โBagaimana aku, La? Kamu tahu benar sifat Daniel bagaimana.โ Anakku tadi tidak peduli dengan apa yang aku jelaskan. Walaupun dengan alasan tidak mau terlambat sekolah, tapi aku tahu benar perubahan raut wajah menunjukkan dia kecewa. โBiarkan saja Daniel tahu bagaimana Ammar sebenarnya,โ seru Laila terlihat kesal. Mungkin karena dia tahu tentang mantan suamiku yang berniat meminjam uang. โTapi, La. Nanti Daniel kecewa.โ Aku mengaitkan jemari, mengetatkan, dan kujadikan tumpuan dahi. โAtau, aku belikan saja, ya? Terus aku berikan atas nama Mas Ammar? Sepertinya itu lebih baik.โ โAh! Itu sepertinya jalan yang terbaik!โ seruku setelah mengangkat wajah. Laila menyodorkan berkas laporan dengan map bertulis pembayaran. โDengan berbohong kepada Daniel?โ โBagaimana lagi. Itu satu-satunya jalan, kan?โ jawabku sambil menaikkan kedua bahu. Kemudian kami berkutat dengan pekerjaan. Pembangunan yang sudah masuk tahap finishing, justru semakin memaksa kami untuk lebih teliti. Kebutuhan kecil-ke
Ini bukan acara makan malam, melainkan pesta besar-besaran. Masih dalam antrian mobil masuk ke areal, jejeran mobil-mobil keluaran luar negeri berjejer seperti menunjukkan status sosial penumpangnya. Mata ini mendapati beberapa mobil dengan plat nomor pegawai pemerintahan. โIya, itu mobil Pak Wali Kota. Beliau teman baik Kakek,โ ucap lelaki di sampingku. Aku sering berinterksi dengan para pengusaha, tetapi tidak banyak yang mau berbagi waktu dengan orang pemerintahan. Keberhasilan usahanya justru diminimalkan didengar orang-orang itu untuk menghincari cecaran kewajiban bulanan. Itu katanya. โApa bajuku ini pantas?โ tanyaku mulai ragu. Perlu rasa percaya diri untuk bergabung dengan mereka. Memang secara pendapat kasar, โSama-sama makan nasi, kenapa musti takut? Toh derajat di mata yang di Atas sama.โ Ini bukan karena takut atau berani, tetapi apakah aku bisa membawa diri dan pantas mendampingi lelaki di sampingku ini? Aku punya tanggung jawab untuk tidak mempermalukan dia. โAi. Ka
Sorot matanya seakan mengulitiku. Mata yang dibingkai bulu mata tebal, menyipit seperti meneliti diriku dari ujung rambut sampai apa yang aku kenakan sebagai alas kaki.Dalam hati sudah berniat, kalau wanita ini macam-macam, aku tidak akan tinggal diam. Tentu saja menggunakan cara yang elegan, aku bisa menusuk tanpa senjata. Mas Burhan masih berbincang dengan tamu sebelumnya. Seharusnya dia di sampingku, terlebih saat yang menjadikan alasan aku di sini, ada di depanku.โTernyata kamu lumayan juga,โ ucapnya dengan menunjukkan senyuman sinis. โEntah berapa duit Burhan yang kamu habiskan untuk berdandan seperti ini?โAku menghela napas. Dari jenis ucapannya, terlihat jelas dia wanita seperti apa. Tingkat kesopanannya seberapa dan bagaimana dia melihat orang lain. Menurut yang aku dengar, dia memang putri salah satu pemilih saham. โMaaf. Sebelumnya kita pernah bertemu, tetapi belum sempat kenalan. Nama saya Aida Fatma dari Megah Architect,โ ucapku sambil menekan emosi.Aku tidak ingin
โTernyata sahabatku ini diam-diam menghanyutkan!โ Laila yang baru masuk ke ruangan langsung menunjukkan jempol tangan plus kedipan mata.Aku tertawa kecil dan kembali ke layar, tidak menghiraukannya. Kembali aku mengerjakan detail gambar untuk menambahkan ide di kepala. Seakan mengerti, wanita teman kerjaku ini duduk diam di depanku.Dunia arsitek itu lebih ke seni. Seperti di panggung, saat pelakon masuk dia akan melepaskan diri dari dunia nyata. Dia akan membiarkan dirinya menjelajah ke dunia yang akan dibangkitkan dari karya. Seperti aku sekarang ini.โSelesai!โ teriakku.Aku mendongakkan kepala dan menarik kedua bahu ke arah belakang. Meregangkan tubuh seperti ini, setelah berpusat sampai lupa kalau tulang belakang mulai berteriak.โAda apa, La?โ tanyaku heran. Biasanya, kalau aku abaikan, dia akan meninggalkan aku. Ini justru membiarkan dirinya menunggu seperti tukang tagih saja. Dia mengerjakan pekerjaannya di sini.Dia tersenyum. โAku yakin, kamu tidak membuka internet pagi i
Aku biarkan ponsel yang berkali-kali memberi tanda pesan masuk. Semua dari nama yang sama. โHuh! Dia ini benar-benar panas dan mengusikku,โ bisik hatiku sambil mengambil benda pipih ini. Untuk mewaraskan diri, namanya yang tertera di deretan pesan masuk, aku tekan lama kemudian memilih mengarsipkan. Dengan begini, berjuta kali dia kirim pesan, mataku tidak mendapati. Memang benar, mantan itu sekadar masa lalu yang wajib diarsipkan saja. โJadi Bu Aida akan cuti lama?โ โCuti?โ Aku membalikkan pertanyaan Rara dengan tatapan tidak mengerti. Dia tersenyum sambil menerima berkas yang sudah aku setujui. โIya. Bu Aida kan segera menikah,โ celetuk Andre yang sedang memilah berkas untuk di bawa ke ruangannya. Aku tertawa kecil. Sepertinya semua sudah terjangkit virus pernikahan. Gara-gara artikel sialan itu. Kenapa mereka menayangkan berita tanpa konfirmasi? Seharusnya bertanya apakah asumsi mereka itu benar atau tidak, bukan sekadar dari foto yang terpampang dan pendapat orang sekitar.
Seorang anak, sering kali dituntut menjadi dewasa karena keadaan. Di saat seorang ayah yang seharusnya mengayomi ibu, tidak ada lagi, dia dipaksa menggantikan posisinya. Seperti yang ditunjukkan Daniel saat ini.Wajahnya yang biasanya menunjukkan senyuman, sekarang terlihat serius. Memaksaku mengerti kalau anak ini tidak main-main.โAku harus hati-hati,โ bisik hatiku sambil melajukan kendaraan.Pembicaraan ini lebih serius dan tidak mungkin kami bicara di mobil. Sesekali aku mencuri pandang kepadanya, dia tetap menekuri ke arah keluar jendela. Tidak seperti biasanya, dia berbagi cerita denganku.โOm siap menjawab apapun pertanyaan dari Daniel,โ ucapku setelah memesan makanan dan minuman. Pilihanku di resto cepat saji langganan kami. Memilih duduk di out-door untuk meleluasakan pembicaraan ini.Dia menyesap minuman soda, kemudian menatapku seolah mengumpulkan pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya.โKenapa Om mendekati Mama? Bukankan dia bukan wanita yang cantik atau muda seperti tema
Yang dilakukan Mas Burhan bukan menyelesaikan masalah. Dia justru menyimpan bom waktu. Ini sama saja melibatkan Daniel di kesepakatan pura-pura ini.Pagi-pagi di meja makan sudah siap dua kotak berisi kue kering hasil semalam.โIni untuk dibawa Mama ke kantor,โ ucapnya sambil menaruh ke dalam tas tempat bekal. Aku mengintip isi yang berisi toples-toples kecil. Senyumku mengembang, ketika mendapati secarik kertas yang bergambar hati dan tulisan Mamaku Tersayang.โTerima kasih, Sayang. Mama pasti tambah semangat kerja. Ayo dimakan sarapannya.โAku menyodorkan roti lapis yang berisi telor ceplok, daun selada, dan keju. Segelas susu hangat menjadi pelengkap.โWow, teman-teman sekolah dapet cookies juga,โ ucapku setelah menyudahi makan pagi. Kami bersiap untuk berangkat. Dia membawa tas sekolah ransel dan tas yang berisi kue kering yang sama denganku.โBukan.โโTrus?โโIni Daniel taruh di bawah. Nanti ada bagian pengiriman yang ambil, Ma. Daniel sudah pesan onlen.โโDikirim?โโIya. Untuk
โMa-maaf,โ ucapku setelah berusaha mengatur napas.Amarah yang sempat meledak berangsur-angsur mereda, seiring dengan sadarnya kedudukanku di mata lelaki ini. Aku mendudukkan diri di sofa dan menerima air putih yang dia sodorkan.โTidak seharusnya saya membentak. Maaf, mungkin ini karena saya stress.โAku memijit pelipis, yang semakin berdenyut apalagi melihat tas kertas yang senada dengan yang aku bawa tadi pagi. Tas yang berisi kue kering kiriman dari Daniel, anakku. Aku pastikan ini benar, karena ada pita putih sebagai mengaitnya.Laki-laki ini justru tersenyum.โAku senang. Akhirnya kamu jujur dengan perasaanmu.โโPerasaan apa?โ tanyaku sambil menaruh gelas kosong yang sudah aku teguk.โPertanda kalau kamu tidak menyukai aku dekat dengan wanita lain.โโJangan ngaco! Saya ke sini karena Daniel.โโKarena kamu menemuiku pun tidak apa-apa,โ ucapnya sambil memicingkan mata.โKamu berarti belum membuka kiriman dari Daniel?โKekesalanku yang masih tersisa, membuatku enggan memanggil sep
Sorot mata yang terkesan menghakimi, semakin mengukuhkan dia sebagai laki-laki yang menyebalkan. Apa urusannya aku akan pergi dengan siapa? Laki-laki atau perempuan bukankah itu hak aku sepenuhnya? Walaupun aku berkencan dengan laki-laki pun, dia tidak ada hak melarangku. Memang dia siapa? Aku menarik satu sudut bibir ke atas. Mulut ingin menumpahan sumpah serapah, tapi tertelan kembali mengingat dia pandai membalikkan kata-kata. Percuma! โMaaf. Saya sudah selesai,โ ucapku seraya meletakkan napkin dan beranjak berdiri. Badan yang sudah berbalik arah, urung bergerak. Tangan kiri ini merasakan genggaman erat. โKa-kamu mau kemana?โ โKembali ke kamar,โ jawabku dengan memasang ekspresi datar. Walaupun di dada ini sudah penuh dengan segala rasa yang campur aduk. Di sudut sana, hati ini menyayangkan kenapa pertemuan ini berakhir dengan kesal? Setitik harapan ada romansa indah benar-benar terkubur dalam. โTerus aku?โ Matanya mengerjap menatapku. Seperti anak kecil yang enggan ditinggal
โIni semuanya Daniel yang bikin,โ seru anak lelakiku sembari menyodorkan dua piring di depanku dan di depan lelaki yang duduk di sebelahku. Wafel dengan taburan buah segar dan kacang-kacangan.โIni untuk, Om?โโYes! Spesial untuk Mama dan Om Dokter,โ jawabnya, kemudian beranjak pergi. Sepertinya dia mengambil sarapan yang untuk dirinya.Mulai duduk sampai sekarang, diri ini seperti beku. Aku diam membeku dan tidak menyapanya. Berjubal pertanyaan, tapi semua seperti tertelan kembali. Dari tadi, Daniel lah yang mendominasi. Anakku itu tidak henti menceritakan keseruan di kota ini.Tertinggal kami berdua terdiam seperti orang asing yang duduk berjajar. Sarapan yang disajikan Daniel yang seharusnya menggugah selera, ini tidak mampu membangkitkan rasa lapar yang tadi sempat mendera.โGimana kabarmu?โ Suara bariton memecah keheningan. Aku menghela napas. Begini rasanya saat merasa asing dengan orang yang dulu sempat dekat.โBaik. Kamu?โTerdengar suara helaan napas darinya. Satu, dua, tiga,
โMaafkan aku. Aku tidak amanah,โ jawab LailaโDia?โDari layar ponsel, terlihat Laila mengangguk. โPak Burhan tidak percaya dengan apa yang aku ucapan. Dan sepertinya dia mencarimu di apartemen. Dia tahu kalau kamu dan Daniel bepergian jauh.โAku menghela napas. Ini yang sebelumnya aku takutkan. Mas Burhan bukan laki-laki tidak panjang akal. Dia begitu akrab dengan semua satpam apartemen tempatku tinggal, pasti ada maksud di belakangnya. Pasti dia tahu ini dari mereka yang sudah menjadi informannya.Pantas saja, dia sering membawakan sesuatu buat mereka.โTerus?โโYa aku tetap bungkam tentang keberadaanmu. Tapi โฆ.โโTapi kenapa?โ tanyaku penasaran. Kekawatiran menyergap. Sudah ada dibayanganku dia berlaku kasar pada Laila. โAku terpaksa memberikan nomor telponmu.โ Mata Laila mengerjap tersirat kekawatiran.Aku tersenyum lebar. โOalah. Ternyata hanya itu? Tak apa, aku tinggal matikan ponsel. Atau aku tidak jawab panggilannya. Beres, kan? Tidak apa-apa, yang penting kamu aman.โโSemog
โAku mempunyai tanggung jawab untuk mengantarmu. Jadi tidak usah sungkan menerima tawaranku ini,โ ucap Candra sebelum memaparkan fasilitas paket tour yang sudah dipesan Laila.Selain hunian yang nyaman, dia menjelaskan kemana saja tujuan yang menjadi pilihan.โKhusus kamu, semua yang ada didaftar bisa kita kunjungi secara bertahap.โโHmm?โโIni karena kita dari satu negara asal,โ ungkapnya sambil tersenyum.Aku akhirnya menyetujui niat baiknya. Apalagi Daniel kembali meninggalkan aku sendirian. Dia memilih menerima ajakan Steven-anak pemilik gedung hotel ini untuk berkunjung ke rumahnya.Awal hari, aku sudah siap. Riasan sederhana dan memakai baju tebal. Itu pun ditambah mantel berbulu untuk mengusir udara yang masih belum bersahabat dengan tubuh ini.โMama pakai ini. Aku tidak pakai,โ ucap Daniel sambil memasangkan syal miliknya. Kain tebal berwarna putih bercorak kotak-kotak hitam sudah terpasang manis di leherku. โTapi jangan ilang,โ serunya lagi setelah menunjukkan jempolnya.โIya
POV. Aida Kalau orang lain berlibur ke luar negeri akan dihabiskan dengan berkeliling kota, aku justru kebalikannya. Diriku lebih memilih hari kemerdekaan dengan cara bergelung dalam selimut. Sudah hampir sepekan, tapi aku cukup puas menikmati indahnya hujan salju dari balik jendela.Daniel?Anakku itu seperti bertemu teman bermain. Dia sudah tidak membutuhkan ibunya, dan justru menghabiskan hari dengan Candra.โMas Candra itu orang baik, Ai. Dia juga penyayang, aku kenal benar siapa dia,โ ungkap Laila.โTapi aku merepotkan dia, La. Apalagi Daniel. Anak itu seperti nyamuk mengintili dia kemana pun pergi. Bahkan saat Candra kerja pun dia ikut serta.โโSantuy aja. Mas Candra malah seneng, kok.โ Ucapan Laila membuat kekawatiranku terkikis. Yang dikatakan senada dengan yang diungkapkan Candra sendiri. Katanya, bertemu dengan Daniel menjadi obat rindu dengan para keponakan yang seumur dengan anakku.Begitu juga Daniel. Dia memilih ikut Candra saat aku tawari untuk ikut city tour yang diad
Kalau tidak terpisah jarak, pasti Laila aku cubit. Sahabat sekaligus rekan kerjaku itu dengan leluasa mentertawakan kebodohanku. Bahkan tidak segan dia melontarkan ledekan. โAwas kamu Laila. Kamu akan tahu akibatnya saat aku pulang nanti.โ Dia tertawa. โSiapa takut? Aku tahu akibatnya oleh-oleh souvenir dari sana. Aku harap sih, membawa Mas Candra pulang,โ celetuknya dengan senyum masih lebar. Lontaran godaan tidak terhenti. Seperti tukang promosi, Laila menjabarkan siapa saudara jauhnya itu. Bagaimana kesuksesan dia dan apa saja sifatnya. Dari kedekatannya dengan anakku walaupun belum lama kenal, mencerminkan dia orang yang ramah dan penyayang. โDaniel mana? Dia pasti sudah tepar, ya?โ โTIdak. Dia justru sudah pergi main dengan Candra.โ โTuh, kan. Baru kenal saja sudah menunjukkan dia bapak yang baik.โ โLaila!โ sahutku. Allih-alih berhenti, dia justru berbicara terus. โKeluarga Mas Candra itu orangnya baik dan penyayang. Kalau kamu jadi menantunya pasti disayang.โ โNgawur!โ
Aku mengeratkan genggaman pada pergelangan tangan Daniel. Sama denganku, anakku ini terlihat kaget mendengar ucapan lelaki ini. Dari awal persiapan, aku selalu mengatakan ada Tante Candra-saudara Tante Laila-yang akan menemani kami. Bodohnya aku tidak bertanya lebih lanjut kepada Laila siapa sebenarnya saudara yang menjadi tour guide kami. Siapa sangka nama Candra Lukita bukanlah perempuan, tapi justru laki-laki. โMa-maaf. Saya pikirโฆ.โ โSantuy, ajah. Aku panggil kamu Aida, ya? Kita mungkin tidak seumuran, tapi di negara ini tidak memandang seseorang dari umur.โ Dalam hati aku mencembik. Tidak usah bilang umur. Tanpa dibilang pun aku tahu lelaki ini jauh lebih muda dariku. Tubuhnya aja yang menjulang yang memanipulasi usianya. โIya, silakan. Tapi sekali lagi minta maaf, ya. Laila juga tidak mengatakan kalau anda laki-laki. Saya juga tidak bertanya,โ sahutku memberi alasan. Dia menunjukkan senyuman pemakluman. Jujur aku malu, kok bisanya aku tidak seteliti ini. Sampai jenis kela
Kata-kata bernada kompromi bergumul di kepala. Menjadikan apa yang terjadi adalah suatu yang bisa dimaklumi. Kami yang sama-sama dewasa yang tentunya mempunyai kebutuhan hasrat dan itu hal biasa. Terlebih bagi dua insan yang saling jatuh cinta. โHuft! Pembelaan mencari pembenaran,โ bisik sudut hatiku sebelah sana. Namun, bukankah kedewasaan dan rasa cinta seharusnya menempatkan seseorang untuk dijaga? Bukan untuk dijadikan obyek pelampiasan hasrat semata. Cinta yang agung hanya tersekat selembar rambut dengan nafsu. Dan, yang terjadi sudah hal demikian. Sepanjang jalan menuju pulang, kami hanya terdiam. Tidak ada kata sepatahpun setelah dia mengatakan maaf. โAida. Maafkan aku. A-aku sangat merindukan kamu dan mendapati kamu seperti sekarang menjadikan aku tidak mampu mengendalikan diri,โ ucapnya dengan suara parau. โKamu membuatku gila, Aida,โ gumamnya sambil meraup kasar wajahnya. Tanganku mencengkeram jaket yang sudah aku eratkan. Begitu juga bawahan baju tidur yang tidak cu
Kata orang, semakin kita meniatkan sesuatu, semakin godaan akan datang. Aku mengurus semua untuk kepergianku, mulai dari administrasi, sampai izin ke sekolah Daniel. Tentu saja ini dirahasiakan dari Mas Burhan.Dia hanya tahu, ketidak aktifanku di kantor karena untuk pemulihan. Itu juga karena Laila yang memberitahu dia.โAku mendukung, kok,โ ucapnya melalui sambungan telpon.โBenar? Kamu tidak merasa rugi karena aku meninggalkan proyek?โ tanyaku sarkas. Setahuku dari dulu dia selalu mengatakan hal yang menyangkut untung dan rugi. Terlebih tentang kehadiranku.Dia tidak tersinggung, justru suara tawa terdengar.โKamu ingat saja. Itu kan supaya kamu tidak mewakilkan kehadiranmu.โAku mendengkus. โHuh, bilang saja tidak mau rugi.โโIya, lah. Rugi kalau aku datang dan gagal bertemu dengan orang yang aku inginkan,โ sahutnya memantik diri ini mengernyitkan dahi.Di setiap percakapan, selalu saja ucapan rayuan menyoal. Dasar laki-laki playboy. Mungkin ini satu alasan dia tidak kunjung mempu