All Chapters of Kau Curi Istriku Kunikahi Mantanmu : Chapter 31 - Chapter 40

56 Chapters

Bab 31

31"Dylan nggak rewel, kan, Mbak?" tanya Rinjani sembari mengusap rambut anaknya, yang tengah terlelap dalam gendongan Renata. "Enggak. Cuma merengek pas mau nyusu aja. Selebihnya dia anteng," jelas Dahayu. "Sini, aku yang gendong." "Kamu istirahat aja. Pasti capek jalan bolak-balik di catwalk." "Mbak juga capek gendong dia terus." "Aku, tuh, sudah kebiasaan gendong Alfian. Jadi aneh kalau nggak ada anak kecil di pelukan." Rinjani mengulum senyuman. "Mbak memang Ibu yang sangat baik. Padahal bukan anak kandung, tapi sayangnya luar biasa." "Alfian itu anakku, cuma numpang di rahim almarhumah mamanya," ungkap Dahayu. "Dari masih bayi merah, aku sudah ikut ngasuh dia. Sampai bolak-balik ke Surabaya. Karena memang nggak bisa ngelepas dia dan kedua kakaknya dari pantauanku," lanjutnya. "Habis itu, dipelet papanya," seloroh Mutiara. "Ho oh, tapi Mas Arya nggak mau ngaku," jawab Dahayu. "Dari pertama lihat kalian, aku sudah feeling, suatu saat kalian akan menikah. Alfian, Aldi dan
last updateLast Updated : 2025-03-12
Read more

Bab 32

32Basman tertegun, ketika didatangi Anton, sesaat sebelum membuka pagar rumahnya. Walaupun tidak menyukai pria itu, karena telah menyakiti putrinya, tetapi Basman tetap membiarkan Anton menyalaminya dengan takzim. "Apa kabar, Pak?" tanya Anton setelah menegakkan badan. "Baik," jawab Basman. "Untuk apa kamu ke sini?" tanyanya. "Aku minta izin untuk menemui Ririn." "Dia tidak tinggal di sini. Sudah pindah." "Ke mana?" "Saya sudah berjanji tidak akan memberitahukannya padamu." Anton mengutak-atik layar ponsel dan memperlihatkan hasil tangkapan layar, dari video yang dikirimkan Keisha tadi siang. "Ririn di Jakarta, betul, kan, Pak?" desak Anton sembari memandangi wajah Basman, yang kentara sekali tengah terkejut. Pria tua tersebut tidak menjawab. Dia tetap diam dan balas memerhatikan mantan menantunya itu dengan saksama. "Sekali lagi saya katakan, tidak akan mengungkapkannya padamu!" tegas Basman. "Pak, tolonglah. Aku benar-benar ingin bertemu Ririn," bujuk Anton. "Untuk apa
last updateLast Updated : 2025-03-13
Read more

Bab 33

33Suara Dylan menyambut kedatangan Sebastian awal malam itu. Pria berkaus cokelat muda tersebutmerunduk untuk mengangkat bayi berbaju merah dari ayunan. Dylan memegangi dagu Sebastian yang ditumbuhi janggut pendek. Dia mengamati pria bermata tajam yang sedang berbincang dengan sang mama. Tiba-tiba Dylan menepuk pipi Sebastian yang seketika kaget. Lelaki berambut tebal menunduk, lalu mengecup dahi Dylan. "Dylan mukulnya berasa," tutur Sebastian sembari memegangi tangan sang bayi. "Dia protes, Mas ngomong ke aku," balas Rinjani seraya tersenyum. "Bentar, Nak. Om mau ngerayu mamamu dulu," seloroh Sebastian. "Ngerayu apaan?" "Minggu depan, ada acara PC di Bandung. Gathering, gitu. Zafran minta kamu yang pegang acaranya." Rinjani membulatkan mata. "Aku? Kenapa nggak yang lain aja?" "Dia maunya kamu. Teman-teman lainnya juga ngedukung." "Ehm, Teh Mutiara belum ada ngomong tentang itu ke aku." "Tadi Mas Arkhan pulang duluan, ada meeting penting. Mungkin dia juga telat dapat info
last updateLast Updated : 2025-03-14
Read more

Bab 34

34Hari berganti. Senin siang, Rinjani keluar dari bangunan kantor EO bersama Amy, Santos dan beberapa staf lainnya. Mereka menyusuri jalan sembari berlindung di balik payung, untuk menghindari sinar matahari yang menyengat. Langkah mereka terhenti di deretan toko sisi kanan bangunan kantor. Setelah berdiskusi, akhirnya mereka berpencar untuk memasuki kedai, sesuai dengan selera masing-masing. Rinjani, Amy, Santos, Fina dan Lilis, memilih bersantap di warung makan yang menyediakan soto mi. Mereka menempati kursi dekat meja panjang bagian tengah. "Perasaan, hari ini panas sekali," keluh Fina sembari mengusap dahinya dengan tisu. "Ho oh, sumpek," sahut Amy. "Sumuk," jelas Santos. "Apa artinya, Bang?" tanya Lilis. "Kayak nggak ada angin, gitu. Gerahnya nampol," terang Santos. "Abang, teh, aslinya orang mana?" "Sudah nggak jelas silsilahnya. Campuran, gitu," ungkap Santos. "Bapakku, orang tuanya dari Pemalang dan Jepara. Ibuku, Bogor dan Betawi," lanjutnya. "Bogornya di mana?"
last updateLast Updated : 2025-03-15
Read more

Bab 35

35"Apa kabar, Rin?" tanya Anton. Dia sangat ingin memeluk Rinjani, tetapi ditahannya. "Kabarku?" Rinjani balik bertanya. "Menurut Mas, gimana?" desaknya sembari berusaha menenangkan degup jantungnya yang menggila. Anton tertegun. Pada awalnya dia mengira Rinjani akan bersikap ketus. Namun, ternyata tidak. Perempuan tersebut tampak tenang dan meladeninya dengan santai. "Kamu terlihat sehat," papar Anton. "Ya. Teramat sangat sehat. Karena aku hidup bahagia," jawab Rinjani. Anton memaksakan senyuman. Dia tahu bila Rinjani tengah menyindir. Namun, Anton akan mengabaikan hal itu dan tetap fokus pada tujuannya. "Syukurlah. Aku senang kalau kamu sehat," cetus Anton. "Ehm, ini rumahmu?" tanyanya sambil memerhatikan sekeliling. "Bukan, ini rumah bosku," terang Rinjani."Bu Mutiara?" "Ya." "Ini perumahan yang bagus." "Bagaimana Mas bisa menemukanku?" "Aku ...." "Mas membuntutiku dari kantor, kan?" "Rin, aku bisa jelasin." "Bisa nggak? Jangan ganggu aku!" Anton tertegun sesaat. "
last updateLast Updated : 2025-03-15
Read more

Bab 36

36Malam itu, kediaman Sebastian tampak ramai. Rekan-rekannya di PC dan PCD, datang bersama ajudan masing-masing. Mereka juga membawa banyak buah tangan, hingga meja depan dan tengah jadi penuh hidangan. Ida dan Wati mengemasi kamar tamu di samping kiri rumah. Mereka juga merapikan beberapa setelan pakaian Dylan dan perlengkapan bayi yang baru dibeli. Selain itu, kursi getar yang memang belum dibuka dari bungkusnya, juga dipindahkan ke kamar itu.Setiap Rinjani bekerja, maka Dylan akan tinggal di rumah Sebastian bersama Latifah. Hal itu diusulkan Wirya, supaya menghindari bayi tersebut didatangi Anton secara tiba-tiba. "Kamu harus nyiapin mobil buat Rinjani, Tian," tutur Wirya. "Aku pernah nawarin, tapi dia nolak," balas Sebastian. "Enggak perlu ditawarkan, langsung belikan," timpal Hendri. "Betul. Kalau barangnya sudah ada, dia nggak bisa nolak," sela Zein. "Kayak Mas Ben dulu. Falea sudah bilang, maunya mobil biasa. Ehh, datangnya yang harga 500 jutaan. Akhirnya dipakai juga s
last updateLast Updated : 2025-03-16
Read more

Bab 37

37Mardani mengetuk pintu ruang kerja bosnya, sebelum membuka gagangnya dan mendorong pintu hingga terbuka lebar. Anton memerhatikan sang asisten yang tengah menghampirinya bersama seorang pria berbadan tegap. Anton berdiri dan mengarahkan tangan kanan ke sofa, untuk mempersilakan kedua orang tersebut duduk di sana. Mardani menerangkan jika pria berkemeja hijau tua itu adalah detektif swasta, yang disarankan temannya. Kemudian Mardani berdiri dan jalan keluar ruangan sambil menutup pintunya dengan pelan. "Deswin Lavanaa. Nama yang unik," cakap Anton. "Yang belakang, itu gabungan nama kedua orang tua saya, Pak," terang Deswin. "Semua saudara saya nama belakangnya sama," lanjutnya. "Itu ide bagus. Orang akan mengira jika itu adalah nama keluarga." "Betul." "Oke, sekarang terangkan tentang dirimu." "Saya, anak pertama dari empat bersaudara. Tiga laki-laki dan yang bungsu, perempuan. Saya di sini ngekos bareng teman," cetus Deswin. "Setelah menyelesaikan kuliah, saya melamar kerj
last updateLast Updated : 2025-03-17
Read more

Bab 38

38Wirya mendengarkan penjelasan Deswin yang berada di kursi seberang. Sang direktur utama PBK merasa senang, karena salah satu orang kepercayaannya telah berhasil mengelabui Anton. Setelahnya, mereka berdiskusi untuk menentukan tahap selanjutnya. Zulfi turut menyumbangkan ide cerita karangan, tentang Sebastian dan Rinjani, yang akan dilaporkan Deswin pada Anton. Tidak berselang lama, Alvaro memasuki ruang kerja Wirya, bersama Yanuar. Keduanya duduk di dua kursi kosong dan turut mendengarkan percakapan ketiga pria tersebut. "Gimana ceritanya Deswin bisa nyamar sebagai detektif swasta?" tanya Alvaro, sesaat setelah Wirya dan kedua rekannya usai berbincang. "Mardani, asistennya Anton, nanya-nanya tentang itu ke Chris. Mungkin Mardani sudah bingung mau nyari detektif ke mana," ujar Wirya. "Kebetulan, dia ketemu Chris di tempat rapat dan Mardani langsung nanya itu," lanjutnya. "Chris nelepon aku dua malam yang lalu. Aku mikir siapa yang bisa nyelip, lalu ingat Deswin yang baru beres
last updateLast Updated : 2025-03-18
Read more

Bab 39

39Pagi harinya, semua anggota rombongan berkumpul di taman terbesar di area hotel BSHB. Rinjani, Fikri dan Khairani menaiki panggung untuk memulai acara gathering PC dan PCD. Kendatipun tidak semuanya hadir, tetapi yang ada jumlahnya sudah ratusan. Sebab anggota PC yang datang mencapai 80 orang. Sedangkan tim PCD diwakili 30 orang dari empat grup yang telah terbentuk. Jumlah tersebut ditambahkan dengan pasangan masing-masing beserta anak dan para asisten. Hingga totalnya menjadi lebih dari 200 orang. Termasuk tim PBK muda dan anggota PG yang menjadi panitia. Fikri memulai acara dengan salam yang disahut hadirin dengan ucapan serupa. Kemudian Zafran, direktur PC, dan Andri, direktur PCD, menaiki panggung untuk menyampaikan pidato singkat. Setelahnya, Haikal memimpin doa yang diikuti khalayak dengan khusyuk. Hati Sebastian tergetar saat mendengar lantunan doa dari Haikal yang suaranya cukup merdu. Sebastian memandangi pria berbadan tinggi besar yang berdiri di tepi kanan panggung.
last updateLast Updated : 2025-03-19
Read more

Bab 40

40"Zein, posemu kaysk Tugu Khatulistiwa," goda Alvaro. "Menurut gue, lebih mirip Menara Pisa," sahut Yanuar. "Kalau yang itu, tangannya nyuncung ke atas. Ini, kan, Zein kayak tengah meluk pohon beringin," kilah Alvaro. "Bukan beringin, Bang bule. Tapi kuntilanak." "Pasti cantik itu kuntinya. Zein meluk nggak dilepasin." "Heh! Buruan, Borokokok!" desis Zein."Jangan ngomel. Kamu jadi mirip Divia kalau ngedumel gitu," kelakar Yanuar. "Yan, kita pindah ke orang luar negeri," ajak Alvaro sembari bergeser ke ujung kanan. "Ko, itu gaya apa?" tanyanya sambil memerhatikan To Mu. "Sepertinya Koko sedang berpose ala Bruce Lee," jawab Yanuar. "Bukan Jet Lee?" tanya Alvaro. "Mungkin lebih tepatnya, mirip Wong Fei Hung." "Elu nyebut itu, gue jadi ingat Bibi Fei Yung." "Cantik kagak, Bang?" "Yoih. Mukanya agak mirip Priscilia. Ya, kan, Ko?" "Benar. Tapi, Var, ini kapan selesainya? Pinggangku pegal," keluh To Mu. "Tahan bentar lagi, Ko. Kami mau menanyai HAPD dulu." Alvaro menarik tan
last updateLast Updated : 2025-03-20
Read more
PREV
123456
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status