," jawabku tegas. "Semua orang di kota Lurry ini juga tau, bahwa kamu, tergila- gila sama Dion." Aku terdiam. Faktanya aku dulu memang sebodoh itu, melakukan apapun
"Kita akan keluar diam- diam, kamu tenang saja," jawab Ammar. "Yang penting, rahasiakan dulu pernikahan ini, aku hanya butuh status, bukan pernikahan sungguhan," lanjutnya. "Baiklah." "Panggil aku, Ammar." "Iya." Keheningan memenuhi kamar ini, kemudian, pintu kamar kami diketuk. Ammar berdiri dari duduknya, dan membukakan pintu. Senyum sumringah Nenek menyambutnya. "Nenek bawakan minuman sehat untuk kalian," ucap Nenek. Aku hanya melempar senyum pada Nenek dan langsung gegas berdiri. "Ini minuman tradisi penyambutan keluarga kita, pada pengantin baru. Kalian berdua harus meminumnya," tegas Nenek sambil tersenyum manis. Aku pun menyambut minuman itu dan langsung menegaknya. Sedangkan Ammar masih terdiam. "Nenek tidak sedang merencanakan sesuatu kan?" Ammar menatap curiga, membuat wajah Nenek cemberut. "Rencana apa? Kamu meragukan ucapan Nenek, ya. Ini tradisi keluarga kita, Ammar." Mendengar ucapan Nenek yang nampak kecewa, Ammar pun menurut saja dan langsung meminumnya. W
“Terima kasih sudah hadir di acara pertunangan saya dan wanita yang selama ini sangat saya cintai.” Dion tampak tersenyum sembari mencium tangan wanita di sampingnya. “Mengenai Olivia Janeta yang selama ini kalian kenal sebagai istri saya, secepatnya dia akan saya ceraikan. Sebab sejak awal, wanita licik itu menipu saya agar bisa menikahinya.” Ucapan pria berstatus suamiku itu sontak menghancurkan hati. Tubuhku bahkan gemetar hebat karena tak menerima itu semuanya.Aku menipunya? Untuk apa?Selama ini, aku tulus mencintainya--melakukan apapun untuk membahagiakannya, menyiapkan segala keperluannya, agar dia merasa nyaman hidup denganku. Sekalipun pernikahan kami hanyalah kesalahan 1 malam, yang entah ulah siapa itu, aku pun tidak tahu!Namun tak kusangka jika Dion terus saja menuduhku menjebaknya meski aku sudah menjelaskan, hanya karena aku menyukainya sejak lama!Dan puncaknya, malam ini....Jelas, aku ingin meninggalkan ballroom mewah yang menyesakkan dada ini. Hanya saja, aku
Napasku memburu, aku nyaris kehilangan kesadaran, ketika bertemu teman- teman, yang rupanya memang tengah mencariku."Itu Oliv," pekik salah satu dari mereka."Astaga, dari mana saja kamu, Liv. Kami seharian cari kamu," sahut yang lainnya."Menyusahkan saja! Seharian kami sibuk mencari kamu, benar- benar menyebalkan ...." Aku tidak merespon apapun, selain terus menarik napasku berulang kali, sembari meraup udara dengan rakusnya. Karena aku benar- benar kelelahan berlari pontang panting dalam ketakutan."Lain kali jangan sok tau, ini tuh hutan lebat. Kamu bisa saja tersesat dan sulit ditemukan." Suara berat itu memicu perhatianku."Menyusahkan," lanjutnya.Aku menatap ke arahnya. Dion dengan wajah masamnya, menatap juga ke arahku.Hati ini berdenyut nyeri, ketika melihat ke arahnya. Dion berdiri dekat dengan Karina, wanita yang memang juga dekat dengan Dion. Padahal aku sudah melihat masa depanku, jika tetap menyukai lelaki ini. Tapi tidak mudah, membuang rasa suka menjadi benci, aku
"Lepaskan!" Aku menarik tanganku dari pegangannya.Lelaki tampan itu menatapku dengan sedikit heran."Aku sudah katakan, kalau aku tidak akan mengejar kamu lagi. Jadi kamu tidak perlu terganggu lagi, kan.""Trik murahan," cibirnya. Usai berkata, dia pun langsung berbalik badan dan menjauh pergi dari hadapanku.Dinda mendekat."Liv, ini pertama kalinya, aku lihat kamu seperti ini ke Dion. Padahal sebelumnya, kamu itu tunduk banget sama dia, bahkan kalau Dion marah, kamu sanggup memohon- mohon maaf dengannya. Tapi ini? Wow, luar biasa ...." Dinda bertepuk tangan, kemudian memelukku dengan eratnya.Terlihat sekali, dia nampak lega dan bahagia, dengan semua perubahanku."Semangat Oliv. Aku tahu ini tidak mudah, tapi aku yakin, kamu bisa terbebas dari obsesi kamu ini," ujar Dinda lagi, memberikanku semangat."Oke ...." hanya itu jawabanku sembari tersenyum manis. Jelas ini tidak mudah, karena ini masalah perasaan. Tapi demi nyawaku sendiri, aku harus bisa.Bayangan kematian tragis itu sang
"Sudah puas bicaranya?" Ucapan Dion menghentikan langkahku, yang berniat terus menjauh.Sebelum aku melempar tanya, tiba- tiba Karina keluar, dengan kedua pengikutnya itu."Dion, jangan marah sama Olivia. Dia tidak bermaksud jahat, aku yang salah bicara dengannya," ujar Karina bersandiwara.Jengah dan bosan sebenarnya kalau sudah begini. "Trik apalagi ini?" bentak Dion, membuat aku mengernyit."Dion jangan marah begitu, kasihan Olivia ..." lagi- lagi Karina bersuara, membuatku sangat muak."Lihatlah Karina, dia begitu baik dan lembut. Bahkan dihadapan Dion saja, dia masih membela wanita tidak tahu malu ini," ujar Siska."Jijik," lanjut Lani, yang juga salah satu pengikut Karina.Aku menghembuskan napas malas."Berhenti membuat masalah, Olivia. Minta maaflah pada Karin, jangan menyinggungnya," pinta Dion."Minta maaf untuk apa? Salahku dibagian mana?" "Dion sudahlah. Olivia tidak salah, aku yang salah," kata Karin dengan suara bergetar.Luar biasa benar wanita busa ini."Aku tahu kam
"Kita akan keluar diam- diam, kamu tenang saja," jawab Ammar. "Yang penting, rahasiakan dulu pernikahan ini, aku hanya butuh status, bukan pernikahan sungguhan," lanjutnya. "Baiklah." "Panggil aku, Ammar." "Iya." Keheningan memenuhi kamar ini, kemudian, pintu kamar kami diketuk. Ammar berdiri dari duduknya, dan membukakan pintu. Senyum sumringah Nenek menyambutnya. "Nenek bawakan minuman sehat untuk kalian," ucap Nenek. Aku hanya melempar senyum pada Nenek dan langsung gegas berdiri. "Ini minuman tradisi penyambutan keluarga kita, pada pengantin baru. Kalian berdua harus meminumnya," tegas Nenek sambil tersenyum manis. Aku pun menyambut minuman itu dan langsung menegaknya. Sedangkan Ammar masih terdiam. "Nenek tidak sedang merencanakan sesuatu kan?" Ammar menatap curiga, membuat wajah Nenek cemberut. "Rencana apa? Kamu meragukan ucapan Nenek, ya. Ini tradisi keluarga kita, Ammar." Mendengar ucapan Nenek yang nampak kecewa, Ammar pun menurut saja dan langsung meminumnya. W
Aku mengepalkan tangan. Rasa terhina juga sakit hati. "Aku mau pulang, Paman." Aku berkata dengan kesal. "Buat apa juga aku dibawa kesini?" lanjutku dengan tatapan kesal. "Ikut denganku, akan aku jelaskan tujuanku," ujar Ammar. Meskipun kesal, aku tetap mengikuti langkahnya. Kami kembali ke dalam mobil, dan lelaki itu melajukan mobilnya, meninggalkan parkiran rumah sakit. "Aku sudah memantau perkembangan hubungan kamu dan Dion. Kurasa, itu hubungan yang buruk dan sepihak." Aku hanya terdiam, tidak ingin menanggapi apapun mengenai lelaki yang bernama Dion itu. "Kudengar, perusahaan orang tuamu juga sedang membutuhkan suntikan dana. Dan kamu, diminta untuk memperjelas hubungan kamu dan Dion. Hubungan seperti apa? Padahal Dion, tidak menyukaimu sama sekali," lanjutnya sambil menyetir. "Aku tidak suka Dion," jawabku tegas. "Semua orang di kota Lurry ini juga tau, bahwa kamu, tergila- gila sama Dion." Aku terdiam. Faktanya aku dulu memang sebodoh itu, melakukan apapun
Aku, ayah dan ibu sangat terkejut, ketika melihat Dion, berada di muara pintu rumah kami. "Nak Dion, ada apa kemari?" tanya Ibu yang langsung bersikap ramah. "Nak Dion mari masuk, ayo ayo. Olivia, ajak Dion masuk, Nak," timpal ayah sangat ramah. Aku diam membeku, ketika melihat tatapan marah dimata Dion padaku. "Kupikir kamu tulus, ternyata ...." Dion kembali bersuara. Lelaki itu mengabaikan ayah dan ibuku. "Ternyata Karina benar, kamu licik," lanjutnya. Kemudian dia pergi begitu saja. Ngapain dia datang ke rumahku secara tiba- tiba? Tapi terserah saja, bagus kalau dia salah paham. Jadi harapan ayah akan semakin pupus. "Bodoh! Kenapa diam saja? Kejar Dion nya," titah ayah kepadaku. "Untuk apa?" "Ya ampun! Dia salah paham itu, cepat bujuk dia, Liv. Dia adalah harapan ayah, agar perusahaan tidak jadi bangkrut," lirih ayah mulai panik. "Aku nggak mau, Dion hanya akan semakin marah padaku." Namun tiba- tiba ibu kesakitan, memegangi dadanya dan pingsan. Aku, serta ayah pun la
"Apaan sih?" "Liv, ikuti saja ucapan Dion. Bukannya kamu selama ini selalu menjadi penurut, dan mengikuti kemana pun Dion pergi." Suara Karina terdengar lembut dan penuh arti. "Bukankah ini, yang selalu kamu inginkan? Di perhatikan Dion," cibir teman lainnya. "Trik apalagi ini, Olivia? Jangan buat aku jijik," tekan Dion. Entah kenapa, rasanya sakit sekali mendengar ucapannya. "Jika ini cara kamu, agar dapat perhatianku, lebih baik hentikan saja. Karena sampai kapanpun juga, aku tidak akan pernah tertarik padamu," ujarnya lagi dengan tatapan tajam menekan. Aku menutup mata, berusaha menelan perasaan yang semakin terluka. Tidak mudah memang, melepaskan perasaan, pada seseorang yang memang pernah kita sukai. Tapi jika orang itu luka dan celaka, maka memantapkan hati meninggalkannya, bukankah itu keputusan yang cukup baik. "Dion, kumohon sudah. Aku tidak berniat melakukan trik apapun, aku hanya ingin hidup dengan normal," jelasku dengan nada suara yang pelan. Namun,
"Ngomong apa sih, Liv. Kita ini kan keluarga, mana mungkin kami menjahati kamu. Semua yang ayah lakukan, demi kamu juga," bela Ibu. "Kami tahu kamu suka Dion, makanya kami dukung kamu, tapi kenapa kami jadi seakan- akan jahat, Liv?" tanya Ibu, nampak terheran- heran dengan sikapku. "Dulu aku suka, Bu. Sekarang sudah tidak," jelasku. "Ayah tidak percaya, nggak masuk akal. Semua juga tahu, kalau kamu tergila- gila sama Dion, bahkan kamu selalu menempel kepadanya," ujar Ayah. "Nak, tidak harus menikah muda. Setidaknya, kami hanya ingin kamu memiliki hubungan yang jelas dengan Dion," timpal Ibu, menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. "Ya, jangan cuma iri sama Kakakmu! Seharusnya kamu bisa seperti dia, banggain orang tua." Ayah kembali bersuara, membuatku hanya diam. Percuma berdebat dengan mereka, yang ada aku yang akan semakin pusing. "Tidak jadi orang hebat juga nggak masalah, Nak. Setidaknya, kamu bantu ayah saja sudah cukup," lirih ibu. Aku hanya diam dan berjalan mem
Aku dan Dion menoleh pada pemilik suara itu. Benar saja, Karina tersenyum ke arah kami dan berjalan mendekat. "Maaf, apakah aku mengganggu kalian?" tanya Karina sambil mendekat ke arah kami. Belum sempat ada yang bersuara, tiba- tiba Karina tersandung dan menabrakku yang berada di pinggiran kolam renang. Aku terjatuh ke kolam renang, aku memekik ketakutan, karena aku tidak bisa berenang. Apakah memang aku ditakdirkan harus mati? Sungguh sial sekali, memang nasib buruk selalu menimpaku, jika aku berada didekat Dion dan Karina. Seseorang memasuki kolam renang, dan menarik tanganku. Tubuhku benar- benar sudah terasa tidak berdaya, entah siapakah yang kini menolongku, aku pun tidak tahu. "Oliv, Olivia ...." Terdengar suara panik sahabatku. Aku melihat ke arahnya yang membantu menarik tubuhku naik. Aku direbahkan, dan lelaki yang menolongku tadi pun akhirnya naik ke tepian kolam renang. Terlihat wajahnya dengan samar, dia terlihat tampan, ditambah rambut basahnya yang m
Kumantapkan hati, untuk tetap datang ke pesta.Masalah minuman? Kurasa aku bisa menghindarinya. Aku berangkat mengendarai mobil sendiri malam ini. Entah mengapa, ibu begitu baik dan meminjamkan padaku mobilnya. Kejadian yang membuat cinta 1 malam itu terjadi, ketika acara perpisahan diadakan di sebuah Hotel ternama. Tapi kenyataannya, acara diadakan Ronald di rumah mewahnya. Takdir ini lumayan membuatku was- was, ketika sampai ditujuan, dan memarkirkan mobil. Setelah parkir, aku mulai bergabung ke dalam pesta, mendekati teman- teman lainnya. Acara diadakan di taman rumah Ronald, dan di dekat kolam renangnya. "Nyalimu besar juga, berani datang ke acara ini," ucap Siska, yang suaranya terdengar dari belakangku. Dan seperti biasa, dia datang bersama Lani, juga sesembahannya, Karin. Aku berbalik badan, dan melempar senyum mengejek ke arah mereka. "Dari dulu nyaliku besar, masa kamu ragukan itu?" "Cih! Wanita culas, memanfaatkan Dion, hanya untuk sebuah peringkat." Lani b
"Ayah tidak mau tahu, setelah lulus ini, kamu harus bisa mengambil hati Dion," tegas ayah. "Aku tidak mau," jawabku. "Kamu ...." Ayah terlihat semakin marah, membuat ibu langsung menenangkannya. "Ayah tahan, tahan ayah," pinta ibu dengan lembut. Ibu melihat kearahku. "Sayang, kamu ke kamar dulu, istirahat. Ibu tahu kamu capek, dan mengenai ayah, biar ibu yang ngomong," ucap ibuku, yang hanya kutanggapi dengan anggukan. Aku terdiam di dalam kamar, ketika menatap layar ponsel. Disana terlihat pemberitahuan acara pesta perpisahan, yang diadakan oleh Ronald, salah satu anak konglomerat, yang juga bagian dari teman sekelas kami. "Apakah aku harus datang?" Aku membatin. Dan tidak lama kemudian, pintu kamarku diketuk. Setelah diketuk, pintu terbuka. Sosok ibu berdiri di depan pintu, sembari memegangi gagangnya. "Boleh ibu masuk?" tanyanya dengan lembut, sambil tersenyum kecil. Aku mengangguk, dan ibu pun masuk, satu tangan ibu, terlihat memegang sesuatu. "Ini ada undang
"Sudah puas bicaranya?" Ucapan Dion menghentikan langkahku, yang berniat terus menjauh.Sebelum aku melempar tanya, tiba- tiba Karina keluar, dengan kedua pengikutnya itu."Dion, jangan marah sama Olivia. Dia tidak bermaksud jahat, aku yang salah bicara dengannya," ujar Karina bersandiwara.Jengah dan bosan sebenarnya kalau sudah begini. "Trik apalagi ini?" bentak Dion, membuat aku mengernyit."Dion jangan marah begitu, kasihan Olivia ..." lagi- lagi Karina bersuara, membuatku sangat muak."Lihatlah Karina, dia begitu baik dan lembut. Bahkan dihadapan Dion saja, dia masih membela wanita tidak tahu malu ini," ujar Siska."Jijik," lanjut Lani, yang juga salah satu pengikut Karina.Aku menghembuskan napas malas."Berhenti membuat masalah, Olivia. Minta maaflah pada Karin, jangan menyinggungnya," pinta Dion."Minta maaf untuk apa? Salahku dibagian mana?" "Dion sudahlah. Olivia tidak salah, aku yang salah," kata Karin dengan suara bergetar.Luar biasa benar wanita busa ini."Aku tahu kam