Sarah menyadari itu. Maka, dengan gerakan lembut, ia menangkup wajah Arnold, membelai rahangnya dengan penuh kasih. "Aku akan menjelaskannya di rumah, Honey. Aku masih trauma setiap kali mengingatnya. Kalimat itu berhasil membuat Arnold melembut. Melihat sorot sedih di mata Sarah, ia mengangguk kecil. Seperti biasa, ia kembali mendekap istrinya, membiarkan rasa penasarannya menguap begitu saja. *** Di sisi lain, Nyonya Ruby baru saja mendapat telepon dari Arnold tentang kecelakaan yang menimpa kedua menantunya. Tanpa menunda waktu, ia segera bergegas menuju rumah sakit. Arnold memang tidak memberitahunya tentang kondisi janin Emily. Begitu sampai di depan pintu kamar rawat inap Emily, Nyonya Ruby langsung mendorong pintu dan melangkah cepat menuju ranjang tempat Emily terbaring. "Di mana Arnold?" tanyanya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Matanya menyapu setiap sudut, berharap menemukan putranya di sana. Namun, hanya ada Emily. "Arnold baru saja ke
Arnold menggeleng, meski pikirannya seolah terbagi dua. Namun, akhirnya ia melangkah kembali, membimbing Sarah menuju kamar mereka. Arnold duduk di samping Sarah, siap mendengarkan apa pun yang ingin diceritakan istrinya. Sarah menarik napas dalam, lalu menatap Arnold dengan mata berkaca-kaca. "Aku hanya ingin menceritakan kejadian tempo hari kepadamu," ucapnya lirih. "Tapi aku mohon, kau jangan membenci Emily setelah tahu apa yang terjadi..." Arnold menegang. "Katakanlah." Sarah menunduk. Dengan suara gemetar, ia mulai bercerita. "Emily menabrak mobilku di persimpangan jalan. Aku tidak menyangka dia melakukan itu padaku, Arnold..." Mata Arnold membelalak. "Apa? Jadi Emily sengaja menabrak mu?" Sarah mengangguk dengan air mata mengalir di pipinya. "Ya... Dia bahkan mengancam akan membunuhku sebelumnya..." Arnold mengepalkan tangannya, amarah menyelimutinya. "Wanita iblis itu harus mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang sudah diperbuatnya kepadamu dan calo
Sore itu, langit mulai beranjak jingga, memancarkan warna yang seharusnya menenangkan, tetapi bagi Emily, sore itu adalah awal dari luka yang tidak akan pernah sembuh. Dia tengah beristirahat di kamarnya, membiarkan pikirannya mengembara setelah hari yang melelahkan. Namun, ketenangannya terusik ketika layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah pesan. Itu dari Arnold. Atau lebih tepatnya, dari ponsel Arnold. Pesan itu hanya berisi satu kalimat singkat, tetapi cukup untuk membuat Emily segera bangkit dari tempat tidurnya. "Emily, datanglah ke ruang kerja sebentar." Emily tersenyum kecil. Mungkin Arnold ingin membicarakan sesuatu yang penting. Tanpa berpikir panjang, dia segera turun dari tempat tidurnya, merapikan sedikit rambutnya, lalu melangkah ke luar kamar. Dengan langkah ringan, dia berjalan menuruni tangga dan menuju ruang kerja Arnold. Pintu ruangan itu sudah terbuka. Emily tidak merasa perlu mengetuk. Dengan penuh percaya diri, dia melangkah masuk. Namun, begitu dia
Malam itu, pesta berlangsung meriah di sebuah ballroom mewah yang dipenuhi orang-orang dari kalangan terpandang. Lampu kristal yang berkilauan memantulkan cahaya ke seluruh ruangan, menciptakan suasana glamor yang begitu megah. Dentingan gelas-gelas sampanye dan suara tawa kecil terdengar di setiap sudut, mencerminkan betapa eksklusifnya acara malam itu. Di tengah keramaian, perhatian para tamu seketika teralihkan saat seorang wanita bergaun indah memasuki ruangan, ditemani seorang wanita paruh baya yang tak kalah anggun. Emily berjalan di sisi Nyonya Ruby, ibu mertuanya, dengan kepala tegak. Gaun berdada rendah yang ia kenakan adalah karya salah satu perancang terkenal, menjadikannya pusat perhatian sejak langkah pertamanya. Warna gelap elegan membalut tubuhnya dengan sempurna, menonjolkan pesona dan keanggunannya. Rambutnya disanggul rapi, memperlihatkan leher jenjangnya yang dihiasi kalung berlian yang berkilauan di bawah sorotan lampu. Dan jangan tanyakan siapa yang menyiapk
Udara di ballroom hotel berbintang lima itu terasa panas, meskipun pendingin udara sudah disetel maksimal. Namun, bukan suhu ruangan yang membuat Arnold merasa gerah—melainkan pemandangan di depan matanya. Ia mengendurkan dasinya, mencoba memberi ruang untuk bernapas lebih lega. Tapi tetap saja, dadanya terasa sesak melihat Emily dikelilingi oleh pria-pria lain. Mereka tersenyum padanya, berbicara dengan penuh ketertarikan, seolah Emily adalah pusat gravitasi yang menarik mereka semua. Dan yang paling membuat Arnold semakin gusar, Emily tampak menikmatinya. Di mana Nyonya Ruby? Entah ke mana ibunya itu pergi. Jika masih ada, mungkin Emily tidak akan seberani ini membiarkan dirinya dikelilingi para pria seperti itu. Arnold menggeram pelan, genggamannya di gelas sampanye semakin erat. "Hon," panggil Sarah dengan nada lembut. Arnold tidak merespons. Matanya tetap terpaku pada Emily, seolah hanya wanita itu yang ada di ruangan ini. Sarah mengerutkan kening, merasa diabaikan. Ia mel
Wajah Sarah jelas memancarkan kekecewaan, tetapi Arnold sepertinya tidak peduli. Pria itu tetap menatap lurus ke depan, pikirannya masih berkutat pada satu hal—Emily. Sarah mengembuskan napas kasar. Ia tahu, apa pun yang ia katakan saat ini tidak akan mengubah keadaan. Tatapan Arnold, sikapnya, bahkan caranya mengetik pesan tadi—semuanya menunjukkan satu hal: Arnold masih memikirkan wanita itu. Merasa tak ingin semakin terjebak dalam pikirannya sendiri, Sarah akhirnya memilih untuk mengeluh. "Kepalaku pusing," ujarnya pelan, suaranya terdengar lelah. Arnold menoleh sekilas, lalu melirik layar ponselnya sekali lagi, berharap ada balasan dari Emily. Namun, tidak ada. Mau tak mau, ia mendengus pelan dan menyimpan kembali ponselnya. Dengan satu tangan, ia menggenggam setir dan mulai melajukan mobil, meninggalkan basement parkir hotel. Sepanjang perjalanan, tak ada satu kata pun yang terucap. Hanya suara deru mesin mobil yang menemani mereka. Sarah menyandarkan kepalanya di kaca
Emily mengembuskan napas pelan. Ia menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya menyeret ibu jarinya ke layar dan menjawab panggilan itu. "Halo," ujarnya datar. Dari seberang, terdengar suara tarikan napas berat sebelum Arnold akhirnya berbicara. "Kenapa kau tidak membalas pesanku?" tanyanya langsung, tanpa basa-basi. Suaranya terdengar dingin, tetapi ada ketidaksabaran yang tersirat di dalamnya. Emily mengangkat alis, meskipun pria itu tidak bisa melihatnya. "Aku membacanya," jawabnya santai. "Aku tahu," balas Arnold cepat. "Tapi kenapa tidak kau balas?" Emily tersenyum kecil, menikmati bagaimana pria itu sepertinya mulai kehilangan kendali. "Aku tidak merasa perlu melakukannya." Hening sejenak. Dari seberang, terdengar suara tarikan napas kasar. "Emily, aku menyuruhmu pulang." Nada perintahnya begitu jelas, seperti biasanya. Arnold selalu menganggap bahwa kata-katanya adalah hukum yang harus dipatuhi. Namun kali ini, Emily hanya terkekeh pelan. "Dan aku memilih untu
Cahaya pagi yang lembut menyelinap masuk melalui celah-celah tirai kamar, menerpa wajah Sarah yang masih terlelap. Ia menggeliat pelan, matanya mulai terbuka dengan kantuk yang masih tersisa.Namun, saat ia mengulurkan tangan ke sisi tempat tidur, yang ia temukan hanyalah ranjang kosong yang sudah dingin.Keningnya mengernyit.Arnold tidak ada di sana.Sarah segera bangun, rasa kantuknya langsung menguap. Semalam, setelah mandi, Arnold langsung tidur tanpa banyak bicara. Ia tidak menyentuhnya, tidak memperhatikannya seperti biasanya. Sarah berpikir mungkin pagi ini ia bisa bermanja-manja, memperbaiki keadaan yang terasa semakin renggang di antara mereka.Tapi suaminya malah menghilang.Tanpa membuang waktu, Sarah bangkit dari tempat tidur dan berjalan cepat menuju kamar mandi.“Hon?” panggilnya seraya mengetuk pintu.Tak ada jawaban.Dengan sedikit tergesa, Sarah memutar kenop pintu dan membukanya. Namun, yang ia temukan hanyalah ruangan kosong. Tak ada tanda-tanda Arnold di sana. Han
"Kau mau apa katakan?" Emily mendongak demi bisa menatap wajah tampan kekasih hatinya. Arnold mengusap bibir Emily dengan lembut, membuat sang empunya bibir tersenyum. "Nanti kalau sudah halal." "Jadi aku harus berpuasa?" "Hmm, hanya sebulan, bersabarlah. Belajar bersabar," tukas Emily. Emily melepaskan pelukannya dan melanjutkan memasaknya. "Tunggu di luar, sebentar lagi makan siangmu matang." Demi bisa memiliki Emily seutuhnya, Arnold akan menuruti apa saja yang Emily minta. Kalau dulu dia bisa mendapatkan apa saja yang dia inginkan dengan mudah, kali ini Arnold benar benar harus berjuang. "Baiklah, aku tunggu di luar." Arnold mengecup puncak kepala Emily dan bergegas keluar. "Bagaimana, Tuan?" tanya Robert. "Sukses, Emily suka kejutannya." "Syukurlah. Habis ini jangan bertengkar lagi, Tuan. Dan saran saya kurangi frekuensi pertemuannya." "Maksud kamu?" "Jangan sering-sering kemari, seminggu sekali cukup, agar saat bertemu rindunya menggebu." bisik Robert
Melihat Arnold membuang muka saat melihat Alex datang, membuat hati Emily tercubit. 'Apa aku keterlaluan padanya?' batin Emily. 'Tapi aku melakukannya agar dia tidak keterlaluan padaku, ah sudahlah. "Hai Emily!" Alex menyodorkan kado yang dia bawa. "Dari Vania!" "Sampaikan ucapan terima kasihku!" ucapnya sembari menerima kado yang diberikan adiknya Alex, Vania seumuran Emily dan kebetulan tanggal lahir mereka berdekatan, hari ini Emily, besok Vania. Alex mengangguk, "mana mobilmu? Sudah diganti Arnold?" Emily menjawab dengan anggukan. "Nanti kapan kapan ajak aku naik itu," ucapnya sembari menunjuk mobil baru Emily. "Boleh, bertiga dengan Arnold," jawabnya sambil terkekeh. "Ya sudah, aku pergi, jangan lupa besok malam." "Oke." Selepas kepergian Alex, Emily kembali ke ruang kerjanya. Dia masih kepikiran dengan Arnold yang tampak sedih saat pergi tadi. "Maafkan kalau aku keterlaluan." Emily membenamkan wajahnya ke atas tumpukan laporan keuangan rumah makan.
Emily mengabaikan panggilan Arnold. Ia bergegas masuk ke dalam rumah, namun belum sempat menutup pintu, tangan Arnold lebih dulu menahan daun pintu. "Tunggu!" seru Arnold. Emily tak membalas. Ia membatalkan niat menutup pintu dan langsung berjalan menuju kamarnya. "Emily!" panggil Arnold lagi, kali ini berdiri di depan pintu kamar, menahan diri untuk tidak masuk. "Emily, Sayang. Aku ingin bicara. Keluar, Sayang!" serunya sambil mengetuk pintu berulang kali. Namun Emily tetap diam. Rupanya, ia masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri, mencoba menenangkan hati dan pikirannya. Setelah selesai, ia keluar dengan pakaian rapi dan wajah yang sudah dipoles tipis dengan makeup. Panggilan Arnold masih terdengar samar dari balik pintu. Emily menatap pantulan dirinya di cermin, lalu bergumam pelan, "Kita lihat seberapa sabar kamu kali ini." Satu jam berlalu, dan Arnold masih bertahan. Tak ada suara keras, tak ada bantingan, hanya panggilan lembut dan ketukan sabar. Setelah merasa cukup,
Emily yang kelelahan dan mengantuk cukup terkejut dengan rentetan pertanyaan yang Arnold lontarkan padanya. "Tenang dulu, kau seperti orang kesurupan," ucap Emily, mencoba meredakan ketegangan. Ia berjalan menuju teras rumah, merasakan ngilu di kakinya setelah seharian berdiri saat memasak di rumah makan. Ia duduk dan mulai memijat kakinya yang pegal. "Jelaskan padaku, kenapa Alex baru mengantarkan mu pulang malam-malam begini?" tanya Arnold yang masih berdiri di depannya, tak sabar menunggu penjelasan. "Duduk dulu," pinta Emily tanpa menatapnya. Arnold menarik kursi dan duduk di sampingnya. "Alex hanya mengantarku pulang, lalu aku tertidur di dalam mobilnya. Dia tidak tega membangunkanku karena melihatku kelelahan. Dia baru membangunkan ketika kau meneleponku tadi. Apa jawaban itu cukup membuatmu tenang?" "Kau seharusnya meneleponku. Aku pasti akan menjemputmu!" balas Arnold, masih dengan nada tak puas. "Aku sudah mencoba menghubungimu, tapi ponselmu tidak aktif. Dan kau juga
"Terima kasih, Sayang," ucap Emily lembut. Arnold menatapnya dalam. "Katakan, kau ingin hadiah apa? Aku akan memberikannya untukmu." Emily tersenyum hangat. "Kau adalah kado terindahku." Tanpa aba-aba, Arnold menarik tengkuk Emily perlahan dan menyatukan bibir mereka. Emily memejamkan mata, menikmati momen pertama di mana ciuman mereka bukan lagi karena paksaan atau marah, tapi karena cinta yang tulus. Pagutan lembut dari Arnold membuat Emily tenggelam dalam rasa yang hangat. Saat akhirnya Arnold melepaskan ciuman itu, tangannya mengusap bibir Emily yang kini memerah karena ulahnya sendiri. "Hari pertama jadi kekasihmu... aku sudah gagal. Aku malu pada diriku sendiri," gumam Arnold penuh sesal. Emily terkekeh. Tatapan mata Arnold yang sayu dan menyesal justru membuatnya tampak lebih menawan. "Masih ada waktu sebulan. Ini baru hari pertama. Bagaimana bisa kau sudah menyerah?" katanya dengan nada menggoda. Arnold menghela napas. "Begini saja, bagaimana kalau hari ini kita jalan-
"Maafkan aku, tapi jangan memintaku untuk tidak menemuimu selama itu, aku tidak akan sanggup." Seulas senyuman terbit di bibir mungil Emily. Diusapnya rahang kokoh Arnold yang ditumbuhi bulu-bulu halus. "Aku tidak setega itu, tapi bisakah kau berjanji untuk tidak cemburu berlebihan? Cemburumu itu membuatku seperti seseorang yang tidak bisa dipercaya." "Susah!" Arnold menyandarkan kepalanya di pundak Emily, hidung mancungnya bahkan menempel di ceruk leher Emily. Mendekapnya seperti ini rasanya masih seperti mimpi, Arnold benar-benar tidak menyangka. Dan Emily memintanya untuk tidak menemuinya selama tiga hari, bukankah ini hukuman yang berat? "Jalani saja, nanti juga terbiasa. Kau tahu kenapa aku ingin suami yang sabar?" "Kenapa?" "Karena aku ingin bermanja-manja tanpa takut dimarahi." Arnold mengangkat wajahnya dan menatap manik mata bening milik kekasih hatinya. "Apa aku pemarah?" "Ya, kau dulu pemarah," jawabnya pelan. "Sekarang tidak lagi, percaya padaku!" Arnold mendekat
Arnold menggeleng. "Aku tidak akan membiarkan itu semua terjadi." "Deal!" Emily menyodorkan jari kelingkingnya dan disambut oleh Arnold dengan mengaitkan jari kelingkingnya. "Deal! Mulai malam ini, kau kekasihku!" Arnold memasangkan cincin di jari manis Emily dan mengecupnya singkat. "Aku akan memantaskan diriku agar bisa menjadi suami yang baik untukmu." Keduanya saling menatap penuh cinta, memulai hubungan yang baru tanpa dibayangi gelapnya masa lalu. "Apa boleh aku menciummu?" Emily menggeleng. "Belum satu jam kita berpacaran, kau sudah ingin menciumku? Tahan dulu!" Emily membalikkan tubuh Arnold dan mendorongnya menuju mobilnya. "Pulanglah, sudah malam!" usirnya. Arnold mendadak berhenti. Ia teringat sesuatu dan berbalik. "Berikan nomor handphone-mu. Masa aku tidak punya nomor kekasihku?" Disodorkannya handphone kepada Emily. "Aku lupa." Emily meraih handphone Arnold dan memasukkan nomor barunya. "Sudah." "Ya sudah, kamu masuk dulu, baru aku akan pergi." Emily melamb
Perkataan Arnold terpotong saat handphone Emily berdering. "Tunggu sebentar." Emily beranjak dari duduknya dan mengangkat telponnya. 'Ya, Alex.' Mendengar nama Alex, selera makan Arnold mendadak hilang. Namun demi menghargai Emily yang sudah memasak untuknya, Arnold pun menghabiskan makanannya. Setelah makannya selesai, Arnold bergegas keluar dan mencoba menghidupi mobil Emily. "Bisa?" Entah kapan Emily berdiri di samping pintu. "Tidak mau menyala sama sekali. Kemungkinan besar akinya." Arnold kembali menatap jam di pergelangan tangannya. "Bengkel sudah tutup, besok baru bisa memanggil mereka kesini." Arnold keluar dari mobil dan memberikan kuncinya kembali kepada Emily. "Mau aku antarkan pulang?" Pertanyaan klasik yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan. "Tapi aku takut ada yang marah," sindir Arnold. Mendengar mantan suaminya tampak seperti sedang cemburu, membuat Emily tersenyum simpul. "Aku bebas, tidak ada yang marah!" Seulas senyum terbit di bibir Arn
"Arnold!" Arnold menatapnya dengan tatapan penuh damba. Mantan suaminya terlihat lebih berisi, menandakan dia bahagia saat mereka sudah berpisah, bukankah begitu? "Emily." Arnold berdiri dan mengulurkan tangannya. Sempat bingung, Emily tidak langsung menerima uluran tangan Arnold. Arnold pun menarik kembali tangannya. "Apa kabar? Kau semakin cantik," pujinya. Netranya masih menatap lekat wajah Emily yang semakin cantik. Bercerai darinya ternyata membuat Emily benar-benar bahagia. "Baik, bagaimana kabarmu?" tanya Emily balik. "Seperti yang kau lihat." Setelahnya keduanya tampak canggung karena pikiran jelek mencemari otak masing-masing. Terlebih Arnold, melihat Emily tampak dekat dengan laki-laki yang bernama Alex, membuatnya cemburu tapi apa dia berhak untuk cemburu? Bukankah tadi dia sendiri yang bilang bahwa Emily berhak untuk bahagia. "Silahkan makan, aku kebelakang dulu." Emily tersenyum sebelum berlalu, jantungnya mendadak berdebar kala Arnold balas terseny