Home / Romansa / Bukan Sang Pewaris / 25. Antara Leon Dan Bastian

Share

25. Antara Leon Dan Bastian

last update Last Updated: 2025-03-14 04:15:48

“Kau merasa bangga bisa mempengaruhi keputusan Jacob?” Maida muncul tiba-tiba di samping Yoanna yang baru saja selesai menata potongan kue di piring. Pandangannya sempat turun ke bawah, ke arah cangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap. Dan hanya satu cangkir. “Lionel tidak minum kopi.”

“Hmm, aku baru akan memberitahumu. Jacob yang meminta.”

“Dan kenapa kau yang melayaninya?”

“Aku hanya kebetulan bersama dengan Lionel ketika dia menghampiri suamiku, Maida. Kenapa kau mendadak begitu sensitif? Kau pikir aku akan mencuri suamimu?”

Wajah Maida membeku.

“Selain Jacob sebagai pimpinan tertinggi Thobias Group, kupikir tak ada yang special darinya dibandingkan Lionel. Dan aku tak bermaksus membandingkan mereka. Tapi … wajahmu terlihat seperti kau kurang sentuhan akhir-akhir ini.”

Maida mendelik dan seketika wajahnya berubah merah padam. “Apa maksudmu?”

Yoanna menggeleng. Menyeret nampan yang sudah ia siapkan ke hadapan sang kakak. “Sebagai istrinya, kau seharuanya melaya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
ann’sbooks
Mommy Monica pasti punya rencana
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Bukan Sang Pewaris   26. Kebimbangan Aleta.

    Anna mengangguk. “Sejujurnya aku sudah mencurigai ada hubungan yang aneh antara Bastian dan si ca …” “Istriku punya nama, Anna,” koreksi Leon penuh penekanan. “Aleta Ezardy, jika kau lupa.” Anna mengerjap. Menyadari ketajaman tatapan Leon yang mampu membuat bulu kuduknya berdiri. “Y-ya. Aleta. Maksudku, kupikir mereka memiliki sesuatu. Beberapa kali, aku memergoki mereka bertemu secara diam-diam. Sepertinya mereka memang memiliki sesuatu.” “Istriku jelas bukan tipe wanita yang akan ditiduri oleh Bastian, Anna.” Leon menarik lengannya dari gelayutan Anna. “Meski aku tahu setiap inci yang ada di balik pakaiannya dengan sangat baik. Jauh lebih indah dari yang dimiliki wanita manapun.” Bibir Anna memberengut kesal. “Wanita mana pun, kecuali aku. Kau perlu mengamati tubuhku dengan lebih teliti, Leon. Dia tak mungkin lebih baik dariku.” “Mungkin ya.” Mata Leon melirik turun, ke arah belahan dada Anna. “Sayangnya aku suka yang lebih alami. Terasa pas di tanganku.” Tangan Leon ter

    Last Updated : 2025-03-15
  • Bukan Sang Pewaris   27. Ke Mana Pun Akan Pergi

    Aleta tersenyum dengan perkembangan kakinya sepanjang satu minggu ini. Dan sepanjang terapi, perkembangannya belum pernah sepesat ini.Ia tak tahu apa yang mendorong dirinya akan semangatnya yang terasa berapi-api. Dengan kedua tangan berpegangan pada pagar lintasan, kakinya mulai melangkah dengan perlahan. Hari pertama latihan, ia bisa mendapatkan dua langkah yang cukup menguras tenaga. Akan tetapi, hari selanjutnya semuanya berjalan lebih mudah dan semakin mudah."Kerja bagus, Aleta," puji Bastian yang menyambutnya di depan pintu ruang terapi. "Jika seperti ini terus, tak menunggu berbulan-bulan bagimu untuk berjalan dengan kedua kakimu sendiri."Aleta tersenyum dan mengangguk. "Tanpa alat bantuan," tambah Bastian dengan penuh kepuasan. "Ini benar-benar suatu keajaiban."Senyum Aleta sudah mengembang lebih lebar ketika tiba-tiba Monica muncul dari ruangan dokter. Ia segera melenyapkan senyumnya dan menatap sang mama. Begitu pun dengan Bastian."Bastian?" Monica yang terheran dengan

    Last Updated : 2025-03-16
  • Bukan Sang Pewaris   28. Kehidupan Baru Dimulai

    Kedua tangan Leon terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Berada di atas lengan sofa, di antara anggota keluarga besar yang diselimuti kecemasan bercampur kemarahan. Suara-suara kepanikan dan amarah saling bersahut-sahutan. Tapi tak ada satu pun yang masuk ke telinganya. Emosi yang bergemuruh di dadanya hanya terfokus pada satu hal. Beraninya gadis cacat itu mengelabuinya seperti ini! Semua tamu undangan sudah pulang ke rumah masing-masing dengan penuh kekecewaan. Berapa kali pun Jacob dan Maida Thobias mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya akan acara yang terpaksa harus dibatalkan karena sang pengantin pria tak kunjung muncul. Bahkan setelah satu jam acara seharusnya sudah dimulai. Semua orang bertanya-tanya ke mana dan apa yang terjadi dengan Bastian yang tiba-tiba menghilang. Hingga Leon pun menyadari sang istri yang juga tak terlihat sejak ia kembali ke kediaman Mamora. Tas Aleta tertinggal di joknya, juga kursi roda gadis itu yang ada ditinggalkan di halaman rumah M

    Last Updated : 2025-03-17
  • Bukan Sang Pewaris   29. Pencapaian Leo

    Bastian tak berhenti menatap wajah mungil dan pucat di hadapannya dengan perasaan yang sulit dijabarkan. Kedua tangannya pun tak melepaskan tangan Aleta dalam genggamannya. Tak bosan-bosannya ia mengamati wajah cantik tersebut. Alis yang melengkung indah, bulu mata yang lentik, hidung kecil dan ramping yang mancung, bibir tipis dan merah alami yang sekarang tampak kering tersebut. Ia sudah menghafal dengan baik setiap lekukan wajah Aleta di ingatannya. Bahkan hanya dengan memejamkan mata dan mengingat wajah Aleta ketika begitu merindukan gadis itu. Bayangan di benaknya terasa nyata. Sedikit meluapkan kerinduannya. Kelopak mata itu bergerak perlahan. Bastian seketika menyadari gerakan tersebut dan mendekatkan wajah di samping wajah Aleta. Menunggu gadis itu benar-benar terbangun. "Bastian?" Panggilan lirih dan lemah tersebut terdengar lembut di telinganya. "Hai, kau sudah bangun." "Di mana aku?" "Di klinik. Aku menemukanmu pingsan di kamar mandi." Kening Aleta berkerut. Mengin

    Last Updated : 2025-03-18
  • Bukan Sang Pewaris   30. Di Ujung Tanduk

    Empat bulan kemudian … Suara detak jantung yang berdegup memenuhi seluruh ruangan membuat Aleta dan Bastian tercenung. Mendengarkan setiap detak jantung tersebut dengan senyum yang merekah di bibir mereka. Sekaligus mendengarkan penjelasan detail sang dokter akan keadaan janin di dalam perut Aleta. Usia kandungan Aleta sudah menginjak tujuh bulan. Perut Aleta sudah terlihat sangat besar dengan tubuh gadis itu yang mungil. Berat janin sudah melebih satu kilo, berjenis kelamin laki-laki, dan sangat aktif. “Ya, Dok. Dia sangat aktif. Terutama di malam hari.” Aleta membenarkan, yang disambut tawa oleh Bastian. “Yang terpenting, dia sehat. Apakah semuanya baik-baik saja?” Sang dokter mengangguk, menarik alat di atas perut Aleta dan menyeka sisa gel dengan tisu sembari mengamati senyum di wajah Aleta. “Ibu dan anak, keduanya dalam kondisi sehat. Dan sangat bahagia. Itu kunci semuanya.”

    Last Updated : 2025-03-19
  • Bukan Sang Pewaris   31. Kembali

    Aleta terbangun di ruangan yang serba putih tersebut dengan perasaan yang masih campur aduk. Rasa pusing kembali menusuk kepalanya karena ingatan-ingatan yang berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Manisan mangga, Bastian kecelakaan, rumah sakit, dan ruang operasi. Pria itu menjalani operasi darurat selama berjam-jam hingga Aleta jatuh pingsan karena kelelahan. Entah siapa yang membawanya ke tempat ini, Aleta lekas menyingkap selimut dan turun dari ranjang. Bertanya pada perawat di mana ruang operasi. Perawat mengatakan bahwa Bastian baru saja keluar dari ruang operasi dan dipindahkan di ruang ICU. Tapi ia harus ke ruangan dokter untuk bicara dengan dokter yang baru saja mengoperasi Bastian. Setelah sempat singgah di ruang ICU untuk melihat Bastian dari balik kaca, perawat membawa Aleta ke ruang dokter. Seolah belum cukup hatinya yang sudah hancur lebur dengan semua situasi ini, kondisi Bastian yang jauh

    Last Updated : 2025-03-20
  • Bukan Sang Pewaris   32. Anak Leon

    Seluruh tubuh Aleta membeku. Keduanya matanya bersirobok dengan mata gelap Leon yang langsung menangkapnya. Menguncinya dan langkah pria itu terhenti beberapa langkah dari mereka bertiga. Cukup lama dan bergerak turun. Lebih lama menatap perut, yang mustahil ia sembunyikan. Ujung bibir pria itu tersenyum tipis, sebelum kemudian melanjutkan berjalan lebih dekat. Tanpa melepaskan pandangan dari perut Aleta. "Bisakah kami bicara? Urusan suami dan istri?" Pertanyaan tersebut ditujukan pada Nirel dan Monica. Yang saling pandangan. Nirel mengangguk singkat pada sang istri, tetapi Monica merasakan firasat yang tak baik tentang pembicaraan ini. "Kita bisa membicarakan masalah ini setelah …" "Bagaimana pun, pernikahan kami pernah dan tetap terjadi. Apakah mama masih butuh kesabaran saya lebih banyak lagi setelah semua ini?" Monica terdiam. Menoleh pada wajah pucat Aleta yang juga memberinya satu angguk

    Last Updated : 2025-03-21
  • Bukan Sang Pewaris   33. Kewajiban Sebagai Seorang Istri

    Aleta tersentak ketika Leon melangkah maju. Menyentakkan pundaknya ke samping dan langsung meraih wajahnya. Menyambar ciuman di bibir sembari menghimpit tubuhnya ke dinding kamar mandi. Ia berusaha menolak, tetapi meski kedua kakinya sudah tidak lumpuh, perut besarnya memberinya banyak kesulitan untuk melawan kekuatan pria Leon. Dan ditambah Leon yang jelas tak memedulikan anak dalam kandungannya dengan sikap kasar tersebut, Aleta berani menolak apa yang diinginkan Leon dari tubuhnya. “Hentikan, Leon,” engah Aleta ketika Leon akhirnya melepaskan bibirnya, tapi beralih mencumbu cekungan lehernya. Kedua tangannya menahan bisep yang membayang di balik kemeja putih yang basah dan menempel di lengan pria itu. Berusaha mendorong tubuh besar Leon yang sama sekali tak bergeming. “Leon!” Leon menggeram rendah karena kesenangannya diganggu, tangan Leon menjambak rambut Aleta. Menengadahkan wajah gadis itu di bawah guyuran air.

    Last Updated : 2025-03-22

Latest chapter

  • Bukan Sang Pewaris   46. Jamuan Malam

    Aleta menggoyang lembut lengan Leon yang berbaring tengkurap di ranjang. "Leon? Bangun." Leon mengerang pelan, matanya terbuka dan berkedip beberapa kali sebelum menatap ke arah Aleta yang membungkuk ke arahnya. "Kau bilang untuk membangunkanmu setelah meja makan siap. Aku dan mama sudah makan malam, jadi aku membawakan ..." Lengan Leon menangkap pinggang Aleta, menarik tubuh mungil wanita itu hingga duduk di tepi ranjang. Lalu mengangkat kepala dan meletakkannya di pangkuan Aleta. "Tunggu sebentar." Pekik Aleta tertahan di ujung lidah dengan gerakan yang tiba-tiba tersebut. Tubuhnya membeku, terkejut oleh kepala Leon yang ada di pangkuannya dengan lengan melingkari pinggang. Memeluknya. Begitu erat. Aleta terdiam. Keduanya terdiam. Kepala Aleta bergerak menuduk, menatap bagian belakang kepala Leon. Lama. Tangannya bergerak ter

  • Bukan Sang Pewaris   45. Leon Atau Bastian?

    Leon sempat tercengang dengan keberadaan Yoanna dan Monica yang saling berhadapan dan menatap ke arahnya dengan wajah pucat pasi. Dan hanya butuh satu detik baginya untuk menguasai amarah yang menyemburat di kedua mata, menampilkan raut sedingin yang biasa ia lakukan pada kedua wanita paruh baya itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Leon berjalan melewati keduanya. Langsung ke meja resepsionis untuk mempertanyakan panggilannya pada sang dokter yang tak kunjung ditanggapi. “Leon?” Yoanna menyentakkan lengan Monica yang berusaha mencegahnya untuk berbuat nekat. Tapi ia jelas tak peduli. Meski Leon mengusirnya dan mengatakan tak ingin melihat wajahnya seperti yang selalu dikatakan sang putra. Ia akan mencobanya. Berkali-kali hingga hati sang putra luluh. Langkah Leon sama sekali tak berhenti, Yoanna berlari mengejar. Berhasil menangkap lengan sang putra dan akhirnya pria itu berhenti.

  • Bukan Sang Pewaris   44. Baby Lucien

    Leon menatap wajah Aleta yang dibasahi oleh peluh. Rintihan, erangan, jeritan serta ringisan di wajah Aleta membuatnya seluruh tubuhnya membeku. Membuatnya merasa begitu tak berdaya melihat rasa sakit yang tengah dialami oleh sang istri. Tangannya diremas oleh Aleta, hingga buku-buku jari gadis itu memutih. Akan tetapi, ia sama sekali tak merasakan apa pun meski kuku panjang Aleta menusuk dan meninggalkan bekas yang dalam di sana. Rasa sakit yang ia dapatkan dari cengkeraman Aleta jelas tak bisa dibandingkan dengan rasa sakit yang mendera perut sang istri. Yang tengah berjuang melahirkan buah hati mereka berdua. Dokter dan perawat tak berhenti mengarahkan Aleta untuk mengatur napas. Kapan saatnya untuk menahan dan mengembuskannya. Dan kapan saatnya untuk mengejan. Fokus Leon hanya pada wajah Aleta yang memucat dan basah oleh keringat. Salah satu telapak tangannya yang bergetar mengusap kening Aleta.

  • Bukan Sang Pewaris   43. Pernikahan Bastian

    Suara denting lift yang kembali terdengar dari arah belakang Bastian segera membekukan keduanya. Aleta sedikit mencondongkan tubuhnya, mengintip Leonlah yang melangkah keluar dari dalam lift. Kesiap pelan dari celah bibir Aleta pun membuat Bastian menyadari siapa yang datang. Pria itu melengkungkan senyum tipis untuk Aleta dan berjalan menuju pintu keluar rumah sakit. Leon tentu saja menyadari siapa yang baru saja bicara dengan sang istri. Pandangan pria itu tak lepas dari punggung Bastian yang melewati pintu putar sepanjang langkahnya menghampiri Aleta. “Hanya sesaat aku melepaskan pandangan darimu, dan inilah yang kalian lakukan?” dengus Leon ketika berhenti tepat di depan Aleta. Wajah gadis itu tidak pucat, tapi tak mengatakan apa pun untuk menyangkal apalagi mengiyakan. “Aku ingin pulang.” Suara Aleta datar dan dingin. Berusaha bangun dari duduknya. Ujung bibir Leon menipis tajam, melihat Aleta yang sed

  • Bukan Sang Pewaris   42. Menunggu Sedikit Lebih Lama

    Berbanding terbalik dengan wajah Aleta yang seketika memucat. Kepalanya bergerak naik, menatap mobil yang berhenti tepat di depan mereka. Ya, itu mobil Bastian. “Tetap di tempatmu,” ucap Leon sebelum melompat turun dan mengunci pintu mobil. Aleta berusaha membuka pintu mobil dengan sia melihat Bastian yang juga turun dari mobil. Pandangan Bastian sejenak menatap ke tempatnya sebelum kembali pada Leon dengan penuh amarah. Keduanya pria itu saling berhadap-hadapan. Bastian yang penuh ketegangan, berbanding terbalik dengan Leon yang bersikap sangat tenang. Satu-satunya yang Aleta cemaskan hanyalah satu, Leon akan mengatakan tentang hubungan kedua pria itu pada Bastian. *** “Ck, lagi-lagi kau merusak kesenanganku, Bastian,” gerutu Leon dengan nada kesal yang dibuat-buat. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku. “Lepaskan Aleta, Leon. Kau sudah mendapatkan semu

  • Bukan Sang Pewaris   41. Menghapus Kenangan Masa Lalu

    Alih-alih membawanya ke restoran mewah atau di restoran hotel bintang lima seperti yang sebelumnya Leon lakukan, malam itu Leon membawanya ke sebuah café sederhana yang ada di kawasan pinggir kota. Aleta sudah merasa ada yang janggal dengan keinginan Leon yang tiba-tiba tersebut. Terutama dengan pria itu yang memastikannya mengenakan pakaian yang membuatnya nyaman. Saat mobil mulai menjauh dari kawasan gedung apartemen, mobil semakin menjauh dari pusat kota. Dan semakin Aleta menyadari, keduanya menuju area yang begitu familiar di ingatannya. Café El, saksi bisu cintanya dan Bastian. Juga tempatnya mengalami kecelakaan yang membuat kakinya lumpuh karena menyelamatkan pria itu. Kepucatan di wajah Aleta menarik seringai Leon semakin tinggi. “Kenapa? Kau tak merindukan tempat ini?” Aleta bergeming, menatap café yang tampak sunyi. Tak ada satu pun pelanggan seperti setiap kali ia dan Bastian berkunjung. Me

  • Bukan Sang Pewaris   40. Perubahan Leon

    “Mengancam?” Aleta kembali dikejutkan dengan informasi tersebut. Monica mengangguk. “Dia benar-benar sudah berubah, Aleta. Sejak kau pergi, papamu jadi lebih murung dan sering mengurung diri di ruang kerjanya. Entah memikirkanmu atau Leon, sepertinya lebih banyak karena pekerjaan. Papamu hanya cemas jika Leon melakukan sesuatu padamu, jadi dia hanya mengatakan pada mama untuk menuruti semua yang diinginkan Leon dari kami.” Aleta menjilat bibirnya yang kering. Mencerna penjelasan sang mama yang masih tak bisa dirabanya dengan baik. “Sebenarnya ada masalah apa dengan Leon dan mamanya?” Bibir Monica sudah membentuk celah, tetapi hanya helaan panjang yang keluar dari sana. Kepala wanita itu kemudian menggeleng. “Sebaiknya kau tak perlu tahu. Di antara mereka, entah siapa yang harus dibenarkan.” Kerutan di antara kedua alis Aleta semakin menukik tajam. Kebungkaman mamanya membuatnya menahan rasa penasaran yang m

  • Bukan Sang Pewaris   39. Amarah Leon

    Yoanna tak berhenti meremas kedua tangannya dengan gugup di depan pintu putih. Berjalan mondar-mandir dengan kecemasan yang memucatkan wajah cantiknya. Suara sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai bergema di lorong yang sunyi tersebut. Telapak tangannya mulai basah oleh keringat, setiap detik terasa seperti mencengkeram dadanya dengan lebih keras. Sesekali tangannya merogok sapu tangan di dalam tas untuk menyeka pelipisnya yang berkeringat. Cemas akan apa yang terjadi dengan sang menantu. Pintu yang terbuka segera membekukan langkahnya, kedua kakinya gegas menghampiri wanita yang mengenakan jas putih yang baru saja keluar tersebut. “Apa yang terjadi dengan menantu saya, Dok?” cecarnya pada sang dokter. Kedua tangannya memegang lengan dokter Tyas, nyaris mencengkeram dengan napas yang setengah tersengal. Dokter Tyas mengambil kedua tangan Yoanna, menggenggam dengan lembut demi menenangkan kecema

  • Bukan Sang Pewaris   38. Berlian Mamora

    Aleta hanya berbaring di ranjang sejak Leon pergi tiga jam yang lalu. Sama sekali tak berminat melakukan apa pun, terutama dengan Leon yang tak akan mengganggunya hingga besok siang. Betapa ia berharap perjalanan bisnis Leon lebih lama lagi dan ia bisa memiliki lebih banyak waktu untuk tenggelam dalam patah hatinya. Sejak tadi pagi, pikirannya tak berhenti dipenuhi tentang keadaan Bastian. Bayangan kesedihan di wajah pria itu tak pernah lenyap dari benaknya. Masih terasa nyata di ingatannya. Mengiris hatinya hingga tak ada lagi yang bisa dihancurkan. Suara bel apartemen membangunkan Aleta yang baru saja tertidur. Kepalanya terasa pusing. Terlalu banyak berbaring dan belum menyuapkan apa pun ke dalam mulut selain segelas susu ibu hamilnya. Setelah duduk sejenak untuk meredakan rasa pusing di kepala, ia lekas keluar dari kamar dan membuka pintu. "Aleta?" Yoanna tersenyum lebar dan lang

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status