All Chapters of Menjadi Ibu Susu Bayi Kembar CEO: Chapter 51 - Chapter 60

95 Chapters

Sebuah Perhatian

Ayu menoleh, alisnya bertaut. "Salah paham kenapa, Pak?"Baim menghela napas, jemarinya menggenggam kemudi lebih erat. "Waktu kejadian di hotel. Aku pikir kamu—" ia ragu sejenak, "—wanita nakal. Tapi, kenapa kamu diam saja waktu itu?"Ayu tertawa kecil, tapi bukan karena lucu. Lebih seperti tawa yang tertahan di tenggorokan, sarat dengan sesuatu yang tak terucap. "Karena saya sangat bahagia," katanya akhirnya. "Jadi saya nggak mampu menjelaskan apa pun."Baim menoleh sekilas, matanya menyipit, bingung. "Bahagia? Di tengah kejadian itu?"Ayu mengangguk pelan, jemarinya saling meremas di pangkuannya. "Hari itu, mungkin adalah hari terburuk dalam hidup saya. Tapi, Bapak adalah orang pertama yang mengkhawatirkan saya dengan tulus."Mereka saling berpandangan. Sejenak, dunia luar terasa menghilang. Mata Ayu menelusuri wajah Baim—garis rahangnya yang tega
last updateLast Updated : 2025-03-15
Read more

Desiran Hangat

Ayu membeku. Seketika, dadanya berdesir tanpa bisa ia kendalikan. Ia tak tahu apa yang membuatnya begitu gugup, tapi tatapan Baim terasa berbeda—hangat, dalam, dan entah kenapa, menelusup hingga ke relung hatinya.Tanpa berpikir panjang, ia spontan berdiri, berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Ayo, Pak! Kita pulang. Saya sudah nggak sabar bertemu si kembar."Baim tersenyum tipis, menangkap kegelisahan Ayu, tapi tak berkomentar. Ia hanya menarik napas panjang, lalu mengangguk. "Baiklah."Mereka kembali ke mobil. Selama perjalanan, tak banyak kata yang terucap. Hanya suara kendaraan yang berlalu lalang dan gemerisik dedaunan yang tertiup angin.Ayu bersandar di kursi, matanya mulai sayu. Kelelahan akhirnya menyergapnya setelah seharian melalui begitu banyak emosi.Tak lama, napasnya melambat. Matanya terpejam.Baim menoleh sekilas. Ia terse
last updateLast Updated : 2025-03-15
Read more

Melepas Rindu

"Apakah mereka sudah tidur?" tanya Baim."Belum, Pak. Mereka harus menyusu. Pengasuh Kandi sedang mengambil stok ASIP di kulkas," jawab perempuan itu dengan sopan.Baim mengangguk, lalu berkata tegas, "Bilang padanya nggak usah. Mulai hari ini, si kembar akan disusui langsung oleh ibu susunya." Ia menoleh ke Ayu, lalu memperkenalkannya. "Kenalkan, namanya Ayu."Ayu tersenyum dan melangkah maju. Ia meraih tangan perempuan itu, menggenggamnya dengan hangat. "Halo Mbak, saya Ayu," sapanya lembut.Perempuan itu membalas senyumannya. "Iya, Mbak. Saya Fatma, pengasuh Juna. Kalau yang sedang ambil ASIP namanya Sari, pengasuh Kandi."Ayu mengangguk pelan, menyimpan informasi itu dalam ingatannya. Matanya beralih ke dua boks bayi yang berayun pelan, lalu berbisik, "Jadi... nama mereka adalah Juna dan Kandi ?""Oh iya, aku lupa bilang," jawab Baim sambil m
last updateLast Updated : 2025-03-16
Read more

Rumah Yang Sepi

Ayu menyeka pipinya dengan punggung tangan, lalu terkekeh pelan. "Saya cuma senang banget bisa ketemu mereka lagi, Mbak."Fatma tersenyum, ikut merasakan ketulusan yang terpancar dari Ayu. "Saya juga sangat senang. Akhirnya, si kembar menemukan ibu susu tetap." Ia menatap Arjuna yang masih nyaman menyusu."Selama ini, Pak Baim selalu sibuk mencari ASIP untuk mereka."Ayu mengangguk pelan, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Meski luas dan mewah, ada sesuatu yang terasa hampa di dalamnya. Sepi."Kalau boleh tahu... kenapa rumah sebesar ini sepi banget, Mbak?" tanyanya hati-hati.Fatma menoleh, lalu menghela napas pelan. "Itu karena memang gak ada orang, Mbak. Yang tinggal di sini cuma Pak Baim dan si kembar."Ayu mengernyit. "Apa Mbak Fatma tahu di mana ibu mereka?"Fatma menelan ludah, ragu sejenak sebelum menggeleng. "Saya nggak tahu, Mbak. Saya juga gak berani tanya," ujarnya dengan suara pelan, lalu menyeringai kecil. "K
last updateLast Updated : 2025-03-16
Read more

Karyawan Istimewa

Ayu menatapnya sejenak, lalu mengangguk. "Iya, Mbak Sari. Saya turun dulu, ya."Sari membalas dengan anggukan, sementara tangannya terus menepuk pelan punggung Srikandi yang mulai menggumam pelan.Tanpa menunggu lebih lama, Ayu dan Fatma melangkah menuju lift, derap kaki mereka berpadu dengan suara halus pendingin ruangan yang berdengung di latar belakang.Fatma menekan tombol panah ke bawah, jarinya menempel sesaat sebelum ia menunjuk ke arahnya. "Kalau mau turun, kamu pencet yang ini ya, Yu."Ayu mengangguk, memperhatikan deretan tombol di panel lift."Rumah ini ada tiga lantai," lanjut Fatma. "Kamar si kembar ada di lantai tiga, paling atas. Kamar aku dan Sari juga di sana, biar lebih gampang kalau mereka butuh sesuatu."Sebuah bunyi lembut terdengar, lalu pintu lift terbuka. Ayu melangkah masuk bersama Fatma, matanya menyapu ruangan kecil den
last updateLast Updated : 2025-03-16
Read more

Gaji Fantastis

Ayu terperanjat. "Ih, Mbak Fatma ada-ada saja. Pak Baim kan sudah punya istri.""Tapi istrinya nggak pernah ada buat dia," Fatma menghela napas, suaranya terdengar lebih serius. "Kasihan, loh. Pak Baim selalu sendirian. Apalagi dia juga anak yatim, nggak punya keluarga. Makanya, dia sangat baik sama kita. Dia menganggap kita semua keluarganya."Ayu mengangguk, bibirnya melengkung dalam senyum kecil. "Saya sudah mengira, Pak Baim orang baik."Fatma menatapnya lekat-lekat. "Apa kamu pernah bertemu dengan Bapak sebelumnya?"Ayu menelan ludah. Ada bayangan kelam yang seketika muncul di benaknya. "Iya," suaranya terdengar lebih pelan. "Dia menolong saya... saat hampir diperkosa oleh pria tua."Fatma terbelalak, napasnya tercekat. "Astaghfirullah... Ayu."Ayu menunduk, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Andai waktu itu Pak Baim nggak membuka pintu l
last updateLast Updated : 2025-03-17
Read more

Sebuah Kesepakatan

Ayu menggeleng cepat. "Nggak, Pak. Nggak sama sekali." Suaranya sedikit bergetar. Ia menunduk, menatap angka itu lagi seolah takut angka tersebut akan berubah jika ia berkedip."Ini justru terlalu banyak. Saya..." Ayu menarik napas, mencoba meredakan gejolak di dadanya. "Sebenarnya, saya jadi sedih. Karena dengan menerima gaji sebesar ini, saya merasa seperti menjual ASI saya. Padahal, saya sangat menyayangi mereka seperti anak saya sendiri."Baim menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil—senyum yang entah kenapa terasa begitu tulus hingga membuat Ayu sedikit lebih tenang."Aku sangat berterima kasih soal itu," katanya, suaranya lebih lembut dari sebelumnya. "Tapi memberi gaji adalah kewajiban aku, Yu. Ini bukan soal membeli atau menjual kasih sayang. Ini soal menghargai peranmu."Ayu menunduk, jemarinya menggenggam ujung kertas. Meskipun kata-kata Baim terdengar masuk akal, ada
last updateLast Updated : 2025-03-17
Read more

Nasib Yang Sama

"Sudah, Pak Baim," jawab suara di ujung sana. "Semua dekorasi sesuai dengan yang Bapak minta."Baim mengangguk kecil meski lawan bicaranya tak bisa melihatnya. "Baik, bagus. Sekarang tolong ke ruang kerja, antar Ayu ke kamarnya.""Baik, Pak."Ia meletakkan telepon dengan gerakan santai, lalu kembali menoleh ke Ayu. Kali ini, ekspresinya lebih lembut. Ia melangkah kembali ke sofa, duduk di sampingnya dengan tubuh sedikit condong ke depan, seolah ingin memastikan Ayu merasa nyaman."Asisten rumah tangga akan segera ke sini untuk mengantarmu ke kamar," kata Baim, suaranya terdengar datar, tapi ada sesuatu di matanya—seperti ingin memastikan Ayu merasa nyaman. "Kamarmu ada di lantai ini. Karena kamar asisten sudah penuh, jadi kamu menempati kamar tamu. Itu juga supaya kamu lebih mudah menuju kamar bayi."Ayu hanya mengangguk pelan. Jemarinya meremas ujung bajunya, seakan masih mencoba memahami perubahan besar dalam hidupnya.Baim memperhat
last updateLast Updated : 2025-03-17
Read more

Fasilitas Mewah

Ayu membuka mulutnya, hendak berkata sesuatu, tapi sebelum sempat menjawab—Tok tok...Suara ketukan pintu memecah keheningan di antara mereka.Ayu buru-buru mengusap sisa air mata di pipinya, sementara Baim menoleh ke arah pintu, ekspresinya kembali terkendali."Masuk." Suara Baim terdengar tenang, tapi ada sedikit perubahan dalam nada bicaranya—seolah ia butuh waktu untuk mengalihkan pikirannya dari percakapan barusan.Pintu terbuka pelan. Seorang wanita paruh baya melangkah masuk dengan langkah mantap, wajahnya memancarkan ketenangan seorang yang sudah lama mengabdi. "Saya mau antar Mbak Ayu, Pak," katanya dengan suara ramah.Baim mengangguk sebelum menoleh ke Ayu. "Ayu, ini Mak Ti. Dia asisten senior di rumah ini. Sudah kuanggap seperti ibuku sendiri." Ia menatap wanita itu dengan penuh hormat. "Aku bahkan nggak pernah panggil namanya. Semua orang di sini menyebutnya Mak Ti."Ayu segera berdiri, lalu meraih tangan Mak
last updateLast Updated : 2025-03-18
Read more

Debaran Tanpa Henti

Mak Ti yang sejak tadi berdiri di ambang pintu tersenyum. "Pak Baim yang minta. Dia bilang, Nak Ayu suka warna pink, jadi dia suruh Mak dekorasi kamar ini seperti ini. Dia juga meminta Mak menyiapkan perlengkapan make-up dan baju-baju itu."Ayu terdiam. Ada sesuatu di dadanya yang terasa menghangat, sekaligus bergetar."Dia ingat warna favoritku?" batinnya. "Kenapa perhatian sekali?"Tangannya perlahan menyentuh dadanya sendiri, merasakan detak jantungnya yang mulai berdegup lebih cepat."Ya Allah... Kenapa aku deg-degan lagi?"Ayu menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan hatinya. Tapi pikirannya justru kembali ke perjanjian itu-poin delapan.'Dilarang terlibat emosi antara pemberi dan penerima kontrak.'Ia menutup matanya sejenak, menggigit bibir, berusaha mengusir perasaan aneh yang mulai merayapi ben
last updateLast Updated : 2025-03-18
Read more
PREV
1
...
45678
...
10
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status