Regina, Dokter Bayu, dan Arjun juga terkejut.Di bawah tatapan tidak percaya ketiga orang itu, seorang pria perlahan masuk dan langsung mendekati Waldi yang sedang duduk di kursi utama."Kamu Waldi Antonius, penguasa bawah tanah Hessen, 'kan?""Akulah yang memukul putramu dan juga membunuh anak buahmu ....""Sekarang aku sudah datang ke sini, kamu mau bagaimana?"Kamu mau bagaimana?Kata-kata itu begitu singkat.Namun, terdengar begitu sombong dan arogan!Regina, Dokter Bayu, dan Arjun yang mendengar perkataan itu terkejut bukan main.Nathan yang datang ke Hessen sendirian bukan hanya membunuh anak buahnya Waldi, tetapi dia juga memukul putra satu-satunya Waldi hingga wajahnya bengkak dan sulit untuk dikenali lagi.Namun, ini semua masih dalam kisaran yang bisa diterima.Yang membuat mereka bergidik adalah Nathan justru mendatangi Waldi dan menanyakan pria itu apa yang diinginkannya.Bahkan, Arjun, yang hidupnya bagai di ujung tanduk pun merasa cemas, terutama saat melihat punggung Nat
Waldi tertawa muram. "Kenapa? Kamu takut?""Nak, bukankah kamu barusan berlagak keren? Kamu masih berani menantangku dan bertanya memangnya apa yang bisa aku lakukan?"Nathan tersenyum. "Aku nggak takut, tapi hanya merasa kita bisa menyelesaikan konflik secara damai. Bagaimana menurutmu?"Waldi tertawa marah. "Menyelesaikan secara damai? Masalah ini nggak mungkin berakhir, kecuali aku membuatmu mati mengenaskan.""Berlututlah sekarang juga, lalu patahkan kaki dan tanganmu. Bersujudlah pada putraku sebanyak 100 kali. Setelah itu, kamu baru bisa negosiasi denganku."Saat ini, Waldi tidak lagi panik.Dia menyilangkan kakinya, kemudian menyalakan cerutu dan mulai mengembuskan asap berbentuk cincin dengan santai.Regina mengerutkan kening dan berkata, "Tuan Waldi, permintaanmu sudah kelewat batas. Kami bisa mengobati luka Daren. Demi menjaga martabatmu, kita bisa menegosiasikan masalah ini."Arjun berkata dengan nada serius, "Tuan Waldi, lebih baik selesaikan masalah daripada memperburuk ma
Nathan tersenyum sinis, "Bukankah Tuan Waldi ingin bertarung sampai mati?"Waldi sudah mengamuk. "Diam dan lepaskan putraku. Aku akan membiarkan kalian pergi. Enyah, enyah kalian semua!""Nona Regina, Kak Arjun, Dokter Bayu, ayo kita pergi," ucap Nathan dengan datar.Arjun tidak bergerak. "Tuan Nathan, jangan percaya sama Waldi. Begitu kita melangkah keluar, dia pasti akan memerintahkan anak buahnya untuk menyerang."Nathan menatap Waldi dan berkata sambil tersenyum, "Tuan Waldi, sebaiknya kamu nggak mengingkari kata-katamu. Lagi pula, aku sudah menekan titik fatal di tubuh putramu.""Kalau kami nggak bisa meninggalkan tempat ini dengan selamat, percayalah, putramu ini akan menjadi orang pertama yang mati."Ekspresi Waldi berubah lagi.Dia memang berencana demikian. Begitu Nathan melepaskan Daren, dia akan memerintahkan anak buahnya untuk membunuh mereka.Siapa sangka bocah ini akan begitu teliti dan sudah meninggalkan taktik pada tubuh putranya."Tuan Waldi, apa kita akan membiarkan b
"Terakhir saat berada di arena pacuan kuda, bajingan inilah yang menghasut Daren untuk datang dan membuat masalah."Regina berkata dengan nada jijik, "Bagaimanapun juga, Keluarga Halim merupakan keluarga besar di Beluno dan juga termasuk keluarga terkemuka, tapi Edward ini memang pria jahat."Arjun mendengus dingin, "Tuan Nathan, apa kamu ingin aku memberi pelajaran pada Edward, pria berengsek itu?""Untuk sementara nggak perlu. Kalau Tuan Edward ini benar-benar punya niat jahat, suatu hari nanti, aku akan membuatnya merasakan apa itu namanya penyesalan," kata Nathan dengan tenang.Saat menatap Nathan, sepasang mata indah Regina berbinar dan bibirnya tanpa sadar menyunggingkan sebuah senyuman.Lelakinya ini makin lama makin mendominasi.Tanpa perlu mengungkapkan apa pun, Dokter Bayu dari Keluarga Wijaya dan Arjun dari Gluton kini telah bersekutu dengan Nathan.Hanya berdasarkan kemampuan ini, entah kenapa Emilia dulu begitu tega melepaskan Nathan.Malam harinya.Waldi, si penguasa Hess
Waldi bergumam, "Nathan, Nathan ...."Kemudian, diikuti dengan bunyi keras, dia langsung menampar Andre dan membuatnya terpental."Kamu cari mati, ya? Beraninya kamu mempermainkanku?"Melihat Waldi emosi, Andre tertegun dan berteriak, "Tuan Waldi, aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Mengapa kamu memukulku?"Padahal, Andre telah memberikan saran dan nasihat, tetapi siapa sangka Waldi bukan hanya tidak menghargainya, tetapi dia juga memukulnya. Andre benar-benar ingin berbalik dan pergi. Dia tidak peduli dengan Daren lagi dan biarlah anak itu mati begitu saja.Waldi berkata dengan kejam, "Apa salahnya aku memukulmu? Kamu bodoh. Tahukah kamu titik fatal yang dialami Daren itu disebabkan oleh Nathan?""Apa? Titik fatal Tuan Daren disebabkan bocah itu?"Andre tercengang. Dia baru mengerti mengapa Waldi menamparnya.Bukankah ini namanya mengangkat isu yang tidak relevan dan menyingkap kepedihan Tuan Waldi?Tamparan barusan sungguh tidak adil."Tuan Waldi, kalau titik fatal Tuan Daren benar
Namun, mereka yang mengetahui kisah di dalamnya tahu bahwa Nathan bisa dengan mudah mengambil posisi wakil kepala rumah sakit.Jangankan wakil kepala rumah sakit, berdasarkan keterampilan medis Nathan, pria itu bahkan memenuhi syarat untuk menjadi kepala rumah sakit.Menatap ruangan kantor baru yang didekorasi khusus untuknya, Nathan berkata dengan tak berdaya, "Nona Regina, Bu Tiara, sebenarnya aku nggak tertarik dengan posisi wakil kepala rumah sakit."Regina sangat gembira. "Dokter Nathan, kami tahu kamu nggak tertarik dengan jabatan.""Tapi Rumah Sakit Perdana merupakan rumah sakit swasta yang kami kelola. Jabatan kepemimpinan dipegang oleh orang-orang yang berkemampuan, tanpa memandang kualifikasi. Aku rasa jabatan wakil kepala rumah sakit sangat cocok untukmu."Tiara juga tersenyum dan berkata, "Nathan, kalau kamu mau, aku bisa menyerahkan posisi kepala rumah sakit kepadamu. Biarlah aku menjadi wakil kepala rumah sakit dan membantumu."Nathan tersenyum pahit dan berkata, "Lupakan
Melihat Andre yang datang dan pergi dengan marah, Tiara mengerutkan kening dan berkata, "Regina, sepertinya Andre masih nggak bisa melepaskan prasangka buruknya terhadap Nathan."Regina mengerutkan bibirnya dan berkata, "Buat apa repot-repot berhadapan dengannya? Kalau dia berani melawan Dokter Nathan, cepat atau lambat dia akan tamat."Tiara berkata dengan sungguh-sungguh, "Regina, jangan lupa di belakang Andre, masih ada Harel. Apalagi, Harel selalu berselisih dengan keluarga kita."Regina mendengus dingin. "Kalau Harel pintar, dia nggak akan melawan kita hanya demi Andre."Nathan tidak melakukan apa pun sepanjang pagi itu.Setelah menjadi wakil kepala rumah sakit, dia tidak lagi sibuk seperti saat menjadi dokter jaga.Regina dan Tiara memberinya kebebasan.Kecuali rumah sakit menghadapi kasus besar yang bahkan Tiara pun kesulitan untuk menanganinya.Meski Nathan termasuk salah satu dokter yang punya kemampuan tinggi di Rumah Sakit Perdana, dia hanya perlu mengambil tindakan dalam si
Mendadak keheningan melanda keduanya.Setelah hening beberapa lama, Emilia tak kuasa menahan diri untuk bertanya, "Nathan, apa kamu masih benci sama aku sampai sekarang?"Nathan tertawa dan berkata, "Bu Emilia, kamu sudah terlalu banyak berpikir. Mengapa aku harus benci padamu? Aku senang kamu bisa menikah dengan putra keluarga kaya."Emilia tampak bingung dan bergumam, "Tapi entah apa yang terjadi pada diriku. Edward sudah kembali dan dia juga melamarku, tapi aku sama sekali nggak merasa senang."Emilia berkata dengan cuek, "Itu masalah Bu Emilia sendiri dan nggak ada hubungannya denganku.""Apa kamu sekarang bahkan nggak bisa dengar aku bicara?" kata Emilia dengan kesal.Nathan menatap Emilia dengan dingin hingga wanita itu menghindari tatapannya karena takut. Kemudian, Nathan pun berkata dengan nada datar, "Emilia, aku yang dulu sudah terlalu banyak mendengarkanmu, baik di saat kamu senang ataupun nggak senang. Aku selalu menemanimu dalam diam.""Tapi pada akhirnya kamu lebih memili
Emilia berkata dengan kaku, "Maaf, aku nggak butuh semua itu. Aku sudah bilang tadi malam, hubungan kita sudah berakhir."'Dasar wanita nggak tahu berterima kasih!'Edward diam-diam memaki Emilia dalam hatinya, tetapi wajahnya masih tetap tersenyum. "Aku tahu kamu masih marah.""Aku nggak minta kamu memaafkanku sekarang. Tapi Emilia, perasaanku padamu nggak pernah berubah. Aku akan datang ke kediaman Sebastian setiap hari untuk mengakui kesalahanku sampai kamu memaafkanku."Emilia berkata dengan nada jijik, "Edward, tahukah kamu pemikiranmu itu terlalu kekanak-kanakan?""Sudah kubilang, kamu nggak perlu mengakui kesalahanmu. Mulai sekarang, kita juga nggak perlu saling berhubungan lagi. Itu lebih baik daripada apa pun."Tamara juga ikut memarahi. "Edward, jangan ganggu putriku lagi. Bagaimanapun juga, kamu itu putra sulung Keluarga Halim. Jangan jadi orang yang nggak tahu malu."Wajah Edward tampak geram. Dia ingin menghampiri Tamara dan menghajar wanita tua itu.Namun, dia menarik nap
Thomas juga bukan orang yang bisa ditekan oleh Tiara dan juga Regina.Edward sangat senang dan berkata dengan nada datar, "Tiara, kamu pasti nggak sangka kalau aku akan mampu menekan Nathan dan memberinya pelajaran, 'kan?""Selama ini, kamu dan Regina, dua wanita paling cantik di Beluno, selalu bergaul dengan bocah itu.""Sebagai seorang kakak, entah sudah berapa kali aku memperingatkanmu. Tapi kalian keras kepala dan nggak mau dengar nasihatku.""Begini saja. Kamu panggil Nathan ke sini, lalu suruh dia berlutut dan jilat jari kakiku. Kalau aku puas, mungkin aku akan pertimbangkan untuk melepaskan nyawanya untuk sementara waktu."Melihat senyum puas Edward, Tiara merasa jijik dan juga ilfil."Edward, bagaimanapun juga, kamu termasuk tuan muda paling berbakat di Beluno dan berasal dari keluarga bangsawan.""Tapi selama ini, kamulah yang terus-terusan mencari masalah dengan Nathan. Lantaran nggak bisa mengalahkan Nathan, sekarang kamu minta para master keluargamu untuk datang membantumu.
"Emilia, aku datang menjengukmu, juga Bibi, dan Ken.""Tadi malam aku memang agak impulsif. Aku juga kehilangan akal sehat. Bisakah kamu memaafkanku?"Begitu Edward sampai, dia langsung memperlihatkan sikap rendah hati, seolah-olah dia itu pria yang berperilaku baik dan berhati hangat.Tamara mendengus dingin. "Maaf, kami nggak menerima permintaan maafmu. Keluarlah dari sini."Edward sama sekali tidak peduli. Dia sudah menebak bahwa Tamara akan bersikap seperti itu.Pria itu melihat sekeliling dan mendapati Emilia tidak ada di sana, jadi dia langsung bertanya, "Di mana Emilia? Dia pergi ke mana?"Tamara tersenyum sinis. "Ke mana dia pergi? Tentu saja menjauh dari pria berengsek sepertimu.""Edward, lebih baik kamu menyerah saja. Nggak ada seorang pun anggota Keluarga Sebastian yang bisa memaafkan kelakuanmu tadi malam.""Asal kamu tahu saja, Emilia sudah balikan sama Nathan. Sekarang, mereka berdua mungkin lagi bermesraan."Wajah Edward tiba-tiba berubah muram. Tatapannya seolah ingin
"Kebetulan kakekku punya buku kedokteran yang nggak begitu dia pahami, jadi dia ingin kamu membantunya."Nathan tersenyum dan berkata, "Nggak masalah. Asal ada waktu, aku pasti akan pergi mengunjungi Pak Willy."Ada dua lesung pipit yang muncul di wajah cantik perawat itu. Dia pun melangkah pergi dengan gembira.Emilia yang berdiri di samping menyaksikan pemandangan ini dengan tatapan tidak senang."Nathan, perawat kecil ini dari Keluarga Setiawan, keluarga terpandang di Beluno, 'kan?" tanya Emilia.Nathan tidak tahu terlalu banyak tentang latar belakang Keluarga Setiawan, keluarganya Adel, jadi pria itu pun menjawab, "Aku kurang tahu."Emilia tersenyum pahit dan berkata, "Nggak perlu pura-pura lagi. Tatapan matanya yang penuh kekaguman itu sudah begitu jelas. Dia sepertinya tergila-gila padamu.""Haha. Sejak berpisah denganku, hubungan asmaramu cukup mulus juga. Sebelumnya ada Nona Regina, kemudian Nona Tiara dari Keluarga Wijaya.""Sekarang bertambah satu Adel lagi. Nathan, sepertiny
Rumah Sakit Perdana.Begitu Nathan masuk ke dalam ruangannya, Tiara bergegas menghampiri dan berkata dengan ekspresi aneh, "Nathan, mantanmu dan keluarganya berada di rumah sakit kita."Nathan terkejut dan bertanya, "Apa terjadi sesuatu pada mereka?"Tiara cemberut dan berkata, "Sepertinya kamu masih punya perasaan terhadap Emilia. Kamu masih peduli padanya, 'kan?""Bukan seperti yang kamu bayangkan. Aku hanya merasa aneh," ucap Nathan tak berdaya.Tiara mendengus dan berkata, "Emilia baik-baik saja, tapi ibunya, si wanita tua galak itu, dan juga adik laki-lakinya, Ken, hampir dipukul sampai mati.""Aku lihat kondisi Emilia tampak kacau, wajahnya juga pucat, dan kebingungan. Bukankah kalian berdua kenal? Lebih baik kamu pergi lihat sendiri saja."Nathan tersenyum dan berkata, "Lantas, kenapa kamu barusan sepertinya nggak ingin aku pergi melihatnya?"Tiara membusungkan dadanya dan berkata dengan arogan, "Memang benar. Aku nggak ingin kamu terjerat dengan Emilia lagi.""Tapi bagaimanapun
Edward berkata dengan ekspresi tidak senang, "Aku tahu semua yang Ayah katakan. Tapi masalahnya, aku nggak membeli mahkota ini dengan harga 40 miliar."Thomas mengerutkan kening. "Apa kamu bilang?"Jelas-jelas dia pergi ke acara lelang Grup Valentino dan langsung menekan situasi tersebut secara terang-terangan.Apa Roland berani tidak menunjukkan rasa hormat pada Keluarga Halim?Edward berkata sambil memasang ekspresi serba salah, "Sebenarnya, aku sudah bisa mendapatkan mahkota berlian itu dengan harga 40 miliar.""Tapi tiba-tiba ada bajingan yang muncul dan menantangku sampai akhir. Alhasil, harganya naik menjadi 200 miliar lebih. Jadi aku, aku ...."Tanpa menunggu Edward selesai berbicara.Wajah Thomas tiba-tiba berubah pucat. Dia menunjuk putranya dengan jari gemetar. "Apa yang kamu katakan? Kamu menghabiskan lebih dari 200 miliar lagi?""Anak durhaka! Bukankah aku sudah memperingatkanmu kalau harganya nggak boleh melebihi 100 miliar? Kamu ... kamu ingin menghancurkan kondisi keuang
Ibu tirinya Edward tersenyum dingin dan berkata, "Nona Emilia memang hebat. Kamu bukan hanya berani menolak calon kepala Keluarga Halim secara terang-terangan.""Sekarang kamu juga berani mengabaikan perkataan kepala keluarga kami. Apa kamu pikir Keluarga Sebastian sekarang sanggup melawan Keluarga Halim?"Ekspresi Emilia sedikit berubah.Namun sebelum dia menjawab, Thomas sudah lebih dulu menampar wajah wanita cantik di sebelahnya."Tutup mulutmu. Sejak kapan wanita sepertimu boleh ikut campur dalam masalah keluarga? Minggir."Setelah melihat istrinya mundur, Thomas masih terus tersenyum ramah dan berkata, "Emilia, kamu dan Edward juga sudah lama berpacaran.""Mana ada pasangan yang nggak bertengkar? Tapi belum sampai tahap putus. Begini saja. Kamu kembali dan istirahat dulu. Nanti aku akan suruh Edward mengunjungimu dan minta maaf padamu."Emilia menggelengkan kepalanya. Dia sudah sangat muak dengan Edward."Maaf, Pak Thomas. Aku nggak bisa melakukannya. Sebaiknya akhiri sampai di si
Nathan.Namun saat dia baru saja bersiap mengeluarkan ponselnya, tubuhnya langsung membeku.Jika dia meminta bantuan Nathan sat ini, bukankah itu sama dengan mengakui bahwa penilaiannya salah?Dia harus bagaimana menghadapi pria itu? Penilaiannya salah, harga dirinya hancur, dan reputasinya juga lenyap.Semua perkataan yang diucapkan Emilia saat itu berubah menjadi pisau tajam yang kembali mencabik-cabik dirinya sendiri.Melihat gerakannya, Edward menyeringai dan berkata, "Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Kamu ingin Nathan si pecundang itu menyelamatkanmu, 'kan?""Emilia, kamu bukan hanya berlagak sok suci, tapi kamu juga ingin berperan menjadi gadis jalang secara bersamaan?""Dulu kamulah yang mencampakkan Nathan dan mendekatiku. Sekarang kamu masih mau pergi memohon padanya? Kamu nggak merasa malu? Kamu sungguh bisa membuka mulut padanya?"Kata-kata Edward yang tajam itu langsung membuat wajah Emilia berubah pucat pasi.Edward tertawa. "Begini baru benar. Jangan khawatir, aku
"Siapa yang berani pergi? Aku akan membunuhnya."Melihat tiga anggota Keluarga Sebastian hendak pergi, Edward menjadi gila.Dia langsung memerintahkan dua puluh pengawal Keluarga Halim masuk ke dalam dan mengepung tiga anggota Keluarga Sebastian itu.Tamara ketakutan hingga hampir kehilangan keseimbangan. Dia gemetar dan berkata, "Edward, apa yang ingin kamu lakukan? Dasar bajingan! Apa kamu ingin Emilia membencimu?"Ken mengangkat tangannya dan berkata dengan arogan, "Kita lihat saja siapa yang berani bertindak? Sialan! Keluarga Halim kalian hebat, tapi memangnya kamu bisa memaksa orang menikah denganmu?"Mata Edward memerah. Dia maju ke depan dan menampar wajah Ken.Plak! Plak! Plak!Tamparan demi tamparan itu membuat mulut dan hidung Ken menyemburkan darah. Dia menjerit dan bersiap untuk balik melawan Edward.Salah seorang pengawal Keluarga Halim mendengus dingin dan langsung menendang pinggang Ken.Sembari berteriak histeris, Ken langsung berguling-guling di tanah sambil memegangi