Meja bergetar sedikit waktu Arion memukulnya, bikin tamu-tamu di situ langsung menengok. Mereka mulai bisik-bisik, kayak merasa ada tontonan gratis. Arion berdiri dengan gerakan kasar, tatapannya tajam mengarah ke Daniel. “Lo pikir lo siapa, Daniel, bisa ngomong kayak gitu?” Suaranya dingin banget, bikin suasana makin canggung. “Alina nggak ada hubungannya sama drama keluarga lo yang penuh kemunafikan itu.” Daniel malah ketawa kecil, santai banget kayak nggak ada beban. “Santai, bro. Lo tuh masih anak SMA,” katanya sambil menyeruput minumannya. “Dan lo tahu, Ayah selalu lebih suka gue… Jadi nggak usah sok-sokan kayak gini deh.” Matanya pindah ke Alina, senyumnya sinis. “Gue cuma mau kasih heads up aja, Alina. Hidup sama Arion… bakal jauh lebih ribet daripada yang lo bayangin.” Wajah Alina langsung pucat, tapi Arion, yang udah di ujung kesabarannya, membalas tatapan Daniel dengan dingin. “Lo sekali lagi ngomongin istri gue dengan cara kayak gitu, gue nggak bakal tinggal diam.” Dani
"Lo yakin mau lanjutin drama ini di depan semua orang?" Alina terdiam, buru-buru menoleh ke arah kaca gedung dan sadar kalau mereka udah menarik perhatian semua tamu. Sebelum dia sempat ngomong apa-apa, Arion tiba-tiba menarik pinggulnya ke pelukannya. "Kenapa juga Kakek nyuruh gue nikah sama cewek keras kepala kayak lo?" Arion berbisik dekat banget di telinga Alina. "Ck! Arion!" Alina memprotes, tapi suara itu kedengaran lebih seperti desahan. Hatinya bergetar, dan jarak di antara mereka bikin tubuhnya panas dingin. Arion melanjutkan, suaranya rendah dan menggoda. "Kita harus bisa lewatin ini, bareng-bareng." Alina makin grogi. Mukanya jelas memerah. "Oke, kita kelihatan bagus," gumam Arion sambil memeluk Alina lebih erat. Aroma tubuh Arion—campuran kayu cendana, amber, dan musk—langsung menyergap Alina. Dia merasa nggak bisa bergerak, bahkan mendadak nyaman di pelukan Arion. Arion tersenyum kecil sambil mengelus rambut Alina lembut. "Jangan terlalu keras kepala sama s
Kepanikan Alina semakin memuncak. Bagaimana bisa ia pulang dari Bandara Soetta ke rumahnya tanpa uang sepeser pun? Apalagi berjalan kaki jelas bukan pilihan. "Bapak, maaf, saya… saya nggak bisa ikut sekarang," katanya, suaranya terdengar pasrah. "Dompet saya ketinggalan." Bapak Go-Jek itu langsung memutar bola matanya dengan kesal. "Yah, Neng, udah cape-cape kesini, terus dicancel?" keluhnya, wajahnya masam banget. Saat keributan terjadi, sebuah mobil hitam meluncur pelan ke arahnya. Range Rover yang nggak asing—mobil Arion. Kaca mobil itu turun, dan kepala Arion nongol. Dia ngelihatin Alina dengan ekspresi bingung. "Lo ngapain masih di sini?" tanyanya, datar "Lah mestinya gue yang tanya. Lo ngapain balik kesini lagi? Bukannya lo sudah pergi ninggalin gue?" "Ninggalin lo?!" mata Arion melotot, nadanya tiba-tiba berubah ketus. Alina cuma bisa melongo. "Gue nyariin lo kemana-mana, tahu. Lo jalan cepet banget kayak atlet yang lagi kebelet nyetak gol. Padahal gue cuma pergi
Alina menuruni tangga kayu dari kamar lotengnya, menahan pusing yang entah disebabkan oleh jet lag atau setumpuk pikiran tentang pernikahannya dengan Arion kemarin. Semalam Alina sampai jam dua belas malam. Dan sempat berjalan kaki, karena ia memberhentikan Pak Darman hanya sampai di jalan besar, tidak sampai depan rumah. Alina nggak mau mengambil risiko Arion mengetahui lokasi rumahnya. Karena kalau laki-laki itu tahu... Kiamat kecil bisa saja terjadi. Matanya terasa berat, dan dia hanya sempat menyambar seragam seadanya tanpa sempat berias sebelum mendengar langkah kaki Vera di ruang tamu. "Oh, Alina! Lo baru bangun? Dua harian ini lo ga tidur di rumah. Lo dari mana?" Seorang perempuan lebih tua sedikit darinya mengamati ekspresi Alina dengan alis yang sedikit terangkat. Itu Vera, salah satu teman serumah Alina. Ia terlihat siap berangkat kerja dengan tampilan rapi dan tas selempang. Alina buru-buru mengusap wajahnya, berusaha menyembunyikan kantong mata dan bekas garis b
Bibir merah merona dan alisnya yang melengkung sempurna. Alina menahan napas. 'Itu Clarissa...' Pagi ini beneran sial.. 'Dari semua mobil kenapa harus mobil Clarissa sih?' “Ah, orang-orang ini..." ujar Vera "Nggak bisa berhati-hati apa?—Eh, Ya Tuhan..." Vera hampir terjatuh dari kursinya saat melihat Clarissa. Matanya membelalak. "Bukannya itu ‘Clar si influencer viral’ itu, ya?!” “Vera, lo harus pergi. Jangan lama-lama di sini!" Alina mendesah bukannya cepat pergi Vera malah seru menonton seolah tidak mau melewatkan kejadian langka. Clarissa menatap mereka dengan tatapan jijik. Alina tahu, Clarissa pasti bukan tipe yang bisa terima begitu saja, dan dia pasti nggak dapat SIM dengan cara yang benar. “Gue udah bilang hati-hati,” Vera berbisik sambil mematikan mesin mobilnya. 'Ya Tuhan, tolonglah.. Gue masih mau hidup sampai hari kelulusan.' Alina meringis dalam hati. Dalam pikirannya, kejadian itu jelas-jelas salah Clarissa. Saat mereka mendekati tempat parkir,
“Saya baru saja mendapat penjelasan bahwa situasi di tempat parkir tadi... Ah, ternyata, kamu hanya berusaha menghindar. Sempit sekali ruangnya, ya?” Alina menelan ludah dan mengangguk pelan. “I..iya, Pak. Saya cuma berusaha parkir, dan... ya, agak sempit,” katanya, memilih kata-kata hati-hati. Dr. Gustav menatapnya beberapa detik, seolah mempertimbangkan sesuatu. “Baiklah. Hati-hati di lain waktu, ya? Dan kalau lain kali ada masalah seperti ini, lapor saja ke bagian keamanan atau guru piket.” Alina nyaris tak mempercayai telinganya. Dengan sedikit ragu, ia mengangguk. “Baik, Pak. Terima kasih.” Dr. Gustav mengangguk. “Baik, kamu boleh kembali ke kelas.” Alina mengangguk sekali lagi, tersenyum kecil, lalu berbalik menuju pintu dengan hati-hati. Ternyata Dr. Gustav tidak sekeras yang dia kira—mungkin. Tapi satu hal yang jelas, ini pertama kalinya ia merasa selamat dari teguran kepala sekolah. Saat Alina sudah hampir mencapai pintu, Dr. Gustav memanggilnya kembali. "Alina, s
Darren melambaikan tangan sebelum berbalik dan berjalan menuju lorong di arah yang berlawanan. Alina menyaksikannya pergi, menguatkan dirinya dengan sebuah senyuman kecil. Dia nggak bisa bergantung pada Darren untuk jadi pelindungnya sepanjang tahun ajaran ini. Langkahnya berasa lebih berat ketika dia mulai memperhatikan tatapan-tatapan itu—lebih mencolok sekarang karena dia sendirian, tanpa Darren sebagai tamengnya. Bisikan dari dua murid perempuan terdengar di belakangnya, pelan tetapi cukup tajam untuk bikin telinganya berdenging. "Gue denger dia cuma di sini karena memeras Direktur," bisik seorang gadis dengan nada penuh racun. "Ya, siapa lagi yang bisa dapetin beasiswa kayak gitu?" balas temannya, suaranya dipenuhi tawa sinis. "Dia rela ngelakuin apa aja demi tetap di sini. Dasar licik." Alina menegakkan bahu, berusaha nggak terpengaruh. Dia udah dengar desas-desus itu sebelumnya—semua tuduhan nggak berdasar yang dilemparkan untuk menjatuhkannya. Tapi dia nggak akan
Alina, yang berusaha terlihat nggak peduli, cuma mendengarkan sambil menunduk ke buku catatannya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. 'Ya jelas lah nggak nggak datang latihan. Dua hari lalu, dia menikahi gue secara diam-diam.' Alina ingin menampar dirinya sendiri karena pikiran itu. Nggak ada yang bisa tahu, terutama orang tua Arion, apalagi dua anak laki-laki ini. Cuma kakek Arion dan kerabat dekatnya yang tahu. Juga Daniel... lebih tepatnya. Luther menatap Valerian dengan alis terangkat. "Menurut lo dia ke mana?" Valerian mengangkat bahu, "Mungkin dia punya pacar rahasia. Maksud gue, itu ngejelasin kenapa dia nggak pernah cerita soal kehidupan pribadinya lagi ke gue." Alina tersentak sedikit, tapi buru-buru menutupi reaksinya dengan membalik halaman buku catatannya. Luther memperhatikan gerak-geriknya, meskipun dia nggak ngomong apa-apa. "Apa mungkin dia sakit. Tapi, yah, itu emang aneh. Apalagi buat Arion." Valerian menoleh ke Alina ia baru menyadari keberad
Arion mengerutkan kening. “Kenapa? Ada apa?” “Bisa nggak kita jalan sambil gue cerita? Gue nggak nyaman di sini terus.” Arion mengangguk, lalu menginjak pedal gas, memundurkan mobilnya keluar dari tempat parkir. Dari kursi penumpang, Alina menarik napas dalam. Tapi tatapan Arion yang terus mengawasinya bikin dia makin gugup. Cowok itu mendengus. “Lo bikin gue penasaran banget, sumpah. Gue bukan orang yang sabar, tahu.” Daripada kebanyakan mikir, Alina akhirnya cerita aja semuanya. Semakin lama Alina bicara, ekspresi Arion semakin serius. “Dengar, gue pengin lo ada di sana pas liburan,” kata Arion sambil meraih tangan Alina dan meremasnya sebentar sebelum melanjutkan, “Tapi lo nggak bisa gabung sama Clarissa.” Alina menghela napas. “Ya gue juga nggak mau kali. Tapi kalau gue nolak, menurut lo apa yang bakal terjadi?” Arion mengembuskan napas panjang. “Bakal ribet banget. Lo bener, Clarissa pasti nggak bakal tinggal diam. Gue juga nggak tahu harus ngasih solusi apa
Sesaat, gue kehilangan kata-kata setelah melihat tatapan nyebelin Ines. "Apa, Ines? Lo mau ngomong apa?" Ines menjilat bibir bawahnya, pandangannya ke mana-mana kecuali ke Alina. Setelah berdeham sebentar, akhirnya dia buka suara. "Jadi, lo ngapain aja selama liburan akhir semester?" Alina melongo sebentar, bertanya-tanya apakah dia barusan salah dengar. "Maksudnya lo mau ngejek gue kan? Karena gue hidup sebatang kara jadi nggak punya siapa-siapa buat ngabisin waktu liburan?" Alina udah cukup stres mikirin minggu depan. Dia nggak punya keluarga buat menghabiskan liburan bareng, dan meskipun Arion sempat nawarin buat tinggal di rumahnya, Alina nolak. Arion harus ngabisin waktu sama keluarganya. Kalau dia nggak pulang, pasti bakal memunculkan banyak pertanyaan. "Nggak, gue—" Ines mendelik sebentar sebelum mendengus. "Gue cuma penasaran, lo bakal pergi ke suatu tempat nggak? Ya lo tahu... sama seseorang." Dan di sinilah mereka lagi. Balik ke pembicaraan tentang Darren.
Alina kacau balau. Dia pengen banget ngebanting gelas wine di meja tadi. Daniel dan Clarissa? Mereka adalah duet maut pengacau yang rasanya emang ditakdirkan buat bikin hidupnya makin berantakan. Tangan Alina sedikit gemetar. Dia udah nggak sanggup berada di pesta itu. Matanya juga mulai memanas saat dia terburu-buru menuju pintu keluar. Namun, langkahnya terhenti begitu saja saat mendengar suara keras di kejauhan. Itu suara Daniel dan Arion. Alina berdiri di sudut ruangan, mengintip Arion yang masih tampak tegang setelah perdebatan panasnya dengan Daniel. Beberapa saat kemudian, Arion melihatnya dan berjalan mendekatinya. Langkahnya cepat, dan aura dinginnya begitu terasa hingga membuat Alina menahan napas. "Lo denger semua tadi?" Alina menggeleng pelan, tapi raut wajahnya jelas penuh tanda tanya. "Gue nggak denger, tapi gue lihat. Kenapa lo sama Daniel selalu ribut kayak gitu?" Arion mengembuskan napas panjang, seolah menimbang-nimbang apakah ia harus menjelaskan ata
Arion menghela napas panjang, mencoba menahan emosinya. Mata elangnya fokus ke Clarissa, yang sekarang berdiri dengan seringai menyebalkan, lalu beralih ke Daniel. “Gue bahkan nggak ngerti kenapa lo ada di sini sama Daniel, Clarissa,” ucap Arion dingin, suaranya menusuk. “Lo bahkan bukan bagian dari keluarga kita. Lo cuma…” “Cuma apa?” potong Clarissa sambil melipat tangan, ekspresinya puas. “Cuma seseorang yang lebih paham keluarga lo dibanding lo sendiri? Aduh, jangan terlalu sensi deh Arion sayang.” Clarissa tersenyum tipis, lalu tanpa permisi melingkarkan tangannya ke lengan Arion. "Gue udah dianggap keluarga sama bokap lo. Bahkan Pak Remi bilang, dia sedih banget waktu tau kita putus. Dia selalu bilang gue adalah calon yang sempurna buat jadi istri lo. Bahkan kedua keluarga kita udah setuju soal pernikahan itu, kan?" Nada suara Clarissa penuh rasa percaya diri, tapi Arion menepis tangan Clarissa dengan kasar, wajahnya semakin dingin. Ada sedikit rasa puas di hati Alin
Setelah mereka masuk, Arion langsung lepasin tangan Alina, dan Loly cabut bergabung sama segerombolan cowok. "Abis ngapain lo bareng Arion?" bisik Lara tiba-tiba, sambil narik lenganku menjauh. Dia melirik Arion yang lagi berdiri jauh, tapi matanya ngikutin Alina kayak elang. Alina jadi salah tingkah. Abis tadi dia sama Arion bermesraan. Tapi Alina cuman senyum tipis, berusaha nyembunyiin mukanya yang pasti udah semerah kepiting rebus. "Ayo main blackjack!" Lara nyengir sambil narik Alina lagi. "Gue bayarin uang mukanya!" "Seriusan?" Lara langsung narik tangan Alina dari genggamannya. "Lo pada beneran main pake duit asli?" Nada Alina nggak yakin, meskipun seharusnya dia nggak perlu kaget. "Ya iyalah!" "Gue nonton aja deh," Alina nyoba menghindar. 'Mana mungkin gue ikut-ikutan ngeluarin duit yang bahkan bukan duit gue.' "Nggak ada cerita nonton doang! Lo juga harus main. Santai aja, uang mukanya cuma 10 ribu kok," katanya santai. "10 ribu?" "100 ribu," poton
Alina bisa merasakan perhatian Arion di punggungnya, kayak ada arus listrik yang mengalir deras di antara mereka. "Alina," suaranya serak dan bikin telinga Alina gatel-gatel. Alina buru-buru balik badan, bahunya nggak sengaja nyentuh dadanya. "Lo cantik banget," Arion bilang, matanya turun ke bibir Alina. Alina mundur selangkah, dan Arion maju selangkah. Jarak di antara mereka makin tipis, napas Alina juga makin nggak beraturan. "Cuma cantik?" Alina pura-pura bercanda, meskipun suaranya terdengar goyah. Arion tiba-tiba nyamber pinggul Alina dan menariknya lebih dekat. "Bukan cuma cantik," katanya, suaranya rendah. "Cantik banget. Seksi banget sampai gue nggak bisa berhenti bayangin bibir merah lo melingkari punya gue di mobil gue." Arion narik Alina untuk pergi ke arah mobilnya di parkiran. Alina nelen ludah, panik campur malu. "Arion, di sini banyak orang..." Dia melirik kanan-kiri, takut ada orang yang ngelihat. Arion malah ketawa kecil, seolah nggak peduli.
Selama sejam berikutnya, Lara dengan penuh semangat mendandani Alina. Dia menata rambut Alina jadi kuncir kuda tinggi yang ikal, memoles tulang pipinya pakai alat kontur yang Alina bahkan nggak tahu namanya, dan ngasih Alina lipstik merah. "Pakai ini. Trust me, Arion bakal tersiksa kalo lo pake ini. Ini bakal bikin bibir lo jadi super seksi," katanya sambil menyerahkan botol lipstik itu. Alina biasanya nggak suka lipstik—lebih suka liptint atau lipgloss. Tapi kali ini, dia nurut, dan ternyata Lara benar. "Lo cakep banget, Kak!" katanya sambil kami berdiri di depan cermin, mengagumi hasil kerja kerasnya. Alina tersenyum. "Lo juga cantik banget, Ra. Ngomong-ngomong, ada cowok yang lagi lo taksir, nggak, malam ini?" Lara sempat ragu sebelum menjawab. "Nggak ada." Tapi suaranya terdengar melankolis, bikin Alina penasaran. Dan Alina memutuskan untuk nggak nanya lebih jauh. *** Obsidian Chamber ternyata tambang berlian tua di Anyer. Dekat dengan area pegunungan kecil. Dasar
"Lo ngapain, sih?!" Alina mencicit panik sambil berusaha melepaskan diri dari genggaman Arion. "Turunin gue, babe!" Arion nggak menggubris protesnya dan terus menariknya ke sudut ruang tamu. Sejak pulang sekolah tadi, cowok itu terus maksa Alina buat buka bajunya. Alina jelas nggak mau. Dia takut banget Arion bakal tahu soal memarnya. Kalau Arion tahu, masalahnya pasti bakal melebar, dan ujung-ujungnya Arion malah ribut sama Theo. "Biar gue lihat memar lo," kata Arion tegas sebelum akhirnya menurunkan Alina ke sofa. Seketika, dia menarik ujung kaus Alina ke atas. "Arion, stop!" Alina buru-buru melipat tangannya di dada, mukanya merah padam. "Aneh banget sih kelakuan lo. Tenang dikit, kenapa!" Arion menatap Alina dengan sorot tajam, nggak menggubris omelannya. "Gue udah pernah lihat yang lebih dari ini, Alina. Lo bukan alien." "Ya tapi sekarang beda! Gue nggak setuju, titik." Arion nggak peduli. "Berbalik." "Nggak mau." Dia menghela napas panjang, nadanya terdengar m
Tiba-tiba Alina ingat. Pantesan wajahnya familiar. Dia cowok yang pernah digertak Arion waktu dia mencoba merayunya saat Alina lagi kerja. “Lo gila ya?! Gue bukan jablay kayak yang lo bilang, apalagi buat cowok futsal! Lo ngarang banget! Dan soal di Lumina, itu salah lo sendiri yang norak!” Kemudian Alina nendang cowok itu di selangkangan, terus puter badan buat kabur naik tangga. Dua anak tangga sekaligus. Tapi dia lebih cepet. Setengah jalan ke tangga berikutnya, dia nangkep pergelangan kakinya. Alina langsung terjatuh keras. Lutut, pinggul, dan bahunya langsung nabrak tepi tangga. Rasa sakitnya nggak main-main. "Dasar cewek tolol," katanya sambil ngerangkak di atas Alina. “Lo pikir gue peduli sama omong kosong lo? Lo cuma cewek murahan yang ngandelin anak futsal HIA buat nutupin aib lo! Tapi di sini, Arion nggak ada buat nolongin lo. Sekarang lo bakal tahu apa rasanya ngehina gue di depan orang banyak!” Dia mendekat lebih agresif, seringainya makin lebar. “Gue pastiin