Semua Bab Bukan Sang Pewaris: Bab 21 - Bab 30

46 Bab

21. Ketegangan Di Meja Makan

Tepat seperti apa yang dikatakan oleh Leon. Dengan perasaan Aleta yang masih dipenuhi oleh Bastian sementara tubuhnya menjadi milik Leon, itu semakin menyiksa dirinya sendiri. Pun dengan perasaannya pada Bastian yang sudah tak sebesar dan sekuat dulu. Setiap kali Leon selesai dengan tubuhnya, perasaannya menjadi tak karuan karena tersadar. Bahwa peluh yang membasahi kening dan pelipisnya. Tubuhnya yang berkeringat, napasnya yang terengah dan rasa tak nyaman, terutama di antara pangkal pahanya. Semua itu juga adalah hasrat miliknya yang berhasil dipancing oleh Leon. Tubuhnya telah sepenuhnya menjadi milik pria itu. Kehangatan pelukan Leon ketika bangun pagi itu, semua itu memang lebih nyata ketimbang perasaan cintanya untuk Bastian. Juga harapan mereka yang tak pernah menjadi kenyataan. “Ya, bulan kemarin acara keluarga di rumah Monica. Jadi bulan ini akan diadakan di rumah kita.” Yoanna memberitahu semua anggota ketika di meja makan pagi itu. “Jadi untuk seminggu ke depan, mam
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-10
Baca selengkapnya

22. Pelampiasan Emosi

"Apakah ini kesengajaanmu?" cecar Leon tepat ketika kakinya sudah melewati pintu paviliun. Aleta mengernyit tak mengerti, wajahnya tetap tertunduk. Karena jika ia bergerak sedikit saja, wajahnya akan bersentuhan dengan Leon. Yang menunduk terlalu dekat ke arahnya. Kedua lengannya yang melingkar di leher pria itu cukup pendek, membuat jarak wajah mereka tak lebih dari lima senti. Ya, ketegangan di meja makan memang sudah tak terkendalikan. Aura yang menguar dari tubuh Leon pun berhasil membuatnya menahan napas. Dan Leon tampak kewalahan menguasai emosi seperti pada malam itu. "Aku tak tahu apa yang kau katakan, Leon." Suara Aleta lirih, dengan napas tertahan karena kepala Leon bergerak lebih turun, hingga napas berat pria itu menerpa sisi wajahnya. "Meski memang aku yang menumpahkan kopiku, seharusnya tanganmu tak terkena tumpahannya." Aleta menelan ludahnya. Ya, tangannya memang terjulur ke arah pria itu, berusaha menyentuh Leon untuk menenangkan emosi yang semakin menggeb
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-11
Baca selengkapnya

23. Ancaman Bastian

Aleta sering kali mendapatkan penghinaan dan cecaran secara langsung dari siapa pun. Secara langsung maupun hanya sindiran-sindiran yang membuat kulit wajahnya serasa dikelupas. Namun, tak sekalipun ia pernah membantah semua kejelekan yang dilemparkan padanya. Memilih bungkam dan menerima semua itu meski hatinya tersakiti. Dan keberanian yang mendadak muncul oleh kata-kata Leon, mendorongnya untuk melakukan pemberontakan yang lebih besar. Kedua tangannya yang terpaku dalam cengkeraman Leon di atas kepala, tubuh yang dihimpit oleh tubuh besar dan setengah telanjang Leon, juga rahangnya yang diremas kuat mempertahankan posisi wajahnya yang dipagut oleh pria itu. Satu-satunya celah bagi Aleta untuk melawan adalah ketika lidah Leon memaksa masuk ke dalam mulutnya, gadis itu menggigitnya. Leon melepaskan pagutannya sambil menyumpah. Menatap Aleta yang menatapnya marah. Cih, gadis itu tak berhak memiliki amarah kepadanya. “Kau berani melawanku?” geramnya tepat di atas wajah Aleta. Bau
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-12
Baca selengkapnya

24. Keputus Asaan Bastian

“Aleta?” Bastian yang baru setengah menutup pintu pun terkejut dengan keberadaan gadis itu di dalam toilet. Sebelum mencium Berlian, seingatnya Aleta masih duduk di samping Leon di ruang keluarga. Kesiap pelan Aleta memecah keterkejutan Bastian, melihat gadis itu yang menatap ke arah tangan kanannya. “Kenapa dengan tanganmu?” Aleta mendorong kursi rodanya mendekat pada Bastian. Memeriksan luka di telapak tangan pria itu. Bastian tak menjawab. Membiarkan tangannya disentuh oleh Aleta dan kecemasan di wajah gadis itu yang mengembangkan perasaan hangat di dadanya. Aleta yang tersadar, seketika terdiam. Bimbang akan kecemasannya terhadap Bastian atau senyum yang mengembang di kedua ujung pria itu. Tangannya sudah akan melepaskan tangan Bastian ketika pria itu menahannya. “Bisakah kau membantuku?” Bastian membungkuk, salah satu tangannya mendorong lengan kursi roda Aleta ke belakang. Ia duduk di penutup toilet dan memosisikan Aleta tepat di hadapannya lalu meletakkan tangannya
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-13
Baca selengkapnya

25. Antara Leon Dan Bastian

“Kau merasa bangga bisa mempengaruhi keputusan Jacob?” Maida muncul tiba-tiba di samping Yoanna yang baru saja selesai menata potongan kue di piring. Pandangannya sempat turun ke bawah, ke arah cangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap. Dan hanya satu cangkir. “Lionel tidak minum kopi.” “Hmm, aku baru akan memberitahumu. Jacob yang meminta.” “Dan kenapa kau yang melayaninya?” “Aku hanya kebetulan bersama dengan Lionel ketika dia menghampiri suamiku, Maida. Kenapa kau mendadak begitu sensitif? Kau pikir aku akan mencuri suamimu?” Wajah Maida membeku. “Selain Jacob sebagai pimpinan tertinggi Thobias Group, kupikir tak ada yang special darinya dibandingkan Lionel. Dan aku tak bermaksus membandingkan mereka. Tapi … wajahmu terlihat seperti kau kurang sentuhan akhir-akhir ini.” Maida mendelik dan seketika wajahnya berubah merah padam. “Apa maksudmu?” Yoanna menggeleng. Menyeret nampan yang sudah ia siapkan ke hadapan sang kakak. “Sebagai istrinya, kau seharuanya melaya
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-14
Baca selengkapnya

26. Kebimbangan Aleta.

Anna mengangguk. “Sejujurnya aku sudah mencurigai ada hubungan yang aneh antara Bastian dan si ca …” “Istriku punya nama, Anna,” koreksi Leon penuh penekanan. “Aleta Ezardy, jika kau lupa.” Anna mengerjap. Menyadari ketajaman tatapan Leon yang mampu membuat bulu kuduknya berdiri. “Y-ya. Aleta. Maksudku, kupikir mereka memiliki sesuatu. Beberapa kali, aku memergoki mereka bertemu secara diam-diam. Sepertinya mereka memang memiliki sesuatu.” “Istriku jelas bukan tipe wanita yang akan ditiduri oleh Bastian, Anna.” Leon menarik lengannya dari gelayutan Anna. “Meski aku tahu setiap inci yang ada di balik pakaiannya dengan sangat baik. Jauh lebih indah dari yang dimiliki wanita manapun.” Bibir Anna memberengut kesal. “Wanita mana pun, kecuali aku. Kau perlu mengamati tubuhku dengan lebih teliti, Leon. Dia tak mungkin lebih baik dariku.” “Mungkin ya.” Mata Leon melirik turun, ke arah belahan dada Anna. “Sayangnya aku suka yang lebih alami. Terasa pas di tanganku.” Tangan Leon ter
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-15
Baca selengkapnya

27. Ke Mana Pun Akan Pergi

Aleta tersenyum dengan perkembangan kakinya sepanjang satu minggu ini. Dan sepanjang terapi, perkembangannya belum pernah sepesat ini.Ia tak tahu apa yang mendorong dirinya akan semangatnya yang terasa berapi-api. Dengan kedua tangan berpegangan pada pagar lintasan, kakinya mulai melangkah dengan perlahan. Hari pertama latihan, ia bisa mendapatkan dua langkah yang cukup menguras tenaga. Akan tetapi, hari selanjutnya semuanya berjalan lebih mudah dan semakin mudah."Kerja bagus, Aleta," puji Bastian yang menyambutnya di depan pintu ruang terapi. "Jika seperti ini terus, tak menunggu berbulan-bulan bagimu untuk berjalan dengan kedua kakimu sendiri."Aleta tersenyum dan mengangguk. "Tanpa alat bantuan," tambah Bastian dengan penuh kepuasan. "Ini benar-benar suatu keajaiban."Senyum Aleta sudah mengembang lebih lebar ketika tiba-tiba Monica muncul dari ruangan dokter. Ia segera melenyapkan senyumnya dan menatap sang mama. Begitu pun dengan Bastian."Bastian?" Monica yang terheran dengan
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-16
Baca selengkapnya

28. Kehidupan Baru Dimulai

Kedua tangan Leon terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Berada di atas lengan sofa, di antara anggota keluarga besar yang diselimuti kecemasan bercampur kemarahan. Suara-suara kepanikan dan amarah saling bersahut-sahutan. Tapi tak ada satu pun yang masuk ke telinganya. Emosi yang bergemuruh di dadanya hanya terfokus pada satu hal. Beraninya gadis cacat itu mengelabuinya seperti ini! Semua tamu undangan sudah pulang ke rumah masing-masing dengan penuh kekecewaan. Berapa kali pun Jacob dan Maida Thobias mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya akan acara yang terpaksa harus dibatalkan karena sang pengantin pria tak kunjung muncul. Bahkan setelah satu jam acara seharusnya sudah dimulai. Semua orang bertanya-tanya ke mana dan apa yang terjadi dengan Bastian yang tiba-tiba menghilang. Hingga Leon pun menyadari sang istri yang juga tak terlihat sejak ia kembali ke kediaman Mamora. Tas Aleta tertinggal di joknya, juga kursi roda gadis itu yang ada ditinggalkan di halaman rumah M
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-17
Baca selengkapnya

29. Pencapaian Leo

Bastian tak berhenti menatap wajah mungil dan pucat di hadapannya dengan perasaan yang sulit dijabarkan. Kedua tangannya pun tak melepaskan tangan Aleta dalam genggamannya. Tak bosan-bosannya ia mengamati wajah cantik tersebut. Alis yang melengkung indah, bulu mata yang lentik, hidung kecil dan ramping yang mancung, bibir tipis dan merah alami yang sekarang tampak kering tersebut. Ia sudah menghafal dengan baik setiap lekukan wajah Aleta di ingatannya. Bahkan hanya dengan memejamkan mata dan mengingat wajah Aleta ketika begitu merindukan gadis itu. Bayangan di benaknya terasa nyata. Sedikit meluapkan kerinduannya. Kelopak mata itu bergerak perlahan. Bastian seketika menyadari gerakan tersebut dan mendekatkan wajah di samping wajah Aleta. Menunggu gadis itu benar-benar terbangun. "Bastian?" Panggilan lirih dan lemah tersebut terdengar lembut di telinganya. "Hai, kau sudah bangun." "Di mana aku?" "Di klinik. Aku menemukanmu pingsan di kamar mandi." Kening Aleta berkerut. Mengin
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-18
Baca selengkapnya

30. Di Ujung Tanduk

Empat bulan kemudian … Suara detak jantung yang berdegup memenuhi seluruh ruangan membuat Aleta dan Bastian tercenung. Mendengarkan setiap detak jantung tersebut dengan senyum yang merekah di bibir mereka. Sekaligus mendengarkan penjelasan detail sang dokter akan keadaan janin di dalam perut Aleta. Usia kandungan Aleta sudah menginjak tujuh bulan. Perut Aleta sudah terlihat sangat besar dengan tubuh gadis itu yang mungil. Berat janin sudah melebih satu kilo, berjenis kelamin laki-laki, dan sangat aktif. “Ya, Dok. Dia sangat aktif. Terutama di malam hari.” Aleta membenarkan, yang disambut tawa oleh Bastian. “Yang terpenting, dia sehat. Apakah semuanya baik-baik saja?” Sang dokter mengangguk, menarik alat di atas perut Aleta dan menyeka sisa gel dengan tisu sembari mengamati senyum di wajah Aleta. “Ibu dan anak, keduanya dalam kondisi sehat. Dan sangat bahagia. Itu kunci semuanya.”
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-19
Baca selengkapnya
Sebelumnya
12345
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status