Semua Bab Sebatas Rahim Sewaan Tuan CEO: Bab 91 - Bab 100

121 Bab

Bab 91. Sayang?

Sejenak Emily memejamkan matanya, apa memang harus begini jalannya agar Arnold melepaskannya? Emily mencoba mengingat lagi luka yang ditorehkan Arnold. Kalau Arnold saja pernah mempermainkannya dan memintanya datang ketika dia dan Sarah tengah memadu kasih, lantas Emily tidak seharusnya ragu berpura-pura menjadi kekasih Arlen. Toh hanya berpura-pura dan tidak akan melakukan hal yang di luar batas. Dengan satu tarikan nafas, Emily mengiyakan rencana Arlen dan Mike. "Oke! Aku setuju!" "Yes, bonus bakalan naik nih!" gumam Mike sambil menepuk meja. "Terima kasih, Emily!" "Aku yang seharusnya berterima kasih, kalian sudah bersedia membantuku." Hidup seorang diri tanpa ada seorangpun yang menemaninya, membuat Emily sangat menghargai bantuan yang sudah Arlen berikan padanya. Terlepas dari apapun masalah Arlen dengan Arnold, Emily tidak begitu peduli. Dia hanya ingin bebas, itu saja. Setelah selesai makan siang, Emily dan Mike kembali ke meja kerja masing-masing. Karena kebetul
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-23
Baca selengkapnya

Bab 92. Masihkah Cinta Membawa Luka?

Emily merebahkan dirinya di kasur empuk kediaman Arlen, setelah menerima tawaran untuk menjadi kekasih pura-pura bosnya demi membuat Arnold marah. Emily tidak bisa lagi mundur dari permainan yang akan mereka mainkan. "Ke mana angin akan membawaku, aku pasrah saja!" gumamnya sembari menatap langit-langit kamar. Baru saja matanya hampir terpejam, suara ketukan pintu kamarnya sontak membuat Emily membuka matanya kembali. Tok tok tok Emily mendengus pelan sebelum bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju pintu. Dia membuka pintu dengan sedikit malas, tapi ekspresinya langsung berubah begitu melihat sosok yang berdiri di hadapannya. "Tuan!" serunya, sedikit terkejut. Arlen berbalik, menatap Emily dengan tatapan teduh. Pria itu hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek selutut, tampilan kasual yang justru semakin menonjolkan ketampanannya. Emily menelan ludah tanpa sadar. "Kau sudah mau tidur?" tanya Arlen. "Bisakah kita berbicara sebentar?" Emily mengangguk tanpa
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-23
Baca selengkapnya

Bab 93. Waktunya Bermain

Arlen menggeleng, dia tidak melanjutkan kata-katanya. "Tidak ada kata seandainya, yang ada sekarang hanyalah berjuang untuk mendapatkannya!" Arlen sudah menentukan pilihannya. Dan apa yang sudah Arlen pilih, maka tidak bisa diganggu gugat. Hingga tengah malam, Arlen masih betah menatap langit-langit kamarnya, bosan hanya berbaring, Arlen memilih beranjak menuju balkon dan duduk santai ditemani sebatang rokok. Bertemankan udara dingin, Arlen menghabiskan malamnya sendirian. Emily terjaga ketika mendengar alarm handphonenya berbunyi, dia mengaturnya pukul 5 pagi. Emily menggeliat dan meraba-raba nakas untuk mematikan handphonenya. Karena masih pagi, Emily berjalan jalan ke lantai bawah, para pelayan tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Karena kemarin pulang sudah sore dan Emily hanya turun ketika makan malam, Emily belum berkenalan dengan para pelayan. Saat Emily menuruni anak tangga, dua pelayan tampak berbisik. "Kekasih, Tuan Muda. Cantik ya!" "Iya, tapi
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-23
Baca selengkapnya

Bab 94. Terbakar Api Cemburu

Napasnya memburu, wajahnya merah padam saat melihat Arlen tengah mengalungkan lengannya di leher Emily sambil mengecup puncak kepalanya singkat. Arlen lalu tersenyum, Emily tampak nyaman berada dalam dekapan Arlen. Dia tidak tampak terganggu walaupun sedang mengetikkan sesuatu di keyboardnya. Seakan tidak terpengaruh dengan kehadiran Arnold. Dua insan tersebut tampak tersenyum bahagia. Sesekali Arlen berbisik dan membuat Emily tersipu. Entah rayuan macam apa yang dibisikkan Arlen. Hati Arnold semakin mendidih melihat pemandangan yang terpampang di hadapannya. Dunianya terasa runtuh, tidak pernah rasanya sesakit ini. Dan penyesalan itu semakin membuatnya sesak. "Tuan!" Panggilan Mike seketika membuat Arlen yang tengah menatap layar menoleh. Dia tampak kaget saat melihat Arnold. Berpura-pura kaget lebih tepatnya karena dia sudah tahu akan kedatangan Arnold. Selang beberapa saat kemudian, Emily ikut menoleh. Tidak ada ekspresi yang ditunjukkannya, wajahnya tampak datar, pa
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-24
Baca selengkapnya

Bab 95. Kau Mau Kebebasan?

'Sayang? Emily memanggilnya sayang? Apa aku salah dengar?' Jantung Arnold kembali terasa diremas-remas. Ketua divisi perencanaan berdiri dan mulai menjelaskan rancangan yang sudah mereka buat melalui layar proyektor. Arnold tampak tidak fokus, dia mencerna satu demi satu kejadian hari ini sambil sesekali mencuri pandang ke arah Emily dan Arlen. Mereka berdua tampak serius menatap layar, tapi Arnold bisa menebak bahwa Arlen memainkan tangannya di bawah meja. Tidak terlihat namun ekspresi wajah Emily menunjukkan segalanya. "Shit!" Arnold terbakar api cemburu, Emily adalah istrinya kenapa Arlen dengan lancang merengkuhnya bahkan memberikan kecupan di puncak kepalanya. Apa hubungan mereka? Tidak tahan lagi dengan keadaan yang semakin menghimpitnya, Arnold berdiri dan meminta izin ke kamar kecil. Arnold tidak takut kalau harus masuk penjara karena melukai Arlen, tapi Arnold menjaga perasaan Emily. Selama ini Arnold menyakitinya dan Arnold tahu tidak mudah bagi Emily un
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-24
Baca selengkapnya

Bab 96. Bukan Kekasih Pura-pura

Emily berbalik dan memajukan tubuhnya mendekat tanpa melepaskan genggaman tangannya dengan Arlen. "30 menit, kau hanya punya waktu 30 menit!" Emily menatapnya tajam. "Oke, tiga puluh menit. Kita sekaligus makan siang!" Tidak masalah bagi Arnold, yang penting Emily mau berbicara dengannya. Tidak peduli wanita di depannya ini menatap dengan jutaan kebencian, asalkan Emily mau memberinya waktu, Arnold sudah sangat bersyukur. "Aku tidak ma-" "Ayo kita berangkat sekarang!" potong Arnold. Arnold tidak ingin mendengar penolakan kali ini. Diraihnya tangan Emily namun Emily dengan cepat menepisnya. "Aku bisa jalan sendiri!" "Aku yang akan mengantarkan Emily!" Arlen akhirnya buka suara, dia tentu tidak akan membiarkan Emily pergi bersama Arnold. "Tidak perlu, aku suaminya!" gertak Arnold. "Aku kekasihnya!" Tantang Arlen tanpa ada rasa takut sedikitpun. "Sudah, cukup!" Emily merasa malu karena sejak tadi mereka menjadi pusat perhatian beberapa karyawan yang ada di sekitar
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-24
Baca selengkapnya

Bab 97. Keputusan Yang Sulit

Emily mengerjapkan matanya demi memastikan bahwa yang ada di depannya benar-benar Arlen. Dan ya, ini memang Arlen. Dia bersungguh sungguh, tidak sedang bersandiwara. "Arlen!" Emily akhirnya memberanikan diri memanggil namanya. "Ya, Sayang," Arlen mengusap pipi Emily sambil tersenyum manis kepadanya. Wanita mana yang tidak bahagia diperlakukan seperti ini, disayangi dengan sepenuh hati. Tapi bagaimana dengan Emily, apa dia bahagia menerima perlakuan lembut Arlen padanya? Tentu saja dia bahagia namun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam rasa sesak menghimpitnya. Emily menunduk dalam, air matanya mengalir begitu saja tanpa bisa dibendung. "Hei, kenapa kau menangis!" Arlen meraih dagu Emily dan mengangkatnya hingga mata mereka kembali bertemu. "Kenapa kau menangis? Apa yang membuatmu bersedih?" Arlen mengusap kedua pipi Emily dan merangkulnya. Detak jantung Emily mendadak berdebar kencang. Seumur hidupnya, baru kali ini Emily mendapat pelukan hangat dari seorang laki-
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-25
Baca selengkapnya

Bab 98. Sampai Bertemu Di Pengadilan

Mobil yang ditumpangi Arnold sudah memasuki basement parkir SBC. Robert segera memarkirkan mobilnya. Arnold yang duduk di kursi depan bersiap hendak keluar namun baru saja membuka pintu mobilnya, tampak dari jauh, dua orang yang sangat familiar terlihat keluar dari lobby menuju ke arah mereka. Mata Arnold terpaku, dia kembali menutup pintunya dan menatap kedua orang yang semakin dekat. "Emily!" Bahasa tubuh keduanya menyiratkan bahwa mereka berdua nyaman satu sama lain. Arlen sesekali menoleh ke arah Emily sambil tertawa, entah apa yang mereka bicarakan. "Kalau dulu bersaing dengan Arlen bukanlah hal yang sulit untukku, tapi sekarang…." Arnold hanya bisa memendam rasa cemburu yang teramat sangat saat melihat Emily bersama Arlen. CEO SBC itu terlihat sangat perhatian kepada Emily, berbanding terbalik dengan sikap Arnold yang bisanya hanya memberinya rasa sakit. "Anda punya hak untuk membawa Nyonya Emily kembali, Tuan," ucap Robert tegas. "Dengan paksaan? Dia akan sem
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-25
Baca selengkapnya

Bab 99. Lamar Aku Setelah Bercerai

Tanpa basa basi, Arlen langsung ke intinya. Arnold tersenyum, dia sudah menduga bahwa kedatangan Arlen di sini pasti ada hubungannya dengan Emily. "Kalau aku tidak mau melepaskannya, apa kau akan memaksaku?" Arnold menyeringai, Arlen pasti sangat frustasi hingga nekat mendatanginya hanya untuk meminta Arnold melepaskan Emily. "Aku tidak akan memaksamu, aku melakukan ini karena aku tahu Emily tersiksa dengan statusnya. Jadi kalau kau benar-benar mencintainya seperti yang kau bilang, maka lepaskan dia." "Tidak akan!" Arlen menghela nafasnya dalam, dia lantas berdiri sambil mengangguk. "Baiklah, kalau kau tidak mau melepasnya dengan sukarela, maka sampai jumpa di pengadilan!" Arlen berlalu meninggalkan Arnold yang menggeram kesal, bisa-bisanya laki-laki itu mengintimidasinya. "Kau sudah ikut campur terlalu dalam Arlen, aku terima tantanganmu. Kita akan bertemu di pengadilan!" Arlen meninggalkan Maurer Corp dengan rasa kecewa. Dia boleh kalah dan menyerah saat Arnold
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-26
Baca selengkapnya

Bab 100. Jangan Sentuh Istriku!

Arnold setengah berteriak hingga membuat beberapa orang yang ada di lobby melirik ke arahnya. 'Kalau sampai kamu berani menyentuhnya, aku tidak akan tinggal diam!' 'Aduh bagaimana ya, masalahnya aku dan Emily kan pasangan kekasih, jadi tidak mungkin aku tidak melakukan apa-apa padanya, terlebih kami sekarang berduaan di kamar hotel.' Ancaman Arnold nyatanya tidak membuat Arlen takut, dia malah semakin memanas-manasi Arnold. 'Jangan sentuh istriku, aku bisa menuntutmu!' 'Tuntut saja kalau bisa!' Arlen menyeringai sambil membayangkan bagaimana tampang Arnold yang sedang murka. 'Arlen aku pering-' "Sayang, ini minuman yang kamu pesan." Terdengar suara lain di sebelah Arlen, samar tapi Arnold mengenalinya, itu suara Emily, istrinya. "Ah kamu membuatkan ku minuman, apa ini sebagai hadiah untukku karena telah…" Arlen sengaja menggantungkan kalimatnya agar Arnold berpikiran yang tidak-tidak. Ia bahkan dengan sengaja mendesis, seakan terjadi sesuatu pada mereka berdua.
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-26
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
8910111213
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status