Share

Alasan Yoshiro

Author: PlutoPen
last update Last Updated: 2024-12-07 19:28:39

Kini, Yoshiro berdiri diam di samping ranjang rumah sakit. Menatap ke arah wajah ibunya yang sedang tertidur pulas dengan bagian tangan terpasang infus.

Wajah keriput, tubuh yang kurus kering, dan rambut yang sudah penuh dengan uban.

Benar-benar tidak enak untuk dipandang. Setiap Yoshiro menatap wajah Sheila, Yoshiro merasa bahwa ia harus pergi. Menuju ke tempat di mana ia bisa menghasilkan banyak uang dan membayar segala pengobatan ibunya.

"Apa kamu tidak berangkat ke sekolah lagi? Bukankah saat ini seharusnya kamu berada di sekolah?" tanya Sheila membuka mata dan menatap Yoshiro.

"Aku ke sekolah. Hanya saja pulang lebih awal. Guru mengatakan bahwa mereka akan rapat dan para murid bisa pulang lebih dulu," bohong Yoshiro.

"Jangan seperti itu. Sekolah itu penting. Ibu tidak masalah jika harus berada di rumah sakit sendiri. Masa depanmu lebih penting. Ibu tidak mau anak Ibu dikeluarkan dari sekolah hanya karena sering tidak masuk kelas."

"Aku tidak berbohong."

"Lucu sekali. Ibu sudah berada di dekatmu sejak kamu lahir. Ibu mengawasimu sejak kamu ada di dunia ini. Mana mungkin Ibu tidak sadar saat kamu sedang berbohong."

Yoshiro sudah lama sekali tidak pergi ke sekolah. Bahkan Yoshiro lupa kapan terakhir kali ia duduk di bangku sekolahnya. Yoshiro terus berpergian ke sana ke mari mencari pekerjaan sampingan. Dan melakukan 'aksi' di setiap matahari terbenam. Hanya untuk membayar biaya rumah sakit Sheila.

"Oh, iya. Ibu baru ingat. Sepertinya kamu belum pernah membawa temanmu untuk menemui Ibu. Sesekali ajak mereka ke mari. Ibu mau berbicara dengannya," ujar Sheila tersenyum ke arah Yoshiro.

"Aku akan membawanya jika aku ingat," balas Yoshiro memalingkan wajahnya.

"Kamu selalu menggunakan alasan itu untuk menghindar. Bukankah seharusnya tidak masalah jika kamu membawa satu temanmu ke sini dan membiarkannya berbicara dengan Ibu?"

"Aku akan membawanya jika aku bertemu dengannya."

Sheila menghela nafas. Yoshiro mengubah alasannya dengan tujuan yang sama. Tidak akan membawa temannya ke hadapan Sheila.

"Bagaimana dengan pekerjaan paruh waktumu? Apakah itu tidak masalah? Bukankah itu akan mengganggu waktu belajarmu?"

"Tidak masalah. Lagipula aku melakukan pekerjaan paruh waktu itu untuk diriku sendiri. Aku bisa belajar saat jam istirahat. Dan nilai pelajaran ku pun masih sama seperti dulu."

Yoshiro adalah murid yang jenius. Yoshiro selalu mendapatkan peringkat pertama di semua ujian yang diadakan. Hanya saja semua itu berubah semenjak Sheila harus dirawat karena tumor otak yang dideritanya.

Ayah Yoshiro sudah tiada. Hanya Yoshiro yang bisa mencari uang untuk menutupi biaya rumah sakit Sheila. Maka dari itu, Yoshiro melepaskan seragam sekolahnya dan mulai bekerja paruh waktu di segala tempat yang memerlukan tenaga karyawan tambahan.

"Apakah kamu bertengkar lagi dengan temanmu? Akhir-akhir ini kamu selalu datang dengan wajah babak belur," tanya Sheila menunjuk ke arah wajah Yoshiro.

"Tidak juga. Ini bekas pertengkaran yang dulu. Belum hilang," balas Yoshiro.

"Jangan bertengkar, Yoshiro. Ibu tidak mau melihat anak Ibu satu-satunya menggunakan tangannya untuk melukai orang lain."

"Aku tidak akan bertengkar selama tidak ada yang menggangguku. Aku tau itu. Jadi jangan terus memberitahuku. Aku sudah mulai bosan mendengar itu."

"Baiklah. Baiklah. Anak Ibu sekarang sudah mulai dewasa ternyata."

"Aku sudah besar sejak lama. Apakah kamu tidak menyadarinya?"

"Bagaimana mengatakannya? Di mata Ibu, kamu tetap anak kecil yang sama dengan anak kecil dulu Ibu awasi saat sedang berlatih berjalan. Dan sampai kapan pun juga, di mata ibu, kamu tetaplah anak kecil."

Mata Yoshiro mulai memanas mendengar itu. Yoshiro sudah benar-benar tidak bisa lagi bertahan di sana lebih lama lagi.

"Aku akan menemui dokter. Tunggulah di sini sebentar lagi," balas Yoshiro berbalik badan.

"Yoshiro," panggil Sheila.

"Kenapa?" tanya Yoshiro masih dalam keadaan membelakangi Sheila.

"Jaga dirimu dan makanlah dengan baik."

"Ibu sudah mengatakan itu berulang kali."

"Ibu hanya ingin mengatakannya lagi."

Yoshiro diam. Ada banyak sekali pantangan yang dilanggar oleh Yoshiro. Dan mengenai makan, Yoshiro benar-benar sering melupakan itu.

"Jika aku menemukan uang lebih di kantongku, aku akan membeli bubur dan ayo makan bersama," ujar Yoshiro memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong.

"Iya, ayo kita makan bersama setelah ini," balas Sheila tersenyum lebar.

"Tunggulah sebentar lagi. Aku pasti akan mendapatkan banyak uang dan ibu melakukan operasi."

Yoshiro keluar dari ruangan setelah mengucapkan itu. Meninggalkan Sheila. Dengan mata yang masih mulai memanas. Dan Yoshiro berusaha sebisa mungkin untuk tidak meneteskan air mata.

Sheila adalah alasan utama bagi Yoshiro untuk melakukan segala hal yang bisa menghasilkan uang. Entah itu dengan cara lembut. Maupun dengan cara kasar.

Hanya saja, saat Yoshiro merogoh sakunya, kartu nama pria asing itu tak sengaja terpegang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Anak Liar

    Di sisi lain, Honpil berada di ruangannya sembari menatap segala berkas kasus yang terjadi pada beberapa hari minggu belakangan ini. Kasus pencopetan, kasus penyerangan, dan kasus penganiayaan. Dari hampir seluruh kasus itu Honpil bisa menebak siapa dalangnya. Namun Honpil tidak bisa melakukan apa pun sekarang. Melainkan menghapus berkas kasus-kasus itu dan bersikap tidak pernah menerima laporan itu sebelumnya. "Apakah kamu sedang sibuk?" tanya seorang laki-laki berjalan masuk ke ruangan Honpil membawa dua kopi kaleng. "Bagaimana kelihatannya?" tanya Honpil menatap malas laki-laki itu. Kazue Vorc. Seorang inspektur polisi. Sekaligus sahabat dekat Honpil. Mereka sering kali terlibat karena harus memecahkan kasus yang sama. Dan dari situlah mereka semakin dekat sampai sekarang. "Bagaimana dengan kaki anakmu?" tanya Kazue menyerahkan satu kaleng kopi panas pada Honpil. "Sudah mulai membaik. Hanya saja dia harus menggunakan kursi roda saat berada di sekolah," balas Kazue membuka tu

    Last Updated : 2024-12-07
  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Melawan Siapa Pun

    Tanpa mengetahui hal yang direncanakan sang ayah, Serena menggerakkan kursi rodanya seorang diri menuju ke arah kantin. Tidak ada yang menemaninya. Ia memang sudah terbiasa sendiri. Semenjak ia menggunakan kursi roda. Pergerakan Serena terhenti saat sudah berada di kantin. Serena tidak bisa bergerak ke arah tempat pengambilan makanan. Bukan karena kursi rodanya rusak. Melainkan karena ada beberapa orang yang berhenti di depannya dan menghalangi jalannya. Seorang perempuan dengan rambut pirang. Terlihat sepertinya berandalan. Mingzu. Seorang anak dari salah satu penjabat di pemerintahan. Dengan teman-teman menghalangi jalan Serena. "Ada apa?" tanya Serena dengan tatapan kosong. "Pergilah. Di sini bukanlah tempat untuk orang cacat sepertimu. Sekolah ini kehilangan wibawanya saat ada orang tanpa kaki sepertimu," jawab Mingzu dengan keras sehingga menjadi pusat perhatian. Serena melirik ke sudut kantin. Di sana ada Brian Mcknight. Mantan pacar Serena. Sekaligus orang yang paling dita

    Last Updated : 2024-12-07
  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Menunggu Perintah

    Serena menatap bunga-bunga yang tumbuh di taman sekolahnya. Menghela nafas sejenak. Lalu memilih untuk menatap ke arah seorang laki-laki yang sedang duduk di kursi taman.Serena tidak mengenal laki-laki itu. Laki-laki itulah yang tiba-tiba saja menariknya dari kantin ke taman sekolah. Serena ingin marah. Namun Serena sadar bahwa tanpa laki-laki itu, pasti kondisi badannya saat ini sudah kotor karena terkena tumpahan jus jambu."Mau?" tanya Yoshiro menyodorkan roti yang sudah ia gigit sedikit."Aku tidak bisa memakan makanan sisa," balas Serena."Makanan sisa? Aku hanya mengingat sedikit di bagian ujungnya. Lagipula ini juga belum dibuang ke tempat sampah. Lalu kenapa kamu menyebutnya sebagai makanan sisa?""Karena sudah kamu gigit.""Aku tidak akan membagi apa pun lagi padamu setelah ini."Yoshiro mengingat rotinya dengan perasaan kesal. Menguyahnya tanpa kembali memandang ke arah Serena."Siapa yang menabrakmu?" tanya Yoshiro melirik ke arah kaki Serena."Entahlah. Tapi yang pasti,

    Last Updated : 2024-12-07
  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Berbeda

    Brian naik dari kolam renang sekolah dengan kondisi basah kuyup dan bagian atas badannya tanpa selesai kain sedikit pun.Kolam renang sekolah memang tempat umum. Para murid bisa masuk dan keluar semua mereka. Mereka pun bebas menggunakannya kapan saja.Namun aturan itu tidak berlaku saat Brian sedang menggunakannya. Brain adalah anak dari perdana menteri. Brain memiliki hak penuh dan kekuasaan di sekolah itu. Dan semua orang mengerti akan hal itu. Kecuali seorang laki-laki yang sekarang sedang berdiri sembari menatap Brian. Seorang laki-laki menggunakan almamater putih. Yoshiro."Sepertinya aku sudah menaruh dua pengawal di pintu masuk, apakah mereka lalai dan kamu mengambil kesempatan untuk masuk?" tanya Brian berhenti dalam kondisi masih cukup jauh dari Yoshiro."Manusia memiliki dua tangan. Tergantung pemiliknya mau digunakan untuk apa. Bisa digunakan untuk hal baik. Dan bisa juga digunakan untuk membuat orang lain tak sadarkan diri," balas Yoshiro memperlihatkan kedua tangannya pa

    Last Updated : 2024-12-10
  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Demi Ibu

    Yoshiro menghela nafas saat tiba-tiba saja ada tiga orang menggunakan jas hitam berwajah mengerikan menghadang jalannya.Tanpa bertanya lebih dulu, Yoshiro sudah mengerti alasan mengapa ketiga orang itu datang. Mingzu. Sudah pasti perempuan itu dalang dari kedatangan ketiga orang itu.Dua orang membawa tongkat besi. Dan satu orang yang berjaga membawa pistol. Kelompok mafia."Apakah kamu yang mencari masalah dengan putri dari Keluarga Archine?" tanya seorang mafia yang membawa pistol."Sepertinya aku tidak terlalu asing dengan lambang yang ada di jasmu," balas Yoshiro mengabaikan pertanyaan laki-laki itu. Dan lebih memiliki fokus pada lambang yang terdapat pada jas laki-laki itu."Wajah burung hantu berwarna putih? Apakah kalian dari WO?" tanya Yoshiro menatap saksama laki-laki pemegang pistol itu."Hee. Tidak kusangka kamu bisa menyadari itu. Sepertinya kamu bukanlah anak murid pada umumnya. Karena bisa tau sesuatu tentang kelompok kami," balas laki-laki itu.WO. Atau lebih tepatnya

    Last Updated : 2024-12-10
  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Informasi Mengerikan

    Serena menatap seorang laki-laki menggunakan mantel yang baru saja mendekat ke arah mobilnya. Ia membuka kaca mobil dan mengulurkan sebuah amplop cokelat yang berisikan tentang segala dokumen dan foto yang Serena minta.Serena meminta segala informasi tentang Yoshiro Shikazu pada Kazue. Karena laki-laki paruh baya itu sangat dekat dengan ayahnya. Dan Serena yakin bahwa Kazue tau sesuatu tentang Yoshiro."Nona Muda, tidak baik keluar malam seperti ini. Ada banyak orang jahat di luar sana. Supirmu saja tidak akan sanggup melawan mereka," ujar Kazue bersandar pada body mobil Serena."Aku tau itu," balas Serena membuka amplop cokelat itu."Apakah Ayah sedang ada di dalam?" tanya Serena."Tidak. Ayah Nona Muda sedang keluar untuk melakukan patroli bersama para anggota polisi yang lainnya. Nona Muda tau sendiri kalau beliau itu tidak bisa diam di satu tempat dalam waktu yang lama," balas Kazue.Serena mengangguk pelan. Diam. Membaca biografi tentang Yoshiro Shikazu. Memahami secara detail

    Last Updated : 2024-12-24
  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Masa Depan Adalah Takdir

    Keenan harus mengakui kemampuan bela diri Yoshiro. Karena laki-laki muda itu berhasil membuat kedua anak buah kepercayaannya terkapar di tanah, setelah melakukan pertarungan sengit.Yoshiro mendapatkan luka lebam akibat pertarungan itu. Namun Yoshiro terlihat masih memiliki tenaga untuk bertarung melawan Keenan."Haruskah kita menyelesaikan ini?" tanya Yoshiro dengan tatapan tajam ke arah Keenan."Bukankah semua yang sudah dimulai harus diselesaikan?" tanya Keenan melepaskan jas hitam miliknya. Menyisakan kemeja putih.Keenan menerjang maju. Dengan kecepatan yang sangat cepat. Selama ini tidak ada orang yang bisa memperhitungkan kapan Keenan akan mendaratkan kakinya dan di mana Keenan akan muncul setelah bergerak dengan kecepatan tinggi seperti itu.Namun Yoshiro bisa. Tinju keras Keenan yang seharusnya mengenai kepala Yoshiro, melenggang begitu saja karena Yoshiro menggeser kepalanya menjauh dari jalur lintas kepalan tangan Keenan."Di mana kamu belajar ilmu bela diri?" tanya Keenan

    Last Updated : 2024-12-25
  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Dua Kemungkinan

    Brian berdiri di dalam kelas XI-A. Kelas yang memang diisi oleh murid-murid yang berasal dari keluarga kolongmerat. Tidak ada satu pun murid miskin di sana. Semua yang masuk ke sana sudah dipastikan memiliki uang jajan harian yang melebihi gaji para guru yang ada di sekolah. Brian menatap bingung Yoshiro yang sedang terlihat mendorong kursi roda Serena. Dan sepertinya ingin membawa perempuan itu ke ruang makan. Tidak lama pandangan Brian beralih menatap ke seorang wanita yang tiba-tiba saja datang dan berdiri di sisinya. Mingzu. "Apakah kamu sudah makan? Kebetulan keluargaku membeli sebuah restoran besar di pusat kota. Maukah kamu ke sana bersamaku? Aku ingin meminta penilaianmu terhadap rasa makanan di restoran keluargaku," tanya Mingzu dengan penuh semangat. "Tidak bisa. Temanku sudah menyewa sirkuit dan kami akan berlomba di sana. Aku ingin mencoba seberapa kencang mobil baruku," tolak Brian. "Bagaimana kalau setelah itu?" "Aku akan memikirkannya nanti." Mingzu sangat tero

    Last Updated : 2024-12-25

Latest chapter

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Bosan Dengan Maaf

    Yoshiro mendatangi kantor utama atas perintah Ivona. Ia duduk di kursi tamu. Berhadapan dengan Ivona yang duduk di kursinya sendiri. Dengan kondisi meja yang benar-benar bersih tanpa kertas dokumen ataupun bolpoin. "Kamu membawanya ke apartemenmu?" tanya Ivona menatap tajam Yoshiro. "Benar. Aku memintanya untuk tinggal di sana untuk sementara waktu. Dan aku akan tinggal di rumah lamaku selama dia masih berada di sana," jawab Yoshiro gugup karena tau Ivona akan marah. "Kenapa?" "Karena menurutku itu yang terbaik untuk saat ini." "Kenapa kamu tidak meminta izinku? Apakah menurutmu apartemen itu dibayar menggunakan uang gajimu? Aku yang membawanya menggunakan uang tabunganku. Apartemen itu milikku. Semua yang masuk dan tinggal di sana harus atas seizinku. Lalu mengapa kamu secara tiba-tiba membiarkan orang lain tinggal di sana?" "Aku minta maaf untuk itu." "Kamu salah. Dan kamu haru

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Rasa Ingin Melindungi

    Serena berjalan keluar dari ruangan kamar. Kemarin pikirannya benar-benar kacau. Sehingga tidak bisa mencerna segala hal yang ia lihat dan terjadi pada dirinya. Ia hanya berjalan mengikuti Yoshiro karena ia tau bahwa Yoshiro akan menjaganya. Namun hari ini ia sadar bahwa ia berada di sebuah apartemen mahal yang letaknya ada di pusat kota.Saat berada di luar kamar, ia tidak menemukan siapapun di ruang tamu. Namun ia mendengar ada suara dari ruangan yang ia yakini bahwa itu dapur. Sehingga Serena berjalan menuju tempat itu dan menemukan ada seorang perempuan paruh baya sedang memotong sayuran dan daging di sana.Serena mengingat perempuan itu. Sheila. Perempuan yang pernah ia jenguk di rumah sakit. Ibu kandung dari Yoshiro."Maaf, tapi di mana Yoshiro?" tanya Serena mendekat ke meja dapur."Ah, kamu sudah bangun," balas Sheila meletakkan pisau dapurnya."Yoshiro tidak tinggal di sini untuk sementara waktu," balas Sheila menghadap ke arah S

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Satu Harus Pergi

    Serena dibawa apartemen Yoshiro. Untuk sementara Serena akan tinggal di sana. Karena memang tempat itulah yang paling aman bagi Serena. Kazue pun ikut bersama mereka. Hanya saja saat ini dirinya dan Yoshiro berada di ruang tamu. Sedangkan Sheila dan Serena berada di kamar Yoshiro. Sheila sedang menenangkan Serena yang sedang menangis. Itu adalah hal yang wajar. Serena baru saja kehilangan satu-satunya anggota keluarganya. Kazue bisa menerima bahwa Serena akan tinggal di apartemen Yoshiro. Mengingat tempat paling aman bagi Serena saat ini adalah di sisi Yoshiro. Di mata Kazue, satu-satunya orang yang tidak terindikasi akan mengkhianati Serena adalah Yoshiro, melihat bagaimana cara Yoshiro melindungi Serena selama ini.Namun ada satu hal yang membuat Kazue meragukan sosok Yoshiro. Apartemen tempat Yoshiro tinggal. Hanya dengan melihat tampilan luar saja, Kazue bisa menyadari bahwa itu bukanlah apartemen yang bisa ditinggali oleh sembarang orang. Hanya oran

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Mengerti Akan Tujuan

    Mayat Honpil ditemukan. Tidak ada yang menyangka bahwa komisaris polisi itu akan menjadi korban dari kejadian itu. Kebanyakan orang mengira bahwa petinggi kepolisian itu sedang berada di luar seperti biasanya. Namun ternyata tidak. Laki-laki itu sedang berada di kantornya saat kejadian bom meledak itu terjadi. Membuatnya menjadi salah satu korban.Mendengar berita itu, Fei dan Ivona mendatangi rumah duka. Untuk menyamakan diri dengan para petinggi partai lainnya yang juga datang untuk menyampaikan rasa belasungkawa terhadap kematian Honpil.Yang menariknya perdana menteri ada di sana. Martin Mcknight. Pandangan mereka bertemu. Dan ini adalah pertemuan pertama mereka setelah setahun lebih tidak saling bertatapan."Lama tidak bertemu, Perdana Menteri," ujar Fei membungkukkan badan di hadapan Martin."Senang bisa bertemu dengan Anda, Fei Olivia," balas Martin menundukkan kepalanya sembari memejamkan matanya sebentar.Martin dan Ivona saling

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Keraguan

    Jika biasanya saat malam hari, Yuri akan lembur di kantor untuk mengajari Yoshiro tentang cara merentas data. Maka kali ini, mereka berada di sebuah restoran kecil yang berada di pinggir kota.Mereka menyewa sebuah ruangan khusus supaya mereka bisa berbicara tanpa harus mengkhawatirkan apapun. Dan menikmati banyak makanan yang sudah mereka pesan.Alasan mengapa mereka tidak berada di kantor kali ini adalah Fei. Ivona meminta Yuri untuk menjauhkan Yoshiro dari kantor untuk sementara waktu karena Fei sudah mulai turun tangan."Bagaimana bisa kamu tidak tau bahwa nyonya besar memiliki seorang kakak?" tanya Yuri menatap malas Yoshiro."Aku tidak pernah mencari tau. Dan kamu tidak pernah menceritakannya," balas Yoshiro memotong daging yang ada di atas piringnya."Bukankah seharusnya kamu mencari tau asal usul dari atasanmu sendiri?""Aku akan mencari tau setelah ini.""Nyonya akan marah besar jika dia tau kamu tidak tau apapun tentang dirinya.""Aku akan meminta maaf untuk itu."Yuri seben

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Sapaan Fei

    Yoshiro datang ke kantor pusat untuk menggantikan posisi Yuri yang sedang melakukan tugas lainnya sehingga tidak bisa berada di sisi Ivona.Yoshiro masih berada di ruang ganti. Melepaskan sepatu sekolahnya dan menggantinya dengan sepatu formal yang dulu ia beli dengan Yuri.Gerakan Yoshiro berhenti dan pandangannya menatap ke arah pintu masuk ruang ganti saat menyadari ada suara langkah kaki. Ia kebingungan saat melihat ada seorang perempuan cantik dengan perkiraan usia tidak jauh beda dengan Ivona masuk ke ruang ganti laki-laki."Maaf, tapi ini ruangan ganti laki-laki," ujar Yoshiro dengan tenang."Aku tau itu. Aku memang sengaja. Karena jika tidak sekarang, maka aku tidak akan bisa melihatmu," ujar perempuan itu dengan kedua tangan berada di belakang tubuh.Fei Olivia. Kakak perempuan dari Ivona Olivia. Namun Yoshiro tidak mengetahui itu. Di mata Yoshiro sekarang, Fei adalah orang asing yang secara sengaja memasuki ruang ganti laki-laki."Apakah Anda ada keperluan dengan saya?" tany

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Keistimewaan

    Pesta terjadi di wilayah kekuasaan Sentinel. Karena beberapa waktu lalu, Akashi berhasil menjalankan tugas untuk menyingkirkan Lucas Archine. Dan mereka mendapatkan bayaran yang sangat besar.Neon memandangi semua orang yang sedang berpesta dalam keadaan mabuk di sekitar api unggun. Ditemani oleh Akashi yang berdiri di belakangnya. "Kamu semakin melemah, 'ya," ujar Neon dengan nada halus."Menurut saya tidak demikian," balas Akashi menatap ke arah yang sama dengan Neon."Lalu mengapa kamu tidak berhasil memenangkannya?""Karena saya menahan diri. Saya mengerti bahwa Yoshiro satu-satunya kandidat yang akan memimpin organisasi ini di masa depan menggantikan Anda. Jika saya serius dalam pertarungan itu, maka dia akan terbunuh. Dan ada kemungkinan juga Anda akan membunuh saya, saat Anda melihat Yoshiro terbunuh.""Di mataku, kamu melemah. Kemampuan beladirimu masih sama. Hanya saja keyakinanmu yang lemah. Jika kamu masih sama seperti dulu saat kita bertemu, maka sudah dipastikan Yoshiro

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Menikmati

    Ivona mencoba duduk setelah terbangun dari tidurnya. Melihat langit dari kaca kamar yang masih gelap. Menandakan bahwa ia terbangun sebelum matahari terbit. Matanya beralih menuju jam dinding. Jam 03.21. Masih terlalu pagi untuk Ivona bangun.Kepalanya terasa sangat pusing. Badannya juga terasa tidak nyaman. Ia merasa sangat ingin muntah. Ivona berniat untuk melaporkan itu pada Yoshiro, namun saat ia melihat ke sisi kasur sebelehnya, ternyata tidak ada siapa pun di sana. Sebelumnya ia masuk kamar dan tidur lebih dulu setelah makan malam. Sehingga ia berpikir bahwa Yoshiro menggunakan kesempatan itu untuk tidur di luar.Namun tidak lama suara gagang pintu terdengar. Pandangan Ivona beralih menuju pintu dan melihat Yoshiro masuk ke dalam kamar dengan membawa sebuah mangkok dan handuk kecil yang telah dilipat."Sepertinya kita harus menunda rencana kita hari ini," ujar Yoshiro menaruh mangkok berisikan air hangat itu di atas nakas dan duduk di sisi sofa."Kamu bekerja terlalu keras akhir

  • Bukan Pengawal Komisaris Biasa   Tetap Bersamamu

    Ivona membuka pintu kamarnya saat mendengar suara dari arah luar. Sudah lewat dari tengah malam dan Yoshiro baru pulang. Ivona ingin marah karena ia sudah lama sekali menunggu laki-laki itu. Namun amarah Ivona tertahan saat melihat wajah laki-laki itu terluka.Ivona mendekat ke arah Yoshiro yang berdiri mematung di dekat sofa. Menyentuh bagian dagu laki-laki itu dan menggerakkannya ke arah kanan lalu kiri untuk memastikan bagian mana saja yang terluka."Kenapa?" tanya Ivona mengamati luka-luka yang ada di wajah Yoshiro."Saya tidak sengaja bertemu dengan preman," balas Yoshiro mencoba menutupi kejadian sebelumnya."Sebelum itu, kamu dari mana saja? Bukankah aku sudah mengatakan bahwa sebelum matahari terbenam kamu harus sudah berada di kamar?" "Saya berlari mengelilingi taman yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sini.""Sudah dua kali kamu mengabaikan perkataanku. Bukankah kamu harus menyesali itu dan meminta maaf kepadaku?"

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status