Nathan tersenyum sinis, "Bukankah Tuan Waldi ingin bertarung sampai mati?"Waldi sudah mengamuk. "Diam dan lepaskan putraku. Aku akan membiarkan kalian pergi. Enyah, enyah kalian semua!""Nona Regina, Kak Arjun, Dokter Bayu, ayo kita pergi," ucap Nathan dengan datar.Arjun tidak bergerak. "Tuan Nathan, jangan percaya sama Waldi. Begitu kita melangkah keluar, dia pasti akan memerintahkan anak buahnya untuk menyerang."Nathan menatap Waldi dan berkata sambil tersenyum, "Tuan Waldi, sebaiknya kamu nggak mengingkari kata-katamu. Lagi pula, aku sudah menekan titik fatal di tubuh putramu.""Kalau kami nggak bisa meninggalkan tempat ini dengan selamat, percayalah, putramu ini akan menjadi orang pertama yang mati."Ekspresi Waldi berubah lagi.Dia memang berencana demikian. Begitu Nathan melepaskan Daren, dia akan memerintahkan anak buahnya untuk membunuh mereka.Siapa sangka bocah ini akan begitu teliti dan sudah meninggalkan taktik pada tubuh putranya."Tuan Waldi, apa kita akan membiarkan b
Baca selengkapnya