Home / Romansa / Bukan Sang Pewaris / Chapter 41 - Chapter 46

All Chapters of Bukan Sang Pewaris: Chapter 41 - Chapter 46

46 Chapters

41. Menghapus Kenangan Masa Lalu

Alih-alih membawanya ke restoran mewah atau di restoran hotel bintang lima seperti yang sebelumnya Leon lakukan, malam itu Leon membawanya ke sebuah café sederhana yang ada di kawasan pinggir kota. Aleta sudah merasa ada yang janggal dengan keinginan Leon yang tiba-tiba tersebut. Terutama dengan pria itu yang memastikannya mengenakan pakaian yang membuatnya nyaman. Saat mobil mulai menjauh dari kawasan gedung apartemen, mobil semakin menjauh dari pusat kota. Dan semakin Aleta menyadari, keduanya menuju area yang begitu familiar di ingatannya. Café El, saksi bisu cintanya dan Bastian. Juga tempatnya mengalami kecelakaan yang membuat kakinya lumpuh karena menyelamatkan pria itu. Kepucatan di wajah Aleta menarik seringai Leon semakin tinggi. “Kenapa? Kau tak merindukan tempat ini?” Aleta bergeming, menatap café yang tampak sunyi. Tak ada satu pun pelanggan seperti setiap kali ia dan Bastian berkunjung. Me
last updateLast Updated : 2025-03-30
Read more

42. Menunggu Sedikit Lebih Lama

Berbanding terbalik dengan wajah Aleta yang seketika memucat. Kepalanya bergerak naik, menatap mobil yang berhenti tepat di depan mereka. Ya, itu mobil Bastian. “Tetap di tempatmu,” ucap Leon sebelum melompat turun dan mengunci pintu mobil. Aleta berusaha membuka pintu mobil dengan sia melihat Bastian yang juga turun dari mobil. Pandangan Bastian sejenak menatap ke tempatnya sebelum kembali pada Leon dengan penuh amarah. Keduanya pria itu saling berhadap-hadapan. Bastian yang penuh ketegangan, berbanding terbalik dengan Leon yang bersikap sangat tenang. Satu-satunya yang Aleta cemaskan hanyalah satu, Leon akan mengatakan tentang hubungan kedua pria itu pada Bastian. *** “Ck, lagi-lagi kau merusak kesenanganku, Bastian,” gerutu Leon dengan nada kesal yang dibuat-buat. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku. “Lepaskan Aleta, Leon. Kau sudah mendapatkan semu
last updateLast Updated : 2025-03-31
Read more

43. Pernikahan Bastian

Suara denting lift yang kembali terdengar dari arah belakang Bastian segera membekukan keduanya. Aleta sedikit mencondongkan tubuhnya, mengintip Leonlah yang melangkah keluar dari dalam lift. Kesiap pelan dari celah bibir Aleta pun membuat Bastian menyadari siapa yang datang. Pria itu melengkungkan senyum tipis untuk Aleta dan berjalan menuju pintu keluar rumah sakit. Leon tentu saja menyadari siapa yang baru saja bicara dengan sang istri. Pandangan pria itu tak lepas dari punggung Bastian yang melewati pintu putar sepanjang langkahnya menghampiri Aleta. “Hanya sesaat aku melepaskan pandangan darimu, dan inilah yang kalian lakukan?” dengus Leon ketika berhenti tepat di depan Aleta. Wajah gadis itu tidak pucat, tapi tak mengatakan apa pun untuk menyangkal apalagi mengiyakan. “Aku ingin pulang.” Suara Aleta datar dan dingin. Berusaha bangun dari duduknya. Ujung bibir Leon menipis tajam, melihat Aleta yang sed
last updateLast Updated : 2025-04-01
Read more

44. Baby Lucien

Leon menatap wajah Aleta yang dibasahi oleh peluh. Rintihan, erangan, jeritan serta ringisan di wajah Aleta membuatnya seluruh tubuhnya membeku. Membuatnya merasa begitu tak berdaya melihat rasa sakit yang tengah dialami oleh sang istri. Tangannya diremas oleh Aleta, hingga buku-buku jari gadis itu memutih. Akan tetapi, ia sama sekali tak merasakan apa pun meski kuku panjang Aleta menusuk dan meninggalkan bekas yang dalam di sana. Rasa sakit yang ia dapatkan dari cengkeraman Aleta jelas tak bisa dibandingkan dengan rasa sakit yang mendera perut sang istri. Yang tengah berjuang melahirkan buah hati mereka berdua. Dokter dan perawat tak berhenti mengarahkan Aleta untuk mengatur napas. Kapan saatnya untuk menahan dan mengembuskannya. Dan kapan saatnya untuk mengejan. Fokus Leon hanya pada wajah Aleta yang memucat dan basah oleh keringat. Salah satu telapak tangannya yang bergetar mengusap kening Aleta.
last updateLast Updated : 2025-04-02
Read more

45. Leon Atau Bastian?

Leon sempat tercengang dengan keberadaan Yoanna dan Monica yang saling berhadapan dan menatap ke arahnya dengan wajah pucat pasi. Dan hanya butuh satu detik baginya untuk menguasai amarah yang menyemburat di kedua mata, menampilkan raut sedingin yang biasa ia lakukan pada kedua wanita paruh baya itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Leon berjalan melewati keduanya. Langsung ke meja resepsionis untuk mempertanyakan panggilannya pada sang dokter yang tak kunjung ditanggapi. “Leon?” Yoanna menyentakkan lengan Monica yang berusaha mencegahnya untuk berbuat nekat. Tapi ia jelas tak peduli. Meski Leon mengusirnya dan mengatakan tak ingin melihat wajahnya seperti yang selalu dikatakan sang putra. Ia akan mencobanya. Berkali-kali hingga hati sang putra luluh. Langkah Leon sama sekali tak berhenti, Yoanna berlari mengejar. Berhasil menangkap lengan sang putra dan akhirnya pria itu berhenti.
last updateLast Updated : 2025-04-03
Read more

46. Jamuan Malam

Aleta menggoyang lembut lengan Leon yang berbaring tengkurap di ranjang. "Leon? Bangun." Leon mengerang pelan, matanya terbuka dan berkedip beberapa kali sebelum menatap ke arah Aleta yang membungkuk ke arahnya. "Kau bilang untuk membangunkanmu setelah meja makan siap. Aku dan mama sudah makan malam, jadi aku membawakan ..." Lengan Leon menangkap pinggang Aleta, menarik tubuh mungil wanita itu hingga duduk di tepi ranjang. Lalu mengangkat kepala dan meletakkannya di pangkuan Aleta. "Tunggu sebentar." Pekik Aleta tertahan di ujung lidah dengan gerakan yang tiba-tiba tersebut. Tubuhnya membeku, terkejut oleh kepala Leon yang ada di pangkuannya dengan lengan melingkari pinggang. Memeluknya. Begitu erat. Aleta terdiam. Keduanya terdiam. Kepala Aleta bergerak menuduk, menatap bagian belakang kepala Leon. Lama. Tangannya bergerak ter
last updateLast Updated : 2025-04-04
Read more
PREV
12345
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status