Sarah mengetuk pintu kamar Emily dengan ragu. Dentingan halus itu terdengar begitu kontras dengan keheningan yang menyelimuti ruangan. Di dalam, Emily masih bersimpuh di lantai, punggungnya bersandar pada tempat tidur. Napasnya masih belum stabil, sisa isakan tadi masih terasa di dadanya. Saat ketukan kedua terdengar, Emily menghela napas dalam. Dengan berat hati, ia akhirnya bangkit. Langkahnya lambat saat menuju pintu, seakan ada beban tak kasat mata yang menariknya kembali ke tempatnya semula. Sesampainya di depan pintu, Emily tak langsung membukanya. Sama seperti saat Arnold datang sebelumnya, ia lebih dulu mengintip lewat lubang kecil. Di luar, berdiri seorang wanita dengan wajah penuh kehangatan yang sudah terlalu familiar baginya—Sarah. Namun, melihatnya saat ini justru membuat Emily semakin ragu. Haruskah ia membuka pintu? Jika tidak sekarang, Sarah pasti akan tetap mencarinya, bukan? Emily menggigit bibirnya, lalu cepat-cepat menghapus sisa air mata yang mungkin masih m
Matahari menyengat ketika Emily dan Sarah melangkah berdampingan meninggalkan hotel. Tak seperti biasanya, tak ada ketegangan di antara mereka. Tidak ada sindiran tajam atau tatapan penuh perhitungan. Untuk pertama kalinya, mereka terlihat akur. Emily sendiri tidak tahu pasti bagaimana perasaannya. Ia lelah, itu sudah jelas. Namun, di balik kelelahan itu, ada sedikit harapan yang mulai tumbuh—harapan untuk terbebas dari Arnold, dari kehidupan yang semakin menyesakkan ini. Begitu tiba di rumah, Sarah membuka pintu lebih dulu dan memberi isyarat agar Emily masuk. Emily menurut, melangkah masuk tanpa banyak bicara. Rumah itu sunyi, seolah memberi mereka ruang untuk berbicara tanpa gangguan. Sarah menatap Emily sejenak sebelum berkata dengan nada meyakinkan, "Istirahatlah. Aku akan mengabarimu kalau uangnya sudah siap." Emily mendongak, menatap Sarah dengan mata lelah. Tidak ada pertanyaan, tidak ada keraguan. Hanya sebuah anggukan pelan yang ia berikan sebagai jawaban. Pikiran
Langkah Emily tertahan di depan pintu. Jantungnya masih berdegup kencang. Arnold berdiri di ambang pintu kamar Sarah, wajahnya dingin seperti biasa, tapi ada sesuatu yang berbeda kali ini—auranya lebih gelap, lebih mengancam. Padahal, menurut Sarah, laki-laki itu seharusnya berada di luar kota. Dia tidak pernah pergi. Emily menahan napas, pikirannya berputar cepat. Apa ini semua jebakan? Atau Sarah yang telah melakukan kesalahan? Emily menoleh ke belakang, ke tempat Sarah berada. Matanya membelalak. Yang lebih mengejutkan dari kehadiran Arnold adalah kondisi Sarah. Wanita itu berdiri dengan tubuh sedikit goyah, rambutnya berantakan, dan sudut bibirnya pecah—berdarah. Matanya menyiratkan keterkejutan dan ketakutan yang jarang terlihat darinya. Emily merasakan tenggorokannya mengering. Ada apa ini? Pikiran itu berulang kali terngiang di benaknya. Hanya beberapa menit lalu, Sarah masih begitu tenang, begitu yakin dengan rencana mereka. Tapi sekarang? Ia terlihat seolah
Saat malam tiba, Emily keluar dari rumah melalui pintu belakang dengan mengendap-endap. Ia sudah memutuskan untuk meninggalkan Arnold dan semua hal tentangnya. Saat Arnold kembali untuk menemui Emily, ia dikejutkan oleh kenyataan bahwa istrinya telah menghilang. Di atas meja, ia menemukan surat kontrak pernikahan yang ditinggalkan begitu saja, beserta sepucuk surat yang ditulis langsung oleh Emily. > Dear Tuan Arnold yang terhormat, Maafkan aku yang tidak lagi bisa berada di sisimu. Saat kau membaca surat ini, mungkin aku sudah pergi jauh. Aku mohon, kasihanilah kedua orang tuaku. Lepaskan mereka, Tuan! Arnold meremas surat itu hingga remuk tak berbentuk. Matanya memerah menahan emosi yang meluap. Sarah, yang melihat suaminya dalam keadaan marah, segera mendekatinya. "Ada apa, Hon? Kenapa wajahmu seperti itu?" tanyanya dengan nada khawatir. Arnold tidak menjawab. Ia hanya berjalan ke balkon, menyalakan cerutunya, dan menarik napas dalam-dalam, membiarkan asap tembakau menari di
Setahun berlalu, waktu terasa begitu cepat. Emily, yang kini tak memiliki siapa pun lagi, akhirnya memberanikan diri untuk keluar dari persembunyiannya. Uang simpanannya telah habis. Mau tidak mau, ia harus mencari pekerjaan untuk menyambung hidup. Sebenarnya, Emily adalah salah satu lulusan terbaik di universitas tempat ia menimba ilmu. Namun, karena tidak membawa serta ijazahnya, ia hanya bisa mencari pekerjaan seadanya. "Aku harus segera mendapatkan pekerjaan!" gumamnya, sambil memindai satu per satu tulisan yang terpajang di depan pertokoan yang ia lalui. Biasanya, banyak lowongan kerja yang ditempelkan oleh agen pencari kerja di depan toko maupun halte bus. Namun, hingga setengah hari berjalan, Emily belum juga menemukan lowongan pekerjaan yang menerima calon pekerja tanpa ijazah. "Lelah sekali… istirahat sebentar!" ucapnya pelan saat melihat sebuah halte bus yang sepi. Emily duduk di bangku halte, membujurkan kakinya yang terasa penat. Hanya ditemani sebotol air mineral ya
Tuan Raymond memindai Emily dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu tersenyum. "Siapa namamu?" tanyanya sambil memilin-milin janggutnya yang panjang. "E-Emily, Tuan!" "Emily, nama yang cantik! Kau sudah tahu apa pekerjaanmu di sini?" Emily mengangguk mantap. "Oke, kau diterima! Dera, bawa Emily ke ruang kostum, pilihkan seragam yang ukurannya cocok untuknya!" "Baik, Tuan!" Dera lalu membawa Emily menuju ruang kostum, dan mereka berdua berganti pakaian di sana. "Perfect!" Dera tersenyum lebar melihat Emily yang tampak seperti seekor kelinci putih dengan kostum barunya. "Ayo kita turun!" Dera dan Emily bergabung bersama teman-teman yang lain. Mereka menunggu di ruangan dengan pencahayaan minim. Melihat Emily yang gugup, Dera memberinya suntikan semangat. "Tidak usah takut, Emily. Aku juga awalnya seperti kamu!" bisik Dera. Satu per satu rekan kerjanya dipanggil masuk, termasuk Dera. Hanya tersisa beberapa orang saja di ruang tunggu. Emily semakin gugup. Tangannya m
Arnold lantas berdiri dan berjongkok di hadapan Emily yang masih duduk bersimpuh. "Setahun kau pergi mulutmu semakin tajam, Emily!" Alih alih marah, Arnold malah tersenyum tipis. Dari posisinya sekarang, Arnold bisa melihat jelas keindahan tubuh Emily yang hanya dibungkus oleh baju ketat dan rok mini. Kaos berkerah sabrina yang dikenakannya membuat bagian lehernya yang putih bersih terpampang nyata, bagian dadanya pun terlihat menyembul. Arnold berkali kali menelan salivanya dengan bersusah payah, bayangan kemolekan tubuh istri keduanya kembali terlintas dalam benaknya. Wangi tubuhnya yang manis, lembutnya kulitnya, semuanya terasa nyata dan seakan baru saja dia menyentuhnya. "Apa kau tidak merindukan sentuhanku, Emily?" Arnold menurunkan tangannya mengusap bibir Emily dan turun hingga ke bagian dadanya, membuat Emily menegang untuk sesaat. "Untuk apa kau meninggalkan rumah kalau hanya untuk bekerja di tempat seperti ini? Aku bahkan bisa membayarmu seratus kali lipat!"
"Tidak, aku tidak mau!" Emily kembali menutupi bagian depan tubuhnya yang polos, puncak dadanya terasa perih saat bergesekan dengan telapak tangannya akibat perbuatan Arnold. "Jangan menguji kesabaranku Emily!" Arnold benar-benar dibuat murka. Dulu Emily selalu pasrah saat dia menyentuhnya. Namun, kini Emily muncul sebagai pembangkang, bagaimana Arnold tidak murka, terlebih saat ini hasratnya sudah menggebu-gebu. "Kau tidak bisa memaksaku lagi Arnold!" teriak Emily frustasi, kedua matanya sudah di genangi air mata. "Kenapa tidak bisa, aku masih menyimpan surat perjanjian yang kita tanda tangani, apa kau mau melihatnya?" tawarnya dengan wajah brengseknya yang menawan. Dalam keadaan bagaimanapun juga, ekspresi Arnold tidak pernah terlihat jelek, ya, itu adalah salah satu kelebihannya. Wajah tampan dan badan proporsional, hanya saja Arnold terkenal arogan dan kejam. "Surat kontrak itu sudah tidak berlaku, kau sudah melanggar perjanjian dengan menjebloskan ayahku ke dalam penj
Perkataan Arnold terpotong saat handphone Emily berdering. "Tunggu sebentar." Emily beranjak dari duduknya dan mengangkat telponnya. 'Ya, Alex.' Mendengar nama Alex, selera makan Arnold mendadak hilang. Namun demi menghargai Emily yang sudah memasak untuknya, Arnold pun menghabiskan makanannya. Setelah makannya selesai, Arnold bergegas keluar dan mencoba menghidupi mobil Emily. "Bisa?" Entah kapan Emily berdiri di samping pintu. "Tidak mau menyala sama sekali. Kemungkinan besar akinya." Arnold kembali menatap jam di pergelangan tangannya. "Bengkel sudah tutup, besok baru bisa memanggil mereka kesini." Arnold keluar dari mobil dan memberikan kuncinya kembali kepada Emily. "Mau aku antarkan pulang?" Pertanyaan klasik yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan. "Tapi aku takut ada yang marah," sindir Arnold. Mendengar mantan suaminya tampak seperti sedang cemburu, membuat Emily tersenyum simpul. "Aku bebas, tidak ada yang marah!" Seulas senyum terbit di bibir Arn
"Arnold!" Arnold menatapnya dengan tatapan penuh damba. Mantan suaminya terlihat lebih berisi, menandakan dia bahagia saat mereka sudah berpisah, bukankah begitu? "Emily." Arnold berdiri dan mengulurkan tangannya. Sempat bingung, Emily tidak langsung menerima uluran tangan Arnold. Arnold pun menarik kembali tangannya. "Apa kabar? Kau semakin cantik," pujinya. Netranya masih menatap lekat wajah Emily yang semakin cantik. Bercerai darinya ternyata membuat Emily benar-benar bahagia. "Baik, bagaimana kabarmu?" tanya Emily balik. "Seperti yang kau lihat." Setelahnya keduanya tampak canggung karena pikiran jelek mencemari otak masing-masing. Terlebih Arnold, melihat Emily tampak dekat dengan laki-laki yang bernama Alex, membuatnya cemburu tapi apa dia berhak untuk cemburu? Bukankah tadi dia sendiri yang bilang bahwa Emily berhak untuk bahagia. "Silahkan makan, aku kebelakang dulu." Emily tersenyum sebelum berlalu, jantungnya mendadak berdebar kala Arnold balas terseny
Emily menangis tersedu, meratapi kerasnya hatinya selama ini. Nyata benar adanya, setelah kehilangan, barulah ia merasakan bahwa cinta itu masih ada. Hanya saja, selama ini tertutup oleh kebencian. "Emily, tenang dulu, Sayang." Nyonya Ruby mengusap puncak kepalanya dan mengecupnya dengan penuh kasih sayang. "Biarkan Emily menumpahkan kegundahan hatinya, Ma. Biar dia lega," ucap Papa William. Nyonya Ruby mengangguk dan membiarkan Emily menjadikan pundaknya sebagai tempat bersandar. Setelah tangisannya reda, Emily menarik napas dalam-dalam berulang kali, berusaha menenangkan diri. Ia meraup oksigen sebanyak-banyaknya agar detak jantungnya kembali stabil. "Ma, maafkan Emily. Emily terbawa perasaan." "Tidak apa-apa, Sayang. Mama mengerti." Emily memejamkan matanya sesaat sebelum meraih pulpen yang ditinggalkan Arnold. Dengan hati yang mantap, ia menandatangani dokumen itu. "Arnold ingin kamu tetap tinggal di sini. Di luar kurang aman, Sayang." Emily menggeleng. "Tidak bisa, Ma. K
Melihat Emily berhenti, Nyonya Ruby ikut berhenti dan saat menyadari sayup terdengar suara Arnold, Nyonya Ruby langsung mengalihkan perhatian Emily. "Sebelum pulang apa ada yang mau Emily beli? Misalnya makanan atau apa?" Fokus Emily terpecah dan Arnold juga sudah tidak berbicara. Emily menggeleng, "Ma, apa Arnold belum datang? Maksud Emily apa dia tidak ke sini?" Emily akhirnya kembali bertanya. "Arnold belum menghubungi Mama sejak tadi, Nak. Nanti Mama telpon dia." "Jangan, Ma. Tidak usah, mungkin dia sedang sibuk." Emily kembali melanjutkan langkah kakinya menuju lift. Dia membuang jauh pikiran buruknya, 'tidak mungkin Arnold sedang dirawat, dia pasti sedang sibuk,' batinnya. Sesampainya di kediaman Nyonya Ruby. Emily dibawa ke kamar yang sudah di siapkan oleh Nyonya Ruby. Kamar yang seharusnya di tempati oleh Emily dan Arnold. Tapi karena Arnold tadi malam mengisyaratkan perpisahan dengan alasan yang cukup masuk akal, Nyonya Ruby akhirnya pasrah, setidaknya sampai d
Arnold terhuyung, namun tidak jatuh. Matanya tetap menyala penuh kemarahan. "Kau... akan menyesal..." geramnya sambil menahan sakit. Dengan sekuat tenaga, Arnold berbalik dan menghantam preman itu dengan siku hingga tersungkur. Robert melayangkan pukulan telaknya hingga membuat penjahat itu terkapar. Sirene polisi terdengar di kejauhan, setelah memastikan penjahatnya sudah aman di tangan polisi. Robert kembali berlari ke dalam dan mendapati Arnold terduduk sambil memegangi pinggangnya yang berlumuran darah. "Kita harus bertahan sedikit lagi," ujar Robert dengan napas memburu. "Emily, tolong buka ikatannya," pinta Arnold lirih. Robert mengambil pisau yang ada di meja kasir dan memotong ikatan tangan dan kaki Emily. Arnold mencoba berdiri sambil menahan perih. Dia hendak mengangkat Emily namun Robert menahan tangannya. "Biar saya saja, Tuan." Arnold menepis tangan Robert. "Jangan sentuh istriku, aku masih sanggup mengangkatnya!" Beberapa anggota kepolisian masuk dan membo
Guntur bersahutan disertai kilat yang menyambar di langit malam Kota London. Arnold baru saja sampai di hotel ketika hujan lebat mengguyur. "Kenapa perasaanku tidak enak?" gumamnya sambil melepas jas yang basah terkena rintik hujan. Arnold memikirkan Emily, istrinya. Bagaimana dia pulang kalau hujan lebat seperti ini? Biasanya, sepulang kerja, Arnold menunggu Emily hingga rumah makannya tutup dan Emily kembali ke apartemennya yang memang tidak begitu jauh. "Robert, antar aku ke rumah makan Emily. Perasaanku mendadak tidak tenang, aku takut Emily tidak bisa pulang!" Robert menoleh sebentar sebelum mengangguk. "Baik, Tuan." Dia kembali menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya menuju rumah makan. "Kalau masih cinta, sebaiknya dipikir-pikir lagi, Tuan. Nanti menyesal kalau sudah bercerai," kata Robert sambil tetap fokus mengemudi. Arnold tersenyum tipis. "Justru karena cinta makanya aku menceraikannya. Emily menginginkan perceraian itu. Bukankah cinta tidak harus memil
Berikut adalah perbaikan teks sesuai dengani "Baik, Tuan!" Robert pasrah dengan keputusan yang dibuat oleh Arnold. Robert percaya bahwa apa pun yang diputuskan oleh Arnold pasti sudah dipikirkan dengan matang oleh sang bos. "Belajar melepaskannya, walaupun berat. Aku percaya, kalau memang dia jodohku, kami pasti akan bersama lagi." "Yang Tuan katakan benar. Siapa tahu, saat status kalian berubah, cinta itu justru hadir di hati Nyonya." "Semoga saja. Sekarang antarkan aku ke rumah. Aku harus mengambil surat pernikahan kami dan surat perjanjian kontrak. Aku akan memberikan semua haknya sebagai istriku." --- Sementara itu, di rumah makannya, setelah puas menumpahkan kesedihannya, Emily akhirnya keluar dari ruang penyimpanan. Emily duduk di belakang meja kasir sambil mengecek stok bahan yang masih tersedia. Ia mencoba untuk acuh, tetapi perkataan Robert tadi siang cukup membuat mood-nya berantakan. Bukankah Emily tidak bersalah? Arnold yang bersalah. Seharusnya dia yan
"Laki-laki yang tadi mengejar Nona." "Buang saja!" Emily keluar dari ruang penyimpanan dan mengintip dari balik tirai pembatas. Sepi, tidak ada lagi orang di luar. "Tuan itu bilang Nona harus membacanya, kalau tidak, dia akan mengirimkan surat ini setiap hari." Emily menggertakkan giginya saking kesal. Diambilnya surat yang dipegang oleh kasir rumah makannya. Emily kembali duduk di meja kasir dan membacanya. "Saat kau membaca surat ini, aku sudah pergi meninggalkan istriku yang cantik. Sayang, terima kasih makan siangnya. Hari ini adalah hari ulang tahunku, makan masakanmu adalah kado terindah di hari spesial ini. Aku mencintaimu, Nyonya Arnold Edgar." "Cih, gombalan tidak bermutu. Aku pikir dia akan bilang tidak akan lagi menggangguku." Emily meremas surat yang Arnold tulis dan melemparkannya ke bak sampah. "Kita tutup lebih cepat hari ini. Mood-ku sedang jelek." Kelima karyawannya saling bertatap, baru kali ini bos mereka bersikap aneh. Setelah menutup rumah makannya, Emi
"Apa maksudmu?" Arlen menatap Jovanka dengan tatapan jijik. Wanita ini ada di mana mana, kemarin dia mendatangi Arlen ke SBC, hari ini dia ke rumah Emily. "Aku dan kamu punya keinginan yang sama, tidak salahnya kita bekerja sama bukan?" "Kau bekerja saja sendiri, aku tidak sudi bekerja sama dengan wanita licik sepertimu!" Arlen berlalu meninggalkan Jovanka. Jovanka yang membutuhkan bantuan Arlen lantas menarik tangannya dan mencoba merayunya kembali. "Aku mohon, aku tidak punya cukup uang untuk menjalankan aksiku. Aku butuh bantuanmu untuk memisahkan Arnold dan Emily. Tidak gratis, aku akan membayarnya dengan tubuhku!" Ucapan Jovanka justru menyulut emosi Arlen. Dirinya semakin murka, bagaimana bisa dia jatuh cinta pada wanita murahan ini hingga membuat Emily menjauh darinya. "Dasar tidak tahu malu, kamu tidak punya harga diri. Jangankan harus membayar, diberi gratis pun aku tidak mau,dasar menjijikkan!" Arlen menghempaskan tangannya hingga Jovanka hampir terjatuh, un