All Chapters of Sebatas Rahim Sewaan Tuan CEO: Chapter 21 - Chapter 30

121 Chapters

Bab 21. Aku Suamimu!

Emily mengembuskan napas pelan. Ia menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya menyeret ibu jarinya ke layar dan menjawab panggilan itu. "Halo," ujarnya datar. Dari seberang, terdengar suara tarikan napas berat sebelum Arnold akhirnya berbicara. "Kenapa kau tidak membalas pesanku?" tanyanya langsung, tanpa basa-basi. Suaranya terdengar dingin, tetapi ada ketidaksabaran yang tersirat di dalamnya. Emily mengangkat alis, meskipun pria itu tidak bisa melihatnya. "Aku membacanya," jawabnya santai. "Aku tahu," balas Arnold cepat. "Tapi kenapa tidak kau balas?" Emily tersenyum kecil, menikmati bagaimana pria itu sepertinya mulai kehilangan kendali. "Aku tidak merasa perlu melakukannya." Hening sejenak. Dari seberang, terdengar suara tarikan napas kasar. "Emily, aku menyuruhmu pulang." Nada perintahnya begitu jelas, seperti biasanya. Arnold selalu menganggap bahwa kata-katanya adalah hukum yang harus dipatuhi. Namun kali ini, Emily hanya terkekeh pelan. "Dan aku memilih untu
last updateLast Updated : 2025-03-02
Read more

Bab 22. Menghilang

Cahaya pagi yang lembut menyelinap masuk melalui celah-celah tirai kamar, menerpa wajah Sarah yang masih terlelap. Ia menggeliat pelan, matanya mulai terbuka dengan kantuk yang masih tersisa.Namun, saat ia mengulurkan tangan ke sisi tempat tidur, yang ia temukan hanyalah ranjang kosong yang sudah dingin.Keningnya mengernyit.Arnold tidak ada di sana.Sarah segera bangun, rasa kantuknya langsung menguap. Semalam, setelah mandi, Arnold langsung tidur tanpa banyak bicara. Ia tidak menyentuhnya, tidak memperhatikannya seperti biasanya. Sarah berpikir mungkin pagi ini ia bisa bermanja-manja, memperbaiki keadaan yang terasa semakin renggang di antara mereka.Tapi suaminya malah menghilang.Tanpa membuang waktu, Sarah bangkit dari tempat tidur dan berjalan cepat menuju kamar mandi.“Hon?” panggilnya seraya mengetuk pintu.Tak ada jawaban.Dengan sedikit tergesa, Sarah memutar kenop pintu dan membukanya. Namun, yang ia temukan hanyalah ruangan kosong. Tak ada tanda-tanda Arnold di sana. Han
last updateLast Updated : 2025-03-03
Read more

Bab 23. Menyusul Ke Hotel

Langit masih gelap ketika Arnold terbangun dari tidurnya. Matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Ia mencoba memejamkan mata lagi, tapi percuma. Pikirannya terlalu penuh. Terlalu gelisah.Emily.Nama itu terus menggema di benaknya. Wanita itu tak membalas pesannya semalam, bahkan tak mencoba menghubunginya. Arnold tahu itu bukan kebiasaan Emily.Emily selalu menunggunya, selalu siap kapan pun ia datang. Tapi kali ini, sesuatu terasa berbeda.Arnold menghela napas panjang, lalu bangkit dari tempat tidur dengan hati-hati. Ia melirik ke samping, memastikan Sarah masih tertidur pulas.Ia tidak ingin membangunkannya.Bukan karena ia merasa bersalah, tapi karena ia tahu pasti Sarah akan komplain jika tahu dirinya menyusul Emily ke hotel. Dan saat ini, Arnold tidak ingin berdebat dengan siapa pun.Dengan gerakan cepat dan tenang, ia mengambil kunci mobilnya, mengenakan jaket, lalu keluar dari kamar.Langkahnya terdengar ringan di lantai marmer, namun hatinya terasa berat.
last updateLast Updated : 2025-03-03
Read more

Bab 24. Mesin Pencetak anak

Emily duduk di sofa dengan sikap waspada. Ia sengaja memilih duduk di sana, menjauh dari tempat tidur. Ia tidak ingin menciptakan situasi yang bisa berujung pada hal-hal yang tidak diinginkan.Sementara itu, Arnold menutup pintu dengan perlahan dan berjalan masuk. Tatapannya sulit diartikan, campuran antara sesuatu yang tak terucapkan dan emosi yang ia sembunyikan dengan baik.Hening menyelimuti ruangan sesaat.Emily melipat tangan di dadanya, menunggu Arnold berbicara lebih dulu.Pria itu menatapnya tajam sebelum akhirnya membuka suara."Kamu ingat statusmu, bukan?" tanyanya, nada suaranya tegas.Emily menatap Arnold lurus-lurus, lalu tersenyum miring. Senyum yang jelas bukan tanda kebahagiaan, melainkan kepahitan yang selama ini ia pendam."Tentu," jawabnya dengan nada ringan, tetapi ada kepedihan di baliknya. "Aku sangat mengingatnya."Arnold menunggu, tapi Emily masih diam.Hingga akhirnya, wanita itu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap suaminya dengan mata tajam."Me
last updateLast Updated : 2025-03-03
Read more

Bab 25. Cemburu Yang Tak Disadari

"Berhenti bicara omong kosong," ucap Arnold dengan nada yang lebih keras dari sebelumnya.Emily tetap duduk di tempatnya, tidak bereaksi sama sekali terhadap nada tinggi suaminya. Ia hanya menatap Arnold dengan ekspresi yang sulit ditebak.Arnold mengalihkan pandangannya, matanya menyapu sekeliling kamar, mencari sesuatu. Wine. Mungkin Emily mabuk, itulah alasan mengapa dia berbicara seenaknya pagi ini.Tapi, tidak ada botol wine, tidak ada gelas anggur. Kamar ini bersih, rapi, tanpa tanda-tanda Emily mengonsumsi alkohol.Kening Arnold berkerut. Kalau bukan karena mabuk, lalu apa yang membuat Emily berbicara seperti ini?Dengan kesal, Arnold bangkit dari sofa dan berjalan ke arah nakas di samping tempat tidur. Tangannya langsung mengambil handphone Emily yang tergeletak di sana.Emily mengangkat alis. "Apa yang kamu lakukan?"Arnold tidak menjawab, matanya sudah sibuk menelusuri layar ponsel itu.Ia menemukan sesuatu yang membuat dadanya terasa panas seketika.Ada banyak panggilan tak
last updateLast Updated : 2025-03-03
Read more

Bab 26. Emosi Yang Meledak

Arnold menatapnya tajam, tetapi dalam sekejap, sesuatu dalam dirinya seperti tersadar. Ia bisa merasakan tubuh Emily yang sedikit gemetar, wajahnya yang pucat, dan sorot matanya yang tidak lagi menunjukkan perlawanan—hanya ketakutan. Arnold mengembuskan napas kasar, lalu perlahan melepaskan genggamannya. Emily segera mendorong tubuh Arnold dengan sekuat tenaga hingga pria itu terdorong ke belakang. Dengan cepat, ia merapatkan jubah tidurnya, lalu bangkit dan mundur menjauh. "Keluar!" suara Emily bergetar, tapi tatapannya penuh dengan kebencian. Arnold masih duduk di tepi kasur, menatap Emily dengan mata yang sulit diartikan. Ada sesuatu dalam hatinya yang berkecamuk, tapi ia tidak tahu bagaimana mengendalikannya. Emily mengatupkan bibirnya erat. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Aku bilang keluar, Arnold!" kali ini suaranya lebih keras, nyaris berteriak. Tak pernah sebelumnya Emily bersikap seperti ini. Arnold mengepalkan tangannya, l
last updateLast Updated : 2025-03-04
Read more

Bab 27. Negosiasi?

Sarah mengetuk pintu kamar Emily dengan ragu. Dentingan halus itu terdengar begitu kontras dengan keheningan yang menyelimuti ruangan. Di dalam, Emily masih bersimpuh di lantai, punggungnya bersandar pada tempat tidur. Napasnya masih belum stabil, sisa isakan tadi masih terasa di dadanya. Saat ketukan kedua terdengar, Emily menghela napas dalam. Dengan berat hati, ia akhirnya bangkit. Langkahnya lambat saat menuju pintu, seakan ada beban tak kasat mata yang menariknya kembali ke tempatnya semula. Sesampainya di depan pintu, Emily tak langsung membukanya. Sama seperti saat Arnold datang sebelumnya, ia lebih dulu mengintip lewat lubang kecil. Di luar, berdiri seorang wanita dengan wajah penuh kehangatan yang sudah terlalu familiar baginya—Sarah. Namun, melihatnya saat ini justru membuat Emily semakin ragu. Haruskah ia membuka pintu? Jika tidak sekarang, Sarah pasti akan tetap mencarinya, bukan? Emily menggigit bibirnya, lalu cepat-cepat menghapus sisa air mata yang mungkin masih m
last updateLast Updated : 2025-03-05
Read more

Bab 28. Rencana Licik Sarah

Matahari menyengat ketika Emily dan Sarah melangkah berdampingan meninggalkan hotel. Tak seperti biasanya, tak ada ketegangan di antara mereka. Tidak ada sindiran tajam atau tatapan penuh perhitungan. Untuk pertama kalinya, mereka terlihat akur. Emily sendiri tidak tahu pasti bagaimana perasaannya. Ia lelah, itu sudah jelas. Namun, di balik kelelahan itu, ada sedikit harapan yang mulai tumbuh—harapan untuk terbebas dari Arnold, dari kehidupan yang semakin menyesakkan ini. Begitu tiba di rumah, Sarah membuka pintu lebih dulu dan memberi isyarat agar Emily masuk. Emily menurut, melangkah masuk tanpa banyak bicara. Rumah itu sunyi, seolah memberi mereka ruang untuk berbicara tanpa gangguan. Sarah menatap Emily sejenak sebelum berkata dengan nada meyakinkan, "Istirahatlah. Aku akan mengabarimu kalau uangnya sudah siap." Emily mendongak, menatap Sarah dengan mata lelah. Tidak ada pertanyaan, tidak ada keraguan. Hanya sebuah anggukan pelan yang ia berikan sebagai jawaban. Pikiran
last updateLast Updated : 2025-03-05
Read more

Bab 29. Terjebak Lagi

Langkah Emily tertahan di depan pintu. Jantungnya masih berdegup kencang. Arnold berdiri di ambang pintu kamar Sarah, wajahnya dingin seperti biasa, tapi ada sesuatu yang berbeda kali ini—auranya lebih gelap, lebih mengancam. Padahal, menurut Sarah, laki-laki itu seharusnya berada di luar kota. Dia tidak pernah pergi. Emily menahan napas, pikirannya berputar cepat. Apa ini semua jebakan? Atau Sarah yang telah melakukan kesalahan? Emily menoleh ke belakang, ke tempat Sarah berada. Matanya membelalak. Yang lebih mengejutkan dari kehadiran Arnold adalah kondisi Sarah. Wanita itu berdiri dengan tubuh sedikit goyah, rambutnya berantakan, dan sudut bibirnya pecah—berdarah. Matanya menyiratkan keterkejutan dan ketakutan yang jarang terlihat darinya. Emily merasakan tenggorokannya mengering. Ada apa ini? Pikiran itu berulang kali terngiang di benaknya. Hanya beberapa menit lalu, Sarah masih begitu tenang, begitu yakin dengan rencana mereka. Tapi sekarang? Ia terlihat seolah
last updateLast Updated : 2025-03-05
Read more

Bab 30. Kabur

Saat malam tiba, Emily keluar dari rumah melalui pintu belakang dengan mengendap-endap. Ia sudah memutuskan untuk meninggalkan Arnold dan semua hal tentangnya. Saat Arnold kembali untuk menemui Emily, ia dikejutkan oleh kenyataan bahwa istrinya telah menghilang. Di atas meja, ia menemukan surat kontrak pernikahan yang ditinggalkan begitu saja, beserta sepucuk surat yang ditulis langsung oleh Emily. > Dear Tuan Arnold yang terhormat, Maafkan aku yang tidak lagi bisa berada di sisimu. Saat kau membaca surat ini, mungkin aku sudah pergi jauh. Aku mohon, kasihanilah kedua orang tuaku. Lepaskan mereka, Tuan! Arnold meremas surat itu hingga remuk tak berbentuk. Matanya memerah menahan emosi yang meluap. Sarah, yang melihat suaminya dalam keadaan marah, segera mendekatinya. "Ada apa, Hon? Kenapa wajahmu seperti itu?" tanyanya dengan nada khawatir. Arnold tidak menjawab. Ia hanya berjalan ke balkon, menyalakan cerutunya, dan menarik napas dalam-dalam, membiarkan asap tembakau menari di
last updateLast Updated : 2025-03-05
Read more
PREV
123456
...
13
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status