Share

Demi Ibu

Penulis: PlutoPen
last update Terakhir Diperbarui: 2024-12-10 18:12:08

Yoshiro menghela nafas saat tiba-tiba saja ada tiga orang menggunakan jas hitam berwajah mengerikan menghadang jalannya.

Tanpa bertanya lebih dulu, Yoshiro sudah mengerti alasan mengapa ketiga orang itu datang. Mingzu. Sudah pasti perempuan itu dalang dari kedatangan ketiga orang itu.

Dua orang membawa tongkat besi. Dan satu orang yang berjaga membawa pistol. Kelompok mafia.

"Apakah kamu yang mencari masalah dengan putri dari Keluarga Archine?" tanya seorang mafia yang membawa pistol.

"Sepertinya aku tidak terlalu asing dengan lambang yang ada di jasmu," balas Yoshiro mengabaikan pertanyaan laki-laki itu. Dan lebih memiliki fokus pada lambang yang terdapat pada jas laki-laki itu.

"Wajah burung hantu berwarna putih? Apakah kalian dari WO?" tanya Yoshiro menatap saksama laki-laki pemegang pistol itu.

"Hee. Tidak kusangka kamu bisa menyadari itu. Sepertinya kamu bukanlah anak murid pada umumnya. Karena bisa tau sesuatu tentang kelompok kami," balas laki-laki itu.

WO. Atau lebih tepatnya White Owl. Sebuah kelompok mafia bayaran yang bergerak sesuai dengan 'pesanan' yang mereka terima. Kebanyakan dari orang-orang yang membayar mereka memiliki tujuan untuk menyingkirkan seseorang.

Dan laki-laki yang saat ini berbicara dengan Yoshiro adalah Keenan Sky. Pemimpin tertinggi dari kelompok White Owl.

"Aku mendengar sedikit tentang pertengkaran kalian. Untuk apa kalian melakukan hal bodoh itu? Bukankah seharusnya hidupmu lebih aman jika tidak melindungi perempuan itu? Kamu tidak dilindungi oleh orang-orang pemerintahan. Bahkan jika kamu mati dan jasadmu tidak ditemukan, maka tidak akan ada yang menyadari itu," tanya Keenan.

"Tidak ada. Aku hanya ingin melindunginya. Lagipula apa salahnya melindungi orang yang lebih lemah?" tanya Yoshiro mengangkat kedua bahunya.

"Aku rasa itu tidak ada salahnya. Namun akan lebih aman jika kamu tidak mencari masalah dengan orang yang tidak bisa kamu lawan. Sedangkan aku sendiri sebenarnya cukup menyukai orang sepertimu. Namun, ya, karena ini tugas. Maka mau tidak mau aku harus menyingkirkanmu."

Sepanjang percakapan Keenan sama sekali tidak ada ekspresi ketakutan pada wajah Yoshiro. Dengan posisi Yoshiro seperti sekarang, maka kesempatan Yoshiro untuk bisa bertahan hidup sangatlah kecil. Kematian adalah hal yang menakutkan. Namun itu tidak terlihat pada diri Yoshiro.

Seakan-akan Yoshiro percaya bahwa ia bisa keluar dari situasi itu dengan selamat.

"Sepertinya kamu berpikir bahwa kamu memiliki kesempatan untuk keluar dari tempat ini. Katakan padaku, apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" tanya Keenan melepaskan pistolnya dan membiarkan senjata api itu jatuh tergeletak di tanah.

"Entahlah, mungkin aku akan menghancurkan Keluarga Archine. Atau mungkin juga aku akan melenyapkan Mingzu dan menaruh jasadnya ke tempat yang tidak bisa ditemukan oleh orang lain," balas Yoshiro dengan santainya.

"Jangan naif, Anak Kecil. Keluarga Archine bukanlah keluarga biasa. Kamu bahkan tidak akan bisa mendekat ke area rumahnya karena di sana memiliki penjagaan yang ketat. Mendekat ke sana sama saja dengan bunuh diri."

"Begitu, 'kah? Tapi, ya, bukankah saat seorang laki-laki sudah mengucapkan sesuatu, maka laki-laki itu tidak boleh menariknya kembali?"

Keenan menyukai sikap Yoshiro. Seorang petarung yang tidak takut dengan siapa pun. Seorang laki-laki yang tidak akan menarik kembali kata-katanya. Itu benar-benar sempurna.

Keenan ingin membawa Yoshiro ke dalam kelompoknya. Namun Keenan tidak bisa melakukan itu. Karena ia dibayar untuk melenyapkan laki-laki itu.

"Menyerahlah. Kamu tidak akan bisa melakukannya. Sejak awal dunia memang seperti ini. Dunia tidak pernah berputar sesuai keinginan orang miskin seperti kita. Dunia berpihak pada mereka yang memiliki uang dan kekuasaan. Orang-orang kotor seperti kita seharusnya tidak naik ke atas dan mencari masalah dengan mereka," ujar Keenan menggunakan sarung tangan hitamnya dan maju mendekat ke arah Yoshiro.

"Jangan sama kan aku denganmu. Ada orang yang aku harus selamatkan. Oleh karena itu, aku akan melakukan apa pun untuk menyelamatkannya. Tidak peduli apa pun hasilnya, aku akan melakukannya," balas Yoshiro.

"Sungguh. Semua ini membuatku penasaran. Sebenarnya apa yang kamu ingin lindungi? Apa yang membuatmu harus bekerja sebagai pelindung nona muda dari Keluarga Mith?"

"Ibuku."

Keenan berhenti tepat di hadapan Yoshiro. Dengan mata membulat sempurna dan jantung yang sempat berdetak lebih kencang. Keenan tidak menyangka bahwa jawaban itu yang akan keluar dari mulut Yoshiro.

"Apakah selama ini seorang berandalan yang suka mencuri dan melakukan kasus penganiayaan adalah seorang anak baik yang ingin melindungi ibunya?" tanya Keenan dengan senyuman lebar.

"Aku rasa kamu benar," balas Yoshiro.

"Aku cukup senang mendengar itu. Tapi tugas tetaplah tugas. Sejak awal aku sudah ditugaskan untuk menyingkirkanmu. Jadi aku tidak akan mengalah dan melepaskanmu hanya karena itu."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Informasi Mengerikan

    Serena menatap seorang laki-laki menggunakan mantel yang baru saja mendekat ke arah mobilnya. Ia membuka kaca mobil dan mengulurkan sebuah amplop cokelat yang berisikan tentang segala dokumen dan foto yang Serena minta.Serena meminta segala informasi tentang Yoshiro Shikazu pada Kazue. Karena laki-laki paruh baya itu sangat dekat dengan ayahnya. Dan Serena yakin bahwa Kazue tau sesuatu tentang Yoshiro."Nona Muda, tidak baik keluar malam seperti ini. Ada banyak orang jahat di luar sana. Supirmu saja tidak akan sanggup melawan mereka," ujar Kazue bersandar pada body mobil Serena."Aku tau itu," balas Serena membuka amplop cokelat itu."Apakah Ayah sedang ada di dalam?" tanya Serena."Tidak. Ayah Nona Muda sedang keluar untuk melakukan patroli bersama para anggota polisi yang lainnya. Nona Muda tau sendiri kalau beliau itu tidak bisa diam di satu tempat dalam waktu yang lama," balas Kazue.Serena mengangguk pelan. Diam. Membaca biografi tentang Yoshiro Shikazu. Memahami secara detail

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-24
  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Masa Depan Adalah Takdir

    Keenan harus mengakui kemampuan bela diri Yoshiro. Karena laki-laki muda itu berhasil membuat kedua anak buah kepercayaannya terkapar di tanah, setelah melakukan pertarungan sengit.Yoshiro mendapatkan luka lebam akibat pertarungan itu. Namun Yoshiro terlihat masih memiliki tenaga untuk bertarung melawan Keenan."Haruskah kita menyelesaikan ini?" tanya Yoshiro dengan tatapan tajam ke arah Keenan."Bukankah semua yang sudah dimulai harus diselesaikan?" tanya Keenan melepaskan jas hitam miliknya. Menyisakan kemeja putih.Keenan menerjang maju. Dengan kecepatan yang sangat cepat. Selama ini tidak ada orang yang bisa memperhitungkan kapan Keenan akan mendaratkan kakinya dan di mana Keenan akan muncul setelah bergerak dengan kecepatan tinggi seperti itu.Namun Yoshiro bisa. Tinju keras Keenan yang seharusnya mengenai kepala Yoshiro, melenggang begitu saja karena Yoshiro menggeser kepalanya menjauh dari jalur lintas kepalan tangan Keenan."Di mana kamu belajar ilmu bela diri?" tanya Keenan

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-25
  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Dua Kemungkinan

    Brian berdiri di dalam kelas XI-A. Kelas yang memang diisi oleh murid-murid yang berasal dari keluarga kolongmerat. Tidak ada satu pun murid miskin di sana. Semua yang masuk ke sana sudah dipastikan memiliki uang jajan harian yang melebihi gaji para guru yang ada di sekolah. Brian menatap bingung Yoshiro yang sedang terlihat mendorong kursi roda Serena. Dan sepertinya ingin membawa perempuan itu ke ruang makan. Tidak lama pandangan Brian beralih menatap ke seorang wanita yang tiba-tiba saja datang dan berdiri di sisinya. Mingzu. "Apakah kamu sudah makan? Kebetulan keluargaku membeli sebuah restoran besar di pusat kota. Maukah kamu ke sana bersamaku? Aku ingin meminta penilaianmu terhadap rasa makanan di restoran keluargaku," tanya Mingzu dengan penuh semangat. "Tidak bisa. Temanku sudah menyewa sirkuit dan kami akan berlomba di sana. Aku ingin mencoba seberapa kencang mobil baruku," tolak Brian. "Bagaimana kalau setelah itu?" "Aku akan memikirkannya nanti." Mingzu sangat tero

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-25
  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Sedikit Mencair

    Serena menatap segala hidangan yang ada di meja makannya. Meja makan mewah dengan taplak berwarna putih dengan corak emas. Pelayan yang membawakan hidangan itu ke meja Serena. Lalu pandangan Serena beralih menatap seorang laki-laki yang duduk di hadapannya. Seorang laki-laki yang sedang sibuk dengan kotak makan kecil yang berisikan telur goreng serta nasi.Berbanding terbalik dengan makanan milik Serena."Aku dengar kamu juga bekerja di sebuah cafe," tanya Serena mengambil garpu dan pisau."Benar. Aku bekerja di cafe malam hari," balas Yoshiro setelah membuka tutup kotak makannya."Apakah kamu tidak belajar?""Aku belajar hanya saat aku ingin belajar."Serena diam. Menurut data yang ia terima dan baca, seluruh nilai laki-laki itu selalu sempurna. Tidak ada satu pun kesalahan saat ujian diadakan. Menandakan bahwa memang otak laki-laki itu bekerja dengan benar. "Aku dengar kamu pintar memainkan piano," tanya Yoshiro menatap ke arah Serena."Sedikit," balas Serena."Bagaimana caranya m

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-25
  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Tawaran Pihak Lain

    Yoshiro yang sedang sibuk membersihkan meja pun langsung berdiri tegap untuk menyapa orang yang baru saja memasuki cafe tempatnya bekerja."Selamat malam," ujar Yoshiro dengan ragu menatap ke arah seorang gadis yang terlihat sangat elegan itu.jas, jam tangan, dan tas kecil. Semua barang-barang itu saja sudah menunjukkan betapa kayanya perempuan itu."Bisakah aku memesan sesuatu?" tanya tanya perempuan itu duduk di salah satu meja kosong."Silahkan," balas Yoshiro menaruh buku menu pada meja perempuan itu."Apakah memang selalu seperti ini? Sepi.""Selalunya tempat ini ramai. Kebetulan Anda datang lima menit sebelum cafe tutup. Jadi kondisinya memang hanya tersisa saya sekarang.""Di mana teman-temanmu?""Mereka sudah pulang duluan. Saya diminta untuk membuang sampah dan mengunci beberapa pintu.""Ah, begitu."Suasana hening. Yoshiro menatap secara saksama perempuan itu. Yoshiro mengetahui siapa perempuan itu.Ivona Olivia. Atau lebih sering dipanggil dengan sebutan Olivia. Pendiri se

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-30
  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Penjahat Kelamin

    Kelas XI-A. Hanya berisi sebelas murid saja. Murid-murid di sana adalah murid istimewa yang memang memiliki keluarga terpandang. Atau lebih tepatnya, murid-murid yang memiliki hubungan dekat dengan pemerintahan. Brian, Mingzu, dan Serena adalah sedikit contohnya. Lalu juga ada salah satu laki-laki berambut pirang. Berbadan kekar. Bernama Ven Cloris. Sama seperti Mingzu, ayah Ven memiliki kursi di dewan perwakilan rakyat pada periode sekarang. Membuat Ven bisa melakukan segala hal yang ia inginkan tanpa harus mengkhawatirkan apa pun. Berbanding terbalik dengan Brian yang tidak terlalu banyak berinteraksi. Ven selalu berinteraksi. Hanya saja dengan para wanita. Dengan tujuan untuk meniduri wanita itu. Sudah lebih dari seratus wanita yang sudah ditiduri oleh Ven. Lalu dibuang begitu saja. "Apakah kamu membutuhkan bantuan?" tanya Ven berdiri di samping kursi roda Serena. "Tidak. Terima kasih," balas Serena menutup seluruh buku yang ada di meja belajarnya. Percakapan antara Ve

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-31
  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Jangan Kembali Padaku

    Serena telah selesai memeriksakan kondisi kakinya di rumah sakit. Dokter yang menangani kakinya, mengatakan bahwa hanya butuh waktu sekitar satu bulan lagi untuk Serena bisa lepas dari kursi rodanya.Serena menunggu di ruang tunggu obat. Bersama dengan Yoshiro. Mereka masih sama-sama menggunakan almamater High School Scarlt. Mereka tidak menunggu obat. Tanpa perlu ditunggu pun Serena bisa mendapatkan obatnya. Itu sudah diurus oleh anak buah ayahnya. Yang Serena tunggu adalah ayahnya yang akan datang menjemputnya."Pergi saja," usir Serena."Aku tidak menunggumu. Aku memang ingin berada di sini," jawab Yoshiro menyandarkan punggungnya pada kursi."Untuk apa kamu di sini? Ibumu saja tidak dirawat di sini. Tidak ada alasan untukmu tetap berada di sini.""Berbicaralah sesukamu. Tugasku sebagai pengawalmu hanya saat berada di sekolah. Saat di luar sekolah, aku bisa melakukan apa pun yang aku mau. Tanpa harus menuruti kemauanmu."Serena melirik ke arah Yoshiro. Laki-laki itu hanya diam. Me

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-31
  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Salah Ayah

    Serena kembali dengan Honpil menggunakan mobil sport milik Honpil. Sedangkan Yoshiro kembali ke cafe untuk menjadi pelayan di sana. Honpil cukup senang saat mendengar laporan dari dokter bahwasannya keadaan kaki Serena mulai membaik. Hanya butuh sedikit waktu lagi untuk Serena bisa lepas dari kursi rodanya."Bagaimana di sekolah? Apakah kamu mulai bisa terbiasa dengan kondisi yang sekarang?" tanya Honpil masih fokus dengan kondisi jalan di depannya."Baik-baik saja. Tapi akan lebih baik jika Ayah memperingati laki-laki bodoh itu untuk tidak menyerang semua orang yang dia lihat," balas Serena menatap ke arah luar kaca mobil di sampingnya."Yoshiro? Apakah dia melakukan sesuatu yang di luar perjanjian?""Dia menyerang Mingzu dan Ven. Dua orang yang jelas-jelas anak dari dewan perwakilan rakyat. Jika saja kedua orang itu ingin melaporkan kejadian itu kepada kedua orang tuanya, maka kita juga akan terlibat dalam masalah.""Benarkah? Apakah dia benar-benar melakukan itu? Kenapa tidak ada

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-31

Bab terbaru

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Bosan Dengan Maaf

    Yoshiro mendatangi kantor utama atas perintah Ivona. Ia duduk di kursi tamu. Berhadapan dengan Ivona yang duduk di kursinya sendiri. Dengan kondisi meja yang benar-benar bersih tanpa kertas dokumen ataupun bolpoin. "Kamu membawanya ke apartemenmu?" tanya Ivona menatap tajam Yoshiro. "Benar. Aku memintanya untuk tinggal di sana untuk sementara waktu. Dan aku akan tinggal di rumah lamaku selama dia masih berada di sana," jawab Yoshiro gugup karena tau Ivona akan marah. "Kenapa?" "Karena menurutku itu yang terbaik untuk saat ini." "Kenapa kamu tidak meminta izinku? Apakah menurutmu apartemen itu dibayar menggunakan uang gajimu? Aku yang membawanya menggunakan uang tabunganku. Apartemen itu milikku. Semua yang masuk dan tinggal di sana harus atas seizinku. Lalu mengapa kamu secara tiba-tiba membiarkan orang lain tinggal di sana?" "Aku minta maaf untuk itu." "Kamu salah. Dan kamu haru

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Rasa Ingin Melindungi

    Serena berjalan keluar dari ruangan kamar. Kemarin pikirannya benar-benar kacau. Sehingga tidak bisa mencerna segala hal yang ia lihat dan terjadi pada dirinya. Ia hanya berjalan mengikuti Yoshiro karena ia tau bahwa Yoshiro akan menjaganya. Namun hari ini ia sadar bahwa ia berada di sebuah apartemen mahal yang letaknya ada di pusat kota.Saat berada di luar kamar, ia tidak menemukan siapapun di ruang tamu. Namun ia mendengar ada suara dari ruangan yang ia yakini bahwa itu dapur. Sehingga Serena berjalan menuju tempat itu dan menemukan ada seorang perempuan paruh baya sedang memotong sayuran dan daging di sana.Serena mengingat perempuan itu. Sheila. Perempuan yang pernah ia jenguk di rumah sakit. Ibu kandung dari Yoshiro."Maaf, tapi di mana Yoshiro?" tanya Serena mendekat ke meja dapur."Ah, kamu sudah bangun," balas Sheila meletakkan pisau dapurnya."Yoshiro tidak tinggal di sini untuk sementara waktu," balas Sheila menghadap ke arah S

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Satu Harus Pergi

    Serena dibawa apartemen Yoshiro. Untuk sementara Serena akan tinggal di sana. Karena memang tempat itulah yang paling aman bagi Serena. Kazue pun ikut bersama mereka. Hanya saja saat ini dirinya dan Yoshiro berada di ruang tamu. Sedangkan Sheila dan Serena berada di kamar Yoshiro. Sheila sedang menenangkan Serena yang sedang menangis. Itu adalah hal yang wajar. Serena baru saja kehilangan satu-satunya anggota keluarganya. Kazue bisa menerima bahwa Serena akan tinggal di apartemen Yoshiro. Mengingat tempat paling aman bagi Serena saat ini adalah di sisi Yoshiro. Di mata Kazue, satu-satunya orang yang tidak terindikasi akan mengkhianati Serena adalah Yoshiro, melihat bagaimana cara Yoshiro melindungi Serena selama ini.Namun ada satu hal yang membuat Kazue meragukan sosok Yoshiro. Apartemen tempat Yoshiro tinggal. Hanya dengan melihat tampilan luar saja, Kazue bisa menyadari bahwa itu bukanlah apartemen yang bisa ditinggali oleh sembarang orang. Hanya oran

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Mengerti Akan Tujuan

    Mayat Honpil ditemukan. Tidak ada yang menyangka bahwa komisaris polisi itu akan menjadi korban dari kejadian itu. Kebanyakan orang mengira bahwa petinggi kepolisian itu sedang berada di luar seperti biasanya. Namun ternyata tidak. Laki-laki itu sedang berada di kantornya saat kejadian bom meledak itu terjadi. Membuatnya menjadi salah satu korban.Mendengar berita itu, Fei dan Ivona mendatangi rumah duka. Untuk menyamakan diri dengan para petinggi partai lainnya yang juga datang untuk menyampaikan rasa belasungkawa terhadap kematian Honpil.Yang menariknya perdana menteri ada di sana. Martin Mcknight. Pandangan mereka bertemu. Dan ini adalah pertemuan pertama mereka setelah setahun lebih tidak saling bertatapan."Lama tidak bertemu, Perdana Menteri," ujar Fei membungkukkan badan di hadapan Martin."Senang bisa bertemu dengan Anda, Fei Olivia," balas Martin menundukkan kepalanya sembari memejamkan matanya sebentar.Martin dan Ivona saling

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Keraguan

    Jika biasanya saat malam hari, Yuri akan lembur di kantor untuk mengajari Yoshiro tentang cara merentas data. Maka kali ini, mereka berada di sebuah restoran kecil yang berada di pinggir kota.Mereka menyewa sebuah ruangan khusus supaya mereka bisa berbicara tanpa harus mengkhawatirkan apapun. Dan menikmati banyak makanan yang sudah mereka pesan.Alasan mengapa mereka tidak berada di kantor kali ini adalah Fei. Ivona meminta Yuri untuk menjauhkan Yoshiro dari kantor untuk sementara waktu karena Fei sudah mulai turun tangan."Bagaimana bisa kamu tidak tau bahwa nyonya besar memiliki seorang kakak?" tanya Yuri menatap malas Yoshiro."Aku tidak pernah mencari tau. Dan kamu tidak pernah menceritakannya," balas Yoshiro memotong daging yang ada di atas piringnya."Bukankah seharusnya kamu mencari tau asal usul dari atasanmu sendiri?""Aku akan mencari tau setelah ini.""Nyonya akan marah besar jika dia tau kamu tidak tau apapun tentang dirinya.""Aku akan meminta maaf untuk itu."Yuri seben

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Sapaan Fei

    Yoshiro datang ke kantor pusat untuk menggantikan posisi Yuri yang sedang melakukan tugas lainnya sehingga tidak bisa berada di sisi Ivona.Yoshiro masih berada di ruang ganti. Melepaskan sepatu sekolahnya dan menggantinya dengan sepatu formal yang dulu ia beli dengan Yuri.Gerakan Yoshiro berhenti dan pandangannya menatap ke arah pintu masuk ruang ganti saat menyadari ada suara langkah kaki. Ia kebingungan saat melihat ada seorang perempuan cantik dengan perkiraan usia tidak jauh beda dengan Ivona masuk ke ruang ganti laki-laki."Maaf, tapi ini ruangan ganti laki-laki," ujar Yoshiro dengan tenang."Aku tau itu. Aku memang sengaja. Karena jika tidak sekarang, maka aku tidak akan bisa melihatmu," ujar perempuan itu dengan kedua tangan berada di belakang tubuh.Fei Olivia. Kakak perempuan dari Ivona Olivia. Namun Yoshiro tidak mengetahui itu. Di mata Yoshiro sekarang, Fei adalah orang asing yang secara sengaja memasuki ruang ganti laki-laki."Apakah Anda ada keperluan dengan saya?" tany

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Keistimewaan

    Pesta terjadi di wilayah kekuasaan Sentinel. Karena beberapa waktu lalu, Akashi berhasil menjalankan tugas untuk menyingkirkan Lucas Archine. Dan mereka mendapatkan bayaran yang sangat besar.Neon memandangi semua orang yang sedang berpesta dalam keadaan mabuk di sekitar api unggun. Ditemani oleh Akashi yang berdiri di belakangnya. "Kamu semakin melemah, 'ya," ujar Neon dengan nada halus."Menurut saya tidak demikian," balas Akashi menatap ke arah yang sama dengan Neon."Lalu mengapa kamu tidak berhasil memenangkannya?""Karena saya menahan diri. Saya mengerti bahwa Yoshiro satu-satunya kandidat yang akan memimpin organisasi ini di masa depan menggantikan Anda. Jika saya serius dalam pertarungan itu, maka dia akan terbunuh. Dan ada kemungkinan juga Anda akan membunuh saya, saat Anda melihat Yoshiro terbunuh.""Di mataku, kamu melemah. Kemampuan beladirimu masih sama. Hanya saja keyakinanmu yang lemah. Jika kamu masih sama seperti dulu saat kita bertemu, maka sudah dipastikan Yoshiro

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Menikmati

    Ivona mencoba duduk setelah terbangun dari tidurnya. Melihat langit dari kaca kamar yang masih gelap. Menandakan bahwa ia terbangun sebelum matahari terbit. Matanya beralih menuju jam dinding. Jam 03.21. Masih terlalu pagi untuk Ivona bangun.Kepalanya terasa sangat pusing. Badannya juga terasa tidak nyaman. Ia merasa sangat ingin muntah. Ivona berniat untuk melaporkan itu pada Yoshiro, namun saat ia melihat ke sisi kasur sebelehnya, ternyata tidak ada siapa pun di sana. Sebelumnya ia masuk kamar dan tidur lebih dulu setelah makan malam. Sehingga ia berpikir bahwa Yoshiro menggunakan kesempatan itu untuk tidur di luar.Namun tidak lama suara gagang pintu terdengar. Pandangan Ivona beralih menuju pintu dan melihat Yoshiro masuk ke dalam kamar dengan membawa sebuah mangkok dan handuk kecil yang telah dilipat."Sepertinya kita harus menunda rencana kita hari ini," ujar Yoshiro menaruh mangkok berisikan air hangat itu di atas nakas dan duduk di sisi sofa."Kamu bekerja terlalu keras akhir

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Tetap Bersamamu

    Ivona membuka pintu kamarnya saat mendengar suara dari arah luar. Sudah lewat dari tengah malam dan Yoshiro baru pulang. Ivona ingin marah karena ia sudah lama sekali menunggu laki-laki itu. Namun amarah Ivona tertahan saat melihat wajah laki-laki itu terluka.Ivona mendekat ke arah Yoshiro yang berdiri mematung di dekat sofa. Menyentuh bagian dagu laki-laki itu dan menggerakkannya ke arah kanan lalu kiri untuk memastikan bagian mana saja yang terluka."Kenapa?" tanya Ivona mengamati luka-luka yang ada di wajah Yoshiro."Saya tidak sengaja bertemu dengan preman," balas Yoshiro mencoba menutupi kejadian sebelumnya."Sebelum itu, kamu dari mana saja? Bukankah aku sudah mengatakan bahwa sebelum matahari terbenam kamu harus sudah berada di kamar?" "Saya berlari mengelilingi taman yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sini.""Sudah dua kali kamu mengabaikan perkataanku. Bukankah kamu harus menyesali itu dan meminta maaf kepadaku?"

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status