Share

Dua Kemungkinan

Author: PlutoPen
last update Last Updated: 2024-12-25 20:44:50

Brian berdiri di dalam kelas XI-A. Kelas yang memang diisi oleh murid-murid yang berasal dari keluarga kolongmerat. Tidak ada satu pun murid miskin di sana. Semua yang masuk ke sana sudah dipastikan memiliki uang jajan harian yang melebihi gaji para guru yang ada di sekolah.

Brian menatap bingung Yoshiro yang sedang terlihat mendorong kursi roda Serena. Dan sepertinya ingin membawa perempuan itu ke ruang makan.

Tidak lama pandangan Brian beralih menatap ke seorang wanita yang tiba-tiba saja datang dan berdiri di sisinya. Mingzu.

"Apakah kamu sudah makan? Kebetulan keluargaku membeli sebuah restoran besar di pusat kota. Maukah kamu ke sana bersamaku? Aku ingin meminta penilaianmu terhadap rasa makanan di restoran keluargaku," tanya Mingzu dengan penuh semangat.

"Tidak bisa. Temanku sudah menyewa sirkuit dan kami akan berlomba di sana. Aku ingin mencoba seberapa kencang mobil baruku," tolak Brian.

"Bagaimana kalau setelah itu?"

"Aku akan memikirkannya nanti."

Mingzu sangat terobsesi dengan Brian. Dan, ya, itu adalah hal yang wajar. Tidak ada satu pun wanita yang tidak menyukai laki-laki itu. Berwajah tampan dengan harga bergelimang. Anak dari perdana menteri.

"Kenapa dia masih di sini? Apakah kamu tidak mengerahkan anak buahmu?" tanya Brian menatap ke arah luar jendela.

"Hee, siapa yang maksudkan?" tanya Mingzu balik dengan rasa bingung.

"Murid beasiswa. Aku tidak tau namanya."

"Ah, anak itu. Aku sudah sebenarnya sudah menyewa kelompok White Owl untuk menyingkirkannya. Namun entah mengapa, kelompok mafia itu kalah."

Kening Brian mengkerut. White Owl bukanlah sekelompok mafia sembarangan. Kelompok itu berada di titik puncak kejahatan. Tidak pernah kalah. Dan tidak pernah gagal dalam menjalankan tugas.

Baru kali ini, Brian mendengar bahwa para penguasa dunia bawah itu kalah.

Mingzu adalah anak dari anggota dewan perwakilan rakyat. Seharusnya Mingzu bisa dengan mudah menyingkirkan Yoshiro hanya dengan sekali gerak. Namun ternyata tidak.

"Bukankah kamu merasa ada yang aneh padanya? Apakah menurutmu anak dari kalangan bawah sepertinya bisa berada di sini dengan mudah?" tanya Brian.

"Apakah menurutmu, ada seseorang dengan kekuasaan sama seperti keluarga kita di belakangnya?" tanya Mingzu balik.

"Aku tidak paham."

Para murid beasiswa lainnya merasakan tekanan yang sangat besar saat bergabung dengan High School Scarlt.

Tekanan yang membuat mereka bahkan tidak pernah berani berpapasan dengan anak-anak dari kelas elite. Namun Yoshiro berbeda. Laki-laki itu dengan bebas bergerak ke mana pun. Dan tak kadang membuat keributan. Seakan-akan percaya diri bahwa dirinya akan baik-baik saja jika memang harus berhadapan dengan orang-orang pemerintahan.

"Bukankah seharusnya kamu mulai berhati-hati sekarang?" tanya Brian melirik ke arah Mingzu.

"Berhati-hatilah? Untuk apa?" tanya Mingzu kebingungan.

"Kamu melemparkan sebuah pisau ke arahnya. Dan itu tidak mengenainya. Pisau itu bisa saja berbalik ke arahmu, jika memang ingin melakukannya. Nyawamu dan karier keluargamu berada di tangannya saat ini."

"Orang sepertinya? Kamu lucu sekali. Dia bahkan tidak berasal dari keluarga menengah ke atas. Dia hanya anak biasa dari kalangan bawah. Tidak mungkin orang sepertinya bisa membahayakan posisi keluargaku."

"Kalau memang begitu, kenapa kamu tidak bisa menyingkirkannya dalam sekali perintah?"

"Entahlah. Mungkin memang para mafia itu saja yang lemah. Aku akan menyewa kelompok mafia lain untuk menyingkirkannya."

Brian ragu Mingzu melakukan itu. Kelompok mafia nomor satu saja tidak bisa menyingkirkan Yoshiro. Apalagi kelompok mafia yang peringkatnya di bawah White Owl.

"Apakah kamu merasa terganggu dengan kehadirannya? Sangat jarang ada orang yang berhasil mendapatkan perhatianmu," tanya Mingzu.

"Tidak. Namun entah mengapa, aku merasa dia adalah orang yang berbahaya. Apalagi dengan kejadian kemarin. Dia tidak ragu melukai semua orang yang ingin menyentuh Serena," balas Brian.

"Bukankah kamu bisa dengan mudah mengakses dan mencuri data pribadinya?"

"Aku sudah melakukannya. Namun yang tertulis di sana biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Dia tidak memiliki hubungan darah dengan orang-orang yang ada di pemerintahan."

"Kalau begitu, bukankah artinya orang yang ada di belakangnya adalah orang-orang yang dekat dengan Serena?"

"Maksudnya?"

"Serena sedang dalam posisi buruk. Serena tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Jadi kemungkinan ada orang dari pihak Serena yang mencari orang untuk melindungi Serena. Dan pilihannya jatuh pada Yoshiro. Dengan kesepakatan Yoshiro melindungi Serena. Dan keluarga Serena akan melindungi Yoshiro saat Yoshiro terlibat dalam masalah hukum."

Brian mengangguk. Penjelasan yang masuk akal. Mengingat ayah Serena adalah komisaris. Memiliki pangkat. Dan bisa menggunakan kekuatan hukum untuk melindungi kepentingan pribadinya.

Namun hanya dengan pangkat komisaris saja, seharusnya tidak bisa semena-mena dengan anak dari seorang dewan perwakilan rakyat. Sehingga sekarang ada dua kemungkinan yang terlintas di benak Brian.

Pertama adalah Yoshiro sejak awal memang orang nekat. Yang menyerang secara membabi buta untuk melindungi orang yang ingin dilindunginya. Tidak memperdulikan siapa musuhnya. Lalu yang kedua adalah ada orang lain, dengan posisi lebih tinggi dari komisaris polisi yang melindungi Yoshiro.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Sedikit Mencair

    Serena menatap segala hidangan yang ada di meja makannya. Meja makan mewah dengan taplak berwarna putih dengan corak emas. Pelayan yang membawakan hidangan itu ke meja Serena. Lalu pandangan Serena beralih menatap seorang laki-laki yang duduk di hadapannya. Seorang laki-laki yang sedang sibuk dengan kotak makan kecil yang berisikan telur goreng serta nasi.Berbanding terbalik dengan makanan milik Serena."Aku dengar kamu juga bekerja di sebuah cafe," tanya Serena mengambil garpu dan pisau."Benar. Aku bekerja di cafe malam hari," balas Yoshiro setelah membuka tutup kotak makannya."Apakah kamu tidak belajar?""Aku belajar hanya saat aku ingin belajar."Serena diam. Menurut data yang ia terima dan baca, seluruh nilai laki-laki itu selalu sempurna. Tidak ada satu pun kesalahan saat ujian diadakan. Menandakan bahwa memang otak laki-laki itu bekerja dengan benar. "Aku dengar kamu pintar memainkan piano," tanya Yoshiro menatap ke arah Serena."Sedikit," balas Serena."Bagaimana caranya m

    Last Updated : 2024-12-25
  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Tawaran Pihak Lain

    Yoshiro yang sedang sibuk membersihkan meja pun langsung berdiri tegap untuk menyapa orang yang baru saja memasuki cafe tempatnya bekerja."Selamat malam," ujar Yoshiro dengan ragu menatap ke arah seorang gadis yang terlihat sangat elegan itu.jas, jam tangan, dan tas kecil. Semua barang-barang itu saja sudah menunjukkan betapa kayanya perempuan itu."Bisakah aku memesan sesuatu?" tanya tanya perempuan itu duduk di salah satu meja kosong."Silahkan," balas Yoshiro menaruh buku menu pada meja perempuan itu."Apakah memang selalu seperti ini? Sepi.""Selalunya tempat ini ramai. Kebetulan Anda datang lima menit sebelum cafe tutup. Jadi kondisinya memang hanya tersisa saya sekarang.""Di mana teman-temanmu?""Mereka sudah pulang duluan. Saya diminta untuk membuang sampah dan mengunci beberapa pintu.""Ah, begitu."Suasana hening. Yoshiro menatap secara saksama perempuan itu. Yoshiro mengetahui siapa perempuan itu.Ivona Olivia. Atau lebih sering dipanggil dengan sebutan Olivia. Pendiri se

    Last Updated : 2024-12-30
  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Penjahat Kelamin

    Kelas XI-A. Hanya berisi sebelas murid saja. Murid-murid di sana adalah murid istimewa yang memang memiliki keluarga terpandang. Atau lebih tepatnya, murid-murid yang memiliki hubungan dekat dengan pemerintahan. Brian, Mingzu, dan Serena adalah sedikit contohnya. Lalu juga ada salah satu laki-laki berambut pirang. Berbadan kekar. Bernama Ven Cloris. Sama seperti Mingzu, ayah Ven memiliki kursi di dewan perwakilan rakyat pada periode sekarang. Membuat Ven bisa melakukan segala hal yang ia inginkan tanpa harus mengkhawatirkan apa pun. Berbanding terbalik dengan Brian yang tidak terlalu banyak berinteraksi. Ven selalu berinteraksi. Hanya saja dengan para wanita. Dengan tujuan untuk meniduri wanita itu. Sudah lebih dari seratus wanita yang sudah ditiduri oleh Ven. Lalu dibuang begitu saja. "Apakah kamu membutuhkan bantuan?" tanya Ven berdiri di samping kursi roda Serena. "Tidak. Terima kasih," balas Serena menutup seluruh buku yang ada di meja belajarnya. Percakapan antara Ve

    Last Updated : 2024-12-31
  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Jangan Kembali Padaku

    Serena telah selesai memeriksakan kondisi kakinya di rumah sakit. Dokter yang menangani kakinya, mengatakan bahwa hanya butuh waktu sekitar satu bulan lagi untuk Serena bisa lepas dari kursi rodanya.Serena menunggu di ruang tunggu obat. Bersama dengan Yoshiro. Mereka masih sama-sama menggunakan almamater High School Scarlt. Mereka tidak menunggu obat. Tanpa perlu ditunggu pun Serena bisa mendapatkan obatnya. Itu sudah diurus oleh anak buah ayahnya. Yang Serena tunggu adalah ayahnya yang akan datang menjemputnya."Pergi saja," usir Serena."Aku tidak menunggumu. Aku memang ingin berada di sini," jawab Yoshiro menyandarkan punggungnya pada kursi."Untuk apa kamu di sini? Ibumu saja tidak dirawat di sini. Tidak ada alasan untukmu tetap berada di sini.""Berbicaralah sesukamu. Tugasku sebagai pengawalmu hanya saat berada di sekolah. Saat di luar sekolah, aku bisa melakukan apa pun yang aku mau. Tanpa harus menuruti kemauanmu."Serena melirik ke arah Yoshiro. Laki-laki itu hanya diam. Me

    Last Updated : 2024-12-31
  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Salah Ayah

    Serena kembali dengan Honpil menggunakan mobil sport milik Honpil. Sedangkan Yoshiro kembali ke cafe untuk menjadi pelayan di sana. Honpil cukup senang saat mendengar laporan dari dokter bahwasannya keadaan kaki Serena mulai membaik. Hanya butuh sedikit waktu lagi untuk Serena bisa lepas dari kursi rodanya."Bagaimana di sekolah? Apakah kamu mulai bisa terbiasa dengan kondisi yang sekarang?" tanya Honpil masih fokus dengan kondisi jalan di depannya."Baik-baik saja. Tapi akan lebih baik jika Ayah memperingati laki-laki bodoh itu untuk tidak menyerang semua orang yang dia lihat," balas Serena menatap ke arah luar kaca mobil di sampingnya."Yoshiro? Apakah dia melakukan sesuatu yang di luar perjanjian?""Dia menyerang Mingzu dan Ven. Dua orang yang jelas-jelas anak dari dewan perwakilan rakyat. Jika saja kedua orang itu ingin melaporkan kejadian itu kepada kedua orang tuanya, maka kita juga akan terlibat dalam masalah.""Benarkah? Apakah dia benar-benar melakukan itu? Kenapa tidak ada

    Last Updated : 2024-12-31
  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Pengajuan Kesepakatan

    Yoshiro berada di dalam mobil sport mewah. Keluaran terbaru. Berwarna putih. Yang terparkir jelas di depan cafe tempatnya bekerja.Tentu saja itu bukanlah miliknya. Melainkan milik seorang laki-laki yang satu sekolah dengannya. Seorang laki-laki yang tidak pernah ia sangka akan menemuinya dan mengajaknya untuk berbicara empat mata.Brain Mcknight. "Bukankah sangat aneh? Murid dari sekolah paling mahal di negeri ini bekerja paruh di cafe kecil seperti ini?" tanya Brain menatap secara saksama cafe tempat Yoshiro bekerja."Jangan samakan aku denganmu. Aku bukan anak pejabat atau anak pemilik perusahaan besar," balas Yoshiro."Lalu bagaimana bisa kamu masuk ke sana? Apakah ada orang yang mendaftarkanmu menggunakan nama keluarganya? Keluarga Mith contohnya?""Bukankah itu sudah sangat jelas? Lalu untuk apa kamu menanyakan itu padaku?""Begitu, 'ya? Mereka memintamu untuk menjaga Serena. Sebagai gantinya, mereka membayarmu untuk hal itu."Alasan yang sudah sangat jelas. Membuat Yoshiro tid

    Last Updated : 2025-01-03
  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Tidak Pernah Takut

    Kazue menghadap ke arah sebuah dermaga pelabuhan yang sudah dikosongkan. Bersama beberapa polisi khusus yang sudah berada di titik-titik persembunyian siap dengan sniper mereka.Kazue memiliki firasat bahwa dermaga itu adalah tempat di mana Honpil dan Serena dibawa. Kazue menatap ke arah sebelah kiri. Memandang sebuah mobil sport yang baru saja berhenti di sana. Lalu muncul dua orang yang Kazue cukup kenal. Yoshiro dan Brain."Anak kecil tidak boleh ke sini. Pergilah dan bermain bersama dengan orang yang seusia kalian," usir Kazue takut jika kedua orang itu akan merepotkannya."Saya anak dari perdana menteri. Saya datang karena melihat berita tentang teman satu kelas saya yang terlibat penculikan dan kemungkinan berada di sini," jawab Brain."Lalu? Kenapa kamu berada di sini? Ini sudah sepenuhnya urusan kepolisian. Yang tidak berkepentingan tidak boleh mendekat ke area ini," balas Kazue."Kamu pun sama. Pergilah. Ini bukan tugasmu," balas Kazue menatap ke arah Yoshiro. "Siapa kamu?"

    Last Updated : 2025-01-03
  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Laki-laki Bodoh

    Ivona Olivia. Seorang pendiri Partai Unity yang sering mendapatkan gelar sebagai Gadis Es. Seorang perempuan yang dikelilingi oleh banyak perempuan. Dan tak pernah sekali pun terlihat berdua bersama laki-laki. Bahkan ketika harus berurusan dengan para kader atau politisi dari partai pun, Ivona lebih sering mengirim asisten kepercayaannya untuk berbicara dengan mereka.Ivona hanya datang saat pertemuan besar. Dan tak ingin terlihat berdua bersama seorang laki-laki. Tidak peduli apa pun status laki-laki itu serta sepenting apakah laki-laki itu di sistem kenegaraan.Ivona menatap secara saksama asisten kepercayaannya yang tiba-tiba saja memasuki ruangannya tanpa ia hubungi lebih dulu. Elaine Yuri. "Maaf jika saya mengganggu waktu Anda. Namun saya rasa Anda harus melihat berita ini," ujar Yuri menyodorkan tablet miliknya."Berita? Apakah ada yang penting?" tanya Ivona mengambil tablet itu."Komisaris polisi dan anak perempuannya diculik."Ivona membaca berita itu. Keningnya mengkerut. Be

    Last Updated : 2025-01-03

Latest chapter

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Bosan Dengan Maaf

    Yoshiro mendatangi kantor utama atas perintah Ivona. Ia duduk di kursi tamu. Berhadapan dengan Ivona yang duduk di kursinya sendiri. Dengan kondisi meja yang benar-benar bersih tanpa kertas dokumen ataupun bolpoin. "Kamu membawanya ke apartemenmu?" tanya Ivona menatap tajam Yoshiro. "Benar. Aku memintanya untuk tinggal di sana untuk sementara waktu. Dan aku akan tinggal di rumah lamaku selama dia masih berada di sana," jawab Yoshiro gugup karena tau Ivona akan marah. "Kenapa?" "Karena menurutku itu yang terbaik untuk saat ini." "Kenapa kamu tidak meminta izinku? Apakah menurutmu apartemen itu dibayar menggunakan uang gajimu? Aku yang membawanya menggunakan uang tabunganku. Apartemen itu milikku. Semua yang masuk dan tinggal di sana harus atas seizinku. Lalu mengapa kamu secara tiba-tiba membiarkan orang lain tinggal di sana?" "Aku minta maaf untuk itu." "Kamu salah. Dan kamu haru

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Rasa Ingin Melindungi

    Serena berjalan keluar dari ruangan kamar. Kemarin pikirannya benar-benar kacau. Sehingga tidak bisa mencerna segala hal yang ia lihat dan terjadi pada dirinya. Ia hanya berjalan mengikuti Yoshiro karena ia tau bahwa Yoshiro akan menjaganya. Namun hari ini ia sadar bahwa ia berada di sebuah apartemen mahal yang letaknya ada di pusat kota.Saat berada di luar kamar, ia tidak menemukan siapapun di ruang tamu. Namun ia mendengar ada suara dari ruangan yang ia yakini bahwa itu dapur. Sehingga Serena berjalan menuju tempat itu dan menemukan ada seorang perempuan paruh baya sedang memotong sayuran dan daging di sana.Serena mengingat perempuan itu. Sheila. Perempuan yang pernah ia jenguk di rumah sakit. Ibu kandung dari Yoshiro."Maaf, tapi di mana Yoshiro?" tanya Serena mendekat ke meja dapur."Ah, kamu sudah bangun," balas Sheila meletakkan pisau dapurnya."Yoshiro tidak tinggal di sini untuk sementara waktu," balas Sheila menghadap ke arah S

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Satu Harus Pergi

    Serena dibawa apartemen Yoshiro. Untuk sementara Serena akan tinggal di sana. Karena memang tempat itulah yang paling aman bagi Serena. Kazue pun ikut bersama mereka. Hanya saja saat ini dirinya dan Yoshiro berada di ruang tamu. Sedangkan Sheila dan Serena berada di kamar Yoshiro. Sheila sedang menenangkan Serena yang sedang menangis. Itu adalah hal yang wajar. Serena baru saja kehilangan satu-satunya anggota keluarganya. Kazue bisa menerima bahwa Serena akan tinggal di apartemen Yoshiro. Mengingat tempat paling aman bagi Serena saat ini adalah di sisi Yoshiro. Di mata Kazue, satu-satunya orang yang tidak terindikasi akan mengkhianati Serena adalah Yoshiro, melihat bagaimana cara Yoshiro melindungi Serena selama ini.Namun ada satu hal yang membuat Kazue meragukan sosok Yoshiro. Apartemen tempat Yoshiro tinggal. Hanya dengan melihat tampilan luar saja, Kazue bisa menyadari bahwa itu bukanlah apartemen yang bisa ditinggali oleh sembarang orang. Hanya oran

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Mengerti Akan Tujuan

    Mayat Honpil ditemukan. Tidak ada yang menyangka bahwa komisaris polisi itu akan menjadi korban dari kejadian itu. Kebanyakan orang mengira bahwa petinggi kepolisian itu sedang berada di luar seperti biasanya. Namun ternyata tidak. Laki-laki itu sedang berada di kantornya saat kejadian bom meledak itu terjadi. Membuatnya menjadi salah satu korban.Mendengar berita itu, Fei dan Ivona mendatangi rumah duka. Untuk menyamakan diri dengan para petinggi partai lainnya yang juga datang untuk menyampaikan rasa belasungkawa terhadap kematian Honpil.Yang menariknya perdana menteri ada di sana. Martin Mcknight. Pandangan mereka bertemu. Dan ini adalah pertemuan pertama mereka setelah setahun lebih tidak saling bertatapan."Lama tidak bertemu, Perdana Menteri," ujar Fei membungkukkan badan di hadapan Martin."Senang bisa bertemu dengan Anda, Fei Olivia," balas Martin menundukkan kepalanya sembari memejamkan matanya sebentar.Martin dan Ivona saling

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Keraguan

    Jika biasanya saat malam hari, Yuri akan lembur di kantor untuk mengajari Yoshiro tentang cara merentas data. Maka kali ini, mereka berada di sebuah restoran kecil yang berada di pinggir kota.Mereka menyewa sebuah ruangan khusus supaya mereka bisa berbicara tanpa harus mengkhawatirkan apapun. Dan menikmati banyak makanan yang sudah mereka pesan.Alasan mengapa mereka tidak berada di kantor kali ini adalah Fei. Ivona meminta Yuri untuk menjauhkan Yoshiro dari kantor untuk sementara waktu karena Fei sudah mulai turun tangan."Bagaimana bisa kamu tidak tau bahwa nyonya besar memiliki seorang kakak?" tanya Yuri menatap malas Yoshiro."Aku tidak pernah mencari tau. Dan kamu tidak pernah menceritakannya," balas Yoshiro memotong daging yang ada di atas piringnya."Bukankah seharusnya kamu mencari tau asal usul dari atasanmu sendiri?""Aku akan mencari tau setelah ini.""Nyonya akan marah besar jika dia tau kamu tidak tau apapun tentang dirinya.""Aku akan meminta maaf untuk itu."Yuri seben

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Sapaan Fei

    Yoshiro datang ke kantor pusat untuk menggantikan posisi Yuri yang sedang melakukan tugas lainnya sehingga tidak bisa berada di sisi Ivona.Yoshiro masih berada di ruang ganti. Melepaskan sepatu sekolahnya dan menggantinya dengan sepatu formal yang dulu ia beli dengan Yuri.Gerakan Yoshiro berhenti dan pandangannya menatap ke arah pintu masuk ruang ganti saat menyadari ada suara langkah kaki. Ia kebingungan saat melihat ada seorang perempuan cantik dengan perkiraan usia tidak jauh beda dengan Ivona masuk ke ruang ganti laki-laki."Maaf, tapi ini ruangan ganti laki-laki," ujar Yoshiro dengan tenang."Aku tau itu. Aku memang sengaja. Karena jika tidak sekarang, maka aku tidak akan bisa melihatmu," ujar perempuan itu dengan kedua tangan berada di belakang tubuh.Fei Olivia. Kakak perempuan dari Ivona Olivia. Namun Yoshiro tidak mengetahui itu. Di mata Yoshiro sekarang, Fei adalah orang asing yang secara sengaja memasuki ruang ganti laki-laki."Apakah Anda ada keperluan dengan saya?" tany

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Keistimewaan

    Pesta terjadi di wilayah kekuasaan Sentinel. Karena beberapa waktu lalu, Akashi berhasil menjalankan tugas untuk menyingkirkan Lucas Archine. Dan mereka mendapatkan bayaran yang sangat besar.Neon memandangi semua orang yang sedang berpesta dalam keadaan mabuk di sekitar api unggun. Ditemani oleh Akashi yang berdiri di belakangnya. "Kamu semakin melemah, 'ya," ujar Neon dengan nada halus."Menurut saya tidak demikian," balas Akashi menatap ke arah yang sama dengan Neon."Lalu mengapa kamu tidak berhasil memenangkannya?""Karena saya menahan diri. Saya mengerti bahwa Yoshiro satu-satunya kandidat yang akan memimpin organisasi ini di masa depan menggantikan Anda. Jika saya serius dalam pertarungan itu, maka dia akan terbunuh. Dan ada kemungkinan juga Anda akan membunuh saya, saat Anda melihat Yoshiro terbunuh.""Di mataku, kamu melemah. Kemampuan beladirimu masih sama. Hanya saja keyakinanmu yang lemah. Jika kamu masih sama seperti dulu saat kita bertemu, maka sudah dipastikan Yoshiro

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Menikmati

    Ivona mencoba duduk setelah terbangun dari tidurnya. Melihat langit dari kaca kamar yang masih gelap. Menandakan bahwa ia terbangun sebelum matahari terbit. Matanya beralih menuju jam dinding. Jam 03.21. Masih terlalu pagi untuk Ivona bangun.Kepalanya terasa sangat pusing. Badannya juga terasa tidak nyaman. Ia merasa sangat ingin muntah. Ivona berniat untuk melaporkan itu pada Yoshiro, namun saat ia melihat ke sisi kasur sebelehnya, ternyata tidak ada siapa pun di sana. Sebelumnya ia masuk kamar dan tidur lebih dulu setelah makan malam. Sehingga ia berpikir bahwa Yoshiro menggunakan kesempatan itu untuk tidur di luar.Namun tidak lama suara gagang pintu terdengar. Pandangan Ivona beralih menuju pintu dan melihat Yoshiro masuk ke dalam kamar dengan membawa sebuah mangkok dan handuk kecil yang telah dilipat."Sepertinya kita harus menunda rencana kita hari ini," ujar Yoshiro menaruh mangkok berisikan air hangat itu di atas nakas dan duduk di sisi sofa."Kamu bekerja terlalu keras akhir

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Tetap Bersamamu

    Ivona membuka pintu kamarnya saat mendengar suara dari arah luar. Sudah lewat dari tengah malam dan Yoshiro baru pulang. Ivona ingin marah karena ia sudah lama sekali menunggu laki-laki itu. Namun amarah Ivona tertahan saat melihat wajah laki-laki itu terluka.Ivona mendekat ke arah Yoshiro yang berdiri mematung di dekat sofa. Menyentuh bagian dagu laki-laki itu dan menggerakkannya ke arah kanan lalu kiri untuk memastikan bagian mana saja yang terluka."Kenapa?" tanya Ivona mengamati luka-luka yang ada di wajah Yoshiro."Saya tidak sengaja bertemu dengan preman," balas Yoshiro mencoba menutupi kejadian sebelumnya."Sebelum itu, kamu dari mana saja? Bukankah aku sudah mengatakan bahwa sebelum matahari terbenam kamu harus sudah berada di kamar?" "Saya berlari mengelilingi taman yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sini.""Sudah dua kali kamu mengabaikan perkataanku. Bukankah kamu harus menyesali itu dan meminta maaf kepadaku?"

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status