"Halo, Mas Baim?"Baim refleks berdiri dari kursinya, langkahnya gelisah. Ia melambaikan tangan ke arah Pak Yoga, memberi isyarat agar pria itu pergi. Setelah memastikan dirinya sendirian, ia kembali menempelkan ponsel ke telinga."Laura, bagaimana kabarmu?""Aku—aku tidak baik-baik saja, Mas." Suara Laura terdengar patah. "Bagaimana dengan anak kita? Bagaimana keadaannya?"Baim menutup matanya sejenak, menarik napas dalam, lalu mengembuskannya berat. "Buruk, Laura! Mereka butuh kamu. Tidak bisakah kamu pulang?""Mas, aku ingin pulang. Aku—"Tut... Tut...Nada putus itu menggema di telinganya."Laura... Halo? Laura?"Baim menatap layar, panggilan terputus. Jemarinya mengepal erat ponsel, rahangnya mengatup.Bayangan masa lalu menyeruak. Wajah Laura, senyumnya saat menggendong bayi mereka untuk pertama kali—lalu, hilang begitu saja. Tanpa kabar. Tanpa pesan. Ponselnya tak pernah bisa dihubungi. Hingga beberapa waktu lalu, sebuah pesan datang."Aku di Jerman." Itu saja. Setelah itu,
Last Updated : 2025-03-02 Read more