Semua Bab Menjadi Ibu Susu Bayi Kembar CEO: Bab 61 - Bab 70

94 Bab

Makan Malam

Mak Ti mengangguk, ekspresinya seakan mengatakan bahwa hal ini wajar saja.Ayu menghela napas, berusaha menepis pikirannya yang mulai berlarian ke arah yang tidak seharusnya. "Ah… nggak. Gak mungkin, kan?" batinnya.Ia mengusap wajah, mencoba mengembalikan fokusnya. "Ya udah, Mak. Saya siap-siap dulu ya."Mak Ti tersenyum. "Baiklah. Kami tunggu di bawah, ya."Setelah pintu tertutup, Ayu menghela napas panjang, lalu berjalan menuju wastafel. Percikan air dingin menyentuh wajahnya, membuatnya sedikit lebih segar.Ia berdiri di depan lemari, tangannya terulur, menyentuh deretan pakaian yang tersusun rapi. Matanya menelusuri satu per satu sebelum akhirnya mengambil sebuah dress yang terlihat cantik namun tetap sederhana.Saat mengenakannya, ia melangkah ke depan cermin.Sejenak, ia tertegun.Pantulan d
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-18
Baca selengkapnya

Kepedulian Sang CEO

"Saya nggak enak sama yang lain. Jadi, biarkan saya makan bersama mereka saja, ya?"Baim menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Ayu dengan sorot penuh ketenangan."Ayu," katanya, nada suaranya lebih dalam. "Kamu adalah ibu susu anak-anakku. Aku perlu membahagiakanmu demi menjaga kualitas ASI yang kamu berikan untuk mereka."Ayu tercekat. Kata-kata itu seharusnya terdengar biasa, sangat masuk akal. Tapi entah kenapa, sesuatu dalam dirinya bergetar.Dada Ayu berdesir pelan. Ia menggigit bibir, mencoba menekan perasaan yang mulai menguar di hatinya."Ya Allah… andai saja suamiku memperlakukanku seperti dia," bisiknya dalam hati.Tapi seketika ia menggeleng halus, menepis harapan yang tak seharusnya ada.Ia menarik napas dalam, lalu dengan ragu meraih sendoknya.Di hadapannya, Baim masih tersenyum.Dan untuk pertama kalinya, Ayu merasa dihargai.Bik Imah melangkah mendekati meja makan, tatapannya hangat saat i
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-19
Baca selengkapnya

Perasaan Iri

Mak Ti yang berdiri di dekat Indri menyenggol lengannya pelan. "Udah, jangan cari masalah. Lebih baik kamu bersikap ramah sama karyawan baru kali ini."Indri mendengus, melipat tangan di dada. "Gak mau! Kalau bukan Ibu Laura, gak ada yang boleh memiliki hati Pak Baim—kecuali aku," ujarnya sambil menyeringai.Mak Ti menatapnya tajam. "Kamu pikir Pak Baim mau sama kamu?"Indri segera merangkul lengan Mak Ti dengan manja. "Mak Ti harus bantu aku dong! Pak Baim pasti nurut sama Mak Ti, kan?"Mak Ti mencibir. "Jangan mimpi..."Indri mendengus kesal, kakinya menghentak lantai dengan gemas.Setelah menghabiskan makan malamnya, Ayu segera menuju kamar si kembar untuk menyusui mereka. Sementara itu, para pengasuh menikmati makan malam bersama karyawan lainnya.Seperti biasa, si kembar menyusu dengan lahap sebelum akhirnya terlelap dalam tidur yang damai.Ayu menghela napas lega. Dengan penuh kasih, ia mengusap kepala mungil mereka
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-19
Baca selengkapnya

Peringatan Keras

Ayu hanya diam, tak ingin terpancing.Indri menyeringai, tangannya semakin kuat menekan pel ke lantai. "Semoga aja gak ada yang lupa diri gara-gara kebaikan orang, ya. Soalnya, kalau jatuh dari angan-angan, sakitnya bisa keterlaluan."Ayu berusaha tak peduli. Ia hendak melangkah ke dispenser, tapi tiba-tiba ujung alat pel Indri berkali-kali menyentuh kakinya, seolah disengaja.Ayu berhenti. Mata mereka bertemu—tatapan Indri tajam, penuh amarah yang tak tersampaikan.Ayu menegakkan tubuhnya, menatap Indri dengan ekspresi tenang tapi menusuk. "Mbak Indri… Aku permisi ya, mau ambil air." Kali ini, nada suaranya mengandung sedikit ketegasan.Indri menyeringai sinis. "Gak liat apa aku lagi ngepel?" Gerakannya makin kasar, membasahi lantai di dekat kaki Ayu."Indri…" Suara Mak Ti dari meja makan terdengar seperti peringatan.
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-19
Baca selengkapnya

Perasaan Menyiksa

Baim hanya tersenyum kecil. "Apa yang kamu pikirkan? Sampai gak lihat aku yang berdiri di depan."Ayu berusaha tersenyum, mencoba menyembunyikan kegugupan yang mulai menjalari tubuhnya. "Nggak kok, Mas. Gak ada…"Baim mengamati wajahnya. "Aku perhatiin, kamu sering jalan sambil nunduk. Di rumah sakit juga begitu. Itu pasti karena kamu banyak pikiran, kan?"Ayu menggeleng cepat. "Enggak, Mas. Beneran enggak."Baim tak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya, seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu. Lalu, dengan suara lebih lembut, ia bertanya, "Ayu… Apa ada sesuatu yang membuatmu gak nyaman di rumah ini?"Ayu ingin menjawab. Ingin sekali mengatakan bahwa iya, dia merasa tak nyaman. Tapi bukan karena rumah ini, bukan karena orang-orang di dalamnya.Tapi karena dia.Baim."Kamu yang membuat aku gak nyaman, Mas. Kebaikanmu terlalu berlebihan. Aku takut..." batinnya.Baim mengulurkan tangan, menyentuh bahunya pe
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-20
Baca selengkapnya

Menghindar

"Indri?"Indri menyilangkan tangan di dada, alisnya sedikit terangkat. "Kenapa kaget? Kecewa yang datang bukan Pak Baim?"Ayu mengerjap, berusaha menguasai ekspresinya. "Ah... nggak kok. Aku cuma kaget. Kenapa kamu di sini? Bukannya kamu nggak suka sama aku?"Indri terkekeh sinis, lalu mengangkat alat bersih-bersih yang dibawanya. "Servis room. Aku mau bersihin kamar kamu."Ayu menghela napas, membuka pintunya lebih lebar. "Oh... baiklah. Silakan."Indri melangkah masuk, bola matanya langsung berkeliling, menelusuri setiap sudut ruangan. Napasnya terdengar berat, seperti ada sesuatu yang menyesakkan dadanya. Matanya menyipit ketika melihat fasilitas yang ada di kamar itu—tempat tidur yang lebih besar, lemari yang lebih mewah, bahkan ada kursi empuk di pojokan."Hebat juga kamu, bisa bikin Pak Baim memberikan semua ini," katanya, suaranya sarat dengan racun. Ia melangkah mendekat, lengannya bersedekap. "Kamu... nggak ngeray
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-20
Baca selengkapnya

Mencari Alasan

Langkah Baim sempat terhenti, sorot matanya menangkap sesuatu yang membuatnya terpaku.Ayu buru-buru menutup dadanya dengan telapak tangan, wajahnya memanas seketika.Baim pun tampak kaget, tatapannya hanya bertahan satu detik sebelum dengan cepat ia membalikkan badan, punggungnya kini menghadap Ayu."Ohh, maaf, Ayu. Aku nggak tahu kamu sedang menyusui," ucapnya terbata.Suara beratnya memenuhi ruangan yang mendadak terasa sempit.Ayu menelan ludah. Dada yang sejak tadi sesak karena kejutan kini terasa semakin sulit bernapas."Ada perlu apa, Mas?" suaranya nyaris berbisik, tapi cukup untuk membuat Baim kembali menegang.Baim terdiam sejenak, mengatur napas sebelum menjawab. "Aku mau pamit sama si kembar sebelum ke kantor."Perlahan, Ayu melepas bibir mungil Arjuna dari dadanya, lalu menarik kain untuk menutup tubuhnya. Dadanya masih naik-turun, bukan karena kelelahan, tapi karena jantungnya yang berdetak tak karuan."Iya
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-20
Baca selengkapnya

Surat Perjanjian Pernikahan

Ayu semakin panik. Situasi ini terasa menjeratnya dalam jebakan tanpa jalan keluar."Ngapain sih Mas Baim tanya terus?" batinnya resah. "Aku nggak mungkin jujur kalau aku jatuh cinta sama dia, kan? Di kontrak itu sudah jelas tertulis... kita nggak boleh terlibat secara emosi."Ia menggigit bibirnya, tetap enggan menatap Baim.Baim hanya tersenyum kecil, seakan sudah memahami semuanya.Perlahan, ia semakin mendekat. Ayu menahan napas, jantungnya semakin tak menentu.Tapi ternyata—Baim menunduk, bukan ke arahnya, melainkan ke bayi mungil dalam pelukannya. Dengan lembut, ia mengecup kening Srikandi."Sayang..." bisiknya penuh kasih, "Papa berangkat kerja dulu, ya. Kamu jangan rewel, oke?"Ayu menatapnya dalam diam. Cara Baim memperlakukan si kembar, kehangatan yang selalu ia tunjukkan pada anak-anak i
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-21
Baca selengkapnya

Pengumuman Pernikahan

"Indri?"Suara Ayu terdengar tenang, namun tatapannya penuh selidik. "Kamu belum selesai membersihkan kamar ini?"Indri menegakkan tubuhnya, menampilkan senyum setengah. Ia menyeringai kecil, berusaha terlihat santai meskipun jantungnya masih berpacu."Sudah, kok," katanya ringan, meraih perlengkapan kebersihan yang tadi nyaris ia lupakan. "Ini aku mau balik ke bawah."Ia menyelipkan pel ke dalam ember, menarik gagangnya dengan sedikit lebih keras dari seharusnya."Permisi, ya," tambahnya, sebelum melangkah cepat melewati Ayu, meninggalkan kamar itu dengan kepala penuh pertanyaan yang terus berputar.Di area dapur, aroma tumisan bawang bercampur dengan wangi roti panggang yang baru keluar dari pemanggang. Para karyawan sibuk berlalu-lalang, membantu Bik Imah menyiapkan sarapan. Bunyi piring beradu dan suara gemericik air dari keran memenuhi ruang
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-21
Baca selengkapnya

Pengaruh Buruk

Hening. Tak ada yang berbicara. Yang terdengar hanyalah suara penyiar berita yang terus menjelaskan latar belakang rekaman itu.Namun, satu hal yang pasti—semua orang di dapur kini terpaku pada layar, dengan pikiran yang penuh tanda tanya.Tak satu pun dari mereka berkedip. Semua mata terpaku pada layar televisi, menatap sosok Ayu yang masih terpampang jelas dalam rekaman berita."Ayu menantu gubernur?" suara Fatima terdengar gemetar.Mereka saling pandang, seolah berharap ada yang bisa memberikan jawaban masuk akal. Tapi tak ada yang bersuara.Indri, yang masih memproses informasi di kepalanya, akhirnya bersandar di kursi. Tangannya terlipat di atas meja makan. "Menurut kalian, apa Pak Baim tahu soal ini?"Sari, yang sejak tadi diam, akhirnya menatap Indri. "Kalau dia gak tahu, gimana?"Indri menarik napas, lalu menyilangkan tangan di dadanya. Matanya menyipit, seakan mencoba menyusun kepingan teka-teki yang baru saja terbuka.
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-21
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status