All Chapters of Sayang, Izinkan Aku Selingkuh: Chapter 31 - Chapter 40

71 Chapters

Bab 30

Clara duduk di ujung ranjang rumah sakit bersama Maria, tangannya gemetar saat menggenggam cangkir teh hangat yang baru saja dibuatkan oleh ibu mertuanya itu. Matanya sembab, jelas habis menangis semalaman. Maria duduk di sebelahnya, menatapnya dengan penuh iba. "Aku minta maaf, Bu," suara Clara bergetar, hampir berbisik. "Aku sudah berusaha sekuat tenaga, tapi aku tidak bisa lagi mempertahankan pernikahanku dengan David." Maria menghela napas pelan. Ia suda tahu soal itu sebelumnya, tetapi melihat langsung betapa hancurnya clara membuat hatinya ikut sakit. "Kamu tidak perlu meminta maaf, Clara. Aku juga akan melakukan hal yang sama jika aku ada di posisimu," jawab Maria lembut. "Tapi aku merasa gagal," Clara menundukkan kepala. "Aku pernah berjanji akan bertahan. Aku pernah berpikir kalau aku cukup kuat untuk mengubahnya. Tapi kenyataannya… aku hanya menyiksa diriku sendiri." Maria meraih tangan Clara dan menggenggamnya erat. "Tidak ada yang salah dengan menyerah jika itu b
last updateLast Updated : 2025-02-28
Read more

Bab 31

Zoya duduk di tepi ranjang, kedua tangannya meremas ujung selimut dengan gelisah. Perutnya yang mulai membesar seolah menjadi pengingat betapa besar kebohongan yang telah ia ciptakan. David sedang berada di kantor, sementara Clara—istri sahnya—masih di rumah sakit karena kdrt yang dilakukan oleh David beberapa hari lalu.Zoya masih bisa mengingat nasihat yang diberikan Clara. Dia harus bisa menjaga diri dan anaknya dari amukan David. Saat itu, untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar takut pada David. Melihat tubuh Clara yang babak belur di hajar David.Sebelumnya, ia hanya melihat sisi lembut pria itu—sisi yang ia manfaatkan dengan mengaku bahwa bayi yang dikandungnya adalah darah daging David. Ia tahu David sangat menginginkan keturunan, sesuatu yang tak bisa diberikan oleh Clara. Maka, ketika ia mengetahui dirinya hamil akibat kesalahan satu malam dengan mantan pacarnya, Rian, ia mengambil kesempatan itu. Namun, kini kebohongan itu mulai terasa seperti jerat di lehernya. B
last updateLast Updated : 2025-02-28
Read more

Bab 32

Sidang perceraian Clara dan David berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan. Meskipun keduanya sepakat untuk berpisah, masalah pembagian harta membuat segalanya berlarut-larut. David bersikeras bahwa ia berhak atas sebagian besar aset mereka, sementara Clara tidak ingin menyerahkan lebih dari yang seharusnya. "Rumah ini milik kita berdua, David. Aku tidak akan menyerahkan semuanya begitu saja," tegas Clara di ruang sidang. David mendengus. "Tapi aku yang membayar sebagian besar cicilannya!" "Kamu lupa? Aku juga berkontribusi. Aku yang menata dan menjadikannya nyaman. Jangan hanya melihat uang, tapi juga usaha yang telah kuberikan," balas Clara, tidak mau kalah. Pertarungan mereka terus berlangsung. Pengacara masing-masing sibuk menyusun argumen terbaik. Clara menolak untuk mundur, karena bagi dirinya, ini bukan sekadar soal harta, melainkan harga diri. Setelah bertahun-tahun mengalah dalam pernikahan, ia ingin memastikan bahwa perpisahan ini berakhir dengan adil. Akhirny
last updateLast Updated : 2025-03-01
Read more

Bab 33

Zoya melipat tangannya di dada, wajahnya memerah menahan amarah. Matanya yang tajam menatap David dengan penuh ketidakpercayaan. "Jadi, kamu cuma dapat tiga puluh persen? Baik dari aset maupun perusahaan?" suara Zoya meninggi. David duduk di sofa dengan ekspresi lelah, seolah pertengkaran ini sudah ia prediksi sejak tadi. "Iya, Zoya. Aku sudah bilang, ini hasil terbaik yang bisa kudapatkan. Daripada aku tidak dapat apa-apa dan kita harus hidup lebih susah, lebih baik aku menerima ini." Zoya tertawa sinis. "Hidup lebih susah? Maksudmu, aku harus hidup hemat sekarang? Aku menikah denganmu bukan untuk ini, David!" David menatapnya tajam. "Aku tahu, Zoya. Aku tahu alasanmu menikah denganku. Tapi aku juga sudah bilang sejak awal, perceraian ini tidak akan mudah. Clara punya pengacara yang jauh lebih licik. Kalau aku memaksakan diri untuk mendapat lebih, bisa saja aku malah kehilangan segalanya." Zoya mengerang frustasi. Ia sudah membayangkan kehidupan yang mewah setelah Clara ang
last updateLast Updated : 2025-03-01
Read more

Bab 34

Clara menatap pantulan dirinya di cermin, gaun pengantin putih yang membalut tubuhnya begitu sempurna. Bahunya yang terbuka dihiasi renda halus, sementara rambutnya disanggul anggun dengan mahkota kecil yang berkilauan. Hari ini adalah hari yang bahkan tak pernah ia bayangkan enam bulan lalu—hari pernikahannya dengan Erick. Dulunya, Clara dan Erick hanya kisah lama yang tak terselesaikan. Mereka adalah pasangan di SMA, penuh cinta monyet yang akhirnya kandas karena ambisi dan perbedaan jalan hidup. Namun, takdir memang selalu punya caranya sendiri. Setelah perceraiannya dengan David, Erick kembali hadir, mengisi ruang kosong yang lama tak berpenghuni. Dan kini, mereka akhirnya bersatu kembali, bukan sebagai remaja yang masih mencari jati diri, tapi sebagai dua orang dewasa yang saling memilih. Pernikahan mereka sontak menjadi viral. Tagar **#ClaraErickWedding** membanjiri media sosial. Foto-foto Clara dalam gaun mewah dan Erick dalam tuksedo elegan tersebar di mana-mana. Netizen h
last updateLast Updated : 2025-03-01
Read more

Bab 35

Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah tirai, menerangi kamar apartemen dengan cahaya keemasan. Di atas ranjang berantakan, Clara menggeliat pelan, merasakan hangatnya tubuh suaminya yang masih menempel di sisinya. Erick, yang sudah lebih dulu terjaga, tersenyum puas saat melihat istrinya mulai sadar dari tidurnya. “Pagi, sayang,” suara seraknya terdengar menggoda. Ia menyapukan jemarinya ke pipi Clara, lalu mengecup pelipisnya lembut. Clara membuka matanya perlahan, lalu terkekeh kecil ketika melihat Erick menatapnya dengan tatapan penuh hasrat. “Pagi... Kamu sudah bangun lama?” tanyanya dengan suara masih serak karena tidur. “Cukup lama untuk merindukanmu lagi,” Erick menjawab dengan nada menggoda, tangannya mulai menjelajah, menyusuri lekuk tubuh istrinya yang hanya terbalut selimut tipis. Clara mendesah pelan saat Erick menariknya lebih dekat, tubuh mereka kini tanpa jarak. “Tadi malam kamu sudah menghabisiku,” protesnya manja, tapi tak ada ketegasan dalam suar
last updateLast Updated : 2025-03-02
Read more

Bab 36

Clara duduk di sudut kafe yang tenang, jari-jarinya melingkari cangkir kopi yang sudah mendingin. Hari ini, ia mengajak seseorang yang tak pernah ia sangka akan ia temui lagi setelah perceraian dengan David—Maria, mantan ibu mertuanya. Maria datang dengan langkah anggun seperti biasanya, mengenakan blus pastel dan tas tangan yang selalu tampak elegan. Senyum lembutnya masih sama, meskipun ada sedikit keraguan di matanya saat ia melihat Clara. “Clara, apa kabar?” sapanya, menarik kursi di hadapan mantan menantunya. Clara tersenyum, meski hatinya berdebar. “Aku baik, bu. Terima kasih sudah mau datang.” Maria mengangguk. “Tentu saja, Nak. Kamu seperti anakku sendiri dulu.” Clara menelan ludah, mengingat masa-masa ketika ia masih menjadi bagian dari keluarga itu. Namun, bukan itu yang ingin ia bahas hari ini. Ia menghela napas dan menatap Maria dengan serius. “Bu, aku ingin meminta bantuan,” ujarnya pelan. Maria mengangkat alis. “Bantuan apa?” Clara menggigit bibir sebelum
last updateLast Updated : 2025-03-02
Read more

Bab 37

Matahari baru saja muncul ketika aroma kopi dan roti panggang memenuhi rumah. Di dapur, seorang pria tampan dengan kaus santai dan celana pendek tengah sibuk di depan kompor. Erick, dengan tangan cekatan, membalik telur dadar di wajan, sementara di sebelahnya, dua cangkir kopi sudah tertata rapi di meja. Clara berjalan mengendap-endap dari belakang dan melingkarkan tangannya di pinggang suaminya. “Pagi-pagi sudah sibuk aja. Padahal ada Bi Inah, kan?” godanya dengan suara manja. Erick tertawa kecil, lalu berbalik dan mengecup kening istrinya. “Aku suka masak buat kamu. Lagipula, Bi Inah juga butuh istirahat.” Dari balik pintu dapur, Bi Inah berdiri dengan tangan di pinggang, menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah majikannya yang selalu bermesraan. Sudah sebulan ia bekerja di rumah ini sejak Erick dan Clara menikah, dan hampir setiap hari ia menyaksikan pemandangan yang sama—Erick yang terlalu memanjakan istrinya. “Duh, Gusti… Suami zaman sekarang sangat suka memanjakan ist
last updateLast Updated : 2025-03-02
Read more

Bab 38

Clara duduk di kursi ruang tunggu rumah sakit, menatap jemarinya yang saling bertaut. Hatinya berdebar tak karuan. Di sampingnya, Erick menggenggam tangannya erat, memberikan kehangatan sekaligus menenangkan kegelisahannya. "Jangan tegang seperti itu, Sayang," bisik Erick sambil tersenyum. Clara menghela napas pelan. "Aku deg-degan, Erick. Entah kenapa rasanya campur aduk." Tak lama, seorang perawat keluar dari ruangan dokter dan memanggil nama Clara. Mereka segera masuk, disambut oleh dokter wanita paruh baya yang tersenyum ramah. "Apa keluhan Anda, Bu Clara?" Clara menoleh sekilas ke arah Erick sebelum menjawab, "Saya terlambat haid dan sering merasa mual belakangan ini. Jadi, saya ingin memastikan apakah saya benar-benar hamil." Dokter mengangguk paham dan segera melakukan pemeriksaan. Dokter juga meminta Clara untuk memakai alat tes kehamilan. Setelah beberapa menit, ia tersenyum. "Selamat, Bu Clara. Anda positif hamil. Usianya masih sangat muda, sekitar lima minggu."
last updateLast Updated : 2025-03-03
Read more

Bab 39

Zoya menatap David dengan mata yang penuh keyakinan. Ia tahu kata-katanya barusan seperti omong kosong bagi pria itu, tapi ia tak peduli. Ia akan mengatakannya berulang kali sampai David mau mendengarkan. "Pria mandul belum tentu tidak bisa punya anak," ucap Zoya tegas, suaranya bergetar namun sarat dengan keteguhan. "Mungkin kehamilanku waktu itu adalah sebuah anugerah dari Tuhan untukmu, David. Anak yang aku lahirkan benar-benar adalah anakmu." David tidak langsung merespons. Matanya meneliti wajah Zoya dengan tatapan tajam, seolah berusaha membaca kebohongan di sana. Namun, Zoya tidak menghindar. Ia membiarkan David menatapnya selama yang pria itu mau, karena ia tahu dirinya tidak bersalah. David tertawa kecil, tapi bukan tawa yang menyenangkan. "Jadi, kau ingin aku percaya begitu saja? Setelah bertahun-tahun kau menghilang tanpa kabar, tiba-tiba muncul dan berkata bahwa anak itu milikku?" Ia menggelengkan kepala, ekspresinya penuh sinisme. "Kau pikir aku sebodoh itu, Zoya?"
last updateLast Updated : 2025-03-03
Read more
PREV
1234568
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status