Share

Bab 22. Menghilang

Penulis: Silvania
last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-03 23:22:07

Cahaya pagi yang lembut menyelinap masuk melalui celah-celah tirai kamar, menerpa wajah Sarah yang masih terlelap. Ia menggeliat pelan, matanya mulai terbuka dengan kantuk yang masih tersisa.

Namun, saat ia mengulurkan tangan ke sisi tempat tidur, yang ia temukan hanyalah ranjang kosong yang sudah dingin.

Keningnya mengernyit.

Arnold tidak ada di sana.

Sarah segera bangun, rasa kantuknya langsung menguap. Semalam, setelah mandi, Arnold langsung tidur tanpa banyak bicara. Ia tidak menyentuhnya, tidak memperhatikannya seperti biasanya. Sarah berpikir mungkin pagi ini ia bisa bermanja-manja, memperbaiki keadaan yang terasa semakin renggang di antara mereka.

Tapi suaminya malah menghilang.

Tanpa membuang waktu, Sarah bangkit dari tempat tidur dan berjalan cepat menuju kamar mandi.

“Hon?” panggilnya seraya mengetuk pintu.

Tak ada jawaban.

Dengan sedikit tergesa, Sarah memutar kenop pintu dan membukanya. Namun, yang ia temukan hanyalah ruangan kosong. Tak ada tanda-tanda Arnold di sana. Han
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Sebatas Rahim Sewaan Tuan CEO   Bab 23. Menyusul Ke Hotel

    Langit masih gelap ketika Arnold terbangun dari tidurnya. Matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Ia mencoba memejamkan mata lagi, tapi percuma. Pikirannya terlalu penuh. Terlalu gelisah.Emily.Nama itu terus menggema di benaknya. Wanita itu tak membalas pesannya semalam, bahkan tak mencoba menghubunginya. Arnold tahu itu bukan kebiasaan Emily.Emily selalu menunggunya, selalu siap kapan pun ia datang. Tapi kali ini, sesuatu terasa berbeda.Arnold menghela napas panjang, lalu bangkit dari tempat tidur dengan hati-hati. Ia melirik ke samping, memastikan Sarah masih tertidur pulas.Ia tidak ingin membangunkannya.Bukan karena ia merasa bersalah, tapi karena ia tahu pasti Sarah akan komplain jika tahu dirinya menyusul Emily ke hotel. Dan saat ini, Arnold tidak ingin berdebat dengan siapa pun.Dengan gerakan cepat dan tenang, ia mengambil kunci mobilnya, mengenakan jaket, lalu keluar dari kamar.Langkahnya terdengar ringan di lantai marmer, namun hatinya terasa berat.

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-03
  • Sebatas Rahim Sewaan Tuan CEO   Bab 24. Mesin Pencetak anak

    Emily duduk di sofa dengan sikap waspada. Ia sengaja memilih duduk di sana, menjauh dari tempat tidur. Ia tidak ingin menciptakan situasi yang bisa berujung pada hal-hal yang tidak diinginkan.Sementara itu, Arnold menutup pintu dengan perlahan dan berjalan masuk. Tatapannya sulit diartikan, campuran antara sesuatu yang tak terucapkan dan emosi yang ia sembunyikan dengan baik.Hening menyelimuti ruangan sesaat.Emily melipat tangan di dadanya, menunggu Arnold berbicara lebih dulu.Pria itu menatapnya tajam sebelum akhirnya membuka suara."Kamu ingat statusmu, bukan?" tanyanya, nada suaranya tegas.Emily menatap Arnold lurus-lurus, lalu tersenyum miring. Senyum yang jelas bukan tanda kebahagiaan, melainkan kepahitan yang selama ini ia pendam."Tentu," jawabnya dengan nada ringan, tetapi ada kepedihan di baliknya. "Aku sangat mengingatnya."Arnold menunggu, tapi Emily masih diam.Hingga akhirnya, wanita itu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap suaminya dengan mata tajam."Me

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-03
  • Sebatas Rahim Sewaan Tuan CEO   Bab 25. Cemburu Yang Tak Disadari

    "Berhenti bicara omong kosong," ucap Arnold dengan nada yang lebih keras dari sebelumnya.Emily tetap duduk di tempatnya, tidak bereaksi sama sekali terhadap nada tinggi suaminya. Ia hanya menatap Arnold dengan ekspresi yang sulit ditebak.Arnold mengalihkan pandangannya, matanya menyapu sekeliling kamar, mencari sesuatu. Wine. Mungkin Emily mabuk, itulah alasan mengapa dia berbicara seenaknya pagi ini.Tapi, tidak ada botol wine, tidak ada gelas anggur. Kamar ini bersih, rapi, tanpa tanda-tanda Emily mengonsumsi alkohol.Kening Arnold berkerut. Kalau bukan karena mabuk, lalu apa yang membuat Emily berbicara seperti ini?Dengan kesal, Arnold bangkit dari sofa dan berjalan ke arah nakas di samping tempat tidur. Tangannya langsung mengambil handphone Emily yang tergeletak di sana.Emily mengangkat alis. "Apa yang kamu lakukan?"Arnold tidak menjawab, matanya sudah sibuk menelusuri layar ponsel itu.Ia menemukan sesuatu yang membuat dadanya terasa panas seketika.Ada banyak panggilan tak

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-03
  • Sebatas Rahim Sewaan Tuan CEO   Bab 26. Emosi Yang Meledak

    Arnold menatapnya tajam, tetapi dalam sekejap, sesuatu dalam dirinya seperti tersadar. Ia bisa merasakan tubuh Emily yang sedikit gemetar, wajahnya yang pucat, dan sorot matanya yang tidak lagi menunjukkan perlawanan—hanya ketakutan. Arnold mengembuskan napas kasar, lalu perlahan melepaskan genggamannya. Emily segera mendorong tubuh Arnold dengan sekuat tenaga hingga pria itu terdorong ke belakang. Dengan cepat, ia merapatkan jubah tidurnya, lalu bangkit dan mundur menjauh. "Keluar!" suara Emily bergetar, tapi tatapannya penuh dengan kebencian. Arnold masih duduk di tepi kasur, menatap Emily dengan mata yang sulit diartikan. Ada sesuatu dalam hatinya yang berkecamuk, tapi ia tidak tahu bagaimana mengendalikannya. Emily mengatupkan bibirnya erat. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Aku bilang keluar, Arnold!" kali ini suaranya lebih keras, nyaris berteriak. Tak pernah sebelumnya Emily bersikap seperti ini. Arnold mengepalkan tangannya, l

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-04
  • Sebatas Rahim Sewaan Tuan CEO   Bab 27. Negosiasi?

    Sarah mengetuk pintu kamar Emily dengan ragu. Dentingan halus itu terdengar begitu kontras dengan keheningan yang menyelimuti ruangan. Di dalam, Emily masih bersimpuh di lantai, punggungnya bersandar pada tempat tidur. Napasnya masih belum stabil, sisa isakan tadi masih terasa di dadanya. Saat ketukan kedua terdengar, Emily menghela napas dalam. Dengan berat hati, ia akhirnya bangkit. Langkahnya lambat saat menuju pintu, seakan ada beban tak kasat mata yang menariknya kembali ke tempatnya semula. Sesampainya di depan pintu, Emily tak langsung membukanya. Sama seperti saat Arnold datang sebelumnya, ia lebih dulu mengintip lewat lubang kecil. Di luar, berdiri seorang wanita dengan wajah penuh kehangatan yang sudah terlalu familiar baginya—Sarah. Namun, melihatnya saat ini justru membuat Emily semakin ragu. Haruskah ia membuka pintu? Jika tidak sekarang, Sarah pasti akan tetap mencarinya, bukan? Emily menggigit bibirnya, lalu cepat-cepat menghapus sisa air mata yang mungkin masih m

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-05
  • Sebatas Rahim Sewaan Tuan CEO   Bab 28. Rencana Licik Sarah

    Matahari menyengat ketika Emily dan Sarah melangkah berdampingan meninggalkan hotel. Tak seperti biasanya, tak ada ketegangan di antara mereka. Tidak ada sindiran tajam atau tatapan penuh perhitungan. Untuk pertama kalinya, mereka terlihat akur. Emily sendiri tidak tahu pasti bagaimana perasaannya. Ia lelah, itu sudah jelas. Namun, di balik kelelahan itu, ada sedikit harapan yang mulai tumbuh—harapan untuk terbebas dari Arnold, dari kehidupan yang semakin menyesakkan ini. Begitu tiba di rumah, Sarah membuka pintu lebih dulu dan memberi isyarat agar Emily masuk. Emily menurut, melangkah masuk tanpa banyak bicara. Rumah itu sunyi, seolah memberi mereka ruang untuk berbicara tanpa gangguan. Sarah menatap Emily sejenak sebelum berkata dengan nada meyakinkan, "Istirahatlah. Aku akan mengabarimu kalau uangnya sudah siap." Emily mendongak, menatap Sarah dengan mata lelah. Tidak ada pertanyaan, tidak ada keraguan. Hanya sebuah anggukan pelan yang ia berikan sebagai jawaban. Pikiran

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-05
  • Sebatas Rahim Sewaan Tuan CEO   Bab 29. Terjebak Lagi

    Langkah Emily tertahan di depan pintu. Jantungnya masih berdegup kencang. Arnold berdiri di ambang pintu kamar Sarah, wajahnya dingin seperti biasa, tapi ada sesuatu yang berbeda kali ini—auranya lebih gelap, lebih mengancam. Padahal, menurut Sarah, laki-laki itu seharusnya berada di luar kota. Dia tidak pernah pergi. Emily menahan napas, pikirannya berputar cepat. Apa ini semua jebakan? Atau Sarah yang telah melakukan kesalahan? Emily menoleh ke belakang, ke tempat Sarah berada. Matanya membelalak. Yang lebih mengejutkan dari kehadiran Arnold adalah kondisi Sarah. Wanita itu berdiri dengan tubuh sedikit goyah, rambutnya berantakan, dan sudut bibirnya pecah—berdarah. Matanya menyiratkan keterkejutan dan ketakutan yang jarang terlihat darinya. Emily merasakan tenggorokannya mengering. Ada apa ini? Pikiran itu berulang kali terngiang di benaknya. Hanya beberapa menit lalu, Sarah masih begitu tenang, begitu yakin dengan rencana mereka. Tapi sekarang? Ia terlihat seolah

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-05
  • Sebatas Rahim Sewaan Tuan CEO   Bab 30. Kabur

    Saat malam tiba, Emily keluar dari rumah melalui pintu belakang dengan mengendap-endap. Ia sudah memutuskan untuk meninggalkan Arnold dan semua hal tentangnya. Saat Arnold kembali untuk menemui Emily, ia dikejutkan oleh kenyataan bahwa istrinya telah menghilang. Di atas meja, ia menemukan surat kontrak pernikahan yang ditinggalkan begitu saja, beserta sepucuk surat yang ditulis langsung oleh Emily. > Dear Tuan Arnold yang terhormat, Maafkan aku yang tidak lagi bisa berada di sisimu. Saat kau membaca surat ini, mungkin aku sudah pergi jauh. Aku mohon, kasihanilah kedua orang tuaku. Lepaskan mereka, Tuan! Arnold meremas surat itu hingga remuk tak berbentuk. Matanya memerah menahan emosi yang meluap. Sarah, yang melihat suaminya dalam keadaan marah, segera mendekatinya. "Ada apa, Hon? Kenapa wajahmu seperti itu?" tanyanya dengan nada khawatir. Arnold tidak menjawab. Ia hanya berjalan ke balkon, menyalakan cerutunya, dan menarik napas dalam-dalam, membiarkan asap tembakau menari di

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-05

Bab terbaru

  • Sebatas Rahim Sewaan Tuan CEO   Bab 119 Tantangan

    Perkataan Arnold terpotong saat handphone Emily berdering. "Tunggu sebentar." Emily beranjak dari duduknya dan mengangkat telponnya. 'Ya, Alex.' Mendengar nama Alex, selera makan Arnold mendadak hilang. Namun demi menghargai Emily yang sudah memasak untuknya, Arnold pun menghabiskan makanannya. Setelah makannya selesai, Arnold bergegas keluar dan mencoba menghidupi mobil Emily. "Bisa?" Entah kapan Emily berdiri di samping pintu. "Tidak mau menyala sama sekali. Kemungkinan besar akinya." Arnold kembali menatap jam di pergelangan tangannya. "Bengkel sudah tutup, besok baru bisa memanggil mereka kesini." Arnold keluar dari mobil dan memberikan kuncinya kembali kepada Emily. "Mau aku antarkan pulang?" Pertanyaan klasik yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan. "Tapi aku takut ada yang marah," sindir Arnold. Mendengar mantan suaminya tampak seperti sedang cemburu, membuat Emily tersenyum simpul. "Aku bebas, tidak ada yang marah!" Seulas senyum terbit di bibir Arn

  • Sebatas Rahim Sewaan Tuan CEO   Bab 118 Seandainya...

    "Arnold!" Arnold menatapnya dengan tatapan penuh damba. Mantan suaminya terlihat lebih berisi, menandakan dia bahagia saat mereka sudah berpisah, bukankah begitu? "Emily." Arnold berdiri dan mengulurkan tangannya. Sempat bingung, Emily tidak langsung menerima uluran tangan Arnold. Arnold pun menarik kembali tangannya. "Apa kabar? Kau semakin cantik," pujinya. Netranya masih menatap lekat wajah Emily yang semakin cantik. Bercerai darinya ternyata membuat Emily benar-benar bahagia. "Baik, bagaimana kabarmu?" tanya Emily balik. "Seperti yang kau lihat." Setelahnya keduanya tampak canggung karena pikiran jelek mencemari otak masing-masing. Terlebih Arnold, melihat Emily tampak dekat dengan laki-laki yang bernama Alex, membuatnya cemburu tapi apa dia berhak untuk cemburu? Bukankah tadi dia sendiri yang bilang bahwa Emily berhak untuk bahagia. "Silahkan makan, aku kebelakang dulu." Emily tersenyum sebelum berlalu, jantungnya mendadak berdebar kala Arnold balas terseny

  • Sebatas Rahim Sewaan Tuan CEO   Bab 117. Masing-masing

    Emily menangis tersedu, meratapi kerasnya hatinya selama ini. Nyata benar adanya, setelah kehilangan, barulah ia merasakan bahwa cinta itu masih ada. Hanya saja, selama ini tertutup oleh kebencian. "Emily, tenang dulu, Sayang." Nyonya Ruby mengusap puncak kepalanya dan mengecupnya dengan penuh kasih sayang. "Biarkan Emily menumpahkan kegundahan hatinya, Ma. Biar dia lega," ucap Papa William. Nyonya Ruby mengangguk dan membiarkan Emily menjadikan pundaknya sebagai tempat bersandar. Setelah tangisannya reda, Emily menarik napas dalam-dalam berulang kali, berusaha menenangkan diri. Ia meraup oksigen sebanyak-banyaknya agar detak jantungnya kembali stabil. "Ma, maafkan Emily. Emily terbawa perasaan." "Tidak apa-apa, Sayang. Mama mengerti." Emily memejamkan matanya sesaat sebelum meraih pulpen yang ditinggalkan Arnold. Dengan hati yang mantap, ia menandatangani dokumen itu. "Arnold ingin kamu tetap tinggal di sini. Di luar kurang aman, Sayang." Emily menggeleng. "Tidak bisa, Ma. K

  • Sebatas Rahim Sewaan Tuan CEO   Bab 116. Resmi Bercerai

    Melihat Emily berhenti, Nyonya Ruby ikut berhenti dan saat menyadari sayup terdengar suara Arnold, Nyonya Ruby langsung mengalihkan perhatian Emily. "Sebelum pulang apa ada yang mau Emily beli? Misalnya makanan atau apa?" Fokus Emily terpecah dan Arnold juga sudah tidak berbicara. Emily menggeleng, "Ma, apa Arnold belum datang? Maksud Emily apa dia tidak ke sini?" Emily akhirnya kembali bertanya. "Arnold belum menghubungi Mama sejak tadi, Nak. Nanti Mama telpon dia." "Jangan, Ma. Tidak usah, mungkin dia sedang sibuk." Emily kembali melanjutkan langkah kakinya menuju lift. Dia membuang jauh pikiran buruknya, 'tidak mungkin Arnold sedang dirawat, dia pasti sedang sibuk,' batinnya. Sesampainya di kediaman Nyonya Ruby. Emily dibawa ke kamar yang sudah di siapkan oleh Nyonya Ruby. Kamar yang seharusnya di tempati oleh Emily dan Arnold. Tapi karena Arnold tadi malam mengisyaratkan perpisahan dengan alasan yang cukup masuk akal, Nyonya Ruby akhirnya pasrah, setidaknya sampai d

  • Sebatas Rahim Sewaan Tuan CEO   Bab 115. Hutang Budi

    Arnold terhuyung, namun tidak jatuh. Matanya tetap menyala penuh kemarahan. "Kau... akan menyesal..." geramnya sambil menahan sakit. Dengan sekuat tenaga, Arnold berbalik dan menghantam preman itu dengan siku hingga tersungkur. Robert melayangkan pukulan telaknya hingga membuat penjahat itu terkapar. Sirene polisi terdengar di kejauhan, setelah memastikan penjahatnya sudah aman di tangan polisi. Robert kembali berlari ke dalam dan mendapati Arnold terduduk sambil memegangi pinggangnya yang berlumuran darah. "Kita harus bertahan sedikit lagi," ujar Robert dengan napas memburu. "Emily, tolong buka ikatannya," pinta Arnold lirih. Robert mengambil pisau yang ada di meja kasir dan memotong ikatan tangan dan kaki Emily. Arnold mencoba berdiri sambil menahan perih. Dia hendak mengangkat Emily namun Robert menahan tangannya. "Biar saya saja, Tuan." Arnold menepis tangan Robert. "Jangan sentuh istriku, aku masih sanggup mengangkatnya!" Beberapa anggota kepolisian masuk dan membo

  • Sebatas Rahim Sewaan Tuan CEO   Bab 114. Lepaskan, Jangan Digenggam

    Guntur bersahutan disertai kilat yang menyambar di langit malam Kota London. Arnold baru saja sampai di hotel ketika hujan lebat mengguyur. "Kenapa perasaanku tidak enak?" gumamnya sambil melepas jas yang basah terkena rintik hujan. Arnold memikirkan Emily, istrinya. Bagaimana dia pulang kalau hujan lebat seperti ini? Biasanya, sepulang kerja, Arnold menunggu Emily hingga rumah makannya tutup dan Emily kembali ke apartemennya yang memang tidak begitu jauh. "Robert, antar aku ke rumah makan Emily. Perasaanku mendadak tidak tenang, aku takut Emily tidak bisa pulang!" Robert menoleh sebentar sebelum mengangguk. "Baik, Tuan." Dia kembali menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya menuju rumah makan. "Kalau masih cinta, sebaiknya dipikir-pikir lagi, Tuan. Nanti menyesal kalau sudah bercerai," kata Robert sambil tetap fokus mengemudi. Arnold tersenyum tipis. "Justru karena cinta makanya aku menceraikannya. Emily menginginkan perceraian itu. Bukankah cinta tidak harus memil

  • Sebatas Rahim Sewaan Tuan CEO   Bab 113. Melepas Walau Berat

    Berikut adalah perbaikan teks sesuai dengani "Baik, Tuan!" Robert pasrah dengan keputusan yang dibuat oleh Arnold. Robert percaya bahwa apa pun yang diputuskan oleh Arnold pasti sudah dipikirkan dengan matang oleh sang bos. "Belajar melepaskannya, walaupun berat. Aku percaya, kalau memang dia jodohku, kami pasti akan bersama lagi." "Yang Tuan katakan benar. Siapa tahu, saat status kalian berubah, cinta itu justru hadir di hati Nyonya." "Semoga saja. Sekarang antarkan aku ke rumah. Aku harus mengambil surat pernikahan kami dan surat perjanjian kontrak. Aku akan memberikan semua haknya sebagai istriku." --- Sementara itu, di rumah makannya, setelah puas menumpahkan kesedihannya, Emily akhirnya keluar dari ruang penyimpanan. Emily duduk di belakang meja kasir sambil mengecek stok bahan yang masih tersedia. Ia mencoba untuk acuh, tetapi perkataan Robert tadi siang cukup membuat mood-nya berantakan. Bukankah Emily tidak bersalah? Arnold yang bersalah. Seharusnya dia yan

  • Sebatas Rahim Sewaan Tuan CEO   Bab 112. Aku Akan Melepaskannya

    "Laki-laki yang tadi mengejar Nona." "Buang saja!" Emily keluar dari ruang penyimpanan dan mengintip dari balik tirai pembatas. Sepi, tidak ada lagi orang di luar. "Tuan itu bilang Nona harus membacanya, kalau tidak, dia akan mengirimkan surat ini setiap hari." Emily menggertakkan giginya saking kesal. Diambilnya surat yang dipegang oleh kasir rumah makannya. Emily kembali duduk di meja kasir dan membacanya. "Saat kau membaca surat ini, aku sudah pergi meninggalkan istriku yang cantik. Sayang, terima kasih makan siangnya. Hari ini adalah hari ulang tahunku, makan masakanmu adalah kado terindah di hari spesial ini. Aku mencintaimu, Nyonya Arnold Edgar." "Cih, gombalan tidak bermutu. Aku pikir dia akan bilang tidak akan lagi menggangguku." Emily meremas surat yang Arnold tulis dan melemparkannya ke bak sampah. "Kita tutup lebih cepat hari ini. Mood-ku sedang jelek." Kelima karyawannya saling bertatap, baru kali ini bos mereka bersikap aneh. Setelah menutup rumah makannya, Emi

  • Sebatas Rahim Sewaan Tuan CEO   Bab 111. Sepucuk Surat

    "Apa maksudmu?" Arlen menatap Jovanka dengan tatapan jijik. Wanita ini ada di mana mana, kemarin dia mendatangi Arlen ke SBC, hari ini dia ke rumah Emily. "Aku dan kamu punya keinginan yang sama, tidak salahnya kita bekerja sama bukan?" "Kau bekerja saja sendiri, aku tidak sudi bekerja sama dengan wanita licik sepertimu!" Arlen berlalu meninggalkan Jovanka. Jovanka yang membutuhkan bantuan Arlen lantas menarik tangannya dan mencoba merayunya kembali. "Aku mohon, aku tidak punya cukup uang untuk menjalankan aksiku. Aku butuh bantuanmu untuk memisahkan Arnold dan Emily. Tidak gratis, aku akan membayarnya dengan tubuhku!" Ucapan Jovanka justru menyulut emosi Arlen. Dirinya semakin murka, bagaimana bisa dia jatuh cinta pada wanita murahan ini hingga membuat Emily menjauh darinya. "Dasar tidak tahu malu, kamu tidak punya harga diri. Jangankan harus membayar, diberi gratis pun aku tidak mau,dasar menjijikkan!" Arlen menghempaskan tangannya hingga Jovanka hampir terjatuh, un

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status