Share

Melawan Siapa Pun

Author: PlutoPen
last update Last Updated: 2024-12-07 19:29:08

Tanpa mengetahui hal yang direncanakan sang ayah, Serena menggerakkan kursi rodanya seorang diri menuju ke arah kantin. Tidak ada yang menemaninya. Ia memang sudah terbiasa sendiri. Semenjak ia menggunakan kursi roda.

Pergerakan Serena terhenti saat sudah berada di kantin. Serena tidak bisa bergerak ke arah tempat pengambilan makanan. Bukan karena kursi rodanya rusak. Melainkan karena ada beberapa orang yang berhenti di depannya dan menghalangi jalannya.

Seorang perempuan dengan rambut pirang. Terlihat sepertinya berandalan. Mingzu. Seorang anak dari salah satu penjabat di pemerintahan. Dengan teman-teman menghalangi jalan Serena.

"Ada apa?" tanya Serena dengan tatapan kosong.

"Pergilah. Di sini bukanlah tempat untuk orang cacat sepertimu. Sekolah ini kehilangan wibawanya saat ada orang tanpa kaki sepertimu," jawab Mingzu dengan keras sehingga menjadi pusat perhatian.

Serena melirik ke sudut kantin. Di sana ada Brian Mcknight. Mantan pacar Serena. Sekaligus orang yang paling ditakutin di sekolah itu. Hanya saja tiba-tiba saja Brian tidak pernah berbicara dan menemuinya lagi setelah Serena kecelakaan.

Kemungkinan besar Brian tidak mau memiliki hubungan istimewa dengan seorang perempuan yang tidak bisa menggerakkan kakinya.

"Apakah kamu juga kehilangan indera pendengaranmu? Seberapa lama aku harus menunggumu? Haruskah aku membayar orang untuk menyingkirkanmu dari hadapanku?" tanya Mingzu dengan suara lebih keras.

"Aku hanya ingin membeli roti dan kembali ke kelasku. Aku lupa membawa bekalku," balas Serena setelah menghela nafas.

"Tidak ada roti untuk seorang perempuan yang tidak bisa menggunakan kakinya dengan baik."

Mingzu terus mempermalukan Serena. Itu wajar. Karena Serena adalah perempuan tercantik di sekolah itu. Mingzu yang selama ini iri pada Serena, kini memiliki kesempatan untuk naik posisi dan merendahkan Serena sampai ke titik terendah.

"Pergilah. Jangan membuatku marah. Ingatlah ini hanya sementara. Saat aku sudah bisa berdiri kembali, kamu tidak akan bisa mengalahkan ku dalam berbagai hal," balas Serena sudah muak dengan sikap Mingzu.

"Apa yang bisa kamu lakukan? Memangnya siapa orang yang bisa melindungi mu? Ayahmu? Dia hanyalah seorang polisi. Memangnya dia bisa melakukan apa padaku yang sudah jelas sekali ada anak penjabat ternama di sekolah ini?" tanya Mingzu dengan sikap angkuhnya.

"Dan untuk apa aku harus menunggu sampai kamu bisa berdiri kembali? Aku bisa melakukan apa pun yang aku mau lakukan sekarang. Menindasmu sekarang atau nanti sama saja. Sama-sama tidak ada orang yang akan melindungi mu," lanjut Mingzu menatap ke arah sekitar dengan tersenyum lebar.

Mingzu tidak sengaja menatap ke sebuah gelas minuman yang ada di atas meja. Salah satu pengikutnya yang menyadari itu pun dengan cepat mengambil gelas yang berisikan jus jeruk itu pada Mingzu.

Mingzu menerima itu. Mengarahkan minuman itu tepat di atas kepala Serena.

"Bagaimana jika aku menumpahkan minuman ini? Siapa yang akan membantumu? Siapa yang akan mengganti pakaianmu?" tanya Mingzu.

"Berhentilah selagi bisa," balas Serena menatap tajam wajah Mingzu.

"Bagaimana kalau kita mencobanya sekarang?"

Mingzu memiringkan gelas itu. Secara perlahan jus yang berada di dalam gelas itu perlahan mulai mengalir ke ujung gelas.

Namun sebelum isi dari gelas itu tumpah ke atas kepala Serena, ada seorang laki-laki menarik kursi roda Serena, lalu menendang keras tangan Mingzu. Membuat gelas itu terlepas dan jatuh ke lantai tanpa mengotori siapa pun. Dan Mingzu berteriak kesakitan karena tendangan laki-laki itu benar-benar melukai tangannya.

Perkelahian terjadi di sana. Antara laki-laki menggunakan almamater putih itu. Dengan dua laki-laki pengikut Mingzu. Tidak ada yang ikut campur. Karena bagi mereka itu adalah tontonan yang seru.

Sampai hasil akhirnya muncul. Laki-laki almamater putih itu menang. Dan kedua pengikut Mingzu tergeletak di atas lantai kantin.

"Apakah memang seperti ini tingkah anak penjabat? Bukankah tidak ada bedanya dengan anak jalanan? Lalu apa yang membuat kalian istimewa?" tanya laki-laki almamater putih itu.

"Jangan ikut campur anak baru. Kamu salah memilih lawan," balas Mingzu dengan tatapan penuh kebencian.

Mingzu bisa mengetahui bahwa laki-laki itu anak baru dari almamaternya. Berwarna putih. Itu menandakan bahwa memang anak laki-laki itu masih berada di dalam masa adaptasi. Jika memang sudah sesuai, maka laki-laki itu akan diberikan almamater berwarna biru tua. Seperti yang lainnya.

Yoshiro Shikazu. Nama itu Mingzu dapati dari almamater yang digunakan oleh laki-laki itu.

"Aku tidak peduli dengan siapa pun orang yang akan melindungi mu. Aku juga tidak peduli dengan siapa yang harus aku lawan selanjutnya. Aku tidak takut dengan siapa pun," balas Yoshiro menatap saksama manik mata Mingzu.

"Benarkah?" tanya Mingzu tersenyum kecil.

Yoshiro menarik pelan kakinya ke arah belakang. Lalu dengan cepat mengarahkan tendangan kerasnya dari arah samping menuju ke arah kepala Mingzu.

Namun kaki itu tidak berhasil mengenai wajah Mingzu. Karena tiba-tiba saja Brian muncul dan menahan tendangan Yoshiro menggunakan kedua tangannya.

"Apakah kamu mengerti apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Brian setelah kaki kanan Yoshiro kembali menyentuh lantai.

"Bukankah sudah aku bilang? Aku tidak takut dengan siapa pun. Dan aku baru saja membuktikan itu," jawab Yoshiro melangkah mendekat ke arah Brian.

"Karena itu, jangan sentuh dia lagi. Jangan ganggu dia lagi. Atau aku akan membuatmu sama seperti kedua orang bodoh itu," lanjut Yoshiro.

"Pergilah. Sebelum para guru datang. Aku akan melindungi mu untuk yang kali ini," balas Brian.

"Lucu sekali," ujar Yoshiro.

Yoshiro berbalik. Menuntun kursi roda milik Serena. Membawa Serena pergi dari area kantin. Mengabaikan Brian yang sedari awal masih mengamati Serena dalam diam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Menunggu Perintah

    Serena menatap bunga-bunga yang tumbuh di taman sekolahnya. Menghela nafas sejenak. Lalu memilih untuk menatap ke arah seorang laki-laki yang sedang duduk di kursi taman.Serena tidak mengenal laki-laki itu. Laki-laki itulah yang tiba-tiba saja menariknya dari kantin ke taman sekolah. Serena ingin marah. Namun Serena sadar bahwa tanpa laki-laki itu, pasti kondisi badannya saat ini sudah kotor karena terkena tumpahan jus jambu."Mau?" tanya Yoshiro menyodorkan roti yang sudah ia gigit sedikit."Aku tidak bisa memakan makanan sisa," balas Serena."Makanan sisa? Aku hanya mengingat sedikit di bagian ujungnya. Lagipula ini juga belum dibuang ke tempat sampah. Lalu kenapa kamu menyebutnya sebagai makanan sisa?""Karena sudah kamu gigit.""Aku tidak akan membagi apa pun lagi padamu setelah ini."Yoshiro mengingat rotinya dengan perasaan kesal. Menguyahnya tanpa kembali memandang ke arah Serena."Siapa yang menabrakmu?" tanya Yoshiro melirik ke arah kaki Serena."Entahlah. Tapi yang pasti,

    Last Updated : 2024-12-07
  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Berbeda

    Brian naik dari kolam renang sekolah dengan kondisi basah kuyup dan bagian atas badannya tanpa selesai kain sedikit pun.Kolam renang sekolah memang tempat umum. Para murid bisa masuk dan keluar semua mereka. Mereka pun bebas menggunakannya kapan saja.Namun aturan itu tidak berlaku saat Brian sedang menggunakannya. Brain adalah anak dari perdana menteri. Brain memiliki hak penuh dan kekuasaan di sekolah itu. Dan semua orang mengerti akan hal itu. Kecuali seorang laki-laki yang sekarang sedang berdiri sembari menatap Brian. Seorang laki-laki menggunakan almamater putih. Yoshiro."Sepertinya aku sudah menaruh dua pengawal di pintu masuk, apakah mereka lalai dan kamu mengambil kesempatan untuk masuk?" tanya Brian berhenti dalam kondisi masih cukup jauh dari Yoshiro."Manusia memiliki dua tangan. Tergantung pemiliknya mau digunakan untuk apa. Bisa digunakan untuk hal baik. Dan bisa juga digunakan untuk membuat orang lain tak sadarkan diri," balas Yoshiro memperlihatkan kedua tangannya pa

    Last Updated : 2024-12-10
  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Demi Ibu

    Yoshiro menghela nafas saat tiba-tiba saja ada tiga orang menggunakan jas hitam berwajah mengerikan menghadang jalannya.Tanpa bertanya lebih dulu, Yoshiro sudah mengerti alasan mengapa ketiga orang itu datang. Mingzu. Sudah pasti perempuan itu dalang dari kedatangan ketiga orang itu.Dua orang membawa tongkat besi. Dan satu orang yang berjaga membawa pistol. Kelompok mafia."Apakah kamu yang mencari masalah dengan putri dari Keluarga Archine?" tanya seorang mafia yang membawa pistol."Sepertinya aku tidak terlalu asing dengan lambang yang ada di jasmu," balas Yoshiro mengabaikan pertanyaan laki-laki itu. Dan lebih memiliki fokus pada lambang yang terdapat pada jas laki-laki itu."Wajah burung hantu berwarna putih? Apakah kalian dari WO?" tanya Yoshiro menatap saksama laki-laki pemegang pistol itu."Hee. Tidak kusangka kamu bisa menyadari itu. Sepertinya kamu bukanlah anak murid pada umumnya. Karena bisa tau sesuatu tentang kelompok kami," balas laki-laki itu.WO. Atau lebih tepatnya

    Last Updated : 2024-12-10
  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Informasi Mengerikan

    Serena menatap seorang laki-laki menggunakan mantel yang baru saja mendekat ke arah mobilnya. Ia membuka kaca mobil dan mengulurkan sebuah amplop cokelat yang berisikan tentang segala dokumen dan foto yang Serena minta.Serena meminta segala informasi tentang Yoshiro Shikazu pada Kazue. Karena laki-laki paruh baya itu sangat dekat dengan ayahnya. Dan Serena yakin bahwa Kazue tau sesuatu tentang Yoshiro."Nona Muda, tidak baik keluar malam seperti ini. Ada banyak orang jahat di luar sana. Supirmu saja tidak akan sanggup melawan mereka," ujar Kazue bersandar pada body mobil Serena."Aku tau itu," balas Serena membuka amplop cokelat itu."Apakah Ayah sedang ada di dalam?" tanya Serena."Tidak. Ayah Nona Muda sedang keluar untuk melakukan patroli bersama para anggota polisi yang lainnya. Nona Muda tau sendiri kalau beliau itu tidak bisa diam di satu tempat dalam waktu yang lama," balas Kazue.Serena mengangguk pelan. Diam. Membaca biografi tentang Yoshiro Shikazu. Memahami secara detail

    Last Updated : 2024-12-24
  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Masa Depan Adalah Takdir

    Keenan harus mengakui kemampuan bela diri Yoshiro. Karena laki-laki muda itu berhasil membuat kedua anak buah kepercayaannya terkapar di tanah, setelah melakukan pertarungan sengit.Yoshiro mendapatkan luka lebam akibat pertarungan itu. Namun Yoshiro terlihat masih memiliki tenaga untuk bertarung melawan Keenan."Haruskah kita menyelesaikan ini?" tanya Yoshiro dengan tatapan tajam ke arah Keenan."Bukankah semua yang sudah dimulai harus diselesaikan?" tanya Keenan melepaskan jas hitam miliknya. Menyisakan kemeja putih.Keenan menerjang maju. Dengan kecepatan yang sangat cepat. Selama ini tidak ada orang yang bisa memperhitungkan kapan Keenan akan mendaratkan kakinya dan di mana Keenan akan muncul setelah bergerak dengan kecepatan tinggi seperti itu.Namun Yoshiro bisa. Tinju keras Keenan yang seharusnya mengenai kepala Yoshiro, melenggang begitu saja karena Yoshiro menggeser kepalanya menjauh dari jalur lintas kepalan tangan Keenan."Di mana kamu belajar ilmu bela diri?" tanya Keenan

    Last Updated : 2024-12-25
  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Dua Kemungkinan

    Brian berdiri di dalam kelas XI-A. Kelas yang memang diisi oleh murid-murid yang berasal dari keluarga kolongmerat. Tidak ada satu pun murid miskin di sana. Semua yang masuk ke sana sudah dipastikan memiliki uang jajan harian yang melebihi gaji para guru yang ada di sekolah. Brian menatap bingung Yoshiro yang sedang terlihat mendorong kursi roda Serena. Dan sepertinya ingin membawa perempuan itu ke ruang makan. Tidak lama pandangan Brian beralih menatap ke seorang wanita yang tiba-tiba saja datang dan berdiri di sisinya. Mingzu. "Apakah kamu sudah makan? Kebetulan keluargaku membeli sebuah restoran besar di pusat kota. Maukah kamu ke sana bersamaku? Aku ingin meminta penilaianmu terhadap rasa makanan di restoran keluargaku," tanya Mingzu dengan penuh semangat. "Tidak bisa. Temanku sudah menyewa sirkuit dan kami akan berlomba di sana. Aku ingin mencoba seberapa kencang mobil baruku," tolak Brian. "Bagaimana kalau setelah itu?" "Aku akan memikirkannya nanti." Mingzu sangat tero

    Last Updated : 2024-12-25
  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Sedikit Mencair

    Serena menatap segala hidangan yang ada di meja makannya. Meja makan mewah dengan taplak berwarna putih dengan corak emas. Pelayan yang membawakan hidangan itu ke meja Serena. Lalu pandangan Serena beralih menatap seorang laki-laki yang duduk di hadapannya. Seorang laki-laki yang sedang sibuk dengan kotak makan kecil yang berisikan telur goreng serta nasi.Berbanding terbalik dengan makanan milik Serena."Aku dengar kamu juga bekerja di sebuah cafe," tanya Serena mengambil garpu dan pisau."Benar. Aku bekerja di cafe malam hari," balas Yoshiro setelah membuka tutup kotak makannya."Apakah kamu tidak belajar?""Aku belajar hanya saat aku ingin belajar."Serena diam. Menurut data yang ia terima dan baca, seluruh nilai laki-laki itu selalu sempurna. Tidak ada satu pun kesalahan saat ujian diadakan. Menandakan bahwa memang otak laki-laki itu bekerja dengan benar. "Aku dengar kamu pintar memainkan piano," tanya Yoshiro menatap ke arah Serena."Sedikit," balas Serena."Bagaimana caranya m

    Last Updated : 2024-12-25
  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Tawaran Pihak Lain

    Yoshiro yang sedang sibuk membersihkan meja pun langsung berdiri tegap untuk menyapa orang yang baru saja memasuki cafe tempatnya bekerja."Selamat malam," ujar Yoshiro dengan ragu menatap ke arah seorang gadis yang terlihat sangat elegan itu.jas, jam tangan, dan tas kecil. Semua barang-barang itu saja sudah menunjukkan betapa kayanya perempuan itu."Bisakah aku memesan sesuatu?" tanya tanya perempuan itu duduk di salah satu meja kosong."Silahkan," balas Yoshiro menaruh buku menu pada meja perempuan itu."Apakah memang selalu seperti ini? Sepi.""Selalunya tempat ini ramai. Kebetulan Anda datang lima menit sebelum cafe tutup. Jadi kondisinya memang hanya tersisa saya sekarang.""Di mana teman-temanmu?""Mereka sudah pulang duluan. Saya diminta untuk membuang sampah dan mengunci beberapa pintu.""Ah, begitu."Suasana hening. Yoshiro menatap secara saksama perempuan itu. Yoshiro mengetahui siapa perempuan itu.Ivona Olivia. Atau lebih sering dipanggil dengan sebutan Olivia. Pendiri se

    Last Updated : 2024-12-30

Latest chapter

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Bosan Dengan Maaf

    Yoshiro mendatangi kantor utama atas perintah Ivona. Ia duduk di kursi tamu. Berhadapan dengan Ivona yang duduk di kursinya sendiri. Dengan kondisi meja yang benar-benar bersih tanpa kertas dokumen ataupun bolpoin. "Kamu membawanya ke apartemenmu?" tanya Ivona menatap tajam Yoshiro. "Benar. Aku memintanya untuk tinggal di sana untuk sementara waktu. Dan aku akan tinggal di rumah lamaku selama dia masih berada di sana," jawab Yoshiro gugup karena tau Ivona akan marah. "Kenapa?" "Karena menurutku itu yang terbaik untuk saat ini." "Kenapa kamu tidak meminta izinku? Apakah menurutmu apartemen itu dibayar menggunakan uang gajimu? Aku yang membawanya menggunakan uang tabunganku. Apartemen itu milikku. Semua yang masuk dan tinggal di sana harus atas seizinku. Lalu mengapa kamu secara tiba-tiba membiarkan orang lain tinggal di sana?" "Aku minta maaf untuk itu." "Kamu salah. Dan kamu haru

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Rasa Ingin Melindungi

    Serena berjalan keluar dari ruangan kamar. Kemarin pikirannya benar-benar kacau. Sehingga tidak bisa mencerna segala hal yang ia lihat dan terjadi pada dirinya. Ia hanya berjalan mengikuti Yoshiro karena ia tau bahwa Yoshiro akan menjaganya. Namun hari ini ia sadar bahwa ia berada di sebuah apartemen mahal yang letaknya ada di pusat kota.Saat berada di luar kamar, ia tidak menemukan siapapun di ruang tamu. Namun ia mendengar ada suara dari ruangan yang ia yakini bahwa itu dapur. Sehingga Serena berjalan menuju tempat itu dan menemukan ada seorang perempuan paruh baya sedang memotong sayuran dan daging di sana.Serena mengingat perempuan itu. Sheila. Perempuan yang pernah ia jenguk di rumah sakit. Ibu kandung dari Yoshiro."Maaf, tapi di mana Yoshiro?" tanya Serena mendekat ke meja dapur."Ah, kamu sudah bangun," balas Sheila meletakkan pisau dapurnya."Yoshiro tidak tinggal di sini untuk sementara waktu," balas Sheila menghadap ke arah S

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Satu Harus Pergi

    Serena dibawa apartemen Yoshiro. Untuk sementara Serena akan tinggal di sana. Karena memang tempat itulah yang paling aman bagi Serena. Kazue pun ikut bersama mereka. Hanya saja saat ini dirinya dan Yoshiro berada di ruang tamu. Sedangkan Sheila dan Serena berada di kamar Yoshiro. Sheila sedang menenangkan Serena yang sedang menangis. Itu adalah hal yang wajar. Serena baru saja kehilangan satu-satunya anggota keluarganya. Kazue bisa menerima bahwa Serena akan tinggal di apartemen Yoshiro. Mengingat tempat paling aman bagi Serena saat ini adalah di sisi Yoshiro. Di mata Kazue, satu-satunya orang yang tidak terindikasi akan mengkhianati Serena adalah Yoshiro, melihat bagaimana cara Yoshiro melindungi Serena selama ini.Namun ada satu hal yang membuat Kazue meragukan sosok Yoshiro. Apartemen tempat Yoshiro tinggal. Hanya dengan melihat tampilan luar saja, Kazue bisa menyadari bahwa itu bukanlah apartemen yang bisa ditinggali oleh sembarang orang. Hanya oran

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Mengerti Akan Tujuan

    Mayat Honpil ditemukan. Tidak ada yang menyangka bahwa komisaris polisi itu akan menjadi korban dari kejadian itu. Kebanyakan orang mengira bahwa petinggi kepolisian itu sedang berada di luar seperti biasanya. Namun ternyata tidak. Laki-laki itu sedang berada di kantornya saat kejadian bom meledak itu terjadi. Membuatnya menjadi salah satu korban.Mendengar berita itu, Fei dan Ivona mendatangi rumah duka. Untuk menyamakan diri dengan para petinggi partai lainnya yang juga datang untuk menyampaikan rasa belasungkawa terhadap kematian Honpil.Yang menariknya perdana menteri ada di sana. Martin Mcknight. Pandangan mereka bertemu. Dan ini adalah pertemuan pertama mereka setelah setahun lebih tidak saling bertatapan."Lama tidak bertemu, Perdana Menteri," ujar Fei membungkukkan badan di hadapan Martin."Senang bisa bertemu dengan Anda, Fei Olivia," balas Martin menundukkan kepalanya sembari memejamkan matanya sebentar.Martin dan Ivona saling

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Keraguan

    Jika biasanya saat malam hari, Yuri akan lembur di kantor untuk mengajari Yoshiro tentang cara merentas data. Maka kali ini, mereka berada di sebuah restoran kecil yang berada di pinggir kota.Mereka menyewa sebuah ruangan khusus supaya mereka bisa berbicara tanpa harus mengkhawatirkan apapun. Dan menikmati banyak makanan yang sudah mereka pesan.Alasan mengapa mereka tidak berada di kantor kali ini adalah Fei. Ivona meminta Yuri untuk menjauhkan Yoshiro dari kantor untuk sementara waktu karena Fei sudah mulai turun tangan."Bagaimana bisa kamu tidak tau bahwa nyonya besar memiliki seorang kakak?" tanya Yuri menatap malas Yoshiro."Aku tidak pernah mencari tau. Dan kamu tidak pernah menceritakannya," balas Yoshiro memotong daging yang ada di atas piringnya."Bukankah seharusnya kamu mencari tau asal usul dari atasanmu sendiri?""Aku akan mencari tau setelah ini.""Nyonya akan marah besar jika dia tau kamu tidak tau apapun tentang dirinya.""Aku akan meminta maaf untuk itu."Yuri seben

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Sapaan Fei

    Yoshiro datang ke kantor pusat untuk menggantikan posisi Yuri yang sedang melakukan tugas lainnya sehingga tidak bisa berada di sisi Ivona.Yoshiro masih berada di ruang ganti. Melepaskan sepatu sekolahnya dan menggantinya dengan sepatu formal yang dulu ia beli dengan Yuri.Gerakan Yoshiro berhenti dan pandangannya menatap ke arah pintu masuk ruang ganti saat menyadari ada suara langkah kaki. Ia kebingungan saat melihat ada seorang perempuan cantik dengan perkiraan usia tidak jauh beda dengan Ivona masuk ke ruang ganti laki-laki."Maaf, tapi ini ruangan ganti laki-laki," ujar Yoshiro dengan tenang."Aku tau itu. Aku memang sengaja. Karena jika tidak sekarang, maka aku tidak akan bisa melihatmu," ujar perempuan itu dengan kedua tangan berada di belakang tubuh.Fei Olivia. Kakak perempuan dari Ivona Olivia. Namun Yoshiro tidak mengetahui itu. Di mata Yoshiro sekarang, Fei adalah orang asing yang secara sengaja memasuki ruang ganti laki-laki."Apakah Anda ada keperluan dengan saya?" tany

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Keistimewaan

    Pesta terjadi di wilayah kekuasaan Sentinel. Karena beberapa waktu lalu, Akashi berhasil menjalankan tugas untuk menyingkirkan Lucas Archine. Dan mereka mendapatkan bayaran yang sangat besar.Neon memandangi semua orang yang sedang berpesta dalam keadaan mabuk di sekitar api unggun. Ditemani oleh Akashi yang berdiri di belakangnya. "Kamu semakin melemah, 'ya," ujar Neon dengan nada halus."Menurut saya tidak demikian," balas Akashi menatap ke arah yang sama dengan Neon."Lalu mengapa kamu tidak berhasil memenangkannya?""Karena saya menahan diri. Saya mengerti bahwa Yoshiro satu-satunya kandidat yang akan memimpin organisasi ini di masa depan menggantikan Anda. Jika saya serius dalam pertarungan itu, maka dia akan terbunuh. Dan ada kemungkinan juga Anda akan membunuh saya, saat Anda melihat Yoshiro terbunuh.""Di mataku, kamu melemah. Kemampuan beladirimu masih sama. Hanya saja keyakinanmu yang lemah. Jika kamu masih sama seperti dulu saat kita bertemu, maka sudah dipastikan Yoshiro

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Menikmati

    Ivona mencoba duduk setelah terbangun dari tidurnya. Melihat langit dari kaca kamar yang masih gelap. Menandakan bahwa ia terbangun sebelum matahari terbit. Matanya beralih menuju jam dinding. Jam 03.21. Masih terlalu pagi untuk Ivona bangun.Kepalanya terasa sangat pusing. Badannya juga terasa tidak nyaman. Ia merasa sangat ingin muntah. Ivona berniat untuk melaporkan itu pada Yoshiro, namun saat ia melihat ke sisi kasur sebelehnya, ternyata tidak ada siapa pun di sana. Sebelumnya ia masuk kamar dan tidur lebih dulu setelah makan malam. Sehingga ia berpikir bahwa Yoshiro menggunakan kesempatan itu untuk tidur di luar.Namun tidak lama suara gagang pintu terdengar. Pandangan Ivona beralih menuju pintu dan melihat Yoshiro masuk ke dalam kamar dengan membawa sebuah mangkok dan handuk kecil yang telah dilipat."Sepertinya kita harus menunda rencana kita hari ini," ujar Yoshiro menaruh mangkok berisikan air hangat itu di atas nakas dan duduk di sisi sofa."Kamu bekerja terlalu keras akhir

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Tetap Bersamamu

    Ivona membuka pintu kamarnya saat mendengar suara dari arah luar. Sudah lewat dari tengah malam dan Yoshiro baru pulang. Ivona ingin marah karena ia sudah lama sekali menunggu laki-laki itu. Namun amarah Ivona tertahan saat melihat wajah laki-laki itu terluka.Ivona mendekat ke arah Yoshiro yang berdiri mematung di dekat sofa. Menyentuh bagian dagu laki-laki itu dan menggerakkannya ke arah kanan lalu kiri untuk memastikan bagian mana saja yang terluka."Kenapa?" tanya Ivona mengamati luka-luka yang ada di wajah Yoshiro."Saya tidak sengaja bertemu dengan preman," balas Yoshiro mencoba menutupi kejadian sebelumnya."Sebelum itu, kamu dari mana saja? Bukankah aku sudah mengatakan bahwa sebelum matahari terbenam kamu harus sudah berada di kamar?" "Saya berlari mengelilingi taman yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sini.""Sudah dua kali kamu mengabaikan perkataanku. Bukankah kamu harus menyesali itu dan meminta maaf kepadaku?"

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status