Home / Romansa / Bukan Sang Pewaris / Chapter 11 - Chapter 20

All Chapters of Bukan Sang Pewaris: Chapter 11 - Chapter 20

45 Chapters

11. Keluarga Ezardy

Leon sudah mengemas semua barang-barangnya dan Aleta ke dalam koper mereka di atas tempat tidur. Menunggu petugas hotel yang akan segera datang untuk membantu mereka. Dan baru saja Leon meraih ponselnya di meja, juga tas Aleta. Bel kamar berdenting, pria itu lekas membukakan pintu. Tapi bukan orang hotel yang berdiri di depan pintu kamar mereka. Melainkan sang mama, yang meski wajahnya tampak begitu tenang, tak berhasil menutupi kecemasan yang tersirat di kedua mata wanita paruh baya tersebut.Kedua alis Leon menyatu, terheran dengan keberadaan sang mama.“M-mama … ada yang harus mama bicarakan dengan kau. Maksud mama kalian berdua.”“Kita bisa membicarakannya saat aku ke rumah, Ma. Elias sudah menunggu di bawah.”“Itu yang sedang ingin mama bicarakan.” Yoanna melangkah masuk, menyelipkan tubuhnya yang mungil di samping tubuh tinggi dan besar sang putra, yang memang menurun dari Jacob Thobias. Tak hanya itu, manik mata dan bentuk wajah yang dimiliki Leon memang menurun dari pria itu.
last updateLast Updated : 2025-02-28
Read more

12. Saudara Sepupu?

Dengan bantuan beberapa pelayan keluarga Leon, semua barang-barang Aleta sudah dirapikan ke dalam lemari besar. Begitu pun dengan barang-barang Leon yang ada di kamar pria itu, yang tak lebih banyak dari semua barangnya. Ia sempat mendengar mama mertuanya untuk memindahkan barang-barang pria itu yang ada di apartemen, tetapi segera mendapatkan reaksi yang tak menyenangkan sehingga Yoanna menawarkan akan membeli barang-barang yang baru untuk menambahkan. Yang tak dijawab apa pun oleh Leon dan menjadi lampu hijau bagi wanita paruh tersebut. Setelah makan malam di rumah utama, Aleta kembali ke paviliun. Sempat mengobrol sejenak dengan Lena, adik perempuan Leon yang kebetulan seumuran dengannya. Menawarkan diri jika Aleta butuh bantuan. Meski hubungan mereka tak cukup dekat, sikap Lena lebih ramah dan lembut kepadanya. Begitu pun dengan sang papa mertua. Lionel Ezardy. Sementara Leon, pria itu naik ke lantai dua dan kembali ketika menjelang jam sepuluh. Tepat ketika Aleta siap berbarin
last updateLast Updated : 2025-03-01
Read more

13. Tak Main-Main

"Pokoknya tidak. Kau tidak boleh mendekati Leon." "Kenapa?" "K-karena …" Yoanna kesulitan mendapatkan alasan. Tetapi kemudian pandangannya menangkap keberadaan Aleta yang masih tertunduk di depan Leon. Bersikap menjadi makhluk tak kasat mata seperti biasa. "Karena dia sudah menikah." "Menikahi gadis cacat tidak terhitung pernikahan, tante." Jawaban Anna sangat ringan. Melirik sekilas ke arah Aleta dengan ekspresi mencemooh. "Pokoknya … kau tidak boleh dekat-dekat dengan Leon. Dan jangan ganggu hubungan mereka. Mereka sudah menikah. Sekarang kau pulang ke rumahmu." Yoanna mendorong sang keponakan menjauh. "Tante …" rengek Anna. "Tante mengusirku?" "Ya. Pulang sana. Dan jangan pernah ke rumah tante lagi selama Leon dan Aleta menikah." Wajah Anna berubah semringah. "Jadi kalau mereke bercerai …" "Tidak. Pokoknya selama kau memandang Leon dengan bunga-bunga semacam itu di matamu. Kau tak boleh dekat-dekat di sekitar rumah tante." Anna mendengus sebal. "Berarti di kantor boleh,"
last updateLast Updated : 2025-03-02
Read more

14. Kau Tidur Dengannya?

Leon pikir akan bisa mengabaikan tanda tanyanya tentang sikap sang mama pada Anna pagi tadi, tetapi rupanya apa yang ia dapatkan di kantor semakin memperkerut firasatnya. “Entah dari mana mamamu mendapatkan informasi semacam itu, Leon.” Jawaban Jacob pun terasa aneh. Mamanya jelas mengatakan bahwa Jacob sudah mempersiapkan posisi tersebut, dan ia juga sudah mengonfirmasinya lewat salah satu informannya di Singapore. Yang bahkan sudah ditandatangani oleh pria itu sendiri. “Jadi tidak?” Leon tak melepaskan pandangannya dari kedua mata biru Jacob Thobias yang tampak lebih terang dibandingkan miliknya. Jacob terkekeh. “Tentu saja tidak. Keberadaanmu di kantor pusat sangat dibutuhkan. Meski jika kau memenangkannya, itu akan menambah bebanmu. Kau tak masalah?” Leon menggeleng singkat. Untuk sesaat keduanya saling pandang, Leon memutus kontak mata tersebut lebih dulu sebelum kemudian mendekatkan berkas yang ada di depannya. “Ini berkas yang paman butuhkan.” Jacob membuka berkas terse
last updateLast Updated : 2025-03-03
Read more

15. Dansa Bersama

"Dia benar-benar menidurimu?" Bastian kembali memecah keheningan di antara mereka. Aleta seolah sengaja merapatkan mulut, tak ingin memberikan jawaban. Yang ia tahu akan membuatnya hancur. Bastian mendongakkan wajah Aleta, yang langsung gadis itu tepis. "Tak ada yang salah dengan itu, Bastian. Kami sudah menikah." "Dia bukan orang yang akan tertarik dengan …" "Gadis cacat sepertiku?" Bastian berkedip. Suaranya berubah lembut, tanpa tekanan seperti sebelumnya. "Aku tak bermaksud mengatakan seperti itu, Aleta." Aleta tetap menampilkan raut dinginnya meski sorot Bastian mengatakan yang sejujurnya. Bastian mengangguk. Meredam kecemburuan yang semakin sulit dikendalikan ketika bayangan liar itu muncul di benaknya. Tentang bagaimana Leon meniduri gadisnya. Matanya sempat menyipit, ketika sekilas menangkap kissmark yang tak berhasil disembunyikan di antara helaian rambut Aleta yang diurai. Suara langkah yang semakin mendekat menyela di antara pandangan keduanya yang masih saling ter
last updateLast Updated : 2025-03-04
Read more

16. Paman dan Keponakan

“Apa yang kau lakukan, Anna?” delik Monica, segera mencerna keterkejutannya melihat Anna yang telah berhasil mendaratkan ciuman di bibir Leon. Mendorong tubuh Anna menjauh dari Leon yang hanya memutar bola mata dengan jengah karena sikap kekanakan Anna. “Kau mabuk?” Anna hanya terkikik. Tubuhnya yang sedikit terhuyung berusaha mencari sandaran, lagi-lagi ke arah tubuh Leon. “Sedikit, Tante,” jawabnya dengan tawa kecil. Delikan Monica semakin membulat melihat Anna yang bergelayut manja di lengan Leon. Kedua tangannya terulur, melepaskan pegangan Anna dan kembali menjauhkan gadis itu dari sang menantu. “Sedikit, itu artinya pikiranmu masih cukup waras untuk mengenali saudaramu sendiri dan tidak menciumnya.” Anna mencebikkan bibirnya. “Ya, memang apa salahnya mencintai saudara sepupu sendiri. Mereka seharusnya tidak dijodohkan. Leon seharusnya menikah denganku, tante.” Monica tercengang cukup keras dengan pengakuan tersebut. “K-kau apa?” Suara Monica tercekat di tenggorokan. “K-kau
last updateLast Updated : 2025-03-05
Read more

17. Masa Lalu Kisah Cinta Segitiga

Aleta hendak turun dari tempat tidur ketika teringat kursi rodanya yang sengaja ditinggalkan Leon di bagasi mobil. Satu-satunya pakaiannya yang terlihat ada di lantai tengah ruangan, entah bagaimana bisa terlempar ke sana. Ia menarik tubuhnya terduduk, mempertahankan selimut tetap menutupi dada sembari tak melepaskan pandangan dari pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Dengan kesunyian yang terlalu mencekam. Aleta hanya menunggu, dengan benaknya yang tak berhenti bertanya-tanya akan apa yang dilakukan pria itu di dalam sana. Suara gemericik air sudah berhenti sejak sekitar setengah jam yang lalu. Tengah malam pun sudah lewat. Ceklekk … Suara pintu yang didorong terbuka mengalihkan lamunan Aleta. Pandangan mereka saling bertemu saat langkah Leon sempat tersendak. Pandangan Aleta bergerak turun, melihat perban yang sudah membebat telapak tangan kanan Leon. Rambut pria itu masih basah, meneteskan sisa-sisa air ke pundak dan dada telanjang pria itu. Handuk melingkari pinggang
last updateLast Updated : 2025-03-06
Read more

18. Kecemburuan Yang Berapi-api

Ketika mobil Leon mulai memasuki kediaman Ezardy, perhatian keduanya langsung terarahkan pada Yoanna yang berdiri di teras rumah. Tampak menunggu seseorang. “Kalian sudah sarapan?” Yoanna menghampiri Leon yang baru saja menurunkan Aleta dari dalam mobil. Membantu sang putra mengambil kursi roda Aleta di bagasi. “Sudah, Ma,” jawab Aleta karena Leon tampak sengaja membisu. Tampak sengaja menghindari bertatapan dengan Yoanna. “Kau bersiaplah. Nanti mamamu akan datang untuk mengantarmu ke rumah sakit.” Yoanna baru saja menyelesaikan kalimatnya ketika ketika melihat mobil lain yang melewati gerbang. “Ah, Bastian sudah datang.” “Bastian?” Gumaman Yoanna berhasil mengalihkan perhatian Leon. Yoanna mengangguk. “Ya, semalam Anna membuat keributan. Mama dan papa baru saja akan tidur ketika dia datang dan menggedor-gedor pintu paviliun. Terlalu banyak minum hingga tidur di lantai teras kalian. Jadi papamu membawanya ke kamar tamu dan mama menghubungi Bastian untuk membawanya pulang,” jelas
last updateLast Updated : 2025-03-07
Read more

19. Kelicikan Berlian

"Kau menikahinya karena hal ini?" Ketajaman manik Bastian menusuk seringai kepuasan Leon. "Tak hanya menjadikannya pion, kau memanfaatkannya?" Leon terkekeh. "Pada awalnya tidak, tapi … tidakkah kau merasa kekalahanmu kali ini telah telak?" "Berengsek kau, Leon!" Bastian bergerak maju dengan tangan terangkat. Yang ditangkap oleh Leon. "Hentikan, Bastian," pekik Aleta. Tubuhnya nyaris melompat, menahan kedua pria yang saling bersitegang tersebut. Leon dan Bastian yang terkejut dengan respon Aleta, sehingga gadis itu hampir jatuh dari atas meja membuat keduanya melompat ke samping. Menangkap lengan Aleta masing-masing. Aleta membeku. Tubuhnya yang sudah kehilangan keseimbangan di atas meja wastafel, tertahan oleh pegangan kedua pria tersebut. "Apa yang kau lakukan?" desis Leon dengan geram akan pandangan Bastian yang terpaku pada setengah tubuh telanjang Aleta yang tak tertutupi oleh handuk. Menyentakkan tangan Bastian dari lengan sang istri dan menaikkan handuk Aleta hing
last updateLast Updated : 2025-03-08
Read more

20. Dalang Di Balik Kecelakaan

Monica mendengus tipis ketika melihat mobil Bastian yang berhenti di halaman butik saat mendorong kursi sang putri keluar dari dalam butik. Melirik sinis pada Berlian yang juga melewati pintu butik. Dengan wajah muram dan kantong belanjaan yang sama sekali tak memuaskannya. “Tante Monica, Aleta,” sapa Bastian saat turun dari dalam mobil. Menghampiri sang tante dengan senyum ramah. Wajah muram Berlian seketika berubah semringah, mendekati Bastian dan bergelayut manja di lengan pria itu. “Kau sudah datang?” Bastian memberikan senyum tipisnya pada Berlian sebelum kemudian kembali menatap Aleta yang membuang wajah darinya. Bibirnya sudah membentuk celah, ingin mengatakan sesuatu tetapi tertahan dengan keberadaan sang tante dan Berlian. “Tante benar-benar kasihan denganmu, Bastian,” celetuk Monica. Melirik sinis ke arah Berlian, yang seketika memucat. “Maida memang tak pernah memikirkan kebahagiaanmu. Apa kau sungguh akan menikah dengan wanita seperti ini? Hanya untuk kelangsungk
last updateLast Updated : 2025-03-09
Read more
PREV
12345
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status