บททั้งหมดของ Menjadi Ibu Susu Bayi Kembar CEO: บทที่ 31 - บทที่ 40

94

Sang Penyelamat

Pria itu tertawa kecil, nada suaranya terdengar geli. "Hahaha… Kamu tidak sedang pura-pura polos, kan?"Ayu mengerjap, matanya bergerak gelisah ke kanan dan kiri. "Sa-saya, maksud saya…"Pria itu tiba-tiba mencondongkan tubuhnya, wajahnya kini hanya beberapa inci dari Ayu. Aroma parfum maskulin bercampur alkohol menusuk hidungnya."Kamu seorang profesional, bukan?" suaranya merendah, nyaris seperti bisikan.Tenggorokan Ayu tercekat. "I-iya, saya profesional, Tuan. Saya bisa mencuci baju, membersihkan rumah, saya juga bisa memasak."Pria itu tertawa lagi, kali ini lebih keras. "Apa menurutmu seragam itu bisa dipakai untuk bersih-bersih rumah?"Ayu menunduk, tangannya kembali menjembreng pakaian itu. Cahaya lampu membuat kainnya tampak semakin transparan.Darahnya berdesir. Mulutnya terasa pahit. Ayu yakin ada yang sangat salah di sini. Ia meneliti pakaian di tangannya.Kain itu sangat tipis, dengan corak totol hi
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-08
อ่านเพิ่มเติม

Berdebar

"Ada apa, Mbak?" tanya Baim, alisnya berkerut, tatapannya tajam menelusuri wajah Ayu yang pucat. Tapi sebelum Ayu bisa menjawab, suara langkah kasar mendekat. Sosok pria tua itu muncul di ambang lift, napasnya memburu, wajahnya merah padam seperti bara yang siap meledak. "Sini! Ayo kembali bersamaku!" desisnya dengan suara berat, penuh tekanan. Baim melangkah keluar, tubuhnya tegak, berdiri di antara Ayu dan pria itu. Matanya menatap tajam, membaca situasi dengan cepat. "Tunggu. Ini ada apa?" Pria tua itu menyeringai, matanya menyipit. "Wanita itu! Berikan dia padaku!" suaranya tajam, tak sabar. Ayu mundur, tubuhnya meringkuk di belakang Baim. Kepalanya menggeleng kuat-kuat, air mata menggenang di sudut matanya. "Nggak… nggak… Saya nggak mau, Pak. Tolong, jangan berikan saya padanya," suara Ayu bergetar, hampir tak terdengar. Baim mengangkat satu tangan, menghentikan pria tua itu mendekat leb
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-09
อ่านเพิ่มเติม

Salah Paham

Ayu masih menunduk, tapi perlahan, ia mengangkat wajahnya. Tatapannya bertemu dengan mata Baim, dan saat itu juga, sesuatu bergetar di dadanya. Pria ini… bukan orang asing.Seketika, ia menunduk lagi, enggan membiarkan perasaan aneh itu muncul.Baim mengangkat alis. "Benar, bukan? Kita pernah beberapa kali bertemu di rumah sakit."Ayu menggeleng kecil. "Nggak, Pak. Itu hanya sekali."Senyum kecil tersungging di sudut bibir Baim. "Ya, karena pertemuan kedua, kamu nggak mau melihatku. Kamu fokus berjalan menuju ruang kandungan."Kalimat itu seperti petir yang menyambar udara. Suasana hening sejenak. Baim tampak berpikir, lalu tiba-tiba raut wajahnya berubah."Oh ya," katanya lebih pelan, seolah baru menyadari sesuatu. "Apa yang waktu itu kamu lakukan di ruang kandungan? Bukankah kamu masih di bawah umur?"Ayu tersentak.
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-09
อ่านเพิ่มเติม

Belum Berakhir

Baim menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi."Sudahlah. Semoga nanti dia memilih jalan yang lebih baik. Anak zaman sekarang benar-benar mengkhawatirkan," gumamnya pelan.Namun, meski ia berusaha menepisnya, ada perasaan aneh yang mengendap di dadanya. Entah kenapa, ia merasa ini bukanlah pertemuan terakhirnya dengan gadis itu.Setelah mendapat jamuan mewah di hotel Baim, Ayu melangkah keluar dengan langkah berat. Aroma parfum mahal masih samar di bajunya, tetapi tak ada lagi yang bisa ia nikmati. Yoga membukakan pintu taksi untuknya."Pak, turunkan saya di area pertokoan," katanya lirih.Supir taksi mengangguk. Ayu menatap kosong ke luar jendela sepanjang perjalanan. Gedung-gedung tinggi berkelebat, jendelanya menyilaukan di bawah terik matahari. Di kaca, ia melihat bayangannya sendiri—mata lelah, wajah kusut, bibir terkatup rapat.Taksi berhenti di kawasan pertokoan Kebayoran Baru. Ayu menarik napas dalam, menggen
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-09
อ่านเพิ่มเติม

Hati Yang Tersayat

Petugas itu mengecek data di komputernya. "Jika menuju alamat yang tertera di sini, satu juta lima ratus, Bu."Jantung Ayu mencelos.Tiga ratus ribu rupiah. Itu semua yang ia punya sekarang.Tangannya yang menggenggam uang mengepal lebih erat, seolah mencoba menciptakan keajaiban agar jumlahnya bertambah. Tapi tetap sama.Ia menundukkan kepala, kelopak matanya terasa panas. Dadanya naik-turun tak beraturan, lalu—air matanya jatuh.Tanpa suara, tanpa isakan. Hanya tetesan yang mengalir begitu saja, membasahi pipinya.Tangan kirinya naik ke dahi, memijit pelan bagian yang terasa berdenyut. Lelah. Kosong.Ia menghapus air matanya cepat, lalu mengangkat wajah dengan sisa keberanian yang ia punya. "Saya bawa sendiri saja, Pak," suaranya lirih, nyaris tak terdengar.Petugas menatapnya sejenak, seperti ing
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-10
อ่านเพิ่มเติม

Topeng Duka

"Apa yang Anda rasakan ketika mengetahui anak Anda meninggal karena sesuatu yang sebenarnya bisa dihindari?""Ada yang mengatakan Anda sengaja membiarkan keadaan ini terjadi. Bagaimana Anda membuktikan bahwa Anda bukan ibu yang lalai?""Jika bisa mengulang waktu, apa yang akan Anda lakukan berbeda? Atau Anda memang sejak awal tidak siap menjadi seorang ibu?"Pertanyaan dari wartawan itu menekan Ayu secara emosional. Namun ia memilih untuk mengabaikannya.Ayu mengeratkan pelukannya pada jenazah Bintang. Tubuh mungil itu terasa semakin ringan di dekapannya, seolah angin bisa saja menerbangkannya kapan saja. Kakinya gemetar, bukan hanya karena lelah, tapi juga karena amarah yang mulai berdesir di dadanya.Dari mana mereka tahu? Dari mana datangnya semua orang ini? Keluarga Jaka bahkan tak peduli. Tidak ada seorang pun di rumah sakit, tidak ada yang menanyakan keadaannya. Tapi sekarang, di sini, mereka berkumpul seolah mereka peduli.Langkahnya
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-10
อ่านเพิ่มเติม

Awal Keberanian

"Tapi jangan harap, aku akan melupakan apa yang Kak Rani lakukan padaku."Maharani membelalakkan mata, napasnya tersengal. Tangannya terangkat, jemarinya menegang, nyaris menghantam Ayu. Namun, sebelum pukulan itu melayang, Narendra mencengkeram pergelangan tangannya."Jaga sikapmu, sayang." Suaranya rendah, tapi tegas. "Di sini banyak orang."Maharani membeku. Rahangnya mengeras, matanya berkilat marah, tetapi hanya sekejap. Bibirnya sedikit bergetar sebelum akhirnya ia menarik napas dalam, menurunkan tangannya dengan gerakan terkendali. Seketika, wajahnya kembali seperti semula—tenang, nyaris tanpa cela, seolah ledakan amarah tadi tak pernah ada.Di sudut lain, Sambo menghela napas panjang, lalu berkata cukup lantang, seolah ingin semua orang mendengar, "Jangan terlalu keras pada mereka, Ayu. Kita semua sangat kehilangan hari ini."Ayu berbalik, menatap ayah mertuanya itu."Kita?" tanyanya, dengan nada suara yang nyaris terdengar sep
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-10
อ่านเพิ่มเติม

Drama Di Pemakaman

"Ini terlalu menyakitkan... terlalu menyakitkan." sahut Hayati, sesenggukan.Namun Ayu hanya berdiri diam. Gamis sederhana yang ia kenakan berkibar pelan ditiup angin. Wajahnya kosong, seakan semua rasa sudah habis terkuras bersama kepergian Bintang. Tidak ada air mata. Tidak ada lagi isakan.Tatapannya beralih ke gundukan tanah merah di hadapannya. Jemarinya meremas kain rok yang ia kenakan. Bintang kini telah pergi, dan tak ada yang bisa mengubah itu. Apapun yang keluarga Jaka lakukan hari ini, semua hanya tampak seperti panggung sandiwara di matanya.Setelah pemakaman usai, para pelayat satu persatu meninggalkan area pemakaman.Jaka menelan ludah, matanya terasa perih oleh cairan yang baru saja diteteskan ibunya. Namun, ia tahu betul bahwa ini bukan waktu untuk mengeluh. Kamera wartawan masih terus mengawasi dia dan keluarganya, menunggu momen kesedihan yang bisa dijadikan berita utama.Kini ia mendekati Ayu, agar terlihat seperti suami yang san
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-11
อ่านเพิ่มเติม

Di Balik Kabar Baik

"Hidupku sudah nggak ada artinya lagi. Bukankah itu justru menguntungkan kalian? Bisa pasang muka sedih, memancing simpati, dan jadi pusat perhatian. Semakin banyak yang terharu, semakin terhormat, bukan?"Maharani tersentak. Sorot matanya membara, napasnya memburu. Dengan gerakan cepat, ia meraih tas barunya—kulit asli, berlogo mahal—dan mengangkatnya tinggi, siap menghantam Ayu. "Kurang ajar kamu, ya!"Ayu tidak mundur. Tatapannya tajam, menusuk. Bibirnya melengkung sinis. "Itu tas yang Kakak beli setelah menjual aku kemarin, kan?"Gerakan Rani terhenti di udara. Matanya berkedip cepat. Jemarinya mencengkeram tas itu, lalu buru-buru ia sembunyikan di belakang tubuhnya, seolah bisa menghapus jejak dosa yang melekat padanya. "Menjual? Apa maksudmu?" suaranya bergetar, nyaris gugup.Hening sejenak. Semua mata tertuju padanya—termasuk Narendra. Pria itu menyipitkan mata, meneliti wajah Rani. "Sayang... apa yang dibilang barusan?"Ra
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-11
อ่านเพิ่มเติม

Gelisah Tak Bertepi

Baim mengusap wajahnya, pikirannya kembali kalut. "Jadi, saya harus mencari ibu susu baru?""Itu pilihan terbaik, Pak. Jika Anda bisa mencari ibu susu secara mandiri, kebutuhan ASI si kembar bisa tercukupi lebih baik."Baim mengangguk pelan. Wajahnya kembali dipenuhi kecemasan yang lain. Satu masalah selesai, tapi masalah baru selalu muncul. "Baik, Dok, saya akan mencari ibu susu untuk mereka secepatnya.""Kami juga akan membantu mencarikan dari sini," kata dokter menenangkan."Terima kasih, Dok," ucap Baim, suaranya sedikit melemah.Tak lama kemudian, dokter menyerahkan kedua bayi mungil itu kepadanya. Dengan hati-hati, Baim meletakkan mereka di kereta dorong bersusun. Kedua bayi itu tertidur lelap, wajah mereka begitu damai.Menghela napas panjang, Baim mulai mendorong kereta itu menuju area drop-off.Untuk pertama kalinya sejak bayi itu lahir, ia benar-benar membawa anak-anaknya pulang. Tapi entah kenapa, dadanya terasa semakin ber
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-11
อ่านเพิ่มเติม
ก่อนหน้า
123456
...
10
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status