All Chapters of Terpaksa Jadi Istri CEO Casanova: Chapter 11 - Chapter 20

26 Chapters

Bab 11: Siapa Sebenarnya Laksha Wijanarko?

Dapur rumah itu terasa lapang dan menyenangkan, dengan langit-langit yang menjulang tinggi serta dinding-dinding marmer yang berwarna abu-abu lembut, menawarkan kesan yang sekaligus megah dan mengundang.Rak-rak kayu menghiasi hampir setiap sisi ruangan, dipenuhi dengan koleksi gelas dan piring yang tampak tidak hanya berharga namun juga penuh cerita.Di tengah ruangan, sebuah meja panjang yang kokoh mendominasi, atasnya terdapat vas kaca yang elegan dengan susunan bunga lili putih yang tersusun begitu rapi dan menawan.Amara berdiri dengan anggun di depan kompor, tangannya yang mahir dengan cepat membalik telur dadar di atas wajan yang panas. Aroma telur yang menggugah selera bercampur sempurna dengan wangi roti panggang yang baru saja matang, menyebarkan keharuman yang mengisi setiap sudut ruangan.Sambil berpikir, Amara merenung kenapa ia masih berinisiatif menyiapkan sarapan setiap pagi. Mungkin ini karena dari kecil ia sudah terbiasa mengurus dirinya
last updateLast Updated : 2025-02-14
Read more

Bab 12: Makan Malam Canggung

Suara dentingan sendok dan garpu bertemu dengan porselen menjadi satu-satunya melodi yang mengisi ruang makan besar itu. Lilin-lilin di tengah meja panjang memberikan cahaya keemasan yang lembut, memantulkan bayangan di atas gelas kristal berisi anggur merah. Aroma daging panggang dan saus krim memenuhi udara, tetapi bagi Amara, makanan di piringnya tampak seperti benda asing yang tak menggugah selera.Ia duduk di sebelah Laksha, merasa seperti tamu tak diundang di tengah keluarga ini. Di hadapannya, Indira Wijanarko tetap tenang, seperti ratu yang duduk di singgasananya, anggun dan tak tersentuh. Di ujung meja, Aditya Wijanarko menatapnya tanpa ekspresi, matanya mengamati setiap gerak-geriknya dengan tajam. Dan di sisi lain, seorang wanita dengan gaun berwarna biru g
last updateLast Updated : 2025-02-14
Read more

Bab 13: Senyum Misterius Laksha

Angin malam mengusap lembut kulit Amara, membelai helaian rambutnya yang tergerai ketika ia berdiri di balkon kamar. Dari tempatnya, pemandangan kota Jakarta terbentang luas, gemerlap lampu-lampu gedung bertaburan seperti bintang-bintang yang jatuh. Tapi keindahan itu tak mampu mengusir gelisah yang merayap di dadanya.Amara menyesap teh hangatnya pelan. Cairan itu seharusnya membawa ketenangan, tetapi rasa pahit samar yang tertinggal justru terasa seperti sesuatu yang lain—sesuatu yang tak ia pahami sepenuhnya.Di dalam kamar, Laksha duduk di depan meja kerja, membelakangi pintu balkon yang terbuka. Punggungnya tegap, tetapi bahunya terlihat lebih tegang dari biasanya. Lampu meja menerangi setengah wajahnya, menciptakan bayangan yang tajam di garis rahangnya.Sej
last updateLast Updated : 2025-02-15
Read more

Bab 14: Kehidupan yang Bertabrakan

Gemerlap lampu kristal menggantung di langit-langit ballroom hotel bintang lima, menciptakan pantulan keemasan di lantai marmer yang begitu mengilap hingga Amara bisa melihat bayangannya sendiri. Aroma wine mahal bercampur dengan wangi parfum eksklusif memenuhi udara, sementara dentingan gelas sampanye terdengar berbaur dengan suara percakapan yang mengalir halus di antara para tamu.Amara berdiri di sudut ruangan, jemarinya menggenggam batang gelas dengan erat, seolah itu satu-satunya yang bisa membuatnya tetap tenang. Gaun malam berwarna merah marun membalut tubuhnya, jatuh sempurna mengikuti lekuknya, tetapi tetap terasa asing di kulitnya. Rambutnya ditata elegan, bibirnya diberi sentuhan merah klasik—bukan dirinya yang biasa.Ia menarik napas dalam, berusaha membia
last updateLast Updated : 2025-02-15
Read more

Bab 15: Percikan Api Pertama

Musik jazz mengalun lembut di seluruh ballroom, menyatu dengan dentingan gelas kristal dan tawa halus para tamu. Lampu gantung besar berpendar keemasan, menerangi setiap sudut ruangan dengan cahaya hangat yang mewah. Aroma anggur merah, parfum mahal, dan hidangan bercampur di udara, menciptakan atmosfer yang terasa terlalu megah bagi Amara.Ia berdiri di dekat meja prasmanan, jari-jarinya melingkari gelas sampanye yang sejak tadi hanya ia putar-putar tanpa benar-benar diminum. Gaun hitamnya yang elegan membalut tubuhnya sempurna, tetapi tetap terasa seperti pakaian pinjaman. Sepatu hak tinggi yang ia kenakan memaksanya untuk tetap tegak, seolah memberi peringatan bahwa ia bukan bagian dari dunia ini.Laksha sedang berada di seberang ruangan, dikelilingi oleh beberapa p
last updateLast Updated : 2025-02-16
Read more

Bab 16: Merindukan Kesederhanaan

Cahaya pagi yang hangat dan lembut menembus celah jendela besar di kamar, menari lembut di antara debu yang berkilauan bagai bintang-bintang kecil yang bertaburan di udara.Aroma kopi hitam yang baru saja diseduh berpadu dengan aroma lavender yang halus dari diffuser di sudut ruangan, menciptakan suasana yang menenangkan dan mengundang.Di luar sana, Jakarta sudah mulai ramai; suara klakson kendaraan bergema meski hanya sebagai latar belakang yang samar, mengingatkan pada kehidupan kota yang tak pernah berhenti.Amara, dengan gaya santainya, duduk mengangkang di kursi bar dapur. Ia mengenakan kaus kebesaran dan celana pendek yang nyaman, menciptakan rasa nyaman yang sempurna untuk menikmati pagi.Kakinya yang satu bertumpu pada palang kursi, sementara kedua tangannya yang lain dengan lembut memeluk cangkir kopi yang hangat, merasakan kehangatan yang menyebar ke seluruh tubuhnya.Di hadapannya, Laksha berdiri tegap di dekat mesin kopi, dengan geraka
last updateLast Updated : 2025-02-16
Read more

Bab 17: Laksha yang Tak Bisa Ditebak

Mereka berdua berjalan beriringan di trotoar sempit sebuah gang kecil di Jakarta, melewati deretan warung makan sederhana yang berjejer dengan apik. Aroma sate yang terbakar di atas arang menari-nari di udara, bercampur dengan harum kaldu bakso yang mengepul hangat dari gerobak di ujung gang.Laksha, yang biasanya dikelilingi oleh para rekan bisnis berjas rapi dan mobil-mobil mewah, kini berdiri di depan sebuah warung tenda kecil. Meja plastik berwarna merah dan bangku panjang yang sedikit goyah tampak begitu asing baginya.Amara memandangnya dengan tangan bersedekap, alisnya terangkat penuh tanya, "Masih yakin bisa bertahan di tempat seperti ini?"Laksha menghela napas, lalu dengan gerakan yang ragu, menarik kursi dan duduk. "Aku sudah duduk di sini, bukan? Itu berarti aku tidak kabur."Amara tersenyum simpul, lalu ikut duduk di seberang Laksha. Dia melambaikan tangan ke arah seorang ibu pemilik warung, yang segera mendekat dengan senyum ramah terkembang
last updateLast Updated : 2025-02-17
Read more

Bab 18: Bayang-Bayang Masa Lalu

Amara menelan ludah, getir. Entah kenapa, melihat foto itu membuat dadanya terasa sesak, seolah-olah ada benjolan emosi yang tak bisa dijelaskan. Mungkin karena ia terlalu mengenal rasa kosong yang terpancar dari gambar tersebut, refleksi dari mata yang tampak hampa.Kenangan masa kecilnya pun tiba-tiba menyeruak, mengalir bagai sungai yang tak bisa dibendung.Dia teringat malam-malam panjang di panti asuhan, saat ia berbaring di ranjang sempit, menatap langit-langit yang usang sambil bertanya-tanya, apakah ada orang di luar sana yang merindukannya.Hari-hari yang harus dilaluinya dengan belajar menjadi kuat lebih cepat dari seharusnya, karena tak ada seorang pun yang akan menolong jika ia terjatuh. Dan saat itu juga, ia pertama kali menyadari bahwa dunia ini tidak selalu adil bagi orang-orang seperti dirinya.Amara menggigit bibirnya, menatap pantulan dirinya di kaca jendela besar di depannya, sebuah jendela ke dalam jiwa yang lain.Ia pernah berp
last updateLast Updated : 2025-02-17
Read more

Bab 19: Kekosongan di Antara Mereka

Amara Larasati tenggelam dalam kursi empuk yang menghadap jendela besar ruangan itu. Sinar sore menembus kaca, membelai wajahnya dengan lembut, menciptakan kontras antara cahaya keemasan dan bayangan yang melukis kesunyian pribadinya.Di luar sana, gedung-gedung pencakar langit Jakarta berdiri kokoh, memamerkan ambisi yang tak pernah padam. Kota itu sibuk, tak kenal lelah. Tapi di dalam ruangan ini, yang dipenuhi aroma teh vanilla yang baru diseduh, hanya ada keheningan—hening yang terasa hampir melankolis.  Di seberang meja, Laksha Wijanarko mengaduk kopi hitamnya. Bunyi sendok yang beradu dengan dinding cangkir porselen sesekali memecah kesunyian di antara mereka. Rambut hitamnya tampak berantakan—jejak dari malam yang mungkin tak berjalan tenang atau pikiran yang terus melayang tanpa arah.  “Kenapa kamu terima tawaran pernikahan ini, Amara?” suara Laksha akhirnya memecah diam. Nada suaranya rendah, ada beban yang disembunyi
last updateLast Updated : 2025-02-18
Read more

Bab 20: Langkah demi Langkah

Langit Jakarta memamerkan senja yang dramatis, semburat jingga dan merah membakar awan yang menggantung di ufuk barat. Di bawahnya, kota masih berdenyut, tak pernah benar-benar diam, seakan enggan menyerahkan dirinya pada malam.Namun, di sebuah ruangan di lantai atas salah satu gedung pencakar langit yang megah, ada sejenak keheningan yang terasa seperti dunia lain—sebuah jeda dari hiruk-pikuk yang terus bergulir di luar sana.  Di dalam ruangan itu, Amara Larasati duduk dengan fokus yang nyaris tak tergoyahkan.Matanya terpaku pada layar laptop, mengikuti barisan angka dan grafik yang berkelindan seperti teka-teki yang hanya bisa dipecahkan oleh ketajaman pikirannya. Jemarinya kadang bergerak cepat di atas keyboard, mencatat sesuatu, lalu kembali diam sejenak, merenung, sebelum kembali mengetik.Di atas meja yang tertata rapi, berkas-berkas tersusun dengan disiplin, berdampingan dengan secangkir teh yang masih mengepulkan uap hangat, aromanya
last updateLast Updated : 2025-02-18
Read more
PREV
123
Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status