Suasana makan malam yang awalnya nyaman mendadak berubah tegang.
Nabila yang sedang menikmati makanan tiba-tiba membeku begitu melihat Gisel dan gengnya yang baru saja memasuki restoran. Nafasnya tercekat, tangan yang memegang sendok mulai gemetar.
Tanpa pikir panjang, ia langsung menyelinap ke bawah meja, tubuhnya bersembunyi dengan gemetar.
Govan yang sedang mengunyah makanannya langsung mengernyit.
"Kamu ngapain?" tanyanya, menatap ke bawah meja dengan ekspresi bingung.
Nabila menggigit bibirnya, tangannya mengepal erat di atas pahanya.
"G-Gisel ada di sana..." bisiknya, suaranya bergetar.
Mata Govan menyipit. Ia menoleh ke arah yang dimaksud. Dari cara Nabila bereaksi, pasti Nabila masih trauma akan kejadian yang lalu. Matanya menelusuri setiap wajah di meja itu, dan dugaannya langsung tertuju p
"Hmmm... Na na~" Nabila bersenandung ria memulai membersihkan kamarnya.Nabila membuka lemari dan mulai mengatur baju-baju barunya. Satu per satu baju lama ia keluarkan, menumpuknya di atas tempat tidur. Govan yang baru saja masuk ke kamarnya mengangkat alis melihat keponakannya yang sibuk memilah-milah pakaian."Lagi apa, Bil?" tanya Govan bercanda, bersedekap di ambang pintu."Lagi cari harta karun Om." Nabila menanggapi dengan candaan."Hahaha... Kirain lagi merakit bom," canda Govan tertawa kecil."Ya enggak lah, kan Om liat sendiri. Aku lagi kemas-kemas lemari lah." Nabila mulai bete, mengerucutkan mulutnya."Iya iya kan Om bercanda." Govan mendekati Nabila mengusap kepalanya lalu duduk di tepi ranjang.Namun, setelah setengah jalan, Nabila terdiam menatap tumpukan bajunya yang lama."Ini
'Eh!' Govan tersentak kaget saat mata mereka bertemu.Alih-alih sadar akan sesuatu, Nabila justru tersenyum lebar, lalu menunjukkan layar ponselnya."Om, menurut Om baju ini cocok buat aku gak?" tanya Nabila polos.Govan menatap layar ponsel. Sebuah crop top. Ia menghela napas pelan. Pakaian itu memang cocok dengan tubuh Nabila yang sekarang. SANGAT COCOK."Cocok. Kamu jadi makin cantik kalau pakai itu." Govan mengangguk kecil."Benar kah?" Nabila tersenyum puas, ingin langsung menambahkannya ke keranjang belanja. Tapi, ia masih ragu, masih ingin memilih-milih yang lain.Melihatnya ragu, Govan akhirnya berkata, "Kalau kamu suka, ambil saja. Nanti Om yang bayar."Mata Nabila langsung berbinar. Senyum lebarnya semakin mengembang."Benar nih, Om? " tanyanya mema
Pagi itu, matahari masih bersinar hangat ketika Govan dan Nabila berlari-lari kecil di taman dekat rumah mereka. Rambut ekor kuda Nabila berayun mengikuti irama langkahnya, mengiringi tubuh ramping dan proporsionalnya yang kini jauh berbeda dari enam bulan lalu.Tatapan orang-orang di sekitar tak lepas dari sosoknya. Beberapa pria bahkan terang-terangan menatapnya dengan kagum, berbisik-bisik memuji wajah dan tubuhnya."Siapa tuh? Cantik banget.""Body-nya gila... kayak model.""Astaga, idaman banget."Govan yang sejak tadi mendengar celotehan mereka hanya bisa mengerutkan dahi. Rahangnya mengatup, perasaan kesal tiba-tiba menjalari di dadanya.Saat mereka berhenti untuk istirahat sejenak, Nabila membuka botol minumnya dan meneguk air dengan santai. Lagi-lagi, tatapan para pria yang melintas di sekitar mengarah kepadanya."Pakai ini!" Govan melepas jaketnya kesal da
Setelah kembali dari taman, Govan langsung bergegas ke kamar untuk bersiap-siap ke kantor. Sementara itu, Nabila masuk ke kamar mandi, menikmati air hangat yang mengalir di tubuhnya. Keringat yang menempel setelah berlari tadi benar-benar membuatnya merasa gerah.Selesai mandi, ia mengenakan baju santai—kaos oversized dan celana pendek longgar. Rambutnya yang masih setengah basah ia sisir perlahan di depan cermin.Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk dan terbuka sedikit.“Bil, Om berangkat dulu.” Suara berat Govan terdengar.Nabila menoleh sekilas melihat Govan sudah mengenakan setelan kantornya yang rapi. Dasinya belum terpasang sempurna, menunjukkan betapa buru-burunya dia.“Om pulang jam berapa hari ini?” tanya Nabila basa-basi, tangannya masih sibuk menyisir rambut.“Mungkin agak malam. Kamu jangan tungguin. Kalau lapar, p
“Riska!”Keduanya menoleh bersamaan ke arah suara tersebut.Nabila terpaku, jantungnya serasa berhenti berdetak. Matanya membelalak melihat siapa pria itu. Berlian.Pria yang tadi pagi bertabrakan dengannya, kini berdiri tidak jauh dari mereka, menatap dengan ekspresi yang tak kalah terkejut.“Eh, Berlian!” Riska menyapa ceria, seolah ini adalah pertemuan biasa. “Kebetulan banget ketemu di sini. Kenalin, ini temen aku, Nabila.”Berlian masih belum bereaksi. Tatapannya terkunci pada Nabila, seolah ia tengah mencocokkan sesuatu di pikirannya.“Nabila?” Berlian mengulang nama itu pelan, nyaris seperti gumaman.Nabila meneguk ludah. Ia bisa melihat kilatan kebingungan di mata pria itu. Dan entah kenapa, ia mulai merasa tidak nyaman.“Nabila,
Nabila melangkah masuk ke dalam rumah dengan hati yang masih berdebar. Namun, baru saja ia menutup pintu, sosok tinggi tegap sudah berdiri di baliknya, dan mengagetkan Nabila, Govan menatapnya dengan sorot mata tajam.“Dari mana kamu?” suara Govan terdengar datar, tapi cukup tajam untuk membuat Nabila menelan ludah.“Aku keluar sama teman.” Nabila menunduk lesuh, tak ingin menatap mata pria itu.“Teman?” Govan menyipitkan mata. “Termasuk pria yang barusan nganterin kamu?”Nabila terdiam, merasa tertangkap basah. Ia mengangkat kepalanya sedikit, menatap Govan yang berdiri dengan tangan terlipat di dada. Aura pria itu terasa dingin, seolah tak menyukai apa yang baru saja ia lihat.“Om… aku nggak sengaja ketemu dia. Aku keluar sama Riska, terus ternyata kami bertemu Berlian... Hanya kebetu
Nabila berhenti di ambang pintu. Ia berbalik, kembali mendekati Govan yang masih di meja kerjanya.“Kalau Om nggak marah…” Nabila tersenyum manis, tangannya mencubit lengan baju Govan dengan manja. “Bolehkah aku minta kecupan selamat malam?”Govan membeku. Sorot matanya berubah tajam, tapi bukan karena marah, melainkan karena kebingungan dan pergulatan batin yang ia sendiri sulit jelaskan.Urat di lehernya menegang. Dadanya terasa sesak. Tidak, ia tidak bisa melakukan itu lagi.Dengan cepat, ia mengangkat tangannya dan mengetuk kepala Nabila pelan. “Tidur sana. Jangan banyak tingkah.”Nabila cemberut, melipat tangan di dada. “om masih marah, ya?” gumamnya dengan nada kecewa.Govan tidak menjawab. Ia hanya menatap Nabila dalam diam, tak sanggup memberi jawaban yang sebenarnya.Me
"Hai, Nabila."Suara seorang pria membuat Nabila dan Wiwin menoleh. Seorang pria berdiri di hadapan mereka dengan senyum tipis yang terukir di wajahnya.Nabila mendongak, dan matanya langsung membesar. Wiwin, yang duduk di sampingnya, melirik pria itu, lalu kembali menatap Nabila, menyadari perubahan ekspresi temannya."Kamu kuliah di sini juga?" tanya pria itu, memasukkan tangannya ke saku celana sambil tetap menatap Nabila."Berlian?" Nabila menelan ludah, seolah baru menyadari sesuatu. Ia benar-benar lupa kalau pria itu satu kampus dengannya."Kalian saling kenal?" Wiwin mengerutkan kening, menatap mereka bergantian."Bisa dibilang begitu." Berlian tersenyum tipis.Nabila hanya bisa menghela napas pelan lalu mengangguk, merasa canggung dengan pertemuan tak terduga ini.Berlian menarik kursi dan duduk be
Aroma Nasgor dan kopi menyebar di dapur. Govan duduk di meja makan sambil membaca berita di ponselnya, sementara Nabila sibuk dengan sarapannya. "Om," panggil Nabila sambil mengunyah pelan."Hm?""Ujian semester sebentar lagi," ujarnya, sedikit menghela napas. "Kayaknya bakal padet banget, deh.""Makanya dari sekarang harus rajin belajar. Jangan sampai kebut semalam." Govan meletakkan ponselnya dan menatap Nabila. "Aku juga bukan tipe yang belajar mendadak, kok." Nabila cemberut. "Bagus kalau begitu. Tapi kalau ada yang nggak ngerti, tanya Om aja." Govan tersenyum tipis. "Om kan bukan mahasiswa lagi. Masih inget nggak pelajarannya?" Nabila terkekeh. "Hei, Om ini dulu mahasiswa berprestasi, tahu." Govan meliriknya tajam. "Iya, iya, Om hebat." Nabila mengangkat bahu sambil menyeringai. "Yang penting serius belajarnya, ya. Om nggak mau lihat nilai kamu jeblok." Govan hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Siap, Om." Nabila memberi hormat main-main, membuat Govan tertawa ke
Malam itu…Govan baru saja keluar dari kamar mandi setelah selesai mandi. Dengan handuk yang masih melingkar di lehernya, ia berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air.Saat itulah, ia menemukan Nabila yang duduk di kursi dapur, memeluk lututnya dengan wajah yang sedikit muram.“Kenapa belum tidur?” Govan mengernyit. “Nggak bisa tidur.” Nabila menoleh padanya. “Kenapa?” Govan berjalan mendekat, lalu duduk di kursi seberangnya. “Nggak tahu… Aku kayak kepikiran sesuatu.” Nabila menggigit bibirnya ragu. “Tentang apa?” Govan menatapnya lekat. “Tentang Om.” Nabila menghela napas, lalu menatapnya lurus-lurus. “Kenapa dengan Om?” Govan sedikit terkejut, tapi berusaha tetap tenang. Nabila menatapnya dalam diam sejenak, lalu tiba-tiba berdiri dari kursinya dan berjalan ke sisi Govan.Tanpa peringatan, ia melingkarkan tangannya di leher pria itu dan memeluknya erat.Govan terdiam seketika.“Nggak ada apa-apa,” bisik Nabila di bahunya. “Aku cuma pengin manja sebentar.”Govan menelan lu
Govan merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia mengalihkan pandangan, berharap bisa menghindari pertanyaan Nabila yang semakin berani."Om, kalau aku bukan keponakan Om, pasti Om bakal tergoda, kan?"Suara Nabila terdengar main-main, tapi Govan tahu betul bahwa gadis itu sedang menguji batas.Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran dalam dadanya."Udah jangan naya yang aneh-aneh." Govan berkata dengan nada tegas."Jadi Om tetap nggak tergoda?" Nabila tersenyum tipis, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Bil, jangan nanya yang aneh-aneh. Om lagi makan ini," kata Govan dengan kesabaran yang mulai menipis. Nabila mengangkat bahunya, seolah tidak terlalu peduli, tapi ada kilatan menggoda di matanya."Aku cuma penasaran.""Udah selesai makannya?" tanya Govan, sengaja mengalihkan pembicaraan, Nabila menjawab dengan anggukan kecil. "Ya udah, aku mau ganti baju dulu, Om takut aku pakai baju terbuka, kan?" godanya sambil beranjak dari kursi.Govan tidak mer
"Soal mimpi aku..." Seketika tangan Govan berkeringat dingin. “Semalam aku mimpi aneh,” ujarnya santai.Govan yang tengah menyuap nasi gorengnya langsung berhenti. Ia melirik Nabila dengan waspada.“Mimpi apa?” tanyanya, mencoba terdengar biasa saja.Nabila mengunyah makanannya, lalu wajahnya mulai memerah sedikit.“A-aku mimpi dicium seseorang,” katanya pelan, seakan malu mengakuinya."Uhuk..." Govan tersedak. Ia buru-buru meraih gelas air dan meneguknya, sementara Nabila menatapnya dengan heran.“Om nggak apa-apa?” tanya gadis itu, mengernyitkan dahi.“Om… aku baik-baik saja.” Govan batuk kecil, lalu mengangguk cepat. “Aneh banget, di dalam mimpiku wajah nggak kelihatan. Semuanya gelap.” Nabila memutar-mutar sendoknya di dalam piring. Govan menelan ludah. Tentu saja gelap. Itu bukan mimpi, namun kenyataan. Tapi… apakah mungkin Nabila tidak menyadari kalau itu adalah dirinya kan? Govan berusaha fokus pada makanannya, tapi semakin sulit ketika Nabila terus menatapnya dengan ekspr
Govan keluar dari kamar Nabila dengan langkah tergesa. Ia menutup pintu dengan pelan, mengusap wajahnya dengan frustrasi.“Apa yang baru saja kulakukan?” gumamnya.Ia duduk di tepi kasur di kamarnya sendiri, menundukkan kepala sambil meremas rambutnya. Pikirannya penuh dengan kejadian barusan.Bibirnya masih bisa merasakan kelembutan bibir Nabila.Sial. Ia baru saja merebut ciuman pertama keponakannya. Walaupun itu tidak disengaja, tetap saja perasaan bersalah menghantamnya tanpa ampun.Govan menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya. Ia harus melupakan ini. Ia harus menjaga batasan.Namun... Kejadian itu tidak mudah dilupakan begitu saja. ***Tik... Tik... Suara keyboard terdengar berulang kali di dalam ruangan kerja Govan. Ia duduk tegak di kursinya, menatap layar laptop yang menampilkan dokumen-dokumen penting. Pekerjaan menumpuk, dan ia harus segera menyelesaikannya.Namun, pikirannya tidak bisa sepenuhnya fokus.Setiap kali ia mencoba membaca laporan, bayangan keja
Pesta ulang tahun Laras masih berlangsung meriah, tapi lama kelamaan Nabila merasa sedikit bosan. Ia memang menikmati hidangan lezat dan suasana mewah, tetapi tanpa teman untuk diajak berbincang, rasanya seperti terjebak di tempat yang asing.Sementara itu, Govan tampak sibuk berbicara dengan rekan-rekan kerjanya. Pria itu terlihat begitu tenang dan percaya diri, sesekali tersenyum tipis saat berbicara dengan mereka.Nabila menghela napas pelan, memainkan gelas jusnya dengan bosan. Sejak tadi, banyak pria yang mencuri pandang ke arahnya, tetapi tak ada yang cukup berani mendekatinya setelah melihat bagaimana Govan bersikap protektif sebelumnya.Setelah sekian lama hanya duduk di meja sendirian, akhirnya Govan kembali menghampirinya.“Bosan?” tanyanya dengan nada lembut.“Lumayan.” Nabila menoleh, mengangkat bahunya. “Kalau begitu, kita pulang sekarang.” Govan tersenyum kecil, lalu melirik jam tangannya. Nabila tidak keberatan. Ia segera berdiri dan mengikuti Govan keluar dari venue
Nabila berdiri di salah satu sudut ruangan, mengamati kemewahan pesta yang belum pernah ia hadiri sebelumnya. Musik lembut mengalun, gelas-gelas kristal berkilauan di bawah lampu gantung, dan para tamu tampak bercengkerama dengan elegan.Saat ia sibuk menikmati suasana, seorang pria asing tiba-tiba mendekatinya dengan membawa dua gelas minuman.Pria itu tinggi, mengenakan jas biru tua dengan kemeja putih yang beberapa kancingnya sengaja dibuka, menampilkan dada bidangnya. Rambutnya tertata rapi, dan senyumannya yang penuh percaya diri seakan menyiratkan sesuatu yang tersembunyi.“Hai,” sapanya dengan suara dalam menyodorkan satu gelas minuman ada Nabila, “Aku perhatikan sejak tadi, kamu sendirian di sini.”“Oh, tidak. Aku hanya menikmati suasana.” Nabila tersenyum sopan melirik gelas itu. Cairan di dalamnya berwarna jingga keemasan, tampak seperti c*ckt**l yang biasa ia lihat di film-film.Ragu sejenak, namun karena tak ingin terlihat aneh, ia akhirnya menerimanya.“Terima kasih,” uca
"Orang-orang seperti aku?" Govan mengangkat alis."Maksudku... orang-orang kaya, pebisnis, eksekutif. Pasti suasananya beda dengan pesta anak kuliahan.""Yah, jangan berharap terlalu banyak. Pesta seperti ini biasanya lebih formal dan membosankan dibandingkan pesta mahasiswa." Govan terkekeh geli. "Ah masa. Gak mungkin ah!" Nabila tertawa kecil, tak sabar ingin melihatnya sendiri.Begitu mereka tiba di lokasi, atmosfer mewah langsung menyambut mereka.Tempat pesta dihiasi dengan lampu-lampu elegan, meja-meja bundar berlapis kain putih, dan pelayan yang sibuk mondar-mandir membawa nampan berisi minuman serta makanan ringan. Para tamu yang hadir tampak berkelas, sebagian besar mengenakan pakaian formal yang mahal dan elegan.Dan begitu Nabila masuk ke dalam ruangan bersama Govan, hampir seketika perhatian orang-orang langsung tertuju padanya.Beberapa pria meliriknya dengan takjub, sementara beberapa wanita menatapnya dengan tatapan penuh penilaian.Nabila, meskipun awalnya percaya dir
Govan merapikan dasi di depan cermin, memastikan bahwa setelannya tampak rapi dan sempurna. Hari ini ia mengenakan kemeja hitam yang dipadukan dengan jas abu-abu gelap. Rambutnya sudah tertata rapi, dan parfum segar maskulin yang khas sudah ia semprotkan.Setelah memastikan semuanya sudah siap, ia mengambil jam tangan di atas meja dan memakainya."Baiklah, saatnya berangkat," gumamnya sebelum membuka pintu kamar dan melangkah keluar.Namun begitu ia keluar dari kamarnya dan menoleh ke arah tangga, langkahnya langsung terhenti.Matanya melebar, napasnya seolah tertahan melihat Nabila tengah menuruni tangga dengan anggun.Ia mengenakan gaun hitam selutut yang memiliki potongan simpel tapi elegan. Bagian atasnya pas di badan, menonjolkan siluet rampingnya, memberikan kesan manis dan berkelas. Rambut panjangnya yang biasanya terurai kini ditata dalam gelombang lembut, membuatnya tampak lebih dewasa dari biasanya.Govan tak bisa mengalihkan pandangannya.Dia terpesona.Sangat sangat terpes