Semua Bab Menggoda Sang Paman: Bab 11 - Bab 20

48 Bab

Body yang sempurna

Malam.Nabila berdiri di depan cermin kamarnya, menatap bayangannya dengan penuh kebingungan.Setiap baju yang ia coba tampak terlalu longgar, menggantung seperti gorden yang kebesaran. Celana yang dulu pas kini melorot tanpa perlu dibuka kancingnya. Satu-satunya pakaian yang masih bisa ia pakai hanyalah daster."Hah... gawat," gumamnya, menarik bajunya ke belakang, memperlihatkan pinggang rampingnya yang kini terbentuk dengan sempurna. Lengkung tubuhnya jelas terlihat, dan kulitnya yang lebih cerah serta kencang memantulkan cahaya lampu kamar, memberi kesan ‘glossy’ layaknya model papan atas.Senyum puas terukir di bibirnya. Dulu, ia hanya bisa bermimpi memiliki tubuh seperti ini. Sekarang, semua ejekan yang pernah ia terima terasa tak berarti.Tepat saat itu, pintu kamar terbuka. Govan  masuk tanpa mengetuk lebih dulu. "Nabila, kamu—" Langkah govan langsung terhenti di ambang pintu, matanya membela
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-02
Baca selengkapnya

Manis seperti madu

"Aku cantik, kan?" tanya Nabila, tersenyum penuh percaya diri. "Soalnya aku gak bisa berhenti ngaca sejak tadi."Govan terdiam sejenak, menatap keponakannya yang kini terlihat jauh berbeda dari sebelumnya. Bukan hanya tubuhnya yang berubah, tapi juga aura percaya dirinya. "Kamu selalu cantik di mata om," jawab Govan dengan nada tenang. "Masa sih." Pipi Nabila merona, tapi ia menyembunyikannya dengan terus menyantap makanannya.  Dulu, makan sayur terasa menyiksa, tapi sekarang ia bisa menikmatinya. Rasanya tidak lagi pahit atau aneh seperti saat pertama kali ia mencoba diet."Kamu gak percaya? Om berkata jujur lo." Govan menoleh, mengunyah makanannya dengan santai. "Hmmm... Percaya deh, kan om gak pernah bohong," kata Nabila tersenyum manis.  Govan memalingkan pandangannya ke mangkuk sup miliknya, senyuman Nabila terlalu manis baginya sampai sup yang ia mak
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-02
Baca selengkapnya

Menarik

  Suasana makan malam yang awalnya nyaman mendadak berubah tegang. Nabila yang sedang menikmati makanan tiba-tiba membeku begitu melihat Gisel dan gengnya yang baru saja memasuki restoran. Nafasnya tercekat, tangan yang memegang sendok mulai gemetar. Tanpa pikir panjang, ia langsung menyelinap ke bawah meja, tubuhnya bersembunyi dengan gemetar. Govan yang sedang mengunyah makanannya langsung mengernyit.  "Kamu ngapain?" tanyanya, menatap ke bawah meja dengan ekspresi bingung. Nabila menggigit bibirnya, tangannya mengepal erat di atas pahanya.  "G-Gisel ada di sana..." bisiknya, suaranya bergetar. Mata Govan menyipit. Ia menoleh ke arah yang dimaksud. Dari cara Nabila bereaksi, pasti Nabila masih trauma akan kejadian yang lalu. Matanya menelusuri setiap wajah di meja itu, dan dugaannya langsung tertuju p
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-03
Baca selengkapnya

Godaan

"Hmmm... Na na~" Nabila bersenandung ria memulai membersihkan kamarnya. Nabila membuka lemari dan mulai mengatur baju-baju barunya. Satu per satu baju lama ia keluarkan, menumpuknya di atas tempat tidur. Govan yang baru saja masuk ke kamarnya mengangkat alis melihat keponakannya yang sibuk memilah-milah pakaian. "Lagi apa, Bil?" tanya Govan bercanda, bersedekap di ambang pintu. "Lagi cari harta karun Om." Nabila menanggapi dengan candaan. "Hahaha... Kirain lagi merakit bom," canda Govan tertawa kecil.  "Ya enggak lah, kan Om liat sendiri. Aku lagi kemas-kemas lemari lah." Nabila mulai bete, mengerucutkan mulutnya.  "Iya iya kan Om bercanda." Govan mendekati Nabila mengusap kepalanya lalu duduk di tepi ranjang.  Namun, setelah setengah jalan, Nabila terdiam menatap tumpukan bajunya yang lama.  "Ini
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-03
Baca selengkapnya

Godaan 2

'Eh!' Govan tersentak kaget saat mata mereka bertemu. Alih-alih sadar akan sesuatu, Nabila justru tersenyum lebar, lalu menunjukkan layar ponselnya.  "Om, menurut Om baju ini cocok buat aku gak?" tanya Nabila polos. Govan menatap layar ponsel. Sebuah crop top. Ia menghela napas pelan. Pakaian itu memang cocok dengan tubuh Nabila yang sekarang. SANGAT COCOK. "Cocok. Kamu jadi makin cantik kalau pakai itu." Govan mengangguk kecil.  "Benar kah?" Nabila tersenyum puas, ingin langsung menambahkannya ke keranjang belanja. Tapi, ia masih ragu, masih ingin memilih-milih yang lain. Melihatnya ragu, Govan akhirnya berkata, "Kalau kamu suka, ambil saja. Nanti Om yang bayar." Mata Nabila langsung berbinar. Senyum lebarnya semakin mengembang. "Benar nih, Om? " tanyanya mema
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-03
Baca selengkapnya

Berlian

Pagi itu, matahari masih bersinar hangat ketika Govan dan Nabila berlari-lari kecil di taman dekat rumah mereka. Rambut ekor kuda Nabila berayun mengikuti irama langkahnya, mengiringi tubuh ramping dan proporsionalnya yang kini jauh berbeda dari enam bulan lalu. Tatapan orang-orang di sekitar tak lepas dari sosoknya. Beberapa pria bahkan terang-terangan menatapnya dengan kagum, berbisik-bisik memuji wajah dan tubuhnya. "Siapa tuh? Cantik banget.""Body-nya gila... kayak model.""Astaga, idaman banget." Govan yang sejak tadi mendengar celotehan mereka hanya bisa mengerutkan dahi. Rahangnya mengatup, perasaan kesal tiba-tiba menjalari di dadanya. Saat mereka berhenti untuk istirahat sejenak, Nabila membuka botol minumnya dan meneguk air dengan santai. Lagi-lagi, tatapan para pria yang melintas di sekitar mengarah kepadanya. "Pakai ini!" Govan melepas jaketnya kesal da
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-04
Baca selengkapnya

Janjian

Setelah kembali dari taman, Govan langsung bergegas ke kamar untuk bersiap-siap ke kantor. Sementara itu, Nabila masuk ke kamar mandi, menikmati air hangat yang mengalir di tubuhnya. Keringat yang menempel setelah berlari tadi benar-benar membuatnya merasa gerah. Selesai mandi, ia mengenakan baju santai—kaos oversized dan celana pendek longgar. Rambutnya yang masih setengah basah ia sisir perlahan di depan cermin. Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk dan terbuka sedikit. “Bil, Om berangkat dulu.” Suara berat Govan terdengar. Nabila menoleh sekilas melihat Govan sudah mengenakan setelan kantornya yang rapi. Dasinya belum terpasang sempurna, menunjukkan betapa buru-burunya dia. “Om pulang jam berapa hari ini?” tanya Nabila basa-basi, tangannya masih sibuk menyisir rambut. “Mungkin agak malam. Kamu jangan tungguin. Kalau lapar, p
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-04
Baca selengkapnya

Bertemu lagi

  “Riska!” Keduanya menoleh bersamaan ke arah suara tersebut. Nabila terpaku, jantungnya serasa berhenti berdetak. Matanya membelalak melihat siapa pria itu. Berlian. Pria yang tadi pagi bertabrakan dengannya, kini berdiri tidak jauh dari mereka, menatap dengan ekspresi yang tak kalah terkejut. “Eh, Berlian!” Riska menyapa ceria, seolah ini adalah pertemuan biasa. “Kebetulan banget ketemu di sini. Kenalin, ini temen aku, Nabila.” Berlian masih belum bereaksi. Tatapannya terkunci pada Nabila, seolah ia tengah mencocokkan sesuatu di pikirannya. “Nabila?” Berlian mengulang nama itu pelan, nyaris seperti gumaman. Nabila meneguk ludah. Ia bisa melihat kilatan kebingungan di mata pria itu. Dan entah kenapa, ia mulai merasa tidak nyaman. “Nabila,
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-04
Baca selengkapnya

Cemburu kah?

  Nabila melangkah masuk ke dalam rumah dengan hati yang masih berdebar. Namun, baru saja ia menutup pintu, sosok tinggi tegap sudah berdiri di baliknya, dan mengagetkan Nabila, Govan menatapnya dengan sorot mata tajam. “Dari mana kamu?” suara Govan terdengar datar, tapi cukup tajam untuk membuat Nabila menelan ludah.  “Aku keluar sama teman.” Nabila menunduk lesuh, tak ingin menatap mata pria itu. “Teman?” Govan menyipitkan mata. “Termasuk pria yang barusan nganterin kamu?” Nabila terdiam, merasa tertangkap basah. Ia mengangkat kepalanya sedikit, menatap Govan yang berdiri dengan tangan terlipat di dada. Aura pria itu terasa dingin, seolah tak menyukai apa yang baru saja ia lihat. “Om… aku nggak sengaja ketemu dia. Aku keluar sama Riska, terus ternyata kami bertemu Berlian... Hanya kebetu
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-05
Baca selengkapnya

Hari pertama kembali ke kampus

Nabila berhenti di ambang pintu. Ia berbalik, kembali mendekati Govan yang masih di meja kerjanya.  “Kalau Om nggak marah…” Nabila tersenyum manis, tangannya mencubit lengan baju Govan dengan manja. “Bolehkah aku minta kecupan selamat malam?” Govan membeku. Sorot matanya berubah tajam, tapi bukan karena marah, melainkan karena kebingungan dan pergulatan batin yang ia sendiri sulit jelaskan. Urat di lehernya menegang. Dadanya terasa sesak. Tidak, ia tidak bisa melakukan itu lagi. Dengan cepat, ia mengangkat tangannya dan mengetuk kepala Nabila pelan. “Tidur sana. Jangan banyak tingkah.” Nabila cemberut, melipat tangan di dada. “om masih marah, ya?” gumamnya dengan nada kecewa. Govan tidak menjawab. Ia hanya menatap Nabila dalam diam, tak sanggup memberi jawaban yang sebenarnya. Me
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-05
Baca selengkapnya
Sebelumnya
12345
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status