"Ini terlalu menyakitkan... terlalu menyakitkan." sahut Hayati, sesenggukan.
Namun Ayu hanya berdiri diam. Gamis sederhana yang ia kenakan berkibar pelan ditiup angin. Wajahnya kosong, seakan semua rasa sudah habis terkuras bersama kepergian Bintang. Tidak ada air mata. Tidak ada lagi isakan.
Tatapannya beralih ke gundukan tanah merah di hadapannya. Jemarinya meremas kain rok yang ia kenakan. Bintang kini telah pergi, dan tak ada yang bisa mengubah itu. Apapun yang keluarga Jaka lakukan hari ini, semua hanya tampak seperti panggung sandiwara di matanya.
Setelah pemakaman usai, para pelayat satu persatu meninggalkan area pemakaman.
Jaka menelan ludah, matanya terasa perih oleh cairan yang baru saja diteteskan ibunya. Namun, ia tahu betul bahwa ini bukan waktu untuk mengeluh. Kamera wartawan masih terus mengawasi dia dan keluarganya, menunggu momen kesedihan yang bisa dijadikan berita utama.
Kini ia mendekati Ayu, agar terlihat seperti suami yang san
"Hidupku sudah nggak ada artinya lagi. Bukankah itu justru menguntungkan kalian? Bisa pasang muka sedih, memancing simpati, dan jadi pusat perhatian. Semakin banyak yang terharu, semakin terhormat, bukan?"Maharani tersentak. Sorot matanya membara, napasnya memburu. Dengan gerakan cepat, ia meraih tas barunya—kulit asli, berlogo mahal—dan mengangkatnya tinggi, siap menghantam Ayu. "Kurang ajar kamu, ya!"Ayu tidak mundur. Tatapannya tajam, menusuk. Bibirnya melengkung sinis. "Itu tas yang Kakak beli setelah menjual aku kemarin, kan?"Gerakan Rani terhenti di udara. Matanya berkedip cepat. Jemarinya mencengkeram tas itu, lalu buru-buru ia sembunyikan di belakang tubuhnya, seolah bisa menghapus jejak dosa yang melekat padanya. "Menjual? Apa maksudmu?" suaranya bergetar, nyaris gugup.Hening sejenak. Semua mata tertuju padanya—termasuk Narendra. Pria itu menyipitkan mata, meneliti wajah Rani. "Sayang... apa yang dibilang barusan?"Ra
Baim mengusap wajahnya, pikirannya kembali kalut. "Jadi, saya harus mencari ibu susu baru?""Itu pilihan terbaik, Pak. Jika Anda bisa mencari ibu susu secara mandiri, kebutuhan ASI si kembar bisa tercukupi lebih baik."Baim mengangguk pelan. Wajahnya kembali dipenuhi kecemasan yang lain. Satu masalah selesai, tapi masalah baru selalu muncul. "Baik, Dok, saya akan mencari ibu susu untuk mereka secepatnya.""Kami juga akan membantu mencarikan dari sini," kata dokter menenangkan."Terima kasih, Dok," ucap Baim, suaranya sedikit melemah.Tak lama kemudian, dokter menyerahkan kedua bayi mungil itu kepadanya. Dengan hati-hati, Baim meletakkan mereka di kereta dorong bersusun. Kedua bayi itu tertidur lelap, wajah mereka begitu damai.Menghela napas panjang, Baim mulai mendorong kereta itu menuju area drop-off.Untuk pertama kalinya sejak bayi itu lahir, ia benar-benar membawa anak-anaknya pulang. Tapi entah kenapa, dadanya terasa semakin ber
"Kamu sudah bahagia, kan? Ibu senang kamu nggak perlu merasakan zalimnya keluarga ayahmu. Ibu senang kamu sudah tinggal di tempat yang nyaman di sana."Ia merebahkan tubuhnya di atas tanah, membiarkan dinginnya meresap ke kulitnya. Tangannya masih mengelus nisan Bintang, seakan berharap bisa merasakan denyut kehidupan yang telah pergi."Nak… Ibu rindu. Ibu kesepian di dunia ini. Bisakah kamu mengajak Ibu ke sana?"Matanya terpejam, air matanya jatuh tanpa suara, membasahi pipinya yang pucat. Di tempat ini, di bawah langit yang perlahan menggelap, Ayu merasa dirinya bukan siapa-siapa. Hidupnya terasa begitu hampa, seolah ia hanya bayangan yang tersisa dari masa lalu.Setelah lama terisak dalam sunyi, Ayu menggerakkan tangannya ke dalam tas lusuh yang ia bawa. Ditariknya sebotol kecil ASIP yang hanya berisi tak lebih dari 15 ml. Tangannya gemetar saat menatap cairan bening itu.
"Namanya Nindi. Putri ketua Partai Maju Bersama." Hayati memperkenalkan wanita itu dengan bangga.Ayu menatap Jaka, lalu Nindi, lalu kembali ke Jaka. Ia terkekeh pelan, senyum merendahkan terukir di wajahnya. "Hah… Aku gak habis pikir," suaranya bergetar, entah karena marah atau getir."Anakmu baru saja meninggal, Mas. Tapi kamu malah mengumumkan pernikahan?"Maharani, yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya, mendengus. "Hei, yang mati ya udah mati aja. Apa hubungannya sama pernikahan Jaka?" katanya dengan nada malas, seolah kematian Bintang bukan hal besar.Ayu mengepalkan tangan di pangkuannya, berusaha meredam gejolak yang membakar dadanya."Kamu gak usah berharap lebih dari anakku," Hayati menyusul dengan tatapan tajam."Kami sudah cukup baik menampungmu di rumah ini. Kamu terhormat karena menjadi menantu Gubernur."Ayu terkekeh lagi, kali ini disertai air mata yang jatuh begitu saja. "Terhormat?" suaranya lirih
"Ah, sudah, sudah! Gak usah drama panjang!" suara Rani memotong kasar. Ia beranjak dari sofa, meraih tangan Nindi dengan penuh semangat."Nindi, ayo kita ke salon. Kamu jadi traktir aku, kan?"Nindi tersenyum manis. "Tentu dong, Kak."Rani mendengus, menatap Ayu sejenak dengan tatapan meremehkan. "Udah, Ma. Aku balik duluan. Ngapain sih lama-lama deket sama dia? Mana bau lagi..."Tanpa menunggu balasan, Rani menarik Nindi keluar rumah. Suara tawa mereka terdengar semakin menjauh.Hayati bangkit, merapikan tas tangannya dengan angkuh. "Sapa juga yang betah lama-lama di sini. Jaka, antar Mama ke arisan."Jaka mengangguk, bersiap pergi. Namun, sebelum melangkah keluar, Hayati menoleh ke arah putranya sekali lagi, suaranya dipenuhi peringatan."Ingat ya, Jaka. Jangan sampai kamu ceraikan Ayu. Mama gak mau buang uang buat bayar pembantu. Lagipula, Nindi gak boleh capek. Dia anak pejabat terhormat, jangan sampai kami membuat dia mende
Satpam itu mengangkat alis. "Pak Baim, CEO?""Iya, Pak."Tatapan satpam itu berubah ragu. "Apa Mbak sudah ada janji sebelumnya?"Ayu menggeleng, jemarinya menggenggam kartu nama di tangannya semakin erat. "Emm... Belum, Pak."Satpam menghela napas pelan. "Maaf, Mbak. CEO kami tidak bisa menemui tamu tanpa ada janji sebelumnya."Jantung Ayu berdegup lebih cepat. "Tapi, Pak... Saya pernah diminta untuk menghubunginya jika ada perlu."Satpam menatapnya sejenak, seolah menimbang kata-katanya. "Kalau begitu, Mbak bisa telepon langsung saja."Ayu terdiam. Tenggorokannya terasa kering. Perlahan, ia menundukkan kepala, meremas sudut bajunya. "Saya... Saya gak punya HP, Pak." Suaranya hampir tak terdengar.Satpam itu terdiam sesaat, lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel. "Boleh pakai punya saya dulu, Mbak."Mata Ayu berbinar, bibirnya sedikit terbuka dalam keterkejutan. "Serius, Pak?"Satpam itu mengangguk, me
Ayu tersentak. Jantungnya berdegup lebih kencang. "Astaga! Apa yang harus aku jawab," batinnya.Matanya segera menyapu seluruh ruangan angkot. Semua penumpang kini menatapnya, wajah mereka penuh rasa ingin tahu. Ayu menunduk, berharap bisa menghilang begitu saja."Iya, kan? Bener, kan, Mbak?" Ibu itu kembali memastikan, suaranya lebih nyaring.Seorang ibu lain yang duduk di pojok ikut menimpali. "Oh iya! Saya ingat! Kamu yang bawa jenazah naik motor itu, kan? Astaga, kok tega sih, Mbak? Padahal kamu ini keluarga Gubernur!"Beberapa penumpang lain mulai berbisik-bisik. Ada yang meliriknya dengan tatapan iba, ada pula yang menatapnya dengan heran, seolah tak percaya.Seorang pria paruh baya yang duduk di depan akhirnya ikut bicara. "Iya, Mbak. Kalau ada masalah, dibicarakan saja sama Pak Gubernur. Kami yakin beliau itu orang baik. Sama masyarakat aja peduli banget."
Jaka menggertakkan gigi, lalu mencoba menghalanginya. "Ayu, kamu nggak bisa pergi begitu aja!"Ayu menepis tangannya kasar. "Kenapa nggak bisa?" desisnya."Aku bebas pergi kemana saja. Yang penting jauh dari kalian yang menjijikkan!""Ayu, kamu mau tinggal di jalanan?" balas Jaka.Ayu tertawa—bukan tawa bahagia, tapi getir, penuh luka. Ia mengangkat wajahnya, menatap Jaka penuh penghinaan."Lebih baik aku tinggal di jalanan daripada harus terus melihat kelakuanmu yang begini, Mas. Kamu nggak ada bedanya sama keluargamu."Jaka menahan napas, tak bisa membalas.Melihatnya diam, Ayu menyampirkan tasnya ke bahu, lalu berbalik menuju pintu.Tapi suara Jaka menghentikannya. "Ayu, jangan pergi! Kalau kamu pergi, siapa yang akan cuci bajuku? Masakanku? Siapa yang bersihin rumah?"Ayu be
Hayati mengangguk, jemarinya meremas ujung gaunnya dengan kuat. "Aku akan mencoba mencarinya di rumah Jaka. Mungkin saja dia tidak membawanya."Sambo tak berkata lagi. Ia hanya mengangguk singkat, lalu berbalik menuju kamarnya dengan langkah berat.Di sisi lain, Ayu duduk di atas tempat tidurnya, ponsel tergenggam erat di tangannya. Cahaya layar menyorot wajahnya yang penuh kepuasan.Berita yang bertebaran di media sosial benar-benar menguntungkannya. Setiap komentar yang mendukungnya terasa seperti angin segar yang membebaskannya dari cengkeraman keluarga Jaka.Senyumnya mengembang. Matanya berbinar."Alhamdulillah…" bisiknya pelan, penuh rasa syukur. "Akhirnya. Aku akan segera lepas dari keluarga iblis itu."Jarinya kembali menggulir layar, membaca seruan masyarakat yang memintanya untuk menceraikan Jaka. Dukungan itu membanjiri kolom komentar, membuat hatinya semakin mantap."Ini berarti kei
Sambo meremas ponselnya, rahangnya mengatup rapat. Sorot matanya menajam saat membaca komentar-komentar yang membanjiri berita daring. Ia melangkah cepat mendekati Hayati yang baru saja melempar gelas, jemarinya masih menggenggam remote televisi."Apa yang terjadi, Ma?" suaranya terdengar berat. "Masyarakat justru menyerangku. Kalau begini, reputasiku bisa hancur."Hayati mengangkat wajahnya. Matanya memerah, napasnya tertahan sesaat sebelum ia menghembuskannya perlahan. Bibirnya melengkung tipis, nyaris seperti sebuah senyum."Tenang aja, Pa," katanya, suaranya rendah, terukur. "Kita cuma perlu membalik pendapat mereka."Tiba-tiba, suara langkah cepat menggema dari koridor. Maharani muncul dengan wajah panik, ponsel tergenggam erat di tangannya."Ma… kacau!" suaranya meninggi, hampir histeris. "Akun sosmedku penuh hinaan. Kalau kayak gini, followers-ku bisa turun!"Hayati tak langsung menjawab. Mat
Ayu menyeringai sinis, lalu berbalik. Tanpa kata lagi, ia melangkah pergi, meninggalkan pesta dengan kepuasan yang berpendar di matanya.Setelah usai melakukan misi di pesta itu, Ayu bergegas keluar ballroom. Ia bertemu dengan Baim yang mengawasinya sedari tadi. Ayu mengangguk memberi kode, Baim membalasnya dengan anggukan yang sama. Ayu kemudian berlalu dari pesta itu, kembali masuk ke dalam Limosin yang menjadi sorotan awak media. Kilatan lampu kamera masih berusaha menembus kaca gelapnya, tapi Ayu sudah tak peduli. Ia menyandarkan kepala, menatap langit-langit mobil dengan napas masih memburu.Tangannya menggenggam erat gaunnya yang sedikit kusut. "Ya Allah… akhirnya aku bisa melewati ini. Aku gak percaya bisa seberani itu di depan umum," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri."Bagus, Ayu."Suara itu datang dari belakang
Maharani mengangkat tangan, gelagapan. "Aduh… Rani lupa mau kasih tahu Mama! Pokoknya bukan itu intinya!"Ia menarik lengan ibunya, suaranya semakin mendesak."Sekarang apa yang harus kita lakukan? Gimana kalau Ayu bicara aneh-aneh ke wartawan?!"Hayati terdiam sesaat, napasnya mulai memburu.Di luar ballroom, kilatan kamera dan suara sorakan masih terdengar.Ayu ada di sini.Dan itu hanya bisa berarti satu hal—badai akan segera datang.Mata Hayati membesar, nyaris keluar dari rongganya. Rahangnya mengatup rapat, garis-garis kemarahan terukir jelas di wajahnya. "Kamu gak diundang," suaranya tajam seperti pisau. "Rakyat jelata dilarang ikut pesta orang kaya."Tawa Ayu meledak, nyaring dan penuh ejekan. Ia melangkah santai, tubuhnya condong ke depan, mendekati Hayati. "Mama… Mama…
"Ke mana Anda selama ini?"Suara-suara itu bertubi-tubi, menusuk gendang telinga Ayu dari segala arah. Dadanya mulai sesak, napasnya tersendat. Jemarinya yang menggenggam tas mulai bergetar.Kerumunan terasa semakin mendekat, seperti dinding yang siap meremukkannya kapan saja. Lututnya lemas, instingnya berteriak untuk kabur.Namun, di antara sorotan kamera yang menyilaukan, matanya menangkap sosok yang familiar.Baim.Berdiri tak jauh dari sana, mengenakan setelan jas hitam yang elegan, tangannya diselipkan ke dalam saku.Ia tidak berkata apa-apa.Hanya sebuah senyum tipis yang menghiasi wajahnya, tatapan matanya tenang, penuh keyakinan.Seakan-akan ia sedang berbisik tanpa suara, "Semuanya akan baik-baik saja."Ayu menelan ludah. Jemarinya yang gemetar perlahan mengendur. I
Ayu mengangguk, meski hatinya masih berdegup kencang.Baim melangkah pergi, meninggalkan Ayu dengan debaran hebat di dadanya. Punggungnya semakin menjauh, tetapi jejak kehadirannya masih tertinggal di hati Ayu, menggetarkan seluruh perasaannya."Ya Allah, Mas… Bagaimana mungkin aku bisa menahan perasaan ini?" batinnya lirih.Ia menarik napas panjang, mencoba meredam kekacauan dalam dirinya. Matanya jatuh pada tas yang tergeletak di dekatnya—tas yang dibelikan Baim tempo hari. Perlahan, ia meraihnya, jemarinya menelusuri permukaannya seakan mencari jawaban.Ia teringat kata-kata Baim saat memberikannya tas itu. "Kamu akan membutuhkannya suatu saat nanti."Ayu tersenyum miris. "Ternyata dia benar."Siapa sangka, hari itu telah tiba. Hari di mana ia harus berdiri tegak, menyaksikan suaminya bersanding dengan wanita lain di pela
Ayu mengangguk, meski keraguan masih menyelimuti dirinya. "Tapi... mungkinkah saya bisa cantik?"Baim menatap mata Ayu dalam-dalam, seolah ingin meyakinkan bahwa perkataannya benar. "Kamu sudah cantik, Ayu. Polesan ini hanya akan membuat kecantikanmu semakin bersinar."Ayu terenyuh. Baim adalah orang pertama yang pernah memujinya. Sementara Jaka, suaminya, bahkan tak pernah sudi menatap wajahnya lama-lama. Terlebih lagi mertua dan iparnya—yang selama ini hanya memberinya cacian dan hinaan. Hal itu membuatnya tidak percaya diri dan yakin bahwa dirinya memang sehina itu."Ayu… apa yang membuatmu ragu?" tanya Baim."Saya… saya tidak yakin bisa terlihat menarik, bahkan dengan riasan sekalipun.""Ayu, lupakan mereka yang merendahkanmu. Orang yang menganggapmu tak berharga hanyalah mereka yang tak mampu melihat keistimewaanmu. Di tangan yang tepat, kamu akan selalu bernilai."Setelah berpikir sedikit lama, Ayu akhirnya mantap u
Baim mengangguk, matanya lurus ke jalan di depan. "Yah. Di pesta itu, pasti akan banyak wartawan. Kamera di mana-mana. Kamu harus berdiri di sana sebagai seorang ratu." Ia menoleh lagi, menatap Ayu dengan sorot mata yang tajam namun hangat. "Tegakkan kepalamu. Jangan pernah tertunduk, setakut apa pun kamu nantinya. Tetaplah pura-pura berani seperti sekarang."Ayu terpaku. Kata-kata itu menyusup ke dalam dirinya, menggetarkan sesuatu yang selama ini rapuh. Ia menatap Baim dalam-dalam, seakan mencari kepastian."Tapi… bagaimana kalau saya gagal, Mas?" suaranya pelan, nyaris berbisik.Baim tak langsung menjawab. Ia menarik napas, lalu tersenyum, kali ini lebih lembut. "Kamu nggak boleh gagal," ucapnya mantap. "Aku akan mengawasimu dari kejauhan."Ayu menggigit bibirnya. Pikirannya berkecamuk. Kata-kata Baim seperti sebuah perisai, tapi di saat yang sama, ketakutan itu tetap men
Mak Ti mengangguk kecil, kemudian berjalan menuju telepon. "Biar saya panggilkan lewat saluran telepon, Pak."Baim mengangguk. "Terima kasih, Mak..." Suaranya terdengar lebih lembut kini, seraya matanya kembali menyapu ruangan, menangkap sisa kehangatan yang sempat terhenti oleh kehadirannya.Matanya sesekali melirik ke arah Fatma dan Sari yang duduk di sofa. Ia menyandarkan satu tangan ke pinggang, lalu berkata dengan nada tenang, "Oh ya. Fatma... Sari. Aku sudah ambil ASIP di rumah sakit. Kalian ambil di mobil, ya."Fatma menegakkan punggungnya, sementara Sari menoleh dengan tatapan bertanya."Hari ini Ayu ikut denganku. Kemungkinan sampai malam. Jadi kalian susui si kembar dengan ASIP dulu."Fatma dan Sari segera bangkit. "Baik, Pak," jawab mereka hampir bersamaan, lalu bergegas keluar rumah.Dari sudut ruangan, Indri menyipitkan mata, bibirnya sedikit mengerucut. Ada yang menggelitik rasa ingin tahunya. Ia akhirnya melangkah mendekat, me