Home / Romansa / Sebatas Rahim Sewaan Tuan CEO / Kabanata 11 - Kabanata 20

Lahat ng Kabanata ng Sebatas Rahim Sewaan Tuan CEO: Kabanata 11 - Kabanata 20

119 Kabanata

Bab 11. Pemeriksaan

Tiga bulan berlalu, perut Emily sudah mulai membesar dan waktunya untuk pemeriksaan.Emily bangun pagi pagi sekali, dia sangat tidak sabar menantikan hari ini, dimana ia bisa melihat langsung bayinya melalui monitor."Mama ingin sekali melihatmu, Nak!" ucapnya sembari mengelus perutnya yang sedikit menonjol.Kemarin Emily sudah mendaftarkan dirinya untuk melakukan pemeriksaan pagi ini. Jadi dia tidak perlu menunggu lama nantinya di sana.Setelah selesai bersiap, Emily turun ke bawah dan menuju meja makan untuk sarapan. Sudah ada Sarah dan Arnold duduk di sana. Mereka tengah berbincang sambil tersenyum. Arnold bahkan terlihat berkali kali mengecup kening Sarah. Pemandangan pagi yang cukup mengiris hati Emily, namun Emily sudah biasa berpura pura biasa saja.Saat melihat Emily datang, mereka berdua langsung diam. Meski demikian, mata elang Arnold menatapnya tanpa berkedip. Emily sangat cantik pagi ini, aura kehamilannya membuat wajahnya semakin bersinar.Emily tetap mengulas senyum mani
last updateHuling Na-update : 2025-02-28
Magbasa pa

Bab 12. Kecelakaan

Kecelakaan itu tak terelakkan. Suara benturan keras menggema di jalan raya, menarik perhatian banyak orang. Mobil yang dikemudikan Emily berputar beberapa kali di tengah aspal setelah dihantam dari belakang dengan kecepatan tinggi. Ban mobil mencicit, seakan menjerit di antara kaca yang pecah dan suara logam yang melengkung. Tubuh Emily tersentak ke depan, dadanya menghantam setir sebelum airbag mengembang dengan kasar. Napasnya memburu, rasa sakit segera menjalar dari tulang rusuk hingga perutnya. Sekilas, ia bisa melihat dunia di sekitarnya berputar dalam kekacauan. Sementara itu, mobil Sarah tak kalah naas. Kendaraannya terpelanting keluar dari jalan raya, menghantam tiang lampu sebelum berhenti di bahu jalan dalam kondisi mengenaskan. Bagian depan mobilnya ringsek, hampir tak berbentuk. Sarah yang berada di dalamnya langsung tak sadarkan diri. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mencekam, sebelum jeritan saksi mata mulai terdengar. "Kecelakaan! Panggil ambulans!"
last updateHuling Na-update : 2025-03-01
Magbasa pa

Bab 13. Kehilangan Yang Tak Terelakkan

Setelah melalui masa konservasi selama kurang lebih satu jam di ruang operasi, Sarah akhirnya sadarkan diri. Perlahan, matanya terbuka, beradaptasi dengan cahaya lampu ruangan yang menyilaukan. Tubuhnya masih lemah, tapi kehadiran Arnold di sampingnya membuatnya merasa lebih baik. Ruangan rawat inap yang dipilihkan Arnold untuk Sarah adalah yang terbaik dan termahal di rumah sakit itu. Semua fasilitas mewah disediakan demi kenyamanan sang istri. Sebaliknya, untuk Emily, Arnold hanya memilih ruangan dengan fasilitas standar di bawah kelas Sarah. Sepanjang hari, Arnold menemani Sarah tanpa sedikit pun niat menjenguk Emily. Baginya, hanya Sarah yang pantas mendapat perhatiannya saat ini. Sarah, yang masih terbaring lemah, mengulurkan tangan ke arah suaminya. Jemari pucatnya yang terpasang infus disentuh lembut oleh Arnold. "Bagaimana keadaanmu, Honey?" tanya Arnold, suaranya lembut dan penuh perhatian. Sarah tersenyum tipis. "Sangat baik, karena ada dirimu di sini," jawabnya lir
last updateHuling Na-update : 2025-03-01
Magbasa pa

Bab 14. Hilangnya harapan

Setelah meninggalkan ruangan Emily, Arnold melangkah dengan cepat menuju kamar rawat inap Sarah. Pikirannya penuh, tetapi wajahnya tetap dingin tanpa ekspresi. Langkah-langkahnya menggema di sepanjang lorong rumah sakit, mencerminkan kekacauan yang berkecamuk dalam hatinya. Saat ia membuka pintu kamar, Sarah sudah menunggunya. Wanita itu duduk bersandar di tempat tidurnya, tubuhnya tampak lemah, tetapi matanya berbinar dengan kecemasan yang tampak begitu nyata. Begitu melihat Arnold masuk, Sarah langsung bertanya, "Bagaimana keadaan Emily?" Suaranya terdengar lembut, seolah benar-benar mengkhawatirkan wanita yang selama ini menjadi duri dalam kehidupannya. "Apa dia dan janinnya baik-baik saja?" Mendengar pertanyaan itu, Arnold terdiam sejenak. Kata janin menusuk dadanya seperti belati. Anak itu… harapannya… sudah tidak ada. Rahangnya mengatup erat. Tangan yang berada di sisinya mengepal, menahan emosi yang membuncah. Namun, saat ia kembali menatap Sarah, ekspresinya kembali d
last updateHuling Na-update : 2025-03-01
Magbasa pa

Bab 15. Jebakan Yang Nyaris Sempurna

Sarah menyadari itu. Maka, dengan gerakan lembut, ia menangkup wajah Arnold, membelai rahangnya dengan penuh kasih. "Aku akan menjelaskannya di rumah, Honey. Aku masih trauma setiap kali mengingatnya. Kalimat itu berhasil membuat Arnold melembut. Melihat sorot sedih di mata Sarah, ia mengangguk kecil. Seperti biasa, ia kembali mendekap istrinya, membiarkan rasa penasarannya menguap begitu saja. *** Di sisi lain, Nyonya Ruby baru saja mendapat telepon dari Arnold tentang kecelakaan yang menimpa kedua menantunya. Tanpa menunda waktu, ia segera bergegas menuju rumah sakit. Arnold memang tidak memberitahunya tentang kondisi janin Emily. Begitu sampai di depan pintu kamar rawat inap Emily, Nyonya Ruby langsung mendorong pintu dan melangkah cepat menuju ranjang tempat Emily terbaring. "Di mana Arnold?" tanyanya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Matanya menyapu setiap sudut, berharap menemukan putranya di sana. Namun, hanya ada Emily. "Arnold baru saja ke
last updateHuling Na-update : 2025-03-01
Magbasa pa

Bab 16. Kebohongan

Arnold menggeleng, meski pikirannya seolah terbagi dua. Namun, akhirnya ia melangkah kembali, membimbing Sarah menuju kamar mereka. Arnold duduk di samping Sarah, siap mendengarkan apa pun yang ingin diceritakan istrinya. Sarah menarik napas dalam, lalu menatap Arnold dengan mata berkaca-kaca. "Aku hanya ingin menceritakan kejadian tempo hari kepadamu," ucapnya lirih. "Tapi aku mohon, kau jangan membenci Emily setelah tahu apa yang terjadi..." Arnold menegang. "Katakanlah." Sarah menunduk. Dengan suara gemetar, ia mulai bercerita. "Emily menabrak mobilku di persimpangan jalan. Aku tidak menyangka dia melakukan itu padaku, Arnold..." Mata Arnold membelalak. "Apa? Jadi Emily sengaja menabrak mu?" Sarah mengangguk dengan air mata mengalir di pipinya. "Ya... Dia bahkan mengancam akan membunuhku sebelumnya..." Arnold mengepalkan tangannya, amarah menyelimutinya. "Wanita iblis itu harus mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang sudah diperbuatnya kepadamu dan calo
last updateHuling Na-update : 2025-03-01
Magbasa pa

Bab 17. Tidak Ada Rasa

Sore itu, langit mulai beranjak jingga, memancarkan warna yang seharusnya menenangkan, tetapi bagi Emily, sore itu adalah awal dari luka yang tidak akan pernah sembuh. Dia tengah beristirahat di kamarnya, membiarkan pikirannya mengembara setelah hari yang melelahkan. Namun, ketenangannya terusik ketika layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah pesan. Itu dari Arnold. Atau lebih tepatnya, dari ponsel Arnold. Pesan itu hanya berisi satu kalimat singkat, tetapi cukup untuk membuat Emily segera bangkit dari tempat tidurnya. "Emily, datanglah ke ruang kerja sebentar." Emily tersenyum kecil. Mungkin Arnold ingin membicarakan sesuatu yang penting. Tanpa berpikir panjang, dia segera turun dari tempat tidurnya, merapikan sedikit rambutnya, lalu melangkah ke luar kamar. Dengan langkah ringan, dia berjalan menuruni tangga dan menuju ruang kerja Arnold. Pintu ruangan itu sudah terbuka. Emily tidak merasa perlu mengetuk. Dengan penuh percaya diri, dia melangkah masuk. Namun, begitu dia
last updateHuling Na-update : 2025-03-02
Magbasa pa

Bab 18. Pusat Perhatian

Malam itu, pesta berlangsung meriah di sebuah ballroom mewah yang dipenuhi orang-orang dari kalangan terpandang. Lampu kristal yang berkilauan memantulkan cahaya ke seluruh ruangan, menciptakan suasana glamor yang begitu megah. Dentingan gelas-gelas sampanye dan suara tawa kecil terdengar di setiap sudut, mencerminkan betapa eksklusifnya acara malam itu. Di tengah keramaian, perhatian para tamu seketika teralihkan saat seorang wanita bergaun indah memasuki ruangan, ditemani seorang wanita paruh baya yang tak kalah anggun. Emily berjalan di sisi Nyonya Ruby, ibu mertuanya, dengan kepala tegak. Gaun berdada rendah yang ia kenakan adalah karya salah satu perancang terkenal, menjadikannya pusat perhatian sejak langkah pertamanya. Warna gelap elegan membalut tubuhnya dengan sempurna, menonjolkan pesona dan keanggunannya. Rambutnya disanggul rapi, memperlihatkan leher jenjangnya yang dihiasi kalung berlian yang berkilauan di bawah sorotan lampu. Dan jangan tanyakan siapa yang menyiapk
last updateHuling Na-update : 2025-03-02
Magbasa pa

Bab 19. Arnold Cemburu?

Udara di ballroom hotel berbintang lima itu terasa panas, meskipun pendingin udara sudah disetel maksimal. Namun, bukan suhu ruangan yang membuat Arnold merasa gerah—melainkan pemandangan di depan matanya. Ia mengendurkan dasinya, mencoba memberi ruang untuk bernapas lebih lega. Tapi tetap saja, dadanya terasa sesak melihat Emily dikelilingi oleh pria-pria lain. Mereka tersenyum padanya, berbicara dengan penuh ketertarikan, seolah Emily adalah pusat gravitasi yang menarik mereka semua. Dan yang paling membuat Arnold semakin gusar, Emily tampak menikmatinya. Di mana Nyonya Ruby? Entah ke mana ibunya itu pergi. Jika masih ada, mungkin Emily tidak akan seberani ini membiarkan dirinya dikelilingi para pria seperti itu. Arnold menggeram pelan, genggamannya di gelas sampanye semakin erat. "Hon," panggil Sarah dengan nada lembut. Arnold tidak merespons. Matanya tetap terpaku pada Emily, seolah hanya wanita itu yang ada di ruangan ini. Sarah mengerutkan kening, merasa diabaikan. Ia mel
last updateHuling Na-update : 2025-03-02
Magbasa pa

Bab 20. Penolakan Emily

Wajah Sarah jelas memancarkan kekecewaan, tetapi Arnold sepertinya tidak peduli. Pria itu tetap menatap lurus ke depan, pikirannya masih berkutat pada satu hal—Emily. Sarah mengembuskan napas kasar. Ia tahu, apa pun yang ia katakan saat ini tidak akan mengubah keadaan. Tatapan Arnold, sikapnya, bahkan caranya mengetik pesan tadi—semuanya menunjukkan satu hal: Arnold masih memikirkan wanita itu. Merasa tak ingin semakin terjebak dalam pikirannya sendiri, Sarah akhirnya memilih untuk mengeluh. "Kepalaku pusing," ujarnya pelan, suaranya terdengar lelah. Arnold menoleh sekilas, lalu melirik layar ponselnya sekali lagi, berharap ada balasan dari Emily. Namun, tidak ada. Mau tak mau, ia mendengus pelan dan menyimpan kembali ponselnya. Dengan satu tangan, ia menggenggam setir dan mulai melajukan mobil, meninggalkan basement parkir hotel. Sepanjang perjalanan, tak ada satu kata pun yang terucap. Hanya suara deru mesin mobil yang menemani mereka. Sarah menyandarkan kepalanya di kaca
last updateHuling Na-update : 2025-03-02
Magbasa pa
PREV
123456
...
12
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status