Hingga pagi, Arnold baru melepaskan Emily yang hampir saja pingsan karena dipaksa melayani Arnold semalaman suntuk. Sementara itu di rumah, Sarah juga tidak bisa tidur karena Arnold tidak pulang, dia mencoba menghubungi handphone Arnold namun tidak aktif. "Ke mana dia, tidak biasanya dia pergi tanpa kabar seperti ini. Jangan-jangan dugaanku selama ini benar, Arnold berselingkuh di belakangku!" Sarah akhirnya menghubungi Stella, sekretaris Arnold di tengah malam hanya untuk menanyakan apakah suaminya ada di sana, Stella bahkan ikut dituduh oleh Sarah mempunyai hubungan dengan Arnold. "Lama sekali, angkat Stella" geramnya kesal karena dia sudah dua kali menghubungi Stella namun tidak diangkat. 'Halo!' 'Stella, ini Sarah! Kau ada di mana?' 'Nyonya Sarah! Stella ada di rumah, ada apa Nyonya?' 'Apa suamiku ada di sana?' 'Tidak ada Nyonya, Tuan sudah pualng pukul sembilan tadi setelah kami selesai bertemu dengan klien!' 'Kau yakin? Kenapa dia belum juga pulang
X Club, Emily sudah tampil cantik dengan seragam mini ladies companion berlambangkan X di bagian punggungnya. Sambil menunggu panggilan, Emily dan Dera mengobrol santai. "Kemarin malam aku tidak melihatmu lagi setelah aku keluar dari ruangan ini, kemana kau Emily?" "I-itu, aku menemani pelanggan minum hingga pagi!" Emily tidak berani menceritakan yang sesungguhnya kepada Dera tentang insiden tadi malam. Seandainya dia tahu bahwa Emily semalaman di kerjai oleh tamunya, entah apa yang akan Dera katakan tentangnya. "Aku juga pernah begitu Emily, untungnya orang tersebut memberikan-ku uang tip yang banyak. Bagaimana denganmu? Apa pelanggan-mu juga memberi uang tip?" tanyanya sambil tertawa lebar. Emily menggeleng pelan, alih alih memberi tip, Arnold justru menidurinya sampai pagi, malang sekali nasib Emily. "Emily!" Namanya dipanggil, itu artinya Emily harus segera keluar dan melaksanakan tugasnya. "VIP 05, dia sudah membayar mahal untuk minta kau temani minum. J
Senyum kemenangan merekah di wajah Sarah. "Sekarang kau percaya padaku, kan, Arnold?" Arnold semakin gelap mata. Dengan amarah yang meluap, ia meraih gelas wine dari meja dan menyiramkannya ke tubuh Emily. Emily menggigil. Ia memeluk lututnya, menahan sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya. Tangannya gemetar, dadanya naik turun dengan napas yang tersengal. "Ternyata begini kelakuanmu, hah?! Dasar wanita licik! Aku tidak menyangka kau bisa berbuat seperti ini!" bentak Arnold, suaranya bergetar oleh kemarahan. Ia merasa tertipu mentah-mentah. Wanita yang selama ini membuatnya candu ternyata tak lebih dari seorang perempuan murahan. Matanya membara saat membayangkan tubuh Emily disentuh oleh banyak lelaki lain. Rasa jijik dan muak bercampur menjadi satu. Emily, yang masih dikuasai efek obat perangsang, tak mampu melakukan apa pun selain menahan rasa sakit yang merayapi tubuhnya. Segala sesuatu terasa kabur, kepalanya pusing, dan ia kesulitan memahami apa yang sebenarnya terj
"Dasar wanita licik! Lihat apa yang sudah kau perbuat! Salah satu pelanggan tetapku tidak mau lagi ke sini! Sekarang pergilah dan jangan pernah kembali lagi!" Emily menunduk dalam. Baru saja ia mendapatkan pekerjaan, kini ia harus kembali menganggur. "Sarah, Arnold! Aku akan membalas kesakitan yang aku rasakan!" geramnya dalam hati. Dengan tubuh basah kuyup, Emily melangkah keluar dari X Club. Ia berjalan pelan menyusuri trotoar, menuju tempat tinggalnya yang kecil. Sepanjang jalan, pikirannya dipenuhi penyesalan dan amarah. Mencintai Arnold adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Bermasalah dengan Arnold William adalah sesuatu yang harus dihindarinya di masa depan. Namun setidaknya, Arnold tadi mengatakan akan menceraikannya. Itu berarti Emily akan segera terbebas dari lubang neraka yang diciptakan oleh Arnold dan Sarah. Begitu tiba di tempat tinggalnya, Emily langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur tipisnya, setelah terlebih dahulu melepas pakaian basahnya. Menatap lang
Emily hanya diam membisu. Berbagai kejadian menyakitkan kembali melintas di benaknya. Satu per satu memori kelam berputar di otaknya, seperti kaset lama yang diputar ulang. Tawa Arnold dan Sarah saat mengejeknya, hinaan dan bentakan yang menyayat hati, serta perlakuan kasar yang ia terima selama berada di rumah Arnold, semua itu menghantam pikirannya tanpa ampun. Emily menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan emosi, tapi air matanya tetap jatuh tanpa bisa ia cegah. "Emily, Sayang!" Panggilan lembut Nyonya Ruby seketika membuyarkan lamunannya. "Kau tidak ingin bercerita?" Emily menunduk dalam, buru-buru menyeka sudut matanya yang basah dengan ujung jarinya. "Baiklah, Nak. Mama tidak akan memaksamu. Sekarang temani Mama berbelanja, bagaimana?" Sebenarnya, Emily tidak terlalu bersemangat. Namun, Nyonya Ruby yang pemaksa langsung menarik tangannya dan membawanya berkeliling mal. Di sepanjang perjalanan, Nyonya Ruby membelikan Emily gaun pesta yang sangat cantik, lengkap
Di sana, Nyonya Ruby muncul, berjalan anggun menuruni tangga. Gaun mewah berwarna biru safir membalut tubuhnya dengan sempurna. Aura kebangsawanannya begitu terpancar, membuat semua orang menahan napas. Di bawah tangga, Tuan William bergegas menyambutnya. Ia berdiri di anak tangga terakhir, menunggu istrinya dengan senyum bangga. Kehadiran Nyonya Ruby yang tampak memukau bukan satu-satunya alasan semua orang menatap ke arahnya tanpa berkedip. Ada sosok wanita cantik yang berjalan di sisinya, memegangi tangannya dengan anggun. Tatapan para tamu undangan berubah menjadi kekaguman. "Emily!" gumam Arnold tanpa sadar. Mata Sarah langsung memerah. Bagaimana bisa Emily mendampingi Nyonya Ruby? Bahkan, wanita itu mengenakan gaun limited edition yang sangat diinginkannya, tetapi keburu sold out! Seharusnya aku yang ada di samping ibu mertuaku! geramnya sambil meremas dress mahalnya dengan kesal. Penampilan Sarah malam ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Emily. Arn
Sarah menghempaskan tangannya dengan kasar, tetapi cengkeraman di pergelangan tangannya justru semakin erat. "Lepaskan!" teriaknya marah. Dengan napas memburu, Sarah menoleh ke samping. Begitu melihat siapa yang menggenggam pergelangan tangannya, matanya langsung membulat kaget. Arnold. Suaminya sendiri! "Honey, apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya dengan wajah bingung. "Ini toilet perempuan!" Arnold tetap menatapnya tajam, tanpa sedikit pun melepas genggamannya. "Kau pergi terlalu lama, jadi aku menyusulmu." Nada suaranya terdengar datar, tetapi ada ketegangan tersirat di dalamnya. Sebenarnya, bukan itu alasannya. Arnold tahu Sarah sengaja ke kamar mandi untuk mengikuti Emily. Karena itulah dia datang. Sarah mendengus, kemudian menatap Arnold dengan sorot mata memohon. "Lepaskan, Arnold! Istri keduamu ini menyakitiku! Aku harus membalasnya!" Sarah kembali berontak. Kali ini, pegangan Arnold sedikit melemah, hingga akhirnya terlepas. Dengan cepat,
Darah Sarah mendidih. Pasti ibu mertua sialan itu yang membelikannya. Sarah semakin kesal saat menyadari Arnold terus menerus mencuri pandang ke arah Emily. "Arnold, kau sudah tahu Emily ada di sini. Apa kau mau menginap di rumah Mama malam ini?" tanya Nyonya Ruby tiba-tiba. Mendengar pertanyaan itu, Sarah langsung tersentak. Jelas sekali ibu mertuanya ingin menyatukan kembali Arnold dan Emily. Bagaimana dengan aku? Apa dia akan menyuruhku pulang sendirian? Sarah harus mencari alasan agar Arnold tidak menginap di rumah ibunya bersama Emily. Dia segera membisikkan sesuatu di telinga suaminya. "Honey, bagaimana kalau kita kembali ke rumah?" Arnold menoleh sekilas. "Pestanya belum selesai, honey. Lagipula Mama meminta kita menginap. Bagaimana kalau kita menginap saja?" Tidak! Sarah menekan pikirannya yang berkecamuk. Dia tidak bisa membiarkan itu terjadi. Wajahnya mendadak berubah sendu. "Tapi aku tidak enak badan, kepalaku sakit setelah Emily menamparku tadi.
"Maafkan aku, tapi jangan memintaku untuk tidak menemuimu selama itu, aku tidak akan sanggup." Seulas senyuman terbit di bibir mungil Emily. Diusapnya rahang kokoh Arnold yang ditumbuhi bulu-bulu halus. "Aku tidak setega itu, tapi bisakah kau berjanji untuk tidak cemburu berlebihan? Cemburumu itu membuatku seperti seseorang yang tidak bisa dipercaya." "Susah!" Arnold menyandarkan kepalanya di pundak Emily, hidung mancungnya bahkan menempel di ceruk leher Emily. Mendekapnya seperti ini rasanya masih seperti mimpi, Arnold benar-benar tidak menyangka. Dan Emily memintanya untuk tidak menemuinya selama tiga hari, bukankah ini hukuman yang berat? "Jalani saja, nanti juga terbiasa. Kau tahu kenapa aku ingin suami yang sabar?" "Kenapa?" "Karena aku ingin bermanja-manja tanpa takut dimarahi." Arnold mengangkat wajahnya dan menatap manik mata bening milik kekasih hatinya. "Apa aku pemarah?" "Ya, kau dulu pemarah," jawabnya pelan. "Sekarang tidak lagi, percaya padaku!" Arnold mendekat
Arnold menggeleng. "Aku tidak akan membiarkan itu semua terjadi." "Deal!" Emily menyodorkan jari kelingkingnya dan disambut oleh Arnold dengan mengaitkan jari kelingkingnya. "Deal! Mulai malam ini, kau kekasihku!" Arnold memasangkan cincin di jari manis Emily dan mengecupnya singkat. "Aku akan memantaskan diriku agar bisa menjadi suami yang baik untukmu." Keduanya saling menatap penuh cinta, memulai hubungan yang baru tanpa dibayangi gelapnya masa lalu. "Apa boleh aku menciummu?" Emily menggeleng. "Belum satu jam kita berpacaran, kau sudah ingin menciumku? Tahan dulu!" Emily membalikkan tubuh Arnold dan mendorongnya menuju mobilnya. "Pulanglah, sudah malam!" usirnya. Arnold mendadak berhenti. Ia teringat sesuatu dan berbalik. "Berikan nomor handphone-mu. Masa aku tidak punya nomor kekasihku?" Disodorkannya handphone kepada Emily. "Aku lupa." Emily meraih handphone Arnold dan memasukkan nomor barunya. "Sudah." "Ya sudah, kamu masuk dulu, baru aku akan pergi." Emily melamb
Perkataan Arnold terpotong saat handphone Emily berdering. "Tunggu sebentar." Emily beranjak dari duduknya dan mengangkat telponnya. 'Ya, Alex.' Mendengar nama Alex, selera makan Arnold mendadak hilang. Namun demi menghargai Emily yang sudah memasak untuknya, Arnold pun menghabiskan makanannya. Setelah makannya selesai, Arnold bergegas keluar dan mencoba menghidupi mobil Emily. "Bisa?" Entah kapan Emily berdiri di samping pintu. "Tidak mau menyala sama sekali. Kemungkinan besar akinya." Arnold kembali menatap jam di pergelangan tangannya. "Bengkel sudah tutup, besok baru bisa memanggil mereka kesini." Arnold keluar dari mobil dan memberikan kuncinya kembali kepada Emily. "Mau aku antarkan pulang?" Pertanyaan klasik yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan. "Tapi aku takut ada yang marah," sindir Arnold. Mendengar mantan suaminya tampak seperti sedang cemburu, membuat Emily tersenyum simpul. "Aku bebas, tidak ada yang marah!" Seulas senyum terbit di bibir Arn
"Arnold!" Arnold menatapnya dengan tatapan penuh damba. Mantan suaminya terlihat lebih berisi, menandakan dia bahagia saat mereka sudah berpisah, bukankah begitu? "Emily." Arnold berdiri dan mengulurkan tangannya. Sempat bingung, Emily tidak langsung menerima uluran tangan Arnold. Arnold pun menarik kembali tangannya. "Apa kabar? Kau semakin cantik," pujinya. Netranya masih menatap lekat wajah Emily yang semakin cantik. Bercerai darinya ternyata membuat Emily benar-benar bahagia. "Baik, bagaimana kabarmu?" tanya Emily balik. "Seperti yang kau lihat." Setelahnya keduanya tampak canggung karena pikiran jelek mencemari otak masing-masing. Terlebih Arnold, melihat Emily tampak dekat dengan laki-laki yang bernama Alex, membuatnya cemburu tapi apa dia berhak untuk cemburu? Bukankah tadi dia sendiri yang bilang bahwa Emily berhak untuk bahagia. "Silahkan makan, aku kebelakang dulu." Emily tersenyum sebelum berlalu, jantungnya mendadak berdebar kala Arnold balas terseny
Emily menangis tersedu, meratapi kerasnya hatinya selama ini. Nyata benar adanya, setelah kehilangan, barulah ia merasakan bahwa cinta itu masih ada. Hanya saja, selama ini tertutup oleh kebencian. "Emily, tenang dulu, Sayang." Nyonya Ruby mengusap puncak kepalanya dan mengecupnya dengan penuh kasih sayang. "Biarkan Emily menumpahkan kegundahan hatinya, Ma. Biar dia lega," ucap Papa William. Nyonya Ruby mengangguk dan membiarkan Emily menjadikan pundaknya sebagai tempat bersandar. Setelah tangisannya reda, Emily menarik napas dalam-dalam berulang kali, berusaha menenangkan diri. Ia meraup oksigen sebanyak-banyaknya agar detak jantungnya kembali stabil. "Ma, maafkan Emily. Emily terbawa perasaan." "Tidak apa-apa, Sayang. Mama mengerti." Emily memejamkan matanya sesaat sebelum meraih pulpen yang ditinggalkan Arnold. Dengan hati yang mantap, ia menandatangani dokumen itu. "Arnold ingin kamu tetap tinggal di sini. Di luar kurang aman, Sayang." Emily menggeleng. "Tidak bisa, Ma. K
Melihat Emily berhenti, Nyonya Ruby ikut berhenti dan saat menyadari sayup terdengar suara Arnold, Nyonya Ruby langsung mengalihkan perhatian Emily. "Sebelum pulang apa ada yang mau Emily beli? Misalnya makanan atau apa?" Fokus Emily terpecah dan Arnold juga sudah tidak berbicara. Emily menggeleng, "Ma, apa Arnold belum datang? Maksud Emily apa dia tidak ke sini?" Emily akhirnya kembali bertanya. "Arnold belum menghubungi Mama sejak tadi, Nak. Nanti Mama telpon dia." "Jangan, Ma. Tidak usah, mungkin dia sedang sibuk." Emily kembali melanjutkan langkah kakinya menuju lift. Dia membuang jauh pikiran buruknya, 'tidak mungkin Arnold sedang dirawat, dia pasti sedang sibuk,' batinnya. Sesampainya di kediaman Nyonya Ruby. Emily dibawa ke kamar yang sudah di siapkan oleh Nyonya Ruby. Kamar yang seharusnya di tempati oleh Emily dan Arnold. Tapi karena Arnold tadi malam mengisyaratkan perpisahan dengan alasan yang cukup masuk akal, Nyonya Ruby akhirnya pasrah, setidaknya sampai d
Arnold terhuyung, namun tidak jatuh. Matanya tetap menyala penuh kemarahan. "Kau... akan menyesal..." geramnya sambil menahan sakit. Dengan sekuat tenaga, Arnold berbalik dan menghantam preman itu dengan siku hingga tersungkur. Robert melayangkan pukulan telaknya hingga membuat penjahat itu terkapar. Sirene polisi terdengar di kejauhan, setelah memastikan penjahatnya sudah aman di tangan polisi. Robert kembali berlari ke dalam dan mendapati Arnold terduduk sambil memegangi pinggangnya yang berlumuran darah. "Kita harus bertahan sedikit lagi," ujar Robert dengan napas memburu. "Emily, tolong buka ikatannya," pinta Arnold lirih. Robert mengambil pisau yang ada di meja kasir dan memotong ikatan tangan dan kaki Emily. Arnold mencoba berdiri sambil menahan perih. Dia hendak mengangkat Emily namun Robert menahan tangannya. "Biar saya saja, Tuan." Arnold menepis tangan Robert. "Jangan sentuh istriku, aku masih sanggup mengangkatnya!" Beberapa anggota kepolisian masuk dan membo
Guntur bersahutan disertai kilat yang menyambar di langit malam Kota London. Arnold baru saja sampai di hotel ketika hujan lebat mengguyur. "Kenapa perasaanku tidak enak?" gumamnya sambil melepas jas yang basah terkena rintik hujan. Arnold memikirkan Emily, istrinya. Bagaimana dia pulang kalau hujan lebat seperti ini? Biasanya, sepulang kerja, Arnold menunggu Emily hingga rumah makannya tutup dan Emily kembali ke apartemennya yang memang tidak begitu jauh. "Robert, antar aku ke rumah makan Emily. Perasaanku mendadak tidak tenang, aku takut Emily tidak bisa pulang!" Robert menoleh sebentar sebelum mengangguk. "Baik, Tuan." Dia kembali menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya menuju rumah makan. "Kalau masih cinta, sebaiknya dipikir-pikir lagi, Tuan. Nanti menyesal kalau sudah bercerai," kata Robert sambil tetap fokus mengemudi. Arnold tersenyum tipis. "Justru karena cinta makanya aku menceraikannya. Emily menginginkan perceraian itu. Bukankah cinta tidak harus memil
Berikut adalah perbaikan teks sesuai dengani "Baik, Tuan!" Robert pasrah dengan keputusan yang dibuat oleh Arnold. Robert percaya bahwa apa pun yang diputuskan oleh Arnold pasti sudah dipikirkan dengan matang oleh sang bos. "Belajar melepaskannya, walaupun berat. Aku percaya, kalau memang dia jodohku, kami pasti akan bersama lagi." "Yang Tuan katakan benar. Siapa tahu, saat status kalian berubah, cinta itu justru hadir di hati Nyonya." "Semoga saja. Sekarang antarkan aku ke rumah. Aku harus mengambil surat pernikahan kami dan surat perjanjian kontrak. Aku akan memberikan semua haknya sebagai istriku." --- Sementara itu, di rumah makannya, setelah puas menumpahkan kesedihannya, Emily akhirnya keluar dari ruang penyimpanan. Emily duduk di belakang meja kasir sambil mengecek stok bahan yang masih tersedia. Ia mencoba untuk acuh, tetapi perkataan Robert tadi siang cukup membuat mood-nya berantakan. Bukankah Emily tidak bersalah? Arnold yang bersalah. Seharusnya dia yan